
Agam benar-benar naik pitam, dan saat ia mau menghubungi kembali nomor tersebut, ponsel Linda malah lowbath.
"ARGH!" teriaknya saat berada seorang diri di dalam lift.
"Siapa pria itu?!"
Jelas, Agam tidak akan mengenal suara Angga.
"Kok bisa ada orang lain yang mengetahui nomor istriku?"
"Bagaaas!" teriaknya, kesal.
Tangannya hampir saja meninju dinding lift, tapi urung, ia tidak mau merusak fasilitas rumah sakit. Lalu meraih saku untuk mengubungi nomor Bagas yang dihafalnya. Sayangnya nomor Bagas tidak aktif.
.
.
.
.
Agam duduk di kursi yang ada lorong rumah sakit. Pria itu sedang berpikir bagaimana caranya menghadapi kemarahan dan kecemburuan yang mencapai ubun-ubun di saat Linda sedang sakit.
Ya, Linda sedang sakit, kondisinya harus benar-benar dijaga, tidak boleh stres, dan tidak boleh lelah. Kalau Agam mengkonfirmasi nomor tadi pada Linda, bisa jadi tensi darah Linda naik lagi.
Agam melakukan gerakan pendinginan untuk meredakan amarahnya, namun tidak berhasil. Dadanya masih panas, ia semakin penasaran akan sosok yang tadi menelepon.
"Huphh .... Harus tenang, aku bisa melacak nomornya setelah ponsel Linda terisi daya. Keparat, berani sekali dia mengajak istriku bercinta," gumamnya dengan rahang mengeras.
Setelah tenang, Agam kembali ke kamar tempat Linda dirawat.
.
.
.
.
Syukurlah, saat Agam tiba, Ayah Berli dan Paman Yordan sudah berada di sana. Ayah Berli sedang menyuapi Linda, sementara Paman Yordan tengah sibuk dengan telepon genggamnya. Ia melakukan komunikasi di balkon kamar.
"Pak Dirut?"
Ayah Berli berdiri saat Agam tiba.
"Ayah, panggil Agam saja," katanya.
"Nyamannya seperti itu. Oiya Pak Dirut, aku mau secepatnya bertemu adikku. Kapan bisa menjenguknya?"
"Pagi ini juga boleh."
Agam duduk di sofa, ponsel Linda masih disembunyikan di sakunya.
Sesekali mata Agam menatap Linda. Wanita yang saat ini sudah sah menjadi istrinya. Kadang, Agam merasa pernikahan ini tidak nyata.
Namun saat ia sadar ini kenyataan, Agam langsung tersadar jika ada banyak sekali tugas yang harus ia selesaikan sebelum meresmikan pernikahannya menjadi sah di mata negara, dan mempublikasikannya.
"Ayah, Hikam mana?" tanya Linda sambil mengunyah.
Linda terlihat lahap, entah karena lapar atau karena Ayah Berli yang menyuapi. Yang jelas, saat ini hati Linda benar-benar bahagia karena ia merasa Agam dan ayahnya sudah akur.
Oiya, ada hal lain lagi yang membuat Linda bahagia.
Tadi saat Agam pergi, ia tak sengaja melihat tayangan ulang berita infotainment tentang preskon yang dilakukan oleh mantan Dirut HGC, Deanka Kavidra Byantara.
Dan terbongkarlah sudah jika vidio yang dikirim Angga adalah hasil rekayasa yang lagi-lagi sengaja dibuat oleh orang yang tidak bertanggungjawab untuk menyudutkan Agam Ben Buana.
Linda jadi merasa bersalah karena telah berprasangka buruk pada Agam.
Ia ingin segera minta meminta maaf pada Agam, namun di ruangan ini masih banyak orang. Ada ayahnya dan juga Paman Berli, lalu sekarang ditambah lagi dengan kedatangan Pak Yudha yang membawakan sarapan.
"Sarapan-sarapan," tawar Pak Yudha sambil meletakan paket sarapan yang ia beli di meja, tepat di hadapan Agam.
Enda dan Maxim tidak tampak, mereka sudah diperintah kembali oleh Agam untuk mencari Hikam.
"Ayah, Ayah belum menjawab pertanyanku," kata Linda. Ia menatap ayahnya.
"Hikam tidak ikut ke sini, dia di hotel. Mungkin tidak enak dengan Pak Dirut," ucap Ayah Berli. Ia berbohong tentang keberadaan Hikam.
"Oh, begitu. Padahal aku mau ngobrol."
Ngobrol? Seketika batin Agam kembali bergejolak.
Kalau ia pikir-pikir, Linda banyak yang menyukai, yang ia tahu saja ada tiga. Yohan, Angga, dan Hikam. Lalu siapa lagi? Pikirnya. Namun untuk saat ini, Agam belum bisa melakukan apapun.
"Mau berangkat kerja jam berapa, Pak?" tanya Pak Yudha.
"Emm, jam sepuluh," jawab Agam sambil mengunyah dengan malasnya. Serius, nafsu makannya hilang gara-gara penelepon itu.
Tapi, Agam sedikit heran, kalau tidak salah, ia sempat melihat Linda tersenyum kepadanya.
Apa mungkin Linda sudah tidak marah lagi? Agam berpikir seperti itu.
"Ben, begini saja, Pak Berli biar Paman yang antar ke rumah sakit. Semalam, Paman sudah mendapatkan informasi tentang pak Setyadhi dari Pak Yudha. Kebetulan di rumah sakit itu ada teman lama Paman, jadi Paman mau ke sana sekalian silaturahmi."
Agam diam saja, yang menjawab malah Pak Yudha.
"Emm, bagaimana kalau setelah sarapan kita berangkat saja menjenguk pak Setyadhi? Saya kan mau menjemput bu Ira, jadi selagi bu Ira belum datang, Pak Agam bisa menjaga Linda," jelas Pak Yudha.
Ide Pak Yudha seolah mengisyaratkan memberikan kesempatan pada Agam dan Linda untuk berdua-duaan.
Paman Yordan dan Pak Berli saling menatap, dan mereka kompak mengangguk setuju sambil mengulum senyum.
Sementara yang diberi kesempatan, tidak menghiraukan. Agam sedang asyik menusuk-nusuk badan ikan menggunakan sendok hingga hancur.
Di ruangan perawatan ini tidak ada samsak, Agam tidak bisa melampiaskan kekesalan dan kemarahannya. Akhirnya menu ikan pesanan Pak Yudha menjadi korban. Ikan itu dicincang sampai halus, lalu dinikmati dengan cara dicabik kuat-kuat.
Siapa laki-laki itu, keparaaat! Batin Agam terus mengumpat, dan ia makan sambil tertunduk.
"Bagaimana, Pak? Apa boleh?" Pak Yudha meminta izin.
"A-apa? Boleh apa?" Agam tidak konsetrasi.
Lalu Pak Yudha menjelaskan ulang, dan merasa aneh juga dengan tingkah Agam. Tidak biasanya Agam tidak konsentrasi. Pasti ada masalah. Bisa jadi rindu dengan Linda. Pak Yudha berpikir cepat ke arah itu.
"Setuju," tegas Agam saat fokus utamanya pada kalimat 'Anda jaga Linda sampai bu Ira tiba.'
YES. Agam girang.
Ada kesempatan berdua. Setidaknya, ia bisa dekat-dekat dengan Linda. Tapi, tidak mungkin juga langsung mengintrogasi Linda untuk masalah penelepon itu. Sementara waktu, ia harus berpura-pura tidak tahu dan bersikap seperti biasa.
...*...
...*...
...*...
...*...
Pagi ini, Gama izin telat pada wali kelasnya dengan alasan sakit perut. Padahal, ia ingin menyelidiki suster yang menurutnya sangat lancang.
Gama penasaran. Ia tidak rela mendapatkan hinaan dan umpatan dari seorang wanita. Tidak ada dalam kamusnya ia dicaci-maki, dilempar uang, bahkan sampai digigit.
Semalam, ia sudah mencari tahu di mesin pencarian tentang jam masuk dan pulang tenaga medis yang bekerja tiga shift.
Gama mengemudikan mobil sportnya sambil sesekali memperhatikan bekas luka gigitan yang masih melingkar jelas di pergerlangan tangannya.
"Dia galak sekali, awas kamu ya!" geramnya.
.
.
.
.
Pukul 07.00 waktu setempat, Gama sudah menunggu di pintu keluar rumah sakit khusus karyawan.
Ia memicingkan mata untuk memperhatikan satu persatu mobil dan motor yang melintasi portal pintu keluar.
Tenyata, tidak ada karyawan yang pulang pukul 7 tepat. Baru mulai ada yang pulang sekitar pukul 07.20 han. Gama terus mendengus kesal karena tidak sabar menunggu.
Sampai pukul 07.30, suster lancang yang ia maksud belum juga tampak.
Sementara temannya sudah menelepon dan mengabarkan jika pada pukul 08.00, Gama harus sudah berada di kelas.
"Kemana dia? Apa dia menginap di rumah sakit?"
Kesabarannya hampir habis, namun pada saat ia hendak memutar arah, di balik kaca spion, Gama menemukan targetnya. Suster itu keluar sambil mendorong sepedanya. Menggendong ransel, memakai auter yang semalam, dan sesekali menutup mulutnya karena menguap.
Tidak ingin kesempatannya hilang, Gama langsung menguntitnya. Dan kebetulan jalur Freissya searah dengan Gama.
Freissya mengayuh sepeda dengan lambat. Ya, ia memang kelelahan. Semalam, ia sama sekali tidak memejamkan matanya. Lagi, Gama tidak sabaran.
Gama menekan klakson mobilnya dan memepet sepeda Freissya.
Freissya kaget, sepedanya oleng, hilang keseimbangan dan ....
'BRUKH.'
Freissya dan sepedanya tersungkur menghantam trotoar bersamaan dengan jeritan kagetnya.
"Aaaa," teriak Freissya.
Lututnya membentur trotoar. Yakin, pasti sangat sakit.
"Hahaha, ini baru peringatan awal," kata Gama yang ternyata sudah keluar dari mobil, melipat tangan di dada, dan menyandarkan tubuh pada mobilnya.
"Kamu?!"
Freissya yang sedang berusaha bangun melotot sempurna sambil meringis.
"Ya, ini aku masih ingat kah? Hahaha." Gama terbahak lagi.
Freissya yang kesakitan, kesal dan lelah langsung naik pitam. Namun saat menyadari seragam Gama, ia terkejut dan spontan tertawa.
"Hahaha, kamu masih bocah? Oh, pantas saja kurang atitude. Masih ingusan ternyata. Minggir!" bentaknya.
"Hei, tunggu! Berani ya kamu! Aku bukan bocah!"
Gama menahan ransel Freissya saat suster itu hendak menaiki sepedanya.
"Oh, jadi kamu sudah dewasa? Terus masih sekolah? Hahaha, tidak naik kelas, ya? Ck ck ck, kasihan sekali, kaya tapi bodoh. Miris!"
Freissya geleng-geleng kepala. Tidak cukup dengan geleng-geleng kepala, Fressya bahkan bergidik. Seolah sangat jijik pada Gama.
"Kamu, hei!" Gama merebut tas Freissya.
"Memang berapa usia kamu? Setua apa kamu, hahhh? Yang miris itu justru kamu! Sudah tua, tapi kecil dan pendek! Kamu kurang gizi, orang tua kamu pasti tidak memberimu cukup gizi dan nutrisi. Hahaha, kasihan, kasihan, kasihan," cibirnya.
"Apa katamu?!" teriak Freissya.
Dengan gerakan cepat, Freissya berjinjit, lalu mencengkram kerah baju milik Gama. Napasnya terlihat cepat, rahangnya mengeras. Freissya marah besar.
"JANGAN PERNAH BERANI MENGHINA ORANG TUAKU!" teriaknya. Dengan suara gemetar, dan wajah yang memerah.
"Kamu tidak pernah tahu bagaimana sulitnya ayahku membesarkan aku dan adik-adikku."
Freissya menatap tajam pada Gama, matanya mulai berkaca-kaca.
"Kamu tidak pernah tahu bagaimana ayahku berjuang mati-matian agar bisa menyekolahkanku hingga aku lulus dan jadi suster. Jaga mulut kamu bocah bodoh!" tegasnya sambil mendorong dan menghentak dada Gama.
Gama mematung. Ia menatap Freissya tanpa kata-kata. Freissya kembali meraih sepedanya, dan ia baru sadar kalau rem sepedanya patah.
Lalu, ia kembali menatap Gama.
"Rem sepedaku patah, aku minta ganti rugi," Freissya mengulurkan tangan.
"Hahaha, lagu lama. Minta ganti rugi juga rupanya, aku kira kamu tidak menyukai uang."
"Hei bocah! Tolong bedakan antara minta ganti rugi dan matre! Sudah, kalau tidak mau, aku juga bisa memperbaikinya tanpa bantuan kamu! Kuharap kita tidak bertemu lagi. PERMISI!"
Freissya berlalu sambil mendorong sepedanya.
Freissya juga berjalan tertatih, sekilas Gama melihat celana seragam Freissya yang berwarna putih memerah di bagian lututnya. Mungkin suster muda itu terluka saat terjatuh.
Apa aku sudah keterlaluan? Batinnya.
Segera mengejar Freissya.
"Suster, tunggu. Bagaimana kalau aku mengantarmu?" Gama menahan jok sepeda Freissya.
"Tidak perlu, tolong kamu sekolah saja yang benar. Di luaran sana banyak yang tidak seberuntung kamu. Kamu harusnya bersyukur dan tidak melakukan kegiatan sia-sia seperti tadi," tandasnya.
Tetap mendorong sepeda tanpa menoleh pada Gama.
"Oke, aku minta maaf. Aku akan ganti rugi, siapa nama kamu?"
Gama terus mengikuti, ia sudah meninggalkan mobilnya cukup jauh.
"Tidak perlu diganti, aku sudah memaafkan kamu dan kamu juga tidak perlu tahu namaku."
"Keras kepala, aku akan terus mengikuti kamu sampai aku tahu nama kamu." Gama semakin penasaran.
"Cukup ya bocah! Aku sudah bersabar dari tadi, jangan mentang-mentang kamu kaya main seenaknya saja. Biar bagaimanapun usiaku pasti lebih tua dari kamu. Pergi!" usirnya. Freissya hilang kesabaran.
"Beritahu dulu namamu, atau aku minta nomor kamu. Bagaimana?"
"Jangan mimpi!" ucap Freissya. Untuk apa juga pikirnya memberikan nomor pada sembarang orang.
"Oke, berarti aku akan mengikuti sampai rumah kamu. Lalu menanyakan nama kamu pada ibu atau ayah kamu, atau adik-adik kamu."
"Haishh, terserah!"
Freissya semakin kesal. Sambil mendorong sepedanya, ia berusaha berjalan lebih cepat untuk meninggalkan Gama tanpa menoleh ke belakang.
...*...
...*...
...*...
...*...
Freissya kaget bukan kepalang, saat ia sampai di depan rumahnya dan menengok ke belakang, pria berseragam sekolah paling elit itu ternyata benar-benar menguntitnya.
"Kamu? Dasar keras kepala!" bentak Freissya.
"Hahaha, kamu juga keras kepala. Kenapa pelit sekali? Padahal, aku hanya ingin tahu nama kamu. Uhhh, aku haus, mau minta minum, apa boleh?"
"A-apa?!"
"Yey, Kak Eissya pulang."
Tiba-tiba seorang anak kecil perempuan berusia sekitar tidak tiga tahun keluar dari rumah semi permanen itu dan memeluknya.
"Cara menulisnya bagaimana? Esa? Eisa? Eisya? Essa? Eissa? Eysa, atau Essya?" tanya Gama.
Gama benar-benar iseng dan menyebalkan. Freissya akhirya menyerah, ia menghela napas dengan beratnya.
"Baiklah, sebagai orang yang lebih tua, aku mengalah. Namaku 'Freissya Shaenette Leteshia.' Puas? Sekarang kamu pergi, dan jangan ganggu aku lagi. Cepat pergi," usirnya.
"Apa? Namamu n e t e k?" Gama kaget, sambil membulatkan tangan.
"Hei! Jangan kurang ajar, kamu ya! Shainette bukan n e t e k! Double T, tidak pakai K," teriaknya.
"Hahaha, cara menulisnya bagaimana? Tolong tulis di kertas," kata Gama.
"Ya ampun, adik-adik keluar! Ada yang mau ganggu Kakak," teriak Freissya.
Lalu tiba-tiba tiga orang bocah laki-laki keluar dengan wajah kaget.
"Mana yang mau ganggu Kakak! Mana!" teriak salah satu dari mereka.
"Tuh!" Freissya menunjuk Gama.
"Seraaang!" kata salah satunya.
"Tungguuu!" ucap yang satunya lagi.
Sementara Gama masih melongo kebingungan.
"Kita serang pakai senjata ini."
Seorang bocah memungut ranting kecil, lalu mengambil kotoran ayam yang tergeletak di rumput dengan ranting itu.
Freissya dan adik perempuannya terkekeh.
Gama melotot, mulutnya terbuka, dan baru sadar saat ketiga bocah laki-laki itu berlari ke arahnya sambil membawa senjata yang dimaksud.
"Seraaang!" teriak mereka.
"Aaaaa, ampuuun ...."
Gama berlari tunggang-langgang, dan sekilas ia melihat suster bernama Nette itu melambaikan tangan ke arahnya sambil tertawa puas.
Awas ya Nette, untungnya aku sudah tahu rumah kamu. Lihat saja, setelah ini, kamu tidak akan bisa hidup dengan tenang.
...~Tbc~...