
Sial! Lepaskan aku! Dasar mesum!
Gerutu Freissya dalam batinnya. Setelah mendapat bantuan napas, ia jadi punya energi untuk memukul perut Gama.
Tapi yang dipukul malah semakin intens. Bukannya melepas Freissya, malah mengangkat tubuh Freissya, disandarkan di sisi kolam, lalu diciumi lagi dan lagi. Kali ini menyerang bagian leher Freissya
"Val! Gi ---."
Gama membekap bibir Freissya dengan tangannya hingga wanita muda itu tak dapat mengumpat lagi, sementara ia lanjut mencium leher Freissya yang basah.
"Sejak kapan kamu berani berpakaian seperti ini, hahh?!" bisik Gama.
Sementara tangan kanannya masih membekap bibir Freissya dan tangan yang lain mengekang tangan Freissya.
"Apa kamu lupa kamu milik siapa?! Apa kamu lupa tubuhmu ini milik siapa, hahh?!"
Singkirkan tanganmu dari bibirku manusia buaya!
Freissya hanya bisa mengumpat dalam batinnya.
"Aku tak suka melihat kamu bersolek seperti ini!"
Lalu Gama mengambil air kolam dan mencuci muka Freissya hingga make upnya sirna.
"Kamu tak berhak mensabotase tubuhku! Di antara kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi! Kamu sendiri yang meninggalkanku dan memintaku putus!" teriak Freissya sambil memukuli dada Gama.
"Bibirmu sudah bersih dari lipstik, sekarang aku mau rasa yang alami," kata Gama.
Lalu kembali memagut bibir Freissya dengan gerakan yang sangat menggebu dan tanpa ampun. Begitulah jadinya jika buaya yang terkekang tiba-tiba dikeluarkan dari kandang. Gama sangat lahap, dan rakus. Ya, setengah tahun lamanya bibir yang beraroma vanila itu bersemedi.
'Krek.' Freissya menggigit indra pengecap milik Gama karena sangat kesal.
"Ahh, berani kamu melawanku?!" Gama meringis kesakitan, lalu iapun beteriak.
"Penjaga! Bantu aku! Ada yang tenggelam!" teriak Gama sambil menginjak ujung gaun milik Freissya hingga yang terlihat saat ini adalah adegan Gama yang kesulitan menarik Freissya dari dasar kolam.
Karena sebelumnya seluruh penjaga diwanti-wanti untuk tidak mendekati Gama, alhasil teriakan Gamapun tak ada yang menghiraukan.
"Penjaga!" Gama beteriak lagi.
"Tolong! Tolooong!" Freissyapun tak mau kalah, ia meminta tolong. Sayangnya, tetap tak ada sahutan.
"Sampai kapan kamu akan pura-pura menginjak rokku?! Dan sampai kapan juga kamu akan pura-pura amnesia?!" sentak Freissya yang semakin kesal karena di dalam kolam kaki Gama tengah menginjak-injak gaunnya.
"Dari mana kamu dapat gaun semahal ini?! Apa kamu menggoda pria kaya-raya?!" tuduh Gama. Ia cemburu dan tak rela Freissya tampil anggun dan cantik.
"Singkirkan kakimu! Ini gaun milik kak Linda, aku juga dirias oleh kak Linda," jelas Freissya.
"Hahh? A-apa katamu?!" Gama mematung sejenak.
"Kamu serius?!"
Sambil mengangkat tubuh Freissya dan meletakannya di sisi kolam, lantas Gama memeriksa ujung gaun yang dikenakan Freissya.
Gama terkejut, gaun itu telah terkoyak-koyak, bahkan puluhan mutiaranya tampak mengapung di permukaan kolam.
"Kamu harus tanggung jawab!" teriak Freissya.
"Aku tidak salah! Ini salah kamu! Harusnya kamu menolak memakai baju ini!" katanya. Lalu naik ke sisi kolam dan menelepon seseorang.
"Cepat ke kolam renang, bawa baju ganti untukku. Aku tak sengaja melihat seorang gadis yang tenggelam. Aku basah kuyup karena menolong gadis itu," jelas Gama. Ponsel Gama rupanya tahan air.
"Tenggelam? Val! Bukannya kamu yang mendorongku ke kolam renang?!"
"Aku tak ingat sudah mendorongmu! Justru kamu yang terpeleset!" tuduh Gama.
Lalu beberapa orang datang, mereka adalah pak Yudha dan Maxim, serta polisi yang pengawal Gama. Salah satunya segera mengeringkan badan Gama, lalu membawa Gama ke kamar ganti.
"Tuan Yasa kenal dengan gadis itu?" tanya polisi.
"Tidak," jawab Gama singkat.
"Apa? Dia pura-pura melupakanku?" gumam Freissya sambil mengepalkan tangannya.
"Ice?"
Linda menyusul, dan kaget melihat keadaan Freissya. Ditambah dengan gaun miliknya yang rusak.
"Kak, maaf, aku tadi tergelincir ke kolam, gaun Kakak rusak."
Tak ada pilihan kecuali berbohong. Tak mungkin 'kan kalau mengatakan yang sebenarnya?
"Tak apa-apa, aku kaget karena melihat kondisi kamu. Masalah gaunnya, tak perlu dipikirkan. Pak Agam bisa membelikanku yang baru," kata Linda sambil menuntun tangan Freissya untuk segera berganti pakaian.
Sambil mengikuti langkah Linda, Freissya merenung. Kini ia sadar jika Gama sebenarnya masih menganggap ia sebagai kekasihnya.
Freissya yakin Gama memiliki alasan hingga memutuskan untuk pura-pura melupakannya. Spontan ia mengusap bibirnya sendiri dan mengenang kembali kejadian di kolam renang.
...***...
"Kok bisa baju kamu sampai koyak begini? Di kolam renang 'kan tak ada apapun. Kalau kamu jatuhnya di rawa-rawa, ya bisa jadi ada buaya atau tanaman liarnya," kata Linda saat ia membantu Freissya berganti pakaian.
"Memang ada buayanya, Kak," celetuk Freissya spontan. Mungkin maksud Freissya buaya darat.
"A-apa?!" Linda melongo.
"Emm, haha hahaha, a-aku bercanda, Kak." Wajah Freissya langsung merona.
"Tunggu, Ice, ini kenapa leher kamu? Kok merah seperti bekas kecupan, sih?" Linda terkejut.
"A-apa?!" Kali ini Freissya yang kaget.
"Kakak serius, 'nih coba kamu lihat." Linda menyodorkan cermin kecil pada Freissya.
"Oh, i-ini? Dari kemarin juga ada kok, Kak. I-ini aku alergi," elak Freissya.
Padahal, dalam batinnya ia tengah merutuki Gama. Sekarang ia ingat jika Gama sempat menyematkan satu tanda cinta di lehernya.
"Sebentar, perasaan saat Kakak merias kamu, Kakak tak lihat ada tanda merah ini." Linda mengernyitkan alisnya.
"Emm, a-anu Kak, tadi tak terlihat karena sudah aku olesi salep." Lagi, Freissya menyangkal.
Entah Linda pura-pura polos, atau memang sengaja mengalihkan pembicaraan tersebut agar Freissya tak malu.
"Sip," Freissya menghela napas. Ia merasa lega.
Setelah Freissya mengganti pakaian, mereka kembali ke tempat acara. Saat ini, tengah berlangsung obrolan ringan antara keluarga Agam dan tutornya Gama. Tutor Gama sedang menjelaskan perkembangan Gama pada keluarga selama masa observasi di markas BRN pasca Gama koma dan amnesia.
Sedangkan Gama alias bintang utama acara ini, tengah menikmati kudapan dengan gaya santainya. Tak tersirat sedikitpun jika pria itu telah melakukan hal nakal pada Freissya.
Saat Freissya melintas, bola matanya bergulir demi menatap kekasih rahasianya itu. Gama menutup bibirnya dengan telapak tangan saat ia tak tahan menahan senyuman karena teringat lagi kejadian di kolam renang.
"Ehm ehm."
Gama pura-pura berdeham dan kembali dingin saat polisi yang mengawalnya mendekat untuk mengatakan sesuatu.
"Sultan Yasa, kita akan pulang dalam waktu satu jam lagi, apa Anda masih ingin melakukaan sesuatu di rumah ini?"
"Aku mau tidur di kamarku, aku rindu kamarku," katanya.
"Baik, akan saya laporkan dulu pada komandan," ucap polisi pengawal tersebut.
...***...
Sementara itu, di ruang kerjanya, Agam Ben Buana menggerutu sambil mengepalkan tangan.
"Dasar buaya darat! Beraninya kamu mesum di kolam renang, sialan kamu, Gama!" geramnya.
Pak Dirut baru saja mengecek rekaman CCTV yang ada di kolam renang setelah mendengar keributan dari para pengawal kalau Freissya tenggelam. CCTV di kolam renang hanya bisa dilihat oleh orang lain atas persetujuan Agam atau setelah Agam melihatnya terlebih dahulu.
"Rupanya ingatan kamu sudah pulih ya?"
Pak Dirut tersenyum. Namun kembali menunjukkan wajah kesalnya karena melihat dengan jelas jika adiknya itu mengendap-endap, lalu dengan sengaja dan tanpa paksaan dari pihak manapun mendorong Freissya ke kolam renang.
Pak Dirut mungkin tak sadar, jika dirinya sendiri bahkan pernah melakukan adegan ranjang bersama Linda di kolam renang. Eh, tapi 'kan kalau pak Dirut halal ya?
Setelah menghapusnya, Agam keluar dari ruang kerjanya. Di perjalanan, ia bertemu dengan Gama yang saat ini telah diperkenankan masuk ke kamar pribadinya.
"Pak Agam, ada waktu sejam lagi, Sultan Yasa mau istirahat di kamarnya," kata polisi.
"Baik, saya saja yang mengantarnya," kata Agam.
"Tidak perlu! Aku mau diantar sama polisi saja," tolak Gama.
Lalu pak Dirut membisikan sesuatu di telinga adiknya.
"Kamu kurang mahir, nilai kamu lima koma lima," bisik Agam.
"Apa maksudmu?! Aku tak mengerti!" sentak Gama. Padahal, ia sadar benar kalau kakaknya pasti telah menangkap basah ulahnya saat berada di kolam renang.
"Hahaha, baik, kalau kamu tak mau diantar oleh kakakmu sendiri, saya tak masalah. Tapi, apa Sultan Yasa butuh seseorang untuk menemani Anda di dalam kamar?" goda Agam.
"Memangnya boleh?" Gama terjebak. Ia menatap pada polisi pengawal.
"Boleh Sultan. Jika Anda ingin ada seseorang yang menemani boleh-boleh saja."
"Baik, kalau boleh, aku minta gadis yang mengalungkan bunga padaku yang menemaniku," kata Gama.
"Hahaha," Agam tak kuasa menahan tawanya.
"Maaf Sultan Yasa, yang boleh menemani hanya pria tulen," jelas polisi.
"Apa?! Ya sudah, aku tak perlu ditemani siapapun!" ketusnya. Lalu melangkah cepat menuju kamarnya. Agam dan polisi pengawal saling menatap.
"Selama dia di kamarnya, biarkan saya yang mengawasi," kata Agam.
Ia menatap tajam pada polisi pengawal dengan mata sayunya yang berubah menjadi tatapan mata pembunuh.
Ya, Agam hafal benar jika polisi pengawal yang ada di hadapannya ini pernah bersitegang dengannya di masa lalu. Tepatnya saat Agam masih menjadi anggota BRN dengan identitas Maga.
"Ya Pak. Si-silahkan," jawab polisi tersebut sambil menunduk.
Agam lantas menyusul Gama. Ia memang harus ngobrol empat mata dengan adiknya itu untuk meluruskan kesalahfahaman yang terjadi enam bulan yang lalu.
...***...
Di kamarnya, Gama langsung merebahkan diri. Kamar ini tak berubah sedikitpun.
"Gama, apa Kakak boleh masuk?"
Terdengar suara Agam meminta izin masuk ke kamarnya.
"Tidak boleh!" jawab Gama.
"Apa aku boleh masuk?" Terdengar suara Freissya. Gama terkejut.
"Ya, kamu boleh masuk."
Dasar buaya, di manapun selalu mencari kesempatan. Gama segera bangun untuk membuka pintu kamarnya.
Saat pintu terbuka.
"Horeee, kita boleh masuk," teriak bu Nadia.
Ternyata, di luar kamar ada banyak orang. Selain ada Agam, bu Nadia, dan Freissya, ternyata ada Linda, Keivel dan keluarga Gama yang lainnya.
Mereka masuk bersamaan, lalu bekerumun dan memeluk Gama. Yang tidak ikut dalam kerumunan hanya Freissya dan Keivel yang saat ini sedang dipangku oleh Freissya. Gama menghela napas sambil menatap Freissya.
"Cukup, cukup," kata Agam. Lalu yang lain keluar dari kamar Gama, kecuali Agam dan bu Nadia.
"Suster Ice, masuk," bu Nadia melambaikan tangan pada Freissya.
"Ti-tidak, Bu," tolak Freissya.
"Cepat masuk, jangan membantah calon ibu mertua kamu," goda Agam.
Percayalah, kalimat Agam, membuat telinga Gama dan Freissya memerah. Keduanya kembali saling berpandangan dan tersipu. Pipi keduanya merona. Agam dan bu Nadiapun berpandangan sambil mengulum senyum.
...~Tbc~...