AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Bersitegang



"Bubur buatan kamu enak sekali, terbuat dari apa?" tanya Gama.


"Dari nasi lah," jawab Freissya sambil menunduk, serius ia takut pada Gama.


"Emm, kak Gio siapa? Bukan pacar kamu, kan?"


"I-iya, pacarku, Val. Me-memangnya kamu tidak mau kalau yang aku panggil dia? Kan lumayan, kalau dia dapat keuntungan, aku sebagai pacarnya turut berbahagia."


Freissya memberanikan diri untuk jujur. Ia tidak mau bermain-main dengan adik Dirut HGC yang menakutkan itu.


"Hahaha, ya ampun, kamu jujur sekali. Oke, kamu panggil saja, siapapun dokternya aku mau, asalkan susternya kamu. Eh tunggu, kok aku mual lagi sih? Aku baru pertama kalinya pakai kipas angin. Bisa jadi masuk angin juga."


Gama bangun, ia bermaksud untuk ke kamar mandi.


"Tunggu, muntah di ember saja, aku ambilkan."


Freissya berlari ke kamar lagi. Setelah mendapatkannya, ia meletakan ember tersebut di dekat kaki Gama.


"Memalukan sekali, masa aku muntah dihadapan gadis cantik, sih?" keluhnya. Lalu menutup mulut menahan dorongan rasa mual yang menekan ulu hatinya.


"Tidak apa-apa ayo muntahkan saja."


Freissya spontan memijat pundak Gama seperti yang biasa ia lakukan pada pasien. Gama terkejut, ingin rasanya menahan keinginan muntah itu namun tidak bisa. Jadi keluarlah sudah.


"Jangan lihat, takut kamu jijik."


Dengan gerakan cepat Gama memasukan ember itu ke kolong tempat tidur. Freissya spontan tertawa. Pria itu lucu juga ternyata. Andai dia bukan adiknya antek Haiden, mungkin Freissya akan tulus berteman dengannya bukan karena takut.


"Tidak jijik kok, lagipula yang kamu muntahkan hanya air. Aneh ya, kok bisa separah ini hanya karena makan mie rebus."


"Aku juga tidak tahu, ya sudah Ice, cepat telepon dia. Aku lemas," katanya.


"Ba-baik."


Freissya bergegas untuk mengambil ponselnya. Ia meninggalkan Gama dengan perasaan kalut. Masih bertanya-tanya dalam hatinya.


Kenapa dia harus ngekost?


Rumahnya pasti lebih nyaman, kan?


Masa ya orang kaya mau mempersulit keadaan?


Aneh sekali.


Kini, di kamar itu hanya ada Gama seorang diri, baru kali ini merasakan sendirian dalam keadaan sesakit ini. Dan ucapan Agam tentang harus pindah sekolah ke luar negeri membuat Gama semakin kesal.


Kenapa harus pindah sekolah ke luar negeri?


"Kenapaaa?" teriaknya.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Kamu tunggu di mobil saja, oke?" kata Agam sesaat sebelum ia turun.


Mereka sudah berada di area parkir rumah sakit The Number One.


"Aku mau ikut, Pak. Aku mau bertemu dengan ayahku," kata Linda.


"Pokoknya, kamu tetap di sini bersama Pak Yudha, lagipula kita kan tidak jadi periksa kandungan di sini," tegasnya. Setelah memakai masker, Agam benar-benar pergi dan tidak menoleh lagi.


"Pak Agam, tungguuu." Linda berusaha membuka pintu mobil.


'Klik.'


Namun Pak Yudha sudah terlebih dahulu menguncinya.


"Pak Yudha, buka!"


"Maaf, tidak bisa," ucap Pak Yudha dengan santainya.


.


.


.


.


Agam bergegas ke ruang komite medik sesuai dengan arahan paman Yordan. Tadi, saat masih berada di dalam mobil dan Linda tertidur, ia mendapat pesan dari paman Yordan.


"Ben, ada hal penting yang harus Paman ceritakan. Maaf tidak memberitahu kamu. Sebenarnya, dua hari yang lalu, paman sempat kehilangan pak Berli. Paman sudah perintahkan anak buah kamu untuk mencarinya tapi gagal. Namun barusan pak Berli datang lagi ke rumah sakit, dia muncul dengan sendirinya tapi sikapnya berubah."


"Oiya, pak Setyadhi sadar total, dia sudah dimintai keterangan oleh polisi. Sayangnya, dia jadi amnesia. Tapi, dia tidak melupakan hal-hal penting. Untuk nama dan silsilah keluarganya dia masih ingat. Dia juga ingat disuruh pergi dari Pulau Jauh oleh pak Berli untuk menjemput LB, tapi untuk kejadian selanjutnya dia lupa."


"Jadi, dia juga tidak tahu identitas korban yang meninggal akibat kebakaran mobil itu. Dan tidak ingat kenapa bisa orang lain yang berada di dalam mobilnya. Polisi hanya mendapatkan informasi kalau pak Setyadhi korban tabrak lari berdasarkan keterangan warga di sekitar TKP."


Pesan tersebut membuat Agam kembali merenung, ia berpikir harus segera mendapatkan info terbaru tentang penyebab kebakaran mobil itu.


Apakah mobil itu kebakaran karena bannya ditembak? Atau ada sebab lain?


Di dalam lift pria itu memijat kepalanya. Masalah di dalam hidupnya seolah datang silih berganti tanpa jeda. Karena di dalam lift hanya sendirian, Agam memutuskan untuk berteriak. Semoga bisa melepas kegundahan di dalam kalbunya walaupun hanya secuil.


"Lindaaa," teriaknya.


"Apa? Ah, sial! Kenapa yang aku teriakan nama dia sih?" gerutunya.


Seperti biasa, kalau bicara sendirian, pria tampan itu selalu menyebut dirinya sebagai 'Aku.' Tapi saat berbicara dengan orang lain, selalu mengatakan 'Saya.'


Alasannya kenapa ya? Entahlah.


Ia jadi tersenyum sendiri dengan kespontanannya. Berarti, isi kepalanya sudah dipenuhi dengan Linda, Linda, dan Linda. Siapa sih yang bisa berpaling dari kemolekannya? Termasuk Pak Dirut pastinya.


'Ting.'


Lift terbuka. Ia melangkah panjang-panjang. Sesampainya di depan pintu ruang komite medik, Agam merapikan pakainnya. Mau bertemu mertua, ia berpikir harus menampilkan sisi yang menarik. Setidaknya bajunya harus rapi, dan rambutnya tertata rapi.


"Assalamu'alaikuum," ucapnya sambil mengetuk pintu.


"Wa'alaikumussalaam," terdengar sahutan dari dalam.


Pintu dibuka oleh seseorang, Agam kaget saat tahu pelakunya.


"Hikam?" katanya.


"Ya, Pak Dirut, aku Hikam," tegasnya. Dengan tatapan yang sama sekali tidak bersahabat.


Di ruang itu ada Ayah Berli, Hikam, dan Paman Yordan. Agam mematung sejenak. Ia menatap Ayah Berli yang masih tertunduk.


"Ben, duduk di sini, di samping Paman," ajak Paman Yordan.


"Ayah, saya datang."


Sebelum duduk, Agam mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Ayah Berli. Ia mencium tangan pria yang sudah menjadi mertuanya itu penuh rasa hormat. Setelahnya, barulah duduk di samping Paman Yordan.


"Ada masalah apa?" tanya Agam.


"Pak Dirut, aku ingin pulang ke Pulau Jauh membawa adikku dan putriku," tegas Ayah Berli.


"Apa? Membawa Linda?" Agam terkejut, jelas ia menolak.


"Pak Dirut, tolong menurut saja, jangan membuat suasana tambah runyam. Aku tahu Anda sudah menikah dengan Linda, dalam hal ini Anda sudah menang. Pemberitaan tentang LB terlalu banyak. Jika tetap tinggal di kota ini, psikologis Linda bisa terganggu," sela Hikam.


"Diam kamu! Saya tidak ingin bicara dengan kamu!" sentak Agam.


"Ben, tenang dong." Paman Yordan mengelus punggung Agam.


"Mohon pengertiannya Pak Dirut. Ibunya Linda sedang sakit, Anda jangan egois. Selama ini aku banyak mengalah. Aku membiarkan Linda bersama Anda sudah cukup lama. Aku ingin membawanya pulang agar Linda tenang. Setelah suasananya kondusif, Anda bisa menjemputnya," tambah Ayah Berli.


"Tapi Ayah, sesuai anjuran dokter, lima minggu lagi Linda harus operasi. Fasilitas kesehatan di sini, pasti lebih memadai jika dibandingkan dengan di sana. Saya khawatir jika tiba-tiba Linda ada kegawatan, penanganannya kurang maksimal," sanggah Agam.


"Tenang saja, di sana ada rumah sakit rujukan yang cukup besar, Anda jangan khawatir, kesehatan Linda jangan dijadikan alasan. Katakan saja kalau Anda tidak ingin berpisah dengannya, ya kan?" Lagi, Hikam kembali menyulut emosi Agam.


"Apa!" bentak Hikam, dan iapun berdiri.


Paman Yordan menghela napas.


"Ben, jangan diladeni. Dan Anda tolong ya, jangan ikut campur dulu. Ben, hemat Paman, kita bicarakan dengan Linda dulu baiknya seperti apa. Ya, Paman tahu kamu pasti khawatir, tapi dengan pulang dulu ke Pulau Jauh, menurut Paman sih ide bagus. Di sana, Linda bisa istirahat. Selain itu, ibunya kan sakit, kamu bayangkan bagaimana sedihnya seorang ibu saat merindukan anaknya. Tolong dipertimbangkan ya, Ben."


"Ba-baik," kata Agam dengan suara pelan.


"Sekarang bagaimana? Ayah mau ikut pulang ke rumah saya, atau tetap di sini?" lanjut Agam.


"Aku mau ikut dengan Anda, sebagai ayahnya, aku berhak membujuk Linda," kata Ayah Berli.


"Aku juga ikut," sela Hikam.


"Nah, ya sudah. Berarti hanya Paman yang tidak ikut."


"Berapa lama lagi Paman di sini?" tanya Agam.


"Harusnya lusa Paman kembali. Tapi tiba-tiba ada tugas tambahan dari pimpinan, jadi pulangnya belum pasti kapan. Padahal sudah kangen istri, berat menanggung beban rindu. Tapi demi tugas negara, aku rela berkorban, hahaha," kata Paman Yordan dengan diakhiri tawa. Niatnya agar mencairkan suasana.


Tapi sayang, ketiga orang yang bersamanya tidak ada satupun yang terpengaruh. Semuanya masih terperangkap dalam raut wajah yang tidak bersahabat. Benar-benar menyebalkan, pikir Paman Yordan.


"Ya sudah, pergi semuanya dari ruangan ini! Pergi!" usir Paman Yordan.


"Boleh aku menghabiskan jusnya dulu?" tanya Hikam.


"Tidak perlu!" teriak Ayah Berli.


"Yah," Hikam menelan saliva.


"Ben, kamu tidak minum jus dulu? Ini untuk kamu," tawar Paman Yordan.


"Saya tidak haus terima kasih," ucap Agam sambil berlalu dan membungkukkan badan saat ia melewati Ayah Berli.


"Permisi," Ayah Berli beranjak.


"Aku juga permisi," timpal Hikam.


"Ya, silahkan," sahut Paman Yordan.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Silahkan."


Pak Yudha membuka pintu mobil untuk Ayah Berli. Ayah Berli duduk di depan. Hikam terpaksa duduk sejajar dengan Agam dan Linda.


"Ayah."


Linda langsung bersalaman dan memeluk ayahnya. Ayah Berli membalas pelukan Linda, namun tidak mengatakan apapun.


"Kamu duduk di samping saya, jangan berdekatan dengan istriku," sentak Agam pada Hikam.


"Ya, sesukamu," ketus Hikam. Ia turun lagi dari mobil dan membiarkan Agam duduk di tengah.


"Maaf, harusnya saya membawa mobil yang kursinya tiga baris," kata Pak Yudha saat ia melajukan kemudi meninggalkan area rumah sakit.


Ayah Berli diam saja, pun dengan Hikam. Agam juga kaku. Pak Yudha berpikir suasana di dalam mobil terasa tidak nyaman. Untungnya tidak berlangsung lama karena Linda tiba-tiba berkata ....


"Pak Yudha, berhenti dulu di persimpangan itu ya, aku mau membeli baso bakar. Saat aku masih jadi penyiar, aku suka beli bakso bakar di sini," kata Linda.


"Baik," kata Pak Yudha. Setidaknya Linda mencairkan suasana tegang tersebut.


"El, kamu jangan makan bakso bakar. Ingat, zat arang tidak baik untuk ibu hamil," ucap Agam.


"Pak, ini tidak dibakar pakai arang kok, dia dioven, namanya saja bakso bakar, nanti Bapak lihat deh. Dan harus coba," kata Linda sembari memeluk lengan Agam.


"Kenapa namanya tidak bakso oven saja?" Agam keheranan.


"Jangan banyak protes, ssstt," kata Linda.


Ia meletakkan telunjuk di bibir Agam. Kesempatan emas, Agam langsung menggigitnya. Gigitan gemas.


"Awwhh, Pak! Main gigit-gigit saja, sakit tahu," Linda kesal.


"Apa enak sekali? Aku juga mau beli," kata Hikam. Ia berpikir lebih baik makan bakso daripada panas melihat kemesraan Agam dan Linda.


"Saya juga mau coba," timpal Pak Yudha.


"Semua harus coba, aku yang traktir," kata Linda.


"Biar saya saja yang turun." Pak Yudha bergegas keluar dari mobil saat sudah sampai di tempat yang dimaksud Linda.


"Aku pakai saus pedas dan saus tomat ya Pak," kata Linda.


"El, jangan yang pedas," protes Agam.


"Sesekali boleh cintaku," goda Linda.


"A-apa?"


Yang dipanggil cintaku jadi gelapan. Linda tersenyum, ia senang melihat pipi Agam merona. Rupanya, panggilan cinta itu membuat Pak Dirut meleleh, dan Hikam memanas. Hikam cemburu, tapi ... ia sadar bukan siapa-siapa. Linda dan Agam sudah menikah. Ia tidak memiliki hak lagi.


Aku sudah kalah perang, batin Hikam.


.


.


.


.


"Tadaaa, silahkan," Pak Yudha membagikan plastik berisi bakso bakar.


Pak Yudha memakannya sambil mengemudi. Ayah Berli berli tidak membukanya. Hikam langsung melahap penuh semangat, begitupun dengan Linda.


Sementara Pak Dirut, masih memperhatikan bakso itu dengan seksama. Matanya memicing, ia juga mengendus aroma bakso itu.


"Ayah, Pak Agam, ayolah, ini enak, ya kam Pak Yudha? Hikam?" kata Linda.


"Ya benar, enak sekali," jawab Pak Yudha. Hikam diam saja, tetap asyik mengunyah.


"Aaa," Linda mengambil satu tusukan untuk menyuapi Agam.


"Tidak, El. Kamu tahu kan saya tidak boleh makan sembarangan?" tolak Agam.


"Ya ampun Pak, ini bukan makanan sembarangan, ini bakso. Bakso itu terbuat dari daging, dan daging itu bergizi," Linda tetap memaksa.


"No, El. No," tegas Agam.


"Oke, kalau ini mau tidak?"


Di luar dugaan, Linda menggigit satu bakso, meraih dagu Agam untuk menoleh ke arahnya, dan mendekatkan bakso itu pada Agam. Pak Yudha yang tak sengaja melihat dari spion hampir tersedak. Dan Hikam benar-benar tersedak, untung saja Pak Yudha telah membeli air minum kemasan untuknya.


Ayah Berli apatis. Ia tidak terpengaruh suasana sekitar. Sedang memikirkan kalimat terbaik untuk membujuk putrinya agar mau pulang ke Pulau Jauh. Sebab, Ayah Berli memiliki firasat Linda akan menolak.


"El, kamu?"


Agam membulatkan mata. Serius, ia tidak minat dengan bakso itu. Tapi ... ia sangat berhasrat dan berminat pada bibir itu. Agam cepat-cepat mengambil map di saku mobil untuk menghalangi, dan segera meraih apa yang disuguhkan Linda.


*T*idaaak, teriak Hikam dan dalam hati.


Hikam menutup mata sambil membenturkan kepala pada jok. Dirut HGC gila, pikirnya. Dan Linda, mungkin sama gilanya. Agam benar-benar telah memberikan efek negatif pada Linda. Hikam berasumsi seperti itu. Padahal, ia sama sekali tidak melihat adegan di balik map.


Dan di balik map itu Agam menggila. Linda yang terlebih dahulu menyalakan api. Dalam hal ini, Pak Dirut tidak sepenuhnya salah. Sekarang, Linda sendiri yang merasakan akibatnya. Linda menyesali keusilannya, ia berjanji, tidak akan menggoda Agam dengan cara ini lagi.