
Rasanya seperti akan bertemu dengan harta karun. Hati Agam bergemuruh tidak karuan.
Akhirnya, setelah mendapat izin dari dokter kepala, Agam diperbolehkan pulang dengan syarat harus istirahat di rumah minimal 3 hari, dan memakan makanan yang bergizi. Terutama makanan yang mengandung zat besi untuk menaikan kadar gizi di dalam darahnya.
Terakhir kali Agam medical check up, kadar haemoglobinnya 16,2 gram persen. Lalu setelah mengalami serangan itu turun menjadi 6,7 gram persen. Bisa dibayangkan bagaimana parahnya kondisi kesehatan Pak Dirut pada saat itu.
Penurunan kadar haemoglobin yang drastis, bisa didefinisiakan sebagai pendarahan hebat.
"Sudah tampan, Pak," ujar Vano saat ia membukakan pintu mobil untuk Agam.
Setelah diwanti-wanti untuk tidak bereaksi berlebihan saat bertemu Linda, Agam akhirnya mengizinkan Vano mengantarnya pulang.
"Saya tidak pucat kan, Vano?"
Di kaca spion ia becermin.
"Tidak Pak. Untuk kadar haemoglobin 10 gram persen, ya sudah tergolong normal, Pak. Walaupun jumlah itu masih dikatakan kurang untuk seorang pria."
Vano membuntuti Agam ke dalam rumah, Pak Yudha menyambut dengan wajah panik. Ia mengecek tubuh Agam beberapa kali.
"Pak Agam, ya ampun Pak. Kemana saja, sih?"
"Bu Lindaaa," terdengar teriakan Bu Ira.
"Pak Agam pulang," sambung Bu Ira saat ia melihat kedatangan Agam.
Agam berdegup. Perasaannya begitu campur aduk. Untuk mengurai rasa groginya, Agam memperhatikan dekorasi dan mengambil berberapa kudapan untuk dimakan sambil duduk gugup di samping Vano.
"Hahaha, Pak Agam tegang juga ya mau bertemu LB," sindir Vano yang saat ini mulutnya tengah sibuk memakan kacang oven kesukaannya yang kebetulan tersedia dalam hidangan.
"S i a l a n kamu! Ya tidak tegang lah. Dia istriku," bisik Agam.
Selain pada tuan Deanka, Agam ternyata sudah menceritakan status pernikahan sirinya pada pengacara Vano.
Lalu Gama datang dengan wajah dingin dan murung. Bukannya bersalaman atau menyapa Agam, Gama malah menyalakan televisi dan rebahan di sofa.
"Gama, jangan menyalakan TV dulu, kamu sudah tahu perintah Kakak dari pak Yudha, kan?"
"Nonton kartun, Kak. Tidak masalah, kan?" elaknya.
"Linda mana? Kamu tidak turun bersama?" tanya Agam.
"Dia lewat lift, Kak. Belum datang kali. Kan hamil, jalannya lambat," terang Gama.
"Kakak mau susul." Agam beranjak, ia mau nenyambut Linda di depan lift.
"Saya ikut," sahut Vano.
"Vano," Agam menatap tajam.
"Hahaha, canda Pak Dirut," kata Vano.
Sementara Bu Ira dan Pak Yudha tampak sibuk menata menu untuk makan siang.
Setelah Agam beranjak, Gama tentu penasaran mengenai ketiadaan kakaknya selama dua hari ini.
"Pak Vano bersama kakak, kan?"
"Ya," jawab Vano. Mulutnya masih aktif mengunyah.
"Ada kegiatan apa sih? Kok sampai tidak ada kabar dan tidak pulang-pulang?"
"Bocah tidak perlu tahu, hahaha."
"Pak Vano, aku bukan bocah ya! Enak saja!" Gama berlalu dengan bibir mencucu. Vano cuek saja seolah tidak ada masalah apapun.
"Anda mau kemana? Kita makan bersama, jangan ke atas lagi," bujuk Pak Yudha.
"Aku tidak mau makan!" tandas Gama.
"Jangan seperti ini, nanti Pak Agam marah." Pak Yudha menahan Gama.
"Mau marahpun aku tidak peduli, aku sudah biasa dimarahi. Setidaknya aku sudah membantunya menyambut kedatangan kakak ipar, walaupun dia tidak ada ucapan terima kasih sama sekali," ketusnya sambil berlalu.
Ternyata Gama mengharapkan ucapan terima kasih dari Agam, benar-benar masih bocah ya?
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Agam menyandarkan tubuhnya di depan lift. Kalut hatinya. Rasanya mau segera memeluk Linda. Rindu sudah menggebu, cinta sudah membara. Tapi sayang yang dinanti tak kunjung tiba.
Kemana dia ya? Tanyanya dalam hati.
Karena lama menunggu, akhirnya memutuskan untuk menyusul, ia terburu-buru memasuki lift.
Setibanya di kamar Linda. Pintunya terkunci.
"El, Linda," panggilnya. Tapi tidak ada sahutan.
Kemudian Agam ke kamarnya.
"Apa?"
Terkerjut karena di dalam kamarnya ada tambahan satu lemari besar dan meja rias.
Agam ingat betul jika meja rias itu awalnya berada di kamar Linda. Saat ia membukanya, perlengkapan Lindapun sudah berpindah ke kamarnya.
"Kenapa semuanya berpindah ke sini?" Alisnya bertautan.
Bukannya ia tidak mau satu kamar dengan Linda, tapi ... kondisinya saat ini belum memungkinkan. Linda juga belum tentu siap sekamar dengannya.
Dan satu hal lagi, bagaimana kalau dirinya tidak bisa menahan diri? Bagaimana kalau sampai ia memaksa Linda untuk yang kedua kalinya? Siapa pelakunya? Jelas Agam tahu biang keroknya.
Gama.
Tapi, Linda di mana? Di kamarnya tidak ada. Ya, tidak mungkin juga Linda mau memasuki kamarnya.
Gama, keterluan kamu ya. Dasar play boy!
Agam menggerutu sambil mencari keberadaan istrinya. Ia mencari ke perpustakaan, lalu ke ruang olah raga. Tapi nihil. Lanjut ke mushola.
Deg, jika berurusan dengan Linda, jantungnya sering tidak terkontrol. Agam melihat sandal Linda ada di sana. Kemungkinan Linda berada di kamar mandi karena ia mendengar suara air mengalir.
Semua ini gara-gara Gama, jika saja kamar Linda tidak disabotase, tidak mungkin istrinya jauh-jauh ke kamar mandi yang berada di mushola.
"Awas ya kamu, Gama," geramnya.
'Kletak.'
Ia mendengar kunci kamar mandi dibuka dari dalam, artinya Linda mau keluar. Seketika, Agam bingung, harus menyapa apa? Linda marah tidak ya? Apa statusnya sebagai suami bisa mendominasi Linda?
Lalu wanita molek yang sedang menjadi tranding topik itu keluar. Karena grogi, Agam malah bersembunyi di balik pintu.
Linda mematung sejenak. Posisi membelakangi Agam. Mungkinkah ia mencium aroma suaminya? Entahlah.
"Kok aku merasa ada wangi pak Agam," gumamnya.
Tuh kan, benar saja. Ia merasakan aroma kehadiran Agam Ben Buana.
Agam tak kuasa menahan kebahagiaan, senyuman dari bibirnya yang indah itu langsung merekah. Ingin segera memeluk Linda dari belakang, namun ia tahan-tahan.
Agam mengendap-endap mengikuti langkah Linda berbekal trik berjalan sepi senyap ala anggota BRN. Dan ... ia berhasil mengelabui Linda.
Saat ini Linda akan memasuki lift. Serius, Agam tidak tahan, tapi ... kalau menyapanya dan menghampirinya secara tiba-tiba, apa Linda tidak akan kaget? Apa tidak akan mempengaruhi kesehatannya?
Agam mengepalkan tangannya, merasa kesal sendiri. Kenapa untuk memeluk istri sendiri susah sekali?
Ah, sudahlah. Kata pak Yudha, selama ia tidak ada, Linda selalu menanyakannya. Dan Agam tahu kalau Linda juga merindukannya.
"Karena aku maunya bertemu, Pak. Ber- te-mu, bukan cuma berbicara."
Ucapan Linda saat ditelepon kembali terngiang dan membangkitkan keberaniannya untuk meraih dengan cepat tubuh Linda sebelum wanita itu masuk ke dalam lift.
"A ---."
Tercekal seketika kalimat Linda kala ia sadar seseorang memeluk tubuhnya. Tadinya akan berteriak 'Aaaa' karena kaget, tapi ... ia mengenal dengan baik tangan yang melilit di pinggangnya.
Linda mematung dan diam seribu bahasa, hanya suara jantungnya yang terdengar berdegup.
Ia memejamkan sambil menutup bibirnya, entah kenapa ada perasaan sedih yang menyelimuti perasaan rindunya. Linda sedih karena Agam tega membiarkannya menunggu tanpa kabar selama dua hari.
Sedihnya lagi, Agam juga menyita ponsel barunya, dan melarang Linda menonton televisi. Bahkan bu Ira, Gama, dan pak Yudhapun tidak memperbolehkan Linda meminjam ponsel mereka.
Saat Linda bertanya ....
"Kenapa?"
Mereka dengan lantang menjawab.
"Ini perintah pak Agam."
"El ..., kenapa diam saja?" tanya Agam. Ia membalikan tubuh Linda agar menghadap ke arahnya.
Linda menunduk, seolah tidak ada niat untuk menatap atau berbicara. Egonya tiba-tiba muncul. Ia bermaksud untuk marah dan mendiamkan Agam.
"Linda, lihat saya."
Agam menengadahkan kepalanya, tapi si cantik itu berpaling. Jelas sekali tengah merajuk.
"Kamu marah? Maaf ya." Agam mendekapnya, tapi Linda diam saja.
"El ..., saya tidak ada kabar karena ada hal penting yang harus diselesaikan. Lalu ... saat saya telepon, kamu malah tidak mau berbicara. Oke, saya salah, maaf sayang ...."
Agam mencium puncak kepala Linda. Dan kata 'Sayang' itu muncul dengan merdunya. Linda terenyuh, airmatanya jatuh.
Linda tak mampu berkata, tapi dari bahasa tubuhnya yang tidak menolak, sudah cukup membuat Agam faham jika Linda sebenarnya tidak marah hanya sedang ngambek saja.
Lho, memang apa bedanya ngambek dan marah? Terkadang nyai sendiri tidak faham dengan pemikiran Pak Dirut.
"Jangan nangis, oke? Kalau kamu nangis, saya sedih. Kalau saya sedih, kamu bisa repot. Tanya bu Ira, deh. Kalau saya sedang sedih, saya suka manja," kata Agam sambil mengusap perlahan air mata Linda.
Manja? Maksudnya apa coba? Tidak, aku tidak akan bicara dulu. Oiya, tapi ... perlengkapanku ada di kamar dia, bagaimana ini? Batin Linda.
"Kita ke bawah, kita makan bersama. Emm, jagoan kita pasti sudah lapar."
Agam berlutut, lalu mencium perut Linda. Linda kaget, tapi ... ia bergeming.
"Assalamu'alaikuum jagoan Papa. Sedang apa di sana? Kamu lapar?" sapa Agam. Posisi masih berlutut.
"Wa'alaikumussalaam. Yes, Papa i'm hungry." Agam menjawab sendiri pertanyaannya.
'Tes.'
Karena sedang menunduk, air mata Linda jatuh tepat di pipi Agam. Agam mengusapnya lalu kembali berdiri dan mendekap Linda.
"Maafkan saya El, saya manusia biasa. Saya tidak tahu makna dari tangisan kamu. Tapi saya berharap, kamu menangis karena bahagia dengan keadaan kita saat ini."
"Jikapun kamu tidak bahagia, jangan sungkan untuk mengatakan semuanya pada saya. Saya sadar belum bisa menjadi suami yang layak untuk kamu, tapi ... saya sedang berusaha."
"Saya ingin meresmikan dan mempublikasikan pernikahan kita, ingin menggelar pesta mewah, ingin memperlihatkan ke semua orang betapa cantiknya kamu."
"Siapapun yang mempersuntingmu pasti akan bangga, termasuk saya. Maaf jika kamu harus menunggu lama untuk ke tahap itu. Tapi ... kamu mau bersabar, kan?" lirih Agam. Ia menatap lekat pada Linda.
Tidak mungkin Agam menjelaskan secara langsung jika masalah itu berhubungan dengan BRN.
Ya, Agam memang sudah mengajukan surat pengunduran, tapi karena ia anggota spesial, maka mundurnya Agam harus disahkan terlebih dahulu oleh federasi BRN internasional.
"Huuu," hanya itu jawaban Linda, ia menumpahkan kekesalannya dengan memukul dada Agam sambil menangis.
"Pak Agam egois, pertama tidak memberi kabar, lalu sekarang mengambil ponselku, dan tidak boleh menonton TV. Apa itu masuk akal? Ada yang disembunyikan? Apa ada berita buruk tentangku?"
Linda langsung menduga. Dugaan yang sebenarnya tepat sasaran.
"Ssstt ... tidak ada sayang, tidak ada yang disembunyikan, nanti saya ceritakan, tapi kita makan dulu ya."
Linda patuh. Ia mengangguk pelan, dan tidak berkomentar lagi saat Agam menggandengnya ke dalam lift.
Sekarang dia suamiku, aku berdosa kalau tidak patuh. Selain itu, aku juga lapar. Batin Linda.
Walaupun ada banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya, Linda berusaha sabar dan tidak marah. Agam terus memegang tangannya sampai ke meja makan.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"LB?" Vano histeris.
"I-iya? A-Anda siapa?"
Linda menatap Vano, yang ditatap spontan gugup. Bu Ira dan Pak Yudha tersenyum. Agam mengangkat bahu sambil bergumam ....
"Vano? Apa ini Pak Vano Rendra Resmara pengacara muda yang sempat terkenal itu?" Linda baru sadar.
"Anda benar," kata Vano, bangga.
Ya, ia memang sempat viral saat pura-pura menjadi pengacara sekaligus juru bicara Aiza Bahira.
"Senang bertemu Anda, Pak."
Linda menyodorkan tangannya, Vano terkesiap, namun saat tangannya akan menyentuh tangan Linda, Agam mengambil alih. Ia menarik tangan Linda dan menyalami Vano.
"Hahaha," Pak Yudha tergelak.
"Di rumah ini yang bebas menyentuh LB hanya saya," kata Bu Ira.
"Kok hanya Bu Ira? Saya juga dong," timpal Agam.
Disahuti gelak-tawa Pak Yudha dan Vano. Pipi Linda bersemu.
"Gama mana, Pak?"
Agam baru sadar setelah melewati beberapa suapan.
"Gama tidak mau makan, Pak. Tadi ke atas lagi."
"Apa benar dia patah hati? Saya ragu kalau sampai dia patah hati."
"Tapi saya yakin Pak. Emm, sebenarnya kemarin pagi ada seorang gadis yang memberinya kotak hadiah," terang Pak Yudha.
"Kok Pak Yudha bisa tahu?" Agam heran.
Akhirnya Pak Yudha menceritakan duduk perkaranya. Agam menautkan alis.
"Siapa namanya, Pak?"
"Tidak tahu Pak, saya belum sempat mengobrol, dia hanya menjelaskan bekerja di ruang ICU."
"Oke, tidak apa-apa. Nanti akan saya selidiki," kata Agam.
Kalimat itu membuat Linda sejenak menatap Agam. Linda berpikir mungkin alasan inilah yang menyebabkan Agam dan Gama kurang akur. Agam hiperproteksi. Tapi bukan kapasitas Linda untuk ikut campur. Linda hanya menyimak sambil menikmati makanannya.
Semua tampak menikmati makanan dengan lahap, kecuali pengacara Vano. Ia beberapa kali terbatuk dan minum di tengah kunyahan.
Kenapa?
Karena saat ia menatap Linda, atau tidak sengaja melirik Linda, maka di bawah kolong meja, Agam akan menendang kaki atau menonjok paha Vano.
Oh, jadi ini alasaan Pak Dirut duduk di sampingku? S i a l a n! Seriusan sakiiit. Batin Vano.
Akhirnya Vano mengalah, ia makan dengan cara menunduk, wajahnya bisa dikatakan hampir tenggelam ke dalam piring.
"Pengacara kondang makannya beda dengan kita-kita ya, seperti sedang melakukan interaksi dengan butiran nasi," kata Pak Yudha.
Spontan Linda dan Bu Ira melirik pada Vano.
"Hahaha, iya Pak. Kadang memang seperti ini, inisih masih tergolong normal karena makan di rumah Pak Agam. Kalau makan di rumah sendiri, kadang kepala saya sengaja ditenggelamkan ke dalam mangkuk sayur," sahut Vano sambil terus menuduk.
"Hahahah."
Pak Yudha dan Bu Ira tertawa, Linda mengulum senyum. Tapi pelaku utamanya tidak terpengaruh, Agam tetap lahap tanpa ekspresi apapun.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Makan bersama usai. Pengacara Vano langsung pulang setelah Agam menyerahkan beberapa berkas padanya dan berbincang lama dengan Agam di ruang kerja.
Sementara Linda langsung bercerita pada Pak Yudha dan Bu Ira kalau Gama mengunci kamarnya. Lalu Linda bersama Pak Yudha ke kamar tersebut sambil membawa kunci duplikat.
"Apa?"
Linda kaget karena seluruh baju, perlengkapan, bahkan meja rias tidak di kamarnya.
"Kalau Anda belum siap sekamar, biar saya pindahkan lagi ke sini, tapi harus izin Pak Agam dulu," kata Pak Yudha.
Panjang umur, yang disebut namanya tiba-tiba datang.
"Pak," Pak Yudha segera pergi.
"Ehhem," Agam berdeham sambil duduk di tempat tidur.
"Kamu tetap tidur di kamar saya," ucapnya santai.
"Apa?" Linda bingung dan gugup.
"Saya akan tidur di kamar ini. Tapi kita hanya berpisah saat malam saja, sebelum waktu tidur tiba, saya akan beraktifitas seperti biasa di kamar saya."
"Di kamar saya ada sesuatu yang tidak bisa dipindahkan, emm ... ada data base sistem yang ditanam di sana. Setuju?" kata Agam sambil mendekat.
Posisi duduk mereka kini berdekatan. Linda spontan bergeser.
"Kenapa?" tanya Agam.
"Kenapa aku tidak boleh memegang ponsel dan menonton televisi?" Linda balik bertanya.
"Besok boleh, hanya 24 jam saja tidak bolehnya." Kembali ia bergeser mendekati Linda.
"I-iya, ta-tapi ada alasannya, kan?" bertanya lagi.
Kali ini sambil gelagapan karena Agam menyandarkan kepala di bahu Linda hingga kewangian rambutnya tercium jelas.
"Karena saya mencintai kamu."
Sebuah jawaban yang tidak memuaskan. Namun saat Linda akan bertanya lagi, Agam sudah terlebih dahulu mengatakan sesuatu.
"Boleh saya tidur di pangkuanmu? Supaya bisa lebih dekat dengan anak saya."
Dan belum juga Linda menjawab, Agam sudah merebahkan kepala di pangkuannya, lalu mengelus-elus perut Linda.
"Selama dua hari pergi, saya merindukan kamu, El. Oiya, tiga hari ke depan saya akan di rumah saja. Kamu suka?" tanyanya.
Linda masih bingung. Tadinya mau cuek dengan Agam, tapi pria itu malah leyeh-leyeh di pangkuannya. Gilanya dia tampan dan menggoda, jadi untuk mencuekkannya sedikit ... sulit.
"Su-suka," jawab Linda, suaranya pelan.
"Su apa?" goda Agam.
"Su apa?" Linda balik bertanya.
"Hmm," Agam tersenyum.
Lalu ia bangun dari pangkuan Linda.
"Kita kamar saya, yuk. Mau?" ajaknya.
"Ke kamar?"
"Tenang, hanya perkenalan saja. Supaya kamu terbiasa." Sambil mengulurkan tangannya.
Dan Linda jelas tidak bisa mengelak. Ia meraih tangan Agam. Lalu menciumnya.
"Maaf, ta-tadi belum bersalaman," kata Linda.
"Tidak apa-apa." Agam menuntun Linda menuju kamarnya.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Mata indah itu terbelalak. Kamar Agam ... sempurna. Sebuah definisi dari kamar luas, megah, mewah, bersih dan rapi. Kasurnya sangat besar. Bukan king size lagi, tapi kingdom size. Di sudut kamar ada treatmel, sepeda, dan samsak.
Ada dua tirai berbentuk unik di samping alat-alat olah raga itu. Agam lalu membuka salah satunya. Di balik tirai ada pintu.
"Nah ini tempat shalat, kalau tidak shalat di mushola, kita bisa shalat berjamaah di sini."
"Ini kamar mandi."
Tirai satunya lagi ternyata kamar mandi. Linda mematung saat melihatnya. Terlalu rumit untuk diceritakan. Ternyata bagian di lantai dua dari rumah ini, ruangan terluasnya adalah kamar Agam.
Ada meja kerja yang dilengkapi 3 komputer, ada seperangkat sofa dan TV berukuran besar.
Ada juga kulkas, wastafel, dan ada karpet santai yang terbentang luas dihiasi berbagai macam bantal berbentuk unik.
"Kita ke balkon," ajaknya.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Dari sini kita bisa melihat pusara putra kita."
Linda antusias, ia melongokan kepalanya. Ya, terlihat jelas. Balkon kamar Agam menghadap halaman belakang yang rimbun dengan beberapa pohon berukuran besar dan bunga-bunga.
Di sini Linda langsung menangis. Melihat pusara putranya, jelas mengingatkannya lagi pada hari menyakitkan dan menyedihkan itu.
"El, putra kita sudah tenang dan bahagia. Jangan menangis."
Agam menghadapkan wajah Linda kepadanya. Lalu ia membersihkan air mata Linda. Kali ini bukan dengan jemarinya. Tapi ... dengan bibirnya.
Dari mata turun ke hati, istilah itu rupanya tidak berlaku untuk Agam. Sebab faktanya, dari mata Linda, lanjut ke sana. Ke bibir Linda. Padahal, tidak ada air mata di daerah itu.
Linda terkesiap, tapi ... tidak mampu menolak, karena faktanya ia juga merindukan Agam.
Tirai melambai-lambai, lalu pintu balkon tertutup perlahan terdorong sepoian angin.
Pepohonan yang menjulang tinggi seolah enggan menyaksikan pertautan manis itu. Atau ... apa mungkin pepohonan itu merasa iri? Entahlah.
Dua hari tidak bersua rupanya menumbuhkan kerinduan Agam berkali lipat. Ia seolah enggan berhenti, terus meraih, menelisik, dan menyesap bak kumbang yang kelaparan.
Bahkan saat Linda hampir kehabisan napas, Agam hanya memberikan sedikit kesempatan untuk istrinya menghela napas. Setelah itu, Agam kembali menggila, sekarang ia beraksi sambil menggiring perlahan tubuh Linda ke tempat tidur.
Linda kaget, tapi ... lagi-lagi ia tidak dapat menolak. Lagipula, mau menolakpun tidak mungkin, kan? Agam suaminya. Agam berhak atas tubuhnya.
"Pak ...." Rintihnya saat bibir Agam turun untuk menciumi ceruk lehernya.
"El, ja-jangan panggil saya Bapak," bisiknya dengan suara napas yang tidak beraturan.
"Ta-tapi a-aku be-lum terbiasa, Pak," ucapnya saat Agam tengah mengecupi jemari lentik Linda.
"Emm, santai saja. Tidak boleh memanggil 'Bapak' saat kita sedang seperti ini, setuju? Di luar itu, boleh," kata Agam sambil menatap nanar pada bagian tubuh Linda yang dulu gagal disentuhnya.
"A-aku harus panggil apa?"
Pipi Linda memerah. Melihat wajah Agam dari dekat, tubuhnya memanas seketika. Ada desiran-desiran halus yang seolah mengalirkan semut-semut kecil ke bagian tubuhnya. Rasanya ... sedikit geli dan ....
Gatal.
"Kan saya sudah bilang, boleh panggil Agam, Ben, Buana, atau ... Maga," jawab Agam seraya meraih sesuatu yang dulu sempat tertunda.
Linda terkejut, pun dengan Agam. Wajah keduanya memerah. Tangan Agam gemetar dan berkeringat.
"Bo-bolehkah?" bisik Agam di telinga Linda.
"Emm ... bo-boleh, Pak ...."
"Apa? Saya tidak dengar."
"Bo-boleh, Pak ...."
"Saya tidak dengar."
"Boleh Pak, boleh," tegas Linda.
"Saya tidak dengar."
Lagi, Agam mengulang ucapannya sambil membenamkan wajahnya di sana.
"Emmh ... bo-boleh MMM-Ma-Maga," ucap Linda sambil menggigit bibirnya dan tangannya perlahan membelai lembut rambut Agam yang indah.
___
Next,
Vote,
Thx,