
Di ruang transit, Agam tertunduk lesu. Ia berjongkok sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Mereka sedang menunggu pemeriksaan pada Linda sebelum rencana ijab kabul dilanjutkan. Agam tertunduk sambil memegang kotak mahar berupa emas murni seberat 7,9 gram sesuai permintaan Ayah Berli.
Di ruangan ini ia memang tidak sendiri, tapi Agam benar-benar merasa hampa. Semua bayangan tentang Linda terus menelisik relung hatinya.
Seketika ia teringat akan ayah yang telah tiada, dan ibu nan nun jauh di sana. Ibunya memang belum kembali setelah kegiatan amal karena merasa terancam keselamatannya.
Ayah ... ibu ....
Panggilnya dalam hati, ia mencoba menetralisir kesedihan dengan menyebut nama mereka. Namun gagal, ia tetap gundah-gulana, dan tidak tahu entah sampai kapan kegundahannya itu akan berakhir.
Sementara Gama, sedari tadi tidak berhenti mengusap punggungnya, play boy tingkat sekolah itu terlihat jadi lebih dewasa.
Pak Yudha sibuk membalas pesan. Pak Yudha baru saja mendapat perintah dari Agam agar ia memberitahu staf seketaris HGC jika Agam ganti nomor ponsel.
Ya, Agam tidak mungkin mengatakan kalau ponselnya hilang di laut, kan?
"Pak Agam, tuan Deanka mau bicara, apa bisa? Barusan dia memberi pesan," kata Pak Yudha.
"Tidak bisa. Saya tidak mau bicara sekarang, katakan lain kali saja," ucapnya dengan kepala yang terus tertunduk.
Jujur, di hati kecilnya ada sedikit kekecewaan pada tuan Deanka.
Kenapa?
Karena dulu tuan Deanka tidak mengikuti sarannya untuk mengeluarkan Fanny dari HGC.
Agam juga menyesal telah menaikan jabatan Fanny menjadi sekretarisnya saat reshuffle jabatan.
Ya, dulu alasannya karena ia mumpuni. Tapi, setelah merasa ditusuk dari belakang oleh wanita itu, Agam benar-benar membencinya.
Kamu kejam! Padahal, aku ikhlas membantu dan memilih kamu karena kamu tulang punggung keluarga. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah memfitnahku dengan cara keji. Siapa yang mengeditnya? Astaghfirullaah.
Batin Agam berkecamuk.
Sementara Ayah Berli diizinkan oleh dokter untuk mendampingi Linda.
Saat ini, Ayah Berli sedang berada di dekat kepala Linda, ia terus membisikan tahlil, tahmid, takbir, dan tasbih di telinga Linda demi kebaikannya.
Tadi, monitor berbunyi karena tensi darah Linda telah mencapai MAP. Ada sedikit kemajuan ke arah yang lebih baik dibanding nilai sebelumnya. Dokter penanggung jawab sedang menurunkan dosis anti hipertensinya secara bertahap.
"Freissy," panggil seorang dokter pada suster muda yang tadi berkomunikasi dengan Gama.
"Ya, Dok," sahutnya cepat.
"Tolong kamu ambil gaun pengantinnya dan berikan ke keluarga pasien, katakan pada mereka pasiennya mau di EKG (Elektrokardiogram)."
Freissy bergegas, mengambil baju itu dengan jantung berdebar. Ia takut merusak gaun cantik ini. Lalu dengan hati-hati ia melipatnya dan memasukan kembali ke dalam kotaknya.
"Pak ... alhamdulillah, tensi darahnya mulai turun, tapi masih dalam observasi ketat," terang dokter tersebut pada Ayah Berli.
"Lalu untuk operasinya bagaimana, Dok?" tanya Ayah Berli sambil menyeka air mata yang tergenang di sudut mata putrinya.
"Untuk menghargai hak pasien, kita akan melakukan operasi setelah pasiennya sadar dan menyetujui prosedur tindakan yang akan kami lakukan."
"Harus begitu?"
"Ya, Pak. Karena usia pasien sudah dewasa, walaupun Bapak adalah ayah kandungnya, untuk tindakan operasi, kami tetap harus mempertimbangkan keputusan pasien."
"Baik, Dok."
Ayah Berli faham, lalu kembali berdoa untuk Linda.
Beberapa saat kemudian seorang perawat menghampiri.
"Pak, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, sepertinya ijab kabulnya tidak bisa dilakukan di samping pasien, kami baru saja mendapat informasi kalau dari IGD akan masuk tiga pasien baru yang kondisinya kritis. Mungkin untuk prosesi ijab kabulnya, Bapak dan keluarga bisa mencari tempat lain. Sekali lagi kami mohon maaf."
"Oh, tidak apa-apa, kami faham," ucap Ayah Berli.
"Freissy, sekalian kamu memberikan baju, katakan juga pada keluarga LB kalau ijab kabulnya tidak bisa dilakukan di sini."
"Baik, Dok."
Freissy berlalu, dan entah kenapa hatinya kembali berdebar. Ia sadar akan bertemu lagi dengan pria jahil yang lancang merayunya, mengedipkan mata, dan bersiul-siul di depannya.
Haish, menyebalkan.
Ia berlalu menuju ruang transit.
"Mohon maaf, saya mau memberikan ini, LB mau diEKG ulang, ini gaunnya," ucapnya. Tanpa ada niatan untuk menoleh ke arah Gama yang tengah menatapnya.
Pak Yudha segera mengambilnya. Sementara Agam masih pada posisi awal. Kepalanya menunduk di antara kedua lututnya. Celana mahalnya tampak sedikit kotor karena ia sempat berselonjor di lantai.
Agam seolah tidak peduli lagi dengan penampilannya. Batinnya sudah cukup lelah karena memikirkan Linda.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Agam pada Freissya.
"Tensi darahnya sudah turun, tapi belum sadar."
Lalu Freissya menjelaskan tentang ijab kabul yang tidak bisa dilaksanakan di dalam ruang ICU. Paman Yordan dan Agam tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai dokter militer Paman Yordan tahu betul jika prioritas utama pelayanan rumah sakit adalah kenyamanan dan keamanan pasien.
"Tidak apa-apa kan, Ben?"
"Ya, Paman tidak apa-apa."
"Saya permisi," kata Freissya.
Ia merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah para pria tampan sebagai wanita satu-satunya. Percaya deh, walaupun usianya menjelang kepala lima, Pak Yudhapun masih tampan.
Paman Yordan?
Jangan ditanya lagi, profesinya saja dokter militer. Untuk diterima menjadi dokter militer, gigi saja harus sempurna, tidak boleh ada bolong, mata tidak boleh minus atau buta warna, tinggi dan berat badan harus ideal. Intinya, harus sehat secara biopsikosisial, kultural, dan spiritual.
"Tunggu," kata Gama.
"Ada apa?" Freissya menoleh.
"Aku mau bicara, sebentar saja, bisa tidak aku dan kamu keluar dulu?" tanya Gama, entah apa yang akan ia bicarakan dengan suster itu.
"Maaf ya, saya di sini bekerja profesional, kalau mau bertanya tentang LB, langsung pada dokter saja. Tidak ada dalam kamus suster berbicara di luar ruangan dengan keluarga pasien. Permisi," tegasnya.
Dan Freissya kembali ke dalam dengan langkah cepat, matanya jelas memperlihatkan ketidaksukaan pada Gama.
'BRUK.'
Entah sadar atau tidak, Freissya bahkan menutup pintu dengan lumayan kencang.
"Kurang asem, aku ditolak. Baru tau rasa kalau kamu dilaporkan." Sambil mengepalkan tangan.
Baru kali ini ia di tolak, Gama jadi kesal.
"Sudahlah Gama, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mencari mangsa," goda Paman Yordan. Ia rupanya sudah mendengar cerita jika Gama adalah play boy.
"Hahaha, Gama itu paling tidak tahan kalau melihat yang bening-bening," tambah Pak Yudha.
"Hahaha, Pak Yudha tahu saja, dan asal Paman dan Pak Yudha tahu ya, saat pertama kali aku lihat kakak ipar, OMG aku hampir gila dan ingin memilikinya, sayangnya dia milik Kakak," sahut Gama.
Sebenarnya maksud obrolan mereka adalah untuk menghibur Agam. Namun sayangnya Agam malah marah.
"Tidak lucu! Diam!" bentak Agam.
Hening ....
Dan mereka masih bergeming saat Ayah Berli datang dan bergabung bersama di ruang transit.
"Sudah hampir jam dua belas malam, bagaimana ini, Pak Dirut?" tanya Ayah Berli.
"Ayah, jangan panggil saya pak dirut, panggil Agam saja, atau Ben, atau Buana."
"Tapi aku lebih nyaman memanggil pak dirut," Ayah Berli bersikukuh.
"Sudah, sudah, sekarang bagaimana? Ijab kabulnya mau di mana?" sela Paman Yordan.
"Kita kembali ke masjid yang tadi," kata Agam.
Agam menjadi yang pertama beranjak, geraknya seolah lunglai. Namun keterangan Ayah Berli membuatnya sedikit tenang dan bahagia.
"Pak Dirut, alhamdulillah, tensi darahnya mulai turun, namun untuk keputusan operasinya kata dokter harus menunggu keputusan Linda."
Mereka mengobrol di dalam litf.
"Alhamdulillah."
Ada seulas senyum di bibir merahnya. Agam bersyukur, ia menengadahkan kepala ke atas, lalu mengusap wajahnya.
Maaf, tidak di sisimu, demi kebaikanmu juga sayang, tidak apa-apa kan? Batin Agam.