AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Ada-ada Saja



"Mom sewawu (selalu) sibuk sama twins! Kapan ada waktu buat Key?"


Bocah menggemaskan itu sedang marah-marah karena ingin ditemani berenang oleh Linda. Padahal di kolam renang sudah ada Enda dan Maxim yang siap membantu. Agam tak ada di rumah karena sedang bekerja. Linda tentu saja tengah sibuk menyusui putra-putri kembarnya.


"Momcanya sedang kasih mimi adik-adik bayi. Mereka belum bisa makan apapun kecuali mimi dari momca." Enda berusaha menjelaskan. Namun Keivel tetap merajuk. Bibirnya cemberut.


"Kei mawah (marah)! Key tak mau bewenang (berenang)!"


Dalam keadaan hanya mengenakan underware dan tubuh yang masih basah, Keivel berlari meninggalkan kolam renang. Enda dan Maxim sigap mengejar.


.


.


Keivel ternyata lari ke ruang kerja milik Agam. Enda dan Maxim tentu saja tak berani menyentuh barang-barang milik Agam. Mereka hanya mematung dan bingung. Lalu terkejut saat Keivel menyalakan laptop Agam.


"Kei, jangan ya sayang," ucap Maxim. Hanya berani bicara tanpa mampu menahan tangan Keivel.


"Kei mau kiwim (kirim) pesan untuk Gwanma (grandmother). Mom and Paw tak sayang sama Kei," ketusnya.


Ternyata, bu Nadia atau neneknya Keivel dipanggil grandma. Tapi karena belum lancar berbicara, Keivel memanggilnya 'gwanma.'


Menurut kabar burung, bu Nadia sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis. Tepatnya menghadiri acara potong pita pembangunan bangunan baru sarang burung walet yang konon menjadi bangunan sarang burung walet terbesar di kota tersebut.


"Tapi Key, menyentuh barang orang tua tanpa izin itu tak boleh, memangnya Key sudah bisa menulis dan membaca? Belum, kan?" kata Maxim.


"Ya, Kei memang bewum (belum) bisa menulis dan membaca, tapi Key pewnah (pernah) diajawi (diajari) Paw bagaimana cawanya (caranya) membuat pesan suawa (suara) dawuwat (darurat). Key sudah dapat izin da**wi (dari) Paw untuk used laptop ini," kilahnya.


Paw adalah panggilan Keivel untuk Agam. Berasal dari kata 'Paren.' Mungkin maksud Keivel dipersingkat jadi 'Par' tapi menjadi 'Paw' versi Keivel.


"Baiklah, kalau memang sudah ada izin, kami mempersilahkan," kata Enda.


"Tapi, Key harus ganti baju dulu ya. Biar tak masuk angin," bujuk Enda.


"No," jawab Keivel singkat.


...❤...


...❤...


...❤...


Sementara itu di HGC, Agam tengah sibuk dengan setumpuk berkas di hadapannya. Pekerjaannya hari ini ia rasa sedikit berat akibat ketidakhadiran sekretaris Aulia. Pengganti Aulia untuk sementara waktu digantikan oleh staf lain dari bagian kesekretariatan yang menurut Agam kerjanya sangat tidak memuaskan.


"Sa-saya harus bagaimana, Pak? Harus ke mana setelah ini? Apa ada yang bisa saya lakukan?" Pengganti Aulia tampak gemetar di sudut ruangan. Karena kesalahan yang dilakukannya, ia tak diperbolehkan menyentuh berkas apapun.


"Diam! Kamu mengganggu konsentrasi saya! Kamu berdiri saja di situ menemani bunga hias!" teriak Agam, matanya tetap fokus pada layar.


Gara-gara Aulia cuti seminggu untuk bulan madu, Agam jadi merasa sedang dikerjai oleh Aulia dan juga pengacara Vano yang saat ini telah sah menjadi pasangan. Walaupun mereka bak kucing dan anjing, tanpa sepengetahuan Agam, Vano dan Aulia ternyata menjalin hubungan hingga mereka memutuskan untuk menikah.


"Rena, kemari!" teriak Agam.


"Ya, Pak."


Rena maju sambil menunduk. Apa yang dikatakan oleh sekretaris Aulia ternyata benar adanya. Kata Aulia sebelum pergi berbulan madu, emosional Agam Ben Buana sedang sulit dikontrol sebab pawangnya baru saja melahirkan. Sebagai seorang gadis yang berusia cukup matang yaitu 25 tahun, Rena tentu saja mengerti maksud dari ucapan Aulia.


"Bawa berkas ini ke divisi kamu! Perbaiki seluruhnya! Minta bantuan staf lain jika kamu merasa tak mampu!" titah Agam sambil memainkan ponselnya.


"Perbaiki se-sekarang, Pak?"


"Apa katamu?! Masih bertanya! Ya sekarang, lah! Masa tahun depan?!" sentak Agam.


"Bagaimana dengan tugas menemani bunga hias ini? A-apa sudah selesai?" tanya Rena. Daripada disalahkan lagi, ia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya hal yang sebenarnya tak masuk akal.


"Ya ampun Rena!" Agam berdiri kesal.


"Ba-baik, Pak. Ma-maaf." Rena langsung berlari mengambil berkas.


Saat Rena sibuk memindahkan berkas, Agam membuka ponselnya untuk mengecek rekaman CCTV yang berada di rumahnya. Ternyata, selama ini, ia selalu memantau dan memastikan jika kondisi rumah dan seluruh penghuni rumahnya ada dalam keadaan aman dan terkendali.


Di mulai dari pekarangan, tampak pak Yudha sedang menyiangi rumput. Lanjut ke area kolam renang, beberapa pekerjanya sedang membersihkan area sekitaran kolam.


Di dapur, bu Ira sedang memasak sambil bergoyang-goyang. Pak Dirut sedikit terhibur dengan goyangan bu Ira yang lumayan lucu. Ujung bibir tipis pak Dirut yang selalu tampak memerah itu terangkat sedikit.


Lanjut ke ruang kerjanya. Agam terkejut melihat Keivel sedang berada di depan laptopnya. Ia mencoba menyalakan tombol suara dari rekaman CCTV tersebut. Lalu Agam tersenyum setelah mendengar apa-apa yang dikatakan Keivel. Melihat Keivel tumbuh sehat dan cerdas, lelahnya langsung sirna.


Saat membuka live CCTV di kamar utama, pak Dirut menghela napas seraya tersenyum. Ia menyangga dagunya sambil menikmati pemandangan indah di layar ponselnya. Tampak Linda sedang menyusui bayi kembar mereka kiri dan kanan. Terlihat juga ners Sinta dan suster Dini yang sedang membantu memegangi bayi di kedua sisi.


Agam terenyuh tatkala melihat Linda terkantuk-kantuk dengan rambut diikat tinggi ke atas. Wajah kelelahan terlihat jelas dari raut wajah Linda. Melihat pemandangan itu, cinta Agam untuk Linda jadi berkali-kali lipat. Demi bayi kembar mereka, Linda full time melakukan tugasnya sebagai ibu tanpa mengenal lelah.


"Bu Linda tidur saja, twins biar kami yang pantau," kata suster Dini saat Agam menyalakan tombol suara.


Lalu Lindapun tertidur dengan keringat bercucuran di kedua pelipisnya.


"I love you, El," gumam Agam. Ia mengecup Linda dari kejauhan.


Setelah mengecek CCTV di rumahnya, ia lantas menelepon Vano. Keterlaluan pikirnya kalau sampai Vano tak mengangkat panggilan darinya. Sebab, paket honeymoon Vano dan Aulia jelas-jelas adalah hadiah pemberian dari Agam.


Benar saja, Vano langsung mengangkatnya. Pengacara Vano tentu saja tak akan berani mengecewakan Agam yang merupakan sumber pundi-pundi kekayaannya.


"Hallo, ada apa, Pak? Apa ada masalah?" Suara Vano terdengar serak dan parau, jelas sekali kalau pria itu kurang tidur.


"Hey, kenapa suaramu? Kurang tidur ya?" duga Agam.


"Hahaha, Bapak tahu saja. Ya begitulah, Pak. 'Kan semalam buka segel," jawab Vano sambil terkekeh.


"Tapi tak sampai hilang suara juga, Van. Keterlaluan kamu. Kamu apakan sekretaris saya? Aulianya baik-baik saja, kan?"


"Baik, kok. Hmm, ternyata nikmat sekali ya, Pak. Rasanya luar biasa, pantas saja Pak Agam ---."


"Cukup! Jangan diceritakan! Tak patut!" sela Agam sambil mengulum senyum.


Jujur, Agam jadi teringat akan dirinya sendiri yang harus membuka segel milik Linda secara berulang-ulang setiap kali akan melakukan penyatuan gara-gara prosedur tak lazim yang dilakukan oleh dokter Fatimah. Sebuah prosedur rahasia yang tentu saja membuat pak Dirut menjadi pria yang sangat-sangat beruntung dan candu pada Linda.


"Hahaha, maaf. Ada apa gerangan, Pak?"


"Pulang dari bulan madu, kamu harus mencari tahu keberadaan gadis bernama Senja yang pernah singgah di panti asuhan milik tuan Deanka. Saya dapat amanat dari seseorang untuk memantaunya. Info terakhir, gadis itu mengikuti seminar pelatihan khusus tuna netra."


"Namun dia tidak kembali lagi ke panti. Kata tutornya, Senja dijemput seseorang yang mengaku sebagai keluarganya. Pihak panti tak bisa menolak karena Senja sudah termasuk kategori dewasa dan memiliki kartu identitas."


"Hah? Harus sama saya, Pak? Bukannya saya tak mau Pak, tapi 'kan anak buah Bapak ada banyak. Emm, maksudnya, saya hanya bertanya. Saya tidak menolak Pak, serius. Vano kalang kabut. Di satu sisi ingin menolak, namun di sisi lain, ia tak pernah bisa menolak perintah Agam.


"Van, dengarkan saya dulu. Kenapa saya mendelegasikan tugas ini ke kamu? Alasannya karena lokasi seminarnya Senja kebetulan berdekatan dengan vila yang kamu tempati saat ini. Nanti saya kirimkan alamatnya. Jika ada waktu senggang, kamu tolong suruh seseorang untuk mengecek CCTV yang ada di sana. Saya ingin melacak identitas orang yang menjemput gadis itu," tegas Agam.


"Oh begitu? Baik, Pak." Tak ada kalimat lain kecuali menyetujui.


Setelah menelepon Vano, Agam lanjut, membuka surel rahasia dari seseorang. Lalu ia menulis sesuatu menggunakan huruf dan bahasa asing yang tidak mudah dimengerti.


...❤...


...❤...


...❤...


Sementara itu, sang pengantin baru alias Vano Rendra Desmara langsung mengacak rambut basahnya setelah mendapat titah dari Agam. Pria itu hanya mengenakan boxer minimalis. Di sisinya tampak tergolek lemah sekretaris Aulia yang tubuhnya tertutup selimut sampai batas dadanya.


Kelopak mata wanita itu tampak sembab. Bibirnya membengkak, telinganya memerah.


"Li, maaf ya." Vano memeluknya.


"Lepas!" Aulia menggedikkan bahunya.


"Hey, aku suamimu, kamu tak boleh bentak-bentak aku," protes Vano.


"Aku tahu kamu suamiku! Tapi aku sebal karena kamu sudah membuatku menangis dan menjerit sepanjang malam. Kamu gila! Jujur saja kalau kamu minum obat kuat! Ya, kan?!" tuduh Aulia sambil memukuli dada Vano.


"Hey, maaf kalau aku menyakiti kamu, tapi kamu juga suka, kan?"


"Tidak! Aku tidak suka! Sakit, gila!" teriak Aulia.


"Kamu tak menikmatinya? Masa 'sih?" Vano menautkan alisnya.


"Tidak!"


"Tapi kamu m e n d e s a h - d e s a h, kan? Semalam ekspresimu --- itu artinya ---."


"Itu hanya akting supaya aku percaya diri dan kamu merasa puas! Huuu huuu ... Mamaaa," ratap Aulia.


"Ya ampun, Li. Maaf ya, apa aku kurang pendahuluan?" tanya Vano. Ia masuk ke dalam selimut dan kembali memeluk istrinya.


"Tidak tahu! Aku tidak tahu! Pokoknya ini masih terasa perih! Kamu jahat! Huuu ...." Sekarang menangis di dadanya Vano, kepalanya menelusup.


"Ssshh, maaf .... Karena kurang sabar, aku jadi terburu-buru. Saat aku melakukannya, mungkin kamunya belum rileks. Maaf ya Li," sambil menciumi puncak kepala Aulia.


"Huuu, jangan diulang lagi, Van." Masih memanggil nama suaminya dengan panggilan informal.


"Semalam 'kan aku sudah bertanya, 'lanjut jangan?' Dan kamu menjawab, 'lanjutkan.' Ya aku lanjut, 'lah." Vano beralibi.


"Itu karena aku penasaran! Kupikir tak akan sesakit itu. Terus kenapa kamu kuat sekali? Kamu seperti kerasukan, Van!" ungkapnya dengan nada ketus.


"Maaf, malam ini ... aku janji akan melakukannya dengan lembut. Aku akan membuatmu terlena dan ketagihan," rayu Vano seraya membelai rambut Aulia.


"Hey, aku tidak meminum apapun," bantah Vano.


"Be-benarkah? Jangan berbohong!"


"Hahaha. Aku kuat karena ada gurunya. Gurunya pak Agam," kata Vano, tersenyum bangga.


"Issh, jangan sebut nama pak Agam di luar jam kerjaku. Mendengar namanya saja kepalaku langsung pusing."


"Maaf, sekarang kita makan siang yuk!" ajak Vano.


"Bawa ke sini saja makanannya, Van. Aku malas berjalan. Ya, aku memang mampu berjalan, tapi cara berjalanku jadi aneh. Arrghh, ini gara-gara kamu!"


"Sudah dong, Li. Jangan dibahas lagi. Aku mengaku salah." Vano menangkup pipi Aulia.


"Pokoknya aku ---."


Aulia tak sempat melanjutkan kalimat protesnya sebab bibir bawelnya telah dibungkam oleh Vano. Aulia ingin berontak, namun ia tak berdaya. Akhirnya, pertautan itu kembali terjadi. Awal mulanya, Vano terlihat begitu lembut. Namun perlahan berubah panas dan dalam saat Aulia mulai merintih.


Satu tangan Vano mencekal tangan Aulia, seraya menghimpit tubuhnya. Sementara tangan yang lain perlahan berkelana entah kemana.


"Ja-jangan lagi," ucap Aulia lirih.


"Tidak akan, Li. Aku hanya butuh vitamin agar aku semangat." Tapi tangannya tak berhenti menjalar ke sana kemari.


"Huuu ... Papa ...." Sekarang Aulia memanggil papanya.


"Semalam, kamu memanggil paman dan bibimu, apa nanti malam akan memanggil kakek dan nenekmu?" Vano makin gemas dengan tingkah lucu Aulia. Ia baru tahu jika Aulia adalah 'anak mama' yang manja dan cengeng.


"Nenek dan kakekku sudah meninggal, aku tak mungkin memanggil nama mereka! Kalau mereka datang, bagaimana?" ocehnya.


"Hahaha." Vano tergelak.


"Ishh, cepat bawa makan siangnya! Aku lapar!" teriaknya.


"Baik, istriku. Oiya, selesai makan siang, aku mau pergi ke luar dulu ya."


"Untuk?" Aulia heran.


"Ada tugas dari pak Agam."


"Apa?! Bisakah kamu membangkang dia dulu?! Kita lagi bukan madu, Van!" Aulia kesal.


"Hahaha, tenang dong Li, tak akan lama 'kok. Hmm, aku jadi menyimpulkan kalau kamu tak mau ditinggalkan karena merindukanku, kan?" duga Vano.


"Apa?! Jangan mengada-ada!" kilah Aulia.


"Kalau iya juga memangnya kenapa? Oiya, aku menduga kalau sakitmu hanya pura-pura. Sebagai pengacara, aku banyak belajar tentang ilmu membaca ekspresi wajah. Aku menyimpulkan kalau kamu menyukai semua hal yang aku lakukan untuk membahagiakan sekujur tubuhmu," tuduh Vano sambil memakai pakaian lengkap.


"Cukup! Omong kosong!"


Aulia meradang. Ia melempari Vano dengan bantal. Lalu ia bersembunyi di balik selimut dengan pipi yang merona merah.


Vano tersenyum puas. Sebelum pergi, ia iseng menarik selimut dan memukul bokong Aulia hingga sekretaris super seksi yang sudah menjadi istrinya itu beteriak dan kembali merajuk.


"Aarrhh, Vano!"


Vano tak mengatakan apapun, hanya tersenyum dan bergegas begitu saja di saat Aulia sibuk menutupi tubuhnya yang ternyata masih dalam keadaan polos alias tanpa sehelai benangpun. Tampak pula bercak darah menghiasi sprei saat Aulia menggeser kakinya.


Ya ampun, mereka benar-benar pengantin baru. Semoga sakinah mawaddah warahmah, aamiin.


...❤...


...❤...


...❤...


"Sayang, saya rindu," selepas pulang kerja dan mandi, Agam langsung memeluk Linda yang baru saja selesai menyusui si kembar.


"Hmm," jawab Linda. Matanya sudah setengah terpejam.


"Mau tidur ya sayang?" tanya Agam, kepalanya menelusup di ceruk Linda.


"Hmm."


Serius, Linda memang kelelahan. Bayi kembarnya selalu menguras tenaganya. Dua jam sekali dua-duanya harus minum ASI. Uniknya, bayi kembar tersebut tak mau susu formula. Karena Linda pernah pingsan, dokter menyarankan agar diberi tambahan susu formula. Namun keduanya kompak menolak susu formula.


Karena hal itulah, Linda harus benar-benar menjaga asupan makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi untuk ia dan bayinya. Tak salah jika Agam mendatangkan tim ahli gizi ke rumahnya agar jumlah gizi dan kalori yang dibutuhkan Linda dan bayinya tercukupi.


"Kamu hebat," Agam mengecup tengkuk Linda.


"Anda juga hebat." Linda akhirnya membalikan badan dan membalas pelukan pak Dirut.


"Emm, sayang ...."


Agam menatap Linda, menangkup pipi dan menelusuri bibir Linda dengan jemarinya.


"Maaf ya Pak ...."


Linda sadar diri jika akhir-akhir ini waktunya bersama Agam sangat terbatas. Waktu Linda banyak dihabiskan di kamar si kembar.


"Tidak apa-apa sayang," Agam mengecup kening Linda.


"Oiya Pak, cadangan ASI-nya tinggal sedikit lagi. Aku jarang memompa karena ASI-nya sering kosong. Aku sudah berusaha memompa setelah menyusui mereka. Ta-tapi, yang keluar hanya sedikit, saat aku paksa untuk terus dipompa, a-aku kesakitan, Pak," lirih Linda. Jujur, ia sempat stres karena khawatir si kembar kekurangan ASI.


"Ssstt, tak apa-apa sayang, saya sedang mencari solusinya. Begini, anak sulung paman Yordan 'kan sedah hamil, kata paman Yordan, taksiran persalinannya minggu depan. Saya berencana meminta cadangan ASI untuk bayi kembar kita dari anaknya paman Yordan. Namanya Amaryllis. Bagaimana? Kamu setuju?"


"Tapi 'kan mereka ada di luar negeri, Pak."


"Ya ampun sayang, itu masalah mudah. Saya akan menyewa zet pribadi milik tuan Yohan untuk antar jemput ASI-nya. Mudah, bukan?"


"Biayanya pasti mahal," keluh Linda.


"Jangan dipikirkan masalah biaya sayang, uang 'kan bisa dicari. Sekarang, apa saya boleh ...." Tanpa Agam menjelaskanpun, Linda sudah faham.


"Boleh, Pak. Ada waktu satu jam lagi sebelum jadwal menyusui," kata Linda sambil tersenyum.


Mendengar persetujuan Linda, pak Dirut sigap membuka kancing piyamanya. Walaupun Linda belum selesai masa nifas, tapi ... ada banyak jalan menuju Puncak.


Lalu Linda memejamkan mata sambil mengatur napasnya saat pak Dirut mulai menyesap lembut nan membuai. Aroma mint dari pak Dirut selalu membuat Linda mabuk kepayang.


Lalu ....


"Permisi."


Terdengar suara Enda dari luar kamar. Sontak yang sedang asyik berbagi napas itu menghentikan aktivitas mereka dan saling menatap.


"Mom, Paw, Kei mau tiduw (tidur) sama Paw and Mom." Suara bocah pengganggu. Maksudnya, suara si bocah tampan dan menggemaskan, Keivel.


Agam menghela napas, segera merapikan pakaiannya. Linda terkekeh sembari mengusap bibirnya. Agam membuka pintu kamar. Keivel berhambur ke pelukannya.


"Paw, apa Kei ganggu?" tanya Keivel saat Agam sibuk menciumi pipi bakpaunya yang putih, lembut, empuk dan beraroma khas. Enda bergegas pergi. Tugasnya hanya mengantar Keivel sampai depan kamar.


"Emm, sedikit," jawab Agam.


"Sedikit? Kei maunya banyak. Hey Mom, Kei windu (rindu)."


Keivel meloncat ke tempat tidur, Agam lengah, pun dengan Linda. Keivel mendudukan dirinya tepat di perut Linda bagian bawah.


"Auwhh!" pekik Linda spontan. Bekas luka jahitan SC-nya otomatis langsung ngilu.


"Kei!" Agam panik, spontan menarik Keivel.


"Huwaaa," Keivel menangis, ia kaget karena merasa jika Agam menghardiknya.


"Sorry Kei," kata Agam.


"Mom juga minta maaf ya. Don't cry, Mom beteriak karena bekas luka operasi Mom belum pulih total," jelas Linda. Ia segera memeluk Keivel.


"Kei yang sawah (salah), maaf Mom, maaf Paw." Setelah tangisannya reda, Keivel meraih tangan Linda dan Agam secara bergantian untuk diciumnya.


Agam dan Linda kemudian memomong Keivel, mendengarkan keluh-kesahnya, dan membacakan buku cerita secara bergantian. Lalu, Keivelpun mulai mengantuk. Ia yang tidur di tengah-tengah, akhirnya terlelap jua.


"Sa-sayang, masih bisakah?" bisik Agam.


Ia ternyata masih mengingatnya. Pak Dirut rupanya sangat berharap bisa memenuhi hasrat biologisnya saat ini juga. Mata sayunya yang indah itu terlihat penuh harap dan mengiba.


"Emm ... tapi, empat belas menit lagi jadwalnya aku menyusui twins, Pak."


"Tak masalah sayang. Kita pasti bisa," pak Dirut berbisik lagi.


"Takut Kei bangun, Pak." Linda khawatir.


"Ssstt, cepat sayang .... Kita pindah ke sofa ya. Kalau Keivel bangun, nanti bisa dikondisikan. Saya bisa mengaturnya." Jika menghendaki sesuatu, pak Dirut jelas tak bisa dibantah.


Lindapun mengangguk, patuh. Ia pasrah saat Agam memangku tubuhnya untuk dipindahkan ke sofa. Sepanjang perjalanan menuju sofa, bibir mereka kembali terjalin intim. Linda merengkuh leher pak Dirut hingga pertautan halal itu kian mendalam dan melenakan.


Semoga Keivel bobok nyaman, dan twins terlambat meminta ASI.


...~Tbc~...