
"makan yang banyak, Keira". Kata Alex sambil menuangkan bubur kepiting ke mangkuk Keira yang kosong. Sebenarnya tidak mau makan karena tiba-tiba saja dia jadi kurang nafsu makan akan tetapi Alex terus membujuknya makan agar lambung Keira yang kosong terisi makanan bahkan, dia rela tidak makan dulu demi menyuapi Keira agar dia makan. Melihat Perhatian Alex kepada Keira membuat Mambayo tersenyum.
Manusia dan Werewolf... siapa bilang bahwa Cinta manusia dan werewolf akan berakhir dengan kesia-siaan? melihat mereka sudah pasti mereka akan selalu bersama. Hm... haruskah aku memberitahu yang mulia putri bahwa manusia ini adalah matenya yang sebenarnya? apakah manusia ini tahu siapa yang mulia putri sebenarnya?.
"aku bisa makan sendiri Alex. Sebaiknya kau makanlah sekarang". Kata Keira sambil mengambil sendok makan dari tangan Alex.
"baiklah tapi, suapi aku".
"huh?".
"permintaanku yang pertama. Aku mau kau menyuapiku".
"bagaimana aku makan?".😮
"tentu saja aku akan menyuapiku, Keira".
"maksudmu, suap-suapan?".💦
"Tentu saja. ayo, suapi aku". Pinta Alex. Keira menuruti permintaan Alex dengan bete namun dia tahu bahwa dia berutang nyawa pada Alex sehingga dia melakukannya. Ia menyendok penuh bubur dimangkok Alex lalu ia langsung menyuapi Alex tanpa dia tiup dahulu makanan yang masih panas itu seperti yang dilakukan Alex padanya sehingga Alex langsung merasakan lidahnya Seperti terbakar karena panasnya bubur yang masuk kedalam mulutnya.
"aow aow aow! panas". Segera Alex minum segelas air untuk mendinginkan lidahnya lalu menatap tajam Alex sedangkan Keira hanya tertawa kecil karena ia merasa lucu Melihat ekspresi wajah Alex saat merasakan makanan yang masih panas.
"hei, jangan tertawa. Kau pikir ini lucu".
"hehehe, maaf". Kali ini, Keira meniup makanannya dan kembali menyuapi Alex. Alex menerima suapan Keira dengan senang hati. Apa yang mereka lakukan sekarang seperti sepasang kekasih sehingga mereka lupa bahwa ada nenek- nenek sedang makan melihat mereka lakukan.
"Ehem".
Keira menoleh menuju ke Mambayo tetapi Alex menghentikannya agar Keira tidak berhenti menyuapinya. Alex memang tidak peduli dengan Mambayo yang mungkin merasa gemez melihat mereka karena baginya, kapan lagi Keira akan menyuapinya.
Tidak lama kemudian, Mereka telah selesai makan malam. Ketiga orang itu masih berada di ruang makan. Sambil menikmati lanjutan cerita Mambayo, Mambayo mengiris pie daging dalam loyang dan meletakkan potongan pie daging itu ke tiga piring kecil berseta garpu yang telah disediakan . lalu mereka Alex dan Keira mulai menikmati pie buatan Mambayo sambil mendengarkan lanjutkan cerita Mambayo.
"lalu Waktu berjalan dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun. tak Terasa sudah enam tahun berlalu. Selama enam tahun, Arhen melakukan sesuatu yang tidak diketahui oleh penduduk. Nak manusia, bukankah aku ada cerita bahwa Arhen memiliki kerjasama di luar pulau secara sembunyi-sembunyi?".
"ya, kau cerita padaku. Apa ada hubungannya dengan yang dilakukannya?".
"tentu saja berhubungan. dari kerjasama dalam bisnis di luar pulau, Arhen memiliki teman yang baik diluar pulau Untuk pertama kalinya. Arhen memang tidak memiliki satu pun teman di pulau karena dari kecil ia banyak melihat calon teman-temannya di korbankan satu persatu sehingga dia menjalani hidup sebagai penyendiri dan temannya yang berasal dari dunia luar dengan senang hati membantunya dengan apa yang dilakukannya".
"melakukan apa?". Tanya Keira.
"hihihi. secara diam-diam, Arhen menolong anak-anak yang dibawah enam belas tahun agar tidak menjadi korban. Secara mengejutkan Arhen mengajukan dirinya menjadi algojo bagi anak-anak yang akan dikorbankan sang orang tua. Melihat Arhen mengajukan diri, tentu saja para orang tua tidak keberatan karena mereka mengira Arhen dan Nuria akhirnya mau mengikuti ajaran mereka sejak dulu namun... tidak ada satupun yang tahu selain Nuria bahwa pasangan Lesman membohongi mereka semua. memang dialah yang menjemput anak-anak dibawah Enam belas tahun yang akan dipenggal setiap bulan purnama dari rumah orang tua mereka sendiri tetapi dia tidak membawa anak-anak itu ke bukit ini melainkan ke puncak tebing sisi lain pulau yang tidak terjamah penduduk dan dibawah jurang itu terdapat sebuah kapal dengan beberapa orang memakai pelampung berenang di laut".
"apa yang dilakukan oleh Arhen ditebing itu?".
"ia menolong mereka dengan menjatuhkan setiap anak yang akan dikorbankan dari tebing ke laut tapi jangan khawatir. Anak-anak lempar Arhen baik-baik saja karena sebelumnya dia sudah memberitahu kepada sang anak sehingga sang Anak merasa lega dan Arhen sudah menyiapkan pelampung pada setiap anak agar saat sang anak di jatuhkan ke laut, sang anak akan tetap mengapung dan orang-orang yang berada di laut segera menyelamatkan sang anak dan membawanya naik ke kapal".
"kemana orang-orang membawa mereka?".
"hihihi, mereka membawa anak-anak ke tempat yang aman dan jauh dari orang tua yang kejam dan tidak punya hati. Arhen terus melakukan Tindakan itu terus menerus demi kehidupan anak-anak yang lain selama enam tahun dan bukan cuma itu saja yang dilakukannya, setiap hadirnya musim gugur, para anak-anak yang berusia dibawah enam tahun akan dipaksa pergi ke sebuah tempat gudang tua di bagian Utara desa termasuk keenam anak-anaknya Arhen dan Nuria agar tidak ada yang bertanya-tanya dan curiga. Mengapa mereka memaksa anak-anak pergi ke sana? agar para orang dewasa dan yang telah menginjak usia enam belas tahun dapat berpesta di balai desa selama dua malam Tanpa memikirkan anak-anak mereka . Arhen yang berada dimalam pertama dipesta itu diam-diam pergi ke bagian Utara desa dan langsung menyelamatkan anak-anak yang dikunci di sebuah gudang tua dan dengan terpaksa ia menghabisi penjaga demi menolong anak-anak demi mencegah apa yang dilakukannya di laporkan ke penduduk lalu, setelah mengubur penjaga yang dibunuhnya, Arhen langsung membakar tempat itu dan sekitarnya sehingga kebakaran menjadi besar agar dapat dikira kecelakaan atau perbuatan penjaga yang kabur dan menutupi keberadaan anak-anak yang dikira penduduk mereka telah mati terbakar padahal mereka telah berada ditempat yang aman dan jauh dari pulau ini. Para penduduk yang menyadari kejadian ini, menangis sejadi-jadinya bahkan Nuria berpura-pura pingsan agar ia dan Arhen tidak dicurigai dan untungnya Arhen berbaur pada saat yang tepat agar tidak ada yang menyadari bahwa dia pergi. Penduduk memang menangis Kehilangan namun bukan air mata tangisan Kehilangan seseorang yang disayangi, melainkan mereka menangis karena mereka tidak punya anak-anaknya yang lain untuk dikorbankan dan Takut sang iblis tidak memberikan kekayaan duniawi kepada mereka lagi dan nyawa mereka yang menjadi taruhannya.
Siapapun tahu jika seseorang membuat kesepakatan dengan iblis, maka persyaratannya harus dipenuhi bagaimanapun caranya dan tidak segampang itu seseorang untuk berhenti memenuhi syarat sang iblis karena nyawa seseorang yang membuat kesepakatan dengan iblis menjadi taruhannya".
"tunggu dulu, Mamba. Tidakkah yang dilakukan oleh Arhen kepada anak-anak dengan melempar mereka ke laut sedikit... kejam?".
"Keira benar. Selain itu, mengapa dia tidak melakukan hal yang sama dengan anak-anaknya?".
"hihihi. Seperti yang aku katakan, Arhen sudah menyiapkan pelampung pada setiap anak agar saat sang anak dia jatuhkan ke laut, sang anak akan tetap mengapung dan orang-orang yang berada di laut segera menyelamatkan sang anak dan membawanya naik ke kapal. Memang terkesan kejam namun hanya itulah satu-satunya jalan yang dipikirannya untuk menolong mereka dan Mengapa ia tidak melakukan hal yang sama dengan keenam putrinya karena hati orang tua bisa kuat namun bisa juga lemah kepada anak-anaknya.
pasangan Lesman sangat menyayangi anak-anak mereka sehingga tidak sanggup untuk berpisah dengan mereka yang masih kecil sehingga mereka lebih memilih untuk menyembunyikan anak-anaknya di gua.
dan kalian tahu akibat perbuan Arhen? ia telah membuat perubahan populasi desa. dari awalnya lima ribu jiwa menjadi tiga ribu jiwa. Setidaknya, Arhen dan Nuria tidak perlu khawatir disuruh untuk mengorbankan salah satu anak mereka karena penduduk mengira anak-anak Lesman juga tewas padahal, mereka menyembunyikan ke enam anak-anaknya di dalam gua yang telah ditutupi dengan semak-semak belukar. Yang tersisa dari penduduk? Beberapa anak tunggal atau sepasang yang sudah berusia lebih dari enam belas tahun di beberapa rumah".
"Dengan tidak ada lagi anak-anak yang di bawah enam belas tahun, berarti penduduk menyadari kesalahan mereka, Mamba?"
"tidak ada lagi anak-anak dibawah Enam belas tahun di pulau ini memang benar namun bukan berarti penduduk desa menyadari kesalahan mereka. Para pria dengan gencarnya membuat istri-istri mereka untuk hamil baik proses alamiah maupun buatan dengan harapan para istri mengandung dan diantaranya ada yang hamil🤰kembar untuk memberikan waktu sebelum bulan purnama. Bahkan, yang belum menikah, dengan senang hati mereka rajin melakukan **** bebas baik pada pasangan maupun bergiliran bahkan yang paling mengejutkan adalah **** sedarah. Aman atau tidak amannya? siapa peduli. Persekutuan penduduk desa dengan iblis dari generasi ke generasi membuat segalanya yang bersifat telarang menjadi wajar. Mereka dibutakan oleh kekayaan tanpa usaha dan kerja keras. Saat para pria dengan gencarnya membuat para wanita hamil, di situlah peran Nuria dimulai".
"hihi. Nuria rajin mengadakan acara minum teh bersama dengan para wanita bahkan ia membagi-bagikan bubuk teh buatannya sendiri ke mereka dari rumah ke rumah. Nuria dikenal membuat bubuk teh terbaik di desa dan para wanita sangat menyukai minum teh sehingga mereka sangat senang mendapat bubuk teh gratis tanpa para wanita tahu bahwa secara diam-diam, Nuria mencampur bubuk tanaman Rue di dalam bubuk teh".
"tanaman Rue!!? itukan tanaman untuk mencegah kehamilan!. Nuria mencampur bubuk tanaman Rue itu kedalam bubuk teh!?".
"Keira, darimana kau tahu tentang tanaman itu? aku baru pertama kalinya mendengar tanaman itu". tanya Alex karena baru pertama kalinya dia mendengar ada sebuah tanaman yang tidak familiar ditelinganya yang berkhasiat untuk mencegah kehamilan wanita".
" oh, aku tahu tentang tanaman itu dari guru Madoc. dia mengenalkan beberapa tanaman-tanaman herbal pada kami waktu kami masih kecil dan Rue adalah salah satunya".
"hihihi. Kau benar sekali, nak Keira. Madoc telah mengajarimu dengan baik. Nuria mencampur Rue yang telah dijadikannya bubuk ke dalam bubuk teh. Mengapa la lakukan itu? tentu saja mencegah para wanita untuk hamil. Memang apa yang dilakukannya bukanlah perbuatan yang terpuji namun dia lakukan agar mencegah calon anak-anak yang akan terlahir di pulau ini menjadi korban persembahan di masa mendatang. Ia tidak ingin mereka melahirkan bayi-bayi dengan tujuan untuk di korbankan oleh mereka. Orang dewasa yang melakukan kejahatan itu namun anak-anaklah yang menjadi korban. Demi alasan mulia, pasangan suami istri itu rela melakukan hal kotor karena mereka sudah cukup dan tidak sanggup lagi melihat anak-anak malang yang masa hidup mereka diambil begitu cepat untuk memuaskan keinginan orang tua yang bersekutu dengan iblis".
"anak-anak Lesman, bagaimana dengan mereka, Mamba?".
"ke-enam putri pasangan Lesman baik-baik saja. Mereka adalah putri-putri yang patuh dan memahami alasan orang tuanya menyembunyikan mereka di dalam gua. Mereka mematuhi perintah Arhen dan Nuria untuk tidak keluar dari gua dan hanya pasangan Lesman yang tahu pintu masuk rahasia itu dengan begitu anak-anak menjadi aman. Setiap malam mereka pergi ke bukit hitam ini secara diam-diam untuk menjumpai anak-anak yang mereka dan melepaskan rindu mereka kepada anak-anaknya. Anak-anak itu juga melepas rindu kepada Arhen dan Nuria. Setiap malam mereka di gua bercerita, makan malam bersama, canda tawa bersama. Arhen mengajarkan segalanya kepada putri-putrinya walaupun mereka jarang sekali keluar dari gua demi keamanan mereka. Arhen dan Nuria terus bersama mereka dan kembali ke rumah mereka yang kosong tanpa canda tawa anak-anak setelah anak-anak mereka tidur. Arhen dan Nuria terus melakukan Tindakan itu secara diam-diam dan sempurna hingga tak terasa sembilan tahun telah berlalu. Keenam putri Arhen tumbuh menjadi gadis manis berusia lima belas tahun. Satu tahun lagi mereka akan bebas keluar sesuka hati dan Arhen telah memikirkan cara untuk meninggalkan pulau ini bersama Nuria dan anak-anak. Yang mereka lakukan memang sempurna namun...".
Seketika wajah Mambayo menjadi murung seakan rasanya sulit untuk melanjutkan ceritanya yang sudah lama sekali. Baik Alex dan Keira saling berpandangan, tidak tahu mengapa seorang dukun tua yang gaul menjadi murung.
"Ng... Mamba, ada apa? mengapa kau begitu murung? jika kelanjutannya bagimu terasa sedih tidak apa-apa. Kami tidak akan memaksa untuk....".
"huh? apa yang kau katakan nak. Aku menjadi murung bukan karena tidak sanggup melanjutkan ceritanya, tapi ini karena manusia ini menghabiskan semua pie dagingnya sendirian. kita berdua baru makan satu tapi manusia ini malah makan banyak". Ucap Mambayo sambil menunjukkan sebuah loyang yang telah kosong meninggalkan remah-remah pie.
"Alex!? kau menghabiskan pienya sendiri??".
Alex menghentikan makannya saat ia menyadari empat mata menatap dirinya dengan tajam. Alex hanya tersenyum cengir saat tanpa disadarinya telah memakan satu loyang besar pie buatan Mambayo.
"hehe. Maafkan aku. Aku tidak menyadari bahwa aku telah menghabiskan pie daging sapimu yang lezat ini, Mambayo".
"huh? ini bukan daging sapi, lho". Kata Mambayo menyadari bahwa Alex keliru.
"lho, aku kira kau tahu bahwa ini bukan pie daging sapi mengingat kau menghabiskan satu loyang".
Keira tidak menyangka bahwa Alex sama sekali tidak tahu daging apa yang ada di dalam pie sedangkan Alex malah memakannya sampai habis.
kasih tahu enggak,ya?. jika kami memberitahu daging apa yang dimakannya pasti dia bakalan syok. Orang kaya kelas atas mana mungkin pernah makan daging ini seumur hidup mereka. Pikir Keira. Ia tidak tahu harus berkata apa pada Alex sehingga Keira memberi isyarat kepada Alex untuk bertanya langsung kepada kokinya.
"huh? memangnya kau memasukkan daging apa kedalam pie ini, nenek?". Alex penasaran sekarang saat melihat ekspresi Keira dan Mambayo. Mambayo langsung tersenyum licik saat Alex bertanya kepadanya
"hehehe. Kasih tahu enggak ya...?".
"hei, beritahu aku sekarang, nenek menyebalkan. daging apa di dalam pie yang kau buat? domba? kambing?".
"hehehe. Sayangnya bukan dua-duanya jawabannya, manusia".
"lalu apa?".
entah mengapa rasanya aku punya firasat yang buruk mendengar jawaban dari nenek ini.
"aku tidak bisa memberitahumu namun kau bisa mengetahuinya dari foto ini".
Mambayo menunjukkan sebuah foto di ponselnya ke Alex. Alex Melihat foto di ponsel Mambayo, seketika Alex langsung terdiam dan menjatuhkan garpunya saat melihat gambar hewan karnivora tipe reptil berdarah panas di ponsel Mambayo.
" Ja-jadi, pie daging yang...kumakan be-berasal dari hewan ini!!?". Tanya Alex dengan wajah yang berubah menjadi pucat pasi. Alex menatap Keira dengan harapan bahwa Mambayo sedang mengerjainya saja namun sebuah anggukan kepala Keira membenarkan jawaban Mambayo.
"ha.... hahahaha....".Alex tertawa hampa menyadari bahwa untuk pertama kalinya dia memakan daging buaya. ia tertawa hampa hingga pada akhirnya....
GUBRAK!
"Lho, Alex!!"Keira terkejut melihat Alex ambruk ke lantai dengan kondisi tidak sadarkan diri.
"wah, tak kusangka bahwa lelucon kita benar-benar membuat anak ini menjadi pingsan karena syok. ck ck ck".