AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Jeraus



"Pak Agam, Pak Agam," Fanny terus memanggil. Saat ini ditambah dengan menggedor pintu juga.


"Apa saya perlu memanggil scurity?" tanya Fanny.


"Tidak perlu, kamu pergi saja dari ruangan ini," sahut Agam.


Jawaban Agam benar-benar membuat Fanny kebingungan tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Agam bagi Fanny adalah orang yang paling ia segani.


Dulu, saat vidio asusilanya diketahui oleh direktur utama sebelum Agam, Agam pernah mengajukan permintaan agar ia dikeluarkan dari HGC. Namun Fanny mujur, karena direktur utama sebelum Agam yaitu Tuan Muda Deanka, memaafkan skandal tersebut dengan alasan Fanny adalah tulang punggung keluarga.


"Fanny, Fanny," sambil mengusap air mata Linda, Agam memanggil Fanny untuk memastikan jika wanita itu telah pergi dari ruangannya. Dan tenyata tidak ada sahutan.


"Kenapa menangis? Maaf, saya peluk kamu karena tidak mau anak saya kedinginan, jangan salah faham."


Ia lalu membuka pintu, membopong kembali tubuh Linda dan membawanya ke sebuah kamar. Lalu Linda didudukkan di sisi tempat tidur.


"Terima kasih," ucap Linda.


"Maaf, tadi saya sempat berpikir jika Anda cemburu pada sekretaris saya. Tapi, saya rasa asumsi saya salah. Saya baru sadar kalau saya bukan pria bernama Angga," kata Agam sambil tersenyum.


Ucapan Agam membuat Linda tertunduk, ia ingin mengatakan jika ia sebenarnya memang cemburu pada sekretaris seksi itu, tapi ia tak memiliki keberanian untuk mengatakannya.


Agam hanya menghela napas melihat Linda tertunduk, ia lalu berjongkok guna melumuri jemari kaki dan telapak kakinya dengan minyak hangat.


"Pak, ti-tidak per--."


"Sssttt," sela Agam.


Ia menahan kaki Linda. Sejenak Agam menatap kaki indah itu sambil tersenyum, lalu geleng-geleng kepala tatkala ia mengingat lagi apa yang telah ia perbuat pada kaki indah ini di hari itu.


Selalu begini, otakku dipenuhi dia, gerutu Agam dalam batinnya.


"Kalau Anda masih merasa belum baikan, syutingnya kita undur, kamu istirahat saja di kamar ini, mau?" tanya Agam. Ia sudah selesai mengusapkan minyak hangat.


Kini, Agam sedang membuka nakas dan mengambil baju ganti untuknya. Tampak kemeja, jas dan dasi berjejer di sana layaknya etalase sebuah toko. Ada juga puluhan sabuk di sisi yang lain, yang didominasi oleh warna coklat, hitam, abu-abu dan biru dongker.


Melihat barisan ikat pinggang, Linda jadi teringat akan sesuatu.


"Pak," kata Linda.


"Ya," Agam yang tengah mengancingkan kemejanya menjawab dan menoleh.


Linda memalingkan wajah, baru sadar jika sedari tadi, tubuh milik Agam ternyata telah terpampang nyata dan kali ini membuat jantungnya berdegup dan merasa malu.


"Sa-saya tidak apa-apa, saya baik-baik saja, syutingnya tidak perlu diundur. Ini kesempatan sebelum perut saya semakin membesar," terangnya dan masih memalingkan wajah. Jujur, ia tak sanggup lagi melihat dada dan otot Agam yang sempurna itu.


Ya, tubuh Agam memang laksana sebuah mahakarya yang dibentuk sesempurna mungkin, begitu detail, pas dan aduduh. Jika perempuan adalah aduhai, maka laki-laki adalah aduduh.


"Kamu yakin?" ucap Agam seraya mendekat ke arah Linda, untungnya pria ini sudah mengancingkan seluruh kancing kemejanya.


"Seyakin-yakinnya." Linda berdiri, berjalan menuju nakas dan memperhatikan para sabuk yang diletakkan menggulung seperti ular.


"Kenapa? Anda suka sabuk?" tanya Agam, dan iapun mendekati Linda.


"Tidak begitu suka, biasa saja. Oiya, apa semua sabuk terpasang kamera nano mikro?"


"Tidak semua, ada beberapa. Sabuk yang ada kameranya sudah saya tandai."


"Hmm, berarti ada kemungkinan Anda berbohong tentang vidio itu," terang Linda.


"Vidio? Oh, yang itu? Saya serius Bu, pada saat preskon itu saya memang memakai yang ada kameranya karena menurut saya acara preskon lumayan penting." Kini Agam sedang memakai dasi.


"Apa Anda pernah melihatnya?" tanya Linda dengan suara gemetar. Entah karena malu atau marah, ekspresi wanita cantik itu tidak terbaca.


"Jujur saya belum pernah melihatnya, saya malu dan belum berani menonton tubuh saya sendiri. Hahaha," gelaknya sambil becermin guna merapikan jas tanpa lengan berwarna navy yang dipakai setelah kemeja.


"Saya belum yakin dengan vidio itu," kata Linda.


"Apa? Belum yakin? Apa Anda berpikir saya hanya membual? Perlukah kita buka vidionya?" Agam menatap Linda. Kini ia sedang memakai jas kedua yang berlengan panjang, lalu mengancingkan manik jas di bagian paling bawah.


Sempurna, Pak Direktur Utama itu sudah siap bertugas. Gagah, tampan dan berwibawa. Linda melihatnya dari pantulan cermin.


"Bo-boleh, untuk membuktikan kejujuran Anda saya memang perlu melihatnya. Berikan sabuk itu pada saya. Saya mau mengeceknya selagi menunggu Bapak menandatangani berkas-berkas itu." Linda mengulurkan tangan.


"Hmm, Bu Linda. Saya tidak mungkin memberikannya tanpa pendampingan."


"Kenapa?"


"Saya khawatir Anda malah menghapusnya. Saya tidak bodoh Bu." Agam sepertinya sudah siap meninggalkan kamar.


"Sudah saya duga Anda mungkin hanya menakut-nakuti," kata Linda sambil berjalan ke arah balkon, membuka tirai, lalu menatap langit yang begitu cerah. Terlihat puluhan burung walet terbang bergerombol, mengepak sayap menjelajah udara menikmati kebebasan mereka.


"Maksud saya, sarang burung walet." Ia berdiri di samping Linda. Lalu menekan tombol di sisi jendela kaca yang membatasi balkon.


Srek, tombol itu ternyata berfungsi untuk menurunkan kaca. Agam lalu meletakkan sikut pada bingkai jendela itu, dan Lindapun melakukan hal yang sama.


Kini, mereka berdua tampak merahap di jendela, sama-sama menatap indahnya view pusat kota dari ketinggian lantai 88. Angin yang berhembus kencang memainkan rambut keduanya. Rambut Linda yang mulai memanjang tengah melambai menyentuh bahu Agam dan menguarkan wangi yang menggoda.


"Punya beberapa sarang?" tanya Linda.


"Sa-sarang apa?" Agam malah bertanya.


"Ya sarang burung walet lah Pak. Tadi Bapak membahas sarang burung, kan?" nada Linda seperti kesal.


"Oh, hahaha. Punya banyak, ada puluhan. Saya bahkan membangun beberapa gedung kosong di sebuah desa khusus untuk sarang mereka."


"Wah, Anda hebat. Bisnis sarang burung walet memang menggiurkan. Tapi, kata orang-orang yang sulit itu memancing burungnya. Konon, burung walet akan bermusyawarah terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka memutuskan akan membuat sarang di rumah milik siapa."


"Hmm, kamu percaya dengam fabel?" tanya Agam.


"Saya juga katanya," jawab Linda seraya merasakan pewangi beraroma mewah yang berasal dari baju Agam. Sepertinya baju-baju pria ini dicuci di laundry ekslusif karena Linda baru mencium pengharum pakaian yang wanginya seperti ini.


Hmmm, rasanya ingin memeluknya berlama-lama sambil mengendus dadanya. Linda mengulum senyum mentertawai angan-agannya.


"Saya lebih percaya jika burung-burung itu digiring oleh malaikat pemberi rizki atas izin Sang Maha Pemurah untuk membuat sarang di bangunan milik saya. Selain itu, jadi peternak walet juga ada caranya. Ada trik-triknya. Sebenarnya bisnis sarang burung walet itu milik ibu saya."


"Ibu saya yang mempersiapkan semua hal saat akan membuat bangunan baru. Harga sarang burung walet bisa mencapai belasan juta per kilogram. Harga sarang walet jenis mangkok bisa dijual 13 juta per kilogram. Kalau harga yang jenis sudut kisarannya 9 juta an per kilogram. Ada juga sarang burung walet jenis patahan, harganya ya sekitar 8 juta an per kilogram," terang Agam.


"Sangat menjanjikan, apa ada bisnis lain?" tanya Linda.


"Emm, selain bisnis sarang burung, saya juga binis su-susu." Agam selalu gelapan saat menyebut kata susu. Kenapa ya? Entahlah.


"Sapi perah?" tanya Linda, sambil melirik.


"Bukan sapi perah, tapi kambing perah. Saya dan tuan Deanka membuka bisnis su-susu kambing etawa."


"Wah, bisnis yang manis," kata Linda.


"Manis?" Alis Agam terangkat.


"Iya su-susu kan manis." Linda tertular gelapan juga saat mengatakan susu.


Kenapa ya? Entahlah. Hanya Agam dan Linda yang tahu. Kemungkinan mereka sama-sama pernah mengalami trauma dengan verba itu. Maybe, that is a ambiguous word trauma.


"Oiya, saya tidak ingin Anda menuduh saya hanya mengancam atau berpretensi tentang vidio itu. Masih ada banyak waktu. Mari kita lihat vidio itu sama-sama."


"A-apa?! Ti-tidak mau Pak." Linda terkejut dan segera menyusul Agam. Agam mengambil laptop.


"Kenapa tidak mau? Saya hanya ingin membuktikan kalau saya tidak bersandiwara. Tenang saja, mungkin hasil vidionya tidak terlalu bagus. Jujur, saya juga belum pernah mengeceknya. Selama ini data-data vidionya hanya disimpan saja.


"Ada sih yang sudah diserahkan pada polisi. Saat penyerangan di komplek elit Haiden saya menggunakan sabuk kamera nano mikro juga."


"Pak ... sa-saya saja yang mengeceknya." Wajah Linda merah padam. Semakin gugup saat Agam memasangkan kabel data dan mengambil sesuatu dari salah satu ikat pinggangnya.


"Te-tenang, kita skip yang itu, kita lihat saat perskon dan bagian akhir saja." Jujur, Agam gugup. Tangannya bahkan sedikit tremor.


Linda di balik punggung Agam beberapa kali mengerjapkan mata. Sudah mempersiapkan telapak tangan untuk menutup matanya.


Gila, kualitas vidionya bagus. Agam kaget.


Layar memperlihatkan para awak media peserta preskon. Agam mepercepatnya. Lalu memperlihatkan area parkiran HGC.


"Nah, ini saat saya mau mengejar Anda."


Linda diam saja. Dipercepat lagi. Sekarang tampak jelas parkiran apartemen Green Seroja.


"Cukup Pak, cu-cukup. Saya percaya," ucap Linda, di saat tangan Agam telah terlebih dahulu menekan faster dan play.


Dan tampilan di layar memperlihatkan kamar Linda beserta adegan itu. Sabuk itu sepertinya terletak di tempat yang sangat tepat. Kemungkinan tergantung di hanger yang menempel di dinding.


Tidaak, keduanya sama-sama terkejut. Wajah Agam dan Linda memerah, gugup level primer. Keringat Agam bahkan langsung merembes begitu saja. Karena panik Agam langsung menutup layar.


"Suka ... hahh? Kamu menikmatinya?! Dasar munafik!" Suara laki-laki.


"Stop it ... please .... Ahhh ..., emhh .... A--" Sepertinya suara wanita.


Terdengar tuturan bergelora, antusias nan jeraus sebelum laptop itu benar-benar tertutup dan mati.


❤❤ Bersambung ....