
"Mom, Paw, cepat puwang (pulang)! Twins menangis! Kasihan meweka (mereka), and ganggu tewinga (telinga) Kei! Bye!"
Lalu sambungan telepon itu terputus. Agam tertawa. Baru kali ini ia dibentak dan dimarahi oleh seseorang. Tawa pak Dirut bahkan begitu lepas.
"Hahaha, hahaha." Sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Ya, jelas sekali pak Dirut tertawa lepas dan terlihat sebahagia itu. Salah satu penyebabnya pasti karena wanita spesial yang berada di sampingnya. Wanita unik yang bahkan bisa menggemparkan dunia atau jadi rebutan seluruh pria di muka bumi ini jika saja rahasia yang dimilikinya terbongkar.
"Berisik."
Dari balik selimut Linda protes. Akibat kegiatan unboxing yang melelahkan itu, istirahat Linda jadi minimalis. Ia baru bisa tidur tenang setelah melaksanakan shalat Subuh. Pak Dirut bahkan sempat memintanya lagi. Tapi, karena melihat Linda kelelahan, Agam mengurungkan niatnya.
"Maaf sayang. Pak Yudha tadi telepon. Ternyata, yang mau bicara Keivel. Keivel marah-marah dan meminta kita agar segera pulang."
"A-apa? Keivel?"
Mendengar nama Keivel, Linda langsung terbangun. Linda memakai baju tak berlengan dengan garis di bagian dada yang cukup rendah. Tampak jelas jika di bagian tubuhnya ada tanda cinta.
"Sayang, tidur saja." Agam kembali merebahkan tubuh Linda.
"Kita harus pulang, Pak. Kasihan anak-anak."
"Ya saya faham. Tapi kondisi kamu belum memungkinkan untuk pulang. Lagi pula, persediaan ASI-nya 'kan masih banyak."
"Tapi Pak ---."
"Ssst, dengar, kalau kita pulang sekarang, setibanya di rumah, kamu pasti kurang istirahat karena fokus sama twins. Saat kamu kurang istirahat, kamu bisa sakit, El. Kalau kamu sakit, produksi ASI kamu bisa berkurang, dan pasti akan berdampak juga pada kesehatan twins dan kesehatan saya."
"Apa? Kesehatan Anda? Apa hubungannya?" Linda mendelik.
"Kalau kamu sakit, sayanya jadi tak bisa asyik-asyik sama kamu. Jadi, untuk sementara waktu, kamu harus fokus pada bayi besar dulu, oke? Kita pulang setelah shalat Dzuhur." Sambil masuk ke dalam selimut dan memeluk Linda.
"Ya juga 'sih. Aku memang kelelahan, Pak. Sakitnya masih terasa. Ini gara-gara Anda," gerutu Linda. Namun dirinya pasrah saat pak Dirut menciumi lehernya.
"Baik, saya salah, saya minta maaf. Tapi, saya sudah membuatku terbang ke angkasa beberapa kali. Terus, siapa yang semalam minta nambah lagi?" goda Agam.
"Pak Agam!" Linda memukul bahu Agam. Pipinya merona lantaran malu.
"Hahaha, hmm, kamu wangi sekali, sayang. Pakai apa 'sih?"
"Jangan lebay 'deh, Pak. Aku 'kan memakai sabun mandi dan shampo yang sama dengan Anda," timpal Linda.
"Oh iya ya, lupa."
Lalu ponsel pak Dirut kembali menyala. Agam menerima panggilan seraya mendekap Linda. Semenjak diaktifkan, ponsel Agam memang sibuk.
"Wa'alaikumusalaam, Tuan Yohan? Tak biasanya Anda menelepon sepagi ini. Ada apa?" tanya Agam. Linda menguping. Ia mendekatkan telinganya ke ponsel Agam.
"Ada yang harus aku katakan. Untuk undangan resminya, nanti akan aku berikan secara langsung dengan cara datang ke rumah kamu." Suara Yohan di ujung telepon.
"Undangan? Apa Tuan Yo akan segera menikah?" Linda histeris. Pak Dirut tersenyum bahagia.
"Ya, alhamdulillah. InsyaaAllah, kalau tidak ada aral-lintang, akad dan resepsinya akan dilaksanakan dua bulan lagi. Tepatnya tanggal 24, di Pulau Jauh. Di daerah tempat kelahiran Anda, LB," jelas Yohan.
"Wah, alhamdulillah. Aku turut bahagia."
"Selamat ya, saya juga bahagia, Tuan," timpal Agam. Lalu meloundspeaker ponselnya.
"Tapi Gam, selain ingin mengatakan prihal itu, aku juga ada maksud lain. Semoga Pak Dirut berkenan."
"Maksud lain? Apa itu? Katakan saja," kata Agam.
"Aku ingin mendapuk istri Anda alias Linda Berliana Berilliant untuk menjadi artis utama di acara pernikahan itu, dan aku juga berharap Pak Dirut bersedia menjadi groomsmen bersama dengan tuan Deanka dan pengacara Vano. Mereka 'sih sudah setuju. Nona Aiza juga sudah bersedia jadi bridesmaid."
"Ya ampun, memangnya mau bayar berapa sampai-sampai Tuan Yo berani mengundang istri saya? Saya juga akan dibayar berapa untuk jadi groomsmen? Saya sibuk Tuan Yo, istri saya juga sibuk. Sepertinya, sulit meluangkan waktu untuk hal-hal yang tidak penting seperti itu," ledek Agam.
"Apa?! Hal tidak penting?! Hey, kurang asem kamu, Gam!" teriak Yohan.
Yohanpun pura-pura marah, karena ia sebenarnya tahu kalau ucapan Agam hanyalah sebuah guyonan.
"Hahaha, kamu patok harga berapa sayang?" tanya Agam seraya menarik tubuh Linda agar duduk di atas tubuhnya.
"Untuk Tuan Yo harganya spesial. Cukup 3 milyar saja." Linda menjawab sambil mengecupi dada pak Dirut yang aduduh.
"Apa?! Tiga milyar?! Apa boleh dicicil?"
Yohan mengira jika Linda serius. Linda dan Agam menahan tawa. Lalu Agam disengajakan menggoda Yohan.
"Ahh ... sayang, lembut sekali. Lanjutkan," bisik Agam. Namun bisa didengar jelas oleh Yohan.
"Hey, kalian sedang apa?! Aku sedang bicara serius. Awas ya Pak Dirut, kalau Anda memintaku menjadi kapten lagi, aku akan pikir-pikir lagi," rutuk Yohan. Lalu Agam dan Linda tertawa.
"Hahaha."
"Sial kalian! Aku serius, berapa hargamu, LB? Untuk bridesmaid dan groomsmen, aku akan memberikan paket liburan ke luar negeri, dan lain-lain. Saking banyaknya, hadiahnya tak bisa kusebutkan satu-persatu."
"Baik, ayo kita bicara serius. Saya pribadi tak mematok harga untuk istri saya. Semuanya terserah Linda. Namun untuk wardrobe, dan apa saja yang boleh dilakukan oleh Linda, harus atas izin saya. Begitupun dengan makanan dan keamanan Linda, harus saya yang mengaturnya. Seluruh tamu yang datangpun, harus saya lihat dulu profilnya. Khawatir ada penjahat berkedok tamu undangan yang ingin membahayakan atau mengganggu istri saya," jelas Agam.
"Baik Pak Dirut, aku setuju. Terus, untuk LB sendiri, berapa kira-kira kisaran harganya?"
Linda yang sedang mengecupi dada pak Dirut menautkan alisnya.
"Aku tak pernah menghargaan diriku. Sebab, aku merasa diri ini sangat berharga dan tak ternilai harganya. Jadi, seikhlasnya Tuan Yo saja. Berapapun uang yang Tuan Yo berikan, akan aku terima dengan lapang dada. Namun, semakin besar bayarannya, maka pahala Tuan Yo akan semakin melimpah. Sebab, seluruh uang pemberian dari Anda, akan saya donasikan ke Yayasan Sosial," jawab Linda.
"Baik, aku setuju. Senang bekerja sama dengan Anda, Nyonya Buana," puji Yohan.
"Sekali lagi, selamat ya Tuan Yohan. Semoga acaranya lancar sampai dengan selesai, dan semua undangan yang akan hadir dipanjangkan umurnya hingga memiliki kesempatan untuk hadir dan mendoakan Anda. Doakan saya dan Linda juga agar tidak ada halangan."
"Aamiin," sahut Yohan.
Setelah cukup berbasa-basi, Yohanpun mengakhiri panggilannya.
"Akhirnya, tuan Yo menikah juga ya, Pak."
"Ya sayang, dan dia sama dengan saya. Terpikat oleh keelokan dan kemolekan gadis Pulau Jauh."
Linda hanya tersenyum mendengar pujian Agam. Lantas kembali merebahkan dirinya dalam dekapan hangat pak Dirut.
"Rindu anak-anak," gumam Linda.
"Sama sayang, saya juga merindukan mereka, tapi tubuh kamu harus dipulihkan dulu."
"Hmm, oiya Pak, aku ingin konsultasi dengan dokter Fatimah."
"Konsultasi? Mau konsultasi apa?"
"Mau bertanya tentang prosedur operasi yang dulu pernah aku jalani. Aku heran Pak, kenapa milikku selalu kembali virgin? Aneh, kan? Ini tak masuk akal."
"Oh, masalah itu, jangan dipikirkan sayang, tak perlu dikonsultasikan juga. Itu keistimewaan kamu yang harus disyukuri dan tak boleh diketahui oleh siapapun. Sejauh ini, yang tahu hanya tiga orang. Saya, kamu, dan dokter Fatimah."
Linda menghelas napas.
"Pak Agam suka?"
"Tentu saja." Agam tersenyum sambil mendekap erat tubuh Linda.
"Kamu juga suka, kan?" Agam balik bertanya.
Linda mengangguk dan tersipu. Jujur, ia juga bahagia memiliki keistimewaan ini. Karena setiap hendak bercinta dengan Agam, ia harus menyiapkan mental dan keberanian. Namum di balik itu semua, pada akhirnya, Linda menyadari jika ia akan mendapati kesenangan dan sebuah rasa yang luar biasa dahsyatnya.
...❤...
...❤...
...❤...
Lalu, kemanakah penghuninya?
Ternyata, mereka sedang berada di dalam kamar mandi. Tepatnya di dalam bathup. Sedang berendam bersama menggunakan air hangat. Kelopak mawar merah menghampar memenuhi permukaan bathup. Aroma bunga setaman menyeruak.
Freissya dan Gama sedang berpelukan. Tubuh mereka melekat rapat. Mereka duduk berhadapan. Freissya mengalungkan tangannya di leher Gama, kepalanya bertumpu di pundak Gama.
Tak jelas apa yang sedang mereka bicarakan. Tak nampak pula apa yang sedang dilakukan dibalik bathup itu. Intinya, mereka begitu intim. Ada baiknya jika tak dideskripsikan.
Ya, sebentar lagi, Gama dan Freissya akan berpisah kembali. Gama akan menjalankan tugas rahasia sebagai anggota BRN, dan Freissya akan melanjutkan studinya. Jadi wajar jika mereka melepas kerinduan dengan cara yang tak biasa bahkan sedikit berlebihan.
...❤...
...❤...
...❤...
Senja merasakan jika hari-harinya begitu berat. Ia tinggal entah di mana. Karena tuna netra, jelas ia tak tahu sedang berada di mana dan bersama siapa.
Kala itu, saat ia mengikuti acara seminar bersama anak-anak panti, Senja diculik oleh orang-orang yang sama sekali tak ia kenali. Lalu beberapa hari kemudian, ada sekelompok orang yang menyelamatkannya dan membawanya ke tempat ini.
Di tempat ini, Freissya tinggal bersama seorang wanita yang tak pernah mau menyebutkan nama apa lagi identitasnya. Ketika ditanya, wanita ini hanya menjawab ....
"Saya bekerja untuk seseorang. Tugas saya adalah menjaga dan mendidik Anda agar menjadi wanita yang tegar, dan cerdas."
Hari-hari Senja dipadati oleh berbagai hal yang menurut Senja sedikit membosankan. Seperti berenang, dan membaca buku-buku. Walaupun Senja tak bisa melihat, tapi wanita itu seolah memaksa Senja untuk bisa melakukan banyak hal yang biasa dilakukan oleh wanita pada umumnya.
"Kenapa Anda baik padaku? Tapi, kenapa Anda begitu misterius?" tanya Senja.
Senja baru selesai berenang. Ia sedang dikeringkan rambutnya oleh wanita tersebut. Penampilan wanita itu begitu apik dan resik, namun wajahnya tak terlihat karena memakai masker berwarna hitam. Padahal, tanpa memakai maskerpun, Senja tak bisa melihatnya.
"Suatu hari, Nona pasti akan mengetahui jawabannya. Maaf, saya hanya menjalankan tugas. Bukan kapasitas saya untuk menjelaskan alasannya," jawabnya.
"Jawaban Anda selalu sama. Kamu bahkan menyuruhku memanggilmu dengan nama Anda. Aku benar-benar bingung. Apa nama kamu Anda?"
"Hahaha, pokoknya, panggil saja nama saya dengan sebutan Anda. Nona Senja tak perlu bingung."
"Sudah berapa kali aku bilang, jangan memanggilku Nona. Panggil Senja saja."
"Tidak bisa. Saya akan tetap memanggil Nona Senja. Atau Anda mau saya panggil Nona Permaisuri?"
"A-apa?! Nona Permaisuri? Panggilan macam apa itu? Tak masuk akal," oceh Senja.
"Hahaha." Wanita itu malah tertawa. Lanjut menyisiri rambut Senja dengan sangat hati-hati.
"Anda aneh," gerutu Senja.
"Kalau rambutnya sudah disisir, kita akan makan. Setelah makan, Nona harus membaca buku Braille lagi. Ada tujuh buku yang baru," jelasnya.
"A-apa buku baru lagi? Kenapa setiap minggu selalu ada buku baru? Siapa yang memesan buku-buku itu?" protes Senja.
"Nona tak boleh protes. Cukup baca dan fahami saja. 'Toh, semua yang ada di buku itu, pada dasarnya adalah demi kepentingan Nona di masa depan."
"Oiya Anda, apa kamu kenal dengan pak Agam Ben Buana?"
"Ti-tidak."
"Masa Anda tak tahu Dirut HGC?" Senja keheranan.
"Emm, maksud saya, hanya tahu dari televisi. Tidak kenal secara pribadi," jawabnya.
"Aku ingin bertemu dengan pak Agam. Bisakah Anda membantuku?"
"Sepertinya tidak bisa, Nona. Saya tidak punya otoritas untuk hal itu."
"Otoritas? Kenapa bicara Anda selalu formal, 'sih? Dan dari jawaban Anda, aku merasa kalau Anda memang kenal dengan pak Agam. Benar apa benar?" telisik Senja.
"Tidak, itu benar," jawabnya.
"Ya sudah, kalau Anda tak mau mempertemukanku dengan pak Agam, aku tak mau belajar lagi," ancam Senja. Ia beranjak sambil menunjukkan wajah cemberutnya.
"Hey Nona, tunggu, untuk apa Nona mau bertemu pak Agam?"
"Karena aku yakin bisa berada di sini karena pak Agam. Saat aku dibebaskan dari para penculik, aku mendengar seseorang menyebut nama pak Agam."
"Bisa jadi Nona salah dengar."
"Tidak, aku tidak salah dengar," kilah Senja.
"Sungguh Nona, saya tidak kenal dengan Agam Ben Buana."
"Kalau dengan tuan Deanka? Apa Anda kenal?"
"Tentu saja," dan wanita itu seperti kaget dengan jawabannya. Ia sampai menoyor kepalanya sendiri.
"Nah, 'kan? Orang yang kenal dengan tuan Deanka, pasti kenal dengan pak Agam juga. Pokoknya, aku mau bertemu pak Agam. Aku harus bertanya pada pak Agam tentang seseorang yang sampai saat ini selalu menyiksa perasaanku," tegas Senja.
"Seseorang yang menyiksa perasaan Anda? 'Kok bisa?"
"Aku juga tak tahu," sahut Senja.
"Siapa yang Nona maksud?"
"Namanya Exim," jawab Senja, asal.
"Exim?"
"Ya, dia selalu mengganggu perasaanku. Aku sering makan tak enak dan tidur tak nyenyak gara-gara memikirkan dia. Padahal, dia belum tentu memikirkanku."
"Nona salah besar, saya yakin kalau dia juga memikirkan Nona."
"Tunggu, kenapa Anda bisa seyakin itu?"
"Emm ...."
Wanita itu seolah kebingungan untuk menjawab pertanyaan Senja. Akhirnya, iapun berkata ....
"Baiklah, saya akan mencari cara agar Nona bisa menemui pak Agam. Tapi, Nona harus bersabar ya. Sebab, pak Agam bukan orang sembarangan. Kita tidak bisa menemuinya sesuka hati."
"Jadi, Anda kenal pada pak Agam? Sudah kuduga, terima kasih Anda."
Senja bahagia, tangannya mengulur ke arah Anda. Saat Anda meraih tangannya, ia menarik dan memeluk wanita itu.
"Lain kali, Nona jangan sembarangan memeluk orang, termasuk saya." Sambil mengurai dekapan Senja.
"Apa salahnya aku memeluk Anda?"
"Sebenarnya tidak ada yang salah."
"Ishh, sudah 'ah. Berbicara dengan Anda membuat aku semakin bingung. Intinya, aku ingin berbicara dan bertemu pak Agam secepatnya."
"Baik, Nona. Akan saya usahakan, tapi saya tidak janji."
...~Tbc~...