
'BRUK.'
Sepertinya mobil Gama tertimpa dahan patah yang sebelumnya terlewati mobil saat meluncur. Sontak mengagetkan yang saling bertatapan.
"Ki-kita harus segera minta bantuan, Val," kata Freissya. Ia sibuk menggerakan badan perlahan agar bisa bangun dan menjauh dari tubuh Gama.
"Ice, jangan banyak bergerak, kamu menyiksaku, Ice. Ya ampuuun," Gama mengatur napas. Ice yang jatuh menindihnya membuat Gama benar-benar tidak nyaman.
"Kamu kenapa sih? Tolong, tolong, tolooong."
Freissya meronta, menggeser-geserkan badan ke arah atas agar ia bisa mencapai kaca mobil dan meminta bantuan. Berharap ada yang mendengar atau menyadari keberadaan mereka.
"I-Ice kubilang jangan bergerak, kenapa kamu malah seperti ini? Hmm .... Huuhh ...." Keluh Gama.
"Val, kamu gila ya! Kalau mobil ini berputar lagi dan masuk ke danau bagaimana? Aku tidak mau mati muda, masih banyak dosa," teriak Freissnya.
"Ya ampun Ice, kamu tidak faham? Apa kamu tidak sadar sedang menduduki apa? Dan kamu bergerak-gerak. Oh, damn," Gama kembali mengatur napas.
"Apa?!"
Ting, Freissya tersadar. Seketika menelan kasar salivanya.
"Ya, kan? Apa kubilang? Dalam hal ini aku tidak salah. Kamulah yang membuatku dewasa sebelum waktunya," kilah Gama. Ia berusaha tenang, tapi tidak bisa. Daun telinganya merah. Menjadi bukti jika Gama sebenarnya sangat malu.
"Ma-maaf, ya sudah, kamu cepat cari cara agar kita bisa keluar dari sini. Maaf kalau aku mangganggumu. Posisinya sulit, aku tidak bisa bergeser," terang Freissya.
Kembali sadar jika ia dua bulan lebih tua. Ceritanya sedang berusaha menjadi sedikit dewasa, padahal Freissya sangat ketakutan. Serius, yang ia duduki kian tumbuh dengan pesatnya.
Bagaimana ini? Berpikir-berpikir.
Freissya mencari cara, tapi yang bisa ia lakukan hanya cara sebelumnya, berteriak. Dan kali ini sambil memukul kaca mobil.
"To-tolooong, tolooong," lagi Freissya meronta, dan bergerak.
Gamapun tidak mau kalah, iapun meminta tolong.
"Tolong, toloong, tolooong kuatkan imanku Ya Tuhan!" teriaknya.
Syukurlah, di seberang jalan ada sekelompok anak yang sepertinya baru pulang sekolah. Sebentar lagi mereka akan melewati jalur yang dilintasi Gama. Semoga keberadaan mobil sport yang terbalik itu ada yang menyadari.
"A-apa tidak ada pemecah kaca di mobil semewah ini?" tanya Freissya.
Suaranya gemetar. Ia mencuri pandang pada Gama yang sedang memalingkan wajah dan menutup mulutnya sendiri.
"A-ada Ice, ada di belakang kursimu," terangnya.
"A-apa? Ke-kenapa tidak bilang dari tadi?" Freissya kesal.
"Kamu tidak bertanya, jadi aku lupa."
"Ya sudah, aku mau coba ambil dan memecahkan kacanya."
"Ice, tunggu. Gama menahan gerakan tubuh Freissya.
"Kenapa, Val?"
"Ice, kalau kamu berbalik arah ke sana, aku semakin bahaya Ice, mobilnya sempit, kamu pasti kesulitan, faham maksudku, kan?"
"Kalau belum dicoba bagaimana aku tahu," Freissya bersikeras. Lebih baik mengambil risiko pikirnya daripada terus terjebak seperti ini.
"HHH, FREIS---SYA, kamu ...." Gama membeliak ketika Freissya bergerak lagi dan berusaha berbalik arah.
"Tutup matamu, Val! Cepat!" teriak Freissya.
"I-iya, iya," Gama segera memejamkan mata, ia sadar Freissya memakai rok.
Gama bahkan menutup mata dengan tangannya kuat-kuat untuk mencegahnya dari kekhilafan dan niat buruk, seperti mengintip, meraba, memegang, dan lain sebagainya. Keimanannya benar-benar diuji.
Bagaimana tidak, saat ini Freissya sedang memutarkan panggul dipangkuannya agar bisa berbalik dan meraih emergency hammer.
"Pelan-pelan Ice," keluh Gama. Bagi Gama ini menegangkan sekaligus mengasyikan. Entahlah dari sudut pandang Freissya seperti apa.
"Diam!" bentak Freissya.
"Sekalian ambil belt cutternya juga Ice," titahnya.
"Halooo, apa ada orang?!" teriak suara seorang anak dari luar.
Syukurlah, bantuan akan segera tiba. Freissya antusias. Kembali meronta meraih kaca seolah tidak peduli lagi dengan keberadaan Gama.
"AHM, Ice, I-Ice kendalikan tubuhmu," terpaksa Gama memeluk pinggang Freissya agar tidak bergerak lagi.
"Apa yang kamu lakukan?! Lepas! Tolooong!"
"Maaf, dan please ... Ice. Aku pria normal dan sehat. Kalau kamu terus seperti tadi, aku bisa ---."
'PRAK, PRAK, PRAK.'
Ada yang berusaha memecah kaca dari luar. Sepertinya mereka sadar jika di dalam mobil itu ada kehidupan.
"Tolooong, ada yang kecelakaan," teriak salah seorang anak pada pengendara yang melintas. Sontak, pengendara yang kepo segera menepikan mobil dan jadi penonton.
Dan mereka semakin antusias saat mengetahui jika mobil yang terbalik dan tertimpa dahan pohon di tepi danau itu adalah mobil mewah yang hanya dimiliki oleh para sultan dan kaum jetset di negara ini.
Kamera ponsel langsung beraksi. Bukannya segera menolong, mereka malah asyik mengabadikan momen tersebut.
Tapi, tidak semuanya seperti itu. Seorang bapak-bapak yang juga bagian dari pengguna jalan terlihat menggunakan ponselnya untuk melakukan panggilan darurat.
Dan tidak sampai dua menit, bantuan dari satuan polisi lalu lintaspun tiba di tempat kejadian perkara.
Freissya panik saat mengintip di balik kaca. Ia tentu saja melihat kerumunan. Khawatir ada media yang nantinya memotret kebersamaannya dengan Gama.
"Tenang Ice, mereka tidak ada yang tahu kalau aku adiknya Dirut HGC. Hanya kamu yang tahu, oke?"
Freissya diam saja. Tapi ia masih bisa merasakan jika sesuatu itu masih saja teguh pendirian. Sepertinya sama sekali tidak ada tanda-tanda akan rebahan lagi.
"Maaf, karena kita terjebak dalam posisi seperti ini," lirih Gama.
"Ti-tidak apa-apa, i-ini darurat, kok." Freissya menghibur diri.
'BRAK.'
Kaca mobil bagian depan sedang berusaha dipecahkan. Spontan Gama melindungi Freissya dengan tubuhnya. Ia membalikan posisi menjadi mengurung Freissya setelah berhasil membuka sabuk pengaman.
"Maaf, aku tidak mau kamu terkena serpihan kaca," katanya.
Akhirnya proses evakuasi selesai jua, syukurlah, yang tadi terbangun sudah kembali rebahan saat Gama dan Freissya keuar melalui kaca depan mobil tersebut.
"Anda tidak apa-apa?" tanya polisi.
"Kami baik-baik saja," jawab Gama. Ia tetap menghalangi wajah Freissya.
"Baik, Anda kami amankan dulu ya, harus dipastikan dulu jika Anda tidak mengemudi dalam pengaruh minuman keras atau obat terlarang," tegas polisi.
Freissya ketakutan, semakin berlindung di balik dada Gama.
"Tenang, Ice. Kita tidak bersalah," kata Gama.
"Baiklah, mari ikut kami ke kantor, untuk mobilnya nanti akan ada yang mengurus, kami sudah memanggil petugas derek," jelas polisi.
Polisi yang lainnya sibuk membubarkan kerumunan dan mengurai kemacetan.
"Ice, besok aku akan pergi ke luar negeri bersama pamanku," jelas Gama saat mereka sudah berada di dalam mobil polisi.
"Baguslah, jadi kita tidak akan bertemu lagi," Freissya memalingkan wajah ke samping, menatap jalanan yang sore itu tampak ramai lancar.
Freissya hanya mengangguk pelan. Sebenarnya, ia sudah menolak kartu tanpa batas itu, namun Gama dan Agam mengancamnya. Agam mengatakan kartu itu sebagai ungkapan maaf karena adiknya telah mengambil kehormatannya walaupun tanpa disengaja.
Setelah diancam, Freissya akhirnya menerima kartu itu dan berniat menggunakannya untuk kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Perjalanan ke kantor polisi ternyata lumayan jauh, tidak terasa Freissya tertidur dan perlahan menyandarkan kepalanya pada bahu Gama.
"Kalian pacaran?" tanya polisi.
"Ya, Pak," jawab Gama sambil mengelus lembut pipi Freissya.
"Minta kontak keluarga Anda," kata polisi.
"Baik, ini Pak. Namanya kak Vano."
"Siapa dia?"
"Emm, kakakku, Pak."
"Oh," polisi lalu menghubungi Vano.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Asal kalian tahu ya, Agam Ben Buana sudah mengatakan yang sejujurnya padaku jika telah memperkosa LB," kata Deanka.
Forum rapat luar biasa telah berjalan sejak dua jam yang lalu. Dan saat ini kondisinya sedang menegang.
"APA?!"
Forum terkejut.
"Kapan Anda mengetahuinya, Tuan? Jangan-jangan ini hanya taktik Anda saja untuk membela Pak Agam. Mungkin saja telah terjadi kongkalikong antara Anda dan Pak Agam," protes seorang peserta forum.
Agam di kursinya diam saja, ekspresi wajahnya tidak tertebak. Kenyataannya, ia sedang memikirkan Linda.
"Aku serius, jika kalian tidak percaya, aku akan membuktikannya. Dulu, saat aku pergi ke kampung halaman istriku dan kursi Dirut HGC aku limpahkan pada Yohan Nevan Haiden, sebenarnya Agam Ben Buana tidak pergi ke luar kota, tapi dirawat di rumah sakit akibat terluka karena kejadian itu."
"Agam putus asa, menyesal dan berusaha bunuh diri, tapi gagal." Beber Deanka.
Peserta forum saling menatap.
"Maaf, saya rasa semuanya sudah jelas. Saya ingin mengundurkan diri dari HGC. Saya tidak ingin jika di masa mendatang perbuatan buruk saya akan merugikan HGC lagi, permisi."
Agam berdiri, memberi hormat, dan benar-benar meninggalkan forum.
"Pak Agam, tunggu," panggil moderator.
"Cukup, biarkan saja dia pergi, mari kita lanjutkan rapatnya untuk melakukan voting," seru Deanka. Sementara Vano dan Aulia turut pergi menyusul Agam.
.
.
.
.
"Pak Agam, Anda mau kemana sekarang?" tanya Vano.
Vano tidak mengatakan pada Agam jika beberapa jam yang lalu polisi menghubunginya dan mengatakan kalau Gama kecelakaan.
Karena polisi mengatakan Gama baik-baik saja, ia berinisiatif untuk merahasiakan masalah Gama pada Agam. Terlebih Vano tahu jika bosnya itu sedang gundah-gulana, galau dan merana.
"Saya mau ke Pulau Jauh, Van. Kamu bantu saja bu Aulia untuk membereskan ruangan saya, dan mengemasi barang-barang saya."
"Baik, Pak," sahut Aulia.
Padahal, ia sebenarnya tidak ingin pekerjaannya diganggu oleh pengacara yang menurutnya sedikit kurang waras.
"Kalau kamu malas, tidak perlu. Kamu bergabung lagi saja dengan forum," kata Agam. Iapun sibuk berkemas.
"Tidak Pak, sebelum ada keputusan final dari dewan direksi dan komisaris, Pak Agam tetaplah atasan saya," tandasnya. Kembali mencuri pandang.
Punggung tegap Agam dan pundak Agam memang indah dipandang. Hingga siapapun yang melihatnya akan berhasrat untuk memeluknya atau lebih jauh lagi mungkin berpikir jika dipeluk Agam Ben Buana pasti akan nyaman sekali.
'Peletak.'
Vano menyentil kening Aulia.
"Auuuh, Pak Vano! Anda kenapa, sih?" sentaknya.
"Sudah saya bilang ya, jangan kurang ajar, Pak Agam sudah beristri," teriak Vano.
"Kalian! Bisa diam tidak?!" Agam kesal.
"Maaf, Pak," keduanya menunduk.
"Saya pergi, Van. Saya berangkat ke Pulau Jauh bersama tuan Yohan, dia sudah ada di helipad landai 89, permisi," kata Agam.
Vano melongo.
"Pak, saya tidak salah dengar, kan? Sejak kapan Anda akrab dengan tuan Yohan?" tanya Vano sambil menguntit. Bermaksud mengantar Agam sampai ke landasan helipad.
"Tidak, kamu tidak salah dengar. Saya mau lepas landas sekarang juga. Saya harus segera meminta maaf secara langsung pada Linda."
"Baiklah, saya doakan semoga lancar ya, Pak."
"Terima kasih Vano." Agam menepuk bahu Vano, lalu berbisik.
"Aulia lajang," bisiknya.
"Apa?!" Vano kaget.
"Cepaaat! Selagi cerah," teriakan kapten Yohan menggema.
"Tuan Yohan?"
Agam dan Vano terkejut, Vano bahkan sampai mengucek matanya untuk memastikan jika yang ia lihat adalah seorang Yohan Nevan Haiden.
"Kalian kenapa, sih? Sialan kalian! Dirut! Cepat!" teriaknya lagi.
Agam dan Vano saling menatap. Masih bingung dengan penampilan Yohan.
Ada apa gerangan?
Ini sulit dipercaya, Yohan memakai setelan kapten dengan lengan pendek dan celana sebatas lutut, tapi ... kepalanya tidak memakai topi kapten. Melainkan memakai ....
'PECI.' Berwarna putih.
Aneh, bukan?
"Hahaha," Vano tidak bisa menahan tawa.
Sementara Agam hanya tersenyum simpul.