AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Dijaga Bak Buronan



Akhirnya dengan berat hati, Agam melepaskan dekapannya, lalu segera menyalakan televisi untuk menonton sebuah acara, entahlah acara apa.


Sekarang yang ada di pangkuan Agam bukan Linda lagi, tapi bantal sofa. Agam jadi pendiam saat seorang dokter umum dan dua orang suster masuk ke kamar tersebut.


Linda yang masih gugup karena gigitan itu tampak duduk di sisi bed. Linda tersenyum ramah saat para petugas itu mendekat.


Mereka menundukkan kepala saat melewati Agam.


"Nona LB sudah mandi?" tanya suster.


"Belum, Sus," jawabnya.


Sementara dokter langsung memeriksa Linda di bagian jantung dan paru-parunya menggunakan stetoskop.


Satu orang suster melakukan pemeriksaan tensi darah menggunakan tensi meter elektrik.


"Tensinya berapa?" tanya dokter.


"Sekarang jadi 134/82 mmHg. Padahal tadi hanya 111/72 mmHg," terang suster.


"Lho, kok naik?" Dokter itu mengernyit.


"Ma-maf Dok, Sus, tadi aku sempat kekagetan," terang Linda.


"Kaget kenapa?"


"Tadi, lihat di TV ada iklan film horor," kata Linda.


Penjelasan Linda membuat Agam sedikit tersenyum, ia tahu benar apa yang menyebabkan tensi darah Linda naik mendadak. Dan Agampun yakin jika saat ini ia ditensi, maka akan naik juga sama halnya seperti Linda, bahkan bisa jadi lebih tinggi lagi.


"Coba tensi ulang di tangan kanan," perintah dokter wanita itu pada suster.


"Baik, Dok."


Tensi ulangpun dilakukan, hasilnya malah makin tinggi, 137/85 mmHg. Dokter dan suster semakin bingung.


Apakah gerangan yang membuat artis cantik ini tekanan darahnya tiba-tiba naik? Masalahnya, tadinya baik-baik saja.


"Coba cek nadinya?" lanjut dokter.


"Nadinya 120, Dok."


"Nadi normal, sih. Tapi cenderung meningkat. Memangnya ada trailer iklan film apa Nona? Kok bisa sampai setegang ini?" Dokter wanita itu jadi penasaran.


"Film ...." Linda terdiam dalam kebingungan yang hakiki.


Tidak mungkin kan kalau ia mengatakan kaget pada sesuatu yang tumbuh besar dan berkembang pesat secara tiba-tiba itu?


Serius, tadi itu terasa mengerikan sekali. Pantas saja dulu Linda sampai pingsan. Mengingatnya lagi, membuat Linda spontan bergidik ngeri.


"Lupa, Dok. Tidak tahu judulnya," kata Linda.


Dan Agam si biang kerok, kini terlihat mendekat ke arah Linda, Linda semakin panik, khawatir pada kemungkinan yang tadi mengagetkannya terlihat jua oleh dokter dan suster.


Syukurlah, saat Linda mencuri pandang, hal tersebut rupanya sudah terbenam kembali ke peraduannya dalam damai dan tenang.


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Agam, seolah tidak terjdi apa-apa, tanpa dosa, dan terlihat seperti pria yang sangat bijaksana dan baik-baik saja.


Dih, padahal dia nakal, batin Linda. Dan anehnya, ia malah jatuh cinta pada pria nakal ini.


"Kondisinya secara keseluruhan baik, hanya saja denyut jantung janinnya masih belum stabil. Kemungkinan karena Nona masih stres gara-gara demo itu. Jadi, tetap harus istirahat dan bedrest, ya sekitar dua atau tiga hari," jelas dokter.


"Oh, ya. Lekas sembuh ya, saya sebagai Dirut HGC meminta maaf dengan ketidaknyamanan ini, semoga kandungan Anda baik-baik saja," kata Agam.


Pintar sekai dia akting. Lagi, Linda merutuki pria itu dalam batinnya.


Ya, saat ini, Agam sedang berpura-pura. Ini rahasia antara Agam, Linda dan dokter Fatimah.


Staf medis yang lain, atau tim yang disusun dokter Fatimah, tahunya LB sengaja melakukan operasi itu karena ia telah diperkosa, dan ingin kembali virgin sebab tidak ingin mengecewakan suaminya di masa mendatang.


Lalu akan melahirkan secara SC pada kehamilan yang ini, agar mahkotanya tetap utuh. Nah, seperti itulah asumsi tim medis lain selain dokter Fatimah. Dan bagi mereka apa yang dilakukan Linda adalah hal wajar, keputusan yang briliant dan cerdik. Apalagi jika mengingat Linda adalah seorang publik figur.


"Nona LB sekarang mandi dulu ya, setelah mandi bajunya ganti dengan baju pasien," kata suster sambil menyodorkan baju berwarna telur asin pada Linda.


"Baik, Sus." Linda mengambilnya.


"Setelah Nona selesai berganti pakaian, nanti akan kita infus untuk pemberian antibiotik," jelas Dokter.


"Baik, Dok." Linda mengangguk.


"Pak Dirut, mau tetap di sini? Sampai kapan?" tanya seorang suster.


"LB itu sebenarnya bersahabat dengn saya, jadi saya akan di sini sampai sore."


"Apa?!"


Mereka terkejut, karena sore ini adalah jadwal Linda operasi.


"Mohon maaf Pak Agam, Nona LB perlu istirahat, kalaupun Anda sahabatnya, tapi kami pikir, jika Bapak terus di sini, istirahat Nona LB akan terganggu," terang suster.


"Baik, saya dua jam lagi, selepas itu saya akan pergi, Anda tidak keberatan kan Nona?" Mengerling pada Linda.


Keberatan, sangat keberatan, kamu pergi saja dari sekarang. Batin Linda.


Tapi kepalanya malah mengangguk, yang berarti ia setuju jika Agam menunggunya sampai dua jam ke depan.


"Ya, Dok, kami memang berteman baik," kata Linda.


"Nah, ya kan?" tegas Agam. Memastikan pada suster dan dokter.


"Istirahat ya Nona. Jangan sampai tensi darahnya naik lagi."


"Baik, Dok," jawab Linda.


Setelah itu suster dan dokterpun meninggalkan ruangan itu.


Setelah suster dan dokter pergi, Agam malah duduk di bed pasien.


"Pak Agam, katanya mau rapat, kan? Tidak berangkat sekarang?"


"Em, rapatnya kan malam." Ucapnya santai.


"Pak Agam bisa keluar tidak? Aku mau mandi," kata Linda.


"Mandi ya mandi saja, saya akan tetap di sini sampai sore," ucapnya.


"Pak tolong, kita kan sedang berakting, Bapak jangan merusak rencana."


"Saya menginap di hotel depan rumah sakit, kalau kamu merindukan saya, tinggal telepon," katanya sambil beranjak.


"Bapak, mau ke mana?"


"Lho, kamu tadi bilang saya harus keluar kan?"


"Emm, i-iya sih, tapi ... saya takut kalau di sini sendirian, Pak. Apa Bagas boleh ke sini?"


"Apa?! Bagas?! Kamu masih ingat dengan pria itu?"


Linda menunduk. Jujur, kamar perawatan ini terlalu besar, Linda takut kalau sendirian, terus saat nanti ia selesai operasi, siapa yang akan menemaninya? Tapi, ia tidak berani mengatakannya pada Agam.


Meminta bantuan bu Ira untuk menemaninyapun pastinya tidak mungkin. Sebab, jika bu Ira ke sini, maka akan menambah kecurigaan.


"Kenapa? Kamu takut?" Agam mendekat, seolah memahami apa yang dipikirkan Linda.


"Iya, Pak. Takut," lirihnya.


"Hmm, manjanya," kata Agam, menatap Linda sambil tersenyum.


"Aku mau pindah ke kelas satu saja, Pak. Biar ada temannya."


"Hahaha," Agam malah tertawa.


"Tenang, nanti saya akan membawa seseorang emm maksud saya dua orang untuk menemani kamu."


"Siapa? Gama? Bukannya masih ada pelatihan?"


"Emm, pokoknya ada deh. Saya akan mengatur kamu ditemani oleh orang-orang ini. Tenang saja, saya yang akan membayar mereka. Setelah rapat selesai saya ke sini lagi, tapi akan menginap di hotel depan rumah sakit, kemungkinan tidak bisa menemui kamu dulu, kita VC. Ok?"


Tanpa bisa ditolak, Agam kembali memeluk Linda, dan tanpa bisa ditahan jua, Linda membalas pelukan itu dan kembali terisak.


"Aku sebenarnya ingin jujur pada publik kalau Pak Agam adalah ayah dari anak ini. Tapi ... itu terlalu berbahaya untuk Pak Agam. Berbahaya juga untuk anak kita, kan?"


Agam tidak menjawab, hanya menghela napas, sambil mengusap puncak kepala Linda.


"Menurut artikel yang aku baca, anggota Badan Rahasia Negara lebih baik menyembunyikan identitas keluarganya ke publik, sebab jika suatu saat ada penghianat, akan ada kemungkinan keluarga dari anggota itu bisa terancam, apa itu benar?"


"Tidak semuanya benar, percayalah pada saya, El. Kamu, dan anak kita pasti akan baik-baik saja. Jikapun saya dalam bahaya, akan saya pastikan kalau kamu dan anak kita tetap selamat." Agam menatapnya lekat-lekat.


Lalu mengusap air mata yang mengalir di pipi Linda.


"Pak Agam, apa aku boleh menanyakan sesuatu?"


"Boleh, tanyakan saja, tentang apa?"


Lalu mereka duduk berdampingan di bed pasien.


"Ini tentang ibunya Pak Agam, kenapa bu Nadia lama sekali kegiatan bakti sosialnya? Kalau ada ibu, sebenarnya aku lebih nyaman," kata Linda.


"Sebenarnya ... ibu saya pergi bukan serta merta ada kegitan bakti sosial, El. Tapi, untuk bersembunyi juga. Ibu saya mendapat surat ancaman dari seseorang yang identitasnya tidak diketahui."


"Jadi, sampai saya bisa memastikan ibu tidak akan diancam lagi, ibu tetap di bersembunyi di suatu tempat. Di sana, ibu saya bersembunyi sambil mengurus sarang burung walet," terang Agam.


"Kamu merindukan calon metuamu?" godanya.


"Emm, i-iya, hehehe."


"Nah begitu, dong. Kalau kamu tertawa terlihat lebih cantik."


"Ah masa sih?" Linda menutup mulutnya.


"Hahaha, saya serius. Oiya, kalau kamu merindukan ibu saya, besok setelah kamu selesai operasi kita VC dengan ibu, mau?"


"Boleh," kata Linda.


Lalu Agam duduk lebih mendekat.


"Pak jangan dekat-dekat, takut ...."


"Hahaha, takut yang tadi? Maaf ya, tadi itu efek hormonal, tidak bisa saya kendalikan." Pipi Agam memerah. Jujur, ia juga malu.


Linda menunduk sambil mengulum senyumnya.


"Linda?"


"Ya, Pak."


"Malam ini, jika operasinya lancar, kamu akan kembali utuh, apa kamu bahagia?" tanyanya.


Linda diam saja. Hanya melirik Agam sejenak, tersenyum, lalu kembali menunduk.


"El ...."


Agam tiba-tiba berlutut di hadapan Linda, lalu memegang tangan Linda.


"Semoga operasinya lancar, semoga ayah kamu bisa menerima dan memaafkan saya, lalu ... paman Setyadhi cepat sadar dan bisa menjadi saksi pernikahan kita."


"Aamiin," kata Linda.


Perlahan Linda membelai rambut Agam, entah Linda salah lihat atau memang pada kenyataannya seperti itu, mata Agam terlihat berkaca-kaca.


"Bapak sedih?" Linda membuka kaca mata Agam.


"Tidak," jawabnya.


"Hanya saja, jika saya boleh memilih ... saya tidak mau menjadi Dirut HGC, saya juga tidak mau menjadi anggota Badan Rahasia Negara. Satu hal lagi, El .... Saya tidak mau kamu jadi artis."


"Apa?" Linda terkejut.


"Maksud saya, andai kita berdua bukan orang yang dikenal publik, mungkin ... kisah cinta kita tidak akan sepelik ini."


"Pak Agam .... Aku akan mendukung Bapak, aku menerima latar belakang Pak Agam apa adanya. Ini bukan masalah harta ya Pak. Ini tentang profesi dan keanggotaan Bapak."


"Pak ... jikapun seumur hidupku, aku harus bersembunyi dan berpura-pura tidak memiliki hubungan apapun dengan Bapak, atau istilahnya harus merahasiakannya, aku rela kok, Pak. Demi kenyamanan dan keselamatan Pak Agam aku rela melakukan apapun."


Perlahan Linda menekan ujung bibir Agam, dan menariknya ke samping. Tujuannya untuk membuat Agam tersenyum.


"Kalau seperti ini, Bapak lucu. Hehehe."


"Hahaha, oke ... saya pergi dulu ya calon istriku. Mungkin tiga puluh menit lagi, orang yang akan menemani kamu akan datang." Agam beranjak.


Lalu Linda meraih tangan Agam untuk bersalaman.


"Bapak juga hati-hati ya. Oiya Pak, yang mau menjagaku memangnya siapa? Perempuan, kan? Apa sodarnya Pak Agam?"


"Laki-laki dan perempuan."


"Aku mengenal mereka?"


"Ya, kamu kenal." Sambil mengusap perut Linda.


"Siapa Pak? Siapa? Tidak jahat, kan? desaknya.


"Hahha, ya tidak, dong. Bersama mereka kamu aman."


"Hmm, siapa ya?" Linda semakin penasaran.


"Akan saya sebutkan, tapi kamu cium saya dulu, hahaha."


"Apa?!"


"Hahaha, cukup di pipi," tawar Agam.


"Emm, boleh deh." Linda berjinjit. Dan ....


"Emmuach." Satu kecupan mendarat di pipi Agam.


Agam langsung tersenyum dan mengusap pipinya.


"Katakan, siapa mereka?"


"Aiptu Joey, dan Brigadir Lelly," jawab Agam.


"A-apa? Polisi? Kenapa dijaga polisi, Pak? Aku kan bukan buronan," protesnya.


"Hahaha, kata siapa kamu bukan buronan, kamu itu pencuri, El. Kamu pencuri. Kamu penjahat," kata Agam. Sambil kembali memeluk Linda.


"Apa?" Linda mengernyitkan dahinya.


"Kamu tahu tidak? Kamu itu sudah mencuri keperjaakan saya, dan mencuri ciuman pertama saya," bisik Agam.


"Hahhh? Benarkah? Hahaha. Hari itu juga pertama kalinya untukku, Pak."


"Wah, hahaha, berari saya sangat beruntung."


Pada akhirnya keduanyapun berbalas tawa.


"Tunggu, kata Bapak, pertama kalinya, kan?"


"Iya."


"Tapi kok Bapak mahir?" goda Linda saat ia mengantar Agam sampai pintu kamar.


"Mahir? Hahaha, tidak juga sih. Kalaupun menurut kamu seperti itu, kemungkinannya itu bakat terpendam," kata Agam.


Dan keduanya kembali tertawa. Linda melambaikan tangan melepas kepergian Agam. Sementara Agam melemparkan kiss jarak jauh.


Setelah berbalas salam, Agampun pergi. Linda menatap punggung Agam sambil tersenyum.


___


Assalamu'alaikuum Wr.Wb.


Dengan berat hati dan perasaan sedih yang tiada terkira, nyai terpaksa mengatakan ini 😭😭😭.


Mohon kiranya sahabat nyai ambu, di manapun berada dapat memakluminya.


AGAPE akan pending dulu, karena nyai dan tim, sedang berjuang ekstra lagi untuk melawan Covid-19 di dunia nyata. Jadi untuk sementara, nyai tidak mengintai Pak Agam dan Bu Linda.


Padahal kemarin-kemarin kasusnya menurun, tapi sekarang nyai dan tim seolah mendapat serangan lagi.


Mau fokus mengintai Covid-19 dulu, plus harus merampungkan proyek lainnya. Kasus kematian di daerah nyai terus meningkat, daerah nyai sekarang zona merah lagi.


Sahabat-sahabat nyai banyak yang tumbang. Bahkah ada yang pergi untuk selamanya 😭😭😭. Alfatihah, untuk mereka.


Mohon maaf 🙏🙏🙏 peluk 😭😭😭. nyai sayang semuanya, maaf tidak bisa disebutkan satu persatu 🥰🥰🥰🥰🥰🥰


Ini bunga dari nyai 🌷🌷🌷🌷🌷 untuk semua sahabat nyai yang suka dengan AGAPE, Bukan Darah Biru, maupun Love Story in Covid-19 Pandemik.


Tapi ... setelah ada waktu luang dan senggang, serta Covid-19 di daerah nyai zona hijau lagi atau minimal zona kuning, maka insyaaAallah nyai akan melanjutkan pengintaian lagi, mengintai sampai Pak Agam dan Bu Linda hidup bahagia.


Wassalamu'alaikuum Wr.Wb



nyai mohon izin mau jadi rangers pink dulu.


Hiyaaat ....


Tada ....



Eh, kok jadi gini sih?


Bentar ya, nyai ulangi lagi 🥰🤦‍♀️


Hiyaat, hiyat, hiyaaat ....


Tada ....



Nah, ini baru benar, tapi nyai belum memakai visor atau helm medis 🥰💪👍💪💪🤭


Dan ada quis nih 😁



Yang berkenan boleh menjawab di kolom komentar 😁🤭🤭


Terima kasih ❤❤❤