AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Kehadirannya Begitu Terasa [Bagian 3]



Di persimpangan jalan Linda turun. Dari sini, ia berniat akan naik bus lain untuk menuju mushola kecil tempatnya beristirahat tadi malam.


Sore menjelang, namun bus yang ia tunggu tak kunjung datang. Linda terlihat mengobrol di sisi jalan dengan seseorang, bertujuan untuk meminjam ponsel dan mengecek emailnya.


Namun sayang seribu sayang, ia tidak bisa membuka email tersebut karena akun emailnya telah dimanipulasi oleh dia yang saat ini tengah menatapnya dari kejauhan.


Hari semakin sore, Linda lalu berhenti di sebuah masjid untuk melaksanakan ibadah shalat Ashar. Pun dengan Agam, mereka menjalankan ibadah di tempat yang sama.


Saat semua jamaah telah pergi, Agam melihat jika di teras area perempuan, sandal karet yang di pakai Linda masih tergeletak di sana. Artinya, Linda belum pergi dari masjid itu.


Agam kembali masuk ke dalam mesjid dan beranjak ke lantai dua masjid tersebut untuk bisa melihat Linda dengan jelas.


Arsitektur bagian tengah masjid itu memang didisain terbuka hingga para jamaah akan dimanjakan dan dibuat takjub oleh pemandangan kubah raksasa dan lampu kristal yang menawan.


Dari lantai dua masjid ini, Agam bisa melihat area wanita dengan jelas. Terlihat seorang wanita masih melaksanakan shalat dan satunya lagi tengah menengadahkan tangan, menutup wajahnya, dan terisak-isak. Dia yang terisak adalah Linda.


Saat ini Linda tengah meminta petunjuk-Nya. Apakah ia tetap di sini? Atau ... harus pulang dan mengikuti keinginan ayahnya menikah dengan Hikam?Lalu, bagaimana dengan jenazah pamannya?


Ayah ... tunggu aku, aku akan pulang dan mengikuti perintahmu. Aku rela menikah dengan Hikam ayah .... Aku janji tidak akan membuat ayah dan ibu kecewa, dan bersedih lagi.


Aku hanya perlu waktu mengumpulkan uang, meminta bantuan polisi, dan membawa jenazah paman.


Ayah ... sebenarnya aku mencintai dia. Aku mencintai orang yang telah menghancurkan masa depanku. Orang yang kata ayah sangat jahat dan berbahaya. Tapi ayah ... menurutku dia baik.


Linda curhat dan meratap dalam diamnya. Dalam tangisan yang pilu, dalam doanya yang sendu.


"Pak Agam ...." Lirihnya, saat ia melihat sekelebat ada bayangan Agam di lantai dua. Pria itu benar-benar telah mencuci otaknya hingga segila ini.


Agam terkejut, segera bersembunyi saat Linda tiba-tiba menengadahkan kepalanya.


Tenyata, Linda tetap di masjid itu hingga adzan Maghrib berkumandang. Kembali, Agam dan Linda melaksanakan shalat Maghrib berjamaah, sama-sama menjadi makmum dari imam yang sama.


.


.


.


Di dalam mobilnya yang terparkir di halaman masjid, Agam terlihat sibuk menelepon. Mungkin ia tidak menyadari jika Linda telah naik ke dalam bus. Agam masih sibuk berbicara dengan ponselnya saat mobil yang ditumpangi Linda telah menjauh dan menghilang ditelan kegelapan malam.


***


Linda terkejut, karena saat terbangun ia merasa jika mushola kecil yang ia maksud sudah terlewat.


"Pak, mushola yang dekat pohon beringin besar itu sudah terlewat ya?" tanyanya pada kernet.


"Oiya sudah terlewat Nona, tapi belum jauh kok. Sekitar 300 sampai 400 meteran lah," jawabnya.


"Oh, untung masih dekat, aku turun di sini, Pak."


Linda senang karena belum terlewat jauh. Setelah membayar, iapun turun dari bus itu. Kini kakinya melangkah lambat hendak menuju mushola tersebut.


Hatinya berdebar, karena jalanan di sekitar sini ternyata begitu sepi. Lampu jalanpun temaram. Ditambah dengan pohon rindang di kedua sisinya.


Tidak tampak pemukiman warga, mobil yang melintaspun sangat jarang. Ia ingin naik bus lagi, mamun semakin lama menunggu Linda semakin ketakutan.


Jadi, Linda memutuskan untuk berjalan saja sambil menunggu bus melintas.


"Hahaha, hai seksi sedang cari mangsa ya?" kata seorang pria yang turun dari mobil itu.


"Si-siapa kalian?!" teriaknya, tubuhnya langsung gemetar.


"Hahaha, kamu harus ikut dengan kami Nona," katanya. Lalu dua orang pria lagi turun dari mobil dan memegang tangan Linda.


"Hei! Kalian mau apa?! Lepaskaaan! Tolooong! Tolooong!" teriaknya.


"Hahaha, silahkan berteriak Nona, tidak akan ada yang menolongmu."


"Tidaaak, lepaskaaan! Huuu ... Pak Agaaam tolong aku, tolooong!" teriakan Linda semakin histeris saat tubuhnya diseret ke dalam mobil.


Dan anehnya, bibirnya spontan memanggil Agam pria yang 'Katanya' ingin ia lupakan. Karena 'Katanya' semakin ia mencintai Agam, hatinya semakin sakit karena terluka.


"LEPASKAN DIA BRANDAL!" teriak seseorang.


Deg.


Suara itu mengagetkan semuanya termasuk Linda tentunya.


"Ti-tidak mungkin," kata Linda. Linda mematung sambil mengerjapkan mata berkali-kali.


"Siapa kamu, hahhh? Jangan cari masalah dengan kami!" teriak pria yang sedang menyekap Linda.


"Saya adalah saya, orang yang akan melunakan tulang-belulang kalian!" teriak pria itu.


"Lepaskan wanita itu! Atau kalian akan rata dengan tanah!" teriaknya lagi.


Disambut tawa dan tepuk tangan pria-pria itu.


Di dalam mobil itu jumlah mereka ternyata banyak. Kini semuanya turun dengan senjata panjang yang terhunus tajam. Senjata yang dirancang khusus dengan ketajaman dikedua sisinya, KATANA. Atau orang awam menyebutnya sebagai SAMURAI.


Padahal, definisi singkat dari SAMURAI adalah ... pendekar pedang yang menggunakan KATANA sebagai senjatanya.


Mereka berjumlah 6 orang. Linda menghitung mereka dengan air mata berurai.


"Aku tidak akan melawan, cepat bawa aku pergi, tapi tolong ... tolong jangan menyakiti dia," kata Linda.


"Hahahahah."


"Hahahahah."


"Hahahahah."


Para pria berkatana itu malah tertawa, dan pria yang menyebut namanya sebagai saya, tengah bersiap. Ia mengokang senjata apinya. Seolah siap untuk meledakkan kepala siapapun yang menjadi targetnya.


Dia begitu tampan kala dia melepas masker, wajahnya begitu indah saat tersinari sang rembulan. Dia mengibaskan rambutnya, rambutnya begitu berkilau, seolah berpadu padan dengan lampu jalanan.


Dia ....


Dia ... dia adalah Agam Ben Buana.


❤❤ Bersambung ....


Mohon doanya untuk kesembuhan Kak @Indah Ihsan, yang tengah sakit. Semoga lekas sehat seperti sedia kala, aamiin ....