
Senja berubah drastis setelah Mister X menyatakan cinta beberapa jam yang lalu. Saat itu dengan polosnya ia mengatakan ....
"Mau."
Lucunya, hanya satu kata itu yang terucap dari bibirnya. Setelah itu, ia lantas berlari ke kamarnya. Karena sudah cukup lama di rumah ini. Senja sudah hafal ke arah mana ia harus berlari.
Percayalah, setelah mendengar ucapan Senja, Mister X langsung salto. Lalu mengangkat tangan ke udara dan mengucapkan 'yes yes yes.'
Saat ini, pria yang dikenal sebagai pangeran yang terbuang oleh kawanan anonymous itu sedang menggangti pampres bayi Keivel. Bayi yang kegiatannya tidur dan mimi susu perah itu rupanya pup. Bayi tampan itu senyum-senyum kala merasakan popoknya diganti. Namun matanya masih terpejam.
Senyuman itu jua seirama dengan senyuman dari bibir indah di balik masker Mister X. Ya, Mister X juga senyum-senyum karena teramat bahagia. Sekarang, ia dan Senja adalah pasangan kekasih. Mister X mengganti popok menggunakan sarung tangan medis.
"Hei, milikmu bangun, Kei. Hahaha, apa ini lebih besar jika dibandingkan dengan milik bayi seusia kamu? Hahaha." Entah apa yang ia bicarakan. Yang jelas tawanya terdengar renyah sekali.
"Mungkin diturunkan dari gen papa kamu, emm ... maksudnya paren kamu. Haha haha haha. Aduh maaf ya Kei. Aku tidak sedang meledekmu. Sumpah, aku sedang memujimu." Mister X sedikit kaget karena Keivel membuka mata dan mengoceh ala bayi.
"Hom hom hum oem," kata Keivel. Hanya Keivel dan sesama bayi yang tahu.
"Hahaha, apa? Kamu mau tahu juga tentang milikku?"
Mister X mengartikan sendiri bahasa Keivel. Padahal, iapun tak tahu apa yang dibicarakan bayi itu.
"Hahaha, milikku terkenal ke seluruh dunia mempunyai ukuran paling besar."
"Hmm hoom," sahut Keivel.
"Apa? Kamu tidak percaya? Hei, kamu harus percaya, Kei. Aku tidak lahir di negara ini. Aku pendatang. Aku lahir di sebuah negara yang berada di Timur Tengah. Seluruh keluargaku ada di sana. Di sini, aku sebatang kara," kata Mister X dengan suara pelan.
"Hoom," sambil pipis, bak air mancur. Lengkungannya maksimal hingga membasahi dada Mister X.
"Hei, Kei! Kalau kamu manusia dewasa, kamu bisa dihukum mati karena berani mengencingi seorang pangeran!" Mister X ribut sendiri.
"Hem hee," pelakunya tertawa. Korbannya langsung berlari untuk ganti baju sambil mengumpat.
"Padahal aku baru saja ganti baju Kei! Dasar bayi! Kalau pup dan pip selalu saja sembarangan!" umpatnya.
Selesai mengganti baju, ia keluar dari kamar dan tak sengaja melihat Senja yang mengendap-endap menuju dapur. Segera mengikuti gadis itu dengan cara mengendap-endap juga.
"Ya ampun, aku sebenarnya malu keluar dari kamar, tapi aku lapar. Aku tidak percaya menerima dia begitu saja. Hmm, tapi tidak apa-apa. Toh, dia baik kok," kata Senja.
"Tapi, kok aku jadi malu ya? Aku jadi takut dan malu saat bertemu dia. Bagaimana ini?" tambahnya sambil memakan kerupuk yang ada di atas meja makan.
'Krauk, krauk.' Suara kunyahan Senja.
Oiya, seluruh perlengkapan makan di kediaman Mister X telah diganti oleh stainlis steel. Ini dilakukan Mister X untuk mengurangi risiko kecelakaan pada Senja. Akan berbahaya jika terbuat dari kaca. Karena saat gelas atau piring jatuh, gadis itu bisa saja terluka.
Tadinya Mister X mau lanjut mengintip Senja. Tapi teringat Keivel. Segera berlari ke ruangan tempat Keivel.
"Ke-Keivel?!"
Membelalak lensa mata indahnya karena Keivel tidak ada di tempat.
"Tidak!"
Segera ke ruang kerja untuk mengeceknya melalui kamera pengintai dengan jantung berdegupan karena ia sama sekali tidak mendengar bunyi alarm tanda bahaya.
"Keiveeel!" geramnnya.
Mister X menghela napas lega. Ternyata Keivel begerak-gerak hingga selimutnya menutupi seluruh tubuh. Lalu tidak ada lagi pergerakan, kemungkinan bayi itu tidur setelah tertutup selimut.
"Hampir saja."
Ia mengusap dadanya. Lalu kembali ke kamar Kivel. Dibukanya perlahan selimut halus nan tipis itu sambil tersenyum. Karena otaknya dipenuhi oleh bayang-bayang Senja, ia sampai tak terpikirkan kalau Keivel tertutup selimut.
Benar saja, bayi menggemaskan itu ternyata tidur kembali setelah popoknya diganti. Sementara bibir mungilnya yang berwarna merah itu terlihat terus melakukan gerakan minum ASI. Mister X mengecup kening dan pipi Keivel seraya bersyukur. Ia teramat bahagia karena Keivel baik-baik saja.
"Hebat kamu ya, masih bayi tapi sudah berhasil menipuku," gumamnya. Kemudian kembali ke dapur untuk mengintip kembali si tambatan hati yang saat ini telah sah menjadi kekasihnya.
Yang diintip masih makan kerupuk sambil melamun dan senyum-senyum.
"Ehm, ehm." Mister X berdeham, mendekat. Senja terperanjat kaget.
"K-kamu?" Memutar tubuhnya mencari asal suara.
"Aku ada di kananmu," kata Mister X.
"Emm, aku ... aku ...."
Senja gugup. Sungguh, lebih baik jadi teman daripada jadi pacar. Segera berdiri, ia ingin menghindari Mister X.
"Senja, mau kemana? Ayo kita makan." Mister X memegang tangan Senja.
"A-aku gugup. A-aku juga tidak tahu kenapa jadi begini," keluhnya. Pipi Senja merona.
"Hahaha, kamu baru pertama pacaran?"
"I-iya," jawabnya sambil menunduk.
"Hmm, berarti kamu harus latihan dulu," goda Mister X.
"M-maksudnya?" Senja menoleh, tapi langsung menunduk lagi.
"Ya latihan pacaran lah." Mengulum senyum. Senang rasanya bisa menggoda Senja.
"Memang harus ada latihannya?"
"Ada dong," semakin semangat mengerjai Senja.
"Begini caranya." Meraih tangan Senja. Benar saja, gadis itu memang tengah gugup. Tangannya terasa dingin.
"Karena kita pacaran kita boleh pegang-pegangan tangan."
"Hahh? Ma-masa sih? Bukannya tidak boleh ya?" Senja menautkan alisnya.
"Emm, sebenarnya tidak boleh sih. Tapi tujuanku melakukan ini demi kebaikan hubungan kita. Maksudnya supaya aku tidak memegang tangan gadis selain tangan kamu." Lalu menarik maskernya ke atas dan mengecup punggung tangan Senja.
"Iyy, k-kamu? Kamu apakan tanganku?!" Senja kaget. Spontan menepisnya.
"Hahaha, tenang, itu hanya awal mula. Kulitmu tidak akan lecet. Karena kita sudah pacaran, kamu juga jangan memanggilku Exam lagi. Harus ada panggilan khusus."
Senja menyimak. Pipinya masih saja merona. Mister X jadi gemas. Rasanya mau menggigit pipi gadis itu tapi ia tahan-tahan.
"Mulai hari ini panggil aku kakak, mau?"
"Ka-Kakak? Ha-haruskah?"
"Haruslah, lagipula aku lebih tua dari kamu, ya 'kan?"
"Emm," Senja masih ragu.
"Lalu ada hal lain lagi."
"A-apa itu?"
"Aku harus menciummu sebagai bukti tanda jadi kalau kita sudah pacaran." Akal bulus mulai berjalan. Mungkin sudah lama Mister X memendam keinginan itu.
"Hah? Ma-masa sih? Ci-cium tangan?" tanya Senja.
"Bukan, biasanya cium di sini." Sambil meletakan jari telunjuk di bibir Senja dengan sedikit gemetaran. Ya ampun, sang pangeran ternyata sedikit nakal. Dikira cupu, ternyata pura-pura lugu.
"A-APA?! Tidak! Itu tidak masuk akal! Aku menolak!" protes gadis itu. Bahkan sambil bergidik ngeri.
"Hahaha."
Mister X terbahak. Jujur, ia juga belum pernah melakukannya. Kenapa? Karena sebelum niatnya mencium sang kekasih terlaksana, kekasih lamanya telah meninggal dunia terlebih dahulu.
Ssst, namun jangan dikira jika dia tidak bisa melakukannya. Dari mana Mister X belajar? Bukan dari film bukan pula dari drama. Ia bukan pria yang suka menonton film, drama, opera, pertunjukkan dan sejenisnya. Lalu, dari mana? Jawabannya adalah dari hasil pencitraan kamera CCTV yang ada di ruang kerjanya.
"Aku pergi!" kata Senja. Tak guna pikirnya dekat-dekat Exam karena tak baik untuk irama jantungnya.
"Hei, Senja tunggu!"
"Tidak mau, Exam, mm ... maksudku Kak," tolaknya. Senja cemberut. Ia mengira Mister X sering melakukan lip kiss dengan mantan kekasihnya.
"Senja, maaf. Aku bercanda kok. Kalau kamu tidak mau ya jangan." Mengikuti Senja.
"Kakak menjijikkan! Jorok!" Lagi, Senja bergidik.
"Menjijikkan? Maksudmu?"
"Kakak sering berciuman 'kan? Artinya Kakak sering bertukar saliva dengan pacar-pacar Kakak yang sebelumnya! Nah, menurutku kegiatan itu sangat menjijikkan dan jorok! Iyy, membayangkannya saja aku jadi mual!" tegas Senja.
Tadinya Mister X mau mengejar Senja. Namun tiba-tiba ada pesan dari sesama rekan anonymousnya. Pesan itu berupa perintah agar bayi Keivel segera dikembalikan ke rumah Agam Ben Buana.
"Akhirnya," katanya. Misi menjaga bayi istimewa selesai juga.
...❤...
...❤...
...❤...
Akhirnya Pak Dirut bisa terkapar jua. Saat ini, ia masih memeluk Linda yang terlihat lemas tak berdaya.
Agam senyum-senyum, tak menyangka jika istrinya akan segarang itu saat terpengaruh obat. Linda memimpin permainan dengan handalnya. Ia memegang kendali dengan segenap gaya, pesona, dan keindahannya.
Untung saja Pak Dirut itu sangat perkasa. So, dia bisa meladeni dan mengimbangi kegilaan Linda tanpa kesulitan. Yang ada Pak Dirut justru kesenangan.
"El?"
Agam mengelus tubuh aduhai itu penuh perasaan. Kegiatan tadi terus terbayang. Entah seperti apa respon Linda jika ia melihat kembali adegan itu. Ya, sabuk ajaib Pak Dirut telah merekam seluruhnya.
"Bangun sayang," bujuknya.
"Hmm, aku lelah sekali Pak ...." Rasanya tidak bisa bangun," keluh Linda.
"Hahaha, apa tadi kamu tidak sadar?" tanya Agam sambil mencium gemas pipi Linda yang merona.
"Emm, enam puluh persennya aku sadar. Sisanya, aku juga tak tahu," menjawab sambil malu-malu. Linda ingat benar tadi sempat mengikat tangan suaminya dengan dasi dan menutup mata Agam dengan baju miliknya. Tadi itu ... Pak Dirut seperti mainannya.
"Tapi sayang, kamu gagal membuat saya pingsan," goda Agam.
"Ish," Linda cemberut.
"Jujur sayang, kamu sudah berhasil membuat saya lemas. Tapi kalau sekarang kamu mau lagi, saya bisa, kok."
"Sudah ah Pak, jangan bahas itu lagi." Memejamkan kembali matanya.
"Sayang, kita harus pulang. Yang lain sudah menunggu kita sedari tadi."
"A-apa?! Yang lain?"
Ting, Linda akhirnya ingat pada pak Yudha dan kawan-kawan.
"Aaaa," teriak Linda. Menyembunyikan kepalanya di dada Agam.
"Hei, kenapa sayang?"
"Pak, aku malu. Bagaimana aku bisa bertemu pak Yudha dan yang lainnya?"
"Hei, kenapa harus malu sayang? Saat kita bercinta. Mereka bahkan menjaga dan menunggu kita."
"Hah? Ya ampun, aku malu sekali, Pak. Apa suaraku terdengar keluar?"
"Tidak sayang, kamar ini ada peredamnya. Tapi saat kamu menggigit saya, emm ... bisa jadi suara saya terdengar keluar," candanya.
"Apa?! Memangnya aku menggigit Bapak? Aku tidak ingat tuh," sangkal Linda.
"Lihat ini," Pak Dirut membuka selimut.
"Ya ampun!"
Linda melongo. Kulit mulus Pak Dirut ternodai. Linda sampai menyuruh Agam tertelungkup untuk mengeceknya, dan benar saja, punggung rupawan itupun tidak mulus lagi. Ada bekas sisa-sisa cakaran Linda yang masih memerah.
"Pak, maaf ya." Linda merasa bersalah.
"Tidak apa-apa sayang. Tenang saja, saya akan memanggil dokter kulit untuk mengatasi masalah ini. Selebihnya, apa yang kamu lakukan benar-benar membuat saya sangat puas. Terima kasih ya istriku," ucapnya seraya menghujani wajah Linda dengan kecupan.
Lalu ada telepon dari Pak Yudha yang berisi informasi jika baju ganti untuk Linda dan Agam telah disiapkan.
Selesai mandi dan tentu saja bersuci, Agam dan Linda keluar dari kamar. Karena malu, Linda memakai masker dan topi yang menutupi seluruh wajah cantiknya. Sementara Agam tetap santai seolah tidak pernah terjadi apapun.
.
.
"Pak, setelah ini, tidak akan ada masalah lagi, kan?" tanya Linda.
Ia menyandarkan kepalanya di dada Pak Dirut. Mereka telah berada di dalam mobil menuju jalan pulang. Yang jadi pengemudinya pak Yudha. Vano dan Aiptu Joey telah pulang terlebih dahulu bersama para pelaku penculikan berikut dalangnya.
"Semoga saja El. Oiya sayang, kata Vano, tuan Reynaldi tadi tiba-tiba pingsan dan sekarang belum sadar juga."
"Kok bisa?" Linda heran.
"Kata dokter penyebabnya karena trauma kepala. Emm, dan polisi tahu kalau saya yang menendang kepalanya."
"Ya sudah Pak. Itu balasan untuk manusia keji dan bejad seperti dia."
"Semoga saja dia cepat sadar dan bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya," harap Agam.
"Kita mau pulang ke mana, Pak?"
"Ke rumah ibu sayang. Keivel juga sudah ada di rumah. Kata tuan Yohan, ibu saya sudah dia antar sampai rumah. Karena tidak ada yang menjemput ibu ke bandara, dia inisiatif menganar ibu."
"Wah, berarti Keivel sudah bertemu ibu?" Linda sumringah.
"Iya sayang, sudah. Nih, saya dapat kirima foto dari bu Ira." Agam memperlihatkan galeri ponselnya pada Linda.
Terlihat bu Nadia tengah menangis sambil memeluk Keivel.
"Alhamdulillah, aku bahagia sekali, Pak."
"Ya sayang. Alhamdulillah, semoga ke depannya tidak ada masalah lagi."
"Oiya Pak, kalau Hikam bagimana?" Linda tiba-tiba teringat pada Hikam.
"Emm, kabar terbarunya dia sudah dirawat di ruang perawatan biasa. Tenang sayang, ada dokter Rita yang menjaga Hikam. Saya rasa mereka memiliki perasaan satu sama lain."
"Be-benarkah? Wah, aku jadi terharu Pak. Semoga saja dugaan Bapak benar, hehehe."
"Ya sayang, saya juga bahagia karena yang menyukai kamu jadi berkurang satu orang." Sambil memijat hidung Linda.
"Oiya Pak Yudha, aku hampir lupa. Terima kasih ya Pak. Bapak sangat luar biasa," puji Linda.
"Saya tidak pantas dipuji Bu. Karena semua yang terjadi hari ini berasal dari kesalahan saya," lirih Pak Yudha.
"Tapi tetap saja Pak Yudha hebat." Linda masih memuji.
"Sayang, kamu tidak beterima kasih pada suami kamu?" sela Agam.
"Tidak perlu ah," ucap Linda sambil mengulum senyum.
"Ck, nakal!"
"Anda kan sudah dapat imbalannya, yang tadi itu anggap saja sebagai imbalan dari," bisik Linda.
"Hah hahaha," Pak Dirut tertawa lepas.
"Hahaha," Pak Yudhapun turut tertawa. Padahal tidak tahu-menahu. Hanya turut meramaikan saja.
"Pokoknya aku tidak mau ada ketegangan lagi, Pak. Aku lelah. Maunya bahagia terus," harap Linda.
"Kalau tidak ada ketegangan kamu yakin akan bahagia?" Bisik Agam.
"Apa? Ya bahagialah," jawab Linda sambil berpikir. Karena wajah Agam bersemu merah saat mengatakan kalimat itu.
"Saya yakin kamu tidak akan bahagia jika tidak ada adegan ketegangan dan kekerasan." Pak Dirut berbisik lagi.
"Aku tak faham maksud Anda."
"Hmm, ya sudahlah. Tak perlu dibahas. Mungkin dengan dipraktikkan kamu baru akan faham."
Linda terkekeh sambil memukul bahu suaminya.
Perjalanan ini dipenuhi canda-tawa, lalu diselingi adegan Linda tidur di pangkuan Agam. Hingga akhirnya merekapun tiba di tempat tujuan. Linda dan Agam bergegas. Mereka sudah tak kuasa ingin mencurahkan kerinduan pada Keivel, juga pada bu Nadia.
...~Tbc~...
...Yuk komen yuk!...
...Punten, nyai masih ada acara bongkaran rumah, akibatnya telat mengintai AGAPE. Mohon maklum dan dimaafkan....