AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Keajaiban Itu Ada, Manusia Tidak Boleh Berputus Asa [Warning!!!] [Visual]



Sebelumnya ....


"Cepat kejar truk itu!" teriak seseorang.


Dia berada di dalam mobil taksi dan memakai masker. Ia juga menodongkan senjata laras panjang pada pengemudi taksi.


"Ampun Pak, ja-jangan bunuh saya," pengemudi taksi begitu ketakutan. Suaranya gemetar.


"Aku tidak akan membunuh kamu asalkan kamu mengikuti perintahku! Ikuti mobil itu, dan saat pemuda yang berada di atas truk itu turun, kamu langsung tabrak saja! Siap?!"


"Ta-tapi Pak, i-itu kejahatan," elaknya.


"Aku akan mengaturnya sebagai kecelakaan, lakukan saja! Atau kepalamu pecah! Mau?!" ancamnya. Menekan moncong senjata tersebut ke pelipis pengemudi.


"Ba-baik, Pak ... ta-tapi jaminannya apa?"


"Jaminannya nyawa kamu! Jika kamu gagal menabrak dia, maka kamu yang akan mati!" ancamnya.


"Cepat! Lihat! Sepertinya dia akan melompat di jalur yang sepi!"


Ya, pemuda yang berada di atas truk itu adalah Gama. Gama sedang memperhatikan area sekitar yang dilintasi. Setelah merasa aman dari kejaran polisi, ia berniat untuk melompat. Sebenarnya, Gama tidak mau bertindak sampai sejauh ini andai saja polisi yang mengawal mengikuti keinginannya.


Gama bersiap. Ia akan melompat ke jalur kiri. Sedang menunggu agar posisi mobil pas ke kiri.


Posisi sudah tepat, area sekitaran sepi. Sisi kiri adalah rawa-rawa yang dipagari oleh tanaman hujau. Sisi kanan merupakan perumahan warga yang terhalang oleh pembatas jalan dan jalur forbidden. Saatnya melompat, ini bukan hal yang sulit bagi Gama.


"Pak, saya tidak bisa menabraknya. Dia sepertinya akan melompat ke kiri."


"Diam kamu! Bagaimanapun caranya, tetap tabrak dia. Jika drama kecelakaan gagal, maka kita akan membuat drama tabrak lari," tegasnya.


Sementara itu, Gama segera melompat ketika posisinya pas. Hap, berhasil. Mendarat sempurna di area hijau.


"Terima kasih," teriak Gama pada pengemudi truk yang sampai saat ini tidak menyadari jika mobilnya dijadikan sarana pelarian oleh seseorang.


Gama kemudian meregangkan tangannya, ia menikmati udara pagi yang cukup cerah. Lalu menyusuri jalur hijau itu tanpa ada curiga. Gama juga melihat saat ada sebuah taksi tiba-tiba berhenti di bahu jalan.


Tapi, itu peristiwa wajar, kan? Dan tentu saja diabaikan olehnya karena dianggap sebagai hal yang lumrah. Gama berjalan berbalik arah, yang artinya, ia menghadap pada taksi tersebut.


"Cepat serempet dia! Maksudku, tabrak dia!" bujuk pria misterius itu.


"A-apa? Ta-tapi Pak ...."


Pak pengemudi ragu, keringat dingin mulai bercucuran. Ada perasaan iba dan tidak tega. Anak muda itu terlihat begitu tampan, modis, dan resik. Padahal dia hanya berjalan di trotoar, tapi caranya berjalan tampak bak model yang tengah melenggang di atas runway.



"Cepaaat! Kamu tidak bisa diajak kerja sama rupanya ya!"


Pria jahat itu memaksa. Merebut kendali, membanting setir ke kiri. Lalu merebut kemudi dan berhasil meninginjak gas.


Gama terkejut, ia berpikir jika mobil taksi itu kehilangan kendali atau mengalami rem blong. Gama berusaha memperingati pengemudi, ia bahkan sempat berpikir untuk menolongnya.


"Pak, rem tangan!" teriaknya kuat-kuat.



Belum juga bibir Gama mengatup dari teriakan itu, namun dalam hitungan detik, mobil taksi tersebut telah melesat cepat tanpa kendali dan menghantam tubuhnya.


'BRUUUM.'


Gama bahkan tidak sempat beteriak. Tubuh Gama benar-benar ditabrak dengan kecepatan tinggi, tanpa ampun dan tidak manusiawi.


'BRRUKK'


Gama terhempas, tubuhnya terbang, terpelanting beberapa meter, lalu tersungkur di aspal. Pengemudi taksi memejamkan mata. Si pria misterius tertawa terbahak-bahak. Pengendara lain terkejut, spontan mengerem, sebagian lagi segera menepi di bahu jalan.


"Cepat! Kita harus kabur!"


"Ya-ya Pak."


Pengemudi tancap gas, melesat cepat meninggalkan jejak.


Gama tergeletak, terlentang. Benturan kuat di dada dan belakang kepalanya membuat Gama tak sadarkan diri detik itu juga. Darah merah segar mengalir dari belakang kepalanya. Sebagian lagi keluar perlahan dari hidung dan telinganya. Kondisi Gama sangat mengenaskan dan memprihatinkan.


"Tolooong! Ada korban tabrak lari!" teriak seorang pengguna jalan yang pertama kali melihat Gama.


Tak memerlukan waktu lama, pengendara lain atau penumpang yang turun dari mobil segera bekerumun dan mengelilingi tubuh Gama. Seluruhnya panik, namun tidak melupakan ponsel mereka. Sebagian mode vidio telah dionkan. Ada juga yang terang-terangan langsung memotret.


"Cepat telepon polisi!" kata seseorang.


Namun sebelum ada yang menelepon, polisi nyatanya telah tiba di tempat kejadian. Pengguna jalan kaget. Ya, mereka tidak tahu jika korban yang mereka kerumuni memang sedang dikejar polisi.


"Pak ada tabrak lari!"


"Ya, semuanya mundur," tegas polisi.


Polisi yang sedang mengejar Gama langsung memeriksa lokasi, mendekati korban, dan ....


"A-APA?!" Pak Polisi terkejut tingkat dewa, lemas seketika.


"Su-Sultan Yasa?!"


"APA?!" Polisi yang lain terkejut jua.


"Minggir semuanya!"


Yang bekerumun membubarkan diri.


"Cepat panggil ambulance!"


"Tidak perlu ambulance, itu memakan waktu!"


"Terus?"


"Kita bawa ke mobil patroli saja!"


"Siap, Pak!"


"Cepat telepon walinya!"


"Siap, Pak!"


...❤...


...❤...


...❤...


"Pak Dirut, kenapa mendadak? Kasihan Keivel, masih bayi, Pak. Takutnya tidak kuat terbang jauh-jauh," tolak Ayah Berli. Ia ditelepon Hikam untuk kembali ke rumah karena Agam mau pulang.


"Yah, adik saya kecelakaan, saya harus segera menemuinya," jelas Agam.


Wajahnya terlihat sangat khawatir. Ya, Gama adalah adik kesayangannya. Ia rela menghabiskan uang banyak untuk menggugat peraturan BRN, juga demi kebaikan Gama. Jika tekad Gama benar-benar bulat ingin menjadi anggota BRN, setidaknya di masa depan, peraturan yang memberatkan itu sudah tidak berlaku lagi.


"Innalillahi, terus bagaimana kondisinya?" Ayah Berli turut kaget.


"Saya belum tahu, intinya saya disuruh pulang."


"Pak Agam, sepertinya Keivel tidak bisa ikut, badannya sedikit demam," terang dokter Rita yang baru saja datang dari kamar Keivel.


"Kok bisa demam sih?!" Agam terlihat tidak suka, dokter Rita ciut.


"Anak bayi kadang memang suka demam, itu wajar Pak Dirut, bukan salah dokter Rita, jangan membentaknya," bela Hikam.


"Ya sudah, saya saja yang pergi. Hikam, nanti kamu antar saya ke bandara." Agam rupanya tak ingin berkomentar ataupun berdebat lagi.


"Siap, Pak Dirut," jawab Hikam.


Agam berlalu, naik kembali ke lantai dua meninggalkan Bu Ana dan Ayah Berli yang menatap cemas kepadanya.


.


.


Keivel ternyata sedang diberi ASI oleh Linda di kamar utama. Air mata Linda mengalir, khawatir pada Gama, juga khawatir pada Keivel. Padahal, semalam Keivel baik-baik saja.


"Sayang," Agam menghampiri.


"Keivel demam ya?" Agam menyentuh kening putranya.


"Ya, Pak. Tiba-tiba saja, sudah diberi obat tapi belum turun. Kalau enam jam kemudian demamnya tidak reda, kata dokter Rita mau dibawa ke dokter anak."


"Berarti Keivel dan kamu tak ikut pulang. Sayang, bagaimana ini? Saya pasti merindukan kalian."


Agam memeluk punggung Linda. Padahal, awalnya ingin memboyong Linda dan Keivel setelah acara aqiqahan. Tapi ya, manusia hanya bisa berencana. Selebihya terserah kepada-Nya.


"Sabar ya Pak."


Linda merangkul pundak Agam. Menatapnya dalam diam, lalu mencium tangan Agam penuh rasa rohmat.


"Saya akan menyelesaikan semua urusan. Mohon doanya ya sayang, doakan Gama juga. Hmm, saya pasti merindukan kebersamaan dengan kamu dan Keivel," keluhnya.


"Ya Pak. Tak perlu diminta, saya pasti mendoakan. Tolong kabari secepatnya kondisi Gama."


"Pasti, El."


Agam bersiap. Lalu menelepon Yohan untuk membatalkan janji penerbangan. Tapi, tidak diangkat.


"Tuan Yohan, saya akan berangkat cepat. Maaf, penerbangan bersama Anda, saya batalkan. Anda tidak perlu menjemput saya." Pesan terkirim pada Yohan.


Setelah Keivel tidur, Linda memberikan Keivel pada dokter Rita. Kini, tinggallah ia dan Agam di kamar itu.


Agam tengah menunggu jadwal pemberangkatan. Hikam belum ada kabar. Agam gusar, mau mengabari ibunya takut ibunya panik. Bu Nadia ternyata memiliki riwayat penyakit jantung. Agam tidak mau membebani ibunya dengan kabar ini. Paman Yordanpun sudah kembali ke luar negeri. Saat ini, ia menggantungkan harapan pada pengacara Vano.


Lagi, Agam menelepon Vano untuk yang kesekian puluh kalinya, tapi tidak diangkat.


"Argh!" Agam marah.


Linda inisiatif menelepon Hikam.


"Hikam, jadwal penerbangannya kapan? Berapa menit lagi?" tanya Linda.


"Penerbangan di jam ini full, El. Ada lagi nanti selepas Dzuhur, aku sudah pesankan tiketnya. Katakan pada suami kamu sabar saja ya," jelas Hikam. Panggilan berakhir.


Linda lalu menyampaikan informasi dari Hikam pada Agam.


"Apa?! Saya mau penerbangan darurat, El."


"Di sini tidak tersedia penerbangan darurat, Pak. Sabar ya."


"Apa yang harus saya lakukan?! Saya tidak bisa tenang El." Agam gundah-gulana. Mondar-mandir kesana-kemari.


"Pak Agam, emm ... a-anu a-apa tubuhku bisa menenangkan Pak Agam?"


Eh, aduh ....


Linda sendiri merasa kaget akan kalimatnya. Tapi, apa boleh buat. Ia sudah kepalang berucap.


"Ide bagus sayang."


Linda mengira Agam akan menolak, atau setidaknya mempertimbangkan dulu ajakannya. Tapi faktanya, Pak Dirut malah antusias. Linda pasrah dan terkejut saat Agam memangkunya, membawa tubuhnya ke tempat tidur, lalu menghempaskanya begitu saja.


"Ahh," keluh Linda. Menelan salivanya. Serius, ia sedikit ketakutan.


Linda melirik pada jam dinding saat Pak Dirut membuka kembali dasi dan jasnya. Ke jadwal penerbangan sekitar dua jam lagi. Ya, masih ada banyak waktu. Linda menyesali ucapannya. Dari sekian banyak kegiatan yang bisa digunakan untuk menunggu, kenapa Linda memilih ide yang ini?


Kenapaaa?


Bisa yang lain, kan? Misal; mengaji, membaca buku, bermain bersama Yolla-Yolli, mengasuh Keivel, ataupun berenang sambil menikmati bunga-bunga indah yang bermekaran di taman, dan menonton televisi.


"Sayang ...."


Tiba-tiba, Pak Dirut sudah berada di atas tubuh Linda. Menopang tubuh tingginya dengan kedua sikut, menatap Linda dengan tatapan membara.


"P-Pak, a-aku ---."


Linda tak mampu melanjutkan kata-kata. Tangan Pak Dirut sudah mengusai salah satu bagian sensitifnya.


"Jangan bilang kamu tidak siap, sayang. Kamu yang mengajak saya. Kamu yang terlebih dulu membangunkan phyton tidur," bisik Agam. Tangannya yang lain terlihat aktif melepas gaun indah milik Linda.


"A-apa? Phyton?" gumam Linda.


Sejak kapan istilah 'membangunkan macan tidur' berubah jadi 'phyton tidur?'


"Lain kali jangan menggoda saya dalam keadaan seperti ini," tegas Agam dengan napas tersenggal.


"MM-Ma-maaf Pak, ak ---." Linda tidak bisa protes lagi.


Kenapa?


Sebab yang beraroma mint itu telah menguasai indra pengecap dan pengucapnya. Menerobos, memaksa, mengendalikan dan menguasainya.


"Ummh ...."


Hanya kata itu yang terdengar bibir Linda. Selebihnya, ya ... seperti itu.


Bagaimana dengan Pak Dirut?


Jangan ditanya. Pria itu telah kecanduan.


Kok bisa?


Ya bisalah. Bagaimana tidak kecanduan coba, acap kali bercinta dengan Linda, Agam selalu merasa jika Linda adalah seorang gadis yang ranum. Perlu perjuangan untuk mencapainya. Sensasi itu terulang lagi dan lagi.


"A-ARGHH ... sa-sayang ...."


Pak Dirut menggila. Ia meluapkan dan memusatkan segala kegundahan dan keresahannya pada titik itu. Memacu dan memicunya bak sang matador de toros.


Sedangkan Linda membekap bibirnya sendiri. Ia terlalu malu jika terus-menerus meneriakan kenikmatan yang menjerat dan candu itu. Tangannya yang lain memeluk lengan Agam yang mulai licin karena berlumur peluh.


Ya ampun Pak Dirut, Linda, dalam hal ini, apakah kalian bisa dikatakan tega? Bisa-bisanya begitu menikmati dan mendalami penyatuan itu di saat Gamayasa Val Buana tengah berjuang melawan maut.


Tapi, tolong jangan menyalahkan mereka. Masih ada banyak kebaikan yang dilakukan oleh Linda dan Agam ketimbang mengolok-olok kekurangannya.


Hal buruk di mata manusia, belum tentu buruk pula di hadapan-Nya. Orang-orang yang tersisih atau dihinakan manusia, bisa jadi adalah orang-orang yang sangat terkenal di kalangan para malaikat karena kebaikannya. Dihinakan di bumi, namun disanjung di langit. Dimewahkan Tuhan bukan berarti dimuliakan, disempitkan Tuhan, bukan berarti dihinakan.


Setelah pendakian itu mencapai nirwana, dalam batinnya Pak Dirut dan Linda ternyata berniat untuk segera bersuci, lalu berdoa bersama untuk keselamatan dan kebaikan Gama.


...❤...


...❤...


...❤...


'PLAK.'


'PLAK.'


'PLAK.'


Tiga orang polisi yang ditugaskan menjaga Sultan Yasa tengah ditampar berulang-ulang oleh Pak Ketua. Ketua BRN naik pitam. Calon anak emasnya terluka parah, bahkan kritis.


"Kalian tidak berguna!" teriaknya lagi. Kali ini sambil melayangkan tendangan mematikan.


"Bagaimana kalau Maga menuntut? Organisasi kita bisa terancam dan dibubarkan!" Sambil mengatur napas, menahan amarah yang meluap.


"Kalau Sultan Yasa mati bagaimana?! Apa kalian bisa menggantikan nyawanya, hah?"


Mereka terdiam, berbaris dan menunduk menghadap tembok selasar rumah sakit. Pasrah menerima hukuman dari ketua sekalipun itu dalam bentuk mutasi, kurungan, ataupun pemecatan.


Gama sudah berada di salah satu rumah sakit pemerintah. Yang menjadi wali adalah Vano. Saat ini akan segera dilakukan operasi darurat untuk mengatasi perdarahan hebat di kepalanya.


...❤...


...❤...


...❤...


Bukan, ini bukan kebetulan. Sejatinya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua yang terjadi di alam ini atas izin dan kehendak-Nya. Tidak ada daun yang jatuh, ataupun pasir yang bergeser di lautan tanpa seizin-Nya. Semesta ada dalam genggaman-Nya.


Rumah sakit yang ditempati Gama saat ini, adalah rumah sakit dimana Freissya bekerja. Freissya tengah jaga pagi. Segera mengangkat telepon saat telepon paralel di ruangannya berbunyi.


"Halo, dengan Suster Frei, ruang ICU, ada yang bisa dibantu?"


"Ini dari IGD, dengan Ners Mila. Mau ada rencana alih rawat ICU post operasi kepala, cidera berat." Suara di ujung telepon.


"Oke, KLL (Kecelakaan Lalu Lintas)?" duga Freissya. Ia bersiap mencatat.


"Benar, atas nama Tn. Gamayasa Val Buana, usia 19 tahun ...."


Deg, tangan Freissya gemetar. Nama pasien ini mirip sekali dengan sosok yang ia benci sekaligus ia rindukan.


"Halo, usia 19 tahun diagnosa brain hemorrhage, fraktur klavikula dan diafragma, syok hipovolemik-neorogenik et causa korban KLL. Kondisi terakhir pasien, koma."


"A-apa ...?"


Freissya berharap dan meyakinkan dirinya jika nama yang tertera bukanlah orang yang ia maksud.


"Halo Suster Frei?"


"Ya, Kak. Siap."


"Konfirmasi ulang."


"Baik, Tn. Gamayasa Val Buana, usia 19 tahun diagnosa brain hemorrhage, fraktur klavikula dan diafragma, syok hipovolemik-neorogenik et causa korban KLL. Kondisi terakhir pasien koma."


Freissya membaca kembali informasi yang ia terima. Istilah dalam SOP medisnya disebut read-back.


"Sesuai, terima kasih." Panggilan berakhir.


Freissya lalu melaporkan akan ada pasien baru berikut diagnosanya pada dokter jaga dan perawat primer. Namun perasaannya menjadi tidak tenang. Berdebar-debar dan kalut. Ia mempersiapkan alat intubasi dengan tangan tremor.


"Kenapa Frei?" tanya seniornya.


"Kak, nama pasien baru yang akan masuk ke sini mirip sekali dengan nama temanku."


"Oh, nama teman kamu unik ya, ada nama Buananya. Aku jadi ingat sama direktur HGC, Agam Ben Buana."


Freissya membisu. Ya, jika dugaannya benar, pasien itu memang adik kandung Agam Ben Buana.


"Kamu pastikan Frei. Izin masuk ruang operasi saja."


"Memangnya boleh, Kak?"


"Ya boleh lah sayang, kamu kan karyawan di rumah sakit ini. Kalau tidak boleh nanti Kakak antar kamu."


"Ya ampun, terima kasih, Kak."


Setelah persiapan untuk pasien baru usai, Freissya bergegas menuju ruang operasi khusus bedah syaraf dan cidera berat.


Jangan, jangan kamu Val. Bukan, bukan kamu. PASTI bukan kamu.


Sebelum meminta izin untuk masuk, kaki Freissya kian lemas, dan entah kenapa airmatanya menetes begitu saja, tidak bisa dikendalikan.


"Permisi," lirih Freissya.


"Masuk."


"Eh, Suster Frei ya?"


"Ya, Bu."


"Ada apa?"


Freissya kemudian mengutarakan maksud dan tujuannya seraya berurai air mata.


"Tenang dong, Frei. Belum tentu juga itu teman kamu. Ibu izinkan. Kamu boleh masuk, ganti bajunya ya."


"Baik, Bu. Terima kasih."


"Dia ada di kamar operasi nomor empat. Sudah operasi sekitar tiga jam, tapi belum selesai," jelas perawat senior yang bertugas di ruang operasi.


"Terima kasih informasinya."


Freissya berjalan gontai menuju ruangan yang dimaksud, jantungnya berdegup kala tangannya bersiap memegang handle untuk membuka pintu kamar operasi.


.


.


Sementara itu, di kamar operasi nomor empat ketegangan tengah berlangsung. Dokter spesialis bedah syaraf dan spesialis bedah tulang sedang berkolaborasi untuk menyelamatkan nyawa Gama. Pendarahan masih berlangsung, merembes aktif dari telinga dan kepala Gama.


Tubuh Gama terbujur di meja operasi. Matanya terpejam nyaman dan damai. Bibir merahnya memucat. Ia dikelilingi tim medis yang sedang berjuang.


'Tin, tin, tin.'


Bunyi monitor terus menggema seiring dengan jarum jam yang bergerak memacu sang waktu.


Sejenak suasana sepi, yang terdengar hanya pergesekan pisau bedah dan pinset medis yang beradu dan berdenting.


"Masukan transfusi darah cito," kata salah satu dokter spesialis.


"Baik Dok," jawab asisten.


"Perdarahan aktif, pasang CVC!"


"Siap."


"Naikan kadar oksigen, lokasi bor berdasarkan hasil CT-Scan ada di puncak kepala!"


"Siap Dok."


"Siapkan bor medis ukuran sedang!"


"Baik, Dok."


"Tim rontgen siap?"


"Siap, Dok."


"Posisikan!"


Dan ....


'Grrr, drrr, grrr, drrr.'


Suara pergerakan bor medis mulai terdengar, mereka membelah tulang tengkorak milik Gama.


Isi kepala Gama bahkan terlihat dengan jelas. Berupa selaput putih yang terdiri dari 100 miliar sel otak (neuron) dan sekirar 1 triliun sel pendukung (glia) yang membantu neuron. Maha Karya Sang Pencipta yang teramat LUARRR BIASA. MasyaaAllah.


Oh, tidaaak. Jika yang melihat bukan tim medis atau ahlinya, niscaya akan pingsan di tempat.


'Pluk, pluk, pluk.' Dan seterusnya. Kasa medis terlempar cepat menuju sampah medis.


Kasa itu telah berubah warna menjadi merah cerah. Artinya, perdarahan akibat tabrak lari itu benar-benar parah. Mesin suctioningpun memerah.


Suasana di kamar operasi nomor empat sangat menyeramkan.


.


.


Vano yang berada di depan ruang operasi terlihat berang. Panik dan tegang luar biasa. Ia sudah melihat kondisi Gama yang sangat memprihatinkan. Jika dilihat secara kasat-mata, rasanya tidak ada harapan lagi.


Tapi, Sang Pemilik kehidupan Maha Tahu segalanya. Vano menggantungkan harapan kesembuhan Gama kepada-Nya melalui wasilah tim medis dan para medis.


Vano berdoa agar operasinya lancar, dan Gama kembali sehat seperti sedia kala.



"Saya akan menuntut BRN, kalian lalai menjaga dia!" teriak Vano saat ketua BRN dan polisi menghampirinya.


"Tenang Pak Vano," kata Pak Ketua.


"Mana bisa saya tenang! Kalau dia mati, bagaimana?!" teriaknya.


"Jangan beteriak Pak Vano, ini rumah sakit," kata polisi.


"Saya juga tahu ini rumah sakit! Tak perlu kalian beri tahu!"


Ketua BRN dan polisi terdiam.


"Saya curiga ini konspirasi!"


"Pak Vano, jangan berasumsi terlalu jauh! Kita fokus dulu pada kesembuhan Sultan Yasa!" sela Pak Ketua.


Ketegangan di depan ruang operasi baru mereda saat petugas keamanan datang.


.


.


"I-ini ti-tidak mu-mungkin ... V-Val ...," jerit Freissya pelan.


Tubuhnya merosot perlahan hingga bersimpuh di lantai. Untung saja kakak seniornya datang dan menguatkan Freissya.


"Huuu, Val ...." Freissya menangis.


Ia lalu dipapah meninggalkan ruangan itu karena tangisnya bisa mengganggu jalannya operasi.


"Frei, sabar," kakak senior memeluk Freissya.


"Huuks, Kak ... apa dia akan selamat?"


"InsyaaAllah, Frei. Tidak ada yang tidak mungkin jika Dia telah berkehendak. Asalkan ada doa dan usaha, keajaiban itu ada Frei. Manusia tidak boleh berputus asa." Kakak senior menyemangati Freissya.


...~Tbc~...


Vote and comment, please 😳😳. Haturnuhun 😍