
"Pak Joey, Anda bisa lebih cepat tidak sih?!" seru pengacara Vano.
"Tolong tenang Pak Vano, ini misi rahasia, polisinya juga polisi intel. Makanya saya tidak bawa mobil polisi, ya karena ini misi rahasia," terang Aiptu Joey.
"Ya Pak Vano, tenang dong, yang penting kita sampai di tujuan," sela Pak Yudha.
"Siapa sih dalang penculikan ini?! Apa Pak Vano tahu? Atau Aiptu Joey tahu?" tanya Pak Yudha.
"Tidak, saya tidak tahu. Pak Agam hanya memberitahu titik lokasinya saja," jelas Aiptu Joey.
"Eh tunggu, itu mobil di belakang kok dari tadi mengikuti kita terus?" Pak Yudha mungkin baru menyadarinya.
"Hei, Pak Yudha bagaimana sih? Itukan mobil personel polisi yang dibawa Aiptu Joey," terang pengacara Vano.
"Oiya, ya."
"Siap ya, kita mau ngebut! Berdoa, dan kencangkan sabuk pengaman," kata Aiptu Joey karena mereka sudah memasuki jalan bebas hambatan.
"Aaaa," belum sempat berdoa, pengacara Vano dan Pak Yudha malah beteriak. Mobil ini melaju terlalu cepat. Kecepatan saat ini 180 km/jam.
"Pak Joey, saya belum menikah!" teriak Vano.
"Hahaha, sama. Saya juga belum menikah!" teriak Vano. Malah menambah kecepatan.
"Hei, kalian! Saya juga sudah lama tidak mecharging istri saya! Pak Joey, kalau kita kenapa-napa, saya akan menghantui Anda!" ancam Pak Yudha.
"Tidak ada yang mati jadi hantu, itu mitos!" teriak Aiptu Jeoy.
"Tiga kilometer lagi menuju titik target, ganti," terdengar suara dari dashboard yang terkoneksi dengan mobil yang ada di belakang.
"Semua bersiap, gunakan baju tahan peluru! Kata pak Agam, target dan anak buahnya kemungkinan memiliki senjata api, ganti!"
"Baik Pak Joey."
"Apa?! Senjata api?! Pak Yudha dan Vano panik.
"Pak Joey, apa ada baju tahan peluru untuk kami?" tanya Vano.
"Tidak ada!"
"Apa?!" Vano dan Pak Yudha terkejut secara bersamaan.
"Pak Yudha dan Vano anak buah pak Agam, kan? Menurut desas-desus, anak buah pak Agam rata-rata bisa menghindar dari serangan peluru. Hahaha."
"Ya ampun, dan saya yang di bawah rata-rata itu, tidak tahu kalau pak Yudha," terang Vano.
"Saya bisa sih menghindar, tapi kalau diberondong, saya juga pasti mati. Berarti kita harus berani mati. Ya ampun, berat ya?" kata Pak Yudha.
'Syung.' Mobil melaju kian cepat hingga pengemudi kendaraan lainpun menoleh dan geleng-geleng kepala.
"Gila! Mereka mungkin pengemudi dari golongan kucing! Woy, kalian punya sembilan nyawa ya?!" teriak salah satu pengemudi.
"Sabar Beib, kita doakan saja semoga mereka baik-baik saja." Wanita di samping pria itu mengingatkan.
...❤...
...❤...
...❤...
"Cepat Maga, cepat!"
Agam mensugesti dirinya dengan perasaan kalut luar biasa. Pasti tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Linda. Agam ternyata melewati jalur tikus untuk sampai di tempat persembunyian tuan Reynaldi.
Lalu ia melemparkan uang kertas keluar jendela saat ada warga atau pengendara lain yang protes atas ulah ugal-ulannya.
"Maaf Pak, maaf Bu. Saya sedang buru-buru," teriaknya saat ia melemparkan uang.
.
Sampailah ia di tempat tujuan, ternyata persembunyian tuan Reynaldi berada di kawasan perkebunan kayu jati miliknya. Pak Dirut sedang mencari jalan masuk. Karena sulit ditemukan, ia memutuskan untuk menerobos pagar bambu dan menerjang semak belukar.
"Sial!" rutuk Pak Dirut saat mobilnya mogok karena rodanya terjebak di antara gundukan permukaan tanah tidak rata yang terhalang ilalang lebat.
Terpaksa turun sambil meraih pistol dan pisau lipatnya. Agam akan meninggalkan mobilnya di tempat ini. Dengan gerakan mahir ia menggunakan pisau lipat untuk memotong ilalang.
'Srak srak srak.' Gerakan tangannya cepat sekali.
"Ahh," rintih Agam pelan saat rumput berduri menggores pipi mulusnya. Pipi si tampanpun terluka. Memang tidak dalam sih, tapi pasti lumayan perih sebab terlihat merah dan berdarah.
'Brom brom brooom.'
Telinga Pak Dirut memicing saat mendengar suara motor, ia mengintip dari balik pepohonan. Terlihat tiga buah sepeda motor trail sedang melaju beriringan menuju ke sebuah tempat. Agam yakin jika mereka akan menuju ke lokasi target. Pak Dirut menautkan alis sambil menatap jam digital yang terkoneksi dengan cip milik Linda.
"Bagus, kesempatan emas," gumamanya.
Lantas ia berlari tunggang-langgang mengejar motor tersebut. Pak Dirut memotong arah hingga posisinya saat ini berada di sisi jalan yang kemungkinan akan dilalui motor tersebut. Pak Dirut lalu tiarap. entah apa yang akan ia lakukan.
'Brum.'
Motor pertama lewat, namun diabaikan. Pun saat motor kedua lewat. Diabaikan juga. Namun saat motor ketiga hampir mendekat, Agam mengambil ancang-ancang.
Dan ....
'Hap.'
Ia meloncat ke atas motor saat posisi motor tepat di hadapannya. Pengemudi kaget, ia hampir kehilangan kendali. Namun belum juga ia sembuh dari kagetnya, penumpang misterius itu tiba-tiba menutup mata dan membekap mulutnya.
"To ---. HA ---." Bermaksud minta tolong pada temannya yang berada di depan. Tapi terlambat.
'Krak.'
Leher pria itu diputar Agam sambil dipukul kuat di titik lemahnya.
Sontak pengemudi motor yang berbadan besar itu kehilangan kesadaran dengan mata membeliak menatap langit. Ia mungkin merasakan kesakitan yang luar biasa. Tubuhnya terjungkal, jatuh menghantam tanah yang bercampur kerikil.
"Haish, payah!" ledek Pak Dirut saat ia berhasil mengambil alih motor tersebut.
Dengan gagahnya Agam melajukan motor itu. Bibir tipisnya menyeringai senang. Lalu tangan kirinya yang kekar itu merogoh saku tas selempangnya. Benda apa yang akan diambil Pak Dirut? Oh, ternyata ia mengambil kaca mata hitam.
Wow, Pak Dirut jadi semakin gagah dan tampan dengan kaca mata itu. Siapapun yang melihatnya pasti ingin jadi penumpang yang bisa memeluk punggungnya, mencium tengkuk harumya, lalu memeluk erat pinggang Pak Dirut dan mengatakan i love you.
'Bruuum.'
Motor itu melesat cepat Bahkan berulang kali terbang saat Agam bermanuver di permukaan tanah yang bergelombang. Agam ternyata mahir dalam segala hal, termasuk sangat mahir dan perkasa saat di atas ranjang. Eh?
Agam memelankan laju motor saat hunian tuan Reynaldi sudah tampak di depan mata. Dua motor itu masuk ke dalam bangunan tersebut melewati pagar berukuran tinggi yang dijaga ketat oleh beberapa orang pria bersenjata.
Agam mencari ide. Ia tidak boleh gegabah karena ia kalah jumlah. Harus menggunakan trik cerdik. Berpikir, berpikir, ia berpikir dengan jantung yang berdentuman karena teramat mengkhawatirkan Linda.
Saat gerbang tertutup, Agam mendekat. Lalu dari jarak sekitar tiga meter, Agam mengambil benda seperti pistol dari tasnya. Kemudian Pak Dirut menembak dua CCTV yang ada di sisi kiri dan kanan gerbang.
Tunggu, kenapa pistol itu tidak menimbulkan bunyi?
Ternyata, itu adalah pistol modifikasi yang di dalamnya berisi kertas buram dan perekat. Saat ditembakkan, kertas buram itu otomatis melekat dan menutupi lensa CCTV. Canggih bukan? Entah siapa pembuat alat tersebut. Idenya benar-benar jenius.
...❤...
...❤...
...❤...
Sementara di dalam bangunan itu, Maria, Lani, dan Yosie, terlihat sedang berusaha melawan orang-orang yang mengepung mereka dengan kekuatan dan kemampuan seadanya.
Seperti titah Linda, tiga orang pelayan itu menggunakan tubuh mereka untuk menggoda pengawal yang terlihat tidak serius melawan karena menyepelekan.
Lani memeluk salah satu pengawal dan mencium lehernya. Sementara dua lainnya terlihat menarik dasi pengawal yang lain dan menuntut mereka ke pintu dapur.
"Di luar dapur ada gazebo luas, daripada bertarung mari kita bekerjasama saja, Tuan-tuan," seru Lani.
"Ya, ayo kita pesta, aku bisa melayani tiga sampai lima orang pria," ucap Maria.
"Awas kalau kalian menipu kami!"
"Lepaskan seluruh senjata kalian!" teriak yang lain. Lalu dua orang merebut senjata alias perkakas dapur yang dipegang Maria, Yosie, dan Lani.
"Tidak akan Tuan, kami tidak akan menipu."
Padahal, di saku rok ketiga perempuan itu sudah ada bumbu dapur. Lani mengantongi garam, sedangkan Maria dan Yosie membawa botol kecil berisi lada hitam. Ini adalah ide Linda. Kata Linda, saat ada peluang, bumbu dapur itu bisa digunakan untuk menyerang mata penjahat.
Lalu dimanakah Linda berada?
Ternyata Linda adalah satu-satunya wanita yang berhasil lolos dan keluar dari pintu dapur. Namun ketiadaan Lani dan kawan-kawan membuat Linda bingung harus lari kemana.
Yang mengejar sudah datang. Linda mengedarkan pandangan mencari celah untuk kembali meloloskan diri.
"Di sini kamu rupanya!" teriak seseorang.
Sebuah mobil datang dari garasi yang terhubung dengan pekarangan yang berada di dapur.
Linda teperanjat melihat sosok itu. Dia adalah Tuan Reynaldi. Mendapat laporan Linda melarikan diri dibantu pelayan, Tuan Reynaldi cepat tanggap. Ia sudah bisa membaca ke arah mana pelayannya akan membawa Linda kabur.
"Kemari cantik, jangan kabur lagi," mengulurkan tangan.
"Tidak sudi!" kata Linda. Ia kembali berlari ke arah pagar yang ukurannya sangat tinggi.
"Kamu tidak akan bisa kabur lagi, LB!" Tiga orang penjaga mengejar.
"Untuk LB biarkan aku saja yang menangkapnya. Kalian bantu yang lain! Aku khawatir rival kita menemukan tempat ini," seru Tuan Reynaldi sebelum mengejar Linda.
"Baik Tuan."
"Mau lari kemana nyonya muda yang cantik? Itu jalan buntu sayang, hahaha." Tertawa sambil berkacak pinggang.
"Aaaa," samar terdengar teriakan dari dalam rumah, tepatnya dari dapur sebelah kiri.
Mari sejenak ke sana. Ternyata Lani, Maria dan Yosie berhasil menyakiti mata keranjang pengawal dengan garam dan lada bubuk, sontak lima orang pria yang telah menanggalkan baju dan celana itu melengking-lengking kesakitan. Mereka bak cacing raksasa yang tengah mencari air untuk membasuh mata mereka.
Entah kejadian seperti apa awal mulanya, yang jelas Lani, Maria dan Yosie segera berlari menyusul Linda dengan busana bak di pantai. Ya, mereka hanya memakai dalaman saja.
"Itu LB," kata Lani, saat melihat LB yang sedang didekati oleh Tuan Reynaldi.
Linda yang melihat Lani dan kawan-kawan, segera mengedipkan mata. Ia berharap mereka faham sehingga Tuan Reynaldi tidak menyadari keberadaan mereka. Syukurlah, Lani dan yang lainnya faham.
Dengan tangan gemetar, Yosie dan Maria mengambil pot yang terbuat dari tembikar untuk memukul kepala Tuan Reynaldi dari arah belakang.
Mereka mengendap-endap dengan wajah memucat ketakutan mengikuti langkah pelan Tuan Reynaldi yang mendekati Linda sambil membuka satu persatu kancing kemejanya. Sementara Lani bertugas memantau situasi sekitar.
Tuan Reynaldi sudah membulatkan tekad akan menodai wanita milik Agam Ben Buana detik ini juga.
"Setelah aku menodai kamu, aku akan membunuhmu untuk membuat si Agam menderita dan putus asa, hahaha," teriaknya.
"Kamu akan dihukum atas perbuatanmu!" teriak Linda.
"Jangankan dihukum, matipun aku rela asalkan sudah berhasil membuat Agam Ben Buana menderita."
Rupanya kebenciannya terhadap Agam sudah mendarah daging bahkan mungkin sampai ke tulang-tulangnya, bisa dikatakan sudah stadium lima.
"TUAN AWAS!"
Teriakan seorang pengawal yang telah berhasil mencuci matanya menyadarkan Tuan Reynaldi hingga pria itu membalikan badan ke belakang, dan ....
'DOR.'
'DOR.'
Tanpa ada rasa kemanusiaan sedikikitpun, ia menembak kaki Maria dan Yosie hingga kedua pelayan itu menjatuhkan pot, tersungkur, dan mengerang kesakitan. Darah mengalir dari bekas luka tembakan membasahi permukaan rumput hias.
"Aaah, awwh," jeritan Maria dan Yosie terdengar ngilu di telinga Linda dan Lani. Linda menutup matanya, berjongkok dan menangis.
"Maria! Yosie!"
Lani berhambur memeluk kedua sahabatnya itu seraya menangis sekencang kencangnya.
"Hwaaa huuu."
"Beraninya kalian mengkhianatiku setelah aku memberikan penghidupan yang layak pada kalian dan keluarga kalian!" teriak Tuan Reynaldi sambil membidikkan pistol ke kepala ketiga pelayan itu secara bergantian.
"Sekarang panggil Tuhan kalian masing-masing dan bersiaplah untuk menghadap-Nya."
Ia menarik pelatuk pistol. Lani, Maria dan Yosie berpelukan. Mereka pasrah. Seperti kata Linda, jikapun mati, mereka berharap akan mati dalam keadaan terhormat atau syahid.
"Stop!" teriak Linda.
Ia berlari dan menjadi tameng untuk ketiga pelayan itu beberapa detik sebelum pistol tersebut meletup. Linda bahkan nyaris tertembak.
"LB, jangan pedulikan kami!" teriak Lani.
"Sekarang kalian adalah sahabatku, aku akan menyelematkan kalian," kata Linda.
"Hahaha, nyalimu besar sekali cantik. Apa yang akan kamu tawarkan untukku?" kata Tuan Reynaldi sembari mengelus dagu Linda.
"Tolong bebaskan mereka detik ini juga! Setelah itu, aku melayanimu dengan senang hati," ujar Linda dengar air mata yang terus berurai.
"Oke, sekarang ayo layani aku!" sambil merentangkan tangan.
"Anda harus membuktikan dulu kalau mereka benar-benar dibebaskan!" Linda tidak mau percaya begitu saja.
"Oke, penjaga! Buka pagar itu! Buang ketiga pelayan itu keluar!" titahnya.
"Baik Tuan."
Seseorang kemudian membuka kunci pagar, lalu menyeret Lani, Maria dan Yosie keluar pagar. Yang artinya keluar dari rumah tersebut.
"LB, te-terima kasih," lirih Lani. Linda hanya mengangguk dan tersenyum.
"Tuan, tolong berikan pakaian dan uang pada mereka!" kata Linda. Tidak mungkin pikir Linda jika mereka pergi tanpa memakai baju dan tidak membawa uang.
"Baik sayang," kata Tuan Reynaldi sambil memeluk Linda yang tak melakukan perlawanan. Lalu pengawalnya melemparkan baju dan tiga gepok uang pada Lani.
"Tuan, lapor! CCTV di gerbang error. Gambarnya gelap-gulita," kata pengawal lain yang tiba-tiba datang dengan terburu-buru.
"Ya kalian perbaiki lah! Masa begitu saja tidak becus! Jangan ganggu aku! Sekarang kalian semua pergilah! Aku dan LB akan bersenang-senang di gazebo. Ya kan cantik?"
"Ya Tuan."
Linda melingkarkan tangan di bahu Tuan Reynaldi. Ia tersenyum manis dan begitu memikat. Masalah akting, Linda memang ahlinya.
Seluruh pengawal kemudian pergi, Lalu tuan Reynaldi menuntun Linda ke gazebo pribadinya.
Gazebo ini dikelilingi oleh desain berbentuk mini bar. Bukan orang jahat namanya kalau tidak licik. Saat Linda lengah, tuan Reynaldi memasukkan sesuatu pada minuman yang rencananya akan diberikan pada Linda.
.
Sementara itu, suami Linda alias Agam Ben Buana, tengah memanjat tembok tinggi yang permukaannya dipenuhi serpihan kaca yang runcing.
Bukan hal yang sulit bagi Agam jika itu berhubungan dengan panjat-memanjat. Sebagai mantan anggota BRN, kemampuannya memang tidak diragukan lagi. Apalagi memanjat LB ya Pak Dirut? Eh.
'Hap.' Meloncat, dan mendarat sempurna dengan posisi tubuh seimbang.
Kini ia sudah berada di halaman rumah megah tuan Reynaldi. Agam mengedarkan pandangan mencari mangsa.
Lalu terdengar derap langkah kaki. Agam mengendap, berlari ke balik tiang. Ada tiga orang penjaga. Lagi-lagi matanya fokus pada penjaga yang berada di bagian belakang.
"Aneh, kok si Rian belum datang?" Mereka mungkin sedang membicarakan orang yang diserang Agam.
"Mungkin dia mencari burung dulu," kata temannya.
Saat iringan itu mendekat, Agam menarik dan membekap yang terakhir, namun teriakan si pria terakhir didengar temannya.
"Siapa kamu?!" Mereka terkejut.
Agam melepaskan si pria terakhir. Tidak ada pilihan lain kecuali bertarung. Agam langsung menyerang, membabi-buta dan tak terkendali.
Mereka tak bersenjata. Sasaran empuk bagi bagi Pak Dirut, ia menggerakkan tubuhnya laksana menyerang tiga buah samsak secara bersamaan.
'Bugh, bugh, bugh.' Gerakannya cepat, terarah dan tepat sasaran.
Lawan yang cetek, tidak sampai dua menit, mereka bertiga sudah tumbang tak berdaya dengan darah segar mengalir dari bibir dan hidung mereka.
Parahnya, bibir merekapum membengkak laksana disengat kawanan lebah. Pak Dirut menyeringai sambil membuat gerakan membersihkan debu di bahunya.
Kemudian ia membuka baju salah satu pengawal yang kira-kira cukup dan tidak bau. Pak Dirut mengendus satu-persatu baju mereka sebelum menetukan pilihan.
Ia melapisi kemejanya dengan baju itu. Lalu menggusur musuh yang pingsan ke kamar mandi yang kebetulan berada di area itu. Penyamaran yang sempurna. Agam siap tempur, ia melangkah percaya diri memasuki rumah tersebut.
Pak Dirut akan menyamar sebagai pengawal tuan Reynaldi.
Semangat untuk Pak Dirut. Ganbatte
...~Tbc~...
..."Yuk, komen dan vote yuk!"...
..."Mohon maaf, akhir-akhir ini nyai telat mengintai AGAPE. Ada aktivitas lain yang membutuhkan campur tangan nyai. Bongkaran rumah dan sedikit renovasi, hehehe. Mohon maklum, dan tetap dukung nyai, ya. Oiya, ditunggu kedatangannya di Terpaksa Berbagi Ranjang. Terima kasih."...