
"Jujur padaku Pak Herlans, kenapa Sea kabur, hahh?! Sejak kapan dia bisa membuka kunci apartemen? Terus kenapa CCTV di apartemenku mati?! Kenapa?!" teriak Yohan.
Pak Herlans hanya menunduk dan membisu. Ya, memang dirinyalah yang mematikan CCTV. Tapi, langkah Pak Herlans terbilang bodoh. Pak Herlans menyadari itu. Saat Yohan inisiatif mengecek CCTV dari unit lain, di dalam lift atau di parkiran apartemen, maka riwayat Pak Herlans akan tamat. Yohan akan tahu jika Sea membawa tas dan pergi bersamanya mengantar Yohan ke rumah sakit.
Sebenarnya, Pak Herlans melakukan ini semata-mata demi kebebasan Sea. Niatnya sih baik, tapi dia tidak memikirkan akibatnya.
"Jawab Pak!" bentak Yohan.
"Saya salah Tuan. Kalau Anda mau memecat saya silahkan?"
"Apa?! Anda mau dipecat?! Kalau Pak Herlans mau pergi, silahkan! Aku memang tidak pantas hidup dengan kamu! Aku kotor, kamu suci! Aku pantas sendiri!" teriak Yohan.
Lalu berbalik badan, Yohan masuk ke kamar yang biasa ditempati Sea.
'Brak.' Membanting pintu dengan kencang. Pek Herlans mengejar.
"Tuan, jangan salah sangka, maksud saya bukan seperti itu, maksudnya saya siap menerima hukuman apapun karena tidak bisa menjaga nona Sea," jelas Pak Herlans. Bersimpuh di depan kamar.
Di balik pintu kamar, Yohan bersandar. Ia memeluk sajadah yang biasa digunakan Sea untuk beribadah. Mata Yohan memerah. Kesedihan menyelimuti hatinya.
"Pak Herlans, bagiku Sea sangat berharga. Aku memiliki harapan hidup yang lebih baik setelah bertemu dia. Aku meninggalkan dunia gelapku demi melihat wajahnya. Kenapa Pak Herlans tidak mengerti perasaanku? Kenapa membiarkan dia perg?" lirih Yohan.
Pak Herlans tersentuh. Ia kian menunduk. Tanpa Pak Herlans menjelaskan, nyatanya Yohan telah menduga jika ini perbuatannya. Ya, Yohan tidak bodoh. Hanya Pak Herlans di apartemen ini yang bisa keluar masuk unit.
Biasanya, saat Pak Herlans dan Yohan pergi, Sea dan asisten wanita yang bertugas mengerjakan pekerjaan rumah tangga selalu terkunci di dalam unit. Jika ada kebutuhan yang mendesak, misal ada bahan makanan yang habis, atau kekurangan apa saja, maka Pak Herlans lah yang berbelanja.
"Aku sangat percaya pada Pak Herlans, tapi kenapa Bapak menghianati saya?! Kenapa membiarkan Sea pergi, Pak?! Aku sedang berusaha untuk jadi orang yang baik. Ya, caraku mengekang Sea memang salah. Tapi ... hanya dengan cara seperti itu aku merasa bahagia. A-aku mencintai dia Pak Herlans."
"Tuan Yohan, maafkan saya, saya mengaku salah. Saya akan mencari gadis itu."
Pak Herlans menyesali perbuatannya. Ia terharu karena Yohan tidak menamparnya, Yohan malah mengurung diri. Seolah sedang berusaha untuk tidak melakukan hal buruk pada dirinya.
"Tidak perlu! Aku akan cari sendiri! Jika Bapak ingin berhenti bekerja, silahkan pergi saja! Ambil mobil yang biasa Bapak gunakan sebagai pesangon! Pergi sekarang juga! Pergiii!" teriak Yohan seraya menendang pintu.
"Tidak Tuan, saya tidak akan pergi. Saya akan tetap bekerja bersama Anda. Sebagai ungkapan maaf, saya rela tidak digaji. Tuan masih sakit, istirahat saja, biar saya saja yang mencari nona Sea."
Yohan tidak menjawab, lebih memilih naik ke tempat tidur lalu memeluk guling. Ia menghidu guling. Berharap masih bisa merasakan aroma Sea.
"Sea ... kenapa aku jadi begini? Kenapa aku jadi pria lemah setelah mengenal kamu? Tuhan, kapan aku bisa bahagia? Deanka, Agam, mereka sudah dicintai oleh wanita yang menjadi istri mereka. Apa aku tidak pantas dicintai?" Yohan meratap, matanya berkaca-kaca.
Sea tidak mengambil banyak baju. Di dalam nakas, baju pemberian Yohan masih berbaris rapi. Setelah berlama-lama di kamar itu, Yohan memutuskan untuk mencari Sea. Saat berjalan menuju pintu keluar, kehampaan itu muncul, ia mengingat keberadaan dan aktivitas Sea selama berada di apartemennya.
Sea membaca buku, Sea menonton film kartun, Sea memasak, Sea melamun di balkon, dan lain-lain.
"Syukurlah kamu membatalkan penerbangan, aku ada masalah, Gam. Tidak bisa terbang." Yohan baru sempat membalas pesan dari Agam.
...❤...
...❤...
...❤...
"Vano, kamu di mana? Saya sudah di bandara." Agam turun dari pesawat tergesa-gesa.
"Saya di rumah sakit, Pak. Operasinya baru selesai."
"Alhamdulillaah, kondisi Gama bagaimana?"
"Ma-masih koma, Pak."
"Kamu jaga dia dulu, saya mau naik taksi."
"Pak Agam tidak perlu naik taksi. Saya sudah suruh Aulia menjemput Bapak, sebentar lagi dia sampai bandara."
"Ya ampun Vano, harusnya kamu menyuruh pak Yudha yang menjemput saya, bukan Aulia."
"Maaf Pak Agam, pak Yudha ada tugas. Dia saya tugaskan mendampingi tim kuasa hukum kita untuk mengantar berkas ke pengadilan."
"Oh, baiklah."
Agam mengakhiri panggilan. Lalu menunggu Aulia. Ekspresinya masih sama, resah dan gelisah. Ia teramat khawatir pada Gama. Ingin segera mengambil tindakan pada BRN. Biar bagaimanapun BRN harus bertanggung jawab. Karena saat kejadian, Gama berada di bawah pengawasan BRN.
.
.
"Aduh, pak Agam mana sih?"
Aulia menyisir pandangan pada setiap penumpang yang keluar dari jalur exit rute.
Para penumpang berjalan cepat, fokus pada tujuan masing-masing, memburu asa, mengais berkah. Mengarungi pusaran kehidupan, menanti kematian seraya mempersiapkan diri dengan cara berikhtiar dan beribadah.
Ya, tidak serta merta hanya fokus pada kehidupan duniawi, nyatanya ada juga penumpang yang menunggu jemputan sambil membaca kitab suci. Baik melalui mushaf, maupun ponsel.
"Nah itu dia, terlihat paling tampan," gumam Aulia saat ia mendapati keberadaan Agam.
"Pak Agam," teriaknya. Segera menghampiri.
"Cepat," kata Agam sambil menepis tangan Aulia yang berniat bersalaman.
Sombong sekali, batin Aulia. Ia menyeimbangi langkah Agam yang panjang dan cepat.
"Mana mobil kamu?!"
"Yang ini Pak," kata Aulia. Membukakan pintu mobil. Agam masuk dengan wajah dinginnya.
Aulia bersiap mengemudi. Saat memasang sabuk pengaman, ia tidak sengaja melihat Agam yang tengah merapikan dasi. Aulia mengatupkan bibir, merasa malu sendiri sebab di leher Agam jelas sekali ada tanda cinta yang sepertinya baru dibuat.
Hihihi, sebelum ke kota sepertinya dibekali dulu sama LB.
"Cepat jalan!" bentak Agam.
"E-eh, ya Pak," Aulia panik, lamunannya buyar.
Sepanjang perjalanan, tak ada satupun kata yang terucap dari bibir Agam. Tak juga menanyakan tentang HGC. Padahal, lusa Agam harus kembali bekerja. Aulia juga tidak berani memulai pembicaraan, ia lebih memilih diam sambil menikmati aroma parfum yang menguar dari tubuh Agam.
Semoga adiknya Pak Agam baik-baik saja. HGC tanpa Pak Agam terasa hampa, batin Aulia.
"Jangan melamun! Saat ini kamu bertanggung jawab pada keselamatan saya! Saya punya keluarga, kamu juga punya, kan?!" Agam memperingati Aulia.
"Ya, Pak. Maaf."
Aulia meningkatkan kefokusan. Tak lupa memanjatkan doa agar sampai ke rumah sakit dalam keadaan selamat. Serius, jika bukan Vano yang menyuruhnya, ia juga tidak mau menjemput si raja rimba. Ya, Agam memang bosnya, tapi posisi Agam saat ini masih cuti.
Mau tidak mau, Aulia juga harus rela mendengar kebucinan Pak Dirut pada istrinya. Agam menerima panggilan dari Linda.
"Keivel bagaimana sayang? Apa masih demam?"
Ternyata, kalau bicara sama LB, Pak Dirut lembut sekali.
"Syukurlah, kalau Momca bagaimana? Apa masih sakit?"
Momca? Momca, siapa ya? Apa kucingnya Pak Agam? Aulia bertanya-tanya dalam hatinya.
"Hmm, maaf ya sayang, lain kali akan lebih lembut. Jangan lupa diobati ya sayang."
Pak Agam lagi membahas apa sih? Oh, pasti Pak Agam tak sengaja memberi makan kucing bernama Momca dengan nasi yang keras atau dengan tulang, terus kucingnya sakit karena tersedak. Aulia menduga-duga.
"Salepnya ada di laci sayang."
"Apa? Kamu mau diobati sama saya? Tadi saat saya tawari kamunya tidak mau. Jangan menggoda saya, El."
Hah? Kok begitu sih? Maksudnya? Aulia keheranan.
"Sabar ya sayang, kamu juga doakan saya agar tetap sabar. Serius, saya tidak bisa lama-lama pisah dari kamu."
Sabaaar, batin Aulia. Sebagai jomlo, ia merasa tersinggung.
"Belum sayang, Gama koma, yang menjaganya Vano. Ibu belum saya kabari."
"Terima kasih sayang, i love you too. Mmm--muach."
Aulia melirik pada Agam dengan sudut matanya.
"Makanya cepat nikah dong Bu Aulia." Agam menyadari jika Aulia menguping obrolannya.
"Be-belum ada calon, Pak."
"Kalau saya jodohkan sama Vano, apa kamu mau?"
"A-apa?! Uhhuk, uhhhuk."
Aulia terbatuk saking kagetnya. Tidak, ia tidak mungkin cocok dengan pengacara yang menurutnya tidak kompeten dan sedikit gila itu. Jangan sampai deh.
"Saya doakan semoga kalian berjodoh."
"Ti-tidak Pak. Jangan dia, saya dan pak Vano bersebrangan," tolak Aulia.
"Jangan terlalu membenci sesuatu Bu Aulia. Karena bisa jadi yang kamu kira tidak baik, adalah yang terbaik di mata Tuhan."
"Emm, i-iya juga sih," Aulia menyimak dan mengiyakan.
...❤...
...❤...
...❤...
Freissya mematung di sudut paling belakang ruang ICU, menutup bibirnya, menangis dalam diam. Ia tidak sanggup melihat brankar yang berisi tubuh Gama memasuki ruangannya. Tubuh Gama dilengkapi berbagai macam alat medis. Bagian kepalanya terbungkus kasa steril, terpasang alat intubasi, monitor, oksigen, infus CVC dan peralatan medis lainnya.
Gama ditempatkan di kamar khusus pasien koma. Menjadi pasien termuda dengan kondisi paling kritis. Kata dokter, presentasi kesembuhan dan keberhasilan operasi Gama sekitar 50 persen.
"Frei, jangan menangis, kamu harus tabah dan profesional. Ayo temui pasiennya," bujuk teman Freissya.
"Frei, apa kamu punya hubungan khusus dengan pasien itu?" duga yang lain.
"Ti-tidak, Kak. Dia temanku, dan aku iba. Itu saja," Freissya mengelak, beranjak, mengusap airmatanya, lalu memasuki kamar yang ditempati Gama.
Setelah dekat, tangisnya kembali pecah. Tapi tidak bersuara karena ia membekap mulutnya kuat-kuat. Dokter menutup pintu. Mereka sedang memberi kesempatan pada Freissya untuk mengutarakan kesedihan dan kepeduliannya.
"Val, ke-kenapa kamu bisa kecelakaan? Kenapa, Val ...?" Freissya meraih tangan Gama. Mengusap dan menggenggamnya.
"Tolong cepat sadar Val .... Ada banyak hal yang ingin aku utarakan kepadamu, jangan seperti ini Val ..., huu huu huks."
"Maafkan aku karena selama ini tidak pernah peduli padamu. Aku seperti itu karena status kita berbeda. Ya, di hadapan-Nya kita memang sama. Tapi ... selain tak ada restu dari bapak-mama, aku juga merasa tidak percaya diri saat berada di sisi kamu. Val ... cepat sadar ya."
Freissya kian terpuruk, perlahan ia menciumi tangan Gama, membasahi tangan pucat itu dengan air mata tulusnya. Lalu mengelus pipi Gama, sangat berharap jika sentuhannya bisa menyadarkan Gama dari koma itu.
"Val ... aku Ice, aku akan menjaga kamu selama dirawat disini. Val ... yang menculikku kamu, kan? Aku tahu kalau itu kamu, kamu jahat, huuu." Freissya meletakan kepalanya di sisi bed. Menatap tubuh tak berdaya itu dari jarak dekat sambil terisak.
Beberapa saat kemudian, sayup-sayup Freissya mendengar ada keributan di depan ruang ICU. Namun keadaan itu tidak mengganggu aktivitas layanan kesehatan di ruangan tersebut.
...❤...
...❤...
...❤...
"Kembali ke markas, Pak." Berbaris rapi, menunduk.
"K u r a n g a j a r! Apa dia tidak berani bertemu dengan saya?!" Tangan Agam hampir melayang, tapi segera ditahan oleh Vano.
"Pak Agam, sabar. Tolong kendalikan emosi Anda. Bisa fatal akibatnya kalau Pak Agam nenyakiti mereka."
"Vano, mereka lalai! Setidaknya saya bisa menampar mereka sekali saja!" desak Agam. Menghempaskan tangan Vano.
"Tapi Pak, ini tidak baik, ini melanggar hukum."
Selain itu, Vano tahu benar kekuatan Agam seperti apa. Tamparan Agam dalam keadaan emosi bisa merontokkan gigi lawannya. Sebagai pengacaranya, Vano tentu saja harus menjaga nama baik Agam dari tuntutan hukum. Baik hukum pidana maupun perdata.
"Ada apa ini?" Petugas keamanan datang.
Agam akhirnya mengalah. Mengatur napas berkali-kali.
"Ya, maaf Pak. Saya yang salah."
"Apa ini Pak Agam Ben Buana?" Petugas keamanan mengenali Agam.
"Ya, Pak. Adik saya dirawat di ICU," jelas Agam.
"Pak Agam, sebentar lagi jam besuk habis, ayo kita melihat Gama," ajak Vano.
"Baik, mari." Agam patuh.
Vano mengetuk pintu kamar ruang ICU untuk meminta izin. Setelah diizinkan, Agam dan Vano masuk.
Langkah Agam terasa berat. Dalam hati kecilnya ia tidak sanggup melihat kondisi Gama yang koma. Jantungnya berdebar, semua kenangan manis bersama Gama menari-nari dalam ingatannya.
Agam mematung saat Vano melapisi bajunya dengan auter khusus pengujung pasien.
"Mari saya antar Pak, ruangannya ada di sebelah sana," ucap seorang suster. Berdebar hati sang suster saat melihat ketampanan Agam dan Vano.
Ternyata, rumor yang beredar di ruang OK dan IGD bukan isapan jempol. Pasien atas nama Gamayasa Val Buana itu memang adik kandung Dirut HGC. Fakta ini benar-benar sangat menarik. Sebab, selama ini publik tidak tahu kalau Agam Ben Buana mempunyai seorang adik.
Agam melanjutkan langkahnya yang seakan terhuyung. Vano memegang bahu Agam. Lalu Agam tersadar jika ini adalah ruangan tempat Freissya bekerja.
...❤...
...❤...
...❤...
Benar saja, saat ia memasuki ruangan yang ditempati Gama, Agam melihat keberadaan Freissya. Gadis itu sedang memberi obat pada Gama. Matanya sembab.
"Suster Frei, ada yang mau besuk."
Freissya menoleh dan terkejut. Segera menundukkan kepala saat sadar jika pria gagah di hadapannya adalah Agam Ben Buana.
"Si-silahkan, permisi," kata Freissya. Ia berlaku seolah tidak mengenal Agam.
Ya, terakhir kali ia berbicara dengan Agam, Freissya mengatakan ....
"Jika suatu saat kita bertemu lagi, aku akan pura-pura tidak mengenal Bapak. Dan Bapakpun harus pura-pura tidak mengenalku. Aku berharap setelah ini kita tidak bertemu dan terlibat masalah lagi."
Agam tak berekpresi. Ia tentu masih ingat dengan permintaan Freissya. Gadis itu tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan keluarga Buana. Tapi caranya menatap Gama sangat berbeda dengan tatapannya pada saat itu.
"Ga-Gama ...."
Agam terpekur, memeluk pelan bahu Gama. Hatinya seolah tersayat. Sakit.
Apa penyebab kecelakaan ini? Siapa pelakunya? Apakah ada unsur kesengajaan?
"Bangun play boy! Jangan seperti ini, Kakak tidak bisa kehilangan kamu. Kakak sayang sama kamu. Maafkan Kakak jika selama ini terlalu mengekang kamu. Gama ... bangun, ayo kita perbaiki hubungan kita. Kakak janji akan mengabulkan apapun permintaan kamu. Gama ... ja-jangan ma-mati," ratap Agam.
"Pak Agam, doakan dan ikhlaskan apapun yang terbaik untuk Gama."
Vano menasihati. Mengusap pundak Agam. Kejadian itu terulang lagi. Vano pun melihat tanda cinta di leher Agam.
Ya ampun, LB ganas sekali. Batin Vano.
"Kakak akan berusaha semaksimal mungkin. Jika rumah sakit ini tidak mampu, Kakak akan membawa kamu ke luar negeri. Gama, Kakak akan menangkap orang-orang yang berani mencelakai kamu. Jikapun ini murni kecelakaan, pelakunya tetap akan Kakak tuntut," tegas Agam. Lalu ia mengecup kening Gama.
Setelah itu, Agam kemudian membaca kita suci. Mendoakan Gama dengan mata berkaca-kaca.
"Pak Agam maaf mengganggu, saya masih ada pekerjaan di firma. Apa boleh saya pergi?"
"Boleh, terus perintahkan Pak Yudha untuk ke sini setelah urusan di pengadilan selesai."
"Baik, Pak. Kalau boleh tahu, malam ini Bapak mau menginap di mana?"
"Paling di hotel depan rumah sakit. Oiya Van, tolong atur jadwal pertemuan saya dengan ketua BRN."
"Maaf Pak. Harusnya itu tugas bu Aulia, kan?"
"Saya tidak mau tahu, pokoknya kamu atur saja."
"Ba-baik."
Akhirnya Vano menyetujui walaupun di dalam hatinya tidak setuju. Terpaksa harus menelepon sekretaris itu lagi untuk mengkonfirmasi keinginan Agam.
...❤...
...❤...
...❤...
"Frei, ini ada jadwal pemberian obat untuk Tn. Gamayasa, kamu yang ke sana ya, soalnya Kakak mau kirim pasien ke ruang operasi," titah suster senior.
"Baik, Kak."
Freissya menyanggupi, padahal batinnya merasa canggung dan malu karena keberadaan Agam. Tapi, ia harus profesional. Setelah menguatkan mental, lantas bergegas.
"Permisi Pak, mau ada therapi, mohon maaf jika mengganggu," ucap Freissya, sopan.
"Silahkan," jawab Agam.
Agam memperhatikan semua hal yang dilakukan Freissya pada adiknya. Serius, Freissya gugup. Tangannya sih tidak gemetar, tapi percayalah keringat dingin mengalir deras di punggungnya.
"Permi ---." Freissya mau berpamitan.
"Ice, tunggu," sela Agam.
Deg, Freissya kaget.
"A-ada apa, Pak?"
"Saya titip Gama ya."
"A-anu Pak, di sini tidak ada titip-titipan. Seluruh pasien kita perlakukan sama sesuai dengan kebutuhan dan SOP yang berlaku. Kami tidak membedakan status," ucap Freissya. Bicaranya tegas, tapi sambil menunduk.
"Ice, walaupun kamu memungkirinya, tapi ... kamu pernah bersama dan dekat dengan adik saya. Kalian bahkan telah melakukan hubungan terla ---."
"Ssst, cukup Pak Agam! Jangan membahas itu! Bagaimana kalau ada yang mendengar?" Freissya memberanikan diri menatap Agam. Tapi hanya sebentar.
"Oke, maaf jika kamu kurang berkenan. Langsung saja, apa sekarang kamu berubah pikiran?"
"Ma-maksud Pak Agam?"
"Apa kamu mencintai adik saya?"
"A-apa? Ke-kenapa Bapak menanyakan itu?"
"Saya bukan anak kecil, Ice. Walaupun saya bukan buaya, tapi insting saya terhadap tatapan wanita sangat kuat dan akurat."
"Saya tidak mengerti maksud Pak Agam," protes Freissya.
"Begini, dari cara kamu menatap adik saya, saya merasa jika kamu menyukai adik saya. Apa dugaan saya benar?"
"A-apa? Tidak Pak, i-itu tidak benar." Freissya memegang ujung seragamnya. Gugup, kali ini tangannya gemetar.
"Ice, Gama sedang koma. Saya berharap kamu jujur dengan perasaan kamu. Setidaknya, tolong katakan perasaan kamu pada Gama. Dia tulus mencintai kamu. Gama bahkan pernah meminta bantuan saya agar bisa mendapatkan cinta dari kamu."
"Jikapun dugaan saya salah dan kamu tidak mencintai adik saya. Setidaknya, untuk saat ini berpura-puralah menjadikan dia sebagai kekasih kamu. Berpura-puralah mencintai dia, Ice. Saya mohon, ya? Please ...," lirih Agam.
Freissya terdiam, bibirnya gemetar, airmatanya mengalir membasahi masker.
"Oiya, satu hal lagi, apa kamu tahu alasan orang tua kamu tidak menyukai keluarga Haiden dan membenci keluarga saya?"
"Ti-tidak Pak, aku tidak tahu."
"Dulu, saat saya masih kecil, ayah saya pernah diperintah oleh tuan Haiden untuk menggusur sebuah perkampungan. Kakek kamu ternyata salah satu pemilik lahan terluas di kampung itu. Menurut info yang saya dapatkan, kakek kamu marah besar dan menolak digusur. Kakek kamu dan ayah saya bersitegang."
Freissya menyimak.
"Saat itu, ayah saya hanya menjalankan tugas. Ayah juga membawa surat izin penggusuran dari pengadilan. Keluarga Haiden menang di pengadilan karena surat dan bukti kepemilikan mereka pada lahan tersebut sangat kuat dan jelas," terang Agam.
"Mereka menang karena uang, Pak. Mungkin menyuap hakim. Kata bapakku, kakek dan neneku sudah bermukim di kampung itu selama puluhan tahun dan selalu bayar pajak," bela Freissya.
Terungkap sudah alasan kenapa bapak dan mama Freissya membenci keluarga Haiden berikut antek-anteknya.
"Ice, tuduhan kamu perlu dibuktikan di pengadilan. Dalam hal ini, keluarga kamu tidak berhak menghakimi ayah saya. Apa yang dilakukan ayah saya tidak menyalahi aturan. Sebenarnya, saya dan tuan Deanka pernah meminta maaf mewakili ayah saya dan tuan Haiden. Tapi ... bapak kamu menolak permintaan maaf itu."
"Ice, tidak adil bagi kamu dan Gama jika masalah sengketa tanah pada masa lalu menjadi dendam kesumat yang berlarut-larut. Apa kamu juga menyalahkan ayah saya?"
Freissya terdiam.
"Tidak ada gunanya menyimpan dendam. Akan lebih terhormat jika menahan amarah, dan saling memaafkan. Dendam atau balas dendam adalah perbuatan bodoh. Manusia pendendam akan membenamkan kebencian dalam jiwa dan raganya. Hidup seorang pendendam tidak akan tenang."
"Maaf Pak Agam. Bapak saya bukan pendendam. Hanya menjalankan amanat kakek agar anak cucunya tidak memiliki hubungan spesial dengan keluarga Haiden dan antek-anteknya." Freissya tidak terima bapaknya dituduh pendendam.
"Kalau Gama panjang umur dan kamu berjodoh dengan Gama, apa ayah kamu mampu melawan takdir?" tanya Agam. Seolah ingin mengetes Freissya.
"Pak Agam, takdir memang sudah digariskan, tetapi bukan berarti tidak bisa diubah. Jika menginginkan takdir yang baik, maka jalan satu-satunya adalah memohon kepada Sang Pencipta dan berusaha. Dia-lah yang mampu mengubah setiap takdir seseorang. Tuhan akan memberikan takdir yang baik selama manusia bersungguh-sungguh usaha, beriman, dan bertakwa. Maaf kalau yang aku paparkan keliru."
Lumayan, batin Agam.
"Tapikan takdir itu hal baik untuk diterima walaupun tidak berjalan sesuai dengan keinginan kamu, yak kan? Jika kamu tidak mau menerima takdir, maka jangan menyebutnya takdir. Sebut saja sebagai ketidakadilan, pengkhianatan, atau nasib buruk," kata Agam.
"Pak Agam, kalaupun takdirku buruk, bukan berarti kekecewaan itu bisa menghancurkan hidupku. Aku akan memperkuat keimanan agar aku tabah dan ikhlas menerima takdir," tegas Freissya.
"Oke," Agam mengulum senyum. Jawaban Freissya membuatnya semakin yakin jika Gama tidak salah pilih.
"Bagaimana? Mau membantu saya?" tanya Agam.
...~Tbc~...