
"Bangun dong, cantik."
Agam meniup wajah Linda. Di saat dirinya sudah rapi dan siap berangkat ke HGC, istri seksinya itu masih terlelap. Selepas shalat Subuh dan pumping, LB oleng. Ya, tubuhnya memang butuh istirahat untuk dipulihkan kembali.
"Sayang, kalau kamu tidak bangun, saya tinggal ya. Hari ini ibuku pulang, kita akan akan pulang ke rumah."
"Apa? Ibu pulang? Benarkah?"
Linda langsung merespon. Saat membuka mata bibirnya diserang. Sontak matanya terpejam lagi. Aroma mint ini tak bisa diabaikan begitu saja, anggap saja sebagai hidangan unik di pagi hari.
"Auhh, El," keluh Agam. Sedikit meringis karena Linda mencubit lengannya.
"Maaf Pak, kalau tidak dicubit, Bapak suka berkelanjutan."
Linda beralibi. Ia bergegas untuk mengeringkan rambutnya. Agam menempel, membuntuti. Memeluk pinggangnya. Pesona Linda memang membuat Agam tak bisa berpaling.
"Ya ampun, Pak. Aku mau bersiap." Linda menggedikkan bahu.
"Kamu wangi sayang, kalau saja tidak mau bekerja, rasanya mau mengulang lagi, lagi, dan lagi."
"Ya ampun Pak. Oiya, Bapak serius mau kerja? Bukannya mau dipasang penyangga tulang?"
"Tidak jadi sayang, saat kamu tidur, dokter ke sini. Mereka ke sini untuk bertanya aktivitas apa saja yang telah saya lakukan dalam 24 jam ini. Saya jawab banyak. Terus dokter Cepy bertanya, 'apa Anda bisa bercinta setelah dinyatakan retak tulang?' Saya jawab bisa. 'Berapa kali?' Saya jawab dua setengah kali."
"Apa? Kenapa ada dua setengah kalinya?" Linda protes.
"Kalau saya katakan tiga kali, takut terlalu banyak, hahaha."
"Ya ampun, Pak. Anda itu membuat aku malu tahu," ketus Linda.
"Kenapa harus malu? Saya tidak merasa mempermalukan kamu. Justru, tadi malam saya sudah memperbanyak pahala kamu, benar, kan?" sambil mengulum senyum.
"Ya sudah Pak, jangan bahas itu lagi. Alhamdulillah kalau Bapak tidak perlu dipasang penyangga, tapi bagaimana dengan Keivel, Pak? Kalau hari ini ibu pulang, harusnya Keivel ada bersama kita."
"Tidak sayang, Keivel akan kembali besok. Semua demi kebaikan Keivel sayang. Saya menunggu suasana pasca penangkapan ketua BRN meredam dulu. Entah ini benar atau hanya firasat, saya merasa akan terjadi sesuatu."
"Pak, jangan membuatku takut. Terus, ASI untuk Keivel bagaimana?" Berbalik badan, memeluk Agam.
"Tenang sayang, stock ASI aman. Untuk firasat itu, tidak perlu dipikirkan. Berdoa ya sayang, semoga semuanya akan baik-baik saja."
"Aamiin. Emm, begini Pak, sebelum pulang, aku mau menjenguk Gama dulu."
"Ya El. Saya juga mau jenguk. Sekarang dia sudah ada di ruang perawatan biasa. Untuk perawatan lanjutannya, saya berencana membawa Gama ke luar negeri. Selama di sana, dia akan dijaga oleh paman Yordan."
"Aku mendukung, Pak. Semoga Gama lekas sembuh."
"Aamiin. Oiya sayang, kenapa kamu semakin cantik?" Agam memuji Linda saat istrinya itu tengah bersolek.
"Em, itu karena Pak Agam mencintaiku. Aku juga melakukan perawatan, Pak. Sebagian uang dari Bapak aku gunakan untuk mempercantik diri."
"Terima kasih sayang, saya juga akan mempertampan diri dan memperkuat jati diri supaya kamu puas, hahaha."
Linda senyum-senyum, dan senyumannya langsung terhenti sebab aroma mint itu kembali menyerangnya. Mereka melekatkannya dengan lambat, lembut, dan mendalam. Mata keduanya terpejam terjaga. Tengah menikmatinya dengan penuh penghayatan.
...❤...
...❤...
...❤...
"No!" teriak Gama. Ia sedang dipaksa untuk diberikan injeksi. Karena Gama mengamuk, beberapa petugas medis mengekangnya.
"HEI, APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" teriakan Agam menggelegar. Ia yang baru saja datang ke ruangan tersebut disuguhi pemandangan yang tak mengenakan. Agam jelas terkejut dan nyaris marah.
"Pak, tenang dulu." Untung saja ada Linda si pawang cinta. Kalau tidak, entah apa yang akan dilakukan Pak Dirut pada tim medis.
"Ma-maaf, Pak. Kami melakukan ini sesuai prosedur, injeksi ini sangat penting," kata dokter jaga.
"Gama, ini Kakak. Kamu mau sembuh, kan? Disuntik ya," bujuk Agam sambil memegang bahu Gama, tatapan Pak Dirut dipenuhi kabut kekhawatiran.
"No!" Pada Agampun Gama menolak.
"Sejak kapan adik saya seperti ini?!"
"Sejak kemarin sore, Pak."
"Kenapa kalian tidak langsung lapor?!" bentak Agam.
"Mohon maaf, Pak. Kami sudah lapor pada Pak Yudha," jelas perawat.
"Pak Yudha!" Agam memanggil Pak Yudha.
"Ya, Pak." Dari luar ruangan Pak Yudha bergegas masuk.
"Kenapa Bapak tidak memberitahu saya?!"
"Emm, a-anu Pak," ragu.
"Kenapa?!"
"Saya sudah tiga kali hendak melapor ke Bapak. Tapi Anda tidak mengangkat telepon saya. Saat saya ke kamar Anda, emm ...."
"Cukup!" sela Agam.
Kalau Pak Yudha sampai becerita, ia bisa malu. Kenapa? Sebab, semalam Agam sibuk bercumbu dan bercinta. Agam ternyata sempat mendengar ada panggilan di ponselnya. Tapi malas menerima karena enggan beranjak dari salah satu sumber kesenangannya. Linda menunduk, merasa sadar diri, dan malu.
"Seingat saya, saat di ruang ICU, dia tidak pernah membangkang," Agam mengalihkan pembicaraan.
"Ya, Pak. Kami juga heran."
Ting, Pak Dirut teringat sesuatu.
"Suster Ice," gumam Agam.
"Suster Ice?" Dokter keheranan.
"Dok, saat di ruang ICU, Gama dirawat oleh suster Ice, namanya aslinya suster Freissya, dia kekasih adik saya."
"Apa?!" Dokter dan suster saling menatap.
"Hemat saya, suster Ice harus ditugaskan di ruangan ini untuk menjaga adik saya."
"Tapi tidak semudah itu, Pak. Pindah ruang tugas tidak bisa sembarangan, harus ada surat rotasi berdasarakan keputusan direktur," terang dokter.
"Saya tidak apa-apa membayar lebih yang penting adik saya nyaman."
"Ini bukan masalah uang, Pak. Ini tentang peraturan," tambah dokter.
"Pak Agam, bagaimana kalau kita bicara saja pada direkturnya secara langsung. Semoga bisa dikondisikan." Linda memberi saran.
"Emm, saya setuju sayang. Pak Yudha, tolong telepon Aulia, katakan kalau saya akan datang terlambat."
"Baik Pak," sahut Pak Yudha.
Setelah itu Agam dan Linda bergegas menemui direktur.
Alhamdulillah, tidak ada kendala yang berarti. Direktur rumah sakit mengizinkan Freissya bekerja di ruang perawatan selama Gama dirawat. Syaratnya, Freissya harus bersedia, hanya itu.
Setelah menemui direktur, Agam ke HGC seorang diri, sedangkan Linda pulang ke rumah bersama Pak Yudha.
.
.
"Frei, jangan melamun, apa kamu tidak tahu kalau kamu sudah ada tugas baru?"
"Siapa yang melamun, aku tidak melamun," sanggah Freissya.
"Frei, lihat pesan di grup. Kamu pasti suka." Memperlihatkan ponselnya pada Freissya.
"Apa? Aku dirotasi?" Freissya terkejut.
"Bukan rotasi, Frei. Ini surat sementara. Kamu ditugaskan berjaga di ruang pemulihan presisdent suite room sampai batas waktu tertentu."
Tanpa mengatakan apapun, Freissya langsung memeluk sahabatanya itu karena bahagia. Dua hari ini, ia memang sangat merindukan Gama. Ia tahu Gama dirawat di ruangan tersebut, namun tak berani menjenguknya karena merasa rendah diri.
Jika ia diperbatukan di ruangan tersebut, setidaknya, Freissya bisa menjenguk Gama. Freissya belum tahu jika tujuannya diperbantukan memang untuk menjaga Gama.
...❤...
...❤...
...❤...
Setelah demamnya reda dan Keivel tidur, ia bersiap untuk menjalankan aksinya. Mister X melapisi dadanya dengan kaus dalam yang dibulatkan agar penampilannya mirip wanita.
Lalu mengendap ke kamar Freissya untuk mengambil bahawan mukena yang akan ia gunakan sebagai rok. Lalu memakai wig rambut panjang. Kemudian menyemprotkan parfum yang biasa digunakan saat ia berperan menjadi bibi Miss.
Entah apa yang akan dilakukannya kali ini, sepertinya akan berakting menjadi bibi Miss. Ia yang sedang becermin terlihat sangat lucu. Mister X bahkan terkikik setelah melihat penampilannya. Namun maskernya masih digunakan.
Lalu keluar dari kamarnya dan memanggil Senja.
"Senjaaa," panggilnya dengan suara kamuflase bibi Miss.
"Ada hal penting yang harus Bibi katakan padamu," suaranya lirih.
"Bibi? Kenapa?"
"Bi-Bibi mau menikah, Senja."
"A-apa? Ya bagus dong, Bi. Aku turut bahagia, kenapa Bibi malah bersedih?" Senja malah tersenyum dan sumringah.
"Bibi sedih karena harus meninggalkan Exam," jelasnya seraya terisak. Lebih tepatnya pura-pura terisak.
"Oh, begitu ya?" Senja tiba-tiba menunduk. Jika Bibi Miss tidak ada, harus dengan siapa ia tinggal?
"Bibi ... ka-kalau Bibi tidak ada, berarti ... aku harus pergi ke rumah paman," lirih Senja.
"Nah, itu masalahnya. Calon suami Bibi tidak mengizinkan Bibi membawa siapapun ke rumahnya. Padahal, Bibi sangat ingin membawa kamu."
"Tidak perlu mengkhawatirkan aku, Bi. Aku masih punya Paman."
"Senja, dengarkan Bibi, jika kamu sayang sama Bibi, tolong jangan pernah ada niatan untuk meninggalkan rumah ini. Tetaplah di sini menemani Exam."
Di balik maskernya Mister X tersenyum. Modus kali ini benar-benar membuatnya bisa terbebas dari peran ganda sebagai bibi Miss.
"Ta-tapi, Bi. A-aku takut, Exam laki-laki, aku perempuan. Kami positif negatif," kata Senja. Kalimat Senja membuat Mister X menahan tawanya.
"Tolonglah Senja, Bibi mohon, tolong jaga Exam. Huuks, se-sebenarnya ... ini rahasia, tapi terpaksa harus Bibi jelaskan agar kamu tahu. Harapannya, dengan penjelasan ini, kamu bisa lebih peduli dengan Exam."
"Hah? Ada apa memangnya Bi? Jangan membuatku takut," Senja beringsut. Menggeser tubuhnya hingga menempel di bahu Mister X.
"Huuu, dia anak yang malang, dia memiliki penyakit langka."
"Hah? Penyakit apa, Bi? Berapa bulan lagi umurnya? Apa dia akan berumur pendek?" Dengan polosnya Senja menanyakan itu. Mister X jadi kesal.
"Ya ampun, Senja. Apa kamu berharap dia cepat mati?!"
"Tidak, Bi. Aku hanya bertanya."
"Pokoknya penyakit langka. Masalah umur ya Bibi juga tidak tahu. Itukan rahasia Tuhan." Penyakit yang dimaksud Mister X adalah penyakit mimisan.
"Kasihan sekali."
"Maka dari itu Bibi titip Exam sama kamu. Dia pria kesepian. Dia pernah punya pacar tapi pacarnya meninggal. Kasihan, kan? Padahal dia sangat mencintai kekasihnya."
"Masalah pacarnya meninggal ya tidak perlu dikasihani, itukan takdir, Bi. Lagipula, kalau Exam benar-benar mencintai kekasihnya, harusnya dia ikut dikubur saat pacarnya meninggal, hehehe." Senja malah berguyon.
Gadis ini, Senjaaa kamu ya. Mister X membatin.
"Aku bercanda Bi, biar tidak terlalu tegang," sela Senja.
"Bibi sudah tegang sedari tadi sejak kamu menempel. Emm, maksudnya tegang karena kita harus berpisah," ucap Bibi.
"Hehehe, kenapa harus tegang, Bi? Harusnya Bibi bahagia karena mau menikah."
"Iya, terus kamu bagaimana, Senja? Setuju kan kalau tetap tinggal di rumah ini?"
"Emm, aku pikir-pikir lagi, Bi. Aku mau menemui paman dulu, kalau pamanku janji tidak akan jahat lagi, mungkin ... aku akan tinggal bersama paman."
"Senja please."
Mister X memegang tangan Senja. Dadanya sontak panas. Tangan Senja terasa hangat. Yang dipegang malah memeluk. Mister X jedag-jedug. Di sinilah kaus dalam yang dilipat-lipat di dada memainkan fungsinya. Mister X berhasil mengelabui Senja.
"Bibi tenang saja, selama Exam baik, aku pasti betah berada di sini." Melepaskan kembali pelukannya. Mister X merasa lega.
"Oiya Bi, aku mau bertanya. Tolong jawab dengan jujur."
"Silahkan tanyakan apapun yang ingin kamu ketahui."
"Apa yang Bibi katakan tentang Exam tidak mengada-ngada?"
"Maksud kamu?"
"Tadi malam aku tak sengaja memegang perut Exam. Tapi tidak merasakan lemak, Bi."
"Apa?!" Mister X terhenyak.
"Te-terus apa yang kamu rasakan? A-apa kamu suka?" Tak sadar, bibi palsu malah bertanya seperti itu.
"Hahh? Suka? Bibi, aku cuma mau tanya, apa Exam benar-benar gendut, jelek dan botak?"
Mister X berpikir keras. Mau jawab apa ya?
"Em, aduh, bagaimana ya?"
"Tolong jelaskan Bi, akukan tidak bisa melihat."
"Exam, emm ... maaf Senja, Bibi tak bisa menjelaskan. Lebih baik kamu cari tahu sendiri."
"Ihh, Bibi bagaimana sih? Mana bisa aku cari tahu. Aku kan tuna netra."
"Kalaupun kamu tidak bisa melihat, kan kamu bisa merasakannya."
"Ya ampun, Bibi ada-ada saja," ucap Senja sambil memukul bahu Mister X. Pipinya merona.
"Senja, mari bicara serius, Bibi mau tanya, apa yang kamu rasakan saat menyentuh perutnya Exam?" Mister X ingin tahu penilaian Senja terhadap dirinya.
"Emm, aku juga bingung, Bi. Tapi jantungku langsung berdebar. Hehehe, perutnya pejal. Apa orang gendut perutnya memang pejal juga?"
Mister X melongo. Mendengar penjelasan Senja hatinya berbunga-bunga. Setidaknya, debaran jantungnya tidak betepuk sebelah tangan. Ia hanya perlu memastikan ketulusan Senja pada dirinya.
"Senja, kalau Bibi jodohkan kamu dengan Exam, apa kamu mau?" Modus masih berlanjut.
"Bu, mana mungkin Exam suka sama aku. Secara aku hanya gadis buta, pendidikkanku rendah. Di mata Exam, aku juga jelek. Sedangkan Exam, aku yakin pasti berpendidikan tinggi, tiap hari dia bekerja di depan komputer. Aku juga sering mendengar dia berbicara dengan berbagai macam bahasa asing. Aku sebenarnya minder dengen Exam."
Percayalah, Mister X langsung mesem-mesem. Hati yang tadi berbunga-bunga sekarang bemekaran.
"Bibi, bolehkah aku tidur di pangkuanmu?" Senja langsung meraba tubuh Bibi dan merebahkan kepalanya. Mister X terperanjat.
"Bo-boleh," segera merapatkan kedua kakinya.
"Ayo carikan aku kutu rambut, Bi."
"Apa?! Kutu rambut, memangnya kamu ada kutunya?"
"Tidak ada, Bi. Aku hanya rindu pada nenek. Nenekku rutin menelisik dan mencari kutu walaupun sebenarnya aku tidak berkutu. Sudah lama aku mau seperti ini, tapi Bibi selalu sibuk. Sekarang, selagi Bibi ada waktu dan belum menikah, aku akan menggunakan kesempatan ini untuk bermanja-manja dengan Bibi."
Senja mengarahkan matanya pada wajah Mister X yang saat ini sedang menunduk menikmati wajah menawan itu dari jarak sedekat ini. Sungguh, jantung Mister X tengah berlari. Bibir merah jambu dan leher indah Senja hampir menggoyahkan keimanannya.
"Bibi, ayo dong telisik rambutku," desak Senja.
"Ba-baik." Dengan tangan gemetar mulai menyentuh rambut Senja.
"Bibi, sini deh, aku mau membisikan sesuatu."
Senja meraba, menarik leher Mister X, dan berbisik. Serius, tubuh Mister X seolah tersengat listrik. Bibir Senja menempel di telinganya. Rasanya geli, namun juga mendesirkan seluruh tubuh.
Uhhh, Se-Senja, keluhnya di dalam hati.
"Waktu masih kecil, aku banyak kutunya. Pernah dapat 121 kutu. Aku dan nenek selalu menghitungnya," bisik Senja.
"Hah? Se-serius? Se-sebanyak itu? Te-terus?" Gelagapan, langsung mengangkat kepalanya, sebab jika dilanjutkan khawatir terjadi sesuatu dan lain hal.
"Pokoknya, waktu kecil aku banyak kutu. Padahal tiap hari keramas. Hoaaam, kalau ditelisik aku cepat ngantuk, aku boleh tudur sebentar kan, Bi?" Mata Senja mulai terpejam.
"Ya boleh, tidur saja Senja."
Mister X membelai rambut Senja, bahkan menghidu aroma shamponya saat si pemilik tengah terlelap. Lalu menelusuri wajah gadis itu, namun tak sampai menyentuhnya. Hari ini, Mister X mendapat durian runtuh.
...❤...
...❤...
...❤...
"Halo, ada apa, Pak?" Agam yang baru saja selesai rapat menerima panggilan dari Pak Yudha.
"Pak Agam, penerbangan komersil ibu Anda loss contact. Kapten Yo dan copilot tidak memberikan signal apapun pada menara pengawas! Jaringan Air Traffic Controller dan radio komunikasi pesawat terputus, Pak!"
"APA?! Astaghfirullahaladzim! Kapan Bapak dapat info itu?!" Agam panik, berkas yang dipegangnya berjatuhan.
"Baru saja, Pak."
"Baik, Bapak tetap di rumah, tolong jaga istriku ya Pak! Jangan biarkan dia keluar dari kamarnya. Saya mau ke kantor BRN!"
"Ba-baik, Pak Agam.
Setelah mengakhiri panggilan, Agam lanjut segera menghubungi seseorang.
"Halo, X!" serunya sambil berlari.
...~Tbc~...