
"E aaa ... e aaa."
Keivel tiba-tiba menangis, bayi gemoy itu mungkin ketakutan saat guncangan itu kian berasa dan semakin kuat.
"MM-Maga cu-cukup! Ke-Keivel nangis." Linda menahan bahu Agam.
"Oh ya a-ampun sa-sayang, ta-tapikan ini ta-tanggung." Pak Dirut bersikeras. Suaranya terdengar berat, gemetar dan tersendat-sendat.
"E aa hoo aaa."
Tangisan Keivel semakin keras saja.
"Pak, tu 'kan?"
Linda akhirnya memukul bahu kokoh pak Dirut, dan ia langsung meringis. Serius, bahu Agam terasa keras.
"El, please sa-sayang." Di dalam selimut, Agam memelas.
"Pak ce-cepat le-lepaskan! A-aku tak bisa melanjutkan ini," tolak Linda.
"Ba-baiklah, ja-jangan marah dong sayang." Pak Dirut mengalah, ia memang paling tidak suka melihat Linda merajuk.
Tangan pak Dirut akhirnya mengulur dari balik selimut. Mengambil kembali yang tadi sempat ditanggalkan. Lalu menggulung tubuhnya dengan selimut. Berguling ke sisi Keivel sambil menahan tawa dan sedikit kekesalan. Lindapun bergumal dengan selimutnya.
"Tunggu Keiv, Momcanya sedang siap-siap dulu." Agam memangku Keivel, lalu menghujani bayi itu dengan kecupan.
"Hoem hee," jawab Keivel. Ajaib, bayi itu tak lagi menangis.
"Kamu? Ya ampun, Keiv." Agam mengeratkan tangan.
"Hahaha."
Tawanya pecah. Lindapun terkekeh. Putranya itu benar-benar usil. Seolah sengaja menggagalkan aktivitas menyenangkan tersebut.
Linda mendekat, sudah siap untuk menyajikan kegemaran Keivel. Lalu mengambil Keivel dari pangkuan Agam sambil senyum-senyum. Pak Dirut hanya bisa melongo sambil menelan kasar salivanya.
"Jangan punya adik dulu ya Keiv."
Gumam Agam saat ia menatap putranya yang tengah melahap dengan begitu semangat karena dahaga.
"Sabar ya, Pak," kata Linda sambil mengedipkan mata.
"Hmm."
Agam mencoba memejamkan mata. Tapi sulit, sebab tubuhnya masih terpengaruh Linda's syndrome effect. Entah kapan efek itu akan hilang, pak Dirut benar-benar dikerjai putranya.
Sambil memberi ASI, Linda tak henti terkikik. Merasa gemas melihat suaminya yang tengah berada di posisi setengah jalan.
"Aku ikhlaskan Bapak bersolo karir, semoga tidak menjadi dosa," goda Linda.
"Haish, tidak mau!" tandasnya.
Lalu Agam memunggungi Linda. Lucu sekali. Linda kembali terkekeh.
"Sudah kenyang belum bintangku, rajaku, permata hatiku?" tanya Linda pada Keivel.
Yang ditanya malah semakin dahaga. Menyesap kuat hingga ngos-ngosan. Pantas saja Keivel cepat besar, ternyata miminya kuat sekali. LB sampai bekeringat dan kesemutan.
Lalu ponsel Agam bedering. Ada panggilan dari bu Nadia.
"Ya Bu, hallo," sapa Agam setelah menjawab salam dari ibunya.
"Ben, kamu sebelum Subuh harus sudah tiba di rumah sakit ya. Rencananya, Ibu mau bawa Gama setelah Subuh."
"Apa?! Ibu jadi memindahkannya? Apa BRN sudah setuju?"
Agam bangun, bersandar pada tempat tidur. Linda efek masih terlihat jelas di balik selimutnya.
"Sudah, Ben. Mereka sudah setuju. Siapa dulu dong yang melobinya? Tapi ya begitu, di luar negeri, Gama akan tetap di bawah pengawasan BRN. Tapi tenang saja, Ibu sudah meminta agar Gama diawasi oleh kesatuan dari BRN internasional juga."
"Ibu memang hebat. Baik, nanti saya ke rumah sakit, tapi Linda sepertinya tidak bisa ikut Bu. Kan harus jaga Keivel. Para pengasuh baru akan bekerja besok," terang Agam.
"Ya, tidak apa-apa, Ben. Linda doanya saja. Semoga Gama segera pulih seperti sedia kala." Harap bu Nadia. Panggilan berakhir.
"Bagaimana, Pak?" tanya Linda.
Lalu Agam menjelaskannya secara singkat.
"Mau dipindahkan? Ya, aku jadi tidak bisa bertemu crocodile kecil lagi, deh," keluh Linda.
"Tenang sayang, kan crocodile besarnya ada di hadapan kamu. Bedanya, crocodile yang ini hanya menyukai satu wanita," kata Agam. Linda kembali tersenyum.
"Anda bukan buaya, Anda raja rimba," ledek Linda.
"Sayang, cepat buat Keivel tidur, saya masih menunggu, lho."
"Mata Keivelnya masih tajam, Pak. Tuh," tunjuk Linda.
"Oiya, ya." Pak Dirut garuk-garuk kepala sambil mengintip putranya.
"Sayang, suara kamu 'kan bagus. Ayo nyanyikan sebuah lagu supaya Keivel cepat tidur."
"Baiklah. Ehhem, ehhem." Linda siap-siap. Berdeham beberapa kali.
Lalu ia mengalunkan sebuah lagu yang nadanya mendayu-dayu. Entah apa judulnya. Lagu itu berbahasa asing.
Agam menatap Linda seraya tersenyum. Suara Linda berhasil mendesirkan hatinya. Karena ia menguasai banyak bahasa asing. Agam tentu saja faham arti dari lagu tersebut.
Hingga akhirnya, iapun larut dalam alunan Linda dan tertidur jua bersamaan dengan tidurnya Keivel.
Lalu Linda mengendap pelan. Meletakan kembali putra menggemaskannya itu ke atas ranjang yang diperuntukkan bagi Keivel.
Lantas kembali ke ranjang di mana bayi besarnya berada. Linda merangkak mendekati Agam. Kemudian mengecup bibirnya.
"Hmm, sudah tidur ya? Ya sudah, masih banyak waktu, kok," ucap Linda sambil merebahkan diri.
Namun baru saja ia hendak memejamkan mata, tubuhnya sudah beralih ke atas tubuh Agam.
"Aaa," Linda kaget. Segera membekap bibirnya agar Keivel tak terganggu.
"Bu-bukannya Bapak sudah tidur?" Mata Linda mengerjap.
"Hehe, tadi memang sempat tidur sayang. Tapi hanya sebentar. Sekarang sudah bangun lagi," sambil tersenyum tipis.
"A-apa?" Linda menelan saliva. Ia faham siapa yang bangun lagi selain pak Dirut.
Ternyata seperti inilah tugas seorang ibu. Harus memiliki kekuatan ekstra untuk mengurus dan melayani bayi-bayinya. Termasuk di dalamnya melayani bayi besar.
Agam membekap Linda dengan bibirnya saat istrinya itu hendak beteriak.
Percintaan malam ini terasa mendebarkan. Sebab harus melakukannya dalam kesunyian dan kesenyapan agar Keivel tidak terbangun.
Uniknya, Agam dan Linda jadi merasa lebih tertantang saat melakukannya. Kehadiran Keivel ternyata membawa sensasi yang berbeda karena menjadikan kegiatan melenakan ini jadi terasa lebih spesial.
"Ssst ... pelan-pelan," lirih Linda.
"O-ke," kata Agam tapi tak ada suaranya. Hanya gerakan mulut saja.
Jangan bangun dulu ya Keivel, paren dan momca sedang sibuk. Sibuk mencari kenikmatan.
...❤...
...❤...
...❤...
"Huuu, huuu."
Di sudut kamar ganti, Freissya menangis. Terisak seorang diri sambil memeluk lututnya. Pria harapan hatinya sebentar lagi akan pergi. Ia tak bisa melakukan apapun, kecuali meratapi kepergiannya dan menangis.
"Val, jangan pergi," gumamnya. Ingin berkata demikian.
Tapi ia tak bisa mengatakan itu, karena saat ini, Gama telah dijaga ketat oleh polisi dan anggota BRN.
Tadi, Freissya juga sempat melihat kedatangan Agam Ben Buana ke kamar Gama. Namun ia tak berani menyapa Agam karena merasa takut pada pengawal yang menjaga Agam.
"Val, kita memang berbeda. Ternyata aku yang telah berharap lebih. Aku terlalu percaya diri bisa menggapai kamu. Aku bahkan terlalu percaya diri bisa menikah muda dengan kamu. Betapa bodohnya aku ini," gumamnya lagi.
Kedatangan beberapa orang petinggi negara, dan kedatangan ketua BRN yang menjenguk Gama sebelum dirujuk ke rumah sakit luar negeri, membuat Freissya sadar diri jika sosok Gama bukan untuk digapai oleh wanita biasa-biasa saja seperti dirinya.
Kemarin, saat Freissya mencium Gama. Gama memeluk Freissya.
Saat itu, Freissya teramat bahagia karena ia berpikir jika Gama mengingatnya. Namun saat pertautan bibir mereka usai, Gama berkata ....
"Kamu suster mesum! Hahaha, tapi tak apa, karena kamu cantik, aku tidak akan melaporkan kesalahan kamu."
"Val, kamu tidak mengingatku? tanya Freissya kala itu.
"Ingat dong, aku ingat bibir kamu yang manis, lembut dan wangi permen, hahaha. Apa mau menciumku lagi?"
Tidak bisa didefinisikan bagaimana hancur dan sedihnya perasaan Freissya saat itu.
"Val, aku Ice, apa kamu ingat?"
"Ice? Ice cream? Haha ya aku ingatlah. Hampir seluruh manusia di dunia ini tahu dengan ice cream."
Seperti itulah Gama. Freissya sedih karena Gama telah melupakan Freissya. Bahkan nama 'Ice' pun telah dilupakan. Freissya mengenang kembali saat-saat terakhirnya bersama Gama.
Freissya sebenarnya ingin bicara lagi dengan Gama. Namun kedatangan beberapa orang polisi ke ruangan itu, menggagalkan semuanya. Freissya lantas meninggalkan Gama tanpa berpamitan dan tanpa mengatakan kalimat apapun.
Dan Freissya tidak diperkenankan menemui dan menjaga Gama lagi setelah tim medis dari BRN dan kepolisian mengambil alih tugas Freissya.
.
.
Usut punya usut, beberapa waktu yang lalu, tuan Deanka yang berada di pihak pro Maga, ternyata memenangkan pertarungan yang diusulkan oleh perwakilan BRN internasional.
Alhasil, anggota BRN yang pro peraturan lama mau tidak mau harus bergabung dengan kubu pro Maga.
Karena kemenangan itulah, gugatan Maga alias Agam Ben Buana terhadap peraturan BRN yang dianggap memberatkan dan tidak manusiawi diterima oleh Pengadilan Tinggi Tata Hukum Negara.
Lalu Presiden melalui juru bicaranya memerintahkan agar peraturan Malima dikaji ulang.
Keputusan Presiden ini mengakibatkan BRN internasionalpun tak tinggal diam. Mereka lantas melakukan sidang umum luar biasa yang bertujuan untuk mengkaji seluruh peraturan bagi anggota BRN di setiap negara.
Hasil sidang umum luar biasa itu akhirnya menyimpulkan jika apa yang digugatkan oleh Maga sangat masuk akal dan sama sekali tidak mengurangi wibawa BRN di mata masyarakat lokal, maupun mata dunia.
Hingga akhirnya, hari ini, berita seputar 'BRN Maga's Effect' menjadi hastag trending lini masa nomor tujuh dunia. Pagi ini, seluruh media masa lokal di negara ini gencar memberitakan tentang 'BRN Maga's Effect.'
Dan tentu saja hanya ada segelintir orang yang tahu kalau mantan anggota BRN yang melegenda dan bernama Maga itu sebenarnya adalah Agam Ben Buana.
Karena gugatannya diterima, pada hari ini, atau bertepatan dengan hari di mana Gama akan dirujuk ke luar negeri, Agam dan bu Nadia secara resmi mengizinkan Sultan Yasa alias Gamayasa Val Buana untuk menjadi calon anggota BRN.
...❤...
...❤...
...❤...
"Pak Yudha, cepat cari suster Ice, saya ingin menemuinya," kata Agam.
Sedari tadi, Agam ternyata mencari-cari keberadaan Freissya. Setelah para petinggi negara pulang, Agam baru bisa memerintah pak Yudha untuk mencari Freissya.
Beberapa orang polisi dan anggota BRN terlihat berjaga di depan ruang pemulihan yang ditempati Gama.
Sementara Gama, saat ini terlihat sedang disisiri rambutnya oleh bu Nadia. Gama terus menatap bu Nadia tanpa ekspresi.
"Kamu benar ibuku?" tanyanya.
"Ya, benar," jawab bu Nadia.
"Baiklah, karena Anda cantik dan menarik, aku percaya kalau Anda adalah ibuku."
Jiwa buaya Gama rupanya muncul lagi ke permukaan pasca pingsan karena pukulan bu Nadia.
"Apa benar kamu kakakku?" Sekarang Gama menatap Agam.
"Benar, Tuan." Yang menjawab Maxim. Lalu diangguki oleh Enda dan Yanyan.
"Karena kamu gagah dan tampan, aku jadi yakin kalau kamu adalah kakakku," kata Gama sambil meraba otot perut pak Dirut.
"Wah, lumayan juga," pujinya.
"Hei, singkirkan tanganmu!" Agam menepis tangan Gama.
"Jangan galak-galak, Ben. Dia kan masih sakit," sela bu Nadia.
"Maaf, Bu," kata Agam.
"Pak Agam, saya tidak menemukan suster Ice. Sudah bertanya pada perawat lain. Katanya, hari ini suster Freissya tidak ada jadwal jaga," terang pak Yudha.
"Hmm, Maxim, Enda, kamu cepat pergi ke rumahnya suster Ice, saya ingin bicara dengan suster itu," kata Agam.
"Baik, Pak."
"Ice?" Gama merenung.
"Ben, untuk apa kamu bicara sama suster itu?"
"Dia berjasa menjaga Gama, Bu. Selama Gama koma dan dirawat di ruang ICU, dia yang menjaga Gama siang dan malam. Sampai Gama dipindahkan ke ruang pemulihanpun, yang menjaga Gama suster Ice," terang Agam.
"Kata Pak Yudha, mereka pacaran, apa benar?"
"Benar Bu," jawab Agam.
"Hmm," bu Nadia menghela napas. Ia sedikit keheranan kenapa Agam ingin bicara dengan suster itu.
"Mereka tidak pacaran serius, kan?" lanjut bu Nadia.
"Nah, itu yang ingin saya tanyakan pada suster Ice. Kalau tanya sama Gama 'kan belum nyambung," kata Agam.
"Lama dong, Ben. Apa kamu juga mau menyuruh pacar Gama yang lainnya untuk datang kesini?" Bu Nadia keheranan.
"Emm."
Agam sedikit kebingungan. Tapi setidaknya, sebelum Gama pergi, Agam ingin beterimakasih pada Freissya.
"Suster Ice berbeda dari kekasih Gama yang lain, Bu. Yang lain tidak merawat Gama." Agam beralasan.
"Ya sudah, teserah kamu. Asalkan, dia harus datang sebelum jam keberangkatan," kata bu Nadia.
Gama yang sedang disisir dan mendengarkan obrolan dua orang yang katanya adalah ibu dan kakaknya, seketika merenung. Ia berpikir ....
Apakah suster Ice yang dimaksud adalah suster yang kemarin sore menciumnya?
Pantas saja pikir Gama suster tersebut mencium bibirnya kalau dia adalah kekasihnya. Lalu ia mengingat-ingat wajah suster itu.
Cantik, lucu, seksi, hmm ... dia kriteriaku, batin Gama.
Gama lanjut melamun, karena ia kembali merasa tidak asing dengan nama Ice. Dan ia tiba-tiba menyesal karena tadi sore malah mengabaikan Freissya.
Kalau kamu adalah kekasihku? Kenapa kamu tidak mengatakannya?
"Gama, kamu tidak apa-apa, kan?" Agam menepuk bahu adiknya.
"Begini guys ---."
"Gama, dia kakakmu! Jangan panggul guys! Panggil kakak," sela bu Nadia.
"Oh, hahaha. Maaf Ibu. Begini, kalian 'kan mau membawaku pengobatan ke luar negeri, nah boleh tidak kalau suster Ice diikutsertakan? Kalian bilang dia kekasihku, kan?"
"Tidak bisa dong Gama, kan di sana juga sudah ada dokter dan suster," kata bu Nadia.
"Emm, Bu, menurut saya, ide Gama masuk akal juga. Dengan keberadaan suster Ice, bisa jadi ingatan Gama cepat pulih." Agam memberi saran.
"Belum tentu juga suster itu mau ikut," kata bu Nadia. Pikir bu Nadia, sedikit berlebihan jika sampai membawanya bersama Gama.
"Tapi Ibu, dia serasi kalau jadi pacarku, jadi wajar kan kalaupun aku membawanya?"
"Ibu belum bisa memutuskan sebelum bertemu langsung sama suster itu. Begini saja, kalau dia mau, ya silahkan saja, tapi kalau dia tidak mau ikut, kamu jangan memaksanya," tegas bu Nadia.
"Sepakat," sahut Agam dan Gama serempak.
...~Tbc~...
...Yuk komen yuk! Kira-kira, Freissya mau ikut tidak, ya? ...