AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Tanda Lahir Berbentuk Hati



Haiden's Mansion


Sistem kemanan di Haiden's Mansion tentu saja super ketat. Tidak bisa ditembus oleh sembarangan orang yang tidak berkepentingan. Mansion ini lebih tepatnya adalah villa pribadi bagi keluarga Haiden.


Data kepemilikan Agam Ben Buana di mansion ini ternyata berujung kemelut yang sebenarnya sama sekali tidak dipermasalahkan oleh Agam. Agam tidak menuntut hak milik pada mansion itu, toh dia sadar diri jika dirinya bukanlah bagian dari keluarga Haiden.


Namun ternyata Tuan Muda Deanka Kavindra Byantara dan Tuan Besar Bahir Finley Haiden memberikan masing-masing setengah hak kepemilikan mereka pada Agam. Hingga milik Agam menjadi satu bagian, yang artinya jika diuangkan akan bernilai sama dengan keluarga Haiden.


Para petinggi Haiden tidak terima dan marah, karena merasa jika Agam bukanlah bagian dari keluarga Haiden. Kini, Agam dianggap sebagai musuh utama bagi mereka.


Kenapa?


Karena pada akhirnya HGC pun ada di bawah kendali Agam. Padahal, jika dilihat dari sisi historis pengelolaan HGC, yang didapuk sebagai direktur utama harusnya adalah keluarga Haiden.


Keadaan inilah yang menjadi motivasi bagi Yohan dan para pendukungnya untuk menghancurkan kekuasaan Agam.


Namun pamor Yohan saat ini kurang dominan karena ia kehilangan banyak harta untuk menebus masa tahanan, ditambah tuan Hengky yang merupakan papanya Yohan saat ini masih menjadi buronan interpol karena terlibat korupsi proyek tol dan merugikan negara.


.


.


.


Malam ini, Linda sedang didorong menggunakan kursi roda oleh Yohan mengelilingi mansion. Awalnya didorong oleh pelayan, namun saat Yohan datang pria itu menggantikan.


"Seluas dan sebesar ini hanya di isi olah Anda?" tanya Linda. Ia sangat ramah pada Yohan, agar rencananya mulus.


"Yang namanya ada di sertifikat kepemilikan sebenarnya boleh tinggal di sini dan menempati unit masing-masing," jawab Yohan.


"Termasuk Dirut HGC?"


"Ya, tentu dia kan punya unit juga di sini. Aargh! Menyebalkan!" geramnya.


"Apa dia pernah ke sini?" tanya Linda sambil tersenyum. Sungguh, membahas tentang Agam baginya adalah topik menarik.


"Tidak pernah."


"Kenapa ya?" Linda penasaran.


"Tentu saja karena dia punya rumah pribadi yang mewah. Untuk apa juga tinggal di sini? Kenapa aku tinggal di sini? Karena rumahku dan rumah ayah disita negara. Untung saja ada mansion ini. Kalau tidak, aku bisa jadi tumawisma," keluhnya.


"Aku sekarang miskin, LB. Makanya tinggal di sini."


"Hihihi," Linda malah terkikik.


"Lho, kok malah tertawa?" Yohan heran.


"Mana ada orang miskin tinggal di mansion mewah. Tuan Yo, lucu deh." Goda Linda.


Sebenarnya sangat menyebalkan bicara dengan pria ini, tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada pilihan lain sebelum peluang dan kesempatan terbaiknya datang. Tidak sabar rasanya ingin segera menggoda Agam. Pasti sangat menyenangkan, atau ... malah menegangkan?


Linda spontan tersenyum.


"Kamu tersenyum? Kamu suka mansion ini?"


"A-apa? I-iya Tuan, suka sekali. Oiya, kalau unit milik pak Agam, ada di sebelah mana?" Sepertinya, membahas topik tentang Agam selalu membuatnya senang.


"Ada di ujung, bersebelahan dengan taman, helipad, dan lapangan golf. Kenapa kamu bertanya tentang dia terus?"


"Emm, aku kan harus mengenal targetku, Tuan. Oiya Tuan, kalau aku menggoda dia, apa pak Agam bisa tertarik? Bukannya dia itu penyuka sesama jenis?" Untuk meyakinkan Yohan, Linda sengaja membuat pernyataan yang kontroversial.


"Hahaha, sssttt ... sebenarnya dia itu normal, dia tidak memiliki hubungan apapun dengan si Deanka, gosip lama itu hoax."


"Tuan Yo tahu siapa dalangnya?"


Jadi penasaran, setidaknya bersama dengan Yohan, Linda bisa menggali informasi tentang musuh Agam dan mengetahui dalang siapa penyebar finah keji itu.


"Tahu lah, tapi aku tidak akan mengatakannya pada siapapun, termasuk pada kamu." Kembali mendorong Linda. Kali ini membawanya ke kamar tidur di mana sebelumnya Linda berada di sana.


"Kenapa Anda memilih aku untuk mengelabui Pak Agam, Tuan?"


"Yang kamu iklankan itu programnya dia. Kalau kamu misalkan tiba-tiba membuat masalah sampai iklan itu larang tayang, otomatis akan berdampak juga pada programnya dia. Nah, sebelum aku benar-benar menggulingkan dia dari HGC, aku mau mengurangi dulu sedikit-demi sedikit kekayaannya."


"Kamu temui dia, katakan jika nilai kontrak kemarin masih kurang. Pokoknya kamu harus bisa mengganggu kestabilan keuangan HGC di bagian pemasaran. Oiya berapa lama kontrakmu?"


"Tiga tahun, Tuan?"


"Bukannya yang lain lima tahun? Kenapa hanya tiga tahun?"


"Karena pak Agam yang memintanya."


Ya, lama kontrak Linda memang disesuaikan oleh Agam dengan lamanya hamil dan menyusui yang dibulatkan menjadi tiga tahun.


"Kamu setuju-setuju saja?"


"Ya, Tuan. Kan a-aku artis ba-baru."


Linda sedikit risih, karena saat ini Yohan tengah memapahnya menuju tempat tidur. Karena Linda mengatakan kandungannya lemah dan harus bedrest, Yohan memperlakukannya dengan sangat hati-hati.


Sebenarnya alasan itu digunakan oleh Linda untuk mengulur waktu. Karena pesakitan yang terkenal sebagai maniak pemuas itu menginkan tubuhnya setelah ia pulih.


"Kemampuanmu bagus, kok bisa hanya tiga tahun? Pokoknya kamu tuntut dia agar kontrakmu disamakan dengan artis sebelumnya, lima tahun. Uang kontrakmu sudah dibayar?" Sambil membantu Linda merebahkan diri.


"Sudah, Tuan. Dibayar pertahun. Baru satu milyar."


"Apa?! Jadi nilai kontrakmu hanya satu milyar pertahun?! Kecil sekali." Yohan terlihat kesal.


"Ta-tapi ... menurutku i-itu besar, Tuan."


"Cih, itu kecil LB. Kamu minta ke bagian pemasarannya agar tiga kali lipat menjadi 3 milyar pertahun."


"A-apa?! Ta-tapi Tuan."


"LB, dengarkan aku! Kalau kontrakmu lima tahun, setidaknya kamu dapat uang sepuluh milyar. Nah, jika HGC bersikeras mengontrakmu tiga tahu, kamu mintalah agar nilai kontrakmu tetap seharga lima tahun."


"Itu tidak masuk diakal Tuan, Yo. Mereka pasti menolak."


"Linda dengarkan aku!"


Yohan memegang bahu Linda. Kali ini Linda tidak bisa berakting, tubuhya gemetar karena wajah Yohan begitu dekat.


"Aku memang ingin kamu berulah yang tidak masuk akal," sambil mengendusi leher Linda.


"To-tolong jangan seperti Tuan, Yo. Aku takut. A-aku belum pulih. A-aku belum bisa melayanimu," ucap Linda. Tubuhnya semakin gemetar.


"Hahaha," pria bajingan itu mengambil satu bantal dan tidur di samping Linda.


Linda beringsut, ia sangat ketakutan. Apalagi saat pria itu membuka bajunya.


"A-apa yang akan kamu lakukan?! Jangan harap kamu bisa mendapatkan keuntungan dariku kalau kamu berani kurang ajar. Please Tuan Yo, a-aku hanya butuh waktu."


"Hahaha, hahaha, tenang dong seksi. Aku tidak akan melakukan apa-apa, aku hanya ingin kamu memijat tubuhku." Lalu menelungkupkan tubuh yang sebenarnya diidamkan oleh setiap wanita, tapi tentu saja tidak oleh Linda.


"Ayo pijat, aku." Menggerakkan punggungnya.


"Tidak mau Tuan, huuu ...." Hanya tangisan yang saat ini bisa diandalkan.


"Ish, berisik! Kenapa kamu menangis, hahh?"


"Tuan, a-aku bukan wanita nakal. Mari kita akhiri saja kerja sama ini kalau pada akhirnya aku akan diperlakukan sebagai pemuasmu. Di dalam rahimku ada benih orang lain, apa Tuan tidak punya hati nurani?!" Linda marah. Kali ini ia tidak bisa menahan emosinya.


"Hahaha, kamu cantik sekali kalau sedang marah, wajahmu memerah, dadamu yang super size itu turun-naik, wah ... so seksi." Menatap Linda sambil menelan salivanya.


"Tuan Yo! Jaga ucapanmu! Kamu gila ya?!"


Linda turun dari tempat tidur, mengambil selimut, lalu berjalan menuju sofa sambil memeluk satu jalur cairan infus. Jalur infus di tangan kirinya sudah dilepas.


"Hahaha, berapa ukurannya?" Pria itu malah semakin gila.


Linda tutup mulut.


"LB, kamu adalah wanita terseksi yang pernah aku lihat. Padahal tubuhmu tertutup." Yohan tetap di tempat, dan menatap langit-langit.


Linda tidak merespon. Ia bersembunyi di balik selimut. Tengah berpikir untuk mengusulkan solusi lain agar dia tidak perlu melayani si brengsek itu.


"Tuan Yo. Jika Anda memang butuh uang, aku bisa memberikannya padamu lebih banyak lagi. Kamu bisa mengekploitasiku sepuasnya."


"Hahaha, mengekploitasi tubuhmu?" Seringai jahatnya mengembang.


"Tentu saja bukan! Kamu bisa mengeksploitasi kemampuanku, selain bisa menjadi pembawa acara, aku juga bisa bernyanyi dan berakting," tegas Linda.


"Benarkah? Wah wah wah, menarik. Coba nyanyikan sebuah lagu untukku."


Yohan memang memiliki studio rekaman dan rumah produksi yang saat ini tengah di ambang kebangkrutan gara-gara kasusnya. Ia bangun, melipat tangan di dada dan menatap Linda yang saat ini tengah bersiap menunjukkan bakatnya.


Linda memejamkan matanya, membayangkan sosok Agam yang ia rindukan, lalu mengenang kembali janinnya yang telah pergi.


Kemudian mulai menyanyikan sebuah lagu pilu nan syahdu yang menceritakan tentang kerinduan dan kehilangan. Sebuah lagu terkenal yang dipopulerkan oleh penyanyi legendaris di negara tersebut.


🎶 "...." 🎶


🎶 "...." 🎶


Airmatanya berlinang saat ia menjiwai kata-perkata, bait-bait perbaitnya. Bayangan wajah Agam dan seorang bocah tampan tiba-tiba muncul dalam angannya.


Benar, wanita itu ternyata multalenta. Cita-cita masa kecilnya yang ingin menjadi artis dan sering dipuji oleh teman-temannya ternyata fakta.


Linda tidak pernah memperlihatkan bakat bernyanyinya pada siapapun. Jadi, belum ada produser yang mengetahuinya. Sekalipun itu TV KITA.


Yohan menganga, pria itupun terlarut dan terbuai, syair lagu itu mengingatkannya kembali pada mamanya yang meregang nyawa demi menyelamatkan orang lain.


Terbayang lagi saat mamanya berteriak mengatakan sangat mencintainya sekitar tiga puluh detik sebelum sang mama tertembak peluru di jantungnya hingga meregang nyawa pada detik juga.


Air mata Yohan mengalir tak terbantah, ia menunduk dan terisak.


Sebenarnya ... sama halnya dengan Linda, ia juga nyatanya tengah merindu. Merindukan mama yang tiada, serta merindukan papa dan adik perempuannya yang sampai saat ini tidak jelas rimbanya.


Linda kaget saat menyadari jika Yohan tengah terisak. Ia tidak menyangka jika maniak itu bisa menangis juga.


"Tuan, Yohan? Anda menangis?" tanya Linda sambil mengusap airmatanya.


Tapi Yohan diam saja, ia masih terlarut dalam kepiluannya.


***


Haiden Group Corporation (HGC)


Kesalahan besar? Rumahkan!!


Kesalahan fatal? Pecat!!


Agam Ben Buana berubah mengerikan. Ketegasannya bercampur dengan kegarangan. Fanny menjadi yang paling sibuk karena selalu menjadi pihak yang paling tertekan.


"Ada apa dengan pak Dirut kita?" kata staf bagian keamanan.


"Bukannya hari ini beliau harus kunjungan kerja ke luar negeri?" kata staf direksi.


"Sepertinya ada masalah dengan pak Dirut kita?" kata manajer personalia.


"Saat dia marah, kok aku jadi semakin suka sih? Makin tampan tahu. Hihiii," kata staf sekretaris.


"Ahhh, mau dong dimarahin pak Agam, lalu dibantung ke kasurnya. Hahaha," celoteh anak magang.


"Kalau saja dia tidak kaya, tampan, dan berprestasi, mungkin kita sudah membunuhnya beramai-ramai." Dengus tim pemasaran.


Seperti itulah berbagai macam umpatan yang dilontarkan untuk Agam. Mereka bingung dan resah.


Agam Ben Buana kini berubah sangar dan garang. Tidak ada lagi senyuman di wajah tampannya. Keramahan yang biasanya ditebar, kini berubah menjadi kedinginan sikap yang sulit dicairkan oleh siapapun.


Ia bahkan lebih menakutkan dari Tuan Muda Deanka, Dirut sebelumnya.


Seperti saat ini, Agam tengah memimpin rapat rutin dengan direktur keuangan dan stafnya.


Agam hanya menatap ke wallscreen, seperti melamun sambil memainkan pulpen dengan mahirnya. Pulpen itu kini sedang berputar seperti baling-baling, dan tentu saja mengalihkan perhatian bebarapa orang staf keuangan.


"Keuangan HGC saat ini stabil, Pak. Pengalihan presentase nilai saham dan deposito keuangan ke logam mulia sudah mulai berjalan sejak Bapak memberikan intruksi. Sejauh ini tidak ada kendala."


"Lalu untuk masalah surplus perusahaan, bulan ini ...." (Bla, bla, bla).


"Bagaimana, Pak? Apa ada pertanyaan?"


"Tidak ada," jawabnya ketus.


"Apa ada masukan, Pak? Apa ada yang perlu kita perbaharui?"


"Ada," tegasnya sambil berdiri.


"Ba-bagian mana, Pak?" Staf yang bertugas mempresentasikan tampak gugup.


"Semuanya," kata Agam. Yang mana membuat semua anggota rapat panik, dan terlonjak kaget.


"Pak, tungguuu," teriak mereka saat Agam pergi begitu saja meninggalkan ruang rapat.


"Pak Agam? Apa Anda sakit?" Fanny menguntit.


"Tidak, kamu atur saja jadwal rapat ulangnya."


"Apa rapat hari ini cukup?" Fanny bertanya lagi.


"Belum," sambil masuk ke dalam lift dan meninggalkan Fanny.


"Aarrggh," Fanny berteriak putus asa saat pintu lift sudah tertutup.


.


.


.


Agam berjalan cepat menuju ruangannya. Laporan dari mister X dan anak buahnya sama sekali tidak ada yang membuatnya senang sedikitpun.


Mereka masih belum menemukan jejak Linda. Agam benar-benar hampir putus asa. Sepulang kerja, pria itu selalu mengelilingi kota sampai ke pinggiran. Bahkan pernah mencari sampai ke kolong jembatan. Bagaspun sudah dilibatkan, termasuk melibatkan didektif swasta.


Hingga Aiptu Joey, dan Brigpol Lelly pun saat ini telah dilibatkan secara rahasia untuk menemukan keberadaan LB.


.


.


.


Pada akhirnya, karena bingung, malam ini Agam memutuskan untuk menelepon seseorang.


Awalnya ia tidak ingin melibatkannya, tapi ... ini urgen. Ia tidak habis pikir kenapa mister X kesulitan melacak tartas 201.


Pada dering ketiga panggilannya lansung diangkat.


"A-Agam?! K-kamu ke-kemana saja, bodoh?" sapa pria di ujung telepon.


"Tuan Muda apa kabar? Maaf kalau saya mengganggu, Anda."


"Huuhh, hhm ... ka-kabarku baik. Sa-sangat baik. Ada apa?"


"Tuan Muda, Anda baik-baik saja, kan? Kenapa suara Anda tidak stabil?" tanya Agam.


"Pak Dirut, be-begini saja, bagaimana ka-kalau ...."


Tidak ada kalimat lanjutan apapun dari sana, namun sayup-sayup Agam mendengar suara rintihan dan desahan.


"SIAAAL!" teriaknya.


Agam mengakhiri panggilan dan melempar ponselnya ke tempat tidur.


"Ya ampun Tuan Muda, Nona Muda! Ini baru jam tujuh malam, apa kalian tidak bisa kalau bercintanya di jam malam?!" dengusnya kesal.


Agam memasygul rambutnya sendiri. Pikirannya kembali buntu.


Linda ... kamu di mana? Aku bisa mati mendadak kalau tidak bisa menemukan kamu.


Lalu melemparkan tubuhnya ke kasur. Malam ini ia menginap di HGC.


Bebarapa saat kemudian, ada pesan masuk. Tertulis dari kontak bernama, "Tuan Muda Deanka."


"Hahaha, maafkan aku Pak Dirut, tadi sedang tanggung. Ayo kirim pesan saja. Jangan menelepon. Aiza sedang tidur, sedikit kelelahan. Hehehe. Kalau kita teleponnan, aku takut mengganggu tidurnya."


Agam sedikit tersenyun. Lalu membalas pesan itu dan menceritakan semuanya. Sesaat kemudian, pesan dari kontak Tuan Muda Deanka kembali masuk.


"Hmm, kamu sudah melacak musuhmu, kamu juga sudah melacak kemungkinan keterlibatan musuh-musuh LB, dan hasilnya dia tidak ada pada mereka. Berarti, ada pihak lain yang terlibat. Tunggu, kamu bilang mister X tidak menemukan data CCTV yang identik dengan LB, kan?"


"Artinya, LB sama sekali tidak melakukan aktivitas di luar rumah, atau luar bangunan. So, dia pasti disekap disuatu tempat dengan sistem pengamanan yang super ketat.


"Ini sulit, Pak Dirut. Aku tidak bisa membantu, satu hal yang bisa aku sarankan padamu jika nanti Pak Dirut sudah menemukan dia, tolong tanam cip pelacak saja di tubuhnya. Kamu tahu? Aiza juga sudah terpasang cip pelacak di tubuhnya."


Agam kalut. Ia membenamkan kepalanya pada bantal. Lalu ada pesan lain yang masuk. Awalnya tidak mau membukanya karena nomornya tidak dikenal. Namun ia merasa penasaran. Membulat mata sayunya tatkala membaca pesan itu.


"Hai tampan, bisakah kita berkenalan?"


"Cih, siapa dia?! Lancang sekali!"


Pesan dari nomor yang sama masuk lagi.


"Aku pengagummu, Pak. Bisakah kita bertemu besok?"


Agam tentu saja malas menjawab pesan itu. Pasti dari nomor iseng pikirnya. Namun matanya hampir loncat saat membaca pesan selanjutnya.


"Aku adalah seseorang yang mengetahui rahasia Bapak. Mau aku katakan?"


"Dia gila!" dengus Agam dengan kesalnya.


"Tanda lahir milik Bapak bentuknya lucu. Kenapa berbentuk hati? Aku pikir itu tato."


"A-APA?! Siapa dia?!"


Wajah Agam memerah karena marah dan sedikt malu.


Langsung menghubungi nomor tersebut dengan amarah menggebu. Namun sayangnya nomor itu tidak mengangkatnya. Malah kembali mengirim pesan yang tak kalah gilanya dari pesan sebelumnya.


"Tanda lahir bebentuk hati itu ada di ...."


"APA?!"


Langsung melempar ponselnya.


Lalu meraih earphone dari dalam tasnya.


"X, tolong pidai nomor ini, cek lokasinya, cepat!"


Gila, dia mengetahui bagian terdalam dari tubuhku. Siapa dia? Sudah bosan hidup rupanya.


Lalu ada pesan masuk ke ponselnya. Pesan dari mister X.


"Hasil pidai lokasi dari nomor (sekian-sekian), terdeteksi berada di Haiden's Mansion."


"Mansion?" Kening Agam mengkerut.


Lalu bicara lagi pada earphonenya.


"Tolong cek CCTV di pintu utama Haiden's Mansion, cepat!"


Pesan masuk lagi dari mister X.


"Pak Buana, apa Anda lupa? Sistem CCTV di sana tidak bisa dibobol, kan Anda sendiri yang menyuruh saya mengunci sistim keamaman di sana."


"Baru bisa dibobol jika ada persetujuan dari sistem keamanan pusat."


"ARGH!" Agam semakin bingung.


"Aku mengunci sistem di sana karena diminta oleh Tuan Besar. Yang bisa masuk ke sana HANYA anggota pemilik. Hmm, berarti tadi itu pesan iseng dari keluarga Haiden. Eh, tapi kok dia tahu tanda lahirku?" Agam berbicara sendiri sambil berpikir.


"Yang tahu tanda itu hanya aku, ibuku dan ayahku. Bahkan Gama pun mungkin tidak tahu."


Siapa dia? Hanya aku, ayah, ibu, dan ... dan ....


Agam mengerjap berkali-kali.


Tidak mungkin!!


❤❤ Bersambung


Mohon votenya jika berkenan,


terima kasih.