AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Aku Akan Menjagamu dengan Nyawaku [Visual]



"Siapa Bagas? Terus agensi mana yang mengontrakmu untuk iklan kecap?" dia bertanya lagi sambil melajukan mobilnya.


"Jelaskan dulu sama saya, kenapa Pak Agam tahu semuanya? Kenapa?" terus menatap Agam, seolah ingin menguliti isi hatinya.


"Ya saya tahu lah, saya tahu semua hal tentang kamu. Oiya ini maskernya, tolong pakai ya, saat kita di optik, jangan sampai ada orang yang tahu keberadaan kamu sebelum perjajian saya dan kamu selesai," ucapnya.


"Ba-baik." Mengambilnya dengan tangan gemetar.


"Tungguu," Agam menepikan mobilnya.


"Kenapa tanganmu gemetar, hahh? Takut sama saya?"


Agam tidak jadi memberikan masker, melihat tangan Linda gemetar, ia merasa khawatir.


"Bagaimana saya tidak gemetar? Pak Agamlah yang membuat saya takut, kenapa Anda tahu semua tentang saya? A-apa Anda menyadap ponsel saya?!"


"Kalau iya memangnya kenapa? Tak masalah, kan?" Ia mengangkat bahunya.


"Apa?! Jadi dugaan saya benar?!"


"Ya, benar sekali," ucapnya santai.


"Sebagai peringatan untuk kamu karena melanggar perjanjian, saya bilang Anda boleh menerima dan memanggil siapapun atas izin saya, kan?"


"Anda jahat Pak Agam, apa Anda tahu kalau menyadap itu ilegal? Hanya negara yang bisa melakukannya, itupun harus melewati berbagai syarat. Ternyata Anda lebih mengerikan dari yang saya bayangkan."


Linda memalingkan wajah, tangannya mengepal, sementara matanya sudah mengalirkan air mata yang menghantarkan kesedihannya.


"Tolong izinkan saya untuk pergi ke rumah Bagas, please ...," ucapnya lirih, hampir tidak terdengar.


"Siapa dia? Kamu belum menjawab pertanyaan saya," ia melajukan kembali kemudinya.


"Dia manajer pribadi saya, dia baik. Tadi saat dia menelepon seperti telah terjadi sesuatu. Kumohon Pak, lain kali saya akan meminta izin dulu kalau akan menerima telepon dari siapapun. Please ...." Ia melirik, mengiba dengan air mata yang hampir menganak sungai.


Agam bergeming, ia fokus pada jalanan yang ramai lancar.


"Hidup Bagas dan keluarganya mengandalkan saya, dia mendapatkan uang dari saya. Dia sudah punya istri dan dua orang anak yang masih kecil. Tolong fahami keadaan ini Pak. Saya tidak mau Bagas kenapa-napa. Tadi ... seperti ada sesuatu yang terjadi pada dia."


"Oh, dia sudah menikah. Baiklah, saya akan membantu. Tapi kita tidak perlu menemuinya. Kamu kirim saja alamat rumahnya sama saya, cepat." Titahnya.


"Kirim ke mana?" Linda mengambil ponselnya.


"Ke nomor HP saya. Nomornya 0×××."


"Ulangi," sambung Linda.


"Hmm, lamban. 0xxx."


"Sudah, kan?"


"Tolong jangan cepat-cepat, saya kesulitan. Lagipula kok ada ya nomor telepon dengan angka serumit itu, kenapa tidak memilih nomor cantik saja?" sambil mendengus kesal.


"Hahaha, nomer cantik? Nomormu juga tidak cantik, kan?"


"Dulu cantik, tapi ... karena ada yang menteror, saya menggantinya."


Linda mengkerutkan alisnya. Setelah ia mendapatkan nomor Agam, dia bingung harus menyimpannya dengan nama apa.


"Tulis saja si bajingan, atau si binatang buas," Agam seperti tahu apa yang ada dalam pikirannya.


Bibir Linda mencucu, dengan cepat ia pun menulis strange man (pria aneh).


"Saya sudah kirim alamatnya," kata Linda.


"Oke tunggu sebentar," Agam menepikan kembali mobilnya, lalu menelepon seseorang entah siapa.


"Tolong lindungi manajer pribadi LB, alamatnya sudah saya kirim, sepertinya baru saja terjadi sesuatu sama dia. Laporkan hasilnya secepatnya."


"Saya sudah pulang dari luar kota, besok mulai bekerja."


Panggilan usai.


"Semudah itukah Anda menyelesaikan masalah?" tanya Linda.


"Tidak mudah juga sih. Saya sering terjun langsung, kok." Jawabnya.


"Apa Anda bisa saya percaya?" tanya Linda.


"Mari buktikan," jawab Agam, dan ia kini menambah laju kecepatan mobilnya.


"Aaaa .... Apa Anda gila?! Tolong jangan ngebut," teriak Linda.


Ia memeluk sabuk pengaman dan memenjamkan matanya.


"Ini lambat, saya bisa lebih cepat dari ini."


Agam kembali menginjak gas. Beruntung suasana jalanan sepi, dan tidak melewati pos polisi, jika melewati pos, yakin Agam akan ditilang.


"Huuu ... Pak ampuuun."


Linda semakin ketakutan, matanya masih terpejam, namun tubuhnya condong ke kanan, dan entah sadar atau tidak, ia memegang bahu Agam.


Agam terkejut, kuku berhenna merah itu benar-benar ada di bahunya, dan sekarang tangan itu merambah ke lehernya, batin Agam semakin kalut.


Dan ....


"Argh." Agam berteriak, tenyata Linda mencakar lehernya.


"Tolong kemudikan secara normal, atau saya akan mencakar Anda lagi," ancamnya.


"Huhh, baiklah," jawab Agam.


Ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding. Apa yang dilakukan Linda mengingatkannya pada pristiwa itu.


Saat itu, Linda juga mencakar lehernya saat ia meronta, namun selanjutnya wanita ini juga memeluk lehernya penuh kelembutan, mungkin Agam salah. Tapi ... ya sudahlah. Agam beristighfar seraya mengusap dadanya.


"Maaf," kata Agam.


Linda diam saja, tenyata oh ternyata, ia juga memikirkan hal yang sama dengan apa yang dipikirkan Agam. Memikirkan lagi saat dengan bodohnya ia merengkuh lembut leher Agam, dan menikmati semuanya.


"Tidaaak," teriaknya. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Ada masalah?" tanya Agam.


"Tidak ada!" bentaknya.


"Okey," kata Agam.


***


"Kita sudah sampai." Ia menepikan mobilnya di sebuah optik.


"Ayo turun, pakai maskernya, kamu harus memilihnya."


"Tidak, saya di sini saja. Bapak saja yang pilih, terserah."


"Lho kok gitu? Baiklah, memangnya minus berapa?" tanya Agam.


"Mata kanan minus 0,25 dan mata kiri minus 0,50."


"Kok bisa sama dengan saya," kata Agam.


"Sama?" Linda melirik.


"Ya saya juga sama, mata kanan minus 0,25 dan mata kiri minus 0,50."


"Apa?! Serius?"


"Serius," kata Agam.


"Pantas saja, saat saya memakai kaca mata Anda, rasanya nyaman-nyaman saja," kata Linda.


Apa kita berjodoh? Kok bisa sama persis? Batin Agam.


"Baiklah, tunggu di sini, ingat jangan kabur."


Saat berjalan menuju optik, Agam browsing telebih dahulu warna kesukaan Linda.


"Warna apa ini ya? Pink, gold, silver atau perpaduan?"


Agam menautkan alisnya saat melihat foto Linda di laman pencarian.


Warnanya sedikit rumit, keluh Agam dalam batinnya.




"Bu, saya mau kaca mata seperti yang dipakai orang ini, mata kanan minus 0,25 dan kiri minus 0,50." Kata Agam saat ia sudah berada di optik. Ia menunjukkan gambar di ponselnya pada pelayan optik.


"Wah, ini LB ya? Anda penggemarnya? Dia hilang kan? Gosipnya dia lagi enak-enak liburan sama politisi di sebuah pulau," ucap petugas itu.


"Apa?! Anda bisa diam tidak?!" Agam geram.


"Kok marah sih Kak, saya serius. Ada beritanya lho di TV."


"Diaam!"


Agam meraih kaca mata dan melemparkan BC nya.


Petugas optik langsung menciut.


"Si-silahkan masukan nomor PINnya, Pak."


Ia menyodorkan mesin EDC (Electronic Data Capture) pada Agam sambil menunduk dan gemetar.


Kenapa ia gemetar? Karena dalam kartu itu tertulis nama Agam Ben Buana.


.


.


"Linda," panggilnya. Agam terkejut saat mendapati Linda tidak ada di dalam mobil.


Kurang asem, apa dia kabur? Batinnya. Agam sedikit panik.


Namun langsung tersenyum saat melihat Linda bersandar di pintu mobil sebelah kiri sambil berjongkok dan menatap jalanan.


"Saya pikir Anda kabur." Memberikan kotak kacamata pada Linda.


"Terima kasih, sudah saya bilang, saya akan mengikuti kemauan Anda." Ia membuka kotak dan memakai kacamatanya.


"Sebentar lagi Magrib, mau temani saya berbuka?" tanya Agam.


"Emm, bo-boleh. Ta-tapi bagaimana kalau ada yang melihat saya."


"Tenang saja, kita pergi ke kafe Liana, kafe baru. Ada di pinggiran kota," ucapnya.


"Kafe Liana? Kafe siapa? Sahabat Anda? Atau saudara Anda?"


"Emm, ceritanya panjang, jadi intinya ini adalah kafe milik kakak bohongan nona Aiza."


"Nona Aiza? Nona Aiza itu siapa?"


"Tolong Anda jaga rahasia, nona Aiza itu istrinya tuan Deanka. Orang tua Liana dulu pernah menyelamatkan nona Aiza. Jadi, sebagai ungkapan terima kasih, tuan Deanka memberi uang pada keluarga Liana. Nah, dari sisa uang itu Liana dan suaminya membuka kafe dan laundry.


"Oh." Linda mengangguk.


"Oiya, kenapa Anda memakai kacamata? Tidak pakai kacamata juga bisa, kan?"


"Lah, Pak Agam juga kenapa pakai kacamata?" Linda balik bertanya.


"Kata dokter mata, penderita mata minus memang sebaiknya menggunakan kacamata. Tujuannya agar otot mata tidak terus-menerus tegang saat melihat objek. Agar mata tidak pusing, mata tidak lelah, dan sakit kepala, walaupun minusnya belum tinggi," jelas Agam.


"Ya, saya sependapat. Banyak yang berpendapat kalau kacamata membuat minus mata menjadi bertambah. Padahal itu hanyalah mitos. Faktanya, jika tidak menggunakan kacamata, justru akan membuat minus pada mata menjadi bertambah," kata Linda.


"Hahaha, kita sependapat dalam urusan kacamata." Agam tersenyum.


Sejenak, mereka saling lempar senyum, hingga akhirnya Linda yang terlebih dahulu memalingkan wajahnya.


***


Agam disambut ramah dan baik oleh wanita bernama Liana yang tengah hamil besar.


"Silahkan, Pak Agam baru datang dari luar kota?" tanya Liana sambil sesekali menatap Linda yang menunduk, Linda memakai masker.


"Em, ya baru datang," baru datang ke kafe kamu. Lanjut Agam dalam batinnya.


"Saya mau kursi yang paling sepi." Mengedarkan pandangan.


"Oh, bagaimana kalau di lantai dua saja, itu khusus pasangan," kata Liana.


"Mau pesan apa, Pak?"


Liana tak berani bertanya siapa wanita cantik di samping Agam.


"Menu yang paling spesial di kafe ini. Dua porsi ya, plus teh manis dan puding buah," kata Agam.


"Baik, Septa catat," Liana melirik karyawannya.


"Sudah berapa banyak karyawannya? Suamimu mana?" tanya Agam.


Mereka sedang berjalan menuju lantai dua.


"Suami saya di laundry. Karyawannya lima orang. Silahkan," Liana mempersilahkan.


Agam dan Linda duduk. Linda tampak canggung.


"Pak Agam, tolong sampaikan salam saya pada nona Aiza dan Tuan Deanka. Saya rindu dengan Nona Aiza."


"Tenang saja, nanti saat nona Aiza ulang tahun, saya akan menjemput keluarga Anda."


"Wah asyiiik, saya senang sekali. Baik, saya permisi." Liana pamit saat pelayan kafe sudah membawa menu pesanan Agam."


Tinggalah Agam dan Linda.


"Ayo minum," kata Agam.


"Saya menunggu Anda saja," ucapnya.


"Sepuluh menit lagi lho." Agam melirik jam tangannya.


"Tidak apa-apa," kata Linda.


Dalam 10 menit itu yang tercipta hanya sebuah keheningan. Hati Linda berdesir saat melihat semilir angin memainkan rambut Agam yang indah. Jujur, Agam sangat tampan dan karismatik. Pria itu menatap ke arah masjid yang kubahnya tampak jelas dari arah itu, dan letaknya memang tidak jauh dari kafe Liana.


Linda menatap ke arah yang sama, ia melihat iring-iringan anak kecil, remaja dan bapak-bapak berjalan beriringan menuju masjid tersebut. Anak-anak tampak ceria bersenda-gurau, sambil melempar peci mereka ke udara lalu menangkapnya lagi.


Dan adzan Magribpun berkumandang. Agam tersenyum, ia berdoa, menengadahkan tanganya, menatap langit-langit, lalu mengusap wajahnya.


"Ayo minum," ajaknya pada Linda.


Linda mengangguk, dan merekapun menikmati menu pembuka.


"Kita shalat dulu, nanti kita lanjutkan," ia beranjak.


Linda seakan terhipnotis, ia mengikuti langkah Agam.


.


.


Selesai shalat mereka ke meja lagi melanjutkan kembali menyantap menu spesial yang tadi sempat tertunda.


Karena gugup, Linda jadi sering minum.


"Santai saja," kata Agam.


"Kenapa? Gugup?" sangkanya.


"Tidak," dan tanpa bisa dihindari Linda malah bersendawa cukup keras.


"EUUU ...." Linda langsung menutup mulutnya.


"Ppfftt ... hahaha, uhuk uhuk," Agam tak bisa menahan tawa, hinga ia terbahak, terbatuk-batuk dan tersedak.


Oh tidaaak.


Pipi Linda memerah. Ia teramat sangat malu.


"Ma-maaf," katanya terbata-bata.


"Tidak apa-apa, makanya jangan terlalu banyak minum," kata Agam. Bibirnya masih mengulum senyum.


***


Malam ini Linda gelisah, tak terasa dua minggu sudah berlalu sejak saat itu. Saat di mana Agam merenggut mahkotanya yang masih kuncup.


Satu minggu ia mendekam di sel khusus, dan satu minggu ini, ia telah mendekam di rumah orang yang telah mencuri kesuciannya.


Ia memeluk kalender kecil yang selalu ia lingkari setiap harinya. Dua hari yang lalu, jika mengikuti jadwal harusnya ia sudah datang bulan. Linda kembali menangis, ia takut akan kemungkinan terburuk.


***


...___Tiga Bulan Kemudian___...


Sebenarnya Agam telah memberikan alat tes kehamilan, namun ia tidak berani menggunakannya karena takut.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga akhirnya hampir 3 bulan berlalu setelah hari itu.


Linda melewatinya dengan penuh kesedihan. Kebenciannya pada Agam kian menjadi-jadi. Hari-harinya ia lewati dengan menangis dan mengurung diri di kamar. Ia menyadari jika tubuhnya berubah.


Ia tahu kalau ia hamil, tapi ia tidak mau bercerita pada Agam ataupun bu Nadia. Linda melewati masa-masa sulit di mana ia sering mual-muntah dan tidak nafsu makan.


Pada suatu hari, bu Nadia pergi ke luar kota. Di rumah itu hanya ada ia dan Gama yang sangat dingin padanya. Sedangkan Agam jarang pulang ke rumah karena ia super sibuk dengan HGC dan sibuk dengan kemelut yang terjadi pada keluarga Haiden akhir-akhir ini.


.


.


Pada suatu malam pria yang dibencinya itu memergokinya memakan sesuatu. Linda yakin jika pada malam ini Agam mengetahui jika dirinya hamil.


'Trek.'


Linda mendengar seseorang membuka pintu kamarnya dan mengendap masuk. Linda pura-pura tertidur di meja. Ia baru saja menangis karena rindu dengan ayah, ibu dan adiknya.


Mata Linda sembab, ia menopang kepala dengan lengannya. Di atas mejanya tampak beberapa lembar foto kebersamaannya dengan orangtuanya dan dua adik kembarnya Yolla dan Yolli.


Linda tahu saat Agam manarik kursi lain dan duduk perlahan di sampingnya. Agam lalu menyibakkan helaian rambut yang menghalangi wajah Linda. Linda merasa jika Agam tengah menatapnya.


Hati Linda berdesir saat Agam seperti menelusuri garis wajahnya dengan jemari, namun tidak menyentuhnya. Linda membuka sedikit matanya saat Agam lengah.


"Maafkan aku Linda, aku menyesal ....


Aku telah menghancurkan masa depanmu," kata Agam.


Penyesalanmu terlambat. Jawab Linda dalam batinnya.


Agam berdiri, namun pria itu tiba-tiba berlutut dan melihat ke bawah meja. Linda terkejut, ia yakin Agam pasti melihat beberapa potong mangga muda yang belum habis ia makan.


"Linda ...," lirihnya. Mata Agam terlihat berkaca-kaca.


Linda juga ingin menangis dan berkata, "Ya, aku hamil." Tapi ia tidak memiliki kekuatan untuk mengatakan hal tersebut.


Linda melihat jika Agam memukul-mukul dadanya, mungkin ia juga tiba-tiba merasa sesak setelah tahu jika dirinya hamil. Agam lalu membuka nakas yang sudah diseting berisi bebagai macam merk dan ukuran pembalut.


Benar saja, pembalut-pembalut itu masih utuh. Tubuh Agam gemetar, ia berjalan gontai mendekati Linda. Dibopongnya tubuh wanita itu dengan sangat hati-hati. Dibaringkannya perlahan lalu diselimutinya dengan penuh cinta.


Sejenak Agam menatap tubuh Linda dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pandangannya kembali bergulir dan mengunci di bagian perut Linda.


Linda bergeming, ia berusaha keras agar akting pura-pura tidurnya sempurna.


Linda menahan tangis saat ia melihat mata Agam masih berkaca-kaca. Pria itu tiba-tiba mengecup jemarinya sendiri berkali-kali, lalu ditempelkannya di bagian perut Linda.


Dan saat itu ternyata batin Agam berkata, "Aku ingin mengencupnya langsung, tapi ... aku takut Linda marah. Hei, kamu yang ada di dalam perut itu, kamu baik-baik saja, kan? Kamu sehat, kan? Tolong kamu tumbuh dengan baik yaa ... aku mencintaimu dan juga mencintai ibumu."


Linda langsung menangis memeluk guling saat punggung tegap dan indah milik pria yang dibencinya itu menghilang di balik pintu.


"Huuu ... huuu ...."


Linda duduk di ujung tempat tidur, tangisannya begitu pilu dan menyayat. Linda mengusap perutnya, seraya berkata, "Maaf, maaf karena aku tidak menginginkan kamu, tapi, jangan khawatir ... aku tidak akan membunuhmu, huuu ...."


Dan di balik pintu kamar itu ternyata Agam masih mematung sambil memegang kembali dadanya. Sedih, sesak, haru, bercampur menjadi satu rasa yang mengoyak batinnya.


Aku akan memastikan kamu baik-baik saja, aku akan menjaga kamu dengan nyawaku. Kamu, ya kamu yang ada di dalam perut itu. Ujar Agam dalam batinnya.


Ia berjalan gontai menuju mushola untuk mengeluh dan mencurahkan seluruh isi hati serta kegundahannya pada Yang Maha Kuasa.


❤❤ Bersambung ....