AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Badai Belum Berlalu



"GAMA! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriak Bu Nadia.


Dan tanpa diduga siapun, ibu tangguh itu mendatangi Gama, dan ....


'BUGH.'


Meninju kuat pundak Gama yang masih melongo hingga terjengkang.


"Jangan!" teriak dokter. Namun mereka terlambat mencegah bu Nadia menyerang Gama.


'BRUK.'


Tubuh Gama yang tidak seimbang akibat serangan itu tenyata menyebabkan kepala Gama terbentur ke lantai.


"Val!" teriak Freissya.


Segera meraih tubuh Gama dan ia beteriak saat menyadari darah segar mengalir dari kepala bagian belakang milik Gama. Rupangnya, benturan itu mengenai bekas cidera lama dan menyebabkan perdarahan berulang.


"Gama?!"


Bu Nadiapun teperanjat kaget. Ia menepuk pipi Gama yang matanya terpejam. Sementara dokter langsung sibuk memeriksa Gama dan sebagian lagi mengintruksikan agar suster menyiapkan kembali peralatan medis yang sebelumya sudah dilepaskan dari tubuh Gama.


"Val? Sadar Val! Val! Huuu!"


Freissya histeris dan ia benar-benar menangis saat tubuh Gama dibopong oleh empat orang tenaga medis menuju ruang tindakan emergency.


"Ini gara-gara Ibu! Beraninya Ibu memukul dia!" sentak Freissya pada bu Nadia yang saat ini tengah menatap heran pada telapak tangannya. Mungkin ada sedikit penyesalan karena telah memukul bayi keduanya hingga membentur lantai dan pingsan.


"Ibu membela kamu, Sus," jawabnya santai. Bu Nadia hendak menyusul ke ruang tinakan namun dilarang masuk oleh suster.


"Bagaimana kalau dia koma lagi?! Ibu siapa sih? Ibu benar-benar tak beperasaan!" teriak Freissya. Lagi, ia memaki bu Nadia setelah kembali ke kamar pemulihan.


"Nona Ice, ibu ini ada ---."


"Ehm!"


Baru saja Pak Yudha hendak menjelaskan, bu Nadia sudah berdeham. Jelas sekali kalau bu Nadia tidak ingin mengungkap identitas sebagai ibunya Gama pada Freissya.


Sementara bu Nadia sudah tahu jika suster cantik dan terlihat imut-imut ini adalah kekasihnya Gama. Bu Nadia tahu dari pak Yudha, sedangkan Pak Yudha tahu dari Agam Ben Buana.


"Maaf atas kelancangan anak itu," bu Nadia mengalihkan pembicaraan.


"Tidak apa-apa, tapi ibu sudah membuat kepalanya berdarah. Ibu harus minta maaf pada dia dan seluruh keluarganya," ucap Freissya dan kembali menangis.


"Hei, memangnya kamu tidak apa-apa dibegitukan oleh anak itu? Bukankah itu termasuk pelecehan?" tanya bu Nadia. Ia ternyata pintar menyembunyikan kekhawatiran. Karena sesungguhnya batinnya tengah mengkhawatirkan Gama juga sangat merindukannya.


Pukulan tadi sebenarnya tidak terlalu kuat, namun bu Nadia tidak menyangka jika keseimbangan Gama belum sembuh total.


"Huuu, apa Ibu tidak tahu kalau dia baru saja sembuh? Tega sekali Ibu menyakitinya." Freissya kemudian bernjak, ia bermaksud untuk kembali ke ruang tindakan untuk melihat Gama.


Bu Nadia tersenyum melihat ulah lucu Freissya. Dan ia sama sekali tak menganggap serius hubungan putranya dan suster itu.


Kini, di ruangan pemuliha hanya ada bu Nadia dan pak Yudha.


Bu Nadia hanya sebatas tahu kalau Freissya kekasih Gama, untuk masalah Gama pernah meniduri Freissya karena dijebak oleh teman-temannya, Agam telah mewanti-wanti pak Yudha agar tidak membocorkan kejadian itu pada ibundanya.


"Apa yang akan dilakukan selanjutnya, Bu?" tanya pak Yudha.


"Sepertinya Gama harus dibawa berobat ke luar negeri."


"Apa pak Agam sudah setuju, Bu?"


"Pasti setuju, lagipula ini demi kebaikan Gama. Selain itu, Gama juga kan sudah sudah menyelesaikan ujian akhir sekolah, hanya tinggal menunggu kelulusan saja."


"Aku pikir tak masalah kalaupun hari ini kita mengurusnya untuk dirujuk ke rumah sakit luar negeri. Aku hanya perlu mengkonfirmasi paman Yordan untuk mengurus seluruh keperluan selama di luar negeri," jelas bu Nadia panjang lebar.


"Baik, Bu. Tapi apa kita perlu konfirmasi pada BRN juga? Soalnya, kemarin-kemarin BRN selalu menolak menyerahkan penyembuhan dan pemulihan Gama pada pihak keluarga. Mereka mengatakan Gama tanggung jawab penuh BRN karena sampai sekarang Gama adalah calon anggota BRN."


"Masalah BRN biar aku yang urus. Pak Yudha urus administrasi rumah sakit saja ya," titah Bu Nadia.


"Baik Bu."


"Jangan lupa hubungi tuan Yohan untuk menyiapkan helikopter ambulance. Katakan juga kalau aku ingin dia yang jadi pilotnya."


"Baik, Bu." Pak Yudha beranjak.


Bu Nadiapun beranjak menuju kantor BRN. Tidak ada raut ketakutan dari wajahnya. Bu Nadia tampak santai dan tenang. Sebelum pergi ke kantor BRN, bu Nadia juga menemui Gama yang saat ini kondisinya sudah terpasang infus dan oksigen.


Syukurlah, akibat benturan ke lantai tadi, ternyata tidak menyebabkan Gama koma lagi. Gama hanya sedang tidur karena diberi obat penenang oleh dokter setelah dilakukan penjahitan minimalis pada kulit kepalanya yang robek.


.


.


"Val, aku senang kamu tidak apa-apa. Aku tidak tahu siapa ibu-ibu lancang itu. Tadinya, kalau terjadi hal buruk padamu, aku akan melaporkan ibu-ibu itu pada polisi."


Freissya menemani Gama setelah dipindahkan kembali ke ruang pemulihan. Ia memutuskan untuk lembur dan tidak pulang ke rumah. Lalu pak Yudha tiba sambil membawa banyak berkas di tangannya.


"Nona Ice, apa Anda sudah makan?"


"Sudah, Pak."


"Bapak bawa berkas apa? Banyak sekali."


"Ini berkas pemindahan Gama, Nona Ice."


"Berkas pemindahan? Maksudnya?"


"Gama mau dipindah rawat ke rumah sakit luar negeri, Nona Ice. Rencananya akan berangkat setelah Subuh," terang pak Yudha.


"A-apa? Pi-pindah rawat?"


Seketika itu juga wajah riang Freissya berubah sendu. Ia tidak ingin Gama meninggalnya setelah mereka melakukan kembali hubungan terlarang itu.


"Ya, Nona Ice. Ini demi kebaikan Gama. Jika sudah pulih, rencananya, Gama juga akan melanjutkan kuliah di luar negeri."


"A-apa? Huuks."


Freissya tidak berkomentar. Ia kemudian memegang tangan Gama dan menangis. Pak Yudha menautkan alis. Ia tentu tak mengerti kenapa Freissya jadi seperti itu.


Val, apa kamu benar-benar akan pergi? Terus kalau kamu pergi, aku bagaimana Val? Kalau aku hamil bagaimana? Aku tidak mau meminum obat peluluh. Kalau aku meminumnya dosaku akan bertambah banyak. Batin Freissya.


"Nona, Ice? Ada yang bisa saya bantu?" Pak Yudha mendekat.


"Ti-tidak Pak, aku tidak apa-apa. Aku hanya terharu," ungkapnya.


Freissya pasrah. Ia akan berusaha ikhlas menerima hari esok yang mungkin akan menjadi kelabu. Kekelabuan yang sejatinya diakibatkan oleh kecerobohan dan kebodohan dirinya sendiri.


Saat pak Yudha pergi, Freissya naik ke tempat tidur Gama dan memeluk pria bongsor itu. Lalu menangis di bahu Gama.


"Val, huuks .... Aku ingin melarangmu pergi, tapi aku siapa? Aku tak memiliki kewenangan apapun atas dirimu," gumamnya.


"Val ...."


Freissya memejamkan mata. Ia menyimpan kesedihan mendalam dan penyesalan itu di relung hatinya.


Nasi sudah menjadi bubur. Ia yang berambisi ingin melerai kesalahfahaman orang tuanya terhadap keluarga Buana, kandaslah sudah. Alih-alih bisa menikah muda dengan Gama, ia malah harus ikhlas ditinggalkan oleh pria ini.


Terlebih, ia tidak memiliki kepastian dari semua ini.


Apakah saat sadar Gama akan mengingatnya? Apakah setelah pulih Gama akan kembali ke negara ini lagi?


Atau ... Gama akan tetap di luar negeri sampai lulus kuliah dan bisa jadi tidak akan pernah kembali ke negara ini dan melupakannya.


"Huuu ...."


Freissya menciumi perlahan wajah Gama. Membasahi wajah tampan yang terlelap itu dengan airmatanya. Lalu menarik tangan Gama agar ia bisa merebahkan kepala di lengan kokohnya.


Sebelum merebahkan diri, Freissya memandangai dalam-dalam garis wajah Gama sambil menelusurinya. Ia akan mengenang dan mengingat wajah ini untuk disimpan di lubuk hatinya yang terdalam.


Walaupun tanpa kepastian dan banyak ketidakmungkinannya, Freissya masih berharap jika suatu hari nanti Gama akan mengingatnya dan mencarinya untuk kembali merajut benang-benang cinta yang pernah bersemi dan tumbuh di hati mereka.


"Val ... aku berjanji akan menunggumu. Bolehkah?"


Lalu pelan namun pasti, suster cantik itu mendekatkan wajahnya untuk memagut bibir Gama.


Saat bibir mereka menempel, Freissya gugup. Ia bingung dan takut untuk memulainya. Lalu Freissya memejamkan mata agar memiliki keberanian. Dan ia mulai bergerak pelahan dengan jantung yang berdegup kencang setelah meyakinkan diri.


I love you, Val ....


Dan Freissya tak sadar jika tangan si pemilik bibir manis nan lembut itu telah melingkar di pinggangnya.


Apakah crocodile kecil itu sudah bangun? Sejak kapan ia terbangun? Entahlah.


...❤...


...❤...


...❤...


Ia kesal karena Vano bertamu di jam malam saat ia baru saja ada waktu untuk mencumbu Linda karena seharian ini waktunya lebih banyak dihabiskan untuk mengasuh Keivel.


"Maaf, soalnya ini penting, Pak." Sambil mengeluarkan berkas dari tas kerjanya.


"Sudahlah, cepat-cepat! Atau langsung pada intinya saja, ada apa?!"


"Hahaha, sabar dong, Pak. Memangnya yang kemarin belum kenyang ya?" ledek Vano.


"Sialan kamu, Van. Ya belum lah!" sentak Agam. Meraih berkas dari tangan Vano dengan terburu-buru.


"Ini ada berkas dari pengadilan yang harus Bapak tanda tangan, saya mendapatkan ini dari Aiptu Joey. Intinya, besok LB akan dijemput polisi untuk memberi kesaksian tentang kasus wawancara ilegal pada para penjabat itu," jelas Vano.


"Apa?! Berurusan dengan polisi lagi?!" Pak Dirut garuk-garuk kepala.


"Hahaha, sabar ya Pak, kasusnya memang belum selesai. Bu Linda juga kan sudah ditetapkan sebagai tersangka."


"Sial! Sial! Sial! Saya sampai lupa kasus itu!" Agam meninju telapak tangannya sendiri.


"Tenang Pak Agam, dari bukti yang terkumpul, sudah dipastikan kalau bu LB tidak akan jadi terdakwa. Jelas kok kalau ia hanya disuruh lalu dijebak oleh TV KITA," ucap Vano dengan percaya diri.


"Awas saja kalau istri saya sampai jadi terdakwa dan di penjara! Kalau itu terjadi firma itu akan saya hancurkan!" Pak Dirut sesumbar.


"Hahaha," Vano tertawa.


Ia merasa miris jika benar firma itu akan dihancurkan, sebab kantor firma yang dimaksud Agam baru saja selesai dibangun pasca kasus pembakaran itu. Bahkan masih ada beberapa bagian bangunan yang belum selesai.


"Diam kamu! Oiya, kamu hubungi Aulia kalau saya besok tidak akan ke kantor. Saya harus mendampingi Linda. Kalau saya tidak dampingi, mata para polisi itu tidak akan berkedip karena terus melihat istri saya," kata Agam.


"Pak, kenapa harus saya yang menghubungi Aulia? Dia wanita harimau Pak. Kalau bicara dengan saya, dia tak pernah ada sedikitpun sisi kewanitaannya. Dia sekretaris galak," protes Vano.


"Hahaha, terserah! Pokoknya kamu beri kabar Aulia kalau saya tidak masuk."


Keputusan pak Dirut mengikat dan mutlak. Akhirnya, dengan berat hati Vano mengatakan ....


"Baiklah."


"Sudah cukup, kan?"


"Sudah Pak. Tinggal ini saja yang belum ada tangan LBnya."


"Istri saya bisa tanda tangan besok, kan?"


"Ya, Pak. Karena sudah selesai, saya permisi."


"Nah begitu dong, Van. Kenapa tidak dari tadi kamu pulang?"


"Hahaha, perlakuan Anda pada tamu buruk sekali," canda Vano.


"Hahaha," Agampun tertawa. Merasa sadar diri kalau sedari tadi ia kurang ramah.


Vano akhirnya berpamitan sambil membawa beban di dada karena harus mengabari sekretaris Aulia yang entah kenapa tidak pernah ramah kepadanya.


.


.


Setelah Vano pergi, jelaslah pak Dirut segera ke kamar lagi.


Ia ingin melanjutkan yang tadi sempat tertunda. Setibanya di kamar, si seksi nan cantiknya sudah tertidur.


Lalu Agam mengendap. Mengecek ranjang mungil milik Keivel. Ingin memastikan jika putranya itu tak jadi nyamuk kecil. Dan Agam kaget karena saat tirai dibuka mata sayunya bertatapan dengan mata bening milik Keivel.


"A-apa k-kamu bangun juga? Hei, kenapa tak tidur? Ini jam satu malam Keiv, mau ganggu Paren ya?" duga Agam sambil memangku Kivel.


Ia memindahkan bayi itu ke tempat ganti popok. Lalu diceknya sambil senyum-senyum.


"Apa? Kamu puppy? Oh ya ampun Keiv, tidak bisakah puppynya nanti pagi saja?"


"Hoeem," jawab Keivel.


Ia menggerakkan kakinya yang tampak bak timun suri. Terlihat padat dan gemoy. Hingga membuat siapa saja yang melihatnya merasa ingin menggigit kakinya. Kegemoyan juga terlihat pada lengan dan tangan Keivel yang melipat-lipat seperti potongan bakpau berwarna putih.


"Tenang saja, malam ini Paren bisa ganti popok kamu, kok. Hahaha, tapi besok malam kamu tidak akan bisa ganggu Paren dan Momca lagi," kata Agam.


Kenapa Agam berkata demikian? Karena mulai besok, suster Dini dan ners Sinta akan kembali bekerja. Sementara dokter Rita mengambil cuti kerja demi mengurus Hikam selama masa pemulihan pasca penusukan itu.


Setelah mengganti pampers, Agam membawa Keivel ke tempat tidur. Meletakan Keivel di antara Linda dan dirinya. Lalu secara bergantian, ia mencium pipi Linda dan pipi Keivel.


Ia tersenyum memandangi wajah keduanya. Wajah dua orang yang sangat-sangat ia cintai.


"Hmm, agar tak kesepian, kamu sepertinya harus punya adik," kata Agam pada Keivel.


"Hahaha, kamu senyum? Itu artinya kamu mau seorang adik?"


"Hei, jangan sembarangan," dijawab pukulan di bahu oleh Linda.


"Sa-sayang?" Agam tersipu.


"Untuk mengurangi risiko yang membahayakan bagi ibu dan juga bayi, jarak aman untuk hamil setelah operasi caesar itu minimal 24 bulan," sela Linda sambil cemberut.


"Hahaha, saya bercanda sayang, sambil berpindah ke belakang Linda. Segera menghujani leher Linda dengan kecupan-kecupan kecil.


"Emh ... Pak, itu Keivel melirik, jangan begini, aku malu."


"Hahaha, Keivel harus tahu kalau parennya sangat mencintai momcanya," ujar Agam tanpa melepas Linda dari dekapannya.


"Pak, serius jangan. Ih, awas!" Mengurai tangan pak Dirut yang menelusup ke gaun tidurnya.


"Salah kamu pakai piyama setipis dan sependek ini. Kamu tahu? Sedari tadi penampilan kamu itu menusuk mata saya," tegas Agam. Tangannya tak mau berhenti. Terus menelusup dan beraksi di balik piyama Linda.


"Anda nakal!"


Linda lantas mengatupkan bibir sambil sesekali melirik Kevel. Sementara Agam terlihat tanpa ekpresi. Namun wajah pak Dirut merona yang berarti ia sedang bahagia.


"Maga ... emh ... he-hentikan. A-aku ---." Linda merasa tak nyaman. Karena ada Keivel, ia jadi tak bisa mengekpresikan diri.


"Bersuara saja sayang, Keivel belum mengerti kok," bisik Agam saat napas Linda sudah mulai tak beraturan.


"A-Anda ma-maniak," bisik Linda dengan bibir gemetar.


"Tapi kamu suka 'kan?" goda Agam. Malah semakin gencar mempermainkan Linda.


Linda menggelengkan kepala. Lalu membekap bibirnya sendiri dengan tangannya.


"Sa-sayang kita lanjutkan ya," bisik Agam dari balik punggung Linda dengan suara yang terdengar gemetar.


"A-ada Keivel, a-aku ti-tidak mau," tolak Linda.


"Tenang, kita pakai selimut sayang," pak Dirut ada ide.


Linda terdiam.


"Diam berarti ya," sela Agam.


Lalu menarik selimut dan menutupi tubuh Linda sampai batas leher. Sementara tubuh pak Dirut sama sekali tak terlihat sedikitpun. Namun pergerakannya di balik selimut tampak jelas.


"Hom, hom," Keivel asyik dengan dunianya.


"Hai Keivel ..., k-kamu ga-ganteng sekali," ucap Linda, basa-basi. Tangan Linda keluar dari balik selimut untuk mengusap kepala Keivel.


"E-enak, emh ... maksudnya se-senang ya bisa tidur bersama-sama?" Linda kembali basa-basi. Wajahnya memerah karena merasa salah bicara.


Dari balik selimut pak Dirut terkekeh. Entah apa yang ia tertawakan.


Lalu dari balik selimut jua berjatuhan baju pak Dirut dan teman-temannya. Paren sepertinya akan segera beraksi.


"A---," Linda sepertinya hendak beteriak. Namun suaranya tercekal.


Beberapa saat kemudian ....


"Hom hom, hemm."


Keivel tersenyum-senyum saat tubuh mungilnya merasakan ada pergerakan halus dari ranjang megah yang tengah ia tempati saat ini. Ranjangnya memang kokoh, tapi semahal apapun tempat tidur ini, kasur dan ranjangnya tetap saja tak mampu bertahan dari kekuatan si petarung tangguh.


Apa yang terjadi? Entahlah.


Sabar ya Keivel, anggap saja sedang terombang-ambing di atas permukaan ombak.


...~Tbc~...


...Yuk komen yuk! Biar nyai makin semangat mengintainya. Jangan lupa berkunjung ke 'TERPAKSA BERBAGI RANJANG' terima kasih....