AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Kalender Rahasia



"Ahhh ... Kak ... sakiiit ...," keluh Gama.


Serius, ia benar-benar merasa tersiksa. Berpikir jika tulang rawan hidungnya kali ini mungkin saja sudah retak atau berubah bentuk.


"Pak Agam, cukup, dia bisa mati, tak perlu ditembak Pak. Membunuh itu perbuatan dosa, dilarang agama." Walaupun ketakutan Vano berusaha untuk menanangkan Agam sebisanya.


Kemana gadis itu? Kenapa tidak datang? Kurang ajar! Mana mungkin aku membunuh adikku.


Agam kembali mengarahkan pelatuk pistol. Gama sudah memejamkan mata, ia pasrah dengan apa yang akan dilakukan kakaknya. Tapi hati kecilnya berkata jika kakaknya itu pasti tidak akan tega membunuhnya. Agam bukan orang jahat. Obrolannya bersama Agam tentang bunuh-membunuh tentu saja tidak serius.


"Kak sebelum aku mati, izinkan aku untuk bertemu Ice, kumohooon. Aku ingin mengatakan sesuatu," ratap Gama.


Agam berpikir sejenak, darah yang terus merembes dari hidung Gama, membuatnya khawatir. Padahal, tadi ia hanya menyalurukan sepertiga kekuatannnya. Agam menghela napas, jadi berpikir keras memangnya sekuat apa dirinya? Apakah kekuatannya ada hubungannya dengan pingsannya Linda pada saat itu?


"Huuhh," Agam menghela napas, jadi rindu pada Linda dan membayangkan keindahan istrinya.


"Bangun kamu! Bangun! Lawan Kakak! Jangan diam saja!" Agam melempar pistol ditangkap oleh Maxim.


"Kak ... aku lemas, aku sudah lemas sedari tadi, sejak saat itu emm ---."


Kata-kata Gama menggantung, ia tidak mungkin mengatakan jika setelah adegan terlarang itu badannya terasa lemas. Sebenarnya apa yang terjadi pada tubuh Gama adalah efek samping dari obat tersebut.


Tenyata bukan Gama saja yang lemas, Freissya pun demikian. Namun Freissya ternyata tidak ada niatan sedikitpun untuk menemui Gama. Melihat Agam dan pistol saja ia sudah gemetar.


Freissya berpikir apapun yang akan terjadi pada Gama adalah tanggung jawab Agam Ben Buana. Ia tidak ingin tindakannya menimbulkan masalah baru. Pikirnya, lebih baik diam dan menonton saja. Lagi, Freissya menangis tersedu-sedu. Kenyataan ini benar-benar sangat mengerikan.


"Kak ... serius aku tidak bisa bertarung, aku lemas, lelah Kak ... dan sa-sakiiit ...."


Gama menatap sendu mata kakaknya, bibirnya gemetar, pandangannya mendadak kabur. Dan di saat seperti itu Agam malah menendangnya kembali.


Tendangan Agam diiringi teriakan Maxim, dan Enda. Pengacara Vano menutup mata, pun dengan Freissya di dalam kamar, gadis itu menutup matanya.


'BUGH.'


"Gama!" Vano berhambur memeluk Gama, melihat remaja itu tidak berdaya, ia tidak tega.


"Cukup, Pak. Saya saja yang disiksa," teriak Vano.


"Ya, Pak. Kami saja." Maxim dan Endapun berhambur menghalangi tubuh Gama.


"Kalian payah!" teriak Agam. Padahal di dalam batinnya ia juga khawatir.


"Gama!" teriak Agam, menjambak rambut Gama. Namun adiknya tidak bergeming.


"Gama ...." Vano membalikan tubuhnya. Mata Gama terpejam.


"Sial! Dasar lemah! Tidak sepadan dengan buayanya kamu!" dengus Agam kesal. Ia meraba nadi Gama. Terasa lemah.


"Pak Agam, saya telepon dokter Cepy ya," kata Vano, ia berdiri hendak bergegas.


"Vano, diam kamu! Tidak boleh ada yang menghubungi dokter Cepy! Biarkan saja dia mati perlahan!" teriak Agam.


Agam kemudian duduk di kursi dengan santainya dan meminum air.


"Pak Vano, gadis itu kan suster, kita minta tolong dia saja, bagaimana?" Maxim ada ide. Ia meletakan Gama yang pingsan di pangkuannya.


Ide bagus, Maxim. Aku mau tahu kepedulian gadis itu. Apa jiwa susternya masih ada? Atau dia tetap bersikukuh tidak menolong adikku? Batin Agam.


"Bagaimana, Pak?" Vano meminta persetujuan Agam.


"Ya sudah, terserah kalian!" bentak Agam. Setelah itu, Agam beranjak dan mengajak Vano.


"Vano, kamu ikut denganku. Kita persiapkan materi untuk preskon besok."


"Baik Pak."


Enda dan Maxim membopong tubuh Gama untuk dibawa ke kamar Freissya.


.


.


.


.


"Ke-kenapa kalian membawanya ke sini?"


Freissya terkejut ketika pintu kamarnya terbuka dan Gama benar-benar dimasukan ke kamarnya.


"Cepat tolong dia, Nona. Hanya Anda yang bisa, Anda suster kan? Di atas lemari ada kotak P3K," terang Enda setelah tubuh Gama dibaringkan.


Freissya masih melotot tidak percaya. Kepanikan Freissya semakin menjadi saat Enda dan Maxim meninggalkan kamar, dan menutup pintu.


"Eh, tungguuu," teriak Freissya. Ia tertatih dan mengejar sampai pintu.


"Bukaaa," saat mencoba dibuka, pintu kamar itu sudah terkunci dari luar.


Freissya benar-benar bingung dan terpojokkan. Ia menatap Gama yang wajahnya bahkan tidak terlihat karena tertutup darah.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya. Lalu menatap kotak P3K yang berada di atas lemari.


Agam Ben Buana benar-benar keji pikirnya. Tega sekali membuat adik kandungnya sendiri tersiksa seperti ini.


Ia sebenarnya benci dengan Gama, tapi ... melihatnya separah ini, jiwa kemanusiaan Freissya muncul jua. Perlahan ia menarik kursi untuk naik mengambil kotak obat. Lemarinya tinggi. Freissya tidak bisa mengambilnya secara langsung.


Ternyata besar juga kotaknya. Freissya sampai kesulitan mengambilnya. Isinya juga lumayan lengkap. Hingga cairan infuspun ada. Ada berbagai salep anti luka dan memar. Ada juga salep kulit dan lain-lain.


Perlahan ia mendekat. Duduk di samping Gama dan menatapnya. Kepingan memori itu kembali melintas. Bagaimana ia merayu, mengiba, dan menuntun Gama untuk merusak mahkotanya sendiri. Freissya mengingatnya sedikit demi sedikit.


Lalu mulai membersihkan darah di wajah Gama. Syukurlah, darah dari hidung Gama sudah berhenti mengalir. Kemudian membuka kancing kemeja milik Gama untuk mengganti bajunya.


Deg, Freissya terkejut, tanda cinta itu ada di sini juga. Ada lebih dari satu. Seberapa agresifkah dirinya? Obat itu benar-benar telah merubahnya menjadi seorang j a l a n g profesional.


Selain tanda cinta, ada juga bekas cakaran di dada Gama. Ia yakin bukan Agam Ben Buana pelakunya.


Siapakah?


Ya, benar. Pelakunya adalah Freissya, ia spontan mencakar Gama saat pria itu bersusah payah membelah mahkotanya.


Ya, ampun. Freissya kembali menangis. Memalukan, menjijikkan.


Bapak dan mama pasti mencariku. Sabar Freissya. Gumamnya.


Frissya tidak tahu kalau Gama telah meretas pengaman ponselnya. Dan saat ini ponselnya dalam keadaan mati. Sudah di charg tapi entah kenapa tidak penuh-penuh.


Ada yang tahu alasannya?


Yap, ponsel Freissya sudah dimanipulasi oleh Gama agar mati total, tidak rusak sebenarnya, tapi ... itulah salah satu keahlian Gama. Selain mahir di bidang retas-meretas, Gama juga mahir di bidang teknik dan permesinan.


Wajah Gama sudah terlihat lagi. Bibirnya pecah, pangkal hidungnya kebiruan, tapi ... tetap tampan. Freissya mengolesi memarnya dengan hati-hati.


.


.


.


.


"Hahaha, sepertinya dia mulai terpikat, adiknya Agam Ben Buana dilawan? Mana bisa."


Agam menyombongkan diri, ia sedang menatap rekaman live CCTV yang berada di kamar Freissya bersama Vano.


"Terus apa yang harus kita lakukan Pak?" Vano yang sibuk mengetik bertanya sejenak.


"Kita laporkan kasus ini ke polisi. Saya tidak mau adik saya disalahkan, biar bagaimanapun jika benar dijebak, adik saya adalah korban. Kata Gama, gadis itu juga meminum obatnya, artinya mereka berdua adalah korban. Hari ini setelah preskon, saya akan menemui orang tua gadis itu."


"Hmm, kalau dipikir-pikir ini kasus langka, ini bukan lagi jebakan batman, tapi jebakan nikmat, hahaha," seloroh Vano.


"Apa kamu bilang?! Tidak lucu tahu, Vano!"


Agam marah, spontan menuding kepala pengacaranya itu dengan lumayan keras.


"Aduh, mm-maaf Pak, tapi saya benar bukan?" ucap Vano, namun tetap tidak bisa menyembunyikan senyuman di bibirnya.


"Apa?! Gila kamu Vano, makanya cepat nikah dong, biar otakmu tidak kotor! Lanjutkan pekerjaanmu!" teriak Agam.


Matanya fokus kembali pada monitor, terlihat Freissya sedang mengganti baju Gama yang dipenuhi darah. Gadis itu terlihat telaten.


Bagaimana aku mau nikah? Untuk kencan saja sulit, dulu saat Anda terlibat skandal bersama LB, saya sibuk menyembunyikan kasus Anda. Bahkan sampai detik ini aku dan tim masih sibuk mengurus segunung masalah dan kasus Anda. Sekarang, adik Anda terlibat kasusnya juga. Saya juga yang direpotkan. Nasib, nasib. Batin pengacara Vano meratap.


Dan mata jeli Agam telah berhasil melihat jika adiknya sempat membuka mata sejenak tanpa sepengetahuan Freissya, lalu cepat-cepat terpejam lagi.


"Dasar buaya," rutuk Agam. Ia tahu adiknya sudah sadar namun pura-pura pingsan lagi.


"Kenapa, Pak?" Vano keheranan.


"Sudahlah, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu."


Lalu ada yang mengetuk pintu.


"Masuk," ucap Agam.


Maxim dan Enda masuk. Mereka menyerahkan beberapa berkas.


"Ini berkas hasil penyelidikan Yanyan, Pak. Di dalamnya ada informasi tentang orang tua gadis itu dan identitas kekasihnya," terang Enda.


"Lalu mobil yang dipinjam Gama milik siapa?" tanya Agam.


"Itu milik temannya Gama namanya Gifka, putra bungsu pemilik golden resort. Yanyan sudah berhasil mendapatkan keterangan dari Gifka. Katanya, pukul 7 malam sultan Yasa datang ke acara ulang tahun, tapi jam setengah delapan sudah pulang lagi," terang Maxim sambil menunjukkan hasil rekaman dari Yanyan pada Agam.


"Hmm, bagus. Sepertinya akan mudah menjerat anak-anak nakal yang menjahati adik saya, kurang ajar!" Agam geram.


Kali ini ia tidak akan tinggal diam. Cukup dirinya saja yang hidup di balik bayang-bayang skandal mengerikan keluarga Haiden, tapi tidak untuk Gama. Adiknya harus hidup normal dan terhormat.


HARUS, ia harus memenjarakan seluruh pelaku yang menjahati adiknya.


"Lalu siapa pemilik mobil mencurigakan itu?"


Agam bertanya lagi. Saking seriusnya menangani masalah Gama, Agam sampai melupakan sejenak masalahnya sendiri. Ya, hari ini ia akan preskon, dan empat hari kemudian Agam akan menghadapi sidang etik BRN.


"Menurut Aiptu Joey, Mobil itu atas nama Mateo Ferdynaight. Kata Gifka, Teo adalah teman dekat Gama yang seluruh pesta ulang tahunnya didanai oleh adik Anda. Adiknya Teo pernah berpacaran selama seminggu dengan Gama."


"Apa?! Dia mendanai acara ultah?" Agam kaget.


"Ya, Pak. Menurut Gifka begitu. Oiya, untuk identitas dua orang yang mengintip mobil itu salah satunya adalah tuan Josep."


"Benar, Pak."


"Ya, ampun, apa sebenarnya kesalahan adik saya? Kok mereka sampai tega mencekoki Gama?"


"Kita sudah punya banyak titik terang untuk kasus Gama, Pak. Sekarang Anda istirahat ya, sebentar lagi adzan Subuh, Anda belum tidur, kan?"


Vano bangun lalu memijat pundak Agam. Agam sedikit menggelinjang keenakan.


"Hentikan Vano! Cukup!"


Baru sadar kalau ia tipe yang tidak suka dipijat, kecuali oleh Linda pastinya. Agam mengalami pijatfobia.


Kenapa?


Karena dulu fotonya saat di panti pijat pernah tersebar ke publik. Padahal, ia hanya dipijat di klinik kesehatan dan akupuntur yang tentu saja legal. Namun pada berita yang beredar, ia sedang menikmati pijat tambah-tambah.


"Hahaha, pundak Anda tegang sekali, Pak. Sepertinya sudah lama tidak dilemaskan," ledek Vano.


"Sialan kamu! Bicara sekali lagi gajimu dipotong," kata Agam sambil mencoret satu tanggal pada kalender mini yang ada di buku sakunya.


"Hah, menandai apa itu, Pak?" Vano kepo.


"Mau tahu saja, ini rahasia saya."


Agam malah menyembunyikan buku sakunya. Pipinya mendadak merona, dan tentu saja membuat Vano penaseran. Maxim dan Enda hanya jadi penonton.


"Coba saya lihat."


Vano merebutnya, Agam kaget hingga buku itu jatuh dan Vano berhasil diambil Vano.


"Apa? 'Catatan Masa Nifas El? H-39?' Apa ini? Hahahaha."


Vano terbahak, Maxim dan Enda tidak berani terbahak, tapi mulut mereka menggelembung menahan tawa.


"Kembalikan! Sialan kamu Vano!"


Agam mengambil kembali buku sakunya. Ternyata, pipi Pak Dirut merona karena merasa malu.


"Sabar ya, Pak! H-39, aduh saya turut prihatin dan berduka cita. Hahaha."


Vano malah meledek lagi, tidak menyangka jika Agam akan sesemangat itu menanti berakhirnya masa nifas Linda hingga dicatat dan ditandai di kalender.


Dan Vano pastinya tidak tahu kalau LB masih tersegel. Tolong jangan melupakan maha karya dokter Fatimah yang konon katanya sangat LUARRR BIASA dan uhhh syalalala lala.


"Cukup Vano, lanjutkan pekerjaanmu! Dan kamu, Enda, Maxim, silahkan keluar!" bentaknya.


"Baik, kami keluar," ucap Maxim dan Enda serempak.


"Anda tidak tidur?" tanya Vano setelah puas tertawa.


"Tidak ngantuk," ucapnya singkat dan dingin. Mungkin masih kesal karena Vano merebut buku sakunya.


"Maaf untuk yang tadi Pak, saya tahu Anda pasti merindukan LB, soalnya saya juga merindukannya, emm sebagai fansnya Pak, jangan salah sangka," kata Vano.


Agam hanya tersenyum sinis, ia menatap pada monitor, tampak Freissya tengah mengompres hidung Gama.


"Mereka serasi ya?" Lagi Vano berbicara.


"Tapi gadis itu sudah memiliki kekasih, Van."


"Oiya Pak, bagaimana dengan kontrasepsinya? Apa harus diminumnya sekarang juga?" tanya Vano. Ia baru ingat akan obat tersebut.


"Jangan dulu, saya harus mengobrol dengan mereka berdua, harus dirundingkan mau gadis itu seperti apa. Bisa saja kan dia mau nikah muda dengan adikku?"


"Apa? Jadi, kalau gadis itu setuju Anda mau menikahkan Gama?" Vano melotot.


"Tidak ada salahnya, kan?" timpal Agam.


"Hmm iya juga sih," Vano mengangguk-angguk.


"Setelah shalat Subuh, tolong atur pertemuan antara saya, dan gadis itu."


"Siap, Pak." Vano memberikan hormat.


"Apa?!"


Agam tiba-tiba terlonjak hingga berdiri saat membaca data identitas kekasihnya Freissya.


"Kenapa, Pak?" Vano mendekat.


"Kekasihnya gadis itu cucu dokter Rama."


"Apa?!" Vanopun kaget.


"Lihat ini, ini foto dokter Rama, kan?" Agam menunjukkannya pada Vano.


Dokter Rama adalah dokter senior yang sampai saat ini masih mengabdi pada keluarga Haiden, khususnya pada Tuan Bahir.


"Ya ampun, dunia ini sempit sekali," Vano memijat kepalanya.


"Hmm, kok bisa kebetulan seperti ini ya? Saya jadi pusing Vano. Lindaaa ... tolong saya sayang," keluhnya. Agam membenturkan kepalanya perlahan pada sudut meja.


"Tenang saja Pak, hubungan Anda dan dokter Rama kan baik-baik saja, dokter Rama pasti memahami, asalkan kita bisa mengumpulkan bukti akurat jika Gama dan gadis itu memang benar-benar dijebak."


.


.


.


.


Saat ini Freissya sedang mengompres kening Gama. Gama tiba-tiba demam. Pasti karena efek pukulan Agam yang mendemamkan. Ingin tidak peduli, tapi ... ia suster. Selain itu, Gama juga telah membayar Freissya di muka untuk honornya sebagai suster pribadi.


"Aku tahu kamu sudah sadar, sudah jangan pura-pura tidur," kata Freissya.


"I-Ice ...."


Gama membuka mata lalu menatap gadis yang beberapa jam lalu telah memberinya pengalaman yang tidak akan terlupakan.


"Jangan bicara aku benci padamu," kata Freissya.


"Terus kenapa kamu mau merawatku?"


"Karena aku manusia yang memanusiakan manusia. Bukan seperti kakakmu yang egois itu." Freissya berdiri dan melangkah menjauh. Cara jalannya masih lucu. Seperti pinguin.


"Masih sakit kah?" Gama cari mati, bertanya lagi sambil bangun perlahan dan memegang kepalanya.


"Diam kubilang, aku benci kamu, Val. Huuu," Freissya bersimpuh di pojokan kamar dan menangis lagi.


"Kakakku akan membereskan semuanya, kamu jangan sedih lagi Ice, serius." Gama mendekati Freissya. Ia juga bersila, duduk di sisi Freissya dan melamun.


"Sudah kukatakan kamu jangan banyak bicara, kenapa malah dekat-dekat aku? Pergi," teriaknya, sambil memukul bahu Gama.


"Ice, aku hanya mau bilang terima kasih, apa kamu yang melarang kak Agam membunuhku? Perasaan sebelum pingsan aku mau ditembak. Tadi kupikir sudah mati. Tapi, saat aku membuka mata, aku sadar masih hidup dan melihat kamu."


"PD sekali! Aku tidak menyelamatkanmu, dua orang itu yang membawamu ke sini," kilah Freissya.


"Ice, kita dijebak, kenapa kamu terus menyalahkanku. Apa kamu lupa? Kamu kan yang mengajariku melakukannya? Sebenarnya aku juga tahu sih caranya, tapi ---."


"DIAAAM!" teriaknya.


"Jangan membahas itu lagi, keparat! Lebih baik siap-siap saja, kamu dan kakakmu pasti dijemput polisi karena menculikku. Mama, bapak dan kak Gio pasti akan mencari dan menemukanku!"


"Yakin mereka akan mencarimu? Kalau akusih tidak yakin." Gama tersenyum, dan senyuman itu membuat Freissya muak.


"Huuu ... huuu ... aku mau pulang," Freissya kembali meratap.


"Maaf Ice, setelah semua urusan selesai, aku pasti akan mengantarkanmu pulang. Oiya Ice, apa kamu disuruh minum sesuatu oleh para pelayan?"


"Maksud kamu? Minum apa? Ya, aku tadi dipaksa minum susu."


"Maksudku minum obat sejenis pil kehamilan, kamu faham maksudnya, kan?"


Deg, Friessya tersadar.


"Tidak, mereka tidak memberiku itu, tenang saja, nanti aku sendiri yang akan meminumnya, aku juga tidak mau hamil dengan cara seperti ini." Sambil mengusap air mata dan sedikit ingusnya yang berwarna bening.


"Hmm, aku sebenarnya mau diluar, tapi kamu yang menahanku Ice. Dalam hal ini aku sebenarnya sudah cari aman, tapi kamu malah cari sensasi." Pipi Gama merona saat mengucapkan kalimat itu.


"Apa katamu!" Freissya merasa dikuliti, ia marah dan malu tentunya, wajah cantiknya sampai merah padam. Ingin rasanya menyumpal mulut Gama dengan pasir.


"Maaf, aku hanya mengingatkan agar kamu tahu kalau dalam hal ini kamu juga berandil."


"Huuuu hwaaa huuu ... tolong jangan mengatakan apapun lagi, perasaanku sudah sesakit ini, tolong mengertilah."


Pada akhirnya, Freissya hanya bisa menangis meraung-raung dan menyesali semuanya. Penyesalan yang ia sendiri tidak tahu akan berakhir di mana, pun tidak tahu kedepannya kehidupannya akan seperti apa. Freissya merasakan seolah dikubur hidup-hidup, jiwa raganya semakin sakit dan sesak.


"Maaf ... i love you, Ice. Percayalah ... semua ini pasti akan berakhir indah pada waktunya, aku dan kamu hanya perlu bersabar."


Gama mendekat, meraih bahu Freissya dan memeluknya. Dan entah ada angin dari mana, Freissya tidak menolak, dan melanjutkan tangisnya di dada Gama.


.


.


.


.


"Hmm, pemandangan yang mengharu-biru," gumam Agam. Ia masih memantau Gama.


"Hooaaam, Pak Agam ngantuk, boleh tidak kalau aku tidur dulu?" ujar Vano.


"Boleh."


"Terima kasih Pak Agam." Vano berdiri.


"Ya sama-sama, tapi lima menit saja, ya. Nanti saya bangunkan."


"Apa?!" Vano kembali duduk dan mengetik.