AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Serangan Malam di Taman yang Sepi



"Pak Agam, ki-kita mau makan di sini?"


Linda menatap warung nasi sederhana yang jauh dari kata mewah. Warung nasi itu berlabel nama sebuah daerah yang ada di negara tersebut.


"Kenapa? Tidak suka? Saya biasa kok makan di tempat seperti ini, yang penting bersih dan halal." Agam melanjutkan langkahnya.


Linda mengekor.


"Kalau Bu Linda tidak suka, tunggu saja di dalam mobil." Agam masuk dan mengucap salam. Pemilik warung dan pelayannya menyambut mereka dengan ramah dan hangat.


"Sa-saya juga suka, kok."


Aku hanya kaget direktur utama HGC ternyata mau makan di tempat seperti ini.


Suasana di dalam warung tampak sepi. Meja dan kursi tertata rapi, sepertinya belum ada pengunjung.


"Kakak-kakak adalah pelanggan pertama kami."


Seorang pelayan menyodorkan selembar daftar menu yang kertasnya dilaminating. Benar saja, Linda dan Agam adalah pengunjung pertama.


"Memangnya buka dari jam berapa?" tanya Linda. Ia tampak membaca beberapa pilihan menu.


"Setelah Dzuhur sampai jam sepuluh malam," jawabnya. Pelayan itu menunduk lalu bersiap untuk mencatat makanan.


"Saya mau ini, ini dan ini," kata Agam.


Ia melongokan kepala pada menu yang dipegang Linda. Linda terkejut, rambut Agam bahkan menyentuh dagunya. Dan yang membuat Linda mematung adalah aroma wangi dari rambut itu adalah aroma yang sama dengan yang ia cium pada hari itu. Hari dimana ia tak sadar menjambak, meremas dan mengendusi rambutnya.


Oh tidaaak.


Bayangan itu terlintas kembali. Dengan cepat, Linda melepaskan daftar menu dari tangannya.


"Kakak mau apa?" tanya pelayan pada Linda.


"Samakan saja dengan menu yang tadi."


"Bu Linda, mana bisa disamakan, saya ada gurame bakarnya, dan kamu tidak boleh memakan yang dibakar, zat arang tidak baik untuk wanita hamil. Kamu guramenya digoreng saja ya?"


"Terserah," jawab Linda.


"Untuk dia guramenya digoreng," kata Agam pada pelayan.


Untuk menu yang lainnya seperti prekedel kentang, lado solanum melongena alias lado terung, sayur bening dan pepes tahu, Agam pikir masih wajar dikonsumi wanita hamil.


"Saya mau tambah gepuk daging sapi," kata Linda.


"Ba--."


"Tidak boleh," sela Agam sebelum pelayan itu melanjutkan ucapannya.


"Bu Linda, tidak baik makan daging dicampur dengan ikan, masa cerna mereka sangat berbeda, Anda bisa kembung. Bukannya tidak boleh, tapi saran saya kalau mau daging, tidak perlu sama gurame," tegasnya.


"Memangnya kenapa kalau saya mau dua-duanya, kalaupun tidak baik, yang kembung bukan Bapak, kan? Tapi saya." Linda berdiri, nafsu makannya tiba-tiba hilang.


Agampun ikut berdiri.


"To-tolong tenang, maafkan saya. Boleh, Anda boleh makan apa saja. Apupun." Agam hendak meraih tangan Linda. Tapi Linda menepisnya.


"Saya tidak mau makan," ketusnya.


Sementara si pelayan kikuk, ia hanya bisa menatap ujung sepatunya yang ternyata sangat mengkilat.


"Baik, saya juga tidak akan makan."


Agam lalu duduk kembali, menghela napas dan mengusap dadanya. Ia sangat menyesal, teringat pada sebuah teori tidak pasti yang menyatakan jika wanita hamil cenderung manja, sensitif, dan sering meminta hal yang aneh-aneh.


"Ja-jadi ti-tidak jadi?" Ada raut kesedihan di mata pelayan itu. Bahunya terjatuh lemah, menunduk maksimal dan berlalu.


"Tunggu," kata Agam.


"Saya tetap pesan, tapi tidak makan di sini. Bungkus saja menu yang saya pesan tadi, tambah gurame goreng dan gepuk sapinya. Untuk sepuluh orang," kata Agam.


"Sepuluh?" pelayan itu kaget, namun riak matanya menjadi seterang bulan purnama.


"Baik, Pak." Ia bergegas untuk menyiapkan makanan secepat mungkin.


Linda diam saja, padahal batinnya penasaran. Kenapa Agam memesan untuk sepuluh porsi? Kenapa juga pria itu sangat peduli terhadap lama makanan dicerna dan efeknya pada tubuh. Menyebalkan.


"Saya mohon maaf, nanti kita makan di rumah, mau ya?"


Linda diam saja.


"Bu Linda, hei."


Linda masih diam.


"Nanti saya suapin," ucap Agam.


Apa?! Disuapin?!


Linda masih diam, bibirnya makin mengerucut.


"Diam berarti ya," kata Agam.


"Apa?!" Linda terkejut.


"Oke nanti saya suapin."


Agam mengulum senyum, sementara tangan Linda terlihat mengepal. Selagi menunggu pesanan, Agam iseng memindahkan channel TV di warung tersebut ke stasiun TV KITA. Linda melirik, lalu iapun ikut menonton.


DEG, kerinduannya pada stasiun TV yang membesarkan namanya tiba-tiba menyeruak. Ia menatap layar, penyiar pria yang sedang membaca berita itu adalah sahabatnya. Rian Wardhana.


"Kamu kenal dia?" tanya Agam.


Linda mengangguk, airmatanya berlinang.


"Maafkan saya, kalau memang kamu sangat ingin bekerja, boleh. Tapi ... saya tidak ingin kamu kecapean dan membahayakan anak saya."


"Tidak, lagipula saya tidak bisa menyembunyikannya." Linda menunduk, menyeka airmatanya.


"Clara Mahcota model cantik yang merupakan istri Rufino Pederik sore ini terlihat menyambangi sang suami di rumah tahanan kota pusat. Rufino Federik dikabarkan akan dibebaskan setelah kejaksaan membeberkan fakta terbaru jika politisi Rufino Federik dipastikan tidak terlibat dalam kasus yang disanggahkan."


Alis Agam dan Linda mengernyit mendengar berita itu.


"Sudah saya duga," gumam Agam.


"Dia bebas?" Linda mengepalkan tangannya.


"Kamu mengenal dia?" Agam meliriknya.


"Ti-tidak."


Linda tidak ingin membahas pria itu lagi, pria yang hampir saja melecehkannya, namun Linda tak berani membeberkan fakta itu ke buplik karena Rufino Pederik mengancam keselamatan Bagas asisten pribadinya.


Aku yakin ada yang kamu sembunyikan. Agam bisa membaca mimik ketakutan dan kekhawatiran di wajah Linda.


"Berita terbaru dari dunia hiburan, HGC melalui juru bicara bagian publikasi mengatakan jika dalam waktu dekat HGC akan mengganti brand ambassador beberapa produk yang diproduksi anak perusahaan HGC oleh seorang presenter cantik yang identitasnya masih dirahasiakan."


"Hahh, apa ini ada hubungannya dengan ucapan Anda?" Linda melirik Agam. Ia tak menyangka ternyata Agam tidak main-main dengan ucapannya.


"Tepat sekali. Besok Anda mulai syuting, sebelum perut Anda membesar proyek iklan ini harus selesai," ungkap Agam santai.


"Kenapa beritanya cepat sekali? Pak, saya masih terikat kontrak dengan TV KITA, saya harus izin dulu dengan pihak penyiaran dan manager umum. Saya harus ke TV KITA untuk membicarakan semuanya."


"Saya tidak mengizinkan Anda pergi kemanapun. Syuting untuk HGC pun saya yang mengaturnya. Urusan dengan TV KITA murni menjadi tanggung jawab saya. Bu Linda cukup berada di samping saya sampai bayi itu lahir dan mendapatkan ASI, faham?" Agam memegang bahunya, tidak berlama-lama karena sebagian pesanan sudah selesai.


"Kak, ini sudah 6 porsi, tinggal 4 porsi lagi." Pelayan memberikan 6 box paket makanan yang sudah dikemas rapi.


"Pak Agam, saya sudah melanggar kontrak, saya malah diisukan diblacklist dari dunia penyiaran, apa reputasi HGC akan baik-baik saja jika melibatkan saya? Saya tidak percaya diri," keluhnya saat pelayan warung berlalu.


Entah ada angin dari mana Linda menatap mata memikat itu. Lalu Agam kembali memegang bahunya.


"Saya tegaskan lagi, Bu Linda cukup berada di samping saya. Itu saja. Saya tidak akan menyia-nyiakan wanita yang rela mengorbankan tubuhnya demi anak saya. Masalah iklan produk HGC tidak usah dipikirkan, semua saya lakukan demi kebaikan Anda. Bersabarlah sampai urusan diantara kita selesai. Setelah itu, Anda bisa mengepakkan sayap kemanapun Anda mau."


Untuk saat ini, mungkin ... aku tidak bisa mengejar cintanya. Akan kufokuskan saja untuk membuat dia bahagia, semoga dia mau makan yang banyak. Aku khawatir calon anakku tidak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.


Mereka masih saling menatap. Batin Linda masih meragu, namun entah kenapa manik mata yang bening dengan lensa yang hitam menawan itu membuatnya merasa tenang.


Hingga iapun berucap, "Terima kasih Pak Agam, saya akan melakukan yang terbaik untuk proyek iklan itu, saya juga mau memberanikan diri untuk berteman dengan nona Aiza. Sebenarnya saya juga penasaran seperti apa kondisinya. Maksud saya kondisi dia." Linda mengelus perutnya.


Di saat Agam masih terharu dengan ucapan Linda, pelayan kembali datang. "Kak, semuanya sudah selesai."


"Kak, kami hanya menerima uang tunai." Pelayan itu menolak kartu dari Agam.


"Baik, saya transfer saja. Bisa saya bertemu dengan pemiliknya?" Agam lalu ke kasir meninggalkan Linda seorang diri yang masih asyik mengelus perutnya.


"Apa Anda mau uang?" tanya seseorang di balik punggungnya.


"Pak Agam?" Linda mendongakan kepala karena suara Agam tepat terdengar di atas kepalanya.


DEG, Agam tersadar, bibir itu, leher itu dan posisi seperti itu ... sungguh menggoda imannya. Ingin rasanya mencengkram dagunya, lalu ....


Agam segera duduk di depan Linda, mengusir jauh-jauh keinginan itu.


"Apa Bu Linda mau membantu warung ini? Kasihan mereka, semoga saja kedatangan Anda kesini bisa menjadi berkah untuk warung ini."


"Maksud Pak Agam apa? Saya tidak faham?"


"Ayo promosikan warung ini di media sosial milik Anda, istilahnya endorse, mau?"


"Apa?! Pak saya bukan artis."


"Tapi Anda terkenal."


"Saya tidak PD." Ia menolak dengan yakin.


"Bu Linda, saya ingin membantu warung ini agar laris. Followers Anda di medsos ada jutaan, kan?"


"I-iya sih, tapi semenjak saya bersama Anda, saya tidak bisa mengaksesnya."


"Emm, masalah akses saya bisa memperbaikinya. Saya yang bayar, mau ya, please lima puluh juta mau?" tanya Agam.


"Apa?!" Linda melongo.


"Mau 100 juta?" membuat Linda semakin melongo.


"100 juta untuk 24 jam status update, mau?"


"Deal, saya mau. 100 juta untuk di simpan di galeri medsos saya, selamanya juga boleh." Jiwa bisnisnya kembali menggebu. Kesempatan emas, jangan disia-siakan, dan ini endorse perdananya.


Ia meraih tangan Agam. Bersalaman, dan menghentakkan tangan Agam, "Deal, apa yang harus saya lakukan?"


"Emm," Agam masih berpikir sambil merasakan tangan Linda.


"Oiya, Pak Agam duduk manis saja, saya tahu apa yang harus saya lakukan."


Beberapa saat kemudian pemilik warung dan para pelayan heboh. Mimpi apa mereka semalam?


Tiba-tiba seorang LB datang, dan berkata, "Ada menu apa saja di warung ini? Mari saya review."


"Ada yang punya kamera dan lampu?"


"Beri saya waktu untuk mencuci muka dan bersolek."


"Tolong jangan menerima pengunjung dulu selama LB membuat konten dan review," kata Agam.


"Tolong ambil foto saya dengan seluruh menu yang ada di sini."


"Ini di sini, yang ini di sana." Saat Linda sedang mengatur background dan view.


"Anda pemilik warung, kan? Mari berfoto dengan saya, angkat jempolnya, dan .... Senyuuum."


Rangkaian kegiatan ekspres itupun usai. Pelayan dan pemilik warung memberikan


appalause. Agam yang menjadi penonton tersenyum bangga. Linda ternyata memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni. Wanita itu bisa memadukan seni dan ilmu.


Ia juga memiliki jiwa leadership. Linda bisa mempengaruhi, mengarahkan, memotivasi, mengawasi, dan menyelesaikan. Sasaran dan tujuan Agam tercapai.


Ah, ia semakin tergila-gila dengan wanita itu. Pantas saja Linda memenangkan tropi Hot Top Host Award. Juri dan pemiarsa memang tidak salah pilih.


Namun seketika Agam merenung, sadar lagi akan kesalahannya. Dengan beringasnya ia malah menghancurkan masa depan dan kariernya. Hanya karena sakit hati ia berani menyakiti dan menodainya.


Linda, aku berjanji akan mengembalikan lagi semua hal yang seharusnya kamu dapatkan. Jika dengan membebaskanmu kamu akan bahagia, aku akan mempertimbangkannya.


"Pak, Agam, Pak," sapanya. Linda bahkan mengibaskan tangan di wajah Agam.


"Pak, apa saya keren?" ternyata Linda juga manja dan butuh pujian.


"Pak Agaam," ia mengguncang bahu Agam.


"Apa?!" yang terbangun dari lamunan mengerjap, jiwa petarung telah mendarah daging. Seketika menarik tangan Linda memiting lehernya.


"Pak ...." Lirihnya. Ia memegang bahu Agam.


"Ma-maaf." Agam melepaskannya dengan cepat, dadanya bergemuruh. Ia sering kehilangan konsentrasi gara-gara pesona LB.


"Bapak kenapa? Katanya tidak bisa melawan wanita lemah, barusan apa?" Linda kesal.


Ia lalu memilih berbincang dengan pemilik warung yang entah keberapa puluh kali mengucapkan terima kasih pada Linda.


"Ibu, tidak perlu berterimakasih pada saya. Berterimakasihlah pada Pak Agam, dia yang membayar saya," jelas Linda.


Namun saat pemilik warung hendak berterimakasih, Agam sudah bergegas.


"Bu Linda, saya tunggu di mobil." Ia membawa 10 box paket makanan yang tadi dipesan.


***


Hari sudah malam, Agam memberikan 9 box paket makanan itu pada pada pengamen dan anak jalanan. Satu box lagi untuk Gama. Linda tidak jadi makan, alasannya sudah kenyang saat review.


Setelah melaksanan ibadah shalat Isya di sebuah masjid, mereka melanjutkan perjalanan. Linda tampak kelelahan, kantuk menyerang, dan iapun terlelap begitu saja. Sejenak Agam menepikan mobil di sebuah taman yang cukup sepi. Agam mengatur posisi jok dan menyelimuti Linda. Lalu menatapnya lekat.


Cantik sekali. Pujinya dalam hati.


Saat mobilnya hendak melaju, alis Agam bertautan. Ia merasakan sesuatu yang tidak beres. Ada suara gesekan kuat pada ban mobilnya.


Kenapa ya? Ia keluar dari mobil.


Agam berjongkok, menunduk mengecek ban. Dan saat itulah beberapa orang pria datang dari balik bunga di taman, melompat mengepung dan bersiap menyerang Agam.


"Siapa kalian?!" teriak Agam.


"Serahkan LB pada kami, maka nyawa Anda akan selamat," jawab salah satu dari mereka.


"Apa?!"


Agam melompat mundur. Bukan untuk mengalah, melainkan untuk mempersiapkan diri.


"Bahkan jikapun kalian berhasil melangkahi mayatku. Kalian tidak akan berhasil membawanya," tegas Agam seraya bersiap untuk bertarung dengan tujuh orang pria tegap yang saat ini sudah mengelilinginya.


Dua orang dari mereka membawa senjata api. Tiga orang membawa benda tajam jenis pisau lipat, dan dua orang lagi memegang tambang yang telah disimpul sedemikian rupa. Sedangkan Agam tangan kosong.


Secara kasat mata sudah bisa dipastikan siapa yang akan mengenang kekalahan dan siapa yang kemungkinan akan ....


Meregang nyawa.


❤❤ Bersambung ....