AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Kesulitan Untuk Menolak Keindahan dan Kehangatan



"Hahaha," Agam tertawa. Lengan bajunya disingsingkan. Namun bola mata beningnya terlihat bergulir ke segala arah bersiap membaca serangan lawan.


"Sombong sekali kamu tertawa, daripada kamu tertawa, lebih baik kamu menangis karena sebentar lagi kamu akan terkapar dan kehilangan semua hal yang kamu miliki. Wuahahha." Musuh misterius itupun tertawa terbahak-bahak disusul oleh tawa yang lainnya.


"Hahaha, padahal baru seminggu jadi direktur utama HGC, eh sudah tinggal nama. Oh, sungguh malang dan kasihan," sahut yang lainnya.


Sambil pasang kuda-kuda, Agam melangkah apik memutarkan perlahan tubuhnya untuk bersiap jika tiba-tiba komplotan licik itu menyerangnya.


"Kalaupun aku mati, setidaknya aku ksatria dan terhormat. Tidak seperti kalian, beraninya keroyokan. Dasar cemen! PECUNDANG!" bentak Agam.


Agam akan memilih trik untuk bertahan, ia tidak akan menyerang. Agam sadar kekurangan dirinya. Jujur, yang ia takutkan hanya senjata api. Untuk sementara, Agam hanya perlu membuat mereka kewalahan, dan masuk kembali ke dalam mobil saat ada kesempatan.


"Seraaang!" teriak salah satu dari mereka yang membawa pistol.


Bagus, setidaknya mereka tidak langsung menembakku.


Agam bersalto ke belakang guna menangkis dua buah serangan membabi buta yang menggunakan tambang.


"Syut, syuut," suaranya tambang itu terdengar begitu jelas dan memudahkan Agam membaca pergerakannya.


Ada hikmahnya aku belum makan, setidaknya saat aku bergerak tubuhku ringan, kata Agam dalam batinnya saat ia kembali harus melompat untuk menghindar.


"Lawan kami bodoh! Kenapa menghindar terus?!" Dua orang yang membawa tambang mulai kewalahan.


"Kalian yang memegang pisau, maju! Sekaraang!" teriak pria yang memegang senjata api.


"Hiyaaat." Dan merekapun menyerang Agam. Kini satu lawan lima.


Lagi, Agam tidak menyerang, ia hanya mengelak dan menghidari sabetan pisau yang bagian tajammya tampak mengkilat.


"Kena kau!" kibasan tajam mengilat itu hampir saja mengenai pipi mulusnya, dan Agam bereaksi kesal. Ia paling tidak suka wajahnya terluka. Spontan dengan gerakan cepat ia menangkis pisau itu lalu menendang sikut pemiliknya dengan kekuatan penuh.


"PUGH." Diikuti teriakan melengking dari pria itu.


"Syung," pisau itu terbang dan jatuh tepat di atap mobil Agam hingga menimbulkan bunyi "TAK," yang cukup keras.


"Ilmu kanuragannya ternyata bukan isapan jempol. Ayo kita serang dia ramai-ramai, jangan beri celah. Semua, majuuu!"


Lima orang itu maju serempak menyerang Agam, mengayungkan tambang dan pisau tanpa mengenal kata ampun. Sambil berkelit dengan keahlian beladirinya Agam memainkan teknik cantik. Ia fokus menghindari pisau dan sabetetan tambang yang akan menyerang wajahnya selebihnya ia membiarkan punggung dan perutnya tercambuk tambang-tambang itu.


Agam pernah dicambuk dengan tambang seperti itu saat ia berguru di sebuah padepokan beladiri, jadi tubuhnya tidak kaget.


Oh, sial. Aku lapar. Batin Agam.


"Kalian bisa tidak?! Dasar payah! Dasar tidak becus!" musuh yang memegang senjata api kini tengah bersiap membidikan senjatanya untuk menghabisi Agam yang saat ini masih bergulat dan bergumal dengan lima orang kawanannya.


Agam mulai meradang, tubuhnya mulai panas, dan perutnya semakin kelaparan. Percayalah orang lapar bisa marah. Nah, begitupun dengan Agam. Dengan gerakan terlatih, Agam melompat ke arah musuh yang perawakannya paling kecil. Ia menarik, dan memitingnya untuk dijadikan tameng dan sandra.


"Aww, addaw!" pria itu mengaduh saat tubuhnya digunakan oleh Agam untuk menahan serangan.


"Hhh, berani sekali kalian! Dasar nyamuk!" kata Agam.


"Hiyaaa," teriakan Agam begitu panjang seiring gerakan cepatnya melempar musuh itu kepada penyerang yang lain. Ia berusaha bergerak cepat agar fokus musuh yang membidikan senjata terpecah atau gagal fokus.


"Brugh."


Satu musuh tumbang tak berdaya terjatuh rapuh merusak kumpulan bunga yang berada di sisi taman. Empat orang yang lain masih berusaha menyerang.


"Tidak perlu banyak drama, kita tembak saja dia!"


"Masalahnya ini sedikit sulit, bagaimana kalau kita salah sasaran. Dia mahir sekali bersembunyi dan berkelit di balik punggung teman-teman kita, bagaimana ini bos?"


Sebelumnya, saat pisau terjatuh di atap mobil, Linda terbangun. Suara itu cukup keras dan membuatnya terjaga.


Ia mengucek matanya karena pencahayaan di luar mobil tampak remang-remang, jalananpun sepi. Tidak ada kendaraan yang melintas. Mungkin karena hari menjelang tengah malam. Sementara mobil Agam terparkir sekitar 10 meter dari bahu jalan.


Linda terkejut menyadari jika Agam tidak ada di sampingnya, namun mesin mobil masih menyala. Agam memang sengaja tidak mematikannya demi kenyamanan Linda.


Kemana dia ya?


Linda mengedarkan pandangan. Terkejut bukan kepalang saat melihat adegan mengerikan di belakang mobilnya.


Apa?!


Ia terkerjut, langsung menutup mulutnya dengan mata membeliak. Jantungnya berdegup, batinnya bergemuruh. Dengan mata kepalanya ia melihat Agam dikeroyok. Walau penerangan di samping taman itu tidak begitu jelas namun ia melihat jika Agam mendominasi. Beberapa kali tendangan Agam tepat sasaran hingga lawannya terjungkal.


Tidaaak, Pak Agaaam ....


Linda histeris saat Agam kaki Agam berhasil ditarik oleh pria yang sebelumnya tersungkur. Ternyata pria itu pura-pura tak berdaya, tapi saat Agam mendekat ke arahnya kaki Agam ditarik.


Agam terjatuh tertelungkup, bersamaan dengan gerakan empat orang musuh yang menindih punggung dan dan mencekal kaki Agam. Salah satu dari mereka menarik tangan Agam ke belakang, dan pria yang tadi menjatuhkan Agam lansung menyerang pungung Agam dengan tambang. Beberapa kali tambang besar itu mendarat di tengkuknya.


Linda menangis seketika, tubuhnya gemetar. Ia berharap ini mimpi, namun ia kesakitan saat mencubit tangannya sendiri.


Tidaaak, ini bukan mimpi. Apa yang harus aku lakukan?


Di tengah kegugupannya ia memutar otak. Segera mengambil ponselnya untuk meminta bantuan polisi dan melakukan panggilan darurat.


Siaal!


Bahkan nomornya tidak bisa digunakan untuk menghubungi polisi. Ya, ia memang hanya bisa berkomunikasi dengan Agam. Ia mengambil ponsel Agam.


Siaal!


Tentu saja terkunci.


Ya Rabb, bagaimana ini?


Ada rasa takut yang teramat mendalam, ia merasa hatinya disayat-sayat saat melihat Agam berusaha menghindar agar cambuk tambang itu tidak melukai wajahnya. Agam terlihat membenamkan kepalanya kuat-kuat pada rumput yang berada di disi taman.


Dia harus baik-baik saja. Harus! Aku harus melakukan sesuatu. Tekad Linda dalam batinnya.


"Aaargh, cepat tembak saja aku! Para pecundang!" teriak Agam.


Ia menantang dengan garangnya. Padahal kondisinya saat ini begitu mengkhawatirkan. Ya, Agam memang kuat. Namun jika ditindih oleh empat orang kekar dan besar seperti itu, sekuat apapun dia yakin akan tumbang karena bobot mereka tidak seimbang.


Dua orang yang memegang senjata api maju. Mereka mendekat dengan slengean, sadar target mereka di ujung tanduk.


"Wah, wah, wah. Bagaimana rasanya tidak berdaya direktur tampan?"


Seorang pria bersenjata api menjambak rambut Agam dan mendongakan kepalanya, lalu menekan dagu Agam dengan moncong pistol.


"Le-lepaskan tangan kotor kalian dari kepalaku." Dengan suara tersendat karena menahan sesak akibat ditindih, Agam masih berusaha berbicara.


"Hahaha, sombong sekali! Lihat kawan, bahkan di tempat remang-remang saja, direktur utama HGC ini tetap terlihat tampan." Ia mengusap pipi Agam dengan moncong pistol. Rekannya yang lain tertawa melihat adegan itu.


"Si-siapa yang menyuruh kalian, hahh?!"


"Kami tidak akan buka mulut, cluenya adalah Anda kenal dengan bos kami. Ahahaha."


"Siapa?! Katakan namanya!" teriak Agam.


"Berani kamu berteriak ya! Padahal tidak berdaya! Lancang!"


"PLAK." Ia menampar pipi Agam. Agam mengeraskan rahangnya.


"Hahaha, tamparan kamu bahkan ti-tidak lebih sakit daripada dipotong ku--." Agam sedikit terkejut, sepintas sudut matanya melihat jika mobilnya bergerak maju.


Linda? Apa dia akan kabur?


Batin Agam berkecamuk. Namun ia berusaha tetap tenang.


"Kenapa kalian menginginkan LB? Darimana kalian tahu kalau LB ada padaku, hahh?"


"Kita akan membunuh LB."


"Apa?!" Agam terkejut.


Seorang pria yang menindih Agam di bagian kaki langsung menonjok teman yang menjawab tersebut. Ia geram, karena temannya tidak bisa menjaga rahasia.


"Ma-maksud saya, ki-kita mau membawa LB kepada sesorang untuk dijadikan istri." Pria itu melarat jawabannya sambil mengusap bibirnya yang pecah.


Agam menautkan alisnya bersamaan dengan keterkejutan para penjahat termasuk Agam karena mendengar suara mesin mobil. Mereka mengalihkan pandangan pada mobil Agam yang berputar haluan. Hingga kini lampu jarak jauh dari mobil tersebut terfokus pada mereka. Sangat menyilaukan hingga mereka menyipitkan mata.


Apa yang akan kamu lakukan, Linda? Agam khawatir.


"Bos, apa yang harus kita lakukan?! Bos LB ada di dalam mobil itu! Itu LB!" teriak penjahat yang memegang pistol.


Ya, Linda beraksi.


Karena tidak bisa menghubungi polisi, Linda akhirnya hanya bisa mengandalkan kemampuannya dalam mengemudi. Ia terhenyak saat melihat dengan jelas bagaimana Agam ditindih oleh empat orang, ditodong senjata oleh dua orang, dan satu musuh tersungkur tapi tetap memegang kaki Agam.


Terlihat jelas Agam menyipitkan mata, namun Linda tahu jika pria itu benar-benar tenang, tak ada raut ketakutan sedikitpun pada wajahnya.


Dia bisa setenang itu? Ini gila, dia bahkan tersenyum. Linda tak habis pikir.


Agam tersenyum karena bisa membaca apa yang akan dilakukan oleh Linda. Semoga apa yang dipikirkan Agam tidak meleset. Dan ....


"BRUUUM," benar saja apa yang ada di benak Agam valid. Linda meginjak gas dan mengarahkan kemudi pada pria di depan Agam yang tengah memegang senjata.


"Bos! AWAAS!!!" teriak penjahat yang menindih Agam.


Spontan dua orang yang menindih berdiri dan melompat ke samping. Mereka ketakutan mobil itu menabrak mereka. Gerakan mereka bersamaan dengan gerakan Agam yang segera berguling saat merasakan beban di punggungnya berkurang.


Penjahat yang memegang pistolpun berhambur dan ....


"DOR," satu orang bersenjata itu menghindar sambil melesatkan peluru pada arah kemudi. Linda terkejut spontan ia melepas setir dan menjatuhkan tubuh ke samping untuk menghindari peluru.


"Ya Rabb!" Linda bergumam lalu memanggil nama Yang Maha Kuasa.


"PRAK." Terdengar suara kaca mobil pecah.


Tidaaak.


Ia tidak mau terjadi apa-apa pada wanita yang tengah mengandung buah cintanya. Buah cinta yang faktanya berawal dari sebuah nasfu, emosi, dan perasaan sakit hati. Mobilnya yang ini tidak tahan peluru. Jadi, Agam panik dan khawatir.


Tidak seperti musuh yang menghindar, Agam justru menghadang mobil itu. Matanya fokus pada kemudi. Ia lemas melihat Linda tidak ada di belakang kemudi. Pikirnya Linda sudah terkapar terkena peluru dan bersimbah darah.


Namun matanya membulat seketika saat melihat sosok molek yang selalu membuatnya berdesir dan berdegup itu kembali muncul di belakang kemudi saat jarak antara tubuhnya dan mobil yang melesat sudah begitu dekat.


"AWAAAS!" teriak Linda.


Linda cepat-cepat banting setir saat melihat orang yang akan tertabrak justru adalah pria yang ingin ia selamatkan.


Para penjahat menganga, mereka berpikir akan menjadi saksi bisu bagaimana sang direktur utama HGC Agam Ben Buana tewas terlindas oleh mobilnya sendiri.


Namun apa yang terjadi?


Saat Linda banting setir, Agam justru melompat ke depan kemudi dan bergelayut berdampingan dengan wifer. Linda terkejut, dan saat ia masih panik tingkat dewa, tangan Agam menerobos begitu saja pada kaca yang bolong akibat peluru guna memegang kemudi dan membantu Linda mengusai pergerakan mobil.


"Aaaa," teriak Linda.


Ia tak kuat melihat tangan Agam berdarah. Sayup-sayup Linda mendengar Agampun berteriak kepadanya.


"Tolong tenang! Mundurkan mobilnya! Saya yang memegang setirnya," kata Agam.


"I-iyaa," cicit Linda.


"Kejaaar! Mereka akan kabur."


Bos penjahat baru tersadar. Mereka kemudian berlarian ke arah mobil.


Dan saat mereka berlari satu orang penjahat kembali melesatkan tembakan sembarang ke arah mobil Agam.


"DOR."


Kali ini mengenai badan mobil. Linda semakin panik. Ia terus mundur-dan mundur. Namun tiba-tiba ....


"BRAKK." Agam mononjok kaca mobil bagian depan.


"Aaaa," Linda kembali berteriak.


"Buka pintunya! Saya akan masuk," ucap Agam.


Sementara sang mobil masih berjalan mundur dengan laju tak beraturan, dan dua mobil penjahat sudah mengejar. Segera Linda membuka pintu.


Karena panik Linda malah membuka pintu di sisi kemudi. Saat pintu terbuka, Agam merayap ke atap mobil, lalu memegang spion, dan memutar badannya.


HAP, ia berhasil masuk dan menghimpit Linda pastinya.


"Awwhhh," kata Linda.


"Cepat geser! Ini tidak cukup!" teriak Agam.


Agam meringis karena badannya terhimpit di antara Linda dan pintu. Sementara tanganya masih bekerja sama dengan Linda untuk mengatur kemudi.


"Su-sulit, Pak."


Linda panik dan gugup. Ia dan Agam begitu dekat. Tidak, tidak, ini bukan dekat. Tapi menempel. Aroma tubuh Agam bahkan sudah menguar memenuhi indra penciuman milik Linda.


Panik dan gugup ternyata tidak hanya dirasakan oleh Linda, Agampun merasakan hal yang sama.


"Geser cepat! Saya tak bisa menahan lagi. Jangan sampai tubuh saya menindihmu dan melukai bayi kita, ma-maksudnya bayi saya."


"Ba-baik."


Dengan susah payah Linda mengangkat tubuhnya, saat ada celah Agam langsung duduk, namun ternyata Linda kesulitan bergeser. Pahanya tertekan kemudi dan slip.


Alhasil Linda kembali terduduk di kursi kemudi.


"Emmh," matanya membulat.


Sementara Agam langsung mengatupkan bibirnya agar tidak bersuara.


Ya benar, Linda duduk di pangkuan Agam. Dan keduanya terpaksa terjebak di posisi itu. Agam tidak bisa menghindar dan Lindapun tidak bisa lagi mengelak. Rumit, sulit.


"Maaf, ini bukan keinginan saya. Anda sendiri yang membuka pintu kanan."


"Sa-saya panik, jadi membuka yang mudah diraih," ucap Linda dengan suara gemetar.


Agam mengendalikan kemudi sembari terpaksa memeluk Linda. Linda menundukkan kepalanya guna memberi kesempatan pada Agam untuk bisa melihat jalanan dengan jelas.


"Ma-maaf ya ...." Agam segera mengatur kemudi untuk tidak lagi mundur.


"Aaah, ha-hati-hati, Pak." Tak sadar Linda memeluk lengan Agam.


"Te-tenang saja," kata Agam.


Saat ini ia menyetir sambil merasakan kehangatan. Agam bisa menghidu aroma dari tengkuk jenjang itu. Sementara rambut Linda yang tertiup angin sesekali menyapu wajahnya.


"Sreet."


Agam berhasil menukikkan ban belakang mobil ke jalur kiri saat luput dari tembok pembatas, sedari awal ternyata Agam telah bersusah payah untuk menemukan celah itu.


"Syuung."


Ia mengatur kemudi maju, dan injak gas untuk melesatkan mobil di lajur yang seharusnya.


Para penjahat terkejut, mereka tak menduga dengan gerakan mobil Agam.


"Oh siaal!"


Mereka tidak bisa mengejar di lajur kiri kecuali berputar arah terlebih dahulu atau nekad menabrak beton pembatas jalur yang tentu saja tidak bisa diterobos begitu saja.


Sementara itu Agam dan Linda masih bergelut dengan perasaan masing-masing. Dalam kondisi itu, Agam dan Linda lupa jika kursi kemudi bisa dipundurkan dan Linda bisa berpindah ke sisi kiri dengan leluasa.


Agam manusia biasa, Lindapun demikian. Faktanya Linda memiliki semua hal yang yang diinginkan oleh seorang Agam. Indah, elegan dan sangat cantik. Selain itu, wanita ini juga ternyata pandai dan berbakat di bidangnya.


Naluriah, atau apalah alasannya, Agam tiba-tiba saja memeluk pinggang Linda dengan tangan kirinya. Tangan kanannya masih fokus mengemudi.


Linda terkejut. Napasnya kembang-kempis. Selanjutnya Linda merasakan jika sesuatu yang lembut dan hangat tiba-tiba saja menyentuh tengkuk lehernya, dan tidak hanya sekali kini sentuhan itu terasa lagi dan melekat, semakin melekat. Seirama dengan laju mobil yang melambat dan semakin menepi ke sisi kiri.


Batin Agam panas dan bergejolak. Gila, ia benar-benar berani mengecupi tengkuk indah yang wangi itu dengan lembut dan perlahan. Agam berhenti sejenak guna melihat reaksi penolakan.


Tapi ... tiga detik telah berlalu dengan sia-sia.


Pemilik ceruk indah itu sepertinya bergeming. Antara kaget dan memilih diam, atau bisa saja berarti tidak menolak.


Bu Linda, maaf ....


Agam menghentikan kemudi. Kedua tangannya kini melingkar di pinggang Linda, lalu ia kembali mengecupi ceruk leher yang indah itu dengan lembut dan hati-hati. Mencium aromanya dan menikmati kehangatannya. Sebuah kehangatan yang teramat sangat ia rindukan untuk menyamankan hatinya yang beku.


Pak Agam ..., lirihnya dalam hati.


Linda bingung. Kenapa ia hanya diam saja? Kenapa ia malah merasa nyaman?


Dan ....


Dan ia ingin mengatakan sesuatu.


Sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana dan mudah diucapkan.


Linda ingin mengatakan ....


"Ahhh ...."


"Pak Agam, ja-jangan."


Namun ....


Lidahnya mendadak kelu, dan tubuhnya mendadak kaku tapi hangat, bahkan berdesir-desir dan memanas.


Ohhh no ....


Linda kesulitan menolak kehangatan.


Agam kesulitan menolak keindahan.


Keimanan mereka tengah diuji.


❤❤ Bersambung ....


...-----...


...Mari berdoa sejenak untuk pahlawan kita yang gugur di KRI Nanggala-402 😥😭...


...Semoga mereka syahid dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran....


...Aamiin....


...Alfatihah .......


...Terima kasih dan doa terbaik untuk TNI AL bersama Polri, Basarnas, KNKT dan BPBD, serta aset-aset negara sahabat, seperti Australia, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia yang telah berupaya semaksimal mungkin untuk mencari keberadaan KRI Nanggala....


...-----...