
"Jangan pura-pura kamu, Maga! Aku sudah melihatnya. Kamu mengerikan, liar sekali. Di mana kamu belajar, hahh? Hahaha," goda Deanka sambil tergelak, lalu menarik tangan Agam yang menutupi wajahnya.
Serius Agam juga malu. Tapi ... jujur keberadaan Linda sangat berfungsi. Tadi itu sensasinya luar biasa, pikirnya.
"Naluriah, Tuan. Eh tidak, Anda gurunya, hahahah."
"Enak saja, aku dan istriku halal!" bentak Deanka sambil membantu Agam untuk kembali bersandar.
Saat ini, dokter tengah membalut luka post operasinya menggunakan kasa steril, rangkaian proses operasi darurat itu akan segera usai.
"Anda juga pernah mencium nona Aiza sebelum menikah, kan?" Agam berdalih untuk menutupi rasa malunya.
"Hahaha, ya sih pernah. Tapi tidak sering."
Deanka lalu membantu memakaikan baju pada Agam saat dokter telah menyelesaikan protap terakhirnya dan meninggalkan ruangan tersebut.
"Tuan, saya saja." Agam menolak dibantu memakai baju.
"Sudahlah, Maga. Kamu sedang sakit. Oiya kapan kamu menikahi dia?" bisik Deanka.
"Secepatnya, Tuan. Tapi saya masih memiliki batu sandungan."
"Batu sandungan, maksudnya?"
"Emm, penghalang Tuan. Ayahnya Linda sejak awal tidak menyukai saya. Baginya saya adalah pria jahat yang telah menghancurkan masa depan putrinya." Agam menghela napas.
Lalu ia turun dari bed untuk belajar berjalan agar tidak tertatih-tatih.
Deanka menggandeng bahunya. Mereka keluar dari ruangan itu menuju ruangan lain yang mirip dengan ruang tamu.
Di tempat ini tampak Linda sedang melamun entah memikirkan apa.
"Kamu masih ingin berciuman ya? Kenapa melamun?" tanya Deanka.
"Hahh?"
Linda yang kaget langsung mengerjap. Dan ia semakin kaget manakala pelaku utama adegan mesum tadi sudah bisa berdiri dan ssat ini tengah menatapnya sambil mengulum senyum.
"Maaf," ucap Agam singkat. Lalu duduk di samping Deanka.
"Hhmm, tadi itu tidak bisa dimaafkan, Maga. Kecuali kalau kalian menikah. Oiya Linda, sekarang kamu sudah tahu kan sisi lain dari dia seperti apa?"
Sekilas Deanka melirik Linda yang mengangguk sambil menunduk.
Belum tahu semuanya, batin Linda.
"Setelah ini, kamu tinggal mengambil keputusan apakah akan tetap mencintai dia atau tidak. Pesanku, jika kamu akan meninggalkan dia dan merubah keputusanmu, tolong rahasiakan tentang keterlibatan Maga sebagai anggota BRN dari siapapun."
"Jangan meninggalkan saya, El." Sela Agam lirih.
"Maga diam dulu! Aku belum selesai bicara," Deanka mengerling pada Agam.
"Tuan Deanka, aku ingin bertanya, boleh?" Linda memberanikan diri.
"Silahkan."
"Begini Tuan, sebenarnya ... aku masih bingung. Aku memang pernah mendengar tentang BRN, tapi kata Tuan orang-orang tadi bukan BRN, lalu mereka siapa? Apa ruangan ini tempat ilegal? Aku ada sedikit kekhawatiran jika Tuan dan dia terlibat dengan organisasi terlarang di negara ini."
"Maksudmu?" Deanka menautkan alisnya.
"Aku tidak mau memiliki suami yang tergabung dengan organisasi bawah tanah atau yang berfaham radikalisme," tambah Linda.
"Hahaha," Deanka tertawa. Sementara Agam hanya tersenyum.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu, El?" Kini Agam yang bertanya.
Tapi Linda tidak menjawab, malah semakin nenunduk.
"Baik, aku yang jelaskan," kata Deanka.
"Begini, Maga adalah satu dari lima orang anggota BRN di negara ini yang memiliki akses dengan jaringan anonymous. Saat ini sisanya hanya tiga orang lagi, yang dua telah gugur," kata Deanka.
"Maga bagi anonymous sangat penting sebab Maga memiliki akses dengan BRN yang merupakan organisasi di bawah pengawasan negara. Dan bagi BRN, Maga sangat penting karena BRN tahu jika Maga mempunyai akses dengan jaringan anonymous. Maga adalah mata-matanya BRN sekaligus mata-matanya anonymous."
"A-apa? Se-serumit, itu? Se-sebahaya itu?" Linda terhenyak.
"Hahaha, ya benar seperti itulah dia. Dia hebat, kan?" puji Deanka sambil menepuk bahu Agam.
"Apa BRN dan anonymous rival?" Linda jadi penasaran.
"Bisa ya, bisa tidak. Saat BRN menghianati rakyat, maka anonymous akan bertindak. Dan calon suamimu adalah orang yang sangat dibutuhkan di keduanya, baik di BRN ataupun di jaringan anonymous."
"Kenapa?" Deanka menghela napas sejenak.
"Karena dia memiliki kelebihan di bidang bahasa, navigasi dan perkodean. Dia mengusai banyak bahasa asing, dan memahami kode-kode rahasia." Kembali Deanka menepuk bahu Agam.
"Tidak perlu berlebihan, Tuan. Saya bisa karena belajar. Siapapun kalau belajar pasti bisa kok," elak Agam.
Agam berpikir Deanka terlalu menyanjungnya, padahal ia merasa biasa-biasa saja.
"Hahaha, jangan merendah begitu, Maga. Oiya Linda, satu hal lagi yang istimewa dari dia."
"Cukup, Tuan." Sela Agam. Tapi Deanka tidak peduli.
"Hahaha, ini sedikit menggelikan sih."
"Katakan, apa?" Linda antusias.
"Dia pernah dihubungi oleh pusat riset ilmu biologi, dan penelitian dunia untuk diteliti s p e r m a nya, dia diminta untuk mendonorkan s p e r m a nya, hahaha, hahaha." Deanka terpingkal-pingkal.
"Tuan, cukup!" bentak Agam.
"A-apa?! Be-benarkah?" Linda terkejut.
"Aku serius, entah tahu dari mana pusat riset itu menganggap jika Maga itu langka dan perlu dilestarikan. Di luar negeri sana konon banyak wanita yang sudah mendaftar untuk menanami rahimnya dengan air milik dia, hahaha."
"Apa?!" Linda kembali terkejut.
"Cukup, Tuaaan. Cukup!"
Agam tidak sabar lagi. Ia mendorong bahu Deanka hingga pria itu terjatuh dari kursi.
"Hahaha, jadi kamu beruntung, Linda. Kamu sudah mendapatkan air berkualitas dan berharga milik dia tanpa harus membayar."
"Tuan, cukup! Lagipula saya tidak akan pernah menjualnya. Saya muslim, tidak mungkin donor s p e r m a."
"Hahaha, ya aku tahu. Oiya Maga, Linda. Sepertinya aku harus pulang sekarang. Minta doa dari kalian agar Aizaku tidak marah. Aku meninggalkannya saat dia sedang *****."
Deanka berbicara begitu saja tanpa difilter. Sontak membuat Agam dan Linda melongo. Deanka memeluk Agam yang masih melongo, lalu berlalu begitu saja.
Setelah Deanka pergi, Agam dan Linda diam-diaman.
Ya, mereka terkadang seperti itu, seperti orang yang tidak saling mengenal satu sama lain. Tapi ... saat keduanya terlibat aktivitas yang mendosakan, Agam dan Linda bagaikan satu kesatuan.
"Tunggu sebentar, saya mau melepas infus dulu, setelah itu kita pulang."
Agam berdiri, lalu kembali ke ruangan yang sebelumnya dengan sedikit tertatih-tatih.
"Aku bantu Pak," kata Linda. Ia mengejar Agam dan memegang tangannya.
"Terima kasih," ucap Agam saat mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Agam bisa melepas infus sendirian tanpa kesulitan. Linda hanya jadi penonton.
"Terima kasih juga untuk yang tadi, maaf kalau kamu tidak suka. Tapi ... serius itu sangat membantu, saya jadi tidak sakit," sambil menatap Linda. Lebih tepatnya menatap bibir Linda.
"Jangan dibahas lagi, lupakan saja," kata Linda. Ia memalingkan wajah. Jika boleh jujur, tatapan pria itu selalu saja membuatnya lemah. Lemah iman.
"Mmm, saya lapar," kata Agam. Ia mengusap perutnya.
"Apa di sini ada yang bisa dimakan? Terus kemana orang-orang yang tadi?" tanya Linda.
"Ada, di sini ada kafe rahasia. Nanti kita ke sana. Orang-orang yang tadi sudah pulang."
"Oiya Pak, bagaimana ayah dan Hikam? Di mana mereka sekarang? Apa aku bisa menemuinya?"
"Bisa, tapi ... besok ya."
"Kenapa harus besok, Pak?"
"Aku harus menunggu paman Yordan dulu."
"Paman Yordan, siapa?"
"Paman saya lah, El. Dia tinggal di luar negeri. Sengaja saya panggil ke sini untuk menjadi perwakilan ayah. Maksudnya, saya kan mau sekalian meminang kamu," jelas Agam sambil mengulurkan tangan.
Linda meraih tangan Agam, lalu mereka beranjak dari ruangan itu. Tujuannya adalah kafe rahasia. Namun Agam urung ke sana dan menghentikan langkahnya.
"Kenapa, Pak?"
"Emm, ponsel saya hilang di laut, untuk masuk ke kafe itu harus memakai pemidai barcode yang ada di ponsel. Hmm, kita pulang saja ya, tidak apa-apakan?"
"Aku tidak masalah Pak, aku sudah makan." Linda menatapnya penuh kekhawatiran.
"Saya juga tidak terlalu masalah sih, kan sudah diinfus dan menikmati bibir kamu, hehehe," candanya.
Linda spontan memukul bahu Agam dan tersipu.
"Awwhh," teriak Agam, padahal sama sekali tidak sakit.
Dan saat ini, mereka sudah berada di depan pagar rumput, sebuah gerbang kamuflase. Lalu pagar itu terbuka secara otomatis.
"Cepat," Agam menarik Linda.
...*...
...*...
...*...
...*...
Mereka sudah berada di taman yang letaknya sekitar 200 meter dari jalan raya.
"Kita naik taksi saja, ya." Kata Linda.
"Boleh," jawab Agam, pria itu sedikit meringis.
"Sakit?" tanya Linda, seraya memapahnya.
"Sedikit, saat digerakkan saja."
"Kok Bapak berani sekali menyelinap ke kapal musuh? Jangan dilakukan lagi ya."
Mereka sudah berdiri di bahu jalan untuk mencegat taksi.
"Ceritanya panjang, nanti saya ceritakan kalau kita sudah di rumah." Agam menghela napas, teringat kembali akan Yohan.
Semoga gadis itu bisa menjadi pelantara agar kamu kembali lagi ke jalan yang benar. Batinnya.
"Kenapa melamun, Pak?"
"Emm, maaf tadi teringat sesuatu," jawabnya.
"Pak, itu taksinya," pekik Linda sambil melambaikan tangan.
"Oke," Agam tersenyum.
Bahagia rasanya mau naik taksi berdua bareng calon istri yang cantiknya bak artis. Eh, LB kan memang artis. Ya, terkadang Agam melupakan kenyataan itu.
Taksi itu berhenti, Agam menyuruh Linda masuk terlebih dahulu sebelum dirinya.
.
.
.
.
"Hoaaam," di dalam taksi Agam menguap. Ia menutup mulutnya saat menguap.
"Ngantuk?" tanya Linda.
"Ya," jawabnya singkat. Sambil meregangkan tangan.
"Mm-mau bersandar?" tawar Linda, ragu.
"Boleh?" Agam bertanya sambil bergeser.
"Bo-boleh," jawabnya gugup.
Semakin gugup saat pria yang rambutnya tebal dan wangi itu benar-benar telah bersandar di bahunya.
Dan sang pengemudi taksi, beberapa kali mengerjapkan mata. Ia tidak menyangka jika penumpangnya sore ini sangat mirip dengan artis LB dan Dirut HGC. Ya, Linda dan Agam memang tidak memakai masker.
Entah lupa atau sengaja? nyai juga tidak tahu.
Benar saja, yang katanya mengantuk bukan gurauan, Agam terelap di bahu Linda, napasnya sepi. Mata dan bibirnya tertutup rapat. Sebuah definisi sempurna dari 'Tidur tampan.'
Tiba-tiba Linda teringat cerita tuan Deanka tentang kelebihan Agam.
Sambil menelisik rambut Agam ia tersenyum. Batinnya tiba-tiba merasa bangga karena bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang dari Agam Ben Buana.
Di profil Dirut HGC, hanya dicantumkan Agam menguasai lima bahasa.
Tapi ... sekarang ia tahu jika pria ini pasti mengusai lebih dari lima bahasa asing hingga keberadaannya dianggap penting untuk BRN dan anonymous.
Kamu juga sangat penting untukku, Maga. Batin Linda. Tak sadar ia menyebut nama itu.
Maga, nama yang bagus. Linda tersenyum.
Semoga kamu juga sejenius dan setampan Pak Agam.
Linda mengusap perutnya. Jika dia sudah mengatakan tampan, artinya ... jenis kelamin bayinya adalah laki-laki. Mungkin Linda sudah mendapat informasi terbaru dari dokter Fatimah.
Lama-lama bumil cantik itupun terkantuk, perlahan kepalanya bersandar jua pada kepala Agam.
Laksana telah memiliki ikatan batin, Agam terbangun.
Mengetahui Linda tidur, Agam segera memposisikan diri. Kini, Linda sudah nyaman tertidur di dadanya.
Gantian, sekarang Agam yang mengusap rambut Linda, sambil sesekali mencium puncak kepalanya.
Perlahan tangan Agampun bergerak, berniat mengelus buah hatinya.
DEG.
Dan Agam menelan saliva saat tangannya malah akan mendarat di daerah itu.
Niatnya kan ke buah hati. Ya, memang sama-sama berawalan 'Buah,' tapi ... bukan buah itu yang dimaksud Agam.
Daerah terlarang. Nyaris saja.
Agam mengepalkan tangannya, meremas udara sambil menghembuskan napas.
...*...
...*...
...*...
...*...
Akhirnya merekapun tiba.
Linda mengerjaap saat sadar jika posisi telah berubah. Dialah yang bersandar nyaman di dada bidang itu.
"Su-sudah sampai, ya?" Sambil merapikan rambutnya.
"Ayo bayar kargonya, tas dan dompet saya masih ada di Pangkalan Militer Angkatan Laut," bisik Agam.
"I-iya Pak, ini mau dibayar kok." Linda mengeluarkan dompetnya.
"Terima kasih, ya Pak," ucap Linda saat ia dan Agam turun dari mobil.
"Sama-sama," sahut pengemudi.
Pengemudi baru fokus ke jalanan saat di depannya ada belokan. Sebelumnya, pengemudi itu fokus pada spion demi menatap mantan penumpangnya.
"Ck, ck, ck, kenapa mirip sekali dengan LB dan Dirut HGC sih? Ya ampun aku baru sadar sekarang, harusnya tadi aku minta berfoto dengan mereka," gumamnya.
Dan mobil itupun hilang di balik belokan.
.
.
.
.
"Untungnya kamu pegang uang," kata Agam.
"Iya itu uang hasil mengamen."
"Non Lindaaa," teriak Bu Ira.
Wanita yang baru saja membuka gerbang itu langsung berhambur memeluk Linda dan menciumi pipinya.
"Mmmuah, mmuaah, si cantik, si wangi, si hobi berenang dan si suka makan sambil ngoceh akhirnya pulang juga," katanya. Masih menciumi pipi Linda.
"Bu Ira! Cukup!" Agam menarik Bu Ira.
"Jangan menciumnya lagi. Ini terakhir kalinya," tegasnya.
"Hahaha, ada yang cemburu," Bu Ira tergelak. Sekarang sedang mendekap Linda.
"Ibu kangen aku?" tanya Linda. Ia Merasa terharu dan tensanjung.
"Sangat," jawab Bu Ira singkat.
"Bu Ira sudah masak, kan? Saya lapar," ucap Agam.
Ia berjalan cepat masuk ke dalam rumah melalui bassement. Sementara batinnya masih belum terima melihat Bu Ira menciumi pipi Linda.
Bukan cemburu, bukan. Masa sih cemburu sama Bu Ira?
Alasannya, ya ... Agam tidak suka saja melihat pipi yang mulus kemerahan itu tersentuh orang lain.
"Pak Agam kenapa?" Bu Ira mengejar. Merasa aneh dengan cara berjalan Agam.
Agam langsung duduk menghadap meja makan setibanya di dapur.
.
.
.
.
Sementara Linda langsung beranjak ke area pekarangan belakang untuk menemukan pusara kecil milik putranya. Ia tahu putranya dimakamkan di sini dari pak Barata.
Linda menghentikan langkahnya kala melihat pusara itu.
Pusaranya telah dipercantik dengan rumput hijau, batu nisan yang belum di beri nama, bunga hidup, dan dikelilingi oleh batu alam berbentuk oval yang berwarna-warni.
Juga diberi atap dan dihiasi lampu kristal ukuran mini. Lalu di sisi kiri dan kanannya ada bangku kayu yang bentuknya memanjang.
"Hukks,"
Linda langsung bersimpuh dan menangis.
"Maaf sayang ... maafkan mama ya ...," lirihnya.
"Harusnya kamu masih ada di perut mama Andai saja dulu mama tak egois dan kabur dari rumah ini."
Linda terisak sambil menyiangi rumput-rumput kecil yang tumbuh di antara batu alam.
"Sekarang kamu sudah pergi untuk selamanya. Bahagia di sana ya sayang .... Pastinya ... di sana lebih baik daripada di sini, huks."
"Ayo kita beri nama, mau siapa namanya?"
Suara familiar itu mengagetkan Linda. Entah sejak kapan Agam berdiri di situ.
"Pak Agam? Ti-tidak jadi makan?"
"Saya mau makan bersama kamu. Saya sampai mencari kamu ke kamar, eh ternyata di sini."
Pria itu berjongkok di samping Linda. Lalu memainkan batu alam yang tergeletak.
"Pusaranya cantik sekali, terima kasih," kata Linda.
"Tidak perlu berterimakasih, El. Dia putraku. Ya walaupun dalam agama kita kuburan baiknya hanya batu nisan saja, tapi ... saya menginginkan seperti ini. Kamu suka?"
"Suka sekali, Pak. Lampu kristalnya unik," Linda menengadah.
"Emm, lampunya bisa berubah warna. Oiya saya yang mendesainnya."
"Semua ini?"
"Ya," Agam mengangguk.
"Bagaimana kalau kita makan dulu? Nanti setelah mandi kita ke sini lagi." Sambil meraih tangan Linda.
"Baik."
Linda patuh. Sepanjang perjalanan menuju dapur ia hanya menunduk.
Kembali lagi ke rumah ini, rasanya nyaman. Linda merasa terlindungi. Bukan karena rumahnya yang mewah dan fasilitasnya yang super lengkap, tapi ... kehadiran Agamlah yang membuatnya nyaman.
"Makan yang banyak," ucap Agam sambil mendekatkan seluruh menu buatan bu Ira ke hadapan Linda.
"Pak Agam tidak perlu begini, aku bisa mengambil sendiri."
Dan baru saja Agam akan memasukan satu suapan ke mulutnya, interkom berbunyi.
"Biar Ibu saja yang ke sana," sahut Bu Ira yang tergesa turun dari tangga sambil membawa sapu.
"Terima kasih, Bu Ira," kata Agam.
Alis Agam sedikit mengernyit, siapa pikirnya yang bertamu se sore ini?
Lalu ia menikmati suapan pertama sambil menatap Linda yang cantik. Linda juga menatapnya.
Definisi makan dengan cinta.
Dan Agam membersihkan lelehan saus tomat di bawah bibir Linda dengan tangannya. Keduanya menikmati makan sore sambil tersenyum-senyum.
"Pak Agam, maaf." Bu Ira datang, dan terengah.
"Bu, kenapa?" Agam menghentikan makannya.
"Tamunya, pengawal pak Agam dua orang, dan ada dua orang lagi yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Kata pengawal Bapak, tamu itu memaksa ingin ke sini."
"Pak Agam saya minta maaf," seorang pria datang.
Dia adalah tamu sekaligus anak buah Agam yang menyusul ke dapur.
"Enda?" Agam kaget.
"Maaf Pak, ayah Berli memaksa ingin ke sini, ingin segera bertemu Bapak."
"A-apa?! Apa maksudnya ayahku ada di sini?!"
Linda gemetar. Tangannya yang memegang sendok langsung tremor.
"El, tenang." Agam segera menghampiri dan memeluk Linda.
"Ceritakan, kenapa kalian tidak membawanya ke hotel dulu?" tanya Agam pada Enda.
"Saya sudah menyiapkan hotel sesuai perintah Relief, Pak. Tapi ayah Berli memaksa dan mengancam kami."
"Mengancam?" Agam dan Linda kaget.
"Ya, katanya kalau tidak segera dipertemukan dengan Pak Agam, ayah Berli akan membocorkan keburukan Bapak ke publik," jelas Enda sambil tertunduk.
"Pak Agam, aku harus segera ke sana," Linda melepaskan diri dari dekapan Agam.
"El, tunggu." Agam menahannya.
"Kita bersama-sama," tambahnya. Ini di luar dugaan, hati Agam sedikit berdebar.
"Maaf tidak memberitahu Bapak, ponsel Bapak non aktif."
"Ya, ponsel saya memang hilang. Bagaimana keadaan mereka? Maksud saya Relief dan kawan-kawan," tanya Agam.
"Relief, Ricky, Veto dan Yanyan sudah berada di rumah sakit, Pak. Kondisi terakhir mereka tidak ada yang mengkhawatirkan. Tadi Maxim yang ke sana."
"Syukurlah."
Lalu dengan langkah perlahan dan hati yang sulit didefinisikan, Agam beranjak sambil memegang erat tangan Linda.
"Aku takut ayah marah ...." Tangan Linda dingin.
Sama, El. Saya juga, ucap Agam dalam batinnya seraya menghela napas.
---
...Masih dalam suasana Hari Raya Idul Adha 10 Dzul Hijjah 1442, nyai dan keluarga mengucapkan mohon maaf lahir batin....
...Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan-Nya, serta selalu ditetapkan dalam keislaman dan keimanan....
...Aamiin....