
Agam Ben Buana merebahkan Linda tanpa melepaskan jalinan manis itu. Lindapun mulai terbuai hingga perlahan memejamkan matanya. Tak lupa, jemari lentiknya yang memakai cat kuku berwarna biru muda itu tampak asyik membelai rambut kemilau nan lebat milik pak Dirut.
Jujur, Linda juga merindukan kehangatan dan belaiannya.
Walaupun pada praktiknya Linda lebih fokus pada twins, tapi faktanya, bayi besarnyapun memang butuh perhatian.
"Sa-sayang ...."
Di sofa, Pak Dirut mulai gelisah, ia panik karena telinga jelinya bisa mendengar derap langkah kaki menuju kamar utama. Padahal, Linda baru saja hendak memanjakannya.
"El, cu-cukup, sayang."
"Ke-kenapa, Pak?" Linda jelas terheran-heran.
"Sudahi saja," kata Agam, pelan. Sambil menghela napasnya.
"Bu LB, twins mau mimi." Benar saja, ners Sinta datang. Suara khasnya memenuhi interkom.
Lindapun melongo, lalu menatap Agam sambil tersenyum. Lantas beranjak dari pangkuan suaminya. Sebelum membuka pintu, Linda mengecup kening pak Dirut.
"Saya akan menunggu," lirih Agam.
"Hahaha, Anda benar-benar penyabar. Salut," puji Linda.
"Hmm." Agampun beranjak untuk menyambut kedatangan twins.
"Assalamu'alaikum soleh-sholehahnya Paren dan Momca," sapa Agam saat ners Sinta dan suster Dini memasuki kamar mereka.
"Wa'alaikumussalaam," yang menjawab salam tentu saja Linda, suster Dini dan ners Sinta.
Linda segera memosisikan dirinya di sofa yang dirancang khusus untuk ibu menyusui. Agam membantu mendekatkan twins pada Linda.
"Bapak tidur saja, temani Keivel," titah Linda.
"Mau cium si cantik dulu."
Agam memangku putrinya. Lalu ditatapnya lekat-lekat. Semakin ke sini, raut wajah putrinya semakin mirip dengan dirinya. Bibirnya tipis, matanya sayu, dan rambutnya begitu lebat. Hati Agam merasa hangat saat bersitatap dengan netra indah milik putri kecilnya.
Agam memangku putrinya seraya menatap putra kecilnya yang saat ini tengah asyik menyesap ASI. Tidak beda jauh dengan Keivel, putranya yang inipun sangat suka ASI. Selalu terlihat lahap dan bersemangat.
Lalu bu Ira datang membawa baki berisi menu seimbang yang sengaja diberikan agar Linda tak kelelahan. Saat twins mau ASI, suster Dini atau ners Sinta akan memberitahu bu Ira untuk membawa makanan yang sudah disiapkan oleh ahli gizi.
"Aku kenyang, Bu. Tadi sudah makan steak. Sekarang mau makan buah-buahan saja," kata Linda.
"Ya sudah, Ibu suapi buah ya." Bu Ira sigap menyuapi Linda.
Seperti itulah hari-hari Linda, dan Agam baru akan mempublikasikan nama twins pada saat aqiqah yang akan dilangsungkan seminggu lagi.
.
.
"Ada twins?" Keivel terbangun.
"Ya Kei, bagaimana kalau Kei pindah ke kamar Kei lagi?" tanya Agam.
"No, Paw. Kei tetap tiduw (tidur) di sini," jawabnya.
"Baiklah."
Pak Dirut menyerah. Setelah menyerahkan putrinya pada suster Dini, ia naik ke tempat tidur dan memeluk Keivel. Lalu mulai memejamkan mata. Sesekali, ia mengalihkan pandangan pada Linda yang tentu saja masih sibuk dengan twins.
Lama-kelamaan, mata pak Dirutpun mulai terpejam. Lantas tertidur pulas dalam keadaan mendekap tubuh hangat putra sulungnya.
.
.
Entah di jam berapa, Agam tiba-tiba merasakan jika punggungnya dipeluk seseorang. Oleh Linda pastinya. Ia langsung berbalik perlahan, memunggungi Keivel.
"Twins sudah tidur?" tanya Agam seraya mengecup bibir Linda dan merapikan anak rambutnya.
"Sudah, Pak."
"Ya sudah, sekarang kamu tidur ya?"
"Aku sengaja cuci muka supaya tak mengantuk. Apa Pak Agam tak mau melanjutkan yang tadi?" Sambil mengedipkan mata.
"Saya kasihan sama kamu, tak masalah sayang. Next time ya," katanya.
"Yakin?" Linda ragu.
"Yakin, dong," jawabnya mantap.
"Serius, coba aku cek ya. Hihihi," goda Linda.
"A-apa? Kamu ---."
Pak Dirut terpaku, sekujur tubuhnya langsung berdesir saat istri cantiknya itu mulai beraksi. Entah apa yang dilakukan Linda, yang jelas, pak Dirut jadi tersipu karenanya.
"Yakin tak akan dilanjutkan? Anda boleh berbohong, tapi tubuh Anda selalu jujur."
Linda berbisik agar suaranya tak membangunkan Keivel. Linda mengulum senyum karena merasa gemas dengan ekspresi pak Dirut yang terlihat begitu seksi dan semakin tampan saja.
"Saya tak yakin sayang," bisik Agam. Akhirnya jujur mengutarakan isi hatinya. Segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Linda.
Di balik selimut .... Entah apa yang terjadi. Yang jelas, terlihat ada pergerakan pelan yang sangat mencurigakan.
Beberapa saat kemudian, satu tangan pak Dirut mengulur keluar dari balik selimut. Lalu tangan tersebut mengerat pada sprei. Saat selimut di bagian kepalanya tersibak. Pak Dirut ternyata sedang membekap bibirnya sendiri. Wajahnya tampak memerah, dan matanya sedikit terpejam. Kenapa ya? Entahlah.
"Paw, Mom?" Keivel bergumaman.
Agam spontan mematikan lampu dengan menekan remot yang ada di samping kepalanya hingga kamar megah itu jadi gelap gulita.
"Paw!" Keivel panik.
"Ssst, Paren di sini. Ja-jangan takut," dengan suara gemetar dan tersendat, Agam mengelus kepala Keivel.
"Cepat nyawakan (nyalakan) gensetnya, Paw," desak Keivel.
"Kk-ka-kamu pejamkan mmmh ... ma-mata sssh --- saja, ohh --- oke?" bujuk Agam.
"Awe (are) you, oke Paw? Apa mati wampu (lampu) membuat Paw gugup sampai bicawanya (bicaranya) Paw tewdengar (terdengar) aneh?"
"Ya, sa-sayang," jawab Agam.
"I'm Kei, no sayang," sanggah Keivel.
Agam lantas terdiam karena Linda membekap mulutnya.
"Hmm, aneh sekawi (sekali), ini mati wampu, tapi AC-nya masih tewasa (terasa) dingin. Ini mati wampu tewaneh (teraneh) yang pewnah (pernah) Kei wasakan (rasakan). And di wuangan (ruangan) wain (lain), wampunya masih menyawa**la (menyala)," keluh Keivel sambil memeluk guling sebab Agam tak lagi memeluknya.
"Sudah, Kei bobok lagi ya. Besok, Mom jelaskan kenapa bisa mati lampu sebagian," bujuk Linda seraya menahan tawa.
Dalam kegelapan, wanita itu masih antusias menjalankan kewajibannya melayani pak Dirut yang saat ini tak mampu berkata-kata lagi karena sudah terhanyut dan terombang-ambing oleh terjangan gelombang cinta.
...❤...
...❤...
...❤...
~Seminggu kemudian~
"Apa?! Kenapa Anda tak bisa menjaganya?! Anda mengecewakanku!" teriak seseorang di ujung ponsel milik Agam.
"Pangeran Enver, tolong Anda tenang dulu. Saya sedang mengerahkan anak buah saya untuk menemukan gadis itu. Seharusnya, sedari awal, Pangeran mengatakan pada saya kalau Anda memiliki hubungan spesial dengan gadis itu."
"Tapi Pangeran hanya menyuruh saya mengawasi tanpa memberi alasan apapun. Jika saya tahu gadis itu gadis spesial Anda, saya pasti akan mengatakannya pada tuan Deanka. Jika tuan Deanka tahu, saya yakin diapun pasti tak akan mengizinkan gadis itu mengikuti pelatihan ke luar kota," jelas Agam.
"Huft, m**aaf Pak, sebenarnya ... aku terlalu khawatir. Untuk sementara waktu, aku juga tak bisa berkunjung ke negara Anda karena negaraku sedang diambang krisis akibat dampak perang yang terjadi di negara tetangga," jelas pangeran Enver alias Mister X.
"Pangeran, kepentingan negara lebih prioritas daripada gadis itu. Anda fokus saja pada tugas Anda sebagai pangeran. Untuk masalah Senja, serahkan pada saya. Namun hemat saya, tolong dipikirkan lagi, apa yakin Pangeran ingin membawa gadis itu ke kehidupan Anda? Bukankah hal ini terlalu berbahaya? Setahu saya, pasangan hidup Anda sudah ditentukan, bukan?"
"Pak Agam, aku sangat mencintai gadis itu, aku rela melepaskan takhtaku demi bisa hidup bersama Senja."
"Ya, saya mengerti perasaan Pangeran. Tapi ingat baik-baik Pangeran, Anda bukan warga negara biasa. Sejak dilahirkan, di pundak Anda sudah tersimpan banyak beban dan permasalahan yang harus diselesaikan. Silahkan Anda cintai gadis itu, tapi jangan sampai cinta itu menjadikan Anda mengorbankan hajat hidup orang banyak."
"Dengan kekuasaan dan otoritas Pangeran, silahkan miliki gadis itu tanpa harus mengorbankan tugas kerajaan apa lagi sampai mengakibatkan pertumpahan darah akibat perebutan kekuasaan." Sebagai seorang kolega bisnis sekaligus sahabat, Agam merasa berhak memberi sedikit wejangan pada Mister X.
"Baiklah, terima kasih, Pak. Jika Anda sudah menemukan dia, tolong segera bujuk gadis itu agar mau mengoperasi matanya. Aku sudah menemukan pendonor mata yang cocok untuknya. Dulu, secara diam-diam dan rahasia, aku pernah melakukan pemeriksaan pada matanya bersama dokter ahli mata, ahli bedah, dan ahli anastesi. Aku mohon pada Anda, Pak."
"Baiklah, saya akan berusaha. Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya mohon undur diri Pangeran, jangan lupa sampaikan salam saya untuk Paduka Raja," kata Agam.
"InsyaaAllah, akan aku sampaikan. Aku juga titip salam untuk LB, Keivel, dan twins."
"Hormat Anda tidak aku terima," jawab pangeran Enver. Lalu panggilan itu berakhir.
Agam menghela napas sambil berpikir. Di manakah gerangan gadis bernama Senja itu? Setelah memastikan kembali kinerja anak buahnya, iapun beranjak dari ruang kerjanya untuk mengecek kesiapan tim yang bekerja untuk mempersiapkan aqiqahnya twins.
Setelah yakin tim tersebut bekerja dengan baik, Agam beranjak ke kamar utama. Sebelum ke kamar utama, ia mendatangi kamar Keivel terlebih dahulu.
.
.
Di sini, tampak Keivel didampingi guru lesnya tengah berlatih menyampaikan sepatah dua patah kata untuk mengisi salah satu rangkaian acara aqiqahnya twins.
"Semangat!" seru Agam pada putranya sambil mengangkat tangan yang dikepalkan.
"Yes, Paw," sahut Keivel. Mengacungkan jempolnya.
Lantas pak Dirut berlalu ke kamar twins, namun langkah Agam terhenti di depan kamar. Sebab ners Dini mengatakan jika twins sedang tidur. Akhirnya, ia berlanjut ke kamar utama.
.
.
Linda baru saja selesai mandi. Ia kaget begitu Agam masuk dan menatapnya.
"Kan bisa tekan bel dulu, Pak," protesnya.
"Haruskah?" Agam mendekat.
"Salam dulu bisa, kan?" Kembali protes.
"Maaf, saya lupa sayang. Assalamu'alaikuum, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," katanya sambil tersenyum.
"Wa'alaikumussalaam," jawab Linda seraya masuk ke ruang ganti. Kemudian Linda kembali terkejut sebab Agam menguntitnya.
"Anda mau ke mana?" Mata Linda mendelik.
"Ya mau susul kamu, lah."
"Pak, jangan becanda ya. Aku mau pakai baju dulu."
"Saya mau ---."
"Pak, pergi!" Linda menyela ucapan Agam sekaligus mengusirnya.
"Kenapa kamu galak sekali, El? Oke, maaf."
Agam membalikan badan sambil tertunduk lesu. Linda segera merangkul punggung Agam sebelum suaminya itu meninggalkan kamar ganti. Agam mematung, menghentikan langkahnya. Ujung bibir pak Dirut terangkat karena menyunggingkan senyum.
"Maaf," ucap Linda. Agam diam saja. Ia pura-pura marah.
"Pak, a-aku belum siap melakukannya malam ini. Apa lagi kalau sampai melakukannya di sini, bisakah malam besok saja?"
"Hahaha, apa di matamu saya selalu mau bercinta?" Agam membalikan badannya. Kini berhadapan dengan Linda.
"A-apa?" Linda sedikit kebingungan.
"Saya menyusul kamu ke sini karena ingin mengatakan sesuatu."
"Oya? Sesuatu? Apa itu?" Linda malu campur penasaran.
"Gama mau pulang," terang Agam.
"Apa?! Memang sudah waktunya pulang?"
"Tidak sayang, Gama akan kembali ke markas karena ada perintah baru dari komandan pusat. Tugas itu hanya untuk Gama dan dua orang temannya. Setelah mendapat tugas dari komandan pusat, kita tidak akan mengtahui keberadaan Gama lagi. Gama akan menjalankan misi rahasia. Saya bahagia karena kepulangan Gama bersamaan dengan aqiqahnya twins."
"Ya ampun, aku juga senang sekali, Pak. Apa suster Freissya sudah tahu?"
"Belum sayang, Gama berpesan agar saya tak memberitahu Ice."
"Wah, suster Freissya pasti sangat bahagia."
"Pasti, dan Gama meminta saya untuk reservasi hotel."
"Pesan hotel? Kenapa Gama tak menginap di sini saja, Pak?"
"Ya ampun sayang, Gama pesan hotel pasti karena ingin leluasa. Kamu faham maksud saya, kan?"
"Oh, iya ya. Hahaha, i see," sahut Linda sambil tersenyum.
"Dan saya sudah reservasi hotel bintang lima untuk dua kamar."
"Dua kamar? Kenapa harus dua kamar? Untuk apa? Apa untuk temannya Gama?" Linda bertanya sambil menahan dada Agam yang nyaris menghimpit tubuhnya.
"Hmm, satu kamar lagi untuk kita sayang," bisik Agam seraya menggigit pelan cuping telinga Linda.
"Ahh ... a-apa? Anda serius? Terus, twins bagaimana?"
"Kan besok ASI-nya Amaryllis datang. Jadi, stock ASI untuk twins aman sayang. Ya, kan?"
Linda melihat jika wajah pak Dirut begitu sumringah dan berseri-seri bak bulan purnama di tanggal empat belas.
"Bagaimana, setuju?" Agam bertanya lagi karena Linda masih merenung.
"Aku pikir-pikir lagi ya, Pak."
"Kenapa memangnya sayang?"
"Aku tak tega meninggalkan twins, Pak."
"Kita tak menginap, El. Saya hanya perlu quality time bersama kamu. Setelah selesai unboxing, kita pulang lagi."
"Unboxing?" Unboxing apa?" Linda menautkan alisnya.
"Unboxing kamulah, bagaimana?" Pak Dirut sangat membutuhkan jawaban.
"Aku belum bisa menjawab sekarang, Pak."
"Baiklah, tak masalah. Saya akan sabar menunggu." Pak Dirut mengalah.
...~Tbc~...
...|...
...|...
...|...
...|...
...|...
...|...
...|...
...|...
Kata pak Dirut, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
...*بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم*...
...*السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ*...
...Dengan segala kerendahan hati dan keikhlasan, izinkan nyai secara pribadi menghaturkan .......
...Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1443H / 2022 M...
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمنِْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ,
كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. اَللّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ العَاءِدِيْنَ وَالفَاءِزِيْنَ وَالمَقْبُوْلِيْنَ.
...Mohon maaf lahir dan batin atas segala kekhilafan dan kesalahan....
...Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan di tahun yang akan datang dan tahun-tahun berikutnya. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin 🙏...
...Wassalamu'alaikuum Wr. Wb....
...Salam sayang, salam ukhuwah dari .......
...~nyai~...