AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
The Freedom



Linda menatap mobil Agam yang terparkir dengan tatapan membayang karena terhalang air mata.


Sakiiit.


Batinnya teramat sakit untuk memutuskan meninggalkan pria itu. Pria gila yang terang-terangan meminta kenikmatan darinya, dan terang-terangan juga mengatakan akan memberinya kenikmatan yang sama.


"Cih, dia gila, dasar kurang waras," dengusnya kesal. Tapi sambil mengusap airmatanya.


"Anda tidak apa-apa, Nona Lica?" tanya pengemudi yang membawanya. Ia melirik pada kaca spion.


"Em, ti-tidak, Pak. Tidak apa-apa." Linda memaksakan diri untuk tersenyum.


Pengemudi ini bekerja untuk Yohan, tadi ... saat Linda terbangun, ia menyalakan ponsel dengan hati-hati, mengirim pesan pada Yohan dan meminta seseorang untuk menjemputnya. Linda mengatakan mobil Agam mogok, dan Agam menyuruh Linda kembali ke mansion dengan mobil lain.


"Kok bisa mobil dia mogok? Oiya, arah yang kamu kirimkan jauh sekali, ini arah ke bandara, kan? Untuk apa si Agam membawamu ke bandara?"


Itulah isi pesan dari Yohan saat Linda meminta bantuan pada pria itu. Linda sebenarnya ingin meminta bantuan pada Bagas, tapi ... ia berpikir untuk menyelesaikan terlebih dahulu urusannya dengan Yohan.


"Tuan, aku yang meminta pak Agam untuk mampir ke bandara. Aku berniat ingin melakukan foto selfi dengan latar pesawat terbang. Eh, malah hujan besar dan mobil Pak Agam mogok."


Linda membalas pesan Yohan dengan kalimat itu. Jujur, ia sendiri baru tahu kalau Agam akan membawanya ke bandara.


Jadi ... tempat yang dia maksud adalah bandara? Apa pak Agam berniat membawaku kabur ke luar negeri.


Linda kembali menengok ke belakang untuk melihat mobil pria itu, tapi ... keberadaan mobil itu sudah luput dari pandangannya. Mobil itu telah hilang dan melenyap ditelan kejauhan.


Linda memejamkan matanya yang kubil dan sembab karena terlalu banyak menangis. Mencoba menguapkan kerinduan yang kembali menyeruak dan menyesakkan dada. Tapi ... saat ia memejamkan mata justru kejadian tadi malah terbayang di benaknya.


Tadi ... saat ia menunggu jemputan dari orang suruhan Yohan, Linda menggigit bibirnya kuat-kuat, agar tangisannya tidak sampai membangunkan Agam.


Linda mencium tangan Agam, sebelum akhirnya ia bangun perlahan dari dekapan hangat pria itu. Ia menatap ketampanan yang sempurna itu sambil memegang dadanya. Ingin sekali lagi mencium bibirnya dan menyentuh perutnya yang indah itu. Namun ... ia takut Agam terbangun.


"Huuuh ...."


Linda menghembuskan napas. Kepalanya menggeleng, mencoba untuk melupakan Agam dengan seluruh pesona dan daya tariknya. Ia lalu meraih sesuatu yang ia sembunyikan di dadanya.


Ternyata ... saat berada di rumah sakit pusat sektor angkatan darat, setelah menandatangani izin autopsi seorang polisi penyidik memberikan sesuatu pada Linda.


"Nona, ini saya berikan copy sebuah surat yang kami temukan di dalam tas korban, kami tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan Nona atau tidak. Silahkan dibaca saja. Ada atau tidak adanya hubungan surat ini dengan Nona LB, tolong segera laporkan pada kami."


Itulah yang dikatakan polisi pada saat itu. Namun Linda belum sempat membukanya.


"Pak, berapa lama lagi perjalanan kita sampai ke mansion?" tanyanya.


"Sekitar tiga puluh menit lagi, Nona Lica."


"Oh," Linda memasukkan kembali surat itu ke tempat semula. Berniat akan membukanya setelah tiba di mansion.


"Pak, kenapa memanggilku Lica? Bapak tahu kan kalau aku LB?" tanya Linda sambil merapikan rambutnya untuk menutupi kegialan Agam. Sekarang tanda cinta itu ada dua, kiri dan kanan.


"Saya diperintahkan tuan Yohan untuk memanggil Anda Nona Lica."


"Oh." Lagi, hanya oh jawaban Linda.


Lalu ia mengelus bibirnya. Selalu ada perasaan menyesal setelah ia melakukan dosa dengan pria itu. Tadi ... hampir saja terulang kembali kejadian di aparteman Green Seroja. Untungnya Agam menolak, dan penolakan Agam membuat Linda sadar jika pria itu tidak semata-mata hanya menginginkan tubuhnya.


***


"Wah, wah, wah, kamu lama sekali? Aku menunggumu sedari tadi, Li."


Yohan sudah berdiri di halaman mansion. Ia memperhatikan Linda dari rambut sampai kaki.


Pikir Yohan, Linda terlihat pucat, dan matanya sembab. Bibir yang biasanya merah-merekah, kini hanya menyisakan warna merah muda yang terlihat natural.


Rambut yang biasanya terikat rapi dengan berbagai gaya, kini hanya digerai kedepan menutupi leher dan dadanya. Gaun Linda kusut, bahkan sobek dari mata kaki hingga atas lutut.


"Kamu baik-baik saja, kan?" Yohan menatap keheranan.


"Baik," jawab Linda singkat. Ia melewati Yohan tanpa meliriknya. Jalan menunduk dengan langkah cepat.


Grep, Yohan menahan tangannya.


"Lica, tunggu."


"Ada apa Tuan Yo? Aku mengantuk, aku ingin istihat," keluhnya. Masih berusaha menyembunyikan wajahnya dengan tertunduk.


"Hei, hei, ada apa dengan penampilanmu, hahh? Lica, ingat ya. Mana ada penampilan artis compang-camping seperti ini? Apa ada yang terjadi antara kamu dan Dirut HGC itu?" Yohan sampai memiringkan kepalanya demi bisa melihat kembali wajah Linda.


"A-apa?! Ti-tidak ada apa-apa Tuan, Yo. Gaun ini rusak karena tidak sengaja tersangkut rem tangan," jelasnya sambil menepis tangan Yohan.


"Oke, masalah gaun bisa aku terima, tapi itu wajahmu? Matamu kenapa? Kamu menangis?" selidiknya. Yohan menguntit Linda yang saat ini tengah berjalan cepat dengan langkah panjang-panjang menuju kamarya.


"Ini, tadi setelah beribadah tidak retouch make up lagi, Tuan. Ya, aku memang menangis, tapi kan mau menangis atau tidak itu urusanku," ucapnya asal. Yang penting Yohan percaya.


Sebenarnya ia retouch make up sih, tapi ... bedaknya telah luntur oleh tangisan, dan lipstik merah di bibirnyapun telah pudar oleh ... kita tahu lah ya oleh apa.


"Lica, kamu artis. Ya, tampilan natural kamu memang cantik, tapi kesannya jadi seperti artis miskin yang tidak mampu membeli make up. Sekarang kamu artis di agensiku, Li. Penampilanmu harus sesuai dengan ketetapan agensi," terang Yohan yang saat ini sudah berhasil mengejar Linda dan berjalan sejajar dengannya.


"Tuan Yo, aku sedang tidak ingin bicara, tolong jangan menggangguku dulu. Besok saja bicaranya. Aku lelah." Ia terburu-buru membuka pintu kamar, dan masuk tanpa menoleh pada Yohan.


"Lica," sentaknya. Pria itu menahan pintu kamar Linda.


"Apa lagi Tuan, Yo?!" Linda berusaha untuk galak, padahal ... hatinya dirundung ketakutan. Takut jika maniak ini memaksa menodainya.


"Layani, aku." Sambil masuk ke kamar.


"Apa?! I**stighfar Tuan Yo! Aku hamil, aku bukan binal! Jaga ucapan kamu Tuan! Aku sangat lelah, tolong kasihanilah aku kali ini saja, please ...." Linda yang hatinya memang sedang tidak baik-baik saja terlihat gemetar di ambang pintu.


Matanya sembabnya terlihat berkaca-kaca lagi. Tapi ... ia harus berpikir sehat untuk lolos dari pria yang saat ini tengah melucuti pakaiannya tanpa rasa malu.


"Aku pergi, Tuan." Linda tidak jadi masuk, ia membalikkan badan dan berlari meninggalkan kamar itu.


"Licaaa, tungguuu, Licaaa!" teriak Yohan. Ia yang sudah membuka baju bagian atasnya langsung mengejar Linda.


Linda tidak peduli, ia memang berniat untuk tidak lagi berhubungan dengan Yohan dan membatalkan kontrak dengan agensi milik Yohan.


Melihat wajah dia yang terlihat polos dan natural, aku jadi teringat pada Aiza, ingin menikmati dia menit ini juga. Siaaal, dia cantik sekali. Batin Yohan. Ia merutuki dirinya.


Linda ternyata berlari ke arah pintu keluar. Lebih baik meninggalkan mansion malam ini juga daripada harus melayani pria bejad itu.


"Penjagaaa, tahan dia!" teriak Yohan.


Spontan para penjaga yang tertidur di pos mereka terbangun, lalu menahan Linda.


"Lepaskan! Huukss!" Hanya bisa menangis lagi karena merasa sangat tidak berdaya.


"Kamu tidak bisa kabur dariku Lica. Enak saja kamu main kabur-kabur saja." Yohan duduk di kursi sambil menatap Linda yang berjongkok sambil menangis.


Saatnya aku bertindak, Linda Berliana adalah wanita kuat dan tegar. Aku telah memilih jalan hidupku sendiri. Linda mensugesti dirinya.


Perlahan Linda berdiri, menarik napas panjang lalu mengatakan sesuatu yang membuat Yohan naik pitam.


"Silahkan Tuan Yo jual saja berita tentang kehamilanku, aku tidak peduli lagi, aku juga ingin keluar dari agensimu!" tegasnya.


"Apa?! Jangan kurang ajar kamu ya Lica! Tidak ada yang bisa lepas dariku!" Dia berdiri, berkacak pinggang dan menatap Linda penuh amarah.


"Kamulah yang kurang ajar Tuan, Yo. Kamu memanfaatkanku untuk mencari keuntungan. Kamu mau uang, kan?! Jadi silahkan jual saja berita tentang kehamilanku ke media. Silahkan permalukan aku sesukamu!" Linda menepis tangan dua orang penjaga.


"Apa kamu yakin sudah siap dicela oleh seluruh orang di negeri ini?"


"Sangat yakin," tegas Linda.


"Tidak akan menyesal?"


"Jangan dekat-dekat denganku! Aku tidak akan menyesalinya. Cepat lepaskan aku! Lepaskaaan!" Linda berteriak dan meronta.


"Penjaga, rampas tasnya."


"Hei jangan ambil tasku, Yohaaan di dalam tas itu ada kartu identitas dan ATM-ku, apa kamu perampok?!" Linda berusaha merebut kembali tasnya. Namun gagal.


"Hahaha, lagipula ini ponsel pemberianku, kan? Kalau kamu masih butuh dengan ini, artinya kamu tidak boleh meninggalkan mansion ini. Kamu harus tetap bersamaku dan bekerja untuk agensiku. Hahaha," Yohan tertawa puas. Ia yakin seyakin-yakinnya jika Linda tidak bisa meninggalkan mansion.


Seorang artis hidup tanpa memiliki harta sepeserpun? Mana tahan, pikirnya.


"Apa?! Dasar licik! Kamu pikir aku takut?! Sorry ya Tuan Yohan, tanpa barang itupun, aku yakin bisa hidup. Karena Tuhanku Maha Kaya, aku hanya perlu berusaha untuk mendapatkan uang. Silahkan ambil tas itu, dan lepaskan aku, lepaskaaan!" pekiknya.


"Berani sekali kamu, ya! Penjaga, lepaskan artis sombong itu! Biarkan dia pergi! Jangan lupa, jangan izinkan dia membawa apapun dari mansion ini. Termasuk sandal. Jangan biarkan dia memakai alas kali dalam bentuk apapun."


"Kamu?!" Linda sangat marah. Tapi, keluar dari mansion ini dan terbebas dari Yohan adalah keinginannya.


This is my freedom.


"Paling-paling kamu tidak kuat, dan akan kembali lagi kepadaku secepatnya. Jikapun kamu tidak kembali pastinya kamu jual diri untuk mendapatkan uang, kan? Hahaha," teriaknya.


Yohan tertawa puas saat melihat Linda berlalu begitu saja tanpa memakai alas kaki. Ia hanya memakai gaun indah yang sobek.


"Ada gelandangan tercantik di dunia," teriak Yohan. Linda diam saja. Ia tidak ingin menoleh lagi.


"Aku doakan semoga kamu ditemukan oleh pemangsa di luar sana. Digunakan beramai-ramai, jadi gelandangan, keguguran, dan kamu menyesal karena telah mengabaikanku Lica!" Doa Yohan teramat sadis.


Linda membalikan badan, marah juga dengan ucapan Yohan.


"Aku doakan semoga Anda panjang umur, diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertaubat, dan tidak mati konyol dalam keadaan sakau atau sedang tidur dengan jalang," teriak Linda. Ia membalas doa jahat Yohan dengan doa kebaikan.


"Apa?!" Yohan sedikit terhenyak.


"Aamiin."


Doa Yohan diaminkan oleh para penjaga. Awalnya Yohan mau marah pada penjaga, tapi doa Linda adalah harapannya. Dan Yohan pun mengaminkan dalam hatinya.


Semoga kamu baik-baik saja Lica, dan cepatlah kembali lagi ke mansion ini.


Dalam batinnya Yohan meralat doanya. Ia menatap kepergian Linda dengan perasaan tidak menentu.


Seorang artis cantik jelita yang multalenta, kini berjalan terlunta-lunta, demi mempertahan mahkota, ia rela melepaskan harta dan siap menderita.


Walau ada rasa kasihan di hati Yohan, tapi seorang Yohan Nevan Haiden pantang menjilat ludahnya sendiri.


***


Wanita elok itu berjalan tertatih, kerikil di sisi jalan, sedikit menyakiti telapak kakinya yang halus. Kini saat ia melangkah dan berjinjit, tampak jelas jika telapak kakinya kemerahan.


Waktu menjelang Subuh, jadi ... belum ada aktivitas berarti di area sekitaran Haiden's Mansion.


"Aduh, kakiku sakiiit ...," rintihnya.


"Tidak, aku tidak boleh mengeluh," gumamnya.


"Apa orang-orang akan menyari kalau aku LB? Untung saja ini masih pagi." Kembali lagi pada kebiasaannya, suka berbicara sendiri.


"Dasar manusia tidak punya hati, berani sekali dia mengambil tasku. Uangku ..., ATM-ku ..., kartu kreditku ...," ratapnya.


"Tapi buaya itu tidak meminta nomor pin ATM-ku. Mungkin memang sengaja ingin mengertakku."


"Aku harus segera mencapai jalan raya lalu naik mobil ke rumah Bagas." Linda berusaha mempecepat langkahnya.


"Kalau ada yang bertanya, apa yang harus kukatakan?"


"Mulai detik aku tidak akan bersembunyi lagi, terserah orang mau menganggapku apa, asalkan aku tidak harus bersembunyi lagi dari keberadaanmu. Sayang ... aku akan melakukan apapun demi kamu. Kelak, tidak akan ada lagi orang yang berani menghinaku apalagi menghina kamu."


"Aku lebih baik hidup sederhana, tapi hidupku tenang. Daripada hidup mewah tapi ... aku tidak bahagia." Linda mengelus perutnya.


Karena lelah, ia mendudukkan tubuhnya di trotoar, lalu menyadarkan punggungnya pada pada pot bunga yang ada di area itu. Lima meter lagi, ia akan mencapai jalan raya, tapi ... Linda terlanjur kelelahan.


Dan seorang pria muda mengintipnya dari kejauhan. Dia sedang memegang ponsel yang menempel di telinganya.


"Pak, sekarang dia tertidur di trotoar, tidak memakai sandal, tidak membawa apapun, kecuali gaun yang menempel di badan, dan itupuk sobek," kata pria itu. Ia berada di balik tiang listrik.


"...."


"Baik, Pak."


Pria muda itu kemudian mendekat ke arah Linda.


"Uhhuk, uhhuk, maaf Nona, tidak boleh tidur di sini." Membangunkan Linda.


"Hooaaam, jam berapa ini?" Ia mengucek matanya. Lalu tiba-tiba menyipitkan mata dan meringis. Linda baru tersadar kalau hari ini ia memalai soft lens, tidak memakai kaca mata.


"Setengah lima Nona." Pria itu seperti tengah mengawasi sekitaran.


"Ka-kamu siapa? Oiya kamu tahu saya siapa?" Linda berdiri sambil memegang bajunya yang robek.


"Saya tukang kebun di Haiden's Mansion, tadi tidak sengaja melihat Nona diusir oleh tuan Yohan, karena saya fans Anda, saya memberanikan diri menyusul Nona."


"Oh, begitu." Linda menautkan alisnya karena pria muda itu tampak gugup.


"Saya tahu kalau Anda, LB." Tambahnya.


"Oh, begitu ya. Terima kasih. Aku permisi." Linda meninggalkan pria itu tanpa basa-basi lagi.


"Nona, tunggu, apa Nona butuh uang? Saya bisa membantu memijamkannya. Terus Anda mau kemana?" Pria muda itu menguntit.


"Kenapa kamu baik? Kamu mencurigakan tahu, apa kamu orang suruhan pak Agam?" selidik Linda sambil terus berjalan tertatih menuju jalan raya.


"A-apa?!" Spontan pria itu terkejut sampai-sampai langkah kakinya terhenti sejenak.


"Bu-bukan, Nona. Bukan," kilahnya. Ia kembali mengikuti Linda.


"Kenapa kamu baik?" tanyanya lagi. Kali ini tidak menoleh.


"Saya adalah fans Anda, Nona. Dan mulai detik ini, saya akan mengikuti kemanapun Anda melangkah. Walaupun Anda masuk ke dalam sumur atau ke bara api sekalipun saya akan tetap mengikuti Nona." Dia terus berjalan sambil menunduk, hingga menabrak punggung Linda.


"Hahh, a-pa?!"


Linda Berliana mendelik, hampir tidak percaya dengan ucapan pria muda itu. Dia masih remaja, mungkin seusia Gama.


***


Agam tersenyum di salah satu sudut halamam depan mushola yang ada di rest area. Ia hendak melaksanakan ibadah shalat Subuh.


Ia bahagia setelah mengetahui kabar Linda dari pekerja yang biasanya menjaga taman yang ada di belakang unit mansion miliknya.


Dan Agam kesal pada Yohan setelah ia tahu jika Linda diusir dari mansion dengan cara seperti itu. Ia bertekad akan mensomasi perusahaan rekaman milik Yohan karena telah memperlakukan artisnya secara tidak manusiawi.


Agam menatap bingung pada setiap orang yang memasuki mushola. Kenapa? Karena mereka menatap pada Agam dengan tatapan heran, seperti menahan tawa, atau mengulum senyum. Tapi tidak ada yang berani berbicara.


Agam tersenyum pada mereka, dan merekapun membalas senyuman Agam dengan tawa yang tertahan.


Kenapa mereka? Agam jelas heran.


Dan tibalah seorang ayah yang menuntun putra kecilnya. Sama dengan yang lain, mereka juga melintasi Agam. Si ayah tersenyum saat melihat Agam. Namun putranya berceloteh.


"Kakak habis makan buah naga ya? Kok bibirnya belepotan."


"A-APA?!"


Spontan Pak Dirut menutup mulutnya dan sadar jika tatapan orang-orang tadi pasti gara-gara hal ini.


Tidaaak, aku malu. Tolooong. Linda Berliana, awas kamu ya! Beraninya kamu mempermalukanku seperti ini. Dasar pencuri. Kamu bisa mengelap bibirku sebelum kabur, kan?


Sambil berjalan dengan langkah panjang-panjang menuju toilet pria. Rasanya Agam ingin mengubur dirinya dengan pasir saat ini juga karena teramat malu.


❤❤ Bersambung ....