AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Hikmah dan Berkah di Balik Musibah



Sore ini pusat kota diguyur hujan lebat. Beberapa ruas jalan tergenang air. Laju mobil melambat. Lampu jalan dinyalakan. Banyak pejalan kaki yang memilih berteduh di kafe atau bangunan lain yang sekiranya nyaman.


Begitupun dengan seorang gadis cantik yang saat ini sebagian rok dan bajunya sudah basah. Ia duduk di halte bus jalur khusus. Tangannya tampak terulur menikmati titik-titik air seraya tersenyum.


Di pangkuannya ada sebuah tas berbentuk kotak berwarna hitam. Manik gadis itu indah, hitam legam menawan. Namun ada yang berbeda darinya. Tatapannya seakan kabur dan nanar, hanya tertuju pada satu titik sembarang.


"Aku mendengar suaramu, wahai hujan. Suramu beragam, kadang membuatku ingin tidur, kadang jua membuatku tidak tenang. Hujan, aku hanya mengenal namamu, tapi ... aku tidak mengenal rupamu. Yang aku tahu, kamu basah seperti air. Wahai hujan, andai kamu bisa bicara, tolong katakan padaku seperti apa rupamu? Apa kamu berwarna?" gumamnya.


Oh, ternyata dia adalah seorang gadis tuna netra. Benar, di tangan kanannya ada tongkat kecil. Ia sedang berada di halte jalur khusus penyandang disabilitas.


Gadis itu duduk seorang diri, siapakah dia? Entahlah. Lalu dia bergumam lagi.


"Nenek, maaf ... harusnya aku mengikuti saranmu. Tadi, nenek sudah menyuruhku membawa payung. Hmm, kata nenek hari ini mendung. Eh, aku malah menjawab 'Mendung juga belum tentu hujan, Nek.' Wahai mendung, aku juga penasaran denganmu. Mendung seperti apa ya bentuknya?"


Lalu dari arah yang berlawanan seorang pria berpenampilan misterius turun dari bus dengan tergesa. Ia menutupi kepalanya yang memakai topi menggunakan hoodie. Di balik kaca mata hitam bola matanya berputar. Yakin, pria itu sedang mencari tempat untuk berteduh. Sama dengan gadis itu iapun tidak membawa payung.


Sejurus matanya menyadari jika di sebrang sana ada halte. Lalu berlari cepat menuju kesana, duduk berjarak di samping gadis itu sambil mengatur napasnya. Sepertinya, dari bentuk tubuhnya, pria itu pasti tampan dan gagah.


Lalu ia membuka hoodie yang menutupi kepalanya. Jelas sekali telinganya putih bersih dengan rambut warna hitam kebiruan yang tertata. Sepertinya baru saja dicukur. Ukiran pada anak rambut di ujung telinganya terlihat rapi dan indah dipandang mata.


Siapakah dia? Benar, dia adalah Mister X.


Awalnya Mister X tidak begitu peduli dengan keberadaan gadis itu. Tapi, gumaman gadis itu tentu saja terdengar olehnya.


"Wahai hujan, tolong cepat reda ya, kumohon. Nenekku pasti khawatir kalau aku pulang terlambat."


Cih, dia bilang wahai hujan, hahaha lucu sekali. Batin Mister X.


Matanya tetap fokus menatap hujan tanpa menoleh.


"Hujan, aku lapar. Eh, tunggu. Perasaan tadi masih ada sisa bekal dari nenek. Benar, aku makan lagi ah."


Anak nenek rupanya. Bawa bekal segala. Bocah. Batin Mister X.


Masih belum ada keinginan untuk menoleh. Di balik masker, bibirnya terangkat sedikit. Mungkin sedang mencibir gadis itu.


"Aduh, susah sekali, bagaimana ini," keluh gadis itu. Ia kesulitan membuka kotak bekal yang baru saja diambil dari tasnya.


"Hujan, apa kamu bisa membantuku? Tapi ... kata nenek hujan tidak punya tangan, kan?"


Hhh, berkata apasih gadis itu? Sangat aneh dan tidak jelas, dasar anak man ---.


--- Ja.


Deg, bersamaan dengan lirikannya.


Mata Mister X terkunci. Seolah melihat mutiara yang bersinar untuk pertama kalinya. Hingga ia tidak berkedip. Jantungnya berdegup kuat, hatinya berdesir.


Dia cantik, rambutnya melambai tersibak angin, memakai rok panjang dengan belahan samping sebatas lutut. Fokus Mister X segera berpindah pada jemari yang tengah sibuk membuka kotak makanan.


Deg, jantung Mister X kembali meronta kala ia menyadari gadis itu menatap hampa ke depan dengan tongkat tuna netra di sisinya. Seketika ia menyesal karena telah merutuki gadis itu.


Perlahan, Mister X bergeser, lalu berkata pelan dan menawarkan bantuan.


Namun sebelum berbicara, ia menekan lehernya. Seperti ada yang menyala di balik telinga Mister X.


Apa ya?


Mister X benar-benar misterius. Harusnya nama dia Mister M, alias Mister Misterius.


"Boleh aku bantu?" tanyanya.


Gila, yang keluar dari mulut Mister X bukan suara pria, tapi suara wanita dewasa.


"Eh, a-ada orang?" Gadis itu terkaget.


"Ya, ada aku."


"Maaf ya Bu, aku tidak tahu kalau ada Ibu di sampingku. Salam kenal," ujar gadis itu sambil menundukkan kepala dan mengulurkan tangan ke arah yang salah.


Dia sangat sopan. Mister X terpana.


"Tidak apa-apa."


Mister X tidak menerima uluran tangan gadis itu karena gugup dan khawatir identitasnya diketahui. Walapun tangannya lembut karena hanya bekerja di depan layar, tapi kan lebar. Gadis itu pasti akan merasa aneh, pikirnya.


Ia mengambil kotak bekal milik gadis itu dan membukanya. Ada wortel rebus, ketang dan pisang rebus di dalamnya.


"Ini, sudah aku bukakan, makanlah," kata Mister X.


"Terima kasih Bu. Emm ...." Gadis itu sedikit mengendus.


"Kenapa?" tanya Mister X, matanya fokus pada wajah gadis itu yang menurutnya sangat cantik.


"Parfum milik Ibu wanginya unik, tidak seperti wangi parfum yang biasa diberikan oleh nenek untukku."


Tentu saja beda, ini parfum pria.


"Maaf ya Bu, aku makan sendirian. Lagipula, Ibu tidak mungkin mau memakan makanan sisaku."


Gadis itu mulai menusuk potongan kentang rebus dengan sendok garbu dan memakannya setelah bibirnya berkomat-kamit membaca doa.


Mister X terus menatapnya. Ada apa ini? Ia memegang dada kirinya. Gadis itu benar-benar mampu mendebarkan jantungnya. Melihat gadis ini, muncul ketenangan di hatinya.


Kenapa?


Karena di hadapan gadis ini, ia tidak perlu bersusah payah menyembunyikan identitasnya. Bahkan, ia bisa leluasa menikmati kecantikannya tanpa dibantah.


"Bu, Bu, apa Ibu sudah pergi?" Gadis itu merabakan tangan ke sisinya. Mister X bergeser. Ia belum siap tubuhnya tersentuh.


"Aku masih di sini, setelah hujan reda baru mau pergi."


"Kenapa tidak pesan taksi saja?" Gadis itu bertanya lagi.


"Kamu juga, kenapa tidak pesan taksi saja?"


"Hehehe, rumah nenekku dekat, Bu. Hanya dua kilometer dari halte ini. Dari sini sampai rumah nenek sudah ada jalur khususnya. Setiap hari aku selalu berjalan kaki," jawabnya sambil melemparkan senyuman, lagi-lagi ke arah yang salah.


"Kamu pemberani, harusnya kamu didampingi, bagaimana kalau ada yang menjahatimu?"


"Emm, sebenarnya aku juga takut, sih Bu. Tapi, aku yakin Tuhanku jika selalu menjagaku. Saat aku kesulitan, Tuhan pasti menolongku. Terbukti, kan? Tadi, saat aku sulit membuka kotak makanan, Ibu membantuku."


"Walaupun aku terlahir istimewa, aku harus tetap produktif. Aku ingin membanggakan dan membahagiakan nenek."


"Kamu bekerja?"


"Ya."


"Di ---?"


Mister X penasaran.


"Di toko bunga," jawabnya.


"Apa yang kamu kerjakan?" Semakin penasaran, hatinya yang bertahun-tahun membeku mendadak hangat.


"Aku hanya berdiri di depan toko bunga, terus berteriak menawarkan bunga. Kata bosku, aku sering berteriak menawarkan, padahal tidak ada yang melintas, hehehe, hanya itu yang aku bisa," jelasnya.


"Kamu hebat," puji Mister X.


Dan cantik. Lanjutnya dalam hati.


"Hujannya sudah reda. Bu, aku permisi ya, terima kasih telah membantuku." Gadis itu beranjak, mengarahkan tongkatnya.


"Baiklah hati-hati," kata Mister X. Iapun beranjak.


"Sampai jumpa, Bu."


Gadis itu melambaikan tangan ke arah yang salah tentunya.


Dan tanpa sepengetahuan gadis itu, Mister X mengikutinya dari jarak sekitar lima meter.


Hujan adalah berkah, semoga ... kamu juga adalah berkah yang diturunkan Tuhan untukku.


Sepenggal kisah tentang si misterius, Mister X. Semoga mengobati rasa kepenasaranan.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Dengan itikad baik dan tanpa tekanan dari pihak manapun, saya resmi mengundurkan dari dari jabatan saya sebagai Dirut HGC. Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah mengecewakan banyak pihak."


"Saya dan LB telah menikah, ya itu fakta. Kasus ini murni kesalahan saya. Tolong jangan menyalahkan dan menyudutkan istri saya lagi. Dia telah lama menderita akibat gunjingan kalian."


"Dia wanita baik, apa yang dituduhkan padanya adalah fitnah. Dia tidak pernah menjual dirinya pada siapapun. Dia tidak menggoda saya, justru sayalah yang tergoda."


"Saya adalah saksi kunci bagaimana LB tidak pernah tidur dengan siapapun. Dia ... dia masih suci saat saya menodainya."


Itulah adalah salah satu kalimat yang dilontarkan Agam saat preskon. Lima jam yang lalu Agam telah melakukan preskon di lobi tower utama gedung pencakar langit Haiden Group Corporation.


Setelah itu, Agam menghadap bagian etik kepegawaian, lalu melanjutkan agenda menemui jajaran dewan direksi dan komisaris untuk mempertanggungjawabkan kelalaiannya. Agam sudah pasrah, apapun yang terjadi ia akan menerimanya dengan ikhlas.


Seluruh jajaran direksi dan komisaris telah duduk di kursi mereka. Sedang menantikan dalang utama yang telah berhasil menurunkan saham HGC dalam tenggang waktu 1 jam setelah berita skandalnya beredar.


Namun dewan direksi dan komisaris juga tahu jika istri dari dalang pembuat onar itu justru mampu merangkakakkan kembali saham HGC di pasar saham hanya dalam waktu lima belas menit setelah LB melakukan live streaming.


Ini gila, suami-istri itu benar-benar toksik. Mereka tidak menyangka jika pengaruh Agam Ben Buana dan LB akan sebesar itu.


"Jangan tundukkan kepalamu saat memasuki ruang rapat, tetap seperti kamu yang dulu. Mereka bisa jadi lebih munafik dari kamu, aku dan ayah bersamamu, ada di pihakmu, maaf jika beberapa waktu yang lalu kita pernah salah faham." Pesan dari tuan Deanka.


Agam membacanya sebelum memasuki ruang rapat.


"Pak Agam, LB pingsan, tapi tekanan darahnya masih tergolong normal. Maaf baru bisa mengabari Anda."


DEG, pesan dari dokter Rita seakan menghempaskan tubuhnya ke dasar bumi.


Kenapa kamu, sayang?


Batinnya menjerit. Ditambah dengan perasaan menyesal karena telah berkata kasar pada Linda.


Sementara Vano sibuk mengikatkan tali sepatu milik Agam. Pasca menelepon Linda dan menyadari kesalahannya, Agam berubah seperti linglung. Beberapa kali ia memohon pada Vano untuk kembali ke Pulau Jauh dan lepas tangan dari kasusnya.


Namun Vano terus mengingatkannya lagi dan lagi.


"Mana integritas yang sering Anda gembor-gemborkan pada saya? Anda sendiri yang mengatakan jika kepentingan publik itu harus lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi dan golomgan, mana buktinya?"


Seperti itulah kalimat motivasi Vano untuk Agam.


"Vano, bagaimana kalau Linda tidak memaafkan saya?"


"Vano, bagaimana kalau dugaanku benar, dan Linda tidak mau aku sentuh? Oh tidaaak, Vano, saya bisa gila."


"Vano, kalau Linda tidak memaafkan, saya mati saja kali ya? Bagaimana ini, Van?"


"Vano, saya menyesal".


"Vano." Bla, bla, bla.


"Vano." Bla, bla, bla.


"Vano." Bla, bla, bla.


Rengekan Agam terngiang dan memenuhi kepala Vano.


"Pak Agam, coba Anda berwudhu dulu. Kita telah terlambat 7 menit," kata Vano.


"Ya Pak, seluruh dewan direksi dan jajaran komisaris sudah berkumpul," ucap sektertaris baru HGC. Di name tagnya tertulis nama Aulia Airellia.


Benar kata Vano, Aulia memang cantik. Sedari tadi, Aulia sering mencuri pandang pada Agam, namun yang dipandang sama sekali tidak mengindahkan.


"Baik, Vano. Saya wudhu dulu ya, tunggu." Agam pergi.


"Jaga sikap kamu, saya tahu Anda curi-curi pandang pada pak Agam. Tolong hormati beliau. Kamu dan LB tidak bisa dibandingkan," ancam Vano pada Aulia saat Agam tidak berada di tempat.


"Maaf Pak Vano, saya hanya kagum, sama sekali tidak ada niat lain. Jangan salah sangka, atau saya akan melaporkan Anda atas perbuatan tidak menyenangkan dan fitnah."


"Anda pengacara, kan? Harusnya Anda lebih faham dari saya," tegas Aulia.


"Ck ck ck, pantas saja kamu terpilih, bicaramu lumayan juga," kata Vano.


"Saya tidak butuh pujian Anda," ketus Aulia.


"Hei, siapa yang memuji kamu? KePD-an kamu."


"Ya, saya memang selalu percaya diri. Karena apa? Karena saya mampu," timpalnya lagi.


"Ya Tuhan, Auliaaa, cerewet sekali kamu, sudah cukup! Diam, saya tidak akan berbicara lagi." Vano mengatupkan bibir, berbicara dengan Aulia membuatnya naik darah.


"Saya wanita, kalaupun cerewet ya wajar, masih bisa dimaklumi. Yang tidak wajar itu laki-laki tapi cerewet." Aulia masih mengoceh sambil merapikan berkas yang akan dibawa Agam.


Huuhh, kurang asem sekretaris ini, awas kamu ya, berani macam-macam, aku cium kamu, Aulia. Ehh, kok cium sih?


"Hahaha," Vano tertawa. Merasa lucu dengan umpatan batinnya.


"Anda mentertawakan, saya?" Aulia cemberut.


Untungnya Agam segera tiba.


"Ayo," ajak Agam. Berjalan cepat melewati Vano dan Aulia.


"Baik, Pak." Vano dan Aulia membungkukkan badan.


Mujarab, setelah berwudhu, Agam merasa lebih tenang.


.


.


.


.


Tibalah orang yang sangat dinantikan itu di ruang rapat, Agam menegakkan tubuh gagahnya mengikuti saran tuan Deanka. Seolah tidak ada beban, ia melangkah dengan percaya diri.


Seluruh dewan direksi dan komisaris menatap padanya. Seluruh mata tertuju. Agam laksana bintang panggung.


Lalu ia melemparkan senyum dan memberikan hormat dengan menundukkan tubuh ke arah forum. Kembali berjalan menuju kursinya sambil sesekali membungkuk dan membungkuk.


Di kursi bagian depan, tuan Deanka mengangkat jempol. Tidak cukup sampai di situ, tuan Deanka juga mengedipkan matanya.


Dasar maniak, kenapa harus kedip mata segala? Rutuk Agam saat ia sudah duduk di kursinya.


Rapat luar biasa akan segera dimulai, tersangka utama sudah hadir. Agam merasa jika dirinya adalah pesakitan. Sejenak, batinnya merasa risau dan sedih.


Apakah ia akan dimaafkan?


Agam sendiri tidak tahu.


"Semangat, Pak. Anggap saja sebagai gladi resik untuk menghadapi sidang yang sesungguhnya. Pemanasan sidang etik BRN."


Pesan dari Vano membuat Agam tersenyum.


Kamu pasti bisa Agam, kamu sudah berandil banyak untuk HGC. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Ingat, ada seorang putra dan istri cantik yang menantimu.


Agam memotivasi dirinya sendiri saat staf dewan direksi memberitahukan jika rapat luar biasa ini akan segera dimulai.


Setelah rapat usai, ia akan terbang kembali ke Pulau Jauh untuk menemui Linda dan putranya. Wajah cantik Linda dan sang putra tiba-tiba menari di pelupuk matanya.


Agam memejamkan mata sejenak dan berdoa khidmat saat pemandu acara mempersilahkannya untuk bicara di depan forum.


Ia maju ke depan tanpa teks. Semua hal yang akan diutarakan telah terkonsep di luar kepala.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Ice, aku berjanji tidak akan menikah dengan siapapun sebelum melihat kamu menikah dan bahagia dengan suami kamu," kata Gama.


Ia dan Freissya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Gama telah mengembalikan mobil Gifka. Saat ini ia menggunakan mobil miliknya yang telah disiapkan oleh pengacara Vano dan dibawa ke villa.


"Bukan urusanku," jawab Freissya.


Gadis itu baru selesai meminum obat peluluh agar tidak hamil. Rasanya ternyata sangat mual. Untuk berbicara saja ia malas. Tapi Gama terus mengajaknya mengobrol.


"Ice, aku serius," timpal Gama.


"Lupakan semuanya, Val. Kamu sudah janjikan jika setelah ini kita tidak akan bertemu lagi?" ucap Freissya.


"Ice, mana mungkin aku bisa melupakan kamu. Setelah melewati kejadian itu, aku justru semakin sulit melupakanmu."


"Cukup, Val. Sudaah kutegaskan, aku dan kamu tidak mugkin bersama."


"Ice, apa kamu melupakan begitu saja apa yang telah kita lewati? Apa kamu tidak ada perasaan sedikitpun?"


"Val, cukup. Apa yang kita lakukan kerena pengaruh obat, aku lupa," sanggahnya.


"Apa kamu lupa dengan sensasinya?"


Gama benar-benar menjengkelkan. Andai bisa, Freissya ingin menjejali mulut Gama dengan pasir dan kepiting kecil-kecil.


Akhirnya, Freissya memilih diam, dia yang lebih tua dua bulan harus mengalah pikirnya.


"Ice, bagaimana dong? Aku tidak bisa lupa, rasanya seperti aku menjadi ... iron men, luar biasa. Ya, kan?" ocehnya lagi.


"Bicaralah sesukamu," tandas Freissya.


"Apa? Kamu suka?"


"Aaaaa," Freissya berteriak putus asa.


"Maaf Ice, maaf. Aku janji tidak akan membahasnya lagi. Tapi ... aku tipe orang yang mudah ingat dan sulit lupa. Rumus yang sulit dan rumit saja aku bisa cepat hafal sulit lupa. Apalagi rumus yang enak Ice."


"Diaaam!"


Karena tidak tahan, Freissya memukul keras bahu Gama hingga kemudipun oleng dan keluar dari landasan. Gama terkejut, ia lepas kendali. Segera banting setir ke kiri namun mobilnya tidak bisa dikendalikan.


"Aaaa," teriak Gama dan Freisnya saat mobil yang mereka tumpangi meluncur ke danau melompati pembatas.


Bibir mereka sibuk memuji dan mengagungkan Yang Maha Esa saat mobil sudah mendarat. Beruntung mobil itu hanya nyungsep miring di sisi danau yang tampak berlumpur.


"Aaaa," Freisya berteriak lagi.


"I-Ice mobilnya sudah berhenti," suara Gama terdengar begitu dekat.


Freissya kaget, ternyata ia menindih Gama.


"Jangan cari kesempatan ya!" sentaknya.


"Hei, ini salah kamu, siapa tadi yang tidak mau pakai sabuk pengaman?" Gama tersenyum, posisi Freissya yang menindihnya seperti dejavu.


Freissya mati kutu, ia sadar ini salahnya. Mencoba untuk bangun tapi kesulitan.


"Sa-sabar Ice, posisi mobil kita miring 90 derajat. Jika salah bergerak, bahaya. Kepalaku juga menukik, ini sakit. Dan ingat ya, kamu yang menindihku, bukan aku. Kita jatuh gara-gara kamu."


"Kenapa aku yang disalahkan? Aku memukulmu karena kalimatmu tidak di filter."


"Hei, yang mengajari rumus enak itu kamu, kan? Aku berkata jujur, Ice."


"Diaaam!"


Freissya memukul bibir Gama. Gerakan Freissya membuat Gama bergerak.


Dan ....


"Aaaa," mereka spontan berpelukan saat mobil yang miring itu kini berbalik 180 derajat.


Selalu ada berkah dan hikmah di setiap musibah. Setidaknya, Gama bisa memeluk kembali tubuh Freissya dan mendengar lagi irama jantung mereka yang bersahutan.


Freissya terpaku menatap wajah Gama yang berada di bawahnya.


"Aku tidak akan melupakanmu, Ice. Sampai kapanpun," kata Gama sambil membalas tatapan Freissya.