
"Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih atas kedatangan calon istri saya di tempat ini," katanya.
Mata Agam beredar memandang jauh ke depan sana. Para hadirin melongo. Linda gemetaran. Jantungnya kian berdegup tidak karuan. Jangan sampai pria itu nekad pikirnya.
"Wah, beruntung sekali ya yang akan jadi calon istrinya," sela Linda.
"Huuhhh," langsung dijawab sorakan mengejek dari para pendemo, lagi-lagi dari barisan paling depan.
"Harap tenang," teriak pemimpin demo.
"Pak Agam belum selesai bicara," seru seorang petugas dengan suara yang menggelegar.
"Baik saya lanjutkan ---."
"Pak, calon istrinya yang mana? Di mana?" Belum juga Agam melanjutkan, sudah disela oleh teriakan itu.
"Harap tenang." Lagi, imbuhan peringatan.
"Calon istri saya, ada di ---, di hati saya."
"Huuuh, Pak Dirut gombal nih," teriak seseorang.
Agam hanya tersenyum, sekilas ia melirik Linda. Wanita itu tampak melamun dan menghela napas. Mungkin Linda lega karena Agam tidak mengatakan serius tentang calon istrinya. Ya, jika Agam mengatakannya sekarang, sama saja dengan bunuh diri
"Baik, untuk menyikapi berita tentang bintang baru yang menjadi brand ambassador produk HGC, saya pribadi tidak akan ikut campur untuk urusan pribadinya. Karena yang kami tahu saat LB menjadi kandidat untuk proyek iklan ini, dia baik-baik saja dan berprestasi."
"Berarti dia menipu dong, Pak?" protes seorang pendemo.
"Tidak, saya pribadi tidak merasa ditipu, sebab dia bekerja profesional. Respon publikpun baik, saham HGC naik," terangnya. Agam berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki citra Linda.
Walaupun Agam tidak mengakui skandalnya bersama LB, tapi setidaknya ia sudah berusaha mendorong opini publik ke arah yang lebih positif.
"Saat LB jadi bintang iklan berarti LB sudah hamil, Pak. Bukankah bintang HGC tidak boleh hamil selama masa kontrak?" tanya yang lainnya.
Demo kali ini mirip sebuah preskon. Uniknya, masa mulai tenang, dan Linda tidak henti melemparkan senyum pada semua orang.
Pada saat seperti ingin rasanya ia memanggil fansnya. Followers Linda di media sosial sebenarnya berjuta-juta. Tapi, kemanakah mereka? Linda jadi sadar jika followersnya bisa jadi adalah hattersnya.
"Ya, benar. Tapi, pada saat wawancara untuk proyek iklan itu, kami memang tidak membahas tentang kehamilan. Kenapa? Ya, karena yang kami tahu El itu ... emm maksud saya LB, belum menikah," kata Agam.
"Terus bagaimana iklannya Pak? Kami minta LB diganti, dan iklan itu tidak ditayangkan lagi. Kami tidak sudi memilik publik figur yang pemabuk dan hamil di luar nikah. Ini masalah kesusilaan Pak."
"Benar Pak. Kami sebenarnya sedang memperjuangkan keadilan untuk generasi muda dan untuk artis lain yang lebih bermartabat daripada LB. Artis itu bisa jadi panutan bagi para fansnya. Sungguh tak elok jika orang yang berprilaku buruk jadi panutan."
"Ya, ya, ya, setuju."
"Tolong perwakilan saja, bicara satu-satu ya," kata petugas keamanan.
Lalu tiga orang maju. Satu perempuan dewasa, satu remaja laki-laki. Satu lagi wanita dewasa tapi sepertinya masih anak kuliahan.
"Saya perwakilan ibu-ibu, intinya merasa risih dengan sikap HGC yang memberi ruang pada artis tidak beretika untuk jadi bintang iklan. Jika masih ada artis yang lebih baik, kenapa harus LB?"
"Berita itu baru adanya kemarin malam, Bu. Jikapun benar LB bersalah, itu tidak ada hubunganya dengan proyek iklan ini," tegas Agam.
Tangannya yang mengepal ia masukan ke dalam saku. Ingin segera mengakhiri drama ini, tapi ... demi mengabulkan keinginan Linda, apa boleh buat?
"Saya perwakilan mahasiswa peduli bangsa. Kami kecewa karena secara tidak langsung HGC memberikan ruang untuk populer pada LB. HGC yang kami banggakan seolah tiada bedanya dengan kisah anekdot di negara ini. Yang viral karena melakukan kesalahan malah terkenal, yang menghina dasar negara bahkan tidak hafal dasar negara malah bisa jadi duta."
"Pecandu narkoba selama puluhan tahun, malah jadi duta narkoba. Remaja yang merusak bunga langka, malah jadi duta pelestarian, yang melanggar lalu lintas, malah jadi duta lalu lintas. Saya muak!" ucap mahasiswa itu.
"Hei, ini tidak ada korelasinya dengan kasus LB! Kamu salah alamat! Jangan protes pada saya! Silahkan protes pada pihak yang bersangkutan! Bukan pada saya!" Agam mulai terpengaruh.
"Pak tenang, Pak. Di sini banyak media, Bapak harus jaga sikap." Fanny mengingatkan dengan suara pelan. Agam menghela napas.
Lalu sekarang perwakilan pria yang berbicara.
"Saya penggiat media sosial, LB itu pengikutnya di medsos banyak, Pak. Sekarang media sosial sudah hampir tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari. Intinya HGC harus mengambil tindakan tegas pada LB sebagai bahan pelajaran."
"Jangan sampai anak muda atau generasi bangsa berpikir seperti ini, ah untuk apa berprilaku baik? Toh, LB saja yang suka mabuk-mabukan dan melakukan pergaulan bebas aman-aman saja tuh jadi brand ambassador HGC."
Siapa yang mabuk-mabukan?! Siapa yang pergaulan bebas?! Kurang ajar! Batin Agam.
"Sekarang itu banyak artis-artis yang hanya mengedepankan sensasi, gimik, dan settingan daripada prestasi. Adu mulut lah, saling hina lah, bertengkar lah, semua dikomersilkan jadi sebuah acara atau konten yang unfaedah," terangnya dengan nada berapi-api.
Agam geleng-geleng kepala, jujur ia juga tidak suka dengan hal-hal seperti itu. Ya, banyak yang mengatakan 'Ya biarkan saja, itu urusan mereka, tidak perlu ikut campur,' tapi mereka lupa jika pengguna media sosial saat ini dimulai dari usia anak.
Kenapa nilai moral, tata krama, dan atitude generasi saat ini semakin menurun? Menurut berbagai penelitian, salah satu faktor penyebabnya adalah gadget.
Bahkan gadget menjadi faktor utama penyebab menurunnya prilaku tersebut sebelum poin waktu kebersamaan dengan orang tua, stres, sikap orang tua, dan nasihat orang tua.
"Sekarang banyak artis-artis yang dijadikan main leader dan panutan para penggemarnya, kalau artisnya berprestasi ya tidak masalah, lah ini kalau seperti LB bagaimana Pak? Pokoknya kami minta LB diboikot, dan HGC membatalkan kontraknya," tambahnya.
"Sudah cukup, silahkan kembali lagi ke tempat semula. Pak Agam boleh menanggapi sekarang," ucap Fanny.
"Hmm, untuk masalah pembatalan kontrak, saya bagaimana tim pemasaran saja. Saya tidak memiliki wewenang, untuk kalian yang ingin memboikot produk HGC, ya silahkan." Agam sepertinya sudah malas memberikan komentar apapun. Dari awal ia memang terpaksa berpura-pura.
Agam pergi begitu saja dari area itu, meninggalkan LB tentunya. Saat melewati Linda, Agam hanya menatapnya sesaat dan berlalu tanpa mengatakan apapun.
"Pak Agam, Pak Agam." Bersamaan dengan teriakan mereka.
"Tanggapan Pak Agam tidak memuaskan kami, kami kecewa."
Tapi Agam seolah tidak mendengar, ia berlalu saja disusul Fanny dan para staf.
"Pak Agam, apa yakin hanya itu saja tanggapan Bapak?" Sambil mengejar Agam, Fanny mempertegas lagi.
"Yakin," jawab Agam singkat.
Sepeninggal Agam, Linda otomatis sendiri, tapi untungnya banyak pihak kepolisian, jadi untuk masalah keamanan tidak perlu dikhawatirkan. Hal itu jua mungkin yang menyebabkan Agam berani meninggalkan Linda.
"Sekarang tiba saatnya Nona LB berbicara, mohon semuanya tenang, jika ribut lagi atau ada kata-kata yang di luar batas, kami tidak segan untuk menggunakan gas air mata," terang petugas kepolisian.
Dan diantara para petugas itu, faktanya seratus persen adalah fansnya LB. Mereka fans LB saat LB masih menjadi pembawa acara berita. Bahkan tadi, tanpa sepengetahuan Linda, banyak petugas yang memotretnya.
.
.
.
.
Agam tiba di ruangannya. Jiwanya sebenarnya masih berada di sana. Tapi, Agam bukanlah aktor yang pandai berakting dengan menyembunyikan kemarahan dan kecemburuan. Lebih baik ia meninggalkan tempat itu daripada amarahnya meledak.
"Pak Agam, mau makan apa?" Fanny masuk ke ruangannya sambil membawa segelas susu hangat kambing etawa.
"Tidak perlu, cukup susu saja." Agam duduk di sofa, lanjut menyalakan stasiun N&T untuk melihat Linda.
TV menyala, tampak wanita itu sedang diwawancarai polisi.
"Mau saya pijat, Pak? Bapak tampak lelah." Fanny beralih ke belakang sofa, lalu perlahan tangannya merayap ke bahu Agam yang sempurna. Dari arah ini, Fanny bisa merasakan bagaimana keharuman seorang Agam.
"Lepaskan tanganmu." Agam menggedikkan bahunya.
"Pak, saya ikhlas," kata Fanny.
"Saya yang tidak ikhlas! Pergi!" Agam marah dan mengusirnya.
"Baik," Fanny menunduk dan berlalu cepat.
"Berani sekali dia," gumam Agam kesal seraya mengusap bahunya. Pandangannya kembali fokus pada layar televisi.
"Nona LB, silahkan paparannya," kata petugas. Agam memicingkan mata tajam-tajam.
Linda tampak duduk di kursi yang telah disediakan.
"Begini teman-teman, sebenarnya berita yang beredar itu bohong, aku memang pernah ke klub malam, tapi itu hanya untuk mengantar temanku saja. Itu juga hanya sekali. Aku tidak pernah meminum minuman beralkohol. Agamaku melarangnya," terang Linda.
"Semuanya diam! Nona, lanjutkan."
Agam tersenyum melihat ketegasan polisi, dan Agam juga senang karena Linda tidak mengakui bulat-bulat berita itu. Linda mengelak berita yang disebarkan oleh Yohan.
Dan tentu saja saat ini pria bernama Yohan Nevan Haiden tengah fokus juga menyaksikan keterangan Linda dengan wajah memerah.
"Ya, aku memang hamil, tapi ... hamil karena kesalahanku sendiri. Lima bulan yang lalu aku menghina seseorang, aku memakinya, memfitnahnya, mencacinya dengan kata kasar, bahkan aku meludahi wajahnya."
Peserta demo terbengong, Agam terkejut.
"El ...." Lirihnya. Perasaan Agam saat ini sulit didefinisikan.
"Pria itu akhirnya marah, ia tidak terima atas penghinaan dan fitnah itu. Dia melampiskannya dengan memperkosaku. Sebenarnya ... dia adalah pria baik, pria tampan, dan pria istimewa yang baru pertama kalinya aku temukan."
Linda menunduk, airmatanya tampak meleleh saat fokus kamera menzoom wajahnya.
"Ah, paling juga bohongan, tidak perlu menangis LB, kamu pastinya sedang bersandiwara untuk mendapat simpati publik," teriak seserang.
Dan polisi kembali mengingatkan, lalu meminta Linda untuk melanjutkan keterangannya.
.
.
.
.
Pagi beranjak siang, namun antusiasme para pendemo belum surut. Malah tambah ramai.
Dari arah jalan utama tampak ada iring-iringan kendaraan roda empat yang berdatangan, volumenya cukup banyak. Tidak seperti biasanya. Sampai-sampai polisi yang ada di area itu menyetop salah satu kendaraan untuk melakukan pemeriksaan.
"Awalnya aku sangat membenci pria itu, tapi seiring berjalannya waktu, aku tiba-tiba saja sangat mencintainya. Aku bahkan menentang ayah dan ibuku untuk melaporkannya ke polisi karena aku mencintainya," Linda melanjutkan kesaksiannya.
"Huuuh, dasar murahan, wanita gatal, diperkosa kok suka? Hahaha."
"Keenakanan kali ya?"
"Ya benar, lama-lama diperkosa jadi menikmati kali yes? Iyuuh, atau jangan-jangan laki-lakinya pengusaha kaya-raya, jadi lumayan kan untuk menambah pundi-pundi."
"Kok ada sih yang ikhlas diperkosa? Wah wanita tidak benar, nih!"
"Najis sekali artis seperti ini."
Teriakan menyakitkan itu silih berganti, tanpa bisa delerai polisi. Begitu menyakitkan, hingga air mata Linda tak kunjung surut.
"CUKUUUP!!! SEMUANYA DIAAAM!!" teriak petugas.
"Terserah kalian mau percaya ataupun tidak. Aku tidak menuntut ataupun memaksa kalian untuk percaya. Tugasku hanya mengungkap kebenarannya saja, selebihnya terserah pada publik."
"Oiya dalam hal ini HGC tidak bersalah, HGC sudah mengontrakku secara profesional. Di sini ... ya jujur akulah yang salah. Aku tidak mengatakan kalau aku sedang hamil karena aku takut mereka membatalkan kontrak."
"Apa kalian masih ingat? Setelah acara iklan itu aku pernah mengatakan akan vakum dari dunia hiburan. Nah, alasan vakum itu sebenarnya karena saat vakum aku ingin fokus pada kehamilanku."
"Terus, aborsi itu?" tanya seseorang.
"Aku tidak melakukannya, itu fitnah. Aku ke klinik karena aku keguguran, awalnya kehamilanku kembar. Syukurlah Kuasa Tuhan, yang satu lagi bisa dipertahankan sampai saat ini."
.
.
.
"Ada apa ini? Kenapa ramai-ramai seperti ini? tanya polisi pada salah satu pengemudi.
"Pak, ini kami anggota demo juga tapi yang pro LB."
"APA?!"
Polisi itu terkejut, bersamaan dengan masa yang keluar dari iringan mobil secara bersamaan, menyerobot barisan polisi, dan berteriak.
"LB kami di siniii, kami mendukungmuuu!"
"Kita LB FANS CLUB!" teriak masa itu bersamaan.
Mereka menerobos, berlarian memasuki kawasan HGC. Semuanya laki-laki.
"Wah gawat! Ini gawat! Lapor Dan! Gawat Dan! Kondisi siaga Dan! Posisi halaman utama HGC. Kemungkinan akan ada bentrok pro kontra LB," kata petugas itu. Ia berbicara pada handy talky.
Sementara itu, Linda kembali melanjutkan ceritanya.
"Aku siap kalaupun HGC akan membatalkan kontrak iklanku dan mengambil bayaran yang telah diberikan. Aku juga pasrah jika kalian mau memboikotku, ya silahkan saja, tapi jangan sampai kalian memboikot produk HGC, karena di balik produksi produk itu ada banyak orang yang terlibat, dan ---."
"LB kami di siniii."
Suara Linda tercekal oleh teriakan seseorang yang menggunakan TOA. Berasal dari kerumunan paling belakang yang saat ini tengah merangsek ke depan.
Linda kaget. Pun dengan yang lain. Agam dan Yohan dan pemiarsa N&T juga turut terkejut hingga mereka membeliak dan berdiri.
"HEI, MINGGIR KALIAN!" kata pro LB.
"WOY, KALIAN SIAPA!" teriak kontra LB.
"KAMI LB FANS CLUB CLUB."
"APA?!"
"WOY!! ADA PENYUSUP! LB FANS CLUB! SERAAANG!!"
Akhirnya, kekacaun dan keributanpun tidak terelakan. Mereka saling serang. Terjadi baku hantam diantara pekikikkan peluit dan teriaka polisi yang berniat melerai. Belum lagi teriakan para pengunjung HGC yang ketakutan. Jumlah masa yang banyak membuat polisi kewalahan.
Linda mematung. Pendemo wanita berhamburan memasuki lobi. Sementara Linda masih berdiri di podium. Bingung tingkat dewa.
'DOR.'
Bahkan polisi sudah melepaskan tembakan peringatan, namun mereka tidak bisa dilerai semua pihak merasa benar.
Kontra LB merasa benar dengan dalih menyelamatakan moral anak bangsa dari artis yang tidak beretika.
Pro LB merasa benar juga karena mereka merasa ada banyak juga artis yang hamil diluar nikah, mabuk, bahkan menggunakan narkoba, terlibat skandal se-ks, dan terlibat penyebaran vidio asusila tapi tidak di demo seperti ini.
Dan di antara pendemo yang pro LB, ternyata ada sekelompok pengusaha kecil yang terlibat dalam produksi produk HGC. Mereka tidak terima jika fakta tentang LB sampai menghilangkan mata pencaharian mereka karena misi boikot itu.
Ini tidak adil bagi mereka. Mereka yang dimaksud di sini adalah para penyelam yang mengumpulkan sampah dari kedalaman laut dan para pengrajin yang mengolah sampah-sampah tersebut menjadi produk yang bernilai guna dan berhasil guna.
"Kenapa jadi seperti ini?"
Linda menatap pemandangan yang mirip tawuran itu dengan linangan air mata.
Karena masa sudah di luar batas, ditambah polisi yang kalah jumlah, dan masa yang mulai merusak properti milik HGC. Akhirnya gas airmatapun ditembakkan untuk membubarkan masa.
Di tengah kekacauan itu, seorang pria bermasker tiba-tiba saja menarik Linda dan memboyong Linda meninggalkan area itu. Dia membawa Linda seolah tanpa beban.
"Tu-tunggu, ka-kamu ss-siapa?" Linda meronta dalam dekapan sosok itu.
"Kamu tidak mengenali calon suamimu, hah? Dasar nakal, kamu harus dihukum. Kamu sumber kekacauan," ucapnya.
"Benarkah?" Linda menarik masker sosok itu.
"Eh, iya benar," katanya sambil tersenyum.
"Saya tidak menduga akan semerepotkan ini mencintai kamu," katanya. Saat mereka terpaksa bersembunyi di balik badan mobil untuk menghindari masa.
❤❤ Bersambung ....