The Hot Blood Of Saga

The Hot Blood Of Saga
Chapter 86 : Dark Side of Silvana



CTASSS! CTASSS!


"Aaaargh!".


CTASSS! CTASSS!


"Am-pun-"


CTASSS! CTASSS!


"Ayah, kumohon hentikan... jangan cambuki ibu lagi..." Ucap gadis itu yang berurai air mata memohon dan berlutut memegang kaki kepada ayahnya yang terus-menerus mencambuki wanita malang yang merupakan si ibu gadis kecil dan yang mencambuk ibunya adalah istri dari si pencambuk dan ayah gadis kecil itu.


Gadis kecil itu terus menangis melihat ibunya terus saja dicambuk oleh ayahnya sehingga darah telah mengalir segar dari setiap cambukan ditubuh dan membasahi bagian- bagian pakaian wanita itu karena darah.


laki-laki itu berhenti mencambuk istrinya yang sudah terluka parah itu saat mendengar permohonan putri kecilnya. Ia menatap tajam tajam ke mata abu-abu si gadis kecil yang terus mengalirkan air mata.


Gadis kecil yang terus menerus mengeluarkan air mata itu berharap sang ayah akan iba melihat dirinya yang terus menangis karena bagaimanapun dia adalah anak kecil berusia empat tahun yang belum pernah dia temui selama ini. Tapi, kenyataannya adalah...


" menyingkir dariku anak sialan!".


BUAGH!


"Putriku!!. Jangan sakiti dia. Apa salah putrimu sehingga kau tega sekali menendangnya?!". Teriak wanita itu saat suaminya yang kejam menendang


gadis kecil itu tepat di bagian dada dengan sangat kuat sehingga tendangannya membuat gadis itu terlempar dan membentur dinding.


gadis kecil itu terbatuk-batuk mengeluarkan darah saat ia batuk dikarenakan tendangan kuat dari ayahnya yang sangat kejam itu.


sang ibu yang melihat keadaan anaknya seperti itu sangat syok sehingga ia merangkak untuk menghampirinya karena cambukan dan siksaan yang bertubi-tubi telah membuatnya tidak mampu lagi untuk berjalan ataupun berdiri.


"mau kemana kau?!".


"aaaargh!". wanita itu menjerit kesakitan saat suaminya menginjak punggungnya yang penuh dengan luka dan Darah dengan sangat kuat.


"Sakit!". Gadis kecil itu beteriak kesakitan saat rambutnya ditarik kuat oleh seseorang.


Gadis itu melirik ke samping untuk melihat siapa yang telah menarik rambutnya. Ia melihat seorang wanita dengan gaun seksi bewarna merah dengan sepatu heel Senada dengan warna gaun pendeknya yang ketat itu sedang tersenyum jahat kepada gadis kecil itu.


"aduh sayang... ckckck. jika saja kau tidak mencegah ayahmu menyiksa ibumu, mungkin kau tidak akan seperti ini. Sebagai anak yang baik, tidak boleh mengganggu apa yang akan dilakukan oleh orang tua. Bukankah begitu, anak-anak?".


"Benar sekali bu!" Jawab kedelapan anak-anak wanita itu secara serempak.


"Kau... wanita Ja-hat!. Lepas-kan put-riku dari ta-ngan kot-tormu itu. uhuk! Kau harus ingat bahwa kau dulu adalah pelayan rumah ini. K-kau mer-reb-but su-suami da-dan-".


BUGH!


"aaargh!". Wanita itu menjerit kesakitan saat kaki kanan suaminya yang kejam menendangnya di bagian pinggang lalu menginjak kepalanya kali ini setelah suaminya menginjak punggungnya sebelumnya.


"diam kau! berani sekali kau menghina istri dan ibu dari anak-anakku. Asal kau tahu saja, kau sudah lama bukan Istriku lagi sejak kau kabur dariku". Ucap Pria itu dengan sebuah senyuman yang jahat


Ia mencoba melepaskan kaki pria itu dari kepalanya tapi apa daya, kedua tangannya diinjak oleh kedua putra wanita yang sedang membiarkan gadis kecil dan dua anak kecil laki-laki lain itu dipukuli oleh keenam anaknya yang lain.


Mereka beteriak kesakitan tapi, siapa yang akan mendengarkan suara teriakan mereka yang teraniaya?. diruangan itu, hanya suara tawa si laki-laki dan wanita jahat itu juga tawa kedelapan anak-anak mereka yang sama jahatnya juga yang menggema.


Mereka tertawa dengan perbuatan mereka yang sangat keji. Hingga akhirnya dari sebuah percakapan suami istri yang sama-sama jahat, si laki-laki itu memutuskan untuk melakukan sesuatu terhadap wanita yang telah dia siksa.


Ia mengangkat kakinya yang diatas kepala wanita itu lalu dihadapan sigadis kecil itu, ia telah...


CRAAACK!!


"IBUUUUUUUUUU!!!". Teriak Silvana sehingga ia langsung terduduk tegak dan tangan kanannya menjulur ke depan seakan ia mencegah sesuatu.


hosh hosh hosh


Aku memimpikan malam yang menyakitkan itu... sudah lama sekali… aku


"Meong?".


"Maafkan aku, Moci kucingku yang gembul. Teriakkanku telah membangunkanmu rupanya…". Ucap Silvana Sambil mengelus kucing orange yang tidur di sampingnya yang terbangun karena mendengar teriakannya.


"Silvana". Panggil Sanse yang langsung masuk ke dalam kamarnya yang diikuti juga oleh Dallas setelah mendengar teriakkan Silvana karena mimpi buruk yang dialaminya.


Mereka berdua duduk disampingnya untuk menenangkan Saudari mereka.


Saat kedua laki-laki itu masuk, Silvana dapat melihat betapa khawatirnya mereka dari raut wajah mereka saat melihatnya.


"Sanse… Dallas… aku baik-baik saja. Jangan memasang wajah khawatir begitu".


Ucap Silvana untuk membuat mereka berdua tidak khawatir lagi.


"lalu, Mengapa kau berteriak, saudaraku sayang? Apakah kau sedang bermimpi buruk?". Tanya Sanse sembari mengelus belakang kepala Silvana.


"…yah, Sanse. Aku bermimpi buruk. di dalam mimiku, aku melihat kejadian yang menyakitkan itu".


"Kejadian apa, Silva?".


"aku melihat kematian ibuku yang tewas tersiksa oleh ayah kita yang kejam, Dallas…".


Ucap Silvana dengan lirih yang sedih dan murung. Kedua laki-laki itu hanya saling berpandangan satu sama lain dan mereka turut sedih mendengarnya.


Mereka bertiga terdiam di kamar Silvana. Mereka kembali mengingat masa kecil mereka yang kelam saat masih menjadi manusia dimana ketiga ibu mereka tewas dalam penyiksaan yang dilakukan ayah kandung dan keluarga tiri mereka.


Hingga kemudian, dengan perasaan marah, Silvana bangkit dari tempat tidur dan pergi.


"Silvana, kau mau kemana?". Tanya Dallas saat melihat Silvana pergi. Kedua laki-laki itu memutuskan untuk mengikutinya yang ternyata Silvana pergi ke bunker rahasia.


Dibunker Rahasia...


CEKLECK.


Pintu penjara itu terbuka. Silvana yang masuk kedalam ruangan itu melihat terdapat ayah kandung dan ibu tiri yang dirantai sedang tidur di lantai yang terbuat dari semen beralaskan tikar dengan selimut lusuh untuk melindungi diri mereka dari dinginnya malam.


Selain pasutri yang dia benci, ia juga melihat empat saudari dan dua saudara tirinya yang tersisa juga tidur beralaskan dan selimut yang sama dan ia bisa melihat bekas darah-darah kering di selimut bahkan di dinding dan lantai.


dulu, kami tidur tanpa alas apapun bahkan untuk menghangatkan kami dari kedinginan karena kalian tidak punya hati nurani untuk memberikan alas tidur ataupun Selimut walaupun selimut lusuh sekalipun.


Aku memperlakukan kalian sama dengan yang pernah kalian lakukan terhadap kami dahulu. Bedanya aku memberikan alas, selimut bahkan makanan walaupun makanan yang kuberikan sering kali tidak layak untuk kalian makan


bahkan, aku juga memperlambat kematian kalian sendiri walaupun kalian akan mati ditanganku karena aku ingin kalian merasakan lebih dari dua kali lipat bagaimana kalian menyiksa kami dengan kejam dan membuat kami Kehilangan orang yang kami cintai. Kalian adalah makhluk hidup yang sangat keji dan tidak pantas untuk diampuni.


Bahkan Kalian juga tidak pantas untuk hidup.


Karena itu aku akan mengakhiri hidup kalian secara perlahan-lahan. Karena aku tidak ingin membebaskan penderitaan kalian di dunia ini Secepat itu.


"Silva, mereka sudah tidur. Biarkan saja mereka. Bukankah selama ini kita akan menyiksa mereka setiap tiga hari dalam seminggu?." Bisik Sanse ke telinga Silvana namun Silvana tidak bergeming karena matanya yang masih menyimpan amarah dan dendam tertuju kepada mereka.


"Silva? kau mendengarkanku?".


"aku mendengar dirimu dengan baik, Sanse. Hanya saja hari ini, aku ingin salah satu dari keempat saudari tiri kita untuk mati hari ini. Biarkan saja salah satunya menyusul Saudari tirinya yang lain".


"Apa?!. Tapi Silvana, bukankah-".


"sst. diam saja, Dallas. Malam ini, aku hanya ingin mereka kembali merasakan duka untuk anak mereka yang akan tiada untuk ketiga kalinya. Itu saja, Dallas".