AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
The More Love, The More It Hurts



Agam dan Linda duduk berdiam-diaman di lantai satu.


Di sebuah ruangan khusus yang didisain mirip dengan kamar perawatan VVIP.


Ada satu bed pasien, dua tiang infus. Tabung oksigen, TV, kulkas, lemari, dispenser, sofa, dan satu set meja-kursi.


Di sisi lain ruangan itu terlihat ada sebuah kursi roda yang masih terbungkus plastik dan sepertinya belum pernah digunakan.


"Kenapa tadi makannya sedikit sekali?" tanya Agam. Memecah keheningan.


"Saya tidak terbiasa makan malam, Pak. Jadi baru beberapa suapan sudah terasa penuh."


"Hmm, coba makan sedikit-sedikit tapi sering. Bu Linda, Anda itu hamil. Tolong jangan melupakan hal itu. Abaikan dulu untuk menjaga penampilan. Prioritaskan dulu tumbuh-kembang janinnya," kata Agam seraya menatap Linda yang saat ini sudah memakai masker dan kaca mata besar agar identitasnya tidak terciduk oleh dokter Fatimah.


Linda menghela napas sebelum menjawab ucapan Agam. Jujur, perkataan Agam sedikit melukai hatinya.


"Tolong ya, Pak. Anda itu tidak tahu apa-apa. Bapak tidak merasakan bagaimana rasanya jadi saya. Tiba-tiba hamil, terkurung, dan terpisah dari keluarga, karir dan teman."


"Apa Bapak pernah berpikir kesitu? Saya sudah berusaha sebaik mungkin menjaga janin ini. Ya, tadi saya memang makan sedikit, tapi ... bukan berarti saya sengaja melakukannya demi penampilan."


"Sa-saya juga tidak mau anak ini kenapa-kenapa, Pak. Tolong jangan menekan saya dengan kata-kata seperti itu, rasanya ... menyakitkan." Linda menunduk.


"Mmm--ma-maf," Agam terenyuh. Seketika ia sangat menyesali ucapannya.


Ia hendak meraih tangan Linda, tapi Linda menepisnya.


"Sudah saya maafkan," ketusnya. Tangannya sibuk mengusap air mata dengan tissue.


.


.


.


Dan tamu yang ditunggupun akhirnya tiba. Dokter Cepy, dokter Fatimah dan seorang asisten dokter Fatimah, bidan Ida nama di name tag-nya.


"Hahaha, hahaha, jadi kamu bisa sakit juga Ben?"


Pria bernama dokter Cepy, bukannya memerisa Agam, pria itu malah menuding kepala Agam. Linda melotot, ada rasa tidak terima kepala Agam dituding seperti itu.


Sedangkan dokter Fatimah dan bidan Ida sibuk menyiapkan USG portable yang mereka bawa.


"Sialan kamu Cepy, super hero saja bisa sakit apalagi aku."


Ternyata, cara bicara Agam dengan dokter Cepy sangat akrab. Tidak 'Saya' dan 'Anda' seperti halnya saat bicara dengan Linda. Pria itu juga tampak ramah dan ceria, sangat berbeda dengan yang sering dilihat Linda selama ini.


"Sepupunya Pak Agam ya, kenapa pakai masker? Sedang flu?" tanya dokter Fatimah.


"I-iya, Dok."


Jawab Linda gugup, badannya sedikit gemetar saat ia mulai berbaring di bed pasien.


Aku akan melihat makhluk hidup di dalam perutku. Ya ampun aku gugup. Seperti mimpi. Batin Linda.


Tenang ... tenang ... tenangkan dirimu Agam Ben Buana.


Ternyata kegugupan bukan milik Linda seorang.


Dokter Cepy yang sudah mengetahui semuanya hanya geleng-geleng kepala.


"Hei body dia makin seksi saja," bisik dokter Cepy di telinga Agam.


Spontan kali ini Agam yang menoyor jidat dokter Cepy.  Tapi toyoran seorang Agam bukan berasal dari tangan biasa.


'PRANG.'


Dokter Cepy terjungkal menimpa tiang infus.


"Astaghfirullaah."


Dokter Fatimah terkejut begitupun dengan Linda dan bidan Ida.


"Pak Agam, dan dokter Cepy bagaimana sih? Di sini ada wanita hamil lho, dilarang membuat keributan. Dokter Cepy juga, ke sini karena mau periksa Pak Agam, kan? Kok malah ribut sih? Ck ck ck," tegas dokter Fatimah.


"Hahaha, oiya aku lupa. Ben, ayo kamu aku periksa di luar saja."


"Aku mau lihat bayiku, brengsek," bisik Agam.


"Oh, haahahha," dibalas tawa lagi membuat mata dokter Fatimah mengerling.


Bidan Ida juga bingung, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali diam.


"Saya mau melihat bayi sepupu saya Dok," Agam lalu berdiri di samping dokter Fatimah.


"Aku juga mau melihat," kata doktet Cepy.


"Hei enak saja, keluar kamu! Keluar!" Agam mengusir dokter Cepy.


"Aku mau tetap di sini Ben!" Dokter Cepy bersikukuh.


"Bisa tidak ya kalau tidak ribut?!" teriak dokter Fatimah.


"Atau saya pulang nih!"


Mungkin kesabaran dokter Fatimah hanya secuil atau seujung kuku.


"Dok, saya dapat amanat dari suami sepupu saya. Katanya, siapapun tidak boleh melihat perut istrinya kecuali saya."


"A-apa?!"


Linda terkejut mendengar keterangan Agam, sementara dokter Cepy langsung tertawa terpingkal-pingkal.


"Wuahah wuahahah."


"Pak Agam punya pistol, kan? Bisa tidak dokter Cepy ditembak mati saja?!"


Dokter Fatimah naik pitam. Ia paling tidak suka saat akan atau sedang bekerja serius ada yang tertawa, apalagi saat ini mesin USG-nya sudah menyala.


"Tenang Dok, akan saya tengani," kata Agam.


Agam memiting leher dokter Cepy lalu menyeretnya ke luar. Dokter Cepy meronta, berteriak histeris dan dramatis. Oh, betapa lebaynya.


"Tolooong, tolooong, ini kekerasan pada tenaga medis! Bidan Ida, tolong rekam, lalu viralkan ke medsos! Biar si Ben dipenjara," teriak dokter Cepy sebelum dia jatuh tersungkur ke lantai karena Agam mendorongnya.


Ia bangkit dan akan masuk lagi ke kamar itu, tapi Agam sudah menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Secara fisik LB serasi bersanding dengan kamu, Ben. Tapi ... apa wanita itu tulus? Hmm, aku tidak rela kalau kamu hanya dimanfaatkan oleh wanita itu.


Batin dokter Cepy ternyata tidak sesimpel tawa-candanya.


Aku takut dia sengaja memanfaatkan si Ben, sampai-sampai si Ben memilih dia jadi bintang iklan proyeknya.


Kamu pria baik Ben, harusnya kamu jangan menyukai artis yang kecantikkan tubuhnya diumbar untuk umum. Aku lebih mendukung kamu menikah dengan dokter Mia.


Ternyata seperti itu isi hati dokter Cepy.


LB itu pernah tidur dengan politisi anak pamannya tuan Deanka. Kamu tidak jijik apa, Ben? Ya sih, dia memang cantik dan seksi, aku saja senang saat melihat dia.


Batin dokter Cepy terus berkecamuk.


Agam memang bercerita meniduri Linda karena sakit hati pada dokter Cepy.


Tapi, Agam tidak menceritakan kalau presenter cantik itu masih murni. Agam hanya bercerita tentang kesucian Linda pada tuan Deanka dan istrinya.


.


.


.


Di dalam kamar periksa, Linda dan Agam tampak gugup.


Linda memejamkan mata saat bidan Ida menyingkap bajunya dan memberikan gel USG di bagian perutnya. Dokter Fatimah sudah siap memegang transduser.


Agam menatap lekat pada perut mulus itu, entah kenapa hatinya terasa sakit, ia kembali menyesali dosanya.


Andai waktu bisa terulang.


Tapi ... mustahil.


"Sudah siap?"


Dokter Fatimah mulai meletakkan transduser di perut Linda.


"Si-siap Dok," ucap Linda, sangat kaku.


"Pernah USG sebelumnya?"


"Lha, kenapa belum? Nona kemana saja? Memangnya suaminya tidak pernah mengajak untuk USG?"


Linda membisu. Matanya berkaca-kaca. Untung saja dokter Fatimah tidak menyadarinya.


"Maaf Dok, su-suami sepupu saya memang jarang pulang, pe-pelaut, tu-tugasnya di lu-luar negeri," kata Agam.


Ia gelagapan karena tidak terbiasa berbohong.


"Oh, begitu? Wah, Nona janinya sepertinya gemeli, nih."


"Gemeli?!"


Agam dan Linda melongo.


"Iya gemeli, istilah umumnya kembar," terang dokter Fatimah.


"A-apa ...."


Linda lemas, air mata berurai.


Agam mematung, ia berpegangan pada tempat tidur karena terkejut. Bingung dan dilema apakah ia harus bersedih atau justru harus bersyukur dan berbahagia.


"Kok pada diam saja?" kata dokter Fatimah.


"Senang dong, bayinya ada dua," tambahnya.


"Huukks."


Linda tidak bisa menahan tangisnya, dan Agam semakin bingung.


"Nona pasti menangis karan bahagia, kan?"


"I-iya," jawab Linda.


"Terakhir haid kapan?" dokter Fatimah bertanya lagi.


Linda menjawab dengan terbata-bata, Agam menunduk.


"Hmm, berarti kalau dihitung dari hari pertama haid terakhir usia kehamilan Nona sudah jalan 18 minggu, tapi dari hasil USG baru 16 minggu. Artinya, janinya lebih kecil dari usia kandungan. Tolong nutrisinya diperhatikan ya Nona."


DEG.


Jantung Linda dan Agam berdegup. Keduanya takut, khawatir dan panik.


"Tolong berikan obat, vitamin terbaik atau apa saja yang bisa memperbaikinya Dok." Wajah Agam terlihat panik.


"Ya, nanti saya berikan asam folat dan vitamin, tapi yang paling penting sebenarnya dari asupan makanan. Gizi yang dikonsumsi Nona harus seimbang. Oiya, saya perdengarkan detak jantung mereka ya.


Lalu ....


"Dug, dug, dug, dug, dug ...."


Suara itu menggetarkan hati Agam dan Linda.


Suara itu ....


Linda mengatupkan bibirnya.


Di saat hampir seluruh wanita di dunia bahagia karena bisa hamil, dirinya malah bersedih dan tenggelam dalam kepiluan.


Suaranya ....


Agam memegang dadanya. Ingin berhambur pada Linda dan memeluk wanita itu lalu mengutarakan kebahagiannya. Namun apa daya. Agam yang melihat Linda terus menangis, beranggapan bahwa wanita itu sangat menderita dan bersedih.


Pak Agam, itu suara jantung anak kita ....


Linda menatap Agam yang fokus pada monitor USG. Ingin rasanya ia dipeluk oleh pria itu.


Tapi ....


Apalah artinya kalaupun Agam memeluknya. Toh, yang diinginkan Agam hanya bayi ini.


"Jenis kelaminnya sudah tampak sih, tapi saya masih ragu. Nanti perlu diUSG lagi kalau kandungannya semakin besar. Janin satunya lagi membelakangi terus. Jadi, saya tidak bisa melihat wajah dan jenis kelaminnya," terang dokter Fatimah.


"Oiya, bidan Ida, tolong siapkan infus ya."


"Baik, Dok."


"Ke-kenapa harus diinfus?" tanya Agam.


"Denyut jantung janin yang satunya lagi kurang reaktif Pak Agam, perlu diloading cairan, oksigenasi, dan resusitasi."


"Apa perlu ke rumah sakit, Dok?" Agam semakin panik.


"Tidak perlu, Pak. Saya evaluasi sampai dua jam, setelah itu infusnya akan dilepas lagi."


"Apa perlu bedrest?" Agam bertanya lagi.


"Tidak perlu, Pak. Tidak ada perdarahan kok. Letak plasentanya juga normal. Aktivitas boleh seperti biasa, tapi ya jangan terlalu kecapean," jelasnya sambil menulis resep.


Sementara bidan Ida sedang memasang infus.


"Aaahh," teriak Linda saat jarum infus menusuk vena di tangannya.


"Bu Linda, Anda tidak apa-apa kan?" Agam menghampiri lalu memegang tangan Linda.


"Oh, namanya Nona Linda. Bukan Linda Berliana, kan? Hehehe," seloroh dokter Fatimah yang membuat Linda dan Agam bertatapan.


"Kok, Pak Agam panggil bu?" Bidan Ida baru ada suaranya.


"Namanya memang Bu Linda. Bulinda," kelit Agam.


"Oh, Bulinda? Namanya yang unik," puji dokter Fatimah.


Agam tersenyum sambil menatap Linda. Linda juga sepertinya tersenyum sebab matanya di balik kaca mata itu sedikit menyipit.


***


Tiga jam kemudian.


Karena belum mengantuk, Linda beranjak dari kamarnya. Berniat ke perpustakaan untuk membaca buku.


Langkahnya terhenti di depan pintu perpustakaan. Dari dalam perpustakaan terdengar suara dokter Cepy, yakin jika dokter itu sedang berbincang dengan Agam.


"Jadi begitu, Ben. Tolong pikirkan lagi. Jangan hanya karena dia cantik dan seksi kamu tergila-gila. Aku tahu sisi kelam para artis, firasatku dia itu sengaja menggunakan kecantikannya untuk memanfaatkan kamu, secara kamu kan ganteng, kaya-raya, Dirut, pendidikan akademikmupun tinggi."


DEG.


Bagai tersambar petir, ucapan itu laksana sembilu yang mengoyak hati dan jantungnya. 


Linda menutup mulutnya, memegang dadanya, mundur perlahan, lalu berlari ke kamarnya sambil menangis.


.


.


.


"Huuu, huuu ...."


"Ayaaah, ibuu ...."


Di dalam kamar, wanita itu menenggelamkan tubuhnya di dalam bathup sebatas lehernya.


Ternyata ... cinta yang tumbuh di hatinya harus dipangkas.


Ternyata ... nama Agam yang terukir di kalbunya harus dihapus.


Ternyata ... cita-cita untuk memiliki Agam harus dikandaskan.


Kenapa?


Karena semakin ia dekat dengan pria itu, hatinya semakin terluka.


Aku tidak mau orang-orang memandangku remeh hanya karena aku dekat dengan dia. Pak Agam ... kenapa jadi seperti ini?


Kata orang cinta itu indah, tapi ... kenapa yang aku rasakan malah sebaliknya.


"Huuuks ... ini sakiiit, sakiiit sekali ...."


Linda terus menangis sambil memegang perutnya.


❤❤ Bersambung ....