AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga



"I'm coming," seloroh Bagas.


Pria itu meletakkan goodie bag pada meja di hadapan Linda. Ia mengedarkan pandangan pada Linda dan Agam dengan kening mengernyit. Linda terlihat duduk di ujung kursi, memepet tembok, sementara Agam berada di kursi kerjanya seperti tengah melamun.


"El, pesanan kamu nih."


Bagas langsung membuka seluruh isi gooidie bag.


"Pak Agam, ini kartunya."


Ia menyerahkan kartu pada Agam dengan bahasa tubuh yang sangat sopan.


"Kamu tidak membeli yang lain?"


Agam mamasukan kembali kartu itu pada dompetnya.


"Tidak Pak, hanya membeli makanan kesukaan LB dan rujak. Saya tidak tahu makanan atau minuman kesukaan Bapak, jadi saya tidak membeli apapun untuk Bapak."


"Tidak apa-apa," kata Agam.


Agam jadi penasaran, makanan apa yang dimaksud Bagas disukai LB?


"What's? Anda penyuka junk food?"


Agam menatap tak percaya pada Linda.


"Ini fast food, memangnya kenapa kalau saya makan ini?" ketusnya.


Linda cuek, ia menatap makanan tersebut penuh nafsu.


"Mana boleh Anda memakan ini?"


Agam menahan tangan Linda yang hendak melahap burger.


"Dia memang suka makanan itu Pak, yang tertulis di bio web tentang makanan kesukaan LB semuanya hanya pengalihan isu, hehehe."


Bagas terkekeh. Jika feelingnya tidak salah, Bagas yakin kalau direktur utama HGC itu memiliki ketertarikan pada LB.


"Yang tertulis di web juga memang kesukaan saya, saya tidak berbohong."


Linda menepis tangan Agam, segera melahap burger dengan terburu-buru, hingga mayonnaise dan sausnya meleleh dan mengotori dagu Linda.


"Ceroboh."


Tanpa sadar, Agam mengusap lelehan di dagu Linda dengan tangannya. Mata Linda mengerjap, dan Bagas terbatuk-batuk.


Agam tersadar, segera berdiri dan kembali ke kursinya, setelah mengelap tangannya dengan tissue. Ingin melarang Linda memakan makanan itu, mamun urung. Ia takut Linda merajuk dan malah tidak mau makan.


"Kamu lahap sekali, El. Biasanya kulitnya tidak dimakan."


Bagas terheran-heran saat melihat LB memakan ayam goreng cepat saji. Lalu pria itu membukakan minuman untuk LB.


Agam mengintip semua aktivitas Linda di balik selembar berkas. Ini tidak bisa dibiarkan, ia tidak rela calon anaknya dijejali junk food.


"Junk food itu makanan yang kandungan nutrisinya rendah, gizinya juga sedikit, tapi kadar lemaknya tinggi dan tidak baik untuk kesehatan manusia. Tolong, Anda jangan makan makanan seperti itu lagi. Ini terakhir kalinya," ucap Agam saat Linda sudah selesai makan.


"Ini fast food bukan junk food, dan saya boleh makan apapun selama makanan itu halal," sela Linda.


Dan wanita itu membiarkan begitu saja bekas makannya, lalu Bagaslah yang membereskan.


"Fast food itu makanan yang disajikan dan dibuat dengan proses yang cepat. Anda tidak bisa membedakan fast food dan junk food, ck ck." Agam berdecak kesal.


"Ke biro iklannya masih lama tidak? Saya mau makan rujak dulu, masih ada waktu?" tanyanya. Seperti tidak peduli dengan kekesalan Agam.


"El, tolong jangan begitu. Padahal kamu sendiri kan yang sering mengatakan jangan sampai karena nila setitik, rusak susu sebelanga."


"Bagas, ini tidak ada hubungannya dengan pribahasa itu."


"Ada El, hanya karena kamu melakukan satu kesalahan kecil, orang lain termasuk Pak Agam bisa saja menuduh jika semua yang kamu lakukan selalu salah."


"Penilaian manusia itu kadang seperti ini, karena kejahatan, keburukan atau kesalahan kecil yang dilakukan seseorang, maka akan hilang juga segala kebaikan yang telah diperbuat oleh orang tersebut," jelas Bagas.


"Saya tidak menilai dia buruk, hanya tidak suka dia makan junk food. Itu saja," tegas Agam.


"Bagaimana masih ada waktu?" Linda bertanya lagi dengan wajah jengkel.


"El, jaga sikap kamu, please. Bagaimana mungkin kamu bersikap seperti itu pada klien. Kamu akan menjadi bintang iklan HGC, dan Pak Agam itu Dirut HGC. Jangan sampai Pak Agam berubah pikiran dan mengganti kamu dengan artis lain."


"Diganti? Dengan senang hati," ucap Linda.


"Elbiii, kamu tahu kan nilai kontraknya?"


"Tidak, aku tidak tahu. Aku tidak peduli," rupanya Linda masih jelah pada Agam.


"Kamu lihat ini."


Bagas mengeluarkan berkas kontrak, diperlihatkan ke hadapan Linda.


"Lihat nominalnya."


Bagas menyeringai, ia tahu jika LB sebenarnya sangat cinta dengan uang, bahkan sempat menyebut dirinya sebagai uangmisme.


"Hahhh?!"


Benar saja, mata bulat cantik dengan bola mata yang bening dan jernih itu kini membulat sempurna.


Ya, HGC memang membayar Linda dengan nominal yang sama dengan bayaran bintang iklan terpopuler di negara tersebut. Gugurlah sudah kedongkolan di hati wanita itu, dengan senyum sumringah iapun menghampiri sang direktur utama.


"Terima kasih atas kepercayaan HGC terhadap saya, jikapun Anda melarang saya untuk makan junk food, saya tidak keberatan."


"Nah, begitu dong, El." Bagas bahagia.


"Silahkan, katanya mau makan rujak, kan? Masih ada waktu sekitar 40 menit lagi," ucap Agam dengan gaya so cool.


"Terima kasih, Pak. Bagas, siapkan rujaknya."


Linda kembali lagi ke kursinya. Ia terlihat menelan salivanya sendiri. Mungkin sudah tidak sabar ingin segera menikmati rujak tersebut.


"Ini yang bumbunya disatukan ya El. Lihat, sambalnya kental sesuai selera kamu. Biji cabainya seperti memelototi aku, ihhh mengerikan." Bagas bergidik.


"Wah, aku suka yang seperti ini, dan ini mangganya sangat hijau, pastinya kriuk dan super asam," puji Linda.


Agam melongo tak percaya, ini pengalaman pertamanya melihat secara langsung wanita memakan rujak, dari warna mangganya saja sudah tampak mengkhawatirkan. Wah, itu pasti sangat kecut. Seketika Agampun bergidik.


Kelenjar salivanya seakan terangsang, air liurnya tiba-tiba naik dan memenuhi rongga mulutnya. Agam merasakan sugesti rasa asam hanya dengan melihatnya.


"Tolong temani saya makan petis," kata Linda.


"APA?!"


Pemilik bisnis burung walet dan susu kambing etawa itu terlonjak.


"Anda tidak menyuruh saya makan rujak, kan?"


Agam memastikan. Ia berharap tawaran Linda untuk Bagas.


"Saya ingin makan rujak bersama Pak Agam, apa boleh?" Kok aku suka ya melihat dia panik, ini kesempatan aku mengerjai dia.


"El, kamu yakin? Pak Agam, kalau Anda tidak suka biar saya saja yang mewakili," ucap Bagas.


"Dengan senang hati. Sungguh, saya tidak pernah makan rujak dan sejenisnya. Perut saya tidak terbiasa," elaknya.


Seketika Agam menyesal hari ini tidak jadi berpuasa. Lagipula kalaupun ia berpuasa pada akhirnya akan makruh juga pikirnya. Kenapa? Karena saat tadi memeluk Linda di kamar mandi, ia merasakan sesuatu dan mengingikan sesuatu.


"Tapi ... saya ingin makan rujak bersama Anda."


"El please deh, kamua jangan seperti ini, jangan sampai nila setitik, rusak susu sebelanga." Lagi, Bagas masih membahas pribahasa itu.


Pria tampan yang wangi itu, kini menatap Linda dengan lekat. Apa harus aku memakan rujak? Apa dia sedang ngidam? Dan Agam beranjak. Ia mendekat ke arah rujak dengan pandangan tetap fokus pada Linda.


"Baiklah, saya akan mencobanya."


Ia duduk di sisi Linda, lalu mengumpulkan keberanian. Ia memang lama mendalami ilmu kanuragan di padepokan, tapi ... tidak pernah ada tantangan memakan rujak atau memakan makanan pedas.


"Mari kita coba," ucap Linda. Linda mengambil Lidi tusukan, menusuk salah satu buah yang berlumur bumbu gula merah ekstra pedas dan melahapnya.


"Krauk, krauk," keranuman mangga muda itu bahkan terdengar oleh Agam dan Bagas saat Linda mencabiknya.


"Emhh, i-ini waww, hmm ...."


Linda membulatkan mata, rujak HGC ternyata begitu pedas, dan sangat-sangat kecut. Linda ingin segera minum karena merasa mulutnya panas, namun untuk mengelabui seorang Agam, ia berani mengorbankan diri.


"A-yo coba, ini tidak telalu pedas, buahnya juga tidak asam kok." Mata Linda mulai berair. Sedangkan Bagas hanya bisa melongo kebingungan.


"Ka-kamu menangis?" Agam malah memperhatikan mata Linda.


"Ti-tidak Pak, ini sa-saya terharu karena Anda mau makan rujak bersama saya."


Linda menunduk seperti tersipu, padahal aslinya sedang menyembunyikan rasa ini. Rasa rujak HGC yang sangat aneh dan tidak menyenangkan.


"Baik akan saya coba."


Tangan yang dipenuhi bulu-bulu halus itu kini mulai bergerak perlahan mengambil tusukan lidi yang lain dan siap menikam si potongan mangga muda.


"Pak Agam, tolong jangan pertaruhkan kehormatan Anda, mohon maafkan El, ya."


Bagas sampai berlutut di depan Agam, ia belum bisa menerima kenyataan aneh ini. Pria itu ketakutan kontrak LB dibatalkan gara-gara kejadian ini.


Agam sudah berhasil menusuknya. Mulai mengarahkan potongan buah itu ke mulutnya.


"Stop!" teriak Bagas, membuat Linda sedikit kesal.


"Kenapa?" tanya Agam.


"Pak, saya tidak tega melihat mulut dan bibir Bapak terluka gara-gara rujak ini. Begini saja, saya pastikan lagi. Apa setelah memakan rujak ini, Bapak tidak akan membatalkan kontrak?"


"Tentu saja tidak, rujak ini tidak ada hubungannya dengan kontrak itu," tegas Agam.


"Baiklah, kalau asumsi Bapak seperti itu, ya silahkan makan rujaknya, Pak."


"Hmm ...."


Agam menghela napas panjang, sebelum akhirnya ia memasukan potongan itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.


Makanan macam apa ini?! Umpat Agam dalam batinnya.


"Hahhh, Argh, ini tidak enak! Saya seperti mengunyah api! Apa boleh saya ke kamar mandi?"


Terlihat jelas jika bibir Agam yang tadinya sudah merah, menjadi semakin kemerahan, mata pria itu berair, daun telinga dan wajahnyapun memerah.


"Telan, Pak. Ayo telan dulu. Rasanya tidak terlalu buruk kalau Anda menelannya."


Linda memberikan ide asal. Ia benar-benar ingin mengerjai Agam. Agam segera mengunyah dengan cepat, rasa rujak itu sangat pedas, menyengat, dan super kecut.


Glek, jakunnya bergerak, artinya buah simalakama itu kini sudah bersemanyam di lambung direrektur utama HGC.


Mata Agam berurai, ini kali pertamanya ia meneteskan air mata, Agam merasa jika telinganya berdengung, kerongkongan, mulut dan bibirnya seperti terbakar. Spontan ia berlari ke pantry untuk mengambil air minum.


"El, kamu keterlaluan! Bagaimana kalau Pak Agam sakit perut?!"


Linda diam saja, ia membayangkan bagaimana tadi Agam tampak berkeringat dengan wajah memerah, dan air mata berurai.


"Pak Agaaam," spontan ia menyusul Agam ke pantry.


Tampak Agam sedang minum air putih dari kulkas, ia duduk di sebuah kursi, menghembuskan napas berkali-kali, daun telinganya semakin merah saja.


"Pak Agam baik-baik saja kan?" Linda menghampiri.


"Tidak!" jawab Agam singkat.


"Maaf Pak, saya kira Bapak kuat makan pedas, ternyata lembek ya. Hahaha, ini fakta baru tentang direktur utama HGC," Linda tampak puas.


"Argh, diam!" bentak Agam.


"Ck ck ck," Linda berdecak lalu membuka kulkas untuk mencari sesuatu.


"Nah, ini ada susu Pak. Susu bisa menghilangkan rasa pedas." Ia memberikan susu kotak itu pada Agam.


"Saya tidak mau susu sapi, mau susu kambing," kata Agam.


"Haish," Linda kembali membuka kulkas untuk mencari makanan pereda pedas.


Susu dan produk olahannya memang bisa menghilangkan pedas, sayangnya Agam tidak suka. Syukurlah, ia melihat ada madu murni kemasan.


"Pak, minum ini. Banyak kok makanan penetral rasa pedas. Bisa gula merah, nasi atau roti, tomat, lemon, coklat, es krim atau selai kacang juga bisa," terang Linda seraya memperhatikan Agam yang sedang meminum madu.


"Sudah sembuh?" tanya Linda.


"Lumayan," katanya. Ia beranjak kembali ke ruang kerja.


"Pak Agam, tidak apa-apa kan?" Bagas menunduk, pikirnya Agam akan marah.


"Alhamdulillah," ucapnya sambil merapikan bajunya.


"Kita ke biro iklan sekarang," tegas Agam.


"Baik," jawab Bagas, dan Lindapun bersiap.


Di dalam lip, mata Linda sesekali mencuri pandang pada bibir Agam yang merah seperti memakai lipstik. Efek rujak itu ternyata masih berbekas.


"Masih pedas?" tanya Linda.


"Tidak."


"Mau mencoba makan rujak lagi?"


"Saya pikir-pikir lagi."


"Memang sama sekali belum pernah makan rujak ya Pak?" tanya Bagas.


"Ya, saya juga tidak pernah memakan yang pedas-pedas. Tapi, kalau memakan pedasnya ocehan netizen saya sudah terlatih."


"Hahaha, Pak Agam bisa saja." Bagas malah tertawa.


"Saya serius, saat saya difitnah sebagai penyuka sesama jenis, netizen menyerang akun medsos saya, dan mencaci saya."


Linda menunduk, ia jadi teringat kembali ucapannya saat mencaci Agam, hingga Agam marah dan merenggut kesuciannya.


"Saya juga pernah melihat foto-foto itu," kata Bagas.


"Foto-foto saya dan tuan Deanka, foto-foto di hotel dan klub bersama pria-pria itu semuanya editan," tegas Agam.


"Ya Pak, saya percaya kok, tapi memang aditannya sangat halus." Ucap Bagas.


Agam menghela napas, "Padahal, polisipun sudah megatakan kalau itu foto editan, tapi ... masih ada saja yang percaya jika foto itu asli dan polisi telah kongkalikong dengan saya."


"Nila setitik, rusak susu sebelanga," kata Bagas.


❤❤ Bersambung ....