
Linda terbangun, dan terkejut saat melihat sekitarnya. Ia berada di tempat asing. Sebuah kamar megah dengan fasilitas lengkap. Sayangnya kaki dan tangannya masih terikat.
"Tolong-tolooong!" teriaknya.
Kembali menangis pilu. Apalagi saat ini ia merasa jika ASI-nya mulai membengkak.
"Huu ... huu ...."
Pak Agam, maaf karena aku tidak jujur. Sedari awal, aku harusnya sadar kalau aku tidak bisa menghadapi mereka tanpa bantuan kamu.
Linda menyesali semuanya. Ya, setelah melewati peristiwa menegangkan yang terjadi di bandara, Linda menyadari keegoisannya.
.
.
Sementara itu di ruangan lain, tampak berkumpul tiga orang pria yang merupakan pelaku penculikan. Sedang sibuk dengan laptop masing-masing tanpa melepas masker mereka.
"Kamu berani sekali meletakan kepala LB di pangkuan kamu. Kalau pak Agam tahu, kamu bisa habis," kata seseorang. Namun matanya tetap fokus pada laptopnya.
"Hahaha, tolong jangan beri tahu pak Agam. Aku mengaku salah. Tapikan niatku baik. Di mobil kita tidak ada bantal. Aku tidak tega melihat wanita cantik tidur tanpa bantal," jelas pria lain yang tengah berkutat juga dengan laptopnya.
Di hadapan ketiganya ada camilan sederhana tapi sehat yaitu kacang oven. Minumannya juga sehat. Terdiri dari yoghurt dan minuman prebiotik yang baik untuk kesehatan usus dan saluran pencernaan.
"Kita lepas saja yuk talinya, aku kasihan."
"Jangan, kata pak Agam, LB harus tetap terikat sampai pak Agam datang."
"Ya benar, jangan dibuka. Ku dengar pak Agam mau menghukum istrinya. Hahaha, hukuman apa ya kira-kira?"
Sambil bekerja, para pria misterius itu ternyata sedang bergosip tentang Agam dan Linda.
Fakta terungkap.
Ya benar, yang menculik Linda ternyata orang-orangnya Agam Ben Buana.
"Oiya, saat semalam kita telekonferensi, apa kalian tidak melihat keanehan pada Mister X?"
"Maksudmu?"
"Dia tidak memakai hoodie hitam, malah memakai hoodie warna coklat. Ketika aku perhatikan, Mister X juga sering tertawa, kalian tidak sadar?"
"Hah? Masa sih? Aku tidak menyadarinya. Ya, mungkin dia sedang bahagia."
"Hmm, bisa jadi."
"Aku justru senang kalau dia bahagia. Sejak kekasihnya terbunuh dia kan jadi introvet. Aku pernah berdoa agar dia memiliki kekasih lagi. Pekerjaan kita memusingkan. Disadari atau tidak, keberadaan wanita di sisi kita sangat mempengaruhi kinerja kerja."
"Benar juga sih. Apalagi Mister X di sini hidup seorang diri. Dia tidak memiliki sanak-saudara seperti kita. Jadi, dia membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya lebih semangat."
"Hmm, sebenarnya aku masih penasaran dengan Mister X, dari anonymous databased, dikatakan kalau dia imigran gelap, benar tidak sih?"
"Hush, jangan sembarangan bicara. Kamu membuka data yang mana? Yang ku tahu dia itu justru mendapatkan suaka politik dari negara kita. Desas-desusnya, Mister X sengaja meminta suaka politik karena di negaranya ia merasa teraniaya. Usut punya usut, Mister X adalah putra seorang diplomat kaya-raya yang keluarganya tersisihkan karena pemahaman politiknya selalu berselisih dan bertentangan dengan pemerintah."
"Serius? Kamu yakin? Hahaha, info yang kalian dapat justru berbeda denganku." Sambil menatap keduanya.
"Apa?! Informasi berbeda?" Dua orang saling menatap.
"Yups, ssstt ... tapi jangan keras-keras. Aku dapat bocorannya begini, emm ... Mister X itu sebenarnya pangeran yang terbuang. Ia berasal dari sebuah negara monarki." Bisik-bisik.
"What's?!"
"Ssstt, jangan kaget dulu. Masih ada gosip lainnya. Katanya, dia dibuang karena memiliki penyakit, tapi ada juga yang mengatakan kalau Mister X kabur karena mendapat tekanan. Selain itu ada juga ni info yang lebih sadisnya."
"Sadis? Cepat katakan!" Mereka menyatukan kepala sejenak.
"Katanya, Mister X itu anak bungsu dari ---."
"Sedang apa kalian?!" teriak seseorang yang baru saja datang.
Sontak para pria misterius yang tengah bergosip tentang Mister X tak melanjutkan kalimatnya. Mereka kembali ke kursi masing-masing.
"Selamat datang Bos Besar," sapa semuanya. Sambil berdiri dan membungkukkan badan.
"Kalian ini, kebiasaan! Pasti sedang bergosip ya?! Apa jadinya kalau pimpinan tahu kalian suka mengobrol saat bekerja," tegasnya. Sambil duduk dan langsung mengambil dua botol minuman prebiotik. Glek, ditenggak sampai habis. Haus rupanya.
"Kami tidak sedang bergosip, Bos. Hanya menyatukan ide."
"Tidak perlu beralasan. Jangan membohongi saya. Satu hal lagi, saya tidak suka dipanggil bos besar, panggil Maga atau Agam saja, faham?" Oh, ternyata yang datang adalah Pak Dirut.
"Kami tidak faham," jawab mereka serempak.
"Apa?! Dasar kalian ya!" umpat Agam sambil berdiri dan membuka jasnya. Lalu ia bertanya ....
"Di mana istri saya?"
"Ada di kamar milik Anda."
"Baik, terima kasih." Agam bergegas.
.
.
Dan sebelum masuk ke kamar yang dimaksud, pria itu memakai masker full face terlebih dahulu. Lalu membawa sebuah tongkat golf yang tersimpan rapi di salah satu sudut ruangan. Entah apa yang akan dilakukan Pak Dirut, kenapa ia membawa tongkat golf ya?
Lalu membuka pintu kamar tersebut dengan perlahan dan menguncinya dari dalam.
Deg, walaupun kesal pada Linda, tapi saat melihatnya dalam kondisi seperti ini, hati Pak Dirut terenyuh juga.
Kesalahan kamu banyak. Kali ini saya harus tegas. Apa kamu belum sadar dengan siapa kamu menikah? Batin Agam.
Agam mendekat, posisi Linda memunggungi Agam. Terlihat jelas jika Linda sedang terisak. Bahunya bergerak-gerak.
'PRAK.'
Agam memukul sisi tempat tidur yang terbuat dari stainlis itu dengan cukup kuat. Tentu saja Linda kaget. Ia tersentak. Namun tak bisa berbalik karena terikat. Hanya bisa meratap dan memohon.
"Ampun, jangan menjahatiku," kata Linda.
Ia tidak tahu jika sosok di belakangnya adalah Agam Ben Buana. Orang yang sangat ia nantikan kedatangannya.
Beraninya kamu memakai jeans sampah seperti itu.
Yang dimaksud jeans sampah adalah celana panjang Linda yang bolong di bagian lututnya.
Kamu sudah berani membohongi saya. Kamu membujuk suster dan dokter Rita agar tidak memberitahu kalau polisi menjemputmu. Kamu pikir dokter Rita akan patuh padamu?! Sebelum dokter Rita melapor, saya bahkan sudah tahu kalau polisi akan menjemput kamu. Dasar cantik!
Ternyata, secara diam-diam, dokter Rita telah melaporkan kondisi Linda pada Agam saat masih berada di Pulau Jauh.
"Huuu ... tolong biarkan aku menemui putraku. Aku mau menyusuinya." Linda kembali memohon, ia begerak memutur tubuh untuk melihat sosok penculiknya.
"Ha ---." Jelas kaget.
Sosok yang berdiri di depannya terlihat menakutkan. Tinggi tegap, memakai full masker, dan membawa tongkat golf. Linda tentu saja tidak mengenali Agam. Kenapa? Karena perawakan para penculik itu memang identik dengan tubuh suaminya. Tinggi dan tegap.
Agam mendekati Linda. Sedikit menyesal karena tidak mengaktifkan alat kamuflase suara yang biasa digunakan Mister X. Oh, ternyata Pak Dirut juga memiliki alat itu.
"Ampun," kata Linda sambil memejamkan mata dan memalingkan wajah.
Agam ada ada ide. Ia mengambil pulpen dan kertas yang ada di atas nakas untuk menulis sesuatu. Ditulis sejelek mungkin agar Linda tidak mengenal tulisannya.
"Biakan aku menciummu, maka ikatanmu akan kulepaskan." Sengaja mengatakan kata 'aku' bukan 'saya.'
Lalu menyodorkan tulisan itu ke hadapan Linda.
"Aku tidak sudi!" bentak Linda.
Agam menulis lagi.
"Atau layani aku saja. Mari kita saling menikmati dan memuaskan, maka kamu akan aku lepaskan. Kemampuanku di atas ranjang sangat hebat , kamu tidak akan menyesalinya."
"Tidak! Tidak mau! Lebih baik aku mati dan membusuk di sini dari pada harus melayani kamu! Cuihh," Linda meludahi kertas itu.
Agam tersenyum. Jadi ingat saat itu. Saat ia memperkosa Linda. Niat jahil Pak Dirut tak cukup sampai disitu.
"Aku akan memaksa kamu, istilah tersohornya akan memperkosa kamu, mau?" tulisnya.
"Bunuh saja aku! Huuu huuu." Linda menangis kuat-kuat hingga bekeringat.
Pak Dirut semakin nakal. Ya, ia memang berniat mengerjai istrinya. Agam naik ke tempat tidur seraya melepas dasinya.
"Pergiii! Tolooong!" teriak Linda.
Linda menggulingkan badan. Berniat menjatuhkan diri dari tempat tidur. Agam tentunya tidak mau tubuh istrinya dalam bahaya. Segera meraih bahu Linda dan menahannya.
"Lepaaas," teriak Linda sambil meronta.
Lama-lama Agam tak tega juga. Ia akhirnya melepaskan jeratan yang mengikat tangan Linda. Linda memeluk tubuhnya sendiri saat tangannya tak terikat. Ia terlihat sangat ketakutan. Tubuhnya gemetar.
Kemudian Agam melepas tali yang mengikat kaki Linda. Setelah terlepas, Linda berlari ke arah pintu, terburu-buru menarik gagang pintu. Namun percuma saja, kamar tersebut sudah terkunci.
Linda menjatuhkan tubuhnya ke lantai, ia menangis dan kembali memohon untuk dibebaskan.
"Apa kamu butuh uang? Berapa yang kamu mau, hah? Tapi tolooong, tolong jangan menodaiku. Aku ibu menyusui, aku janji akan memberimu uang, asalkan tolong belikan aku pompa ASI, yang manual saja, sama kantung ASI-nya ya," ratapnya.
Agam menghela napas, ya ia tentu saja tahu kalau Linda membutuhkan peralatan itu. Peralatan pompa itu bahkan sudah tersedia di kamar ini. Ada di dalam kulkas. Agam kembali mendekati Linda yang sedang bersimpuh, lalu tangan nakalnya mengusap bagian itu, niatnya untuk memastikan, apakah harus segera dipompa atau belum.
"Jangan k u r a n g a j a r!" bentak Linda. Ia menepis tangan Agam. Lalu ....
'PLAKK.' Linda menampar Agam sekuat tenaga yang ia miliki.
"Lumayan," gumam Agam. Mengusap pipinya yang terhalang masker full face.
"Jangan menghinaku, tolong .... Aku itu tidak seindah kelihatannya, aku bau dan jorok. Aku bahkan jarang mandi. Aku artis yang terbuang dan tak diinginkan." Linda membeberkan fakta palsu yang membuat Agam ingin tertawa. Tapi ia tahan.
Dasar cantik, apa yang kamu katakan justru membuat semua pria penasaran.
"Pak Agam, huuu ...."
Agam mendengar Linda memanggil namanya.
Apa sayang, saya ada di depan kamu, selama masih hidup, saya akan selalu berada di sampingmu, jawabnya dalam hati.
Lalu mengambil peralatan pumping yang telah disiapkan untuk Linda selama disembunyikan di sini. Linda kaget karena peralatan yang ia inginkan sudah ada di hadapannya. Lengkap, dan bermerk.
Agam kemudian meningalkan Linda. Ia menunda hukumannya dan memberi kesempatan pada Linda untuk pumping.
Selain itu, Agam juga harus memastikan jika Keivel baik-baik saja. Rasanya tak elok menikmati tubuh isterinya saat hatinya tengah gundah-gulana akibat memikirkan Keivel.
Hah, jadi Pak Dirut sebenarnya ingin begitu? Bukannya mau menghukum Linda?
.
.
Di luar kamar, Agam kembali menghubungi Maxim dan Enda untuk mendapatkan informasi terbaru tentang keberadaan putranya.
"Mereka ada bersama polisi, Pak. Mereka aman. Kata Aiptu Joey, mobil yang membawa Keivel sebentar lagi akan tiba di markas. Aiptu Joey dan Brigadir Lelly sudah ada di markas. Mereka akan menjamin keselamatan Keivel selama berada di sana."
Informasi itu membuat Agam senang. Pak Dirut tersenyum.
...❤...
...❤...
...❤...
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Keivel kembali tertidur.
"S i a l! Mobil yang di belakang kita mencurigakan!" kata polisi yang mengemudi.
"Mana?" tanya temannya.
"Itu lho yang warna putih." Sambil menunjuk spion.
"Apa?!"
"Tambah kecepatan, Pak!"
"Siap!"
"Kalian semua tolong pakai sabuk pengaman! Kita sepertinya dikejar penjahat," seru polisi.
"APA?! Serius, Pak?! Kenapa jadi terbalik?! Harusnya polisi yang mengejar penjahat, kan?! Yang benar saja!" Hikam protes.
"Hikam, cukup! Kita patuh saja, cepat pakai sabuk pengamannya," kata dokter Rita, dan iapun bersiap menggendong Keivel. Mengikat tali gendongan ke lehernya.
"Kita ke pos saja, jangan ke markas," ucapa pengemudi. Lalu tancap gas, suster Dini dan Ners Sinta sampai beteriak karena kaget.
"Ini gila! Kok bisa polisi dikejar penjahat!" Hikam masih tidak terima.
"Kenapa tidak ke markas saja, Pak? Bukannya pos polisi di jalur ini lebih jauh dari pada ke markas?!" tanya dokter Rita. Ya, dari awal, ia memang sudah curiga dengan polisi-polisi ini.
"Anda bisa diam tidak?! Atau saya sumpal mulut Anda dengan peluru!" bentak polisi yang berada di samping kemudi.
"Lakukan saja kalau berani! Aku tidak takut!" tantang dokter Rita.
"Hei, kamu polisi bukan sih?! Berani sekali Anda mengatakan itu pada temanku. Dia dokter, tidak pantas kamu perlakukan seperti itu!" bela Hikam.
"Di depan hukum semuanya sama!" Polisi itu tidak mau kalah.
"Cukup! Jangan berkelahi! Kita dalam bahaya! Jangan main-main!" teriak polisi yang mengemudi.
'DOR.'
Serius, mobil yang ada di belakang melesatkan tembakan saat jalur yang dilintasi sepi dari kendaraan lain.
"G i l a! Mereka bersenjata!" Hikam memucat.
"Makanya kamu diam! Kita tidak sedang main-main!"
"Tambah kecepatan!"
"Baik!"
'BRUUUM.'
Ditengah kepanikan itu, tangan dokter Rita segera meraih ponsel untuk melaporkan keadaan genting ini pada Agam Ben Buana.
Namun, apa yang terjadi?
Ponsel dokter Rita malah lowbath.
Hahh, bagaimana ini? Dokter Rita panik.
Mobil polisi tipe minibus itu kini melintasi jalanan dengan kecepatan kian tinggi. Terkadang oleng dan berdecit. Seolah tidak bisa mengendalikan antara kecepatan, gaya dorong, dan keseimbangan.
"Pak Polisi bisa menyetir tidak sih?!" Hikam kembali panik.
"Pak hati-hati! Dari pada kejar-kejaran, kenapa tidak dilawan saja?! Bapak juga punya senjata, kan?" seru dokter Rita.
"Ya, tapi ini tidak mudah, ada warga sipil yang perlu dilindungi, kami dilarang membuat keonaran!" bantah polisi bersamaan dengan mobil penjahat yang berhasil mengejar.
Mobil penjahat jenis j e e p itu menikung dan menyerang. Lalu menghantam, dan menabrak sisi kanan mobil polisi dengan tekanan yang sangat keras.
'BRUKK.'
'BRAKK.'
Dua kali benturan sudah cukup membuat mobil polisi oleng dan hampir kehilangan kendali.
"PAK, REM PAK! REM!" teriak Ners Sinta, ternyata suaranya menggelegar.
'CKIIIT.'
Segera direm kuat-kuat hingga mobil itu memutar, lalu menimbulkan suara gesekan keras antara ban versus aspal dan menghasilkan bunyi yang mengilukan telinga. Sontak semuanya beteriak.
"Aaaa," histeris. Sambil memuji nama Yang Maha Esa dalam keterkejutan itu.
Dokter Rita memeluk tubuh Keivel erat-erat. Bayi itu bangun tapi tidak menangis. Mobil polisi berhenti bersamaan dengan napas mereka yang terengah-engah.
"Keluar kalian!" teriak para penjahat yang turun dari mobil j e e p."
Mereka menodongkan senjata laras panjang pada kaca mobil. Bukannya melakukan perlawanan, dua orang polisi yang berada di dalam mobil malah angkat tangan tanda menyerah.
Hikam ingin protes, tapi dilarang oleh dokter Rita. Mereka akhirnya angkat tangan, membiarkan para penjahat itu memecahkan kaca mobil dan memaksa mereka untuk keluar.
"Keluar-keluar!"
"Cepat!"
"Ja-jangan menyakiti bayi ini, kumohoon," ratap dokter Rita.
"Diam kamu! Justru kami menginginkan bayi itu!" kata seseorang dari komplotan penjahat itu yang sepertinya berjenis kelamin wanita jika diperhatikan dari postur tubuh dan suaranya.
Sementara penjahat yang lainnya tengah menyeret polisi. Polisi yang menyerah tanpa perlawanan diikat tangan dan kakinya menggunakan plester hitam.
Hikam pasang badan, menghalangi tubuh dokter Rita dengan tubuhnya.
"Jangan lakukan apapun, atau kalian akan menyesal!" ancam Hikam.
"Siapa kamu?! Habisi dia!" titah wanita itu.
"Baik, Nyonya."
Dua orang dengan perawakan besar, maju. Mereka menjambak rambut Hikam dan tanpa kompromi satu dari mereka segera menikam dada Hikam sebelum pemuda Pulau Jauh itu sempat melakukan perlawanan.
'Srash.'
Pisau menancap bersamaan dengan teriakan kesakitan dari bibir Hikam yang diiringi jerit tangis dokter Rita. Suster Dini dan Ners Sinta gemetar ketakutan. Nyonya jahat tertawa puas.
"Tidaaak, Hikaaam," teriaknya.
Dokter Rita histeris. Badannya lemas seketika. Ia melihat dengan jelas sebuah pisau menancap di dada kiri Hikam dan darah merah segar mengalir dari sana.
"Hahaha, rasakan!" Penjahat riang.
"Ce-cepat ... la-lari, se-selamatkan Ke-Keivel," lirih Hikam beberapa detik sebelum tubuhnya terkulai di aspal dan tak berdaya.
"A-aku tidak bisa meninggalkanmu Hik ---."
Sebelum dokter Rita melanjutkan kalimatnya, Ners Sinta inisiatif merebut Keivel dari pangkuan dokter Rita lalu berlari tunggang-langgang disusul oleh suster Dini.
"Kejar mereka! Kejaaar!"
"Baik Nyonya."
"Hikam, huuu ... jangan mati," dokter Rita memeluk Hikam sambil menatap wajah Hikam yang memucat.
"Tolooong," teriak dokter Rita.
Namun pengguna jalan tak ada yang mempedulikan. Mungkin berpikir semua masalah telah teratasi karena mereka melihat keberadaan mobil polisi.
"Aku ingin membunuh Agam Ben Buana, tapi yang kudapat malah serpihan-serpihannya!" kata wanita bermasker hitam itu sambil mengarahkan senjata ke arah Ners Sinta yang berlari membawa Keivel.
Mata dokter Rita bergulir cepat antara moncong pistol dan Ners Sinta yang saat ini sedang berusaha menyetop mobil yang melintas untuk mendapatkan tumpangan dan nyaris ditangkap oleh pria jahat yang mengejarnya.
Saat pelatuk pistol ditarik, dengan keberanian mantap, dokter Rita melompat dan mendorong bahu wanita yang dipanggil Nyonya itu agar tembakannya melenceng.
'DOR.'
Usaha dokter Rita berhasil. Peluru melesat dan meleset dari sasaran yang dimaksud.
'TAKK.' Senjata makan anak tuan.
Peluru mendarat tepat di pilipis penjahat pria yang mengejar Ners Dini.
Pria naas itu membeliak, bola matanya seolah akan keluar akibat tekanan kuat dari peluru yang memecahkan tulang tengkorak dan menerobos bagian terdalam dari isi kepalanya. Dipastikan ada banyak pembuluh darah di dalam kepalanya yang hancur seketika. Dari hidung dan telinga pria itu memancar darah segar.
Seluruh saksi mata terkejut. Terutama sang pelaku utama. Mata mereka spontan terpejam saat darah segar memancar jua dari titik tembakan seiring terjatuhnya tubuh korban menimpa aspal, bersimbah darah, dan meregang nyawa saat itu juga.
Setiap yang bernyawa PASTI akan merasakan mati.
"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh."
Semoga korban diampuni dosa-dosanya, aamiin.
"K u r a n g a j a r! Kamu juga harus mati!" teriak wanita itu. Segera membidikan senjata ke arah kepala dokter Rita.
"Cepat lariii," teriak dokter Rita pada Ners Sinta.
Sementara suster Dini hanya bisa mematung, ia belum bisa menerima kenyataan mengerikan ini. Andai masih selamat, suster Dini yakin akan segera mengundurkan diri dari pekerjaan ini.
Ners Sinta sadar akan misinya. Saat sebuah taksi mendekat. Tanpa berpikir lagi, Ners Sinta kabur membawa Keivel menaiki taksi tersebut.
'DOR.'
Sebelum si Nyonya menekan pelatuk, suara tembakan telah datang dari arah lain untuk melumpuhkan kaki si Nyonya namun meleset.
Syukurlah, polisi lain tiba di waktu yang tepat. Mereka curiga setelah menyadari jika mobil yang membawa putra Agam Ben Buana tidak tiba di markas pada waktu yang telah dijadwalkan.
"Angkat tangan!" teriak Aiptu Joey.
"Jangan begerak!" timpal Brigadir Lelly yang berjalan memutar bak hero girl sambil mengokang pistolnya.
Dokter Rita menangis haru sambil memeluk Hikam. Dari nama yang tertera di name tag, dokter Rita tahu jika polisi yang datang kali ini ada di pihak Agam Ben Buana. Ia pun bernapas lega.
"Kejar taksi itu!" teriak Aiptu Joey pada anak buahnya.
"Baik, Pak."
Sementara Brigadir Lelly segera melumpuhkan Nyonya jahat. Mereka berduel ala petarung profesional.
"Pak Joey, tolong ...," dokter Rita memohon sambil memeriksa nadi di leher Hikam yang kali ini napasnya nyaris satu-satu.
"Siap! Cepat tolong!" titah Aiptu Joey.
"Siap laksanakan!"
Petugas polisi lantas sigap membopong Hikam, yang lainnya masih adu jotos dengan dua orang penjahat yang berkomplot dengan si Nyonya.
"Hikam, kamu harus bertahan ya ... huuu ...."
Dokter Rita tak henti meratapi dan menyemangati Hikam yang di detik ini telah kehilangan kesadarannya.
"Hikaaam huuu ...," dokter Rita mengguncang tubuh Hikam seraya berurai air mata.
...❤...
...❤...
...❤...
Sirine polisi menggema, suasana jalan raya jadi mencekam, sebagian pengguna jalan memilih menepi. Ada juga yang merekam kejadian ini dari dalam mobil masing-masing. Separuhnya lagi turut memberikan dukungan pada polisi dengan memberikan jalan.
Apa yang terjadi?
"Lapor Pak Agam! Mobil taksi yang membawa Keivel dan Ners Sinta dipastikan bukan taksi biasa. Dia musuh Anda! Kami sedang mengejarnya!" kata Aiptu Joey, ia berbicara dengan Agam melalui earphone-nya.
"Apa?! Lanjutkan pengejaran! Kirimkan pada saya titik lokasinya! Bagaimana keadaan dokter Rita, Hikam, dan suster Dini?!" Suara Pak Dirut.
"Em, Hikam kritis. Dokter Rita dan suster Dini aman terkendali."
"Terima kasih, anak buah saya akan mengepung taksi di titik lain. Pak Joey tidak perlu meminta bantun pada pos lagi," kata Agam.
"Baik, Pak."
...❤...
...❤...
...❤...
Linda telah selesai memompa, tadi sempat mendengar si penculik masuk ke kamarnya. Untungnya Linda lebih memilih memompa di kamar mandi dan mengunci pintu.
Saat menyusun kantung ASI di dalam freezer, Linda keheranan. Ia merasa jika warna dan motif kantung ASI ini identik dengan kantung ASI yang biasa ia gunakan. Lalu ketika melihat barisan sabun dan shampo pria yang berada di kamar mandi, Linda merasa dejavu.
"Tunggu," wanita elok rupa nan seksi itu berpikir sejenak.
Setelah ditelaah, Linda merasa diperlakukan berbeda. Karena penasaran, Linda memberanikan diri mencari kunci di laci-laci untuk membuka salah satu lemari. Saat berhasil membukanya, tampaklah di sana baju pria yang tersusun rapi. Segera diambil salah satunya. Lalu dihidu.
Deg, jantungnya langsung berdegup kencang. Ia mengenali aroma pewangi pada baju ini.
"Pak Agam? Benarkah?"
Antara bahagia bercampur kesal. Tapi ada perasaan takut juga. Linda takut Agam murka karena dirinya tidak jujur. Ada juga ketakutan lain. Linda takut jika dugaannya salah.
"Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?"
Linda resah-gelisah. Mondar-mondir tak ada tujuan. Dan derap langkah dari luar kamar membuat Linda kian dilema. Akhirnya kembali ke kamar mandi dan mengunci diri.
Linda bersembunyi di balik pintu saat pintu kamar mandi digedor dari luar dengan hentakan yang cukup kencang. Linda yakin penculiknya menggunakan tongkat golf untuk memukuli pintu.
Suara itu seolah berkata ....
"Cepat buka! Cepat buka! Cepaaat!"
Serius, Linda ketakutan.
Buka, jangan, buka, jangan. Dilema.
'BRAK.'
'BRAK.'
Sekarang bukan lagi digedor. Namun sepertinya akan didobrak dari luar.
Linda gemetar.
Ting, ada ide. Segera naik ke bathup dan menyalakan air. Rencananya akan pura-pura bunuh diri dengan cara ternggelam.
Berhasilkah Linda mengelabui si penculik?
Entahlah.
...~Tbc~...
Rekor, 3305 kata. Amazing, yang tidak komen satu katapun, super tega. Canda ya, hehe. Untuk yang berkenan komentar, terima kasih banyak. Selamat hari Jum'at. Mari berbagi kebahagiaan dengan sesama. Termasuk memberi kebahagian pada nyai dengan cara; like, vote, dan komentar.