AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Pertemuan [Warning !!!]



Kaki panjangnya melangkah cepat, kerinduan itu rasanya teramat menggebu.


Bibirnya mengatup, tapi ... mengingat lagi yang dilakukan ayah mertuanya membuat Agam tersenyum jua. Hikmahnya, ia bisa sedikit lebih dekat dengan ayah Berli.


Deg, tibalah di kamar yang ia tuju, dibuka perlahan. Eh, pintu baru itu terkunci. Agam tentu saja tidak punya duplikatnya.


"Harusnya aku meminta kunci duplikatnya pada ayah," gumamnya.


Berpikir, berpikir.


Agam menyandarkan tubuhnya di pintu kamar.


"Oiya, dokter Rita," ada ide. Lantas menelepon dokter Rita.


"S i a l, tidak diangkat," rutuknya.


Pak Dirut mondar-mandir dalam kebingungan.


Hendak mengetuk pintu kamar pribadi putranya, tapi urung. Di dalam kamar putranya ada banyak para wanita. Agam merasa tidak pantas menemui dokter Rita tanpa didampingi Linda.


Lalu menelepon dokter Dani.


"Saya ada di rumah sakit, Pak. Menemani Paman Setyadhi."


Jawaban dokter Dani sangat tidak memuaskan. Agam terpaksa turun lagi ke bawah untuk menemui ayah Berli dan menanyakan keberadaan kunci duplikat.


Setibanya di bawah, sepi. Ayah Berli sudah di kamarnya.


Apa Agam harus mengetuk pintu kamar mertuanya?


Sopankah?


Pak Dirut dilema.


"Apa aku dobrak saja pintunya? Nanti Linda bangun dong," Agam kebingungan.


Dan Agam tidak menyadari jika di sudut lain ruangan itu, tepatnya di sebuah kamar yang berada dekat pintu menuju dapur, sepasang mata tengah menatapnya. Menatap gerak-gerik Agam sambil menelan saliva.


Sungguh sempurna pria itu, pantas saja pikirnya LB memaafkan dia jika bentukan aslinya seperti ini. Pundak kokoh, dan bentuk tubuh Agam yang sempurna itu membuat tubuh si pengintip memanas.


Gaya Agam memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya terlihat sangat elegan, bak model profesional. Langkah Agam dan seluruh pesonanya benar-benar menggiurkan. Bohong, jika ada wanita yang tidak terpikat kepadanya.


Ia merasa beruntung dapat bekerja di rumah ini, setidaknya bisa menikmati ketampanan paripurna itu dari jarak dekat. Aslinya ternyata lebih tampan daripada saat ia melihat Agam di televisi.


Ia sadar Agam membutuhkan sesuatu. Sebagai asisten rumah tangga di rumah ini, tidak ada salahnyakan kalau ia menyapa dan menanyakan kebutuhan tuannya?


Dengan penuh percaya diri, ia yang memakai baju tidur minimalis perlahan membuka pintu kamarnya. Tak lupa menggerai rambut panjangnya dan memakai lipstik, demi apa coba? Ya, benar demi menarik simpati tuannya.


Ia yang merasa dirinya tidak jelek, bermodalkan kulit yang putih, rambut lurus hasil smoothing, dan alis yang menurutnya telah disulam indah, merasa memiliki modal lebih dan layak untuk dekat dengan Dirut HGC.


Karena bekerja di rumah LB yang merupakan artis cantik, ia berpendapat jika penampilannyapun harus cantik. Istilah lainnya, dia juga ingin 'ngartis.'


"A-ada yang bisa saya bantu, Pak?" Gayanya saat bertanya begitu elegan dan kemayu.


Agam terkejut, melirik sejenak sambil mengerutkan dahi.


"Siapa kamu?" Lalu memalingkan wajah.


"Saya asisten rumah tangga di rumah ini," jawabnya, lalu mencuri pandang pada b o k o n g Pak Dirut yang membuatnya berdegup.


Serius, asisten yang ini sepertinya harus diwaspadai. Gelagat dan kata hatinya sangat mencurigakan.


"Oh, kebetulan sekali, apa kamu tahu di mana letak penyimpanan kunci duplikat kamar istri saya?" tanyanya, tanpa menoleh.


"Oh, sa-saya tidak tahu, Pak. Saya baru dua hari bekerja di rumah ini, maaf karena saya tidak bisa membantu Bapak," ucapnya sopan, sambil membungkukkan badan dan perlahan menghidu keharuman dari tubuh Agam yang menguar, serta mengganggu kejiwaan dan moralnya.


LB, kamu beruntung sekali bisa mendapatkan Dirut HGC. Andai aku jadi LB.


Dia yang terlalu PD itu menghayal sampai-sampai tidak sadar jika Agam telah pergi dari hadapannya.


Kemanakah Pak Dirut?


Ia kaget, secepat itukah Agam pergi?


"Pak, Pak, Pak Agam," panggilnya.


Wanita yang tingkat percaya dirinya sangat tinggi itu mencari Agam. Di lantai satu ia tidak menemukan Agam, lalu mengendap ke lantai dua, menyusuri setiap ruangan. Hasilnya, nihil. Agam tidak ditemukan.


Apa mungkin pak Agam sudah masuk ke kamar LB? Tapikan, jelas-jelas tadi masih mencari kunci. Batinnya.


Ia, menatap kamar Linda yang lampunya temaram. Matanya seolah tembus pandang. Lalu membayangkan lagi, andai dia adalah LB, hidupnya pasti tidak akan seberat ini.


Lalu ia kembali ke kamarnya dan berharap nasibnya akan berubah setelah bekerja di rumah megah ini.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Di manakah Pak Dirut?


Ternyata, Pak Dirut ada di pekarangan samping rumah itu. Sedang menatap ke sana, ke kamar si pujaan hati. Berniat hendak memanjat ke sana dan masuk melalui jendela.


Agam tidak main-main, ia ternyata serius ingin memberi kejutan pada Linda. Sebagai mantan anggota BRN, memanjat gedung tanpa pengamanpun ia pernah melakukannya. Lah, ini hanya rumah dua lantai.


Kecil, batinnya.


Tap, tap, tap.


Bak Spiderman, Pak Dirut mulai memanjat, terlihat terampil, tubuhnya seperti ringan. Tidak ada hambatan sedikitpun. Kini kakinya sudah meniti bingkai jendela, mengintip ke dalam sana laksana maling. Dari tirai yang sedikit terbuka, ia melihatnya. Jantungnya langsung berdegup.


'Krak.'


Dengan keterampilannya ia menekan kaca, dan memecahkan kaca itu tanpa suara yang berarti. Kemudian membuka slot jendela dengan perlahan, tangannya bergelayut pada loster. Jendela kamar Linda tidak terpasang trellis. Ini semakin memudahkan Agam.


Hap.


Agam melompat. Kini sudah berada di dalam kamar dengan posisi berlutut elegan, bertumpu satu kaki pada lutut, dan kaki yang lain menapaki lantai layaknya super hero. Tepatnya sperti posisi start siaga para pelari. LuaRRR biasa.


Agam berdiri, membuka sepatu, lalu mengendap menuju nakas. Tidak mungkin kan mendekati Linda sebelum bersih-bersih? Agam melucuti pakainnya di depan nakas.


Tidaaak, untung saja Linda masih terlelap. Kemudian meraih handuk miliknya dan bergegas ke kamar mandi.


Setelah melaksanakan ibadah malamnya, Pak Dirut ke sana, menaikinya. Maksudnya menaiki tempat tidur. Tolong jangan berpikir ke arah sana dulu, kenapa? Karena jam di dinding sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi.


Agam tersenyum menatap istrinya. Dua minggu ditinggalkan, Linda ternyata berubah. Berubah kian cantik saja. Semakin ....


🎶Putih mulus dan ... seksi🎶


Agam menghela napas, bolehkan ia menyentuh itu? Ia menatap nanar ke daerah itu. Daerah yang naik-turun seiring helaan dan hembusan napas Linda.


Indah sekali.


Pak Dirut mendekat, tangannya gemetar, serius ini sangat menguji adrenalinnya. Tap, tangannya sudah berada di sana. Perlahan memasyulnya, menelan saliva dan matanya yang mengerjap berkali-kali.


Bagaimana ini?


Pak Dirut tidak bisa menghentikan tangannya. Ingin terus di sini, dan membelainya. Jangan lupakan juga poin penting lainnya.


Apa itu?


Ya, benar. Tubuh Pak Dirut sudah bereaksi, bahkan sedari tadi.


Sejak kapan?


Sejak ia melihat Linda.


"Emh ...."


Pemiliknya merespon, Linda bergerak, tapi ... matanya masih terpejam.


Tidur saja, sayang ... aku tidak akan membangunkanmu, harap Agam dalam batinnya.


Nikmatilah kenakalanku, lanjutnya.


Lalu tangan nakal itu perlahan menyingkap piyama atas milik Linda. Agam merasa dirinya sangat m e s u m. Tapi ... ini mengasyikan.


Lagipula, wanita ini halal baginya. Kini sudah mengurung Linda. Mengungkung wanita yang terlelap itu dengan mata liarnya.


Maaf sayang, kamu pasti kaget, batinnya.


Agam menghidu rambut Linda, wangi shampo. Sepertinya baru keramas sore tadi. Menghidu pipi mulusnya, wangi bedak bayi. Mirip wangi bedaknya Keivel. Ingin rasanya menggigit pipi Linda saat ini juga, tapi ... tidak mungkin, kan?


Kini, mata sayunya menatap itu, pada bibir merah merekahnya. Perlahan dihidu jua.


Deg, Agam berdegup. Ini beraroma buah-buahan. Yakin, Linda pasti baru saja memakan manisan buah kering itu.


Sa-sayang ... aku ingin m e n c i u m mu dan memasuki mimpi indahmu, bolehkah? Tanyanya dalam hati.


Lalu Agam menjawab pertanyaannya sendiri.


Tentu saja boleh, kamu kan istriku.


Mata Agam terpejam, perlahan dan pasti bibir tipisnya mendarat jua di sana, berlabuh, lalu beraktivitas.


Linda.


Wanita itu tengah berada di alam mimpi.


Seseorang menyentuhnya dengan lembut, Linda tahu ini mimpi, tapi ... mimpi indah ini terasa begitu nyata, hingga membuatnya enggan terbangun.


Sentuhan itu kini beralih ke pipinya, ada hembusan napas hangat yang ia rasakan. Hembusan yang menyapu wajah dan lehernya. Sungguh, mimpi ini terasa sangat nyata.


Kini, Linda merasa jika sesuatu yang lembut tengah menyentuhnya, bermain-main dan menggodanya.


Dan wanita itu tergoda, ia menikmati mimpinya. Mengimbangi permainan Pak Dirut di alam mimpinya. Linda tidak menyadari jika yang terjadi sebenarnya adalah fakta.


Agam bahagia saat apa yang sedang direnggutnya merespon dan pasrah.


Apa kamu mengira ini mimpi? Ya ampun sayang, kamu ceroboh, jika yang melakukannya bukan aku, bagaimana? Sambil menikmatinya, Pak Dirut berasumsi.


Ohh ... mimpi, tolong jangan lekas berakhir.


Ohh ... mimpi, tolong jangan biarkan aku terbangun.


"Uhm ... mmm ...."


Fantasi Linda terbawa ke alam nyata. Pak Dirut kalang-kabut, gumaman Linda terdengar seksi.


"Uhhuk, uhhuk."


Pertautan itu begitu dahsyat, Linda sampai tebatuk-batuk, tapi ... mata Linda konsisten, masih terpejam dan berkelana di alam mimpi. Agam tersenyum, mengusap bibir Linda yang b a s a h.


Deg, Pak Dirut membelalak. Dalam keadaan terlelap, jemari lentik Linda menyusuri dada bidangnya, Linda bahkan memeluknya erat-erat.


Tahan, tahaaan, jangan sekarang, jangan sekarang.


Agam berusaha menenangkan jiwanya. Terpaksa menahan tangan Linda yang hampir saja melaumpaui batas. Melintasi sabuk pengaman.


Ya ampun sayang, kamu m e s u m.


Agam mengulum senyum. Ia juga sebenarnya sudah tidak sabar, tapi bagi Agam berhubungan suami istri dalam agamanya mempunyai tujuan yang sangat mulia. Ia memandang jika aktivitas ini tak sekadar memuaskan n a f s u manusiawinya, tetapi juga harus menjadi media dalam rangka membangun keutuhan rumah tangga.


Aku tidak ingin terburu-buru, aku ingin kamu terkesan dan menyukainya. Pada saat aku m e m p e r k o s a mu, kamu sudah menderita sayang. Sebagai balasnya, aku akan menantikan waktu yang paling tepat, lirih Agam dalam batinnya sambil menarik tubuh Linda dan mendekapnya.


Setelah memaksa Linda pada hari itu, selain menyesal, Agam juga ternyata banyak belajar. Menurutnya, hubungan suami istri ini merupakan aktivitas fisik sekaligus psikis. Secara kompleknya akan melibatkan perasaan, bahasa verbal, bahasa tubuh, juga ada dimensi ibadah dan medisnya.


"Assalamu'alaikuum, sayang ...," bisiknya, pelan. Linda tidak menjawab karena masih terlelap.


"Lelap sekali."


Agam menatap wajah Linda tanpa berkedip, tangannya masuk ke dalam piyama Linda, entah apa yang sedang dilakukannya. Lalu mengatur napas untuk melawan sesuatu yang sampai saat ini masih tampak bersemangat.


Lalu pria itu menggeser tubuh dan menelusupkan kepalanya di sana, berharap bisa terlelap jua seperti halnya bayi Alf.


Benar saja, aroma di daerah ini bak buluh perindu.


Menengkan, melenakan.


Perlahan mata sayu itu menutup sedikit demi sedikit. Dan ... terlelap jua dalam kehangatannya.


.


.


.


.


Alarm Linda berbunyi, seperti biasa ia mematikannya. Lima menit kemudian berbunyi lagi, dan dimatikan lagi.


"Tunggu, a-apa ini?"


Linda merasa kaki dan pinggulnya terhimpit benda berat.


Ia membuka mata, lalu tiba-tiba sebuah kepala muncul di balik selimut. Siapa yang tidak kaget coba?


"A ---."


Teriakan Linda tercekal, Agam membekap Linda dengan bibirnya. Lagi, aroma mint dan manisan buah kering kembali menyatu. Bertukar rasa, bertukar enzim ptialin.


Linda tidak menyangka Agam akan pulang secepat ini, ini benar-benar kejutan. Linda mencurahkan kerinduannya, ia pasrah.


Tapi ... entah kenapa air mata Linda tiba-tiba mengalir. Perlahan menetes dan membasahi tangan Agam yang sedang menangkup pipinya.


"Ke-kenapa sayang? Kamu tidak senang saya pulang?"


Agam mengusap air mata Linda dan menatapnya lekat.


"Huuks, kenapa mendadak sekali?" tanyanya sambil terisak.


"Maaf kalau kamu tidak suka, saya mau memberi kejutan, El."


"Huu ... huuu ...."


"Sayang, ada yang salah? Apa yang harus saya lakukan supaya kamu tidak menangis, hmm? Apa saya harus bersalto atau berguling-guling mungkin?"


"Tidak lucu," ketus Linda sambil memukul bahu Agam.


"Hahaha, ya saya mengaku kalah lucu dari kamu. Kamu lebih lucu, El." Sambil mendaratkan kecupan di pipi Linda, dan senyum-senyum.


"Maksud Pak Agam?" Mengusap airmatanya.


"Semalam ada yang m i m p i b a s a h," terang Agam.


Deg, Linda terhenyak.


"A-apa?!"


Mata bulat yang bening itu mengedar. Linda sedang mengingat-ingat kejadian semalam.


"Sudah ingat?" tanya Agam.


Seketika pipi Linda merona.


"Hahahah," Pak Dirut tertawa puas.


"Tidak lucu!" sangah Linda sambil mendorong dada Agam.


Dan saat itulah adzan Subuh berkumandang. Keduanya terdiam, dan tidak melakukan aktivitas apapun hingga adzan usai.


"Aku mau bangun, mau shalat," kata Linda. Ia keceplosan. Padahal, awalnya berniat tidak akan memberitahu Agam. Upps, Linda menutup mulutnya.


"Kamu sudah shalat?" Pak Dirut pura-pura tidak tahu.


"Su-sudah," terpaksa jujur, toh sudah tertangkap basah.


"Alhamdulillaah. Berarti ki ---."


"A-aku belum siap, Pak. Ku-kumohon ja-jangan sekarang ya, a-aku takuuut," Linda menarik diri. Bersembunyi lagi di balik selimut.


'Peletak.' Agam menyentil pelan kening Linda.


"Hahaha, maksud saya, berati kita shalat Subuh berjamaah sayang, apa yang kamu pikirkan, hmm?"


"A-apa?!" Linda malu. Ia memikirkan yang tidak-tidak.


"Ya sudah ayo kita bangun sayang." Agam menarik selimut dan membopong Linda.


"Pak, turunkan! Aku bisa sendiri," protes Linda.


"Kalau dimanjakan suami itu harusnya bersyukur sayang, jangan menolak."


Akhirnya Linda menyerah, melilitkan tangan di leher Agam, sambil menatap wajah yang ia rindukan.


Agam ternyata tidak kuat lama-lama ditatap, ia melangkah cepat menuju kamar mandi. Linda berdegup, ia mencium aroma kebucinan.


Benar saja kan, Agam mendudukkan Linda di sisi wastafel. Napas Pak Dirut saling memburu.


"Mm-Maga ki ---."


"HMPHH ...."


Terlambat. Linda tak berdaya. Jalinan itu kembali terjadi. Lebih p a n a s dari dua adegan sebelumnya.


Mana yang katanya tidak ingin terburu-buru?


Dalam hal ini, seprtinya ada yang melanggar janjinya sendiri.


Tangan Pak Dirut begitu terampil, membuka satu persatu kancing milik Linda.


Deg, jantung Linda hampir melompat saat Pak Dirut menuntun tangannya kesana, yaitu ke daerah perbatasan yang dilindungi sabuk pengaman.


"Maga ... don't do it now, please ...." Lirih Linda.


"But i want you, i miss you, sayang ...."


"Please, Maga ... i'm so scared, i'm not ready."


"Hmm .... A-pa yang takutkan, sa-sayang?"


"Yo--yurs is t-too b-big, i'm afraid it's not enough."


Dengan suara gemetar karena menahan malu, Linda akhirnya jujur.


"W-what's! All right, i got it, honey," gumam Agam sambil tersenyum dan menahan tawa karena merasa lucu dengan pengakuan Linda.


"Ji-jika kamu belum siap, saya tidak akan memaksa, lagipula saya tidak ingin melakukannya di sini. Saya ingin mendapatkan yang 10 persen itu di tempat yang spesial. Se-setuju?" bisik Agam.


Linda mengangguk pelan.


"Mmm, ma-mau membantu saya?" bisiknya lagi.


"Bo-boleh ...," jawab Linda.


Tapi ....


"Bu LB, lagi di kamar mandi ya? Keivel tidak mau minum susu di dot," terdengar suara suster yang memang memiliki kunci duplikat dan bisa masuk ke kamar Linda sewaktu-waktu.


"Ya, tung ---." Baru juga Linda akan menjawab Agam sudah memberi kode.


"Sssttt, please sayang layani saya dulu, nanti baru Keivel," bisik Agam.


"A-apa?" Linda dilema.


Keivel dulu?


Atau Agam dulu?


Siapapun itu, tolong beri saran pada Linda di kolom komentar.


...~Tbc~...