AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Who is Maga? [Warning!!!]



Perairan Laut Kepulauan Tenggara


.......


.......


.......


"Kenapa dia melakukan itu? Argh, sshhh ...."


Sambil mengecek tombol navigasi Agam mengerang kesakitan. Timah panas di kakinya mulai bereaksi.


"Semoga aku salah."


Tidak ada waktu lagi untuk memikirkan hal itu, sekarang saatnya berpikir untuk mengatasi kekacauan ini terutama menyelamatkan para penumpang.


"Komandan, tolong kirimkan kapten atau anggota yang bisa mengemudikan kapal feri, saya tidak begitu faham navigasi, propeler dan kemudi. Segera, Pak!" teriak Agam.


Agam kembali ke dalam feri setelah memastikan akan ada tim khusus yang akan menangani kemudi. Tapi batinnya merasa yakin jika pria yang berenang itu adalah Yohan Nevan Haiden.


Agam merasa harus memastikan kecurigaannya.


Biar bagaimanapun Yohan adalah salah satu pemegang saham HGC pasca ia menjabat sebagai Dirut. Jika Yohan terlibat pembajakan, itu artinya statusnya sebagai salah satu pemegang saham akan dimakjulkan.


Di dalam kapal, suasana masih tegang dan panik, mereka tidak berani ke geladak padahal sudah ada intruksi dari petugas yang memandu di pintu masuk.


"Ayo, ayo! Wanita dan anak-anak keluar terlebih dahulu! Kita akan berpindah kapal, kapal ini mau tenggelam!" seru petugas.


Petugas yang tadi bertarung dengan komplotan perompak akhirnya berhenti menyerang dan membiarkan mereka pergi atau kabur ke kapal induk setelah komandan merubah misi penangkapan menjadi misi penyelamatan.


Para perompak yang sudah memakai pelampung berloncatan ke laut dan berenang menuju kapal induk mereka.


"Dan, mereka kabur!" lapor seseorang.


"Serang memakai heli saja, kapal milik polisi perairan kita alih fungsikan dulu untuk menyelamatkan penumpang E452 DT!"


"Hubungi pelabuhan untuk mengirim kapal feri darurat!"


"Mayday! Mayday!" teriak komandan yang saat ini tengah sibuk berbicara di earphone sambil membantu memindahkan seorang anak kecil ke kapal patroli milik polisi perairan.


"Komandan, saya izin menyelinap ke kapal induk perompak," kata Agam sambil tertatih dan siap untuk melompat ke laut.


"Jangan! Bahaya! Anda juga terluka, saya tidak izinkan!"


Di tengah kesibukan dan kepanikan itu mereka berbincang.


Mata Agam sesekali menyisir para penumpang, namun keberadaan ayah Berli sulit ditemukan. Padahal Agam telah mengingat baik-baik tampang ayah Berli dari beberapa foto yang dikirim oleh anak buahnya.


Sementara anak buah Agam yang luka-luka sedang dipindahkan ke speed boat untuk segera mendapatkan penanganan dari tim medis.


Kapal sudah dikendalikan namun posisinya masih condong ke sisi kabin, para penumpang masih larut dalam ketakutan, kepanikan dan ketegangan.


"Saya harus tetap pergi, Pak. Lagipula saya tidak sendiri. Akan ada serangan dari udara juga, kan?" Agam bersikukuh. Ia mengikat kakinya yang tertembak dengan dasi.


Dan ....


'Byur.'


Agam benar-benar menceburkan dirinya ke laut, saat Pak Komandan berteriak ....


"Maga! No! Magaaa!" teriak komandan.


Komandan menghela napas, posisi Maga di operasi ini jelas berbeda dengan anggota lain.


Maga adalah anggota rahasia dari kalangan sipil. Dalam peraturannya, anggota ini bisa mengambil keputusan apakah akan bersatu dengan tim negara? Atau mengambil keputusan seorang diri.


Asalkan keputusan itu tidak membahayakan tim negara dan anggota sipil lainnya.


Sebenarnya, Maga telah memilih keputusan yang sangat berbahaya. Kenapa?


Karena dampak negatif dari keputusan itu sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab Maga.


Tunggu, siapakah Maga?


Yap, betul.


Maga adalah nama alias untuk Agam Ben Buana pada kartu keanggotaannya sebagai Badan Rahasia Negara.


.......


.......


.......


.......


Di sudut lain geladak feri E452 DT, Hikam sedang menarik tangan Ayah Berli untuk memperhatikan pergerakan pria yang mereka anggap sebagai Agam.


"Tuh, Ayah lihat, kan? Pria itu mirip sekali dengan Dirut HGC. Dia kabur, pastinya ikut kabur bersama para perompak itu Ayah. Bisa jadi dugaanku benar, kalau Dirut HGC sebenarnya terlibat dengan jaringan perompak ini," jelas Hikam.


"Hei! Kalian jangan di sana! Berbahaya! Ayo bergabung dengan yang lain," teriak seorang petugas saat Hikam berbicara dengan Ayah Berli.


"Baik, Pak. Kami ke sana," sahut Ayah Berli saat petugas yang tadi berteriak akan mendekat.


Hikam dan Ayah Berli mengikuti arahan petugas untuk berpindah kapal, dan ketika sudah berada di dalam kapal yang baru, Ayah Berli melihat dengan jelas jika pria yang diduga sebagai Agam, berhasil mencapai kapal induk musuh melalui lambung kapal.


"Mungkin kita salah orang." Ayah Berli memilih untuk bergabung dengan penumpang lain.


"Tapi Ay ---." Hikam tidak jadi berbicara.


"Lapor, Dan! Maga sudah behasil menyelinap ke kapal musuh," ucap seseorang yang baru saja tiba dari kapal feri E452 DT dengan teleskop kecil menggantung di lehernya.


"Benar, kan? Kita salah orang. Pria itu namanya Maga," bisik Ayah Berli.


Hikam menghela napas. Tapi, ia masih yakin jika pria yang tampil bak super hero itu adalah Agam Ben Buana.


Kini, seluruh penumpang sudah dialihkan ke kapal penyelamat, kapal patroli, dan speed boat.


Dan dua orang perompak ternyata berhasil dibekuk.


Serangan udara untuk menyerang kapal induk milik perompak pada akhirnya kembali dibatalkan karena kapal militer beralih fungsi menjadi ambulance darurat untuk membawa penumpang E452 DT yang saat ini sedang proses tenggelam, bagian geladak sampai badan kapal sudah terendam air.


"Baru kali ini ada perompak berani dan bisa menenggelamkan kapal? Motifnya apa coba?" Komandan mendengus kesal.


Wajah kesalnya semakin menjadis saat Maga memilih mematikan alat komunikasi. Padahal, ia juga ingin tahu apa yang terjadi di kapal induk musuh.


Namun lagi-lagi, ia tidak memiliki kewenangan untuk memobilisasi anggota dari BRN (Badan Rahasia Negara) dari kalangan sipil.


Akhirnya, sang komandan hanya bisa menatap hampa pada kapal induk perompak yang mengecil dan menghilang meninggalkan TKP (Tempat Kejadian Perkara).


Lenyapnya kapal itu bersamaan dengan suara dentuman kuat yang menggetarkan air dan kapal di area sekitar. Dentuman itu berasal dari kapal feri E452 DT yang tenggelam secara keseluruhan.


"AAA!"


Teriakan para menumpang di kapal lain memekik menggema mengiringi tenggelamnya kapal tersebut ke dasar laut. Hilang, lenyap, dan tidak berbekas, yang tersisa hanya riakan air.


"Thur, data seluruh kehilangan dari seluruh penumpang, jangan ada yang terlewat," ucap komandan saat mereka meninggalkan TKP.


"Dolf, kamu atur anggota angkatan laut yang akan membantu polisi menyelidiki kasus ini," lanjutnya.


Setelah itu komandan berlalu ke kabin dan sayup-sayup terdengar suaranya memanggil seseorang melalui earphone.


"Maga, halo? Ya Maga. Apa?!"


Lalu terdengar sayupan lagi.


"Ada seorang gadis diculik, Pak. Saya lihat dia diseret ke kabin sendirian. Belum terlihat lagi sampai sekarang."


"Apa ada yang merasa kehilangan anggota keluarga?"


"Gadis itu masuk ke kapal ini sendirian Pak? Bahkan di pelabuhan, saya lihat dia hanya sendiri."


"Baik, terima kasih laporannya, akan kami tindak lanjuti."


...*...


...*...


...*...


...*...


Sementara itu, Maga atau Agam, kini terlihat bersembunyi di balik peti-peti besar yang ada di kapal induk milik perompak.


Dari arah ini, Agam mendengar jelas obrolan para perompak. Termasuk tawa riang mereka saat E452 DT tenggelam ke dasar laut.


"Kapten baru kita sangat hehat. Baru terlibat satu kali misi tapi sudah bisa menenggelamkan kapal. Dia benar-benar nekad, jahat dan sepertinya gila ****. Hahaha."


"Hei, jangan kencang-kencang, jangan sampai pembicaraan kita terdengar oleh kapten. Sepertinya dia ada tujuan tertentu bergabung dengan kita."


"Ya, benar. Dia katanya kaya-raya, berasal dari jajaran keluarga terpandang dan terkaya di negeri ini. Aku tidak lihat wajahnya sih. Sejak semalam dia bergabung, dia memakai masker terus."


"Dari tatapan matanya sih dia sepertinya tampan, kulitnya juga putih seperti porselen. Hahaha, tidak pantas sebenarnya bajak laut seputih itu, harusnya seperti kita dong, eksotis."


"Kata kepala, misi kali ini fokus utamanya memang untuk melaksanakan keinginan kapten baru kita. Kita sudah dibayar untuk misi menenggelamkan kapal ini."


"Benarkah?"


"Serius, tapi dari awal, kapten memang tidak ingin ada korban jiwa. Makanya dia baru menenggelamkan kapal setelah ada polisi air dan kapal patroli."


"Oh, begitu ya? Tapi dia benar-benar gila sih, masa kita diperintahkan memperkosa penumpang yang kita mau? Mengerikan!"


"Hmm, yang penting kita tidak melakukan itu. Hahaha, untungnya kita menemukan gadis paling cantik. Kapten menyukainya sampai dibawa ke kapal ini."


Mendengar percakapan itu, kening Agam mengkerut. Sudah ia duga jika motif Yohan bergabung dengan perompak pasti bukan karena kekurangan harta.


Saat ada kesempatan, Agam merangkak perlahan dan mengendap menuju tempat yang ia duga menjadi kongsi milik Yohan di kapal tersebut.


Sesekali Agam mengusap peluh di dahinya. Ia menahan rasa sakit karena tembakan itu, rasa demam, dan pusing. Namun Agam pantang menyerah. Ia harus memastikan apapun risikonya.


Aku yakin ayahmu dan pria itu baik-baik saja, setidaknya aku bisa tenang. Batinnya.


.......


.......


.......


.......


Dan di salah satu kamar kapal tersebut, pria yang diduga Agam sebagai Yohan sedang membaringkan gadis yang diculiknya. Ia belum melepas masker namun tatapannya tampak lekat pada gadis itu.


Kondisi gadis itu sangat memprihatinkan, ia hanya memakai dalaman berwarna senada. Di paha gadis itu terlihat ada bercak darah yang lumayan banyak dan dipastikan berasal dari sana.


"Kenapa kamu mirip sekali dengan Aiza? Kenapa, hahh?!" teriaknya sambil menyelimuti gadis yang masih pingsan itu.


"Kalau saja kamu tidak mirip dengan Aiza, aku tidak akan membawamu ke sini. Merepotkan!" teriaknya lagi.


"Dan kamu berbeda, tubuhmu adalah yang paling nikmat dari semua gadis dan wanita yang pernah aku tiduri."


"Siaal! Aku bahkan tidak memakai pengaman dan aku ---! Arghhh, bagaimana kalau kamu penyakitan?! Siaaal!" teriaknya lagi. Sambil menendang dinding kapal.


Jika pria ini berkata tentang Aiza, tidak diragukan lagi, maniak ini pastilah Yohan Nevan Haiden.


Lalu kaki mulus gadis malang itu bergerak perlahan, artinya ... dia sadar.


Dan saat membuka mata, gadis itu kembali menangis tersedu-sedu.


"Diam! Jangan menangis!" teriaknya.


"Huuu, tolong bunuh saja aku keparat! Buang saja aku ke laut daripada dihinakan seperti ini! Huks huks," teriaknya.


Lalu gadis itu bangun, berjalan sambil meringis ke arah pintu keluar.


"Mau kemana kamu, hah?!"


Yohan memegang tangannya.


"Lepaskan! Aku mau bunuh diri! Aku mau mati! Singkirkan tangan kotor kamu, iblis!" teriaknya.


"Kurang ajar! Berani kamu ya mengataiku iblis! Memangnya kamu sesuci apa, hah?! Aku juga tidak akan membawamu jika saja wajahmu tidak mirip dengan seseorang yang aku cintai!" bentaknya.


Yohan menarik paksa gadis itu, mendudukannya di sisi tempat tidur lalu dengan mata memerah tangan nakalnya memaksa menodai dan merasuki tubuh gadis itu.


"Rasakan ini! Berani sekali kamu mengatakan tanganku kotor! Sekarang nikmatilah tangan kotor ini!"


Pria bejat itu melakukannya dengan kasar dan beringas, namun tiba-tiba dengan perlahan dan lembut saat bayangan wajah Aiza melintas di kepalanya.


Gadis malang itu kembali meronta menangis dan berteriak, tapi kekuatannya terbatas. Yohan berkali lipat lebih kuat darinya.


"Hahaha, kamu munafik! Mulutmu menolak, tapi tubuhmu merespon dan menyukainya. Kamu merasa nikmat, bukan? Bilang saja kamu menyukainya."


"Hentikan ... please ... huks ...." Rintih gadis itu.


"Milikmu sudah ***** sayang ... aku suka ....," bisiknya sambil menciumi telinga gadis itu.


"Bajingan ... kamu iblis ... siapa kamu sebenarnya, hahh? Huks ...."


Gadis itu kembali merintih dan terisak, suara kemarahannya terdengar lirih. Punggungnya perlahan melengking, tangannya mencengkram sprai, jemari kakinya mengerat dan menaut.


Ia lalu menggigit bibir bawahnya dengan wajah imutnya yang merona merah.


Sementara bibir Yohan di balik masker itu tersenyum-senyum saat melihat ekspresi gadis itu.


Setelah merasa puas dan melihat gadis itu melemas, Yohan mencuci tangannya, mengikat gadis tidak berdaya itu, lalu merokok.


Ia membuka kaca kecil yang menjadi ventilasi, lalu menghembuskan asap rokok keluar.


Asap membumbung dan mengagetkan seseorang yang tengah mengendap di bawah kaca ventilasi itu.


Yohan tersenyum puas sambil menatap jauh ke sana. Ia merasa puas saat tadi melihat E452 DT tenggelam.


Benar, seseorang itu adalah Agam. Agam mendengar umpatan Yohan, dan bersembunyi di area itu. Agam bahkan memergoki perbutan asusila yang dilakukan Yohan pada gadis itu.


Ya, gadis itu sepintas memang mirip dengan nona Aiza. Batinnya.


Agam mengatupkan bibirnya agar tidak terbatuk. Jujur, asap rokok itu mengganggu sistem pernapasannya.


Dan saat Yohan lengah, Agam perlahan berdiri. Yohan sedang menghadap pada gadis malang itu sambil mengeluarkan asap rokok dari hidungnya. Mata gadis itu terpejam. Bisa jadi sedang tertidur karena kelelahan.


Dengan gerakan cepat dan terlatih, Agam menarik, memiting dan mencekik leher Yohan dengan kekuatan penuh.


Yohan terkejut, matanya membulat, rokoknya terjatuh dalam keadaan masih menyala. Tangannya spontan menarik tangan Agam yang melilit di lehernya.


Namun Agam sudah terlebih dahulu menekan lehernya pada bingkai kaca.


Lalu terdengar teriakan dari arah lain.


"Woy! Ada tetesan darah mencurigakan. Milik siapa nih?!"


"Tidak, kita tidak ada yang terluka."


"Lacak!"


"Darahnya menuju ke samping kamar kapten!"


Siaal!


Kini Agam yang mengumpat dalam hatinya. Sadar jika tetesan darah dari kakinya meninggalkan jejak.


"Kk-kamu siapa?" tanya Yohan dengan suara tercekal bersamaan dengan derap langkah suara kaki para perompak yang hendak menyergap Agam.


"ITU DIA!!" teriak mereka.


"Argh," dengus Agam kesal.


Terpaksa melepaskan Yohan dan menyerah dengan cara melompat ke laut saat para perompak nyaris saja berhasil menangkapnya.


"TEMBAK DIA! TEMBAK!" teriak Yohan sambil mengusap lehernya yang terasa sakit.


"Baik Kapten."


Dan ....


'DOR.'


'DOR.'


'DOR.'


Agam yang menceburkan diri ke laut diberondong peluru.


Menyadari hal itu, Agam tidak lantas berenang ke atas, ia menenggelamkan dirinya sambil menahan napas dan berenang di bawah permukaan air.


Sungguh kondisi yang sulit untuk Agam, apalagi saat ini kakinya tertembak, ditambah kondisi tubuhnya yang tidak fit.


Hal ini membuat Agam sadar jika ia sangat lemah dan egois.


Coba saja tadi ia menurut pada Linda. Harusnya ia sarapan dan minum obat anti demam terlebih dahulu sebelum memutuskan bergabung dalam operasi.


Linda ... panggilnya dalam hati saat merasakan tubuhnya semakin lemas dan perlahan tenggelam.


...*...


...*...


...*...


...*...


Rumah Sakit Internasional, The Number One


Pukul 14. 11 waktu setempat.


Linda gelisah, selepas shalat Dzuhur, ia tidak berhenti menangis. Agam tidak bisa dihubungi. Dan ia semakin panik saat Pak Yudha meneleponnya untuk menanyakan keberadaan Agam.


"Nona Linda, Pak Agam tidak bisa dihubungi, saya sudah ke HGC. Kata bu Fanny, pak Agam izin sakit setengah hari. Tapi sampai saat ini belum ada kabar lagi."


Ucapan pak Yudha kembali terngiang. Linda tidak tenang, ia bahkan belum memakan jatah makan siangnya.


"Kamu di mana, pak? Kamu kemana, sih?" Sambil mengusap airmatanya.


Linda bingung harus menghubungi siapa untuk menanyakan tentang pria yang sangat ia cintai itu.


Linda hanya bisa memeluk rindu dan menitikan air mata.


Saat ia terisak, ponselnya berdering. Ada nomor tidak dikenal.


"Siapa ya?" gumamnya.


Karena penasaran, akhirnya diterima.


"Hallo, are you Maga's girl friend?"


(Hallo, apa kamu kekasihnya Maga?)


"Maga? Who is Maga? I don't know him." (Siapa Maga? Aku tidak mengenalnya), kata Linda.