
"Pak hati-hati!" teriak Linda.
Di pinggir kolam renang ia gelisah. Pun dengan bu Ira dan pak Yudha. Mereka sama gelisahnya. Menatap ke tengah kolam dengan perasaan getir dan khawatir.
"One, two, three, go!"
Pak Dirut Sedang melatih sang putra sang masih berusia lima bulan lebih dua minggu itu untuk berenang secara mandiri. Luar biasa, Keivel terlihat senang bermain di air. Ia berenang ala bayi di bawah pengawasan ketat parennya, yang tak lain adalah Agam Ben Buana.
"Kalau sampai Keivel flu atau tenggelam, Anda tak tidak boleh menyentuhku!"
Lagi, Linda beteriak. Ia sungguh tak habis pikir karena sudah seminggu ini, suaminya rutin mengajak Keivel belajar berenang dengan alasan berlatih sejak dini lebih baik daripada berlatih di hari tua.
"Saya menjaminkan nyawa saya untuk Keivel," kata Agam sambil berenang gaya punggung dan membawa Keivel di dadanya. Posisi Keivel tengkurap, kepalanya menengadah, tangannya sibuk mengepak air sambil mengocehkan bahasa bayi.
"Oh, sayangnya Momca."
Setibanya di tepi, Linda segera meraih putranya yang hanya mengenakan underware itu untuk segera dilap agar tak kedinginan.
Sementara pak Dirut terlihat langsung dibantu dikeringkan tubuhnya oleh pak Yudha. Bu Ira sibuk memberikan minuman es lemon segar pada Agam. Tepatnya menyuapi minuman pada Agam.
Ini adalah hari kerja, tapi pak Dirut tak bekerja karena sedang mengambil cuti tahunan.
"Apa persiapannya sudah selesai?" tanya Agam pada bu Ira.
"Sudah, Pak. Makanan kesukaan Gama sudah Ibu siapkan. Capaian persiapan sudah sembilan puluh sembilan persen," kata bu Ira.
Hari ini, jika tidak ada aral-lintang, Gama atau Sultan Yasa, diagendakan dapat kesempatan pulang selama satu hari. Gama dibebaskan pada hari ini untuk keluar dari markas BRN dan menemui keluarganya.
Agam sengaja mengambil cuti di hari kebebasan Gama agar ia bisa bertemu dengan adik kesayangannya.
Tiga bulan yang lalu, saat Gama dipulangkan dari luar negeri, adiknya itu menolak bertemu dengannya dan memilih langsung dikarantina di markas BRN hingga saat ini. Selama itu, Gamapun menolak dikunjungi siapapun termasuk menolak dikunjungi oleh bu Nadia yang notabene adalah ibunya sendiri.
Namun hari ini, berdasarkan informasi dari anggota BRN yang merupakan kakak tutor Gama, Gama mengatakan bersedia pulang ke rumah. Belum diketahui apakah Gama sudah pulih total atau belum pulih dari amnesianya.
"Pamanmu mau pulang, kamu suka?" tanya Linda pada Keivel. Bayi gemoy itu tengah mandi menggunakan air keran yang berada di sisi kolam. Linda sudah pandai memandikan Keivel tanpa bantuan suster.
"Terima kasih, Bu Ira," ucap Agam.
Setelah menghabiskan es lemonnya, pak Dirut bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Pak Dirut hanya mengenakan mini boxer, tubuhnya terekspose, roti sobeknya nengkilat karena basah, punggung kokohnya masih membulirkan titik-titir air. Barang sejenak, Linda galfok. Ia menatap tubuh seksi suaminya sambil tersenyum.
Baru bisa mengalihkan pandangan saat Keivel yang ada di pangkuannya menarik-tarik baju bagian depan milik Linda sembari mendecakkan bibir. Rupanya, setelah berenang, Keivel kehausan.
"Bu Ira, aku ke kamar ya, Keivel mau minum."
"Ya Bu, silahkan," sahut bu Ira.
Saat Linda keluar dari area kolam renang, suster Dini dan ners Sinta sudah berdiri menyambut Keivel. Mereka memang selalu dilarang masuk ke area kolam renang jika ada Agam. Saat Agam sedang berenang, selain Linda, yang boleh melihat tentu saja hanya pak Yudha dan bu Ira.
Kenapa demikian? Jelas, Agam tak ingin tubuhnya jadi konsumsi publik.
"Saya saja yang bawa Keivel, Bu," tawar ners Sinta.
"Boleh," kata Linda.
"Bawa ke kamar utama saja, aku mau member ASI-nya di kamar utama," kata Linda.
"Baik, Bu."
...***...
Saat melewati area dapur, Linda melihat ibu mertuanya, alias bu Nadia sedang sibuk berbincang dengan tim dekorasi ruangan. Karena Gama akan pulang, bu Nadia sengaja menyewa tim dekorasi. Ia berharap usahanya ini bisa membuat Gama sedikit terkesan.
"Bu, nanti aku bantu, mau memberi ASI dulu," kata Linda.
"Tak perlu, Nak. Sudah ada timnya, kok. Kamu istirahat saja ya," cegah bu Nadia seraya mengecup kening dan pipi Linda. Tak mempunyai anak perempuan, membuat bu Nadia teramat sangat menyayangi menantu cantiknya itu layaknya anak sendiri.
"Wah."
Tim dekorasi berdecak kagum saat melihat Linda dari jarak dekat. Sejenak mereka melongo. Artis LB yang kontroversial benar-benar ada di depan mata. LB di mata mereka terlihat sangat elok rupa, terawat dan bersinar.
Sudah cantik, artis, menikah pula dengan pria kaya-raya yang bisa menjaga kecantikan Linda. Ya, Agam tentu saja mampu membuat Linda lebih cantik karena bisa membayar perawatan mahal dan terbaik untuk merawat tubuh Linda.
"Bidadari," gumam salah satu dari mereka.
"Mau kerja atau mau menonton istri saya?!" teriakan maskulin itu datang tiba-tiba dan tak terduga.
"P-Pak Agam?"
Tim dekorasi yang terdiri dari dua orang pria dan satu wanita itu terlihat memucat, langsung menunduk dan gemetar.
"Ben, kamu membuat mereka takut," bu Nadia memukul bahu putra sulungnya. Linda hanya tersenyum-senyum. Lalu ia menggandeng lengan Agam.
"Cepat pergi, kalian menganggu pekerjaan mereka," usir bu Nadia.
"Baik, Bu," sahut Linda.
"Yuk sayang," ajak Agam.
Segera merangkul Linda dengan posesifnya. Bu Nadia geleng-geleng kepala. Putranya benar-benar cinta mati pada Linda.
...***...
Setibanya di kamar utama, Linda segera memberi ASI pada Keivel. Agam menelepon seseorang untuk mendapatkan informasi tentang Gama.
"Kapan adikku tiba di rumah?"
"Berapa orang pengawal yang akan menjaga adikku?"
"Berapa lama ia bisa berada di luar markas?"
Pertanyaan itu dilontarkan Agam untuk memastikan agar acara penyambutan Gama tak sampai menyalahi protokol tetap yang telah ditentukan oleh BRN.
Saat Agam sibuk dengan aktivitasnya, Linda terkantuk-kantuk. Sedangkan Keivel tampak masih semangat menyesap kuat-kuat hingga air berkah hadiah dari terbaik dari momcanya itu meluber di area bibirnya. Ya, ASI memang minuman terbaik untuk bayi.
Agam yang sudah selesai dengan aktivitasnya langsung tersenyum ketika melihat pemandangan indah itu.
"Lelah ya sayang," gumam Agam sambil mengecup kening Linda.
Ia memeluk Linda dari belakang sambil mengintip Keivel yang saat ini mulai mengantuk jua. Agam mengelap lelehan ASI yang berada di sudut bibir dan dagu Keivel. Saat bibir mungil itu perlahan terlepas dari sana, pak Dirut segera merapikan pakaian Linda dengan hati-hati agar pemiliknya tak terbangun.
Melihat Linda yang antusias memberi ASI dan memompa ASI untuk Keivel, cintanya pada Linda kian bertambah saja.
Setelah memberikan Keivel pada ners Sinta dan suster Dini, pak Dirut nyaris saja menggantikan posisi Keivel.
Pria itu mensejajarkan kepalanya di dada Linda. Mencium wangi khasnya sambil memejamkan mata. Tak lupa memainkan jemarinya untuk menciptakan sentuhan-sentuhan halus yang pada akhirnya membuat Linda terkejut dan terbangun.
"Pak Agam?! Mana Keivel?!" Linda spontan mendorong bahu pak Dirut.
"Hei, tenang dong. Siapa yang tidur sembarangan sambil memberi ASI? Kalau putraku tersedak bagaimana?" tegas Agam. Ia mencekal Linda dan memperlihatkan mimik kesal.
"Hahh? Bi-biasanya juga aku suka memberi ASI sambil tiduran." Linda beralibi.
"Tapi itu bahaya, El. Saya marah!"
Padahal, Agam tak marah, lagipula tampilan Keivel memang sudah tidak seperti bayi kecil yang prematur lagi. Ia hanya ingin mengerjai Linda.
"Ma-maaf, Pak."
Linda menyesal, segera memeluk pak Dirut agar luluh. Agam merasa di atas angin. Lantas membalas pelukan Linda, mengekang tubuhnya, dan mulai menyerang Linda dengan jurus andalannya.
"Pak ... ma-masih pagi," keluh Linda.
"Kenapa memangnya kalau masih pagi? Ini jam sebelas sayang, hampir siang. Sore ini 'kan Gama pulang, malamnya Keivel suka rewel. Jadi, saat ini adalah waktu yang sangat tepat." Dengan tak sabarannya, pak Dirut menarik sembarang busana Linda.
'Swrak swrak.'
"Maaf sayang, saya tak ada niat merobeknya, bahan bajunya saja yang tak kuat," sanggah Agam.
"Bu-bukan bajunya yang tak kuat, tapi A-Anda yang terlalu kuat."
Linda mulai terpengaruh, bicaranya terbata-bata. Sebab pak Dirut telah memulai aksinya. Menjamah tubuh Linda dengan cara yang lembut. Linda memalingkan wajah, jika sudah seperti ini, ia pasti kalah. Hanya bisa pasrah dan siap menerima titah pak Dirut.
"Ohh ..., cantik ..., sa-sangat indah sayang ...," gumam pak Dirut, ia mulai meracau, tengah asyik menikmati dunianya.
Linda beteriak dan meraung pelan guna menghempaskan rasa yang saat ini tengah menyerang serta memporak-porandakan jiwa raganya. Dan memeluk tubuh Agam adalah cara terbaik untuk mengimbangi keperkasaan pria ini.
Linda dan Agam sedang memanipulasi suhu kamar yang tadinya dingin menjadi panas membara.
Untungnya kamar ini kedap suara. Jika tidak, niscaya akan menggegerkan seluruh penghuni rumah. Mungkin akan ada yang mengira jika Linda sedang disiksa atau tersiksa. Padahal, faktanya Linda sedang diterbangkan ke nirwana oleh Agam Ben Buana.
Tak puas rasanya sebelum Agam mendengar kata lelah keluar dari bibir istrinya. Pak Dirut memang tak pernah berhenti sebelum Linda benar-benar menyerah, lemah, tak berdaya dan kepayahan.
"Ce-cepat selesaikan Maga, ka-kalau tidak, a-aku bisa pingsan," lirih Linda.
Tubuh si cantik yang seksi dan aduhai itu telah bermandikan peluh, wajahnya merona merah, dan tanda cinta telah bertebaran di sana-sini.
"Ya sayang," jawab Agam, sigap.
Selanjutnya, ya seperti itu. Adegan mereka terlalu mengerikan untuk dideskripsikan. Linda bahkan menitikan air mata karena hampir tak sanggup membendung gejolak cinta milik pak Dirut yang teramat kuat dan sangat mendominasi.
"Ke-kenapa menangis sa-sayang?" bisik Agam di tengah geloranya.
Linda mengggelengkan kepala. Ia juga bingung, kenapa ia menangis? Bukankah rasa ini sangat melenakan?
Cinta memang misteri, dan bercinta adalah puncaknya dari misteri cinta.
Usai kegiatan panas itu, Agam mendekap Linda. Ia berulang kali mengecup keringat yang masih mengalir di pelipis Linda. Linda terkapar, dan lengan pak Dirut adalah tempat ternyaman untuk ia menyandarkan kepalanya.
"Kamu suka?" tanya Agam. Ia tentu masih punya banyak energi untuk menggoda istrinya.
"Hmm," jawab Linda lemah. Ya, energinya nyaris habis untuk adegan tadi.
"Puas?" Pertanyaan frontal.
"Hmm," hanya kata itu yang terucap dari bibir Linda.
"Mau lagi? Saya masih bisa."
"Hmm, eh, a-apa?! Ti-tidak, Pak! Yang tadi sudah lebih dari cukup!" seru Linda.
"Hahaha," Agam tertawa puas.
Lalu mengakhiri tawanya dengan cara memagut pelan bibir Linda. Ia menebarkan kembali aroma mint yang selalu menguar dari bibirnya. Linda menikmati adegan pendinginan ini sambil memejamkan mata. Ia berharap agar kebahagiaan dan kesenangan ini tak lekas pergi dari sisinya.
...❤...
...❤...
...❤...
"Apa saya sudah keren?" tanya Agam. Ia sedang becermin. Setengah jam lagi Gama akan tiba. Pak Dirut resah-gelisah.
"Ya ampun, Pak. Baru kali ini aku melihat Anda gelisah, hahaha."
Linda tertawa. Tak sangka, pak Dirut yang sangat gagah dan berwibawa ternyata bisa mengalami fase gugup hanya gara-gara akan bertemu dengan Gama yang merupakan adik kandungnya.
"El, saya khawatir Gama tak memaafkan saya, itu saja 'sih," elaknya. Sambil kembali mengganti dasinya dengan dasi baru untuk yang ketiga kalinya.
"Ck ck ck, Gama hebat, bisa membuat seorang Agam Ben Buana panik, ini adegan langka," ujar Linda. Saat ini, ia juga tengah bersolek.
"Enak saja, siapa yang panik? Saya tidak panik, saya hanya panik saat berada di bawah kendali hasrat kamu, sayang. Hahaha." Agam kembali menyangkal.
Tiba-tiba, Linda terkejut. Wanita cantik itu sepertinya memiliki sebuah ide.
"Ahha!" serunya.
"El, kamu membuat saya kaget," protes Agam.
"Pak, aku ada ide, bagaimana kalau kita mengundang suster Freissya untuk datang ke rumah ini? Anggap saja sebagai kejutan untuk Gama. Anda setuju?"
"Hubungan mereka sudah berakhir sayang."
"Tapi Pak, kita tidak tahu fakta sebenarnya. Selagi masih ada waktu, cepat bawa suster Freissya ke sini, Pak," bujuk Linda.
"Emm, sebentar ya."
Pak Dirut menautkan alisnya. Ia berpikir sejenak, dan setelah ditelaah, apa yang dikatakan Linda ada benarnya juga.
"Oke, saya setuju."
Lalu Agam meraih ponselnya. Ia menghubungi Yanyan untuk menjemput Freissya.
"Semoga berhasil ya Pak," harap Linda.
"Ya sayang, semoga setelah melihat suster Freissya, hati Gama luluh dan mau memaafkan saya. Oiya, kamu jangan terlalu mencolok, saya tak suka kamu jadi tontonan."
Agam memperhatikan Linda dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ini biasa saja, Pak. Aku bahkan hanya memakai bedak tabur dan lipgloss," jelas Linda.
"Lipgloss? Rasa apa?"
"Rasa stroberi, Pak."
"Stroberi? Saya mau coba," kata Agam.
Lalu tanpa permisi, ia mengambil seluruh rasa stroberi di bibir Linda hingga berpindah ke bibirnya.
"Ishh, Anda nakal," dengus Linda.
"Hahaha, rasanya lumayan, tapi saya lebih suka rasa yang alami," katanya.
"Ben, Nak Linda," suara bu Nadia dari luar kamar.
"Ya, Bu." Linda membuka pintu kamar, tampak bu Nadia sudah berdiri dan berdandan rapi.
"Boleh Ibu masuk?"
"Tentu saja boleh dong, Bu." Agam dan Linda serempak mengapit bu Nadia ke dalam kamar.
"Ibu kenapa? Ada apa?" tanya Agam saat bu Nadia duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.
"Ibu gugup, Ben. Ibu takut Gama masih marah dan tak mau bicara lagi dengan Ibu. Karena hal itulah, Ibu bermaksud mengundang mantan pacar Gama ke rumah ini."
Mendengar ucapan bu Nadia, Linda dan Agam saling berpandangan.
"Mantan pacar yang mana, Bu? 'Kan mantan Gama banyak," ucap Agam.
"Mantan pacarnya yang spesial, Ben. Saat Gama masih berada di luar negeri. Ibu sering memergoki Gama mengigau. Saat itu, dia selalu menyebut nama seseorang. Kalau tidak salah suka memanggil nama Ice, atau my ice creamku. Apa nama itu maksudnya suster Freissya?" tanya bu Nadia.
"Apa? Hahaha."
Linda dan Agam terkejut dan tertawa bersamaan karena apa yang ingin dilakukan oleh bu Nadia, ternyata sejalan dengan ide Linda.
"Saya setuju, mari kita undang suster Freissya," ucap Agam seraya mengedipkan satu matanya pada Linda.
Deg, Linda berdegup, kedipan pak Dirut nyatanya telah membuat hatinya meleleh. Jujur, pesona pak Dirut memang tiada tanding.
...~Tbc~...
...Maaf baru bisa mengintai AGAPE 🙏🙏🙏 Salam sayang dan rindu untuk seluruh reader AGAPE. I love you all ❤❤❤...