AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
ALGF MSYS



Sea tengah menghadapi situasi yang membuat dirinya khawatir karena kehormatan dan kehidupannya sedang terancam. Selama hidupnya, ia belum pernah merasakan ketakutan seperti ketakutan di malam ini. Hingga bibirnya terus membaca doa-doa sambil menatap jalanan yang dilintasi kendaran.


Sea sangat ketakutan. Lalu ia berpikir jika sebagian orang mungkin saja membolehkan bunuh diri ketika kebutuhan sangat mendesak seperti dirinya saat ini. Ia adalah wanita yang hampir diperkosa.


Jika Sea boleh memilih, ia merasa lebih baik membunuh dirinya sendiri daripada kehilangan kehormatannya.


"Ya Rabb, apa aku boleh meloncat ke sana? Apa perbuatanku termasuk bunuh diri yang merupakan dosa besar?" gumamnya. Air mata gadis itu terus menetes. Kaki pucatnya nyaris berada di ujung genting.


Angin malam membelai gaun Sea, membuatnya kian kedinginan. Ia memeluk tubuhnya, lalu menengadah ke langit menatap bintang-bintang.


"Lebih baik aku mati saja, ya ... mungkin tidak apa-apa kalau aku mati. Tapi ... bagaimana dengan neraka itu?" Sea dilema.


Sea tahu jika membunuh dirinya sendiri, maka akan termasuk dosa besar. Siapapun itu, tetap tidak boleh melakukannya. Tak peduli bagaimanapun kejamnya fakor yang mendorongnya untuk bunuh diri, seberat atau sesulit apapun situasinya. Tetap tidak boleh bunuh diri. Titik.


"Huuu, tolooong," teriak gadis itu.


Karena terancam diperkosa, Sea tahu jika dirinya wajib untuk mempertahankan diri dari perbuatan dosa tersebut. Walaupun ia harus melakukan perbuatan yang mengarah pada pembunuhan si pelaku kejahatan.


Sea megedarkan pandangan, ia tengah mencari benda yang bisa digunakan sebagai senjata. Tapi, nihil.


Dan Sea juga tahu jikapun Yang Maha Esa menakdirkannya benar-benar diperkosa, maka ia bukanlah seorang pezina, ataupun pendosa.


Jika itu terjadi, Sea hanya perlu bersabar atas ketetapan yang telah ditakdirkan Tuhan kepadanya. Seperti halnya ia bersabar atas tindak pemerkosaan dan kekerasan yang telah dilakukan oleh Yohan Nevan Haiden.


"Tuan Yohan ... seharusnya aku tidak pergi dari sisi Anda."


Tiba-tiba Sea mengingat Yohan, bersamaan dengan itu, kaki Sea terpeleset. Sea terkejut, ia spontan beteriak dan berusaha meraih ujung genteng. Sea jelas tidak ingin jatuh begitu saja dan berumur pendek.


'Srak srak.' Kuku-kuku Sea bergesekan dengan permukaan genting.


"Aaah," rintih Sea. Ia kesakitan.


"Turun kamu j a l a n g kecil! Turun!"


Dari bawah sana sayup terdengar teriakan. Sea melirik pelan ke bawah. Saat ini posisinya masih bergelayutan memeluk ujung genteng. Sea gemetar, di bawah sana ada dua buah sepeda motor yang di atasnya terdapat dua orang pria jahat. Sea mengenalnya. Mereka adalah anak buah bu warung. Jumlah mereka ada empat orang.


"Hahaha, lihat itu! Terlihat indah."


Pria jahat itu menunjuk pada bagian tubuh Sea yang memang terlihat jelas karena busananya minimalis. Sea berusaha sekuat tenaga untuk kembali naik ke atap. Namun gadis itu kesulitan.


Lalu dia, ya dia. Si pria berkulit sangat putih itu terlihat mengernyitkan dahinya. Yohan menepikan kemudi sambil menatap keanehan di hadapannya.


Para pekerja di warung itu ternyata sedang melihat pertunjukkan ayam. Batin Yohan.


Ya, Yohan yakin jika salah satu ayam pemilik warung remang-remang itu memang sengaja kabur.


"Gadis pemberani," gumam Yohan, ia tidak mengenali Sea karena jaraknya lumayan jauh, ditambah dengan kurangnya penerangan.


Yohan juga melihat saat satu tangan gadis itu terlepas. Perlahan Yohan melajukan kemudi untuk mendekati area itu. Ia berharap agar pertunjukkan kecil ini akan sedikit menghiburnya.


"Kita biarkan saja, lama-lama dia juga akan lemas dan jatuh. Nah, saat dia jatuh kita tangkap," kata salah satu pria.


Karena penasaran, Yohan membuka kaca mobil, bersamaan dengan jatuhnya tubuh Sea yang segera ditangkap oleh dua orang pria.


"Kena kau! Hahaha!"


Mereka tentu saja kegirangan karena berhasil mendapatkan Sea. Gadis itu kemudian didekap sambil dibekap mulutnya agar tidak beteriak. Posisi Sea membelakangi Yohan.


"Anda belum pulang, Tuan?" tanya salah seorang kawanan itu.


"Belum, aku mau lihat-lihat dulu. Eh, ada pertunjukkan kecil rupanya." Sambil turun dari mobil, lalu menyandarkan tubuhnya di badan mobil.


Suara itu, kenapa mirip sekali dengan suara Tuan Yohan. Batin Sea.


"Mmm!" Sea beteriak. Ia yakin jika itu Yohan. Namun sayang suaranya tercekal.


Tuan Yohan, please kenali aku. Ini aku, aku Sea.


Sea berpikir mungkin karena bajunya yang terlalu seksi, dan riasan mencolok ini membuat Yohan tidak mengenalinya.


"Ya, ini ayam baru, Tuan. Belum diapa-apakan malah kabur." Sambil menjambak rambut Sea dan menengadahkan kepala gadis itu ke udara.


"Tuan!"


Satu teriakan lolos dari bibir Sea saat bekapan dari mulutnya terlepas. Namun kembali bungkam karena pria jahat itu membekapnya lagi.


"Tunggu! Boleh aku lihat gadis itu!"


"Tidak, Tuan. Ini areanya di luar warung, gadis ini milik kami." Jepitan rambut Sea terlepas, dan rambut itu menghalangi wajah Sea.


Yohan mengernyitkan dahinya. Apa ia terlalu merindukan Sea hingga suara tadi identik dengan suara Sea? Lalu kenapa dari tadi jantungnya bedebar dan gundah gulana?


Sea pasrah, sekarang ia yakin jika pria di sampinya adalah Yohan, dari balik rambutnya, Sea bisa melihat Yohan dengan jelas. Air mata Sea kembali meleleh. Ada rasa sedih karena Yohan tidak mengenalinya.


"Naik!" teriak salah satu dari mereka. Sea ditarik paksa naik ke atas motor.


Lalu salah satu lampu motor yang menghadap ke tubuh Sea menyala. Tubuh seksi Sea tersinari dengan jelas. Yohan membelalak. Kunci mobil yang dipegangnya sampai terjatuh.


"Se-Sea?!" Spontan Yohan berhambur dan menarik tangan Sea.


"Tuan mengenalnya?" Mereka keheranan.


'Bugh.'


Dijawab oleh tonjokkan kuat hingga tubuh yang bertanya terjungkal.


"Tuan! Temanku bertanya baik-baik!"


'Bugh.' Lagi, dijawab oleh tendangan.


"Tuan! Anda jangan k u r a n g a j a r ya!" Dua orang menyerang Yohan. Mereka tidak terima temannya diperlakukan kasar.


"Tu-Tuan, huuu ... jangan melawan mereka!" Sea mematung dan ketakutan.


"Kalian yang k u r a n g a j a r! Beraninya memperalat wanitaku!" teriak Yohan.


Amarah Yohan tak terbendung. Yohan terkenal pemarah dan emosional. Tidak diganggu saja seorang Yohan Nevan Haiden sulit dikendalikan. Apalagi saat ini, ia yang merasa dihinakan benar-benar sangat marah.


"Seraaang!" teriak komplotan itu.


"Maju kalian!" sungut Yohan, dan tangannya menelusur ke balik pinggangnya.


Komplotan bu warung rupanya tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa. Sea berjongkok, tubuhnya gemetar. Matanya sengaja dipejamkan agar tidak melihat perkelahian itu.


'DOR.'


'DOR.'


'DOR.'


'DOR.'


Suara berondongan peluru membuat Sea menjerit di dalam batinnya.


Apa yang terjadi?


Ternyata, Yohan yang emosi jiwa tidak bisa mentolelir hal apapun. Yohan menembak kaki empat orang pegawai warung itu dengan garangnya dan tanpa basa-basi.


"Aaaa!"


"Uuuh!"


Pekikan kesakitan menggema. Mereka bahkan tak percaya dengan kenyataan ini. Namun darah segar dan rasa sakit yang tiada terkira membuat mereka sadar jika ini bukanlah mimpi.


"Rasakan kalian! Dasar k e p a r a t!"


Yohan menyembunyikan kembali pistolnya. Segera menghampiri Sea dengan perasaan bahagia tiada terkira. Sementara Gadis yang ia sebut dengan percaya dirinya sebagai 'wanitaku' masih berjongkok ketakutan.


"Sea ...."


Yohan mendekat sambil membuka kemejanya untuk menutupi tubuh Sea. Memakaikan baju itu, memegang bahu Sea dan membimbingnya perlahan agar gadis itu berdiri.


"Huhuuu," Sea masih enggan membuka mata. Gadis itu trauma.


"Sea, ini aku. Kenapa kamu kabur, hahh? Apa kehidupan malam seperti ini yang kamu inginkan?" Yohan menangkup pipi gadis itu.


Sea membuka matanya perlahan. Dan ....


"Tu-Tuan Yohan."


Gadis itu berhambur sendiri ke pelukan Yohan dan menangis histeris. Yohan terkejut. Baru kali ini ada gadis yang suka rela datang ke pelukannya. Ya, sejauh ini yang boleh memeluknya hanya wanita terpilih yang tentu saja sudah dibayar.


"Se-Sea, a-aku terharu kamu memelukku."


Karena grogi Yohan sampai tak membalas memeluk Sea. Tubuh Yohan kaku, namun matanya berkaca-kaca. Hatinya berbunga-bunga karena bisa menemukan gadis itu.


"Tu-Tuan ...." Lirih Sea, tubuhnya mendadak terkulai.


"Sea!"


Yohan terhenyak. Ia meraih tubuh Sea dan memeluknya. Gadis itu rupanya shock hingga pingsan.


"Semua ini gara-gara kalian!" teriak Yohan pada para pria terkapar yang saat ini masih mengerang kesakitan. Lalu bergegas membawa Sea ke dalam mobilnya.


"Ada warung remang-remang ilegal, mereka menjual ayam! Alamatnya di Jalan Pinggiran!" seru Yohan. Ia menelepon seseorang. Kemudian tancap sambil tersenyum, gadis pujaannya telah ditemukan. Yohan kembali bersemangat untuk melanjutkan hidupnya.


...❤...


...❤...


...❤...


"Val, ka-kamu?"


Setelah melakukan perbuatan tidak senonoh itu, Freissya mengusap bibirnya. Sungguh, tadi itu sangat memalukan. Pipi gadis itu merah merona. Ia sadar ini sebuah pelanggaran.


Freissya telah siap dipecat setelah melakukan kemesuman itu. Ia akan fokus menjual ayam kampung dan pupuk kompos jika benar-benar didepak dari rumah sakit ini.


Freissya tidak tahu jika saat kejadian itu monitor pengawas mendadak mati. Ia menatap pasien mesum yang saat ini tengah terlelap di pangkuannya. Tadi, ketika Freissya batuk-batuk, Gama melepaskan Freissya dan dan kembali tidur seolah tidak terjadi apa-apa.


"Val? Bangun Val, apa kamu tidak amnesia?" tanya Freissya sambil membuka paksa mata Gama dengan cari menekan kelopak matanya.


Berhasil, Gama membuka mata. Namun bola matanya belum berubah. Masih sama dengan keadaan sebelumnya. Tatapan Gama bak robot.


"Val, aku akan dipecat. Aku tidak bisa menemani kamu lagi. Tadi, aku hanya berniat mengecup hidung kamu. Kenapa kamu malah. melakukan itu?" tuduh Freissya. Lalu meletakan kepala Gama di bantal saat mendengar seseorang akan memasuki kamar tersebut.


"Kak, ma-maaf, a-aku salah."


Saat kakak senior datang, Freissya segera meminta maaf. Ia menunduk sambil memainkan jemarinya.


"Lho, kamu kenapa? Sakit?" Kakak senior mengernyitkan alis sembari memegang kening Freissya. Freissya kebingungan.


"Kakak tidak lihat apapun di monitor pengawas?"


"Lihat apa sih, Frei? Oh, ya tadi monitor pengawas memang sempat mati, tapikan bukan kesalahan kamu, tidak perlu meminta maaf, lagipula sekarang sudah menyala lagi," jelas kakak senior.


Freissya melongo. Ia bersyukur kegiatan tadi tidak dilihat siapapun. Namun sedikit heran karena monitor itu diduga mati saat ia dan Gama tengah berbagi rasa. Tolong jangan ditiru. Perbuatan Gama dan Freissya sungguh tak patut.


"Sudah ah, kamu kok aneh sih? Sekarang ayo bantu Kakak membereskan peralatan. Kita mau memindahkan Tuan Gama ke ruang perawatan biasa."


"Di-dipindahkan sekarang?"


"Oh, ba-baiklah, Kak."


"Eh, tunggu. Frei, lihat deh, kok bibir Tuan Gama merah sih?"


"A-apa?" Freissya gelagapan. Lipgloss merahnya membekas di bibir Gama.


"Emm, Kak ... a-anu Kak a-aku ...."


"Hehehe, tenang saja Frei, Kakak tahu kok kalau kamu pacarnya Tuan Gama. Jadi yang mematikan monitor pengawas itu, kamu kan?"


"A-apa? Bu-bukan, Kak. Bukan aku, terus kenapa Kakak mengatakan dia pacarku? Ka-kami tidak pacaran Kak, yang merah di bibirnya sisa-sisa obat cair," sangkal Freissya.


"Hehehe, kami semua tahu kalau kalian pacaran dari pak Agam."


"Apa?!" Freissya kembali terkejut untuk yang kesekian kalinya.


...❤...


...❤...


...❤...


"Kabar di pagi buta. Ketua Badan Rahasia Negara dikabarkan telah ditangkap oleh tim intelijen pusat karena dugaan penyalahgunakan wewenang dan manipulasi jabatan. Ketua BRN juga diduga telah melakukan penculikan yang disertai kekerasan pada putra mantan anggota BRN."


"Hingga berita ini diliris belum ada keterangan lebih lanjut atas peristiwa penangkapan tak biasa ini. Menurut juru bicara kepresidenan, kasus ini akan dilimpahkan ke pengadilan internasional."


Terdengar suara pewarta sedang membaca berita. Ya, suara itu berasal dari sebuah televisi yang berada di kamar mewah sebuah hotel. Di kamar itu tengah terlelap seorang artis konstroversial berinisial LB.


Sementara di samping LB, jelas ada sang suami. Agam tengah menyimak berita tersebut sambil senyum-senyum. Namun tangannya tak henti mengelus punggung LB yang terekspos nyata.


Setelah acara berita selesai, Agam masuk ke dalam selimut. Tubuh Linda yang masih polos membuat Pak Dirut kembali tergugah dan berhasrat.


"Sayang," sapanya.


"Keivel aman, seorang anggota anonymous menjaganya," bisik Agam .


"Ya, hmm," gumam Linda.


"Sayang ...."


"Hmm," Linda menjawab malas. Lebih tepatnya bukan malas sih, tapi ... lelah.


"Sayang ... saya mau lagi, ayo layani saya," ajak Agam.


"Apa .... Ma-mau apa?" Linda terpaksa membuka matanya.


"Mau bercinta lagi sayang," ratapnya sambil mendekap Linda.


"Hahh? Sejam yang lalu kan sudah, Pak. A-aku lelah," keluh Linda.


"Ssstt, tidak boleh menolak, kamu mau dapat pahala, kan?"


"Ma-mau sih, ta-tapi tidak harus dengan cara itu, kan?"


"Sayang please ... saya terlalu bahagia karena pak ketua ditangkap. Emm, hormon di bagian itu meningkat. Ayo sayang, atau mau saya bayar saja?"


"Dibayar?" Linda tersenyum.


"Ya, saya serius. Saya rela membayar setiap kesakitan dan kelelahan kamu." Mulai mencumbu Linda, yang dicumbu tersenyum.


"Ayo sebutkan, berapa tarifmu, cantik? Ohh, indahnya ...."


"Se-serius?" Linda memastikan lagi.


"Berius-rius, my sexy wife." Kata Pak Dirut sambil membenamkan kepala di area kegemaran. Menghidu, meraih, mencicipi, dan me-me lainnya.


"Emmh, cu-cukup du-dua puluh lima juta saja, Pak ...," kata Linda seraya memejamkan mata. Walaupun awalnya enggan, namun perlakuan Pak Dirut membuat tubuhnya terlena jua.


"Dua puluh lima juta? Yakin? Murah sekali sayang, untuk sensasi seluar biasa itu, saya rasa belum setimpal," kata Agam.


"Maksudku ... dua puluh lima juta perdetik, Pak."


"A-apa?!" Sejenak Pak Dirut menghentikan aksinya. Menatap Linda sambil mengerjapkan mata.


"Keberatan?" tanya Linda sembari mengalungkan tangan di leher Agam.


"Tidak dong, saya setuju sayang, siapa takut?" kata Agam. Lalu menjerat Linda dengan sesuatu yang beraroma mint.


Sepuluh menit kemudian ....


Saat Pak Dirut sedang gencar-gencarnya. Saat Linda tengah beteriak-teriak dan meracau. Saat tempat tidur sedikit terguncang-guncang akibat gempa lokal tanpa scala richter tiba-tiba ....


'Tok, tok, tok.' Pintu kamar hotel diketuk.


"Pak Agam, saya Vano. Ada sesuatu yang gawat dan mendesak. Pak," teriak Vano.


'Tok, tok, tok.' Vano kembali menggedor pintu.


"Pak Agam, cepat buka pintunya, Pak!"


"Va-Vano! Aaargh!" dengus Agam.


Wajah Pak Dirut memerah karena marah dan putus asa. Sementara Linda inisiatif mengatupkan bibirnya, ia menahan tawa, tapi juga sedikit kesal pada Vano.


Ada masalah apa hingga pengacara Vano sepanik itu? Masih menjadi misteri.


...❤...


...❤...


...❤...


"Exim, apa kamu yakin kita harus menjaga bayi ini?"


Senja membelalak. Walaupun tidak melihat, ia yakin jika sosok kecil yang ada di pangkuannya saat ini adalah bayi sungguhan.


"Senja, sudah kubilang namaku Example, panggil saja Exam! Kenapa kamu memanggilku Exim, hahh?! Exim itu penyakit kulit! Kamu tahu, kan?!" Mister X kesal, ia tak terima dipanggil Exim.


"Jawab dulu pertanyaanku, botak! Ini bayi siapa? Anak siapa? Apa ini anak hasil hubungan gelap antara kamu dan wanita malam?!" Senja masih tak habis pikir karena Mister X tiba-tiba membawa bayi ke rumah ini.


"Dengar ya jelek! Ini bayi istimewa, aku dibayar satu miliar untuk menjaga bayi ini selama 2 x 24 jam."


"APA?! Serius? Aku tak percaya!"


"Aku serius, apa kamu mau melihat dunia? Rencananya, aku akan menggunakan uang imbalannya untuk mengoperasi mata kamu."


"A-apa? Botak, apa kamu se-serius?" Senja tek percaya.


"Serius," tegas Mister X.


"Hahahah." Senja malah terpingkal-pingkal.


"Kenapa kamu tertawa?"


"Ya lucu saja, aku tahu kok kalau ini hanya lelucon kamu."


"Tapi Senja, aku serius," sambil memegang tangan Senja.


"Exim, eh maksudku Exam, kalaupun kamu serius ingin melakukan operasi padaku, emm ... maaf, aku tidak bisa menerimanya."


"Lho, kenapa?" tanya Mister X.


"Aku takut Exam."


"Apa yang kamu takutkan?"


"Dengan bisa melihat, aku takut menjadi pribadi yang lebih buruk karena menggunakan mataku untuk melihat hal-hal yang tidak layak ataupun diharamkan agama. Aku ikhlas dengan keadaan ini. Aku bersyukur karena aku buta."


"Harapanku, di akhirat kelak mataku bisa bersaksi dan menjadi penggugur dosa-dosaku," kata Senja. Matanya berkaca-kaca.


"A-apa? Se-Senja, hatimu mulia sekali. Hatimu secantik wajahmu," puji Mister X.


"Wajahku cantik?"


"Ya Senja, wajahmu cantik, badanmu juga seksi, ka-kamu sempurna."


"Hahaha, terima kasih, setidaknya kamu sudah menghiburku."


"Owhaa," Keivel menangis.


"Mana susunya?" tanya Senja.


"Susu? Susu apa?"


"Ya susu untuk bayi ini Exim! Memangnya kamu pikir susu apa?!" Senja kesal.


"Oh, hahaha. Ya ya ya, ada kok. Aku juga sudah dilatih cara membuatnya. Nah, ini susunya. Ini ASI-nya LB lho," kata Mister X.


"Apa katamu?! LB?!"


"Ya, bayi ini adalah putranya pak Agam dan artis LB," terang Mister X.


"Sudah lah Exim, jangan bergurau terus." Senja tak percaya.


"Ya sudah kalau kamu tidak percaya, aku juga tidak memaksa agar kamu percaya."


"Masa orang sekelas Dirut HGC tak punya pengasuh?" kata Senja.


"Punya sih punya. Tapi pak Agam banyak musuhnya, bayi ini sedang diincar. Nah, tempat yang kita tempati ini adalah tempat teraman, sebab tidak akan terlacak oleh radar manapun, termasuk oleh radar milik badan antariksa."


"Hahaha, kamu membual lagi?" tuduh Senja.


"Tidak Senja, aku serius." Mister X menghela napas.


"Ya sudah, kamu tidur lagi ya, biar aku saja yang menjaga bayi ini."


"Tidak apa-apa, aku kan sudah tidur, kamu saja yang tidur, nanti kalau aku butuh bantuan, aku akan memanggilmu. Oiya, apa bibi Miss tahu kalau kamu jadi pengasuh bayi?"


"Tahu," jawab Mister X singkat sambil merebahkan tubuhnya di sofa. Ia akan pura-pura tidur. Padahal, sedang mengawasi Senja dan Keivel.


Mister X menatap Senja, ia semakin mengagumi gadis ini. Alasan Senja tidak ingin melihat dunia membuat Mister terenyuh.


"Senja," panggil Mister X.


"Ya," jawab Senja.


"Apa kamu mau menjadi kekasihku?"


"Apa? Hahaha. Cukup, jangan bercanda terus."


Aku serius Senja, aku menyukai kamu. Batin Mister X.


...~Tbc~...


Ditunggu kunjungannya, terima kasih.