AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Gamayasa Val Buana



Gama teramat kesal, wajah tampannya ditekuk. Menurutnya, Agam sangat semena-mena. Ruang geraknya seolah terbatas karena selalu dimata-matai.


Kenapa Gama sering ganti-ganti pacar?


Karena hanya prilaku itu yang bisa ia lakukan sebagai upaya untuk bersenang-senang. Selebihnya, tidak ada. Hari-harinya seusai sekolah sudah dipadatkan oleh jadwal les, les, dan les.


"Bisa memberiku apapun, bukan berarti harus menguntit kehidupan pribadiku, kan? Kapan ya aku bisa menghasilkan uang? Kalau aku membangkang, siapa nanti yang memberiku fasilitas mewah dan uang jajan? Ibupun tidak bisa diandalkan."


Di dalam lift, Gama menggerutu.


"Bu, minta uang jajan," kata Gama pada waktu itu.


"Gama, seluruh harta kita dari A sampai Z, kakak kamu yang urus, ibu juga dapat jatah bulanan dari kakak kamu. Jangan minta apapun pada ibu. Langsung pada kakak kamu saja."


Gama terngiang kembali ucapan ibunya.


"Nak, setelah ayah kamu pergi, kamu adalah tulang punggung sekaligus kepala keluarga di rumah ini. Setelah bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, ibu serahkan masa depan Gama sama kamu, ya. Jaga adik kamu baik-baik ya."


Gama lalu mengingat sepenggal kalimat dari ibunya untuk Agam pada suatu hari setelah mengadakan acara pengajian satu tahun kepergian ayahandanya, Agha Lon Buana.


Kakak memang baik. Dia selalu memanjakanku. Apapun yang aku minta selalu diberikan. Hanya saja, menurutku ... dia terlalu berlebihan dalam menjagaku.


Dia mengetahui apapun yang aku lakukan. Walau dia tidak menuntutku untuk mendapatkan nilai baik, tapi saat nilaiku jelek, dia pasti sudah tahu. Bahkan sebelum aku tahu nilaiku, dia sudah tahu lebih dulu.


Dia tidak pernah marah saat nilaiku jelek, tapi gilanya, langsung mendatangkan guru les yang sangar dan galak.


"Ssshhh," desahnya kesal.


Sejenak Gama mematung, bagaimana caranya bisa bertemu Nette? Tanyanya dalam hati.


Ya, tentu. Ia harus ke ruang ICU. Semoga malam ini, suster yang manis, cantik, lancang, dan menyebalkan itu masih jaga. Harapnya.


.


.


.


.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang perawat. Sesaat setelah Gama mengetuk pintu ruang ICU.


"Aku mau bertemu suster Nette, apa lagi dinas? Aku pacarnya," ujar Gama.


"Nette?"


Perawat itu sedikit merenung.


"Namanya panjang, tapi yang aku ingat dengan baik hanya Nettenya saja, dan Essia, emm ... Letesha." Gama mencoba mengingat-ingat.


"Oh, mungkin maksud Anda suster Freissya Shaenette Leteshia. Yakin Anda pacarnya? Kok, tidak tahu nama panjangnya?"


"Hahaha, kita baru jadian kemarin malam," sangkalnya.


"Setahu saya Freissya sudah punya pacar, apa sudah putus kali ya? Cepat sekali dapat gantinya."


Perawat itu menatap Gama dari ujung rambut hingga sepatunya. Dan ia berpikir pacar baru Freissya nyaris tidak ada cela. Tampan, modis, dan terlihat seperti anak gedongan yang terawat dengan baik. Sempurna.


"Nah, ya betul. Dia yang aku maksud, apa aku bisa bertemu dia, Pak? Sebentar saja," kata Gama tanpa ragu.


"Hmm, sedikit aneh juga sih, masa pacarnya tidak tahu? Freissya hari bebas dinas. Jadi tidak masuk kerja. Saya permisi."


Lalu perawat itu masuk kembali. Mungkin sedikit menyesal karena telah meladeni anak muda yang terbukti iseng.


"Yah, jadi dia libur?" gumam Gama.


Gama melamun, mau kembali ke kamar perawatan tempat Linda dirawat, ia sedang kesal dengan Agam. Mau kembali ke rumahpun malas karena di rumah tidak ada siapa-siapa.


.


.


.


.


"Malam yang menyebalkan," gerutunya saat ia sudah berada di dalam mobil sportnya.


Ia melirik ponselnya yang diletakkan di kursi. Tampak banyak sekali panggilan dan pesan yang masuk. Ya, jelas pasti dari para pacarnya. Ada yang mengajak berkencan, belajar bersama-sama, dan lain-lain.


Namun tidak ada satupun yang menarik minat Gama. Ia benar-benar sudah bosan dengan gadis-gadis manja itu. Mereka memang cantik-cantik dan berasal dari kalangan atas, tapi ... tidak ada satupun yang membuat Gama penasaran.


"Apa aku harus ke rumah Nette? Dia sudah punya pacar? Hahaha, aku tidak peduli, toh aku juga punya banyak pacar," gumamnya.


Gama rupanya serius, ia melajukan mobilnya ke rumah Freissya yang jaraknya hanya sekitar dua setengah kilometer dari rumah sakit tersebut.


.


.


.


.


Untuk mencapainya, Gama harus melewati gang kecil yang hanya bisa dimasuki oleh roda dua. Jarak rumah Freissya dari jalan raya sekitar 300 meter. Gama lalu memarkirkan mobilnya di bahu jalan.


Pucuk dicinta ulampun tiba, baru saja Gama akan memasuki gang, ia melihat Freissya berjalan seorang diri keluar dari gang dengan tergesa-gesa. Sepertinya hendak pergi ke suatu tempat.


"Hampir jam sepuluh malam, mau kemana dia?"


Gama mendekat.


"Ehem, Nette?" sapa Gama.


"K-kamu?


Freissya kaget, spontan mundur dua langkah sambil melihat sekeliling.


"Mau kemana kamu di jam segini? Kok keluyuran sendirian?" sambung Gama.


Freissya tidak menjawab, ia kembali melanjutkan langkahnya melewati trotoar dengan langkah panjang-panjang.


"Hei, Nette, aku bicara sama kamu, hei Netteee," teriak Gama.


Dan Freissya bersikukuh, ia tetap berjalan cepat, sama sekali tidak mempedulikan Gama.


"Nette," panggil Gama.


Ia menarik tangan Freissya dan menahannya.


"Lepas! Aku lagi buru-buru," kata Freissya.


"Jelaskan dulu, kamu mau kemana malam-malam begini? Keluyuran? Nongkrong? Apa sedang mencari sugar daddy?" tanya Gama, dan ia masih menahan tangan Freissya.


"Apa?! Jaga ucapan kamu ya bocah! Aku bukan wanita murahan! Lepas! Atau aku teriak. Kenapa kamu selalu menyusahkanku, hahh?"


"Aku bukan bocah, Nette. Usiaku 19 tahun, memangnya kamu berapa? Yang aku lihat justru wajah kamu yang seperti bocah, hahaha."


"Lepas! Atau aku gigit kamu lagi. Dan jangan panggil aku Nette!" teriak Freissya, sambil bersiap menggigit Gama.


"Oke, aku lepas."


Gama melepaskannya. Sementara Freissya tampak mengatur napas karena marah. Lalu kembali berjalan cepat.


Lagi, Gama menguntit sambil terus berbicara tentang hal-hal yang menurut Freissya sangat tidak penting.


"Maaf kalau kamu tidak suka kupanggil Nette, makanya tulis namamu dikertas. Biar aku hafal. Nanti aku pilih deh enaknya panggil kamu siapa."


"Atau kamu katakan saja, mau kupanggil apa? Hei, Nette, hei."


Sambil mengikuti langkah Freissya, Gama terus mengoceh. Dan Freissya ternyata berhenti di sebuah apotik yang sudah tutup.


"Kamu mau beli obat?"


"Ya, adikku demam, puas? Aku bukan keluyuran tidak jelas apalagi mencari sugar daddy."


"Hahaha, ya ya maaf. Oiya, yang mana yang sakit? Jangan-jangan dia sakit karena terkena karma gara-gara menjahiliku. Hahaha," candanya.


"Diaaam! Tidak lucu," teriak Freissya.


Sampai Gama terlonjak kaget.


"Adikku sakit, beraninya kamu tertawa."


Freissya melengos, lalu ia melirik ke sana ke mari, sepertinya sedang mencari tumpangan.


"Oke, maaf, maaf. Kamu butuh obat, kan? Mari aku antar ke apotik depan rumah sakit tempat kamu bekerja, di situ kulihat buka 24 jam."


"Tidak," jawab Freissya cepat.


Freissya mencari tumpangan taksi atau motor, namun tidak ditemukan, wilayah itu memang sedikit sepi.


"Hahaha, kamu tidak bawa ponsel? Jangan keras kepala, mari aku antar, aku bukan orang jahat," ajak Gama.


"Kalau tidak jahat, lalu kenapa kamu terus menggangguku?" ketusnya.


"Aku mau jadi teman kamu, boleh? Saya serius Ice."


Akhirnya Gama memanggilnya Ice. Menurut Gama, nama itu cocok untuk Nette karena gadis ini sangat dingin. Seperti es, Nette juga bisa membuat Gama sakit kalau terlalu banyak mengkonsumsinya. Namun Gama tetap menyukai es.


"Kamu panggil aku apa, Ice?"


"Ya, Ice. Adik perempuan kamu memanggilmu Eissya, kan? Ya sudah aku panggi Ice saja. Ayo cepat naik ke mobilku," desaknya.


Tanpa diduga, Gama menyeret tangan Freissya, lalu mendorong gadis itu ke dalam mobilnya. Gama tidak peduli lagi dengan teriakan dan umpatan yang dilontarkan Freissya.


"Apa kamu gila? Hei, bocah! Turunkan aku! Turunkaaan!"


'Klap.'


Gama segera menutup pintu mobilnya, lalu ia masuk secepatnya dari sisi kemudi.


"Bukaaa," teriak Freisya.


Ia menekan tombol apapun yang dilihatnya untuk berusaha membuka pintu, namun tidak berhasil.


"Hei, tenang dong. Aku bukan orang jahat, hanya mau mengantar kamu ke apotik, diam!" tegas Gama sambil memasangkan sabuk pengaman.


"Tolong, tolong, tolooong," teriak Freissya. Ia memukul-mukul kaca, saat mobil itu mulai melaju.


"Sssstt, bisa diam tidak? Kalau tangan kamu terluka bagaimana? Kamu harus merawat pasien, bukan?" sentak Gama.


"Aaaaa, huuu ... mamaaa, bapaaak," teriak Freissya sambil menangis.


"Hahaha, siapa yang bocah sekarang, hahhh? Kamu, kan? Kamu nangis seperti anak kecil."


Gama tergelak, melihat Freissya menangis dan ketakutan, entah kenapa Gama tiba-tiba merasa terhibur dan gembira.


"Ka-kamu kenapa sih? Huuks, kamu benar bukan mau menculikku, kan?"


"Hahaha, tidak lah, ini ada air minum, kamu tenang dulu, minum ya."


Gama menyerahkan botol air mineral, dan langsung ditolak oleh Freissya.


"Lebih baik aku mati kehausan daripada minum air dari kamu."


"Lho, kenapa?" Gama melirik sambil menahan tawa.


"Aku jaga-jaga, bisa jadi air minumnya sudah kamu campur obat-obatan, tolong turunkan aku, please ...."


"Hei, ini air mineralnya kemasan baru. Aku tidak sejahat itu, memangnya aku gila apa?! Lagipula aku tidak tertarik denganmu, hanya ingin menjadi teman kamu, itu saja," kata Gama sambil mempercepat laju kemudinya.


"Huuks, serius kan, kamu tidak jahat?" Freissya mengusap airmatanya.


"Tiga rius. Sudah, pakai ini. Aku belum pakai kok, baru kuambil dari lemari."


Gama mengambil sapu tangan dari saku kemejanya, lalu diberikan pada Freissya.


"Terima kasih," kata Freissya.


Lalu ....


'Shhhrrruuuk.'


'Shhhrrruuuk.'


Setelah mengelap airmatanya, Freissya mengeluarkan i n g u s nya. I n g u s sisa-sisa tangisan, berwarna bening dan encer.


Mata Gama membulat, ia tidak menyangka sapu tangannya akan digunakan untuk itu. Padahal, itu sarung tangan pemberian Agam yang harganya mahal. Dari brand tertama dunia, limited edition, dan tidak ada duanya.


"K-kamu jo ---."


"Terima kasih."


Freissya memberikan kembali sarung tangan yang sudah basah dengan air mata dan sedikit air hidung itu pada Gama. Karena Gama diam saja, Freissya langsung memasukkannya ke saku baju Gama setelah dilipat-lipat.


"OMG, kamu cantik tapi jorok. Buang, buang, cepat buang! Ambil lagi, lalu buang di tempah sampah rumah kamu. Cepat!" perintah Gama sambil bergidik dan menggerakkan badannya.


"Itu punya kamu, kan?"


"Ya, tapi ada bekas i n g u s kamunya, aku jijik. Iiiiyy," sambil kembali bergidik.


"Apa? Oiya, maaf aku lupa."


Freissya mengambilnya, wajahnya mulai bersahabat, namun cuping hidungnya masih merah.


"Itu sapu tangan dari kakakku, sangat spesial. Dia membelinya di luar negeri."


Freissya diam saja, ia tidak tertarik membahas sapu tangan, lebih tertarik untuk memperhatikan jalanan sekitar. Ia khawatir apotik yang dituju terlewat.


"Kamu usia berapa sih? Kenapa imut sekali?"


Gama melirik, yang dilirik diam saja.


"Ice?"


"Jangan panggil aku Ice. Nama panggilanku di rumah itu Eissya. Jadi kamu panggil Eissya saja."


"Namamu unik, boleh aku tahu cara penulisannya?"


"Tidak perlu, lagi pula untuk apa coba? Oiya, kamu bilang mau berteman? Aku menolak."


"Kenapa?"


"Aku merasa tidak pantas saja berteman dengan kamu, duniaku dan dunia kamu beda jauh. E i s s y a, Eissya. Nah, seperti itu ejaannya."


"Ada apa dengan duniaku? Aku merasa bisa-bisa saja," kata Gama.


Namun Freissya tidak menjawab.


Gama hanya bisa melirik, dan mencuri pandang. Untuk beberapa saat, keduanya hanya terdiam.


.


.


.


.


Itu apotiknya. Aku mau turun di sini, terima kasih tumpangannya."


"Oke, aku juga ikut turun."


Dan benar saja, Gama kembali menguntit sampai ke apotik.


"Kamu mengikutiku lagi? Oh, ya aku faham. Karena mobil kamu bagus aku bayar 20.000, dua kali lipat dari harga ongkos normal."


Freissya menyodorkan uang pada Gama.


"Hahaha, aku ikhlas." Gama menolak.


Freissya menghela napas, lalu masuk ke apotik tanpa mengatakan apapun.


Dan Freissya kaget karena Gama masih menunggunya.


"Aku antar kamu pulang, oke?"


"Tidak, terima kasih. Di sini banyak motor tumpangan, kamu pulang saja. Sekali lagi terima kasih," Freissya melengos, pergi.


"Eissya tunggu. Oke aku akan pulang, tapi jawab dulu, mau tidak kamu jadi temannku? Terus aku juga penasaran, kenapa kamu terlihat muda sekali? Pertama kali melihatmu, aku pikir kamu suster magang."


"Hmm, dasar bocah. Kenapa mau tahu sekali? Usiaku 20 tahun. Cukup? Permisi."


"Tunggu, k-kamu 20 tahun? Aku 19 tahun, berarti kita seumuran. Pantas saja kamu imut."


"Hahaha."


Freissya tertawa lepas, dan tawanya itu benar-benar membuat Gama enggan berpaling.


"Aku masuk sekolah dasar usia lima tahun, lulus sekolah menengah atas usia enam belas tahun, kuliah D3 tiga tahun, lulus langsung diterima kerja," jelasnya sambil berjalan menuju ke pangkalan motor.


"Hhm, aku masuk sekolah dasar usia tujuh tahun," sela Gama.


"Aku tidak bertanya, dan tidak mau tahu, jadi tidak perlu dijelaskan," sahut Freissya sambil melambaikan tangan pada salah satu pengemudi motor.


"Eissya, tunggu. Mau tidak jadi temanku?" tanyanya lagi saat Freissya sudah menaiki motor.


"Emm, tidak mau, bye bye," teriak Freissya saat motor itu melaju meninggalkan Gama yang melongo dengan rahang mengeras.


"Siaaal, kenapa sulit sekali sih? Dia bahkan tidak tertarik dengan namaku. Dia tidak bertanya namaku."


Gama menghela napas, lalu ada panggilan dari pak Yudha.


"Anda harus menginap di rumah sakit."


"Kenapa? Aku malas bertemu dengan kakak, lagi kesal. Katakan aku menolak."


"Pak Agam tidak ada, malam ini sampai dua hari ke depan, katanya tidak akan pulang, bahkan sudah mengajukan cuti kurja selama dua hari."


"Aneh sekali, mau kemana dia, Pak?"


"Saya juga tidak tahu," jawab Pak Yudha.


Panggilan berakhir.


___