
"Bagas?! Kenapa ada di sini? Kamu mengagetkanku tahu!" kata Linda sesaat setelah Bagas melepaskannya.
"El, kita harus cepat pergi dari sini. Aku dapat info kalau pak Rifino Pederik ada di hotel ini, karena aku khawatir aku menyusul kamu," terang Bagas.
"Aku tidak takut."
"El, dia itu satu komplot sama keluarga Haiden, ayahnya bahkan sampai saat ini masih buron. Kamu harus tetap waspada. Kalau bisa kamu tidak boleh keluar dari rumah pak Agam tanpa ditemani dia."
Bagas melangkah cepat menyusul langkah Linda yang keluar dari lift dan saat ini mereka sudah berada di lantai satu.
"Bagas, aku tidak mau lagi tinggal dengan Pak Agam. Aku mau pergi."
"Mau pergi ke mana, El? Ayo kita bicara di mobil saja biar keberadaan kamu tidak dicurigai. Oiya kamu sudah lihat iklannya? Kan hari ini ditayangkan."
"Aku belum berani melihat, aku malu, hehehe."
"Kamu bagaimana sih? Bagus kok El, kamu cantik sekali, pokoknya 1000 jempol untuk kamu. Aktingmu dan gaya kamu tidak kalah memukau dari bintang iklan nomor satu di negara ini."
Bagas berbicara sambil memperhatikan area sekitar. Saat ini keduanya tengah berjalan menuju parkiran.
"Terima kasih pujiannya. Aku sih merasa biasa saja. Kita mau bicara di mobil siapa? Kamu atau aku?"
"Memangnya kamu beli mobil lagi, El? Kan mobilmu aku gadaikan." Bagas keheranan.
"Aku dipinjami mobil sama pak Agam. Tuh, yang warna putih." Menunjuk pada mobil yang dia dimaksud.
"Wah, gila. Keren sekali. Ya sudah kita bicara di mobil pak Agam saja."
"Bagas, sembunyi!"
Linda menunduk dan bersembunyi di balik mobil karena melihat keberadaan Angga. Pria itu terlihat mencari-cari, pastinya sedang mencari dirinya.
"El, itu Angga."
"Sssttt .... Kamu diam saja. Nanti aku ceritakan," jelas Linda.
Setelah melihat mobil Angga keluar dari parkiran, Linda dan Bagas masuk ke dalam mobil Agam.
"Cepat cerita, bagaimana pertemuan kamu dengan kak Angga? Kenapa kamu menghindari dia, El?"
"Aku memutuskan Angga secara sepihak."
"Apa?! Kenapa?" Bagas terkejut.
"Aku sudah tidak nyaman. Aku sebenarnya ingin putus sejak setahun yang lalu, tapi baru ada kesempatan berbicara dengan dia hari ini."
Bagas menghela napas, lalu menatap dalam-dalam sahabatanya itu.
"El, jangan berbohong padaku, tolong jujur saja. Apa alasan putus dengan Angga karena kamu mencintai orang lain?"
"Emm, ti-tidak, Bagas. Aku memang sudah tidak nyaman dengan Angga sedari dulu. Sejak mama dan papanya Angga menyakiti perasaan ayahku, aku sebenarnya sudah tidak nyaman. Aku ingin memiliki mertua yang benar-benar tulus menerimaku apa adanya." Linda menunduk.
"Tapikan El, papa dan mamanya kak Angga sudah meminta maaf secara langsung pada ayah dan ibumu, kan? Mereka juga sudah meminta maaf padamu."
"Iya, Bagas. Aku tahu. Aku juga sudah memaafkan mereka. Tapi ... aku tidak bisa melanjutkannya lagi. Tolong mengerti perasaanku Bagas."
"El, apa gara-gara pak Agam?"
"Bagas, kenapa kamu seperti menghakimiku?! Tolong jangan bawa-bawa pak Agam dalam masalah ini."
"El ...." Bagas meraih tangan Linda.
"Tolong jujur, aku akan merahasiakan apapun yang kamu katakan. Apa kamu wanitanya pak Agam? Apa pak Agam pernah meniduri kamu?"
"Bagas! Cukup!! Kamu itu .... Huuu huuuks."
Linda tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia malah menangis, menepis tangan Bagas, lalu menundukan kepalanya pada setir.
"El, maaf jika kamu merasa tidak nyaman dengan ucapanku. Aku tahu siapa kamu. Aku tahu kamu wanita baik. Cuma aku aneh saja dengan sikap pak Agam sama kamu. Terlebih kamu juga tinggal bersama pak Agam."
"Huuuks ...."
Linda diam saja, terus menangis terisak-isak.
"Apa kamu sudah menikah siri sama pak Agam?"
Deg, Linda terkejut.
"Tidak, Bagas. Aku tidak menikah dengan dia. Aku punya alasan." Linda mengusap arimatanya.
Linda tidak mau bercerita pada Bagas jika dirinya diperkosa oleh Agam. Linda tidak ingin Bagas menilai buruk pada Agam. Sebab, selama ia tinggal di rumah Agam, Linda jadi tahu kalau Agam adalah pria baik. Agam melakukannya karena pria itu sakit hati.
"Alasannya apa, El?! Tolong jelaskan! Kamu bukan wanita bayaran pak Agam, kan?"
Bagas tidak bisa mengendalikan dirinya. Bahkan dia sendiri kaget atas ucapan spontan yang dilontarkannya.
"Apa?! Bagas ... kka-kamu tega sekali menuduhku seperti itu .... Apa kamu pikir aku ini ******, hahh?! Huuu ... kamu menyakiti perasaanku Bagas."
Linda memegang dadanya. Hatinya semakin hancur saja. Tertuduh seperti ini sangat-sangat menyakitkan.
"El, maafkan aku. Aku tidak sengaja, aku spontan El, maaf ...."
Bagas mencoba meraih tangan Linda, tapi wanita itu menepisnya.
"Aku memang hina! Apa yang kamu katakan ada benarnya juga. Ya, mungkin aku bisa disebut sebagai ******! Kamu tidak pantas berteman sama aku. Kamu suci, sedangkan aku ... aku wanita hina!"
"El, bukan seperti itu, aku tidak ber ---."
"Pergi kamu Bagas! Pergi! Pergiii! Cukup sampai di sini saja pertemanan kita!" Linda mendorong Bagas keluar.
"El, jangan emosi, aku minta maaf."
"Aku dan pak Agam memang sudah tidur bersama, aku sengaja menggoda dia. Pak Agam pria baik. Aku menjebak dia. Aku memang salah! Apa kamu puas?! Pergiii!" teriak Linda.
Bagas mencoba masuk kembali ke dalam mobil, tapi Linda sudah mengunci pintunya. Bagas lalu menahan kaca mobil agar tidak tertutup. Ia benar-benar menyesali ucapannya.
"Pergi Bagas! Aku janji tidak akan merepotkan kamu lagi, aku akan pergi dari negara ini. Pergiii!"
Linda marah, Linda kecewa. Bagas sama saja dengan aktris Ririn yang menuduhnya sebagai wanita murahan dan menjual diri pada Agam demi popularitas dan kekayaan.
"Linda maafkan aku ...."
Tapi kaca mobil itu perlahan tertutup dan mendorong tangan Bagas. Bagas terpaksa menarik tangannya dan merelakan Linda pergi di tengah penyesalannya yang menggunung.
"El, maaf. Bisa-bisanya mulutku bicara seperti itu. Ya, Tuhan."
Bagas masuk ke dalam mobilnya, ia merenungi kesalahannya pada Linda.
Padahal, Linda adalah satu-satunya sahabat yang selalu ada untuk Bagas. Hutangnya pada Linda bahkan masih ratusan juta. Ya, Agam memang pernah menawarkan diri untuk membantu melunasi hutangnya pada Linda.
Tapi, setelah Linda tahu jika uang itu dari Agam, Linda menolak. Linda lebih memilih agar Bagas membayarnya seperti biasa dengan dicicil tiap bulan sesuai dengan kemampuan Bagas.
Kurang apalagi coba kebaikanmu padaku, tapi ... aku malah menuduhmu yang bukan-bukan. Kamu pasti sedih dan sakit hati.
***
Linda mengemudikan mobil dengan hati yang kalut, sedih, sakit, dan merasa tersudutkan. Airmatanya terus berurai tiada henti. Setiap tetesnya begitu mencekal dan menyesakkan dadanya.
Tidak menyangka, Bagas yang merupakan sahabat terdekat satu-satunya akan menuduhnya serendah itu. Ya, dia memang telah tidur dengan Agam. Tapi ... semua itu bukan salahnya. Bukan kemauannya.
Linda terus berpikir sepanjang jalan, ia ingin menata hidupnya tanpa ada bayang-bayang siapapun. Tanpa ada orang yang menuduh dan meremehkannya.
Selama ia masih bersama Agam, maka hidupnya pasti tidak akan tenang.
Bayang-bayang tentang Agam selalu memenuhi relung hatinya. Dan semua orang terkesan menyudutkannya. Ririn, dokter Cepy, dan terakhir sahabatnya sendiripun menyalahkan dan menuduhnya.
Belum lagi ayah dan ibunya yang seakan tidak peduli. Linda sebenarnya ingin pulang ke kampung halamannya, tapi ... ia tidak mau jika keberadaannya menjadi beban untuk keluarga.
***
Kini, Linda sudah berada di depan gerbang rumah mewah milik Agam.
Ia menatapnya sebelum menekan bel. Pasti akan merindukan rumah ini, tapi ... siapa dia? Kenapa juga dia ingin tinggal di rumah ini?
Ternyata yang ia rindukan bukan rumah ini, tapi salah satu penghuni dari rumah ini.
Aku harus pergi sebelum semuanya terlambat. Sebelum perasaanku pada dia semakin dalam. Aku bisa mengurus diriku sendiri sampai aku melahirkan walaupun tanpa dia.
Air mata Linda kembali mengalir, Bu Ira membukakan pintu gerbang setelah ia menekan bel. Linda memasukkan mobil ke parkiran. Lalu turun dari mobil dan berjalan cepat menuju kolam renang.
Di tepi kolam, ia kembali merenung mengingat semua hal yang telah ia lalui di tempat ini. Bak putri duyung, ia sering menghabiskan waktunya untuk berenang berlama-lama kala Gama sekolah, dan Agam bekerja.
Ia sering makan di sisi kolam ini. Pernah sampai ketiduran saat berjemur memakai pelampung, dan baru sadar saat bu Ira atau pak Yudha membangunkannya.
Dan kejadian kemarin membuat jantungnya berdegup teringat kembali saat ia mencium Agam di dalam kolam, dan Agam yang menolongnya hingga ia kembali bernapas.
.
.
.
Linda mengusap ari mata, lalu naik ke lift menuju lantai satu. Linda langsung ke dapur dan duduk di sebuah kursi di mana ia sering mencuri pandang tatkala Agam tengah memasak.
"Nona kenapa? Apa mau makan sekarang?" tanya Bu Ira.
"Ti-tidak Bu, aku hanya mau lihat-lihat saja." Linda beranjak.
Linda menatap tangga yang melingkar. Kini, matanya fokus pada anak tangga ke empat di mana ia pernah dua kali tergelincir, dan Agam selalu ada untuk menolongnya.
Linda mulai menitikan kaki di anak tangga nomor satu. Tapi urung karena teringat pesan dari seseorang yang melarangnya melewati tangga.
.
.
.
Linda melanjutkan perjalanan menuju perpustakan, mushola, dan area olah raga. Linda berlama-lama di ketiga tempat itu untuk menumpahkan kerinduan kalau-kalau suatu saat ia merindukan lagi tempat ini.
Linda lalu memotret beberapa sudut rumah di lantai dua. Memotret beberapa spot area favorit, salah satunya adalah pintu kamar pria itu, dan sebuah kursi yang sering digunakan Agam untuk membaca buku dan melantunkan ayat suci.
"Pak Agam ...."
Linda mengusap kursi itu bersamaan dengan airmatanya yang menetes.
Sekarang ia berjalan gontai menuju kamar yang telah ia tempati selama hampir empat bulan.
Dan saat ini, wanita itu tengah menangis meraung-meraung meratapi nasibnya sambil menatap satu persatu barang pemberian Agam yang tertata di kamar itu.
Maafkan mama ya sayang ... kalian tidak bisa tinggal lagi di tempat ini. Hati mama sakit jika terus-menerus tertuduh seperti ini ....
Sahabat baik mamapun tidak mempercayai mama lagi. Dia menuduh mama jadi wanita simpanan papa kalian. Maafkan mamamu yang lemah ini ya ....
Mama juga tidak bisa menemui kakek dan nenek kalian.
Kata pak Agam, ayah dan ibuku sengaja pulang ke kampung karena merasa tidak nyaman lagi berada di kota ini. Dan semua itu gara-gara aku.
Sebenarnya gara-gara dia juga. Tapi ... sekarang aku tidak bisa membencinya, bahkan untuk meminta pertanggung jawabannyapun aku merasa tidak pantas.
Aku tidak mau lagi dituduh sebagai wanita penggoda yang memanfaatkan kekayaan dan kekuasaan dia.
Aku bisa tinggal di luar negeri menggunakan uang kontrak iklan sampai anak ini lahir. Setelah uang itu habis, aku bisa mencari pekerjaan, aku kan punya ijazah. Aku akan mengurus kalian. Aku juga tidak perlu memberikan anak-anaku pada dia.
Linda lalu berkemas. Ia akan membawa baju dan perlengkapan secukupnya. Namun setelah berkemas Linda mematung. Untuk ke luar negeri, Linda tentu saja butuh paspor dan visa.
Aku belum punya visa dan paspor. Besok aku harus mengurusnya.
***
HGC
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 waktu setempat. Tapi Agam belum pulang. Ia memilih mengerjakan beberapa laporan yang deadlinenya masih lama. Padahal baru akan dipresentasikan minggu depan.
Malam ini, seharusnya ia bertemu Angga. Tapi Angga menolak untuk bertemu dengannya. Melalui anak buah Agam, Angga mengatakan ada kepentingan mendadak.
Agam sangat tidak bersemangat. Ia menyuruh pak Yudha pulang dan mengatakan jika dirinya akan menginap di HGC.
Bayangan Angga yang berpelukan dengan Linda terus terlintas dan membuatnya galau. Padahal hari ini, ia sudah menyiapkan sebuah hadiah untuk wanitu itu.
Hadiah itu diberikan karena respon masyarakat terhadap produk baru HGC yang iklannya dibintangi Linda ternyata sangat positif. Saham HGC bahkan naik pada hari ini setelah iklan produk itu diluncurkan.
Deg, kerinduan pada Linda kembali menyeruak saat channel televisi di ruang kerjanya menayangkan iklan yang dibintangi Linda.
Linda tampil ala bidadari memberikan produk baru HGC pada seorang nelayan tua.
Ada juga adegan dimana bidadari itu menangis karena sungai dan laut yang biasanya ia gunakan untuk mandi dan berenang telah berubah menjadi sungai yang sangat kotor.
Dan laut yang biasa ia gunakan untuk menyelam tidak lagi dihiasi oleh ikan-ikan dan terumbu karang yang indah, melainkan dihiasi oleh berbagai jenis sampah.
Klik, ia mematikan televisi sebelum iklan itu usai. Melihat Linda, selalu mengingatkannya pada adegan tadi pagi. Agam mencoba mengecek kembali berkas tapi tidak fokus.
Lalu terdengar ada pesan masuk. Tapi Agam malas membukanya. Lalu ada panggilan beberapa kali. Lagi-lagi, Agam malas menerimanya.
Ia memilih beranjak meninggalkan ruang kerja dan masuk ke ruangan kamar untuk mandi dan beristirahat. Agam meninggalkan ponselnya di meja kerja. Hatinya sedang kacau dan galau. Malam ini, Agam tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Ia sedang belajar menata hati untuk melepaskan Linda. Walaupun ia sadar tidak akan semudah mengedipkan mata atau semudah membalikan telapak tangan.
***
Malam berganti pagi, pagi berganti siang. Agenda Agam sangat padat. Rapat, rapat, dan rapat. Agam memasukkan ponselnya yang lowbat ke dalam saku kemejanya. Ia belum sempat mengechargnya.
Saat ini, Agam dan stafnya tengan berjalan menuju ruang rapat. Ini adalah rapat terakhir yang akan membahas tentang respon publik pasca 24 jam diluncurkannya produk baru HGC.
"Siapa sih dia? Nekad sekali sampai melawan petugas keamanan."
Sayup-sayup Agam mendengar pembicaraan dari seorang scurity.
"Siapa yang melawan petugas keamanan?" tanya Agam pada stafnya ketika mereka hampir tiba di ruangan rapat.
"Oh, itu Pak. Katanya namanya Bagas, dia bersikeras ingin bertemu Bapak, padahal tidak memiliki janji temu. Dia memaksa masuk sampai menyakiti petugas."
"A-apa?! Bagas?" Agam terperanjat.
"Iya, Pak. Bapak kenal? Katanya sih pernah ke sini juga, terus mengaku sebagai manajer LB, tapi saat dimintai bukti, dia tidak bisa menunjukkannya."
"Di mana dia sekarang? Saya harus menemui dia."
"Ta-tapi Pak, rapatnya?" Fanny yang dari tadi diam saja langsung panik.
"Kamu handle dulu ya Fan. Jangan lupa hasil survey aslinya surel ke saya."
"Sekarang cepat katakan di mana dia?!"
"Si-siapa, Pak?" tanya staf sekretaris bername tage Radit.
"Bagas, pria yang tadi kamu bahas."
"Ada di pos keamanan Pak."
"Baik, terima kasih. Kamu bantu saja Bu Fanny. Saya mau ke sana."
Agam berlalu dan berjalan cepat. Ia penasaran kenapa Bagas ingin menemuinya. Sedangka Fanny dan Radit hanya bisa saling menatap.
***
"Pak Agam ... huuu."
Pria itu langsung menangis saat melihat Agam.
Kondisinya sedikit memprihatikan. Pipinya lebam-lebam.
"Tolong tinggalkan kami berdua." Perintah Agam pada petugas keamanan.
"Baik, Pak."
"Bapak ke mana saja?!" bentak Bagas.
"Hei, tenang dong. Cepat katakan ada apa? Saya tidak ada waktu untuk berlama-lama."
"LB, Pak .... LB. Apa LB tidak mengabari Bapak?!"
DEG. Langsung mencengkram kerah baju Bagas.
"Katakan dengan jelas! Ada apa, hahh?!"
"Saya sudah kirim pesan dan menelepon Bapak dari semalam beberapa kali untuk menyampaikan sesuatu."
"Dan tadi pagi, LB kirim pesan ke saya kalau dia mau meninggalkan negara ini. Saat saya ingin telepon balik, nomornya sudah tidak aktif. Huuu ... huuu." Bagas histeris.
"Apa katamu?!"
Untuk sementara mata Agam menunjukkan keterkejutan. Namun tiba-tiba ia membelakangi Bagas sambil mengepalkan tangannya.
"Kenapa kamu harus panik?! Dia pasti pergi dengan kekasihnya, kan?" kata Agam.
"Apa?! Apa maksud Bapak, kak Angga?!"
"Ya, benar. Itu kamu tahu."
"Pak Agam! Dengarkan saya baik-baik!"
Tubuh Bagas sampai gemetar karena berteriak sekuat tenaga.
Dengan berurai air mata, Bagas lalu menjelaskan isi percakapannya dengan Linda di The Princes Restaurant and Hotel.
Dan pria gagah nan tampan di hadapan Bagas langsung terhenyak, terkejut sempurna. Bibir merahnya terlihat gemetar.
Agam mengatur napas dan memegang dadanya yang saat ini seakan hendak meledak.
"Tidaaak ...." Rintihnya.
Langsung berlari keluar dari ruangan itu tanpa mempedulikan lingkungan sekitar.
"Pak Agam, Pak Agaaam, tungguuu." Beberapa staf mengejarnya.
Tapi Agam tidak peduli.
Maafkan aku ....
Jangan pergi ....
Tetaplah berasamaku ....
Di sisiku ....
Selamanya ....
Bu Linda ....
Aku ....
Aku mencintai kamu ....
Untuk pertama kalinya, pria itu telihat seperti tengah mengusap butiran bening di sudut matanya.
❤❤ Bersambung ....