AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Bukan Wanita yang Baik



"Jadi begitu ceritanya."


Linda menjelaskan permasalahannya pada Bagas. Linda mengatakan jika ia ingin merenungi kesalahannya.


Pada Bagas, Linda berbohong. Ia mengatakan telah terlibat cinta satu malam dengan seseorang hingga hamil.


Linda juga menjelaskan permasalahan barunya dengan Yohan Nevan Haiden.


"El, astaghfirullah, El."


Bagas kecewa, ia mematung. Kaget bercampur tidak percaya. Hingga pria itupun menangis dan memarahi Linda.


"Kamu mengecewakan aku, El. LB yang aku kenal bukan orang seperti itu. Pantas saja ayah dan ibu kamu memilih pulang kampung."


"Ayah dan ibuku tahunya aku diperkosa, Gas. Tapi mereka tidak tahu kalau aku hamil. Tolong aku kali ini ... saja Bagas. Aku tidak ada tempat tinggal, rumah dan mobilku kan sudah kamu gadaikan. Aku juga tidak mungkin tinggal di Green Seroja karena masa kontraknya sudah habis."


Linda mengiba, tatapannya begitu memelas seperti kucing kecil yang kelaparan dan kehujanan.


Bagas menarik napas berat. Tidak mungkin ia menolak Linda, mengingat hutangnya saja pada Linda hampir lima ratus juta jika dijumlah dengan nilai gadai rumah dan mobil Linda yang digunakan untuk pengobatan ayahnya.


"Boleh, El. Kamu boleh tinggal di sini sampai kapanpun, sesukamu."


"Terima kasih, Bagas." Kini wajahnya berbinar bahagia.


"Emm, kamu tenang saja. Selama aku tinggal di rumah kamu, cicilan bulanan kamu aku bebaskan. Tidak akan lama kok. Kalau tuan Yohan sudah mengembalikan tasku, aku akan menyewa apartemen," jelasnya.


"Baik, aku mau cerita dulu pelan-pelan pada Lani. Tapi aku yakin dia juga mau menerima kamu."


Lani adalah istri Bagas.


"Oiya, anak-anak dan istrimu pada kemana sih? Kalau cerita pada istrimu jangan katakan kalau aku hamil ya. Hehehe."


Sekarang bibir yang kata Agam manis, lembut, hangat, wangi dan lengket itu sudah bisa tersenyum lagi.


"Mereka sedang main di rumah neneknya, sore ini pulang. Tenang saja, El. Aku akan menceritakan yang layak diceritakan saja. Selebihnya ...." Bagas melakukan gerakan mengunci mulut.


"Kamu terbaik, Bagas."


"Ya sudah kamu istirahat di kamar tamu ya."


Terlibat cinta satu malam dengan siapa kamu, El? Apa dengan pak Agam?


Dalam benaknya, Bagas ternyata menyimpan kecurigaan pada Agam. Tapi, ia tidak berani menanyakannya pada Linda.


"Bagas, belikan aku perlengkapan mandi ya," teriak Linda dari kamar tamu.


"Merknya yang biasa aku pakai," teriaknya lagi.


"Aku juga mau makan, makan apa saja boleh. Aku mau makan di kamar saja."


Bagas hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Baik El," sahutnya.


.


.


.


"Apa?! Saya tidak setuju, Pi."


"Mi, dengarkan Pipi dulu. Kamu tahu, kan kalau LB ---."


"Tidak, Pi. Aku tidak sudi dia menginap di rumah kita, kamu bayangkan saja. Apa patut seorang artis cantik menginap di rumah manajernya? Dia artis, Pi. Bukan orang biasa. Tidak mungkin juga aku suruh-suruh LB untuk membantu pekerjaan rumah. Dia minum saja diambilkan sama kamu, kan?"


"Mimi, sayang ... dia hanya sementara tinggal di sininya, tidak lama-lama Mi. Kalau urusannya dengan tuan Yohan selesai, dia akan sewa apartemen."


"Pokoknya aku tidak setuju, titik. Baru tinggal setengah sehari saja, uang susu jatah anak-anak dan uang belanja kita sudah kamu ambil semua. Masa hanya belanja pelengkapan mandi saja sampai satu juta?!" Lani berapi-api. Bagas menunduk.


"Beli dalaman dia sampai lima ratus ribu, belanja dua setel baju dia hampir satu juta juga. Baru setengah hari uang tabungan kita sudah bobol hampir 3 juta gara-gara dia. Berarti berita kalau dia hemat itu bohong."


"Sayang ... hutang kita banyak sama dia, kamu tidak pantas mengatakan itu."


"Hutang kita?! Hutang kamu! Aku tidak merasa berhutang pada dia. Lagipula tiap bulan kamu cicil, kan?"


"Mi, kok kamu begitu sih? Kasihan dia, aku tidak mungkin berani menolak dia. Oiya, sebenarnya dia sedang ---."


"Bagaaas," tiba-tiba dari ruang tengah Linda memanggil.


Pembicaraan Bagas dan istrinya terhenti sejenak. Bagas beranjak ke ruang tengah.


"El?"


Kaget, karena Linda sudah siap. Memakai masker, dan menenteng tas besar yang tadi dibelikan oleh Bagas.


"Aku tidak jadi menginap di sini, Gas. Tuan Yohan katanya mau mengembalikan tasku."


"Benarkah?"


Bagas menatapnya. Ada keraguan di hati Bagas karena melihat mata Linda memerah. Dan ... dari mana Linda tahu info itu? Sedangkan ponsel saja ia tidak punya.


Sementara Lani mengintip di balik pintu.


"Benar, Gas. Maaf jika hari ini aku sudah merepotkan kamu."


Di balik masker itu, Linda mengatupkan bibirnya. Ternyata ... ia memergoki percakapan Bagas dan istrinya.


"El, jangan berbohong, itu kenapa mata kamu merah?"


"Oh, ini karena aku baru saja melepas soft lens," kilahnya.


"Aku tidak percaya, jangan pergi El, ini sudah malam."


"Tidak apa-apa Bagas, aku ada yang menjemput," kata Linda. Ia berbohong lagi.


"Aku antar." Bagas hendak bersiap.


"Tidak perlu Bagas, aku pergi, salam untuk istri kamu." Linda berlalu.


"El, El, LB. Tunggu."


Bagas akan mengejar Linda, namun Lani cepat-cepat memeluk punggung suaminya.


"Kalau kamu mengantar dia, aku mau menggugat cerai," ancamnya.


"Apa?!"


Sontak Bagas hanya bisa menatap tubuh indah semampai itu menghilang perlahan di balik pintu.


"Huuu ... ayah ... ibu ... paman ...," ratapnya.


Tidak jauh dari rumah Bagas, Linda duduk di bangku taman seraya menatap sang rembulan.


Benar, tentang Yohan yang akan mengembalikan tasnya adalah sebuah kebohongan belaka.


Di mana malam ini ia akan tidur? Entahlah.


Linda lalu mengambil copy surat dari polisi yang ditemukan dari tas pamannya.


"Harusnya ... hasil autopsi itu hari ini sudah selesai, pemberitahuan dari polisi pasti sudah masuk ke ponselku yang ada di pak Agam."


"Sayang, kita ke sana lagi yuk. Di seberang jalan sana ada mushola. Malam ini, untuk sementara kita tidur di sana ya. Besok, Mama akan mencari pekerjaan."


"Untuk sementara ... karena ijazah Mama ada di Pulau Jauh, Mama akan memberanikan diri jadi pengamen."


Linda berbicara lirih sambil mengelus dan menatap perutnya. Airmatanya berderai.


"Sayang ... Mama digosipkan memiliki hubungan dengan pejabat tinggi HGC. Mama bingung, apa yang mereka maksud pejabat tinggi itu ... papa kamu? Mereka mengira Mama menjadi bintang iklan HGC gara-gara dekat dengan pejabat itu."


Saat menonton TV di rumah Bagas, Linda mengetahui fakta tersebut.


"Mama tidak bahagia tertuduh seperti ini. Oiya, hari ini ... Mama hampir saja membuat masalah untuk sabahat Mama. Istri Bagas ternyata tidak menyukai Mama. Padahal, Mama pernah membantu mereka. Maaf, bukan Mama minta pamrih, tapi ... Mama berpikir kak Leni bisa menyukai Mama seperti halnya Bagas."


"Mama sedih sayang, tapi ... Mama senang karena saat ini Mama bisa mengobrol dengan kamu. Mama tidak mengharapkan lagi uang kontrak iklan dari HGC."


"Jika rezeki kita, uang kontrak itu suatu saat pasti akan menjadi milik kita lagi. Mama tidak mau menginjakan kaki di Haiden's Mansion."


Sambil berjalan, Linda terus mengobrol dengan janinnya. Kali ini, ia telah menggukan sandal. Sandal sederhana yang terbuat dari karet. Sandal itu milik Bagas, terlihat kebesaran di kakinya.


Sesampainya di mushola, Linda hanya bisa berselonjor di terasnya. Awalnya, ia ingin masuk, tapi ternyata mushola tersebut terkunci.


Lalu ia membaca copy surat dari polisi itu. Sebelum membacanya, ia sudah menangis.


DEG.


"Ayah ...." Lirihnya.


"Ini tulisan ayah. Jadi ... jenazah itu benar-benar paman?Paman ... maafkan aku ... Ayah ... paman meninggal gara-gara aku."


Linda terisak di teras mushola. Ia berlindung di balik sudut tembok agar keberadaannya tidak kentara oleh pengguna jalan yang melintasi mushola itu.


...Assalamu'alaikuum .......


...Ia, apa kabar kamu, Nak?...


...Semoga kamu baik-baik saja....


...Nak, maaf Ayah dan ibu meninggalkan kamu....


...Semua Ayah lakukan karena terpaksa....


...Ayah tidak tega melihat ibu kamu depresi setiap harinya gara-gara memikirkan kamu....


...Hampir setiap orang yang datang ke kedai buah, pasti membicarakan hal yang tidak-tidak tentang kamu. Mereka mengatakan kamu jadi istri simpanan....


...Ada juga yang mengatakan kamu bekerja sampingan dengan menjual diri. Dan banyak lagi tuduhan-tuduhan keji yang begitu menyakiti hati Ayah dan ibu. Ibumu jatuh sakit, Nak. Tapi sekarang kondisinya sudah membaik....


...Oiya, Nak. Beberapa waktu lalu ada orang dari kota yang bertamu ke rumah kita. Mereka seperti polisi yang menyelidiki Ayah dan ibu. Lantas, Ayah tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Intinya mereka adalah anak buah dari Dirut HGC yang memperkosa kamu itu....


...Ia ... bagaimana? Apa gara-gara dia kamu hamil? Nak, Ayah dan ibu berharap jika perbuatan bejad dia tidak membuatmu hamil. Nak, Ayah sengaja mengutus paman untuk menjemput kamu....


...Kamu pulang ya, Nak. Tolong hentikan saja cita-cita kamu itu. Jika pada akhirnya hanya menimbulkan fitnah dan prasangka buruk, lebih baik sudahi saja. Mari kembali ke kampung halaman kita, dan menikahlah....


...Bapak sudah menyiapkan calon untuk kamu. Dia teman masa kecil kamu, Nak. Katanya ... dia akan menerima kamu apa adanya. Namanya Hikam Masyhur, kamu masih ingat kan?...


...Jangan sampai kamu berurusan lagi dengan Dirut HGC. Anggap saja hari itu kami naas. Melihat anak buahnya saja, kampung kita sudah ketakutan. Anak buah Dirut HGC itu aneh-aneh, Nak....


...Mereka berkomunikasi dengan temannya memakai bahas asing. Lalu, kata tetangga kita yang mengerti sedikit bahasa itu, mereka berbicara tentang retas-meretas, jaringan internasional, interpol, dan bicara tentang pembunuhan juga....


...Orang yang mengambil kesucian kamu itu sangat berbahaya, Nak. Tapi ... kenapa kamu malah menerima tawaran jadi bintang iklan di perusahaannya? Kamu mengecewakan Ayah dan ibu....


...Bapak dan ibu akan memaafkan kamu kalau kamu pulang dan mau menikah dengan Hikam. Anaknya baik. Ayah dan ibu juga sudah berbicara dengan kedua orang tuanya....


...Oiya, untuk masalah Angga, pacar kamu itu, sejak orangtuanya menghina Ayah, Ayah mendadak kurang suka. Jadi, Ayah menyarankan agar kamu segera memutuskan hubungan dengan dia. Pulanglah, Nak. Ayah, ibu, Yolla dan Yolli sangat merindukan kamu....


......Wassalamu'alaikuum.......


.


.


.


Linda kembali menangis, hatinya teriris, benar-benar lara, bingung tiada terbendung, duka tiada terkira.


Tadinya, ia ingin pulang sambil mengantar jenazah pamannya.


Tapi, ia tidak ingin menikah dengan Hikam. Ya, ia tahu Hikam baik.


Tapi menurut Linda, ia sungguh tidak layak untuk Hikam. Bagaimana mungkin pria sebaik dan sepolos hikam menikah dengan wanita sehina dirinya?


Wanita yang tidak suci, dan mungkin bisa dikataka tidak waras karena telah jatuh cinta pada pemerkosanya.


Wanita nakal yang dengan senang hati berani membuka baju pria, memberikan tanda cinta di dadanya, dan berani menyerahkan beberapa bagian tubuhnya untuk pria yang bukan suaminya.


Padahal, agamanya JELAS melarangnya.


Ya, Linda tahu jika ia dan Agam sering terlibat zina allaman. Yaitu zina yang dilakukan dengan menggunakan panca indera.


Zina mata, ketika mata Linda sering terpesona saat memandang Agam. Ada perasaan senang di hatinya.


Zina hati, ketika Linda memikirkan dan mengkhayalkan Agam dengan perasaan senang dan bahagia.


Zina ucapan, yaitu ... ketika Linda merasa senang saat berbicara dengan Agam, atau membicarakan tentang Agan.


Zina tangan dan anggota tubuh. Ya, dengan sengaja dan tanpa paksaan, Linda telah memegang bagian tubuh Agam diikuti dengan perasaan senang dan bahagia. Bahkan telah menikmatinya. Bagian tubuh yang dimaksud adalah wajah dan sekitarnya, leher, dada, dan perut Agam. Stop, hanya itu.


Kemesumanya bersama Agam di kamar kantor dan di dalam mobil, adalah bukti jika ia memang bukan wanita yang 'Baik.'


"Mama harus bagaimana sayang?" Ia bertanya pada perutnya.


"Pulang saja dan menikah?"


"Atau ... tetap di sini dan berjuang bersama kamu?"


❤❤ Bersambung ....