AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Perubahan Sikap



"Frei, Frei, tolong Ibu Frei," teriak ibu kost yang entah siapa namanya.


"Ada apa sih?"


Seorang bacah perempuan lucu keluar sambil membawa boneka.


"Kakak kamu mana? Yang kost di rumah Ibu sakit perut, harus diperiksa," jelasnya.


"Bu Mara?"


Freissya keluar karena mendegar teriakan. Oh, ibu kost itu ternyata bernama Mara. Namanya panjangnya pasti bukan Marabahaya. Atau bisa saja Mara adalah nama suaminya. Ya sudah panggil saja Bu Mara.


"Itu yang kost di rumah Ibu sakit perut sampai keringat dingin, melengking-lengking. Kamu periksa ya, kalau ada obat bawa saja."


"Yang kost? Siapa? Bukannya kata Ibu tidak menerima yang kost lagi?"


"Ini pengecualian Frei. Dia setuju dengan harganya."


"Ya sudah aku ke sana, mau ambil tensimeter dulu."


Freissya bergegas tanpa ada rasa curiya. Ya, ia tidak tahu kalau yang kost di rumah Bu Mara adalah Gama. Gama memang hanya mengatakan kost di daerah ini, tapi tidak menjelaskan letaknya.


Semalam, setelah lepas dari pelukan Gama, Freissya berjalan cepat meninggalkan Gama karena malu. Ia malu sebab rahasia traumanya pada ular terbongkar. Freissya tidak sadar kalau Gama terus mengikutinya sampai depan rumah.


"Cepat Frei, jangan lama-lama."


Setelah mengambil tensi darah, o r a l i t, dan beberapa obat sirup. Freissya dan Bu Mara bergegas. Bu Mara bahkan lari saat menaiki tangga rumahnya. Siapa sih yang tidak peduli dengan sumber uangnya? Bu Mara jelas beruntung karena mendapatkan penghuni yang mau membayar di atas harga standar.


"Val, Ibu masuk ya."


Suara itu mendegupkan hati Gama. Jika bu kost datang, artinya Ice juga akan segera datang. Gama sedikit gugup. Dan seriusan perutnya kembali melilit, jadi ia meringis kesakitan.


"Awwh ...." Rintihnya.


Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan rasa sakit yang mendera.


'Kret.'


Pintu terbuka.


"Val," Bu Mara memegang bahunya.


Freissya yang baru saja datang membulatkan mata. Ia tidak percaya dengan kenyataan ini. Entah ini yang keberapa kali. Bocah bongsor itu selalu mengagetkannya.


Namanya Val? Ia baru tahu setelah mendengar ucapan Bu Mara.


"Cepat Frei, kok kamu bengong sih?"


Selain panik, Bu Mara juga sedang berpikir. Ia merasa ada hal yang janggal pada baju Val. Perasaan, tadi hanya memakai kaus dalam dan tidak sewangi ini.


Tapi saat ini baju Val berubah, rambutnya rapi dan mewangi. Bu Mara berpikir ia salah, tapi ya sudahlah, yang pentingkan sumber uangnya kerasan tinggal di rumahnya.


"Baik, aku periksa dulu Bu."


Daripada membuat Bu Mara bingung, Freissya memutuskan untuk pura-pura tidak mengenal Gama.


"Ya sudah Ibu ambil air hangat dulu," Bu Mara bergegas.


Yes, ada yang bahagia atas kepergian Bu Mara. Buaya itu perlahan membuka matanya untuk menatap Freissya.


Gadis itu begitu lucu. Rambutnya yang basah tergerai begitu saja. Memakai rok warna putih sebatas lutut. Bibirnya merah delima berlip gloss. Terlihat manis dan memikat di mata sang crocodile.


Sekarang, Freissya sedang meraih tangan Gama untuk memeriksanya. Gama patuh, dan diam saja.


Saat Freissya tengah memeriksa tekanan darah, ponsel Gama berdering. Freissya mengambilkan dan memberikannya pada Gama. Gadis itu sedikit berubah, jiwa kemanusiaannya bangkit saat melihat orang sakit.


"Hallo," sapa Gama pelan.


Yang meneleponnya adalah Agam. Freissya lanjut menensi.


"Gama, kamu di mana sekarang, anak buah Kakak mau jemput kamu. Kamu harus pergi ke suatu tempat. Sudah Kakak siapkan."


"Apa? Kak ... jangan sekarang ya, serius ... aku lagi sakit. Sakit perut ...."


"Jangan berbohong, di mana kamu sekarang, hahh? Kakak ada di sekolah kamu, katanya kamu sakit. Kakak tidak bisa melacak keberadaan kamu. Sudah Kakak bilang kan, jangan pernah memanipulasi sistem GPS di ponsel kamu, berbahaya Gama."


"Aku hanya ingin tenang tanpa gangguan Kakak, itu saja. Sudah dulu ya. Aku sakit Kak."


"Gama, tapi ini penting, Kakak serius. Kamu harus segera pindah sekolah ke luar negeri. Kamu akan tinggal bersama paman Yordan."


"Apa? Pindah sekolah? Ke luar negeri? Tidak, Kak! Aku tidak mau! Aku menolak keras!" Gama mengakhiri panggilan, tidak sampai di situ, ia juga mematikan ponselnya.


"Ahhh ...." Kembali meringis saat ususnya melilit.


Jadi benar, hubungan dengan kakaknya sedang tidak baik. Batin Freissya.


"Apa yang dirasa? Sakit perut saja, ingin buang air besar apa melilit?" tanya Freissya dengan suara lembut. Ia bersikap profesional, seolah melupakan semua hal yang telah terjadi di antara mereka.


"Melilit ... Ice ... sakit sekali." Lalu menggigit bibirnya hingga membekas merah.


"Coba tenang, tarik napas dan buang napas, kamu tahu teknik mengatur napas saat berenang, kan? Jangan menggigit bibir," sarannya.


"Tensi darahnya normal, memangnya makan apa? Kok bisa sakit?" tanyanya lagi sambil memeriksa jantung Gama.


Stetoskop ditempelkan di dada kiri Gama, terdengar jelas jedag-jedugnya. Freissya terkejut karena resonansi jantung Gama seirama dengan degup jantung miliknya.


Kenapa ya? Kok bisa bersamaan? Batin Freissya.


"Aku makan mie instan untuk pertama kalinya, pakai saus pedas," jawabnya. Lalu mengatur napas mengikuti saran Freissya.


"Emm, pagi ini sudah makan belum?" tanya Freissya dengan nada bicara yang kaku.


"Belum."


"Baik, untuk sementara minum ini ya, obat ini mengandung zat aktif sucralfate. Bisa mengobati dan mencegah luka pada usus, setelah itu makan bubur," kata Freissya.


Ia membuka obat yang masih tersegel itu sambil menunduk serius. Tangannya sedikit gemetar.


Kenapa Freissya seperti itu?


Karena saat tadi membantu mengambil ponsel Gama, ia tidak sengaja melihat foto profil Dirut HGC pada panggilan itu.


Lalu Gama memanggilnya kakak. Artinya, ia sedang berhadapan dengan adik kandung Agam Ben Buana. Tapi menurut artikel yang sempat ia baca, Dirut HGC tidak memiliki adik dan merahasiakan rapat-rapat seluruh data anggota keluarganya.


"A-ahh!"


Karena tidak konsentrasi, tangan Freissya terluka. Ia tergores ujung tutup botol.


"Ice?"


Gama kaget, jelas sekali telunjuk Freissya berdarah. Jiwa pemangsa bangkit, trik lama segera dilancarkan. Crocodile bangun, dengan cepat ia meraih tangan Ice dan menghisap telunjuknya.


Sebuah lagu lama yang membuat Freissya kaget. Spontan menolak, tapi Gama sudah terlebih dahulu menahan pergelangan tangannya.


Mulut pria ini terasa hangat, Freissya merasakannya. Dan jari telunjuk Ice terasa dingin dan lembut, Gama menikmati adegan itu sambil menatap wajah Ice yang merona dengan bola mata yang berkedip berkali-kali.


"Frei," terdengar suara Bu Marabahaya, eh maksudnya Bu Mara.


Sontak membuat keduanya terperanjat, berakhir sudah adegan manis itu dengan terpaksa. Gama kembali membaringkan tubuhnya. Dan Freissya menatap nanar telunjuknya. Baru kali ini diperlakukan seperti ini, bahkan kekasihnya tidak pernah melakukan itu.


"Ini air hangatnya, kalian berkenalan ya. Frei, Ibu mau jemput anak dulu, ditinggal dulu ya. Val, Ibu sudah masak, nanti kamu ke dapur saja, ya."


Bu Mara terlihat terburu-buru, ia juga membawa putranya yang masih kecil di dadanya, ala kanguru. Sudah memakai helm dan sarung tangan, Bu Mara rupanya super mom, identitas suaminya belum diketahui.


"Baik, terima kasih Bu," jawab Gama.


"Kamu ada masalah keluarga? Maaf kalau aku ikut campur, tapi saranku lebih baik kamu patuh dengan kakakmu."


"Aku sudah patuh Ice. Aku tidak mau pindah sekolah ke luar negeri. Kalau sampai aku ke luar negeri, bagaimana aku bisa berteman dengan kamu?" ucap Gama sambil duduk di sisi tempat tidur.


"Kamu lucu sekali, apa semau itu ingin berteman denganku?" Sembari memberikan gelas berisi air hangat yang tadi dibawa bu Mara.


"Sebenarnya ingin lebih dari berteman, aku tertarik denganmu. Hehehe, sayangnya kamu sudah memiliki kekasih."


"Hahaha, dasar buaya, sudah tahu punya banyak pacar, tapi masih serakah ingin memiliki kekasih orang lain," kata Freissya sambil tersenyum.


"Hahaha," keduanya akhirnya saling menatap dan tertawa.


Cairlah sudah suasana ketegangan dan sengketa yang terjadi selama ini. Freissya sepertinya mau menerima Gama sebagai temannya. Ia melakukan ini dengan tujuan agar Gama tidak kehilangan arah, apalagi setelah Freissya tahu jika Gama sedang ada masalah keluarga.


"Nama kamu Val? Panjangnya apa?"


"Namaku Gamayasa Val Buana."


DEG, tidak salah lagi dia benar-benar memiliki hubungan kekeluargaan dengan Agam Ben Buana.


Nama kontak 'Kakak' dan foto Dirut HGC diponsel Gama adalah bukti kongkrit lainnya. Freissya menyembunyikan kepanikannya dengan tersenyum.


"Oh, nama yang bagus," ujarnya.


"Terima kasih Ice, tapi kamu rahasiakan ya, jangan ada yang tahu nama panjangku, panggil Val saja. Oiya, kenapa kamu jadi baik? Apa ini pertanda kalau kita bisa menjadi teman?"


"Kamu sedang sakit, masa aku jahat sama orang sakit? Aku suster. Kamu tunggu di sini, aku pergi dulu." Freissya beranjak.


"Ice, mau kemana? Masa pasien ditinggal sendirian?"


"Aku mau buatkan bubur, tunggu." Tanpa menoleh lagi, Freissya berlalu.


Gama menatap pundak seputih susu itu sambil tersenyum. Ia tidak sadar jika Freissya bertindak seperti itu karena mengetahui identitasnya.


.


.


.


.


Sementara itu, di dapur milik bu Mara, Freissya segera membuatkan bubur dari bahan nasi, maksudnya supaya cepat. Hatinya masih kalut.


Kenapa bisa bocah bongsor itu harus adiknya Agam Ben Buana? Dirut HGC itu sebelas dua belas dengan keluarga Haiden.


Kenapa aku terlibat dengan dia sih?


HGC itu pemilik aslinya keluarga Haiden. Keluarga darah biru garis keras. Mereka terkenal kejam dan maniak. Akan melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuannya.


"Tidaaak," Freissya benar-benar ketakutan.


"Ku kira dia itu adiknya LB. Tunggu, apa pria yang membawa gaun pengantin itu Agam Ben Buana? Jadi, LB dan Dirut HGC ...."


"Uppss." Freissya menutup mulutnya.


Saat nasi sudah menjadi bubur, pikiran Freissya masih kacau. Prilaku Val benar-benar mirip dengan keluarga Haiden yang gila wanita, bertekad kuat, dan pantang menyerah. Terbukti, Val memiliki banyak kekasih, dan bersikukuh mengejarnya dengan alasan ingin berteman.


Sangat janggal bukan?


Sambil membawa bubur yang sudah dilengkapi kecap dan ayam suwir-suwir, Freissya memutuskan untuk menerima Val sebagai temannya.


"Aku tidak boleh cari masalah dengan adiknya antek Haiden. Frei kamu jangan cari mati," gumam Freissya ketika kaki cantiknya meniti anak tangga.


.


.


.


.


"Val," panggilnya.


"Tunggu, aku lagi di kamar mandi," jawab Gama.


"Ohek, a-aku muntah-muntah Ice, air hangat yang tadi keluar semua, obatnyapun keluar lagi."


"Kamunya baik-baik saja, kan? Buka pintunya, aku mau bantu kamu." Freissya cemas.


'Klotrak.'


Pintu terbuka. Gama berdiri dengan bibir yang memucat. Efek mie itu benar-benar parah. Pandangan Gama nanar, tubuhnya limbung dan sepersekian detik tubuh tingginya goyah. Gama on proses ambruk.


"Val!" teriak Freissya, ia spontan menahan tubuh Gama dengan susah payah.


"A-aduh, Val ... kamu berat sekali sih. Buka matanya jangan pingsan."


"Ice ... aku lemas, maaf ... merepotkan kamu," lirih Gama saat kepalanya sudah bersandar di bahu Freissya.


Dari bibirnya yang pucat dapat dipastikan jika Gama tidak sedang berakting. Gama memeluk erat tubuh Freissya saat suster muda itu memapahnya ke tempat tidur.


Kali ini Gama bingung, antara harus bersyukur atau bersedih.


"Kita harus ke klinik. Tidak bisa seperti ini terus, bisa dehirasi," terang Freissya.


"Aku tidak mau ke klinik, bisa tidak kalau diinfus di sini saja? Sama kamu Ice."


"Val, aku tidak memiliki wewenang, kita pergi ya, ke klinik depan saja, dekat kok. Nanti aku pinjam motor bapak. Mau ya?"


"Tidak Ice, kalau kamu mau menolong, kamu panggil dokter saja, aku mau dirawat secara pribadi. Tenang saja, aku bisa membayar sesuai harga yang diinginkan." Ia berbicara sambil memegang erat tangan Freissya.


"Baik, nanti saya suruh kak Gio ke sini."


Kak Gio? Bukan pacar dia kan? Batin Gama.


"Sekarang makan buburnya, selagi hangat." Freissya mendekatkan bubur itu pada Gama.


"Ice, mulai hari kamu jadi suster pribadiku ya, aku akan bayar berapapun harganya, bagaimana?"


"A-apa?" Freissya tercengang.


"Kerjanya fleksibel, kok. Kamu masih bisa bekerja di rumah sakit, mengurus ayam, dan lain-lain. Asalkan saat aku sakit dan kamu tidak sibuk, kamu harus datang memeriksa dan merawatku," tegasnya.


"Ta-tapi .... emm ... aku pertimbangkan dulu ya." Freissya terlihat ketakutan.


"Ice ... kenapa? Kenapa kamu tidak galak lagi? Dulu, kamu menatapku penuh kebencian, sekarang ... aku merasa kamu ketakutan, kenapa?"


"Ti-tidak apa-apa Val, a-aku suapi buburnya ya. Setelah ini, aku panggilkan dokter. Aaaa," bujuk Freissya.


Gama membuka mulutnya dan berpikir.


Kenapa Ice berubah? Ini bukan seperti Ice yang dulu.


Tapi ... apakah perubahan sikap Ice mengurungkan niatnya untuk memiliki gadis itu?


Tentu saja tidak.


Bagaimana mungkin Gama bisa berpaling dari gadis cantik pekerja keras yang jemarinya lembut, nyaman dipeluk, dan satu hal lagi, bubur buatan Ice rasanya enak sekali. Tingkat kelembekan dan cita rasanya ... pas.