
POV
Linda Berliana
Dari kemarin malam aku merasa lelah sekali. Sampai siang inipun aku teramat lelah. Aku berada di sebuah penginapan sederhana. Aku membaringkan tubuhku di kasur ukuran single bed.
Aku sengaja memilih penginapan sederhana ini agar keberadaanku tidak dicurigai oleh siapapun. Menjadi semakin terkenal ternyata membuatku tidak nyaman juga.
Semalam aku hampir tidak tidur karena berat sekali mau meninggalkan rumah itu. Terutamanya aku berat meninggalkan dia. Semua hal tentang dia memenuhi pikirannku. Aku benar-benar telah menyukai semua hal yang dia miliki. Dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
Mataku sembab karena terus menangis dan menangis. Menangisi pria yang tidak seharusnya aku tangisi. Sebelum Subuh aku sudah meninggalkan rumah megah itu tanpa berpamitan pada bu Ira. Aku meninggalkan sebuah surat untuk pak Agam.
Tadi pagi, dari Direktorat Jenderal Imigrasi untuk membuat paspor, aku langsung ke kantor Kedubes untuk mengurus visa izin tinggal. Dan ternyata tidak bisa selesai dalam satu hari. Aku baru bisa ke luar negeri paling cepat tiga hari ke depan.
Jadi, aku masih berada di negara ini, ada di kota ini. Kota yang sama dengan dia. Bahkan jarak penginapan ini dan rumahnya hanya sekitar lima kilo meter. Ya ampun, dekat sekali. Aku takut dia menemukanku. Kalau sampai aku bertemu dengannya, mau disimpan di mana wajahku ini.
Dalam surat itu secara tidak langsung aku sudah terang-terangan mengatakan kalau aku menyukai dia. Ini gila sih, tapi mau bagaimana lagi, kenyataannya aku memang menyukai dia.
Hari ini aku baru sadar kalau mau ke luar negeri itu tidak cukup hanya bermodal biaya atau catatan rencana perjalanan. Aku butuh paspor dan visa. Tanpa dua hal ini, aku tak mungkin bisa ke luar negeri meskipun persiapan lainnya sudah matang, dan punya banyak uang.
Paspor itu dokumen wajib untuk bepergian ke luar negeri yang dikeluarkan secara resmi oleh negara untuk setiap warganya yang mengajukan.
Coba saja aku sudah punya paspor, mungkin keberangkatanku tidak akan tertunda lama. Apalagi negara yang akan aku kunjungi tidak bebas visa. Aku butuh visa untuk bisa masuk secara legal ke negara tujuan.
Karena aku belum memiliki paspor dan ingin mengajukan permohonan, petugas imigrasi menyarankanku untuk memilih e-paspor daripada paspor biasa karena sejumlah kelebihan yang dimilikinya. Katanya, m e-paspor tidak akan mudah dipalsukan. Karena e-paspor menyimpan data biometrik seperti wajah dan sidik jari di yang tertanam di dalam paspor.
Di kantor imigrasi dan kedubes para petugas ribut dan panik saat menyadari aku adalah LB. Mereka sampai menawarkan layanan khusus untukku. Tapi aku menolak.
"Jadi, LB benar nih mau vakum dari dunia hiburan?"
"Wah, Bu LB aslinya lebih cantik."
Dan ada banyak lagi ucapan mereka untukku, terakhir aku diminta berfoto dengan para petugas di kantor imigrasi dan Kedubes.
Untungnya di penginapan ini aku tidak dimintai KTP. Jadi, pemilik penginapan tidak tahu kalau aku adalah LB. Aku merebahkan tubuhku di kamar sempit ini. Kamar ini sangat bising. Suara kipas anginnya mengganggu telingaku.
Kondisi kamar ini sangat jauh berbeda dengan kamar pak Agam. Empat bulan di kamar mewah itu membuatku kurang nyaman di kamar ini. Sebenarnya aku bisa menginap di hotel berbintang, tapi ... aku takut keberadaanku terlacak oleh pak Agam.
"Pak Agam, aku ... aku di sini."
Tanpa sadar bibirku memanggil namanya. Jujur, aku merindukan dia. Aku menantap langit-langit kamar dengan perasaan yang kacau. Aku memegang ponselku erat-erat.
Aku tidak berani menyalakan ponselku. Karena aku tahu jika ponsel ini menyala, maka keberadaanku akan terlacak.
"Aku tidak akan menyalakan ponsel ini, aku akan membeli ponsel baru dengan nomor yang baru," gumamku.
Aku lalu memasukkan ponselku ke dalam tas. Sejak aku dimintai tolong untuk membawa pak Agam dari hotel itu, dan menerima panggilan dari nomor aneh, aku semakin yakin jika pak Agam memang bukan sembarang orang.
Aku menduga dia adalah anggota agen rahasia atau bekerja sama dengan agen rahasia. Orang biasa tidak mungkin memiliki senjata api dan sabuk berteknologi kamera nano mikro.
Dan orang yang membawa pak Agam terjun dari gedung terlihat sangat misterius. Ada alat komunikasi di telinganya, dan aku sempat melihat kaca mata pria itu sangat aneh. Di kacamatanya ada huruf kecil-kecil yang bergerak seperti terkoneksi dengan proyeksi layar komputer.
"Pak Agam, siapa kamu sebenarnya?"
Lagi, aku menyebut namanya. Kali ini sambil mengusap perutku. Airmataku kembali berlinang, aku tidak menyangka nasibku akan seperti ini.
Aku tiba-tiba diperkosa, hamil, jadi bintang iklan, dan banyak uang. Tapi ... batinku terluka. Aku tidak bahagia dengan semua kepopuleran ini.
Dari awal, aku bekerja demi ayah, ibu dan adik-adikku. Tapi, saat tadi ingin mengirim uang ke nomor rekening ayah, nomor rekening yang aku tuju selalu salah. Padahal aku hafal benar nomornya.
Artinya ... ayah sudah mengganti nomor rekening dan tidak ingin lagi menerima uang dariku.
"Ayah ... ibu ... Yolla ... Yolli ... aku merindukan kalian, huuu huuu." Aku pun menangis lagi.
Ayah dan ibu memang menentang cita-citaku. Dari kecil aku selalu ingin jadi artis agar banyak uang. Akhirnya ayah setuju aku jadi penyiar berita, kata ayah setidaknya penyiar berita itu bukan artis.
Aku tidak menyangka jika menjadi penyiar berita akan menjadi awal mula aku dikenal publik setelah diundang ke acara reality show.
"Cita-citaku menjadi artis terkabulkan, tapi ... apa yang ditakutkan ayah dan ibuku malah benar-benar terjadi. Aku diperkosa dan hamil di luar nikah. Aku dituduh sebagai wanita penggoda. Huuu .... Ayah ... ibu ... maafkan Linda ya ...."
"Mungkin ini karma karena aku menentang keinginan ayah dan ibu untuk menjadi seorang guru. Maafkan aku Ayah ... ibu ... aku anak yang tidak berguna."
Aku kembali menangis dan meratap. Dadaku kian sesak saat aku sadar jika keberadaanku seperti tidak dipedulikan lagi oleh ayah dan ibuku.
"Ayah ... ibu ... maafkan aku .... Maaf karena telah mengecewakan dan menyakiti hati kalian."
Kalau saja aku nurut pada ayah dan ibu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
"Ayah ..., ibu ... aku hamil anak kembar. Apa kalian mau menerima mereka sebagai cucu? Ayah, ibu ... aku mau pulang. Aku sebenarnya ingin menyusul kalian. Tapi ... aku tidak memiliki keberanian untuk menatap mata ayah dan ibu. Huuu ...."
"Aku tidak mau jika keberadanku malah membuat ibu dan ayah malu."
Aku terus curhat pada diriku sendiri, dengan bantal, guling, tas selempang, dan koperku sebagai saksinya.
"Ayah ... ibu ... ada hal bodoh lagi yang aku lakukan. Aku ... aku malah mencintai pria yang memperkosaku. Aku tidak lapor polisi sebenarnya bukan karena aku dengan ancaman pak Agam. Tapi ... karena aku tidak mau mencemari nama baik orang yang aku cintai. Aku tidak mau citra pak Agam buruk gara-gara aku."
"Awalnya ... aku juga membencinya. Tapi ... semakin sering aku menatap matanya, aku jadi jatuh cinta. Dan berharap jika dia akan menjadi ayah dari anak-anak ini, dan aku menjadi ibunya."
"Ayah ... ibu ... di mataku ... pak Agam itu pria baik. Dia sopan, penyayang, dan memperlakukan ibunya dengan baik. Aku sering melihat dia mencuci kaki ibunya setiap hari Jumat."
Aku terus menangis, airmataku seolah hampir mengerig. Aku tersedu sampai semidu-midu. Rasanya sakit ke bagian dada. Lalu tiba-tiba akupun merasa lapar. Mungkin bayi-bayiku lapar juga.
Setelah shalat Asar, aku keluar dari penginapan. Memakai masker, kaca mata sudah pasti, serta memakai baju yang menurutku paling lusuh.
Pakaian yang dibelikan pak Agam semunya mahal. Tuh, kan? Aku jadi ingat dia lagi.
Karena ponselku harus dimatikan, aku membeli makan di pinggir jalan. Aku cari yang paling sedikit pengunjungnya.
"Ayam goreng dan ikan goreng ya Pak, buat dua porsi, sambalnya pisah. Minumnya perasan jeruk hangat. Dibungkus ya Pak," kataku.
"Nasinya setengah, atau satu?" tanyanya.
"Dua-duanya satu porsi," jawabku.
Setelah selesai dan membayar aku beranjak ke minimarket untuk membeli minuman dan makanan ringan. Aku sengaja membeli nasi dua porsi agar saat malam-malam aku lapar, aku tidak perlu keluar lagi.
***
POV
Agam Ben Buana
Aku tunda karena aku tahu dia memiliki kekasih. Setelah mendengar penjelasan dari Bagas, aku jadi tahu jika dia sudah tidak mencintai lagi kekasihnya sejak lama, sebelum dia bertemu denganku.
Setelah membaca surat itu, aku bergegas ke kamarku untuk mengecek data hasil pematauan rekaman CCTV bandara. Aku menyimpan surat itu di dompetku. Tulisan dia lumayan bagus, tapi tidak sebagus dan serapi tulisanku.
Aku menyalakan komputer yang terkoneksi dengan ruang kerja rahasia mister X. Dia sudah mengirim rekaman vidio CCTV bandara. Aku amati satu persatu, sampai mataku lelah, tapi aku tidak menemukan sosok yang aku cari.
Aku zoom dan capture seluruh calon penumpang di pintu masuk yang kira-kira berprawakan mirip Linda. Tapi hasilnya nihil. Aku tidak menemukan dia. Walaupun misalnya dia menggunakan masker, aku yakin dapat mengenalinya.
Aku lalu meminta mister X untuk memidai data, dan meminta bantuan timnya untuk mengecek kemungkinan penerbangan sebelum jam lima pagi.
Lalu aku menempatkan beberapa orang anak buahku agar mengintai di bandara untuk mendeteksi kemungkinan Linda masih berada di kota ini dan akan melakukan penerbangan pada malam hari.
"Aargh!!" Aku beberapa kali berteriak.
Kepalaku pusing, mataku perih, nafsu makanku hilang, dan aku semakin merindukan dia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan dia saat ini.
Dia mengira aku hanya peduli pada bayinya. Dia juga pasti sedih setelah tahu jika orang tuanya pulang ke kampung halaman karena merasa tidak nyaman dengan penilaian publik pada putri mereka.
"Linda, kamu di mana? Apa kamu sudah makan? Apa kamu mau aku masakan sesuatu?"
Aku meracau seperti orang gila.
"Tunggu, aku ingat sesuatu." Aku mengambil kembali surat darinya.
...Pak Agam ......
...saya akan pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya, saya gugup Pak .......
Deg, jantungku meronta.
Jika dia baru pertama kalinya ke luar negeri berarti dia belum punya visa. Kalau paspor, bisa jadi sudah punya. Tapi, bagaimana kalau dia sudah punya paspor, lalu pergi ke negara yang bebas visa?
Perasaanku kembali kalut. Sulit sekali berpikir cerdas saat yang aku pikirkan adalah dia.
Linda ....
Beberapa kali aku menyebut nama itu. Bayangan tentangnya terus mengganggu pikiranku. Andai dia ada di hadapanku sekarang, aku akan memeluknya, dan mengatakan kalau aku mencintainya.
Linda ....
Aku mencintai kamu dan juga calon anak kita. Kalau kamu sudah tidak mencintai Angga, harusnya kamu juga faham dengan bahasa tubuhku. Apa saat aku hampir menciummu, kamu masih tidak faham juga?
Kamu juga tidak sadar saat aku marah-marah karena kamu akan bertemu Angga. Aku marah karena aku cemburu.
Aku menelepon Bagas. Pada dering pertama, dia langsung menerimanya.
"Pak, bagaimana? Apa Bapak sudah menemukannya?" Malah dia yang berbicara mendahuluiku.
"Kapan LB membuat paspor? Apa kamu masih ingat?" tanyaku.
"Pak Agam, dia itu orangnya irit dan hemat. Malah cenderung pelit. Kenapa dia memilih tinggal di apartemen Green Seroja? Ya karena dia ingin berhemat. Setahu saya dia belum punya paspor, Pak."
Langsung kututup panggilan dengan Bagas.
"Mau lari kemana kamu, pencuri," gumamku.
Maksudku pencuri hati. Ada secerca harapan. Aku yakin dia tidak akan selesai mengurus visa dan paspor dalam waktu satu hari. Untuk paspor saja bisa tiga sampai empat hari.
Bisa saja dipercepat, asalkan kamu membuat paspor dan visanya bersamaku.
Aku mengatur napas mencoba untuk tenang. Sudah ada titik terang aku tidak boleh panik. Lalu kuhubungi sahabatku yang bekerja di Direktorat Jenderal Imigrasi Pusat.
"Eh, Pak Dirut? Hahaha, ada apa? Tidak biasanya menelepon."
"Apa di kantormu tidak ada yang spesial? Misalkan ada artis membuat paspor?"
"Apa?! Hahaha, Pak Dirut membuat saya pusing. Langsung saja Pak. Ada apa?"
"Baik, tapi tolong jaga rahasia ini, atau kamu tahu akibatnya."
"Oke, tapi tidak gratis. Canda Pak Dirut, hahahaha."
"Apa di buku tamu ada nama LB?"
"Apa?! Kok Bapak tahu sih? Ya, a ---."
Aku langsung menutup panggilan begitu saja. Gara-gara Linda, aku sampai melupakan etika menerima atau mengakhiri panggilan.
Nah, untuk teman di Kedubes, aku memerlukan bantuan. Siapa lagi kalau bukan mister X. Mister X selalu bisa diandalkan.
Benar saja, hari ini dia juga membuat visa di Kedubes suatu negara. Aku juga tahu negara mana yang akan ia kunjungi.
"Oh, jadi dia mau ke sana?"
Aku bahagia. Karena negara yang akan ia kunjungi adalah negara yang telah menandatangani nota kesepakatan dengan HGC untuk program ramah lingkungan yang menjadi proyekku.
Jika sesuai agenda, aku memang harus ke negara tersebut untuk melakukan kunjungan kerja dalam waktu empat hari lagi.
Apakah ini kebetulan? Pastinya tidak ada yang kebetulan di dunia ini, karena daun yang jatuh saja sudah ada yang mengaturnya.
Aku lalu mengirimkan pesan pada mata-mata rahasia.
"Tolong kalian cek seluruh hotel yang berdekatan dekat dengan area bandara, kantor imigrasi, dan kantor Kedubes. Jika ada artis HGC menginap di salah satu hotel tersebut, tolong kabari saya."
Aku tidak menyebutkan langsung nama LB, karena namanya saat ini sudah terdaftar menjadi artis HGC.
Kamu tidak akan bisa lari dariku, LB. Kamu kira bisa semudah itu lari dari pria bernama Agam Ben Buana?
Akhirnya, malam ini juga aku langsung menempatkan mata-mataku di bandara, kantor imigrasi, dan Kedubes. Tugas mereka adalah memantau pergerakannya, bukan untuk menangkapnya.
Karena yang bertugas untuk menangkap dia adalah AKU. Hanya AKU. Ti-tik.
❤❤ Bersambung ....
___
POV nyai ambu; Rasanya nyai ingin divote, like dan komen, agar hari ini bisa up lagi. Pesan ini untuk yang berkenan ya, terima kasih🥰