
Alhamdulillah.
"Kenyangnya, aku baru sekali mengamen, tapi ini uang sisannya masih 265700. Tadi, berapa ya aku kasih untuk pak kernet? Baru kali ini makan hanya 24 ribu, itu juga sudah dengan es jeruk," gumamnya.
Ia menghitung sisa uang hasil mengamen di kamar mandi. Tidak seperti pengamen biasanya, tadi Linda mendapatkan banyak uang lembaran. Nominal paling kecil 5000. Sebuah pencapaian luar biasa untuk sekelas pengamen perdana. Tapi, kualitas vokal Linda memang syarat nilai jual.
"Supaya irit, aku ke rumah sakitnya naik bus saja ah," gumamnya lagi.
"Hmm, sebenarnya aku bisa membuat ATM baru, tapi untuk membuat ATM baru perlu kartu identitas dan surat kehilangan. Terus saat membuat surat kehilanganpun harus ada kartu identitas."
"Sedangkan kartu identitasku ada di tas itu. Dasar, Yohan brengsek." Linda suka sekali berbicara sendiri. Apa tidak takut ada yang menguping?
Kembali ia yang malang melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit pusat sektor angkatan darat.
Di dalam bus, Linda berpikir untuk kembali mengamen, tapi ... ia melihat di sana sudah ada pengamen lain yang kondisinya terlihat memprihatinkan.
Pengamen itu berusia belasan tahun, perempuan. Dia mengamen bersama bocah laki-laki yang diperkirakan masih berusia balita. Bocah ingusan yang pada kenyataannyapun ingusnya memang tampak mengintip dari kedua lubang hidungnya.
Ingus yang dibiarkannya naik-turun. Naik saat dia menghidu, lalu turun dan mengintip lagi beberapa detik kemudian, lalu dihidu lagi. Begitulah seterusnya.
Linda menatap bocah ingusan yang kebetulan dekat dengannya itu dengan perasaan ketar-ketir, dan geregetan.
Kenapa sih itu ingus tidak dikeluarkan saja? Apa ini termasuk cara untuk menarik perhatian? Batinnya.
Lalu Linda memejamkan mata niatnya untuk menikmati anak yang lebih besar bernyanyi dan untuk melindungi tatapannya dari ingus berwarna hijau kekuningan yang terlihat sangat mencolok. Ingus itu, seolah ingin menjadi pusat perhatian.
Ya ampun, itu ingus. Serius, aku ingin membuangnya. Tadi hampir mencapai bibir si Adenya. Untungnya dia tidak lupa menghidu lagi. Batin Linda masih terpusat pada ingus.
Dan anak itu mulai bernyanyi. Musik pengiringnya menggunakan botol kosong yang di dalamnya sudah terisi oleh uang koin.
Setidaknya, nasibku jauh lebih beruntung dari anak-anak ini. Wah, aku jadi terinspirasi membuat botol plastik seperti itu juga.
Suara anak itu, ya ....
Ya ampun. Lumayan, lumayan bisa membuat yang tidur jadi terbangun. Sebab lebih cocok dikatakan berteriak-teriak daripada bernyanyi.
Linda tersenyum di balik maskernya saat melirik penumpang di sampingnya menutup telinga sambil meringis-ringis. Akhirnya berakhir juga suara teriakan itu. Penumpang di samping Linda bernapas lega.
Dan tangan kecil mungil itu kini mengulurkan sebuah kantung plastik pada Linda. Di dalamnya tampak uang receh dan kertas pecahan 2000. Tanpa pikir panjang Linda mengambil lima lembar uang 20ribuan miliknya untuk diberikan pada bocah itu.
"Kakak akan berikan uang 100 ribu ini, tapi tolong beli tissue dan buang ingusnya, oke?" serunya.
"Baik."
Yang berusia belasan tahun langsung menyahut, bahkan merebut uang dari tangan Linda sebelum Linda memasukkannya ke kantung plastik. Si bocah balita ingusan hanya melongo.
"Ayo turun-turun," kata anak yang belasan tahun sambil menarik baju si bocah ingusan.
Linda menghela napas, pemandangan barusan adalah salah satu bukti jika keadilan sosial belum merata di negeri ini. Miris.
Linda terus menatap anak-anak itu di balik spion bus. Ia kaget saat melihat seorang pria dewasa merebut hasil mengamen anak itu. Lalu menunjuk-tunjuk anak itu seperti sedang memarahinya.
Sementara si bocah ingusan terlihat melindungi kepalanya dengan kedua tangan dan menangis. Lalu si anak yang belasan tahun memeluknya. Mereka terus berpelukan . Mereka semakin menjauh. Dan dari kejauhan itu, Linda melihat pundak mereka bergerak-gerak. Artinya keduanya sedang menangis.
Tes, air mata Linda jatuh spontan saat ia sudah tidak bisa melihat mereka lagi. Mungkin, kerumitan hidupnya jauh lebih baik daripada mereka. Di jalanan ini, Linda melakukan intropeksi diri, semakin bersyukur dan semakin berserah kepada-Nya.
Ia mengusap perutnya yang mulai membesar. Tepat hari ini hitungannya adalah 20 minggu, atau lima bulan.
"Sayang ...." Lirihnya.
Lalu teringatlah pada si biang kerok yang menyebabkan perutnya membesar. Bukannya kesal, Linda malah merindukannya. Jadi teringat lagi saat Agam mengecupi dan mengelus perutnya.
"Hmm."
Ia memejamkan mata untuk menguapkan kenangan itu. Namun semakin ia mencoba melupakan Agam, semua pesona dari pria itu, semakin menyesaki ruang hatinya.
***
Rumah Sakit Pusat Sektor Angkatan Darat
"Pakai maskernya, Pak." Pak Yudha memperingatkan Agam yang turun dari mobil dengan tergesa.
"Oiya, hampir saja lupa." Ia meraih masker mahal yang disodorkan Pak Yudha.
"Saya perlu turun atau tidak?"
"Tidak perlu Pak, Bapak di sini saja. Oiya tolong pantau lokasi sekitar, takutnya calon istri saya belum ada di dalam," tegasnya seraya becermin pada sepion.
"Pak Agam serius rupanya mau menikahi LB, hehehe," goda Pak Yudha.
"Seriuslah, Pak. Diakan ibu dari anak-anak saya," pungkasnya. Selanjutnya bergegas dengan langkah panjang menuju lobi rumah sakit.
Karena ini rumah sakit militer, maka setiap tamu yang datang harus mengisi buku tamu. Saat Agam masuk, iapun langsung diarahkan untuk mengisinya. Agam pura-pura menulis lambat, padahal matanya sedang beredar membaca seluruh nama tamu.
Ia bahkan membukanya dari lembar pertama. Beruntung yang menunggu buku tamu adalah seorang gadis. Agam mengedipkan mata pada gadis itu sebelum menulis. Alhasil penjaga buku tamu tersebut terbengong-bengong bak terhipnotis, ditambah wangi Agam yang menguar.
Oh, siapakah tamu yang wangi dan tampan ini? Penjaga buku tamu baru sadar saat Agam pergi. Ia mengecek, siapa dia?
Tertulis di Buku tamu, nama: 'Buana.' Alamat: 'Kota Pusat.'
.
.
.
.
Berarti Linda belum tiba, di buku tamu belum ada namanya. Agam merenung di dalam lift.
Lalu ia memutuskan untuk menunggu di bagian informasi yang aksesnya berada di bagian depan ruangan pusat layanan klien. Semua klien atau keluarga pasien pasti akan melewati jalur ini sebelum masuk ke ruangan lain.
Agam yakin jika Lindapun pasti melewati ruangan ini. Ia menatap satu persatu tamu yang masuk. Terkejut saat melihat seseorang, dia paling cantik dari semua dokter yang saat ini tengah berjalan beriringan di depannya.
Sial, Mia bekerja di sini? umpatnya dalam hati.
Agam menunduk agar Mia tidak menyadari keberadaannya. Karena berdasarkan pengalaman Agam, Mia tetap mengenalinya walaupun ia memakai masker.
Sekedar mengingatkan. Mia adalah putri bungsu pak Barata, mantan anggota militer yang pernah menjodohkan Mia pada Agam. Mia juga direkomendasikan oleh dokter Cepy untuk Agam.
Namun Agam jelas menolak, karena hati, jiwa, dan raganya telah kecanduan dan terikat oleh seorang presenter cantik nan seksi, Linda Berliana.
Mia tampak tersenyum dan mengedarkan pandangan pada semua klien yang saat ini tengah duduk di depan ruang informasi.
Agam berpikir cepat. Ia terus menunduk seolah tengah merapikan tali sepatu. Agam baru duduk tegak setelah rombongan dokter itu menjauh dari area ruang informasi.
JEDUG, baru saja hatinya tenang karena bisa terbebas dari Mia yang sampai saat ini masih mengiriminya pesan penuh harap, kini jantung Agam dibuat terlonjak saat matanya melihat sesosok bintang masuk ke ruangan itu.
Ya, bintang itu adalah wanita yang ia cari, Linda Berliana. Walau memakai masker, ia tahu jika itu Linda. Sebagai orang yang pernah melihat Linda tanpa sehelai benang, pastinya ia bisa mengenali Linda dengan sangat baik.
Linda memakai rok panjang berwarna pastel, dan t-shirt yang dilengkapi dengan auter panjang bunga-bunga, auter itu warnanya senada dengan topinya. Hati Agam seolah tersayat-sayat manakala melihat Linda membawa tas besar dan sebuah sandal karet yang sungguh-sungguh kurang pantas dipakai di kakinya yang indah itu.
Sepertikah inikah jalan hidup yang kamu inginkan? Dasar keras kepala. Batin Agam.
Matanya tetap fokus pada Linda yang saat ini tengah berjalan menuju ruangan pusat layanan klien.
"Koran-koran," pedagang koran kebetulan masuk, walaupun jarang ada yang membeli tapi pria paruh baya itu tetap semangat menawarkan koran.
"Pak ..." Agam melambaikan tangan. Pedagang mendekat.
Secepatnya Agam mengambilnya satu, lalu memberikan uang 100 ribu.
"Uang kecil saja, ada?"
Agam menggeleng.
"Tidak perlu dikembalian, untuk Bapak saja," katanya dengan suara perlahan.
Bapak itu terlihat bahagia. Tuh, kan? Kalau saja tadi ia tidak ke area ini, karena sempat merasa malas, niscaya tidak akan mendapat rezeki sebanyak ini.
"Aamiin," sahut Agam saat ia beranjak menutupi kepalanya dengan koran, dan menguntitti pencuri hatinya.
Jarak Linda dan Agam hanya terhalang oleh satu orang ibu-ibu. Ah, rasanya ingin segera memeluk wanita itu, tapi untuk saat ini tidak mungkin kan?
"Harap antri, silahkan mengambil nomor antrian," seru petugas.
Linda mengambil nomor antrian, pun dengan Agam, Agam nomor 43. Artinya, Linda nomor 41. Agam melihat Linda menghelas napas, mungkin kaget dapat nomor antrian sejumlah itu.
Agam, Linda, dan klien lainnya diarahkan untuk menunggu di depan ruangan pusat layanan. Agam kembali terkejut karena Mia ternyata bekerja di pusat layanan juga. Mungkin karena dia dokter baru, jadi dapat jadwal di bagian itu juga.
Mia duduk di kursi pusat layanan loket 2. Ada empat loket di rungan itu. Linda tampak berdiri mematung untuk mencari kursi kosong.
Dan di paling belakang ada kursi kosong. Linda ke sana. Agam mengikuti. Saat ini, Linda duduk di kursi yang berada di hadapan Agam. Agam bahkan bisa menatap pundak mulusnya.
Kamu tidak akan bisa lari lagi dariku Linda. Sambil menyandarkan dagu pada kursi yang diduduki Linda. Tersenyum Agam, karena dari jarak ini, ia bahkan bisa mencium aroma tubuh Linda.
Jodoh tak kan kemana? Batin Agam.
Matanya fokus pada pundak indah, yang dihiasi rambut-rambut halus.
Aku bahkan bisa melihat bulu romamu, seksi. Batin Agam. Ya ampun, Pak Dirut sampai sebegitunya.
"Nomor antrian dua puluh sembilan di loket satu."
Terdengar suara dari interkom pusat layanan klien.
"Aduh, masih nomor dua puluh sembilan lagi, mana aku lapar, padahal tadi sudah makan nasinya dua porsi," gumam Linda.
Dan gumaman Linda jelas terdengar oleh Agam. Agam jadi tersenyum mendengar Linda makan nasi dua porsi.
"Bu boleh titip tas saya, hanya ada baju tidak ada barang berharganya. Aku mau beli jajanan dulu," kata Linda pada ibu-ibu di sebelahnya.
"Ih, tidak mau Nak, Kalau ada yang hilang bagaimana? Nanti Naknya menyalahkan Ibu lagi, kan baju juga bisa dijual." Ibu-ibu itu menolak.
"Kalau hilang juga tidak apa-apa Bu, aku tidak akan menyalahkan Ibu. Aku sedang hamil, bawa-bawa tas ini berat," keluh Linda.
Pria di belakang Linda alias Agam Ben Buana, terkikik.
Kamu kan yang mau hidup seperti ini? Itu risikomu sayang, batin Agam.
"Ya sudah deh, ibu tunggu. Tapi jangan salahkan Ibu kalau hilang, Ibu antrian tiga puluh enam, kamu jangan lama-lama jajannya. Eh, Nak tunggu." Ibu itu memegang tangan Linda saat Linda berdiri.
"Kenapa, Bu?"
"Kok badan kamu seperti artis sih? Kamu hamil? Kok tidak seperti hamil? Badan kamu juga bagus seperti model, coba buka maskernya, kamu pasti cantik."
Siapa dulu dong, Bu. Calon istriku. Batin Pak Dirut.
"Terima kasih, Bu. Tapi akunya lagi flu," tolaknya.
"Ya sudah sana."
Ibu itu terus menatap Linda. Agam mengikuti Linda dari jarak sekitar tiga meter, ia bersembunyi di balik tiang saat Linda menoleh ke belakang.
"Kok, seperti ada yang mengikutiku?" gumamnya.
.
.
.
Tibalah Linda di kantin rumah sakit tersebut.
"Uangku sisanya 155700 lagi, aduh bagaimana ini? Jajannya 5000 saja kali ya ...." Lagi-lagi bergumam.
Miskin ya Nona, batin Agam. Ia berada tepat di belakang Linda. Masih bersembunyi di balik koran.
Dan saat Linda memakan sesuatu entah apa namanya Agam tidak tahu, Agam menjauh dari Linda untuk menelepon Pak Yudha, namun masih tetap bisa mamantau Linda.
"Pak Yudha pulang duluan ya, naik mobil online saja, saya mau bermain-main."
"Apa?!" teriak Pak Yudha.
"Kunci mobilnya titip di bapak parkir," lanjut Agam. Lalu mengakhiri panggilan tanpa menunggu komentar dari Pak Yudha.
Lalu kembali menatap yang sedang memakan sesuatu.
Makanan apa itu? Seperti bakso, tapi ditusuk pakai lidi. Disajikan seperti satai, apa itu ya? Apa bakso tusuk? Tapi kok murah sekali? Lima ribu dapat tiga tusuk.
Batin Agam sedang memikirkan apa yang dimakan Linda.
Sesultan apasih Pak Dirut ini? Yang dimakan Linda itu jelas-jelas cilok, alias aci dicolok. Kok dia sampai tidak tahu sih?
Apa aku harus membelinya juga? Kok jadi nafsu melihatnya. Kelihatan cantik dan menggemaskan. Aku jadi tertarik.
Yakin, Agam bukan tertarik pada ciloknya tapi ... pada yang memakan ciloknya. Linda makan sambil terus menunduk, ternyata lima ribu cilok masih kurang, ia masih mau, tapi ... uangnya minimalis.
"Beli," kata Agam pada pedagang cilok.
"Eh tunggu, punggung itu, kok mirip punggung dia sih? Ya ampun, aku sudah mulai gila," gumam Linda.
Padahal benar Bu Linda, itu punggung pria yang kamu cintai. Linda kembali memakai maskernya, lalu kini mendekat ke depan, hampir bersebelahan dengan pria yang ia kira sebagai Agam. Padahal ya, dia memang Agam. Bahkan bahu mereka hampir berdekatan.
Deg, Agam jelas berdegup, langsung menghalangi wajahnya dengan koran.
Lah kok? Linda juga kaget. Parfum pria ini mirip sekali dengan dia.
"Saya tidak jadi beli bakso," Agam menjauh.
"Bakso? Ini bukan bakso." Penjual cilok bingung.
Ya ampun, suaranyapun mirip, fix aku sudah tergila-gila. Batin Linda.
Hampiiir saja. Agam mengelus dada.
.
.
.
Linda terkejut, tempat duduknya sudah ada yang menempati. Dan tasnya entah kemana.
"Kursiku, tasku?" pekiknya.
Agam pun kaget, ia juga mengawasi. Benar saja, tas Linda tidak ada, dan ibu yang tadi diminta tolong oleh Linda, terlihat sudah mengantri di pintu masuk ruang pusat layanan.
"Ya ampun." Linda bersandar pada tiang.
"Sialan, parfumnya dia bahkan terasa di sekitar sini, sayang ... Mama tergila-gila sama calon papa kamu." Lagi-lagi bergumam.
Dan pria yang ada di sisi lain tiang itu terkikik lagi.
Sepertinya aktivitas Pak Dirut pada hari ini akan mengasyikkan.
.
.
.
"Nomor antrian tiga puluh sembilan di loket empat."
❤❤ Bersambung ....