AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
'Mujbir'



"Tunggu, bagaimana dengan kondisi Linda? Dia sudah ada di ruang perawatan, kan? Saya sudah membawakan gaun cantik untuknya," kata Agam.


Kaki Agam terhenti tepat di depan pintu masuk masjid tersebut. Bersamaan dengan terhentinya langkah kaki yang lainya. Dan mata Agam juga berputar mencari keberadaan Hikam, pria itu tidak tampak batang hidungnya.


"Ayo masuk dulu, Ben. Ada yang perlu Paman bicarakan."


Lagi, Paman Yordan merangkul bahunya dan menuntunnya ke dalam masjid.


Sebelum mereka duduk melingkar, kalimat Agam menghenyakan hati semuanya, termasuk hati Pak Yudha.


Pak Yudha baru sempat membuka ponselnya. Ternyata, sekitar tiga puluh menit yang lalu, Enda mengiriminya pesan yang menjelaskan jika Linda kembali kejang, tidak sadar, dan saat ini masih mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU.


"Pak Yudha, gaun untuk El, mana? Kenapa tidak diturunkan dari mobil?"


Dan Pak Yudha diam saja, pria itu malah tertunduk. Gama membalikan badan, ia pura-pura mendapatkan telepon dan keluar dari masjid sambil mengatakan ....


"Ya, hallo, aku ada di ---."


Padahal, Gama sedang menghindar dari perasaan sedihnya. Tadi, ia sudah sempat melihat keadaan Linda di ruang ICU. Kondisi calon kakak iparnya itu begitu mengkhawatirkan. Tubuh cantiknya dipenuhi dengan alat medis, dan tensi darahnya masih berada di kisaran 180/120 mmHg.


"Pak Dirut, mari duduk dulu."


Kini, Ayah Berli yang membujuknya.


Hati Ayah Berli berdesir saat melihat betapa Agam bersuka-cita atas rencana pernikahan ini. Pin swarovski, dan setelan mahalnya menjadi salah satu bukti jika Agam sangat menginginkan pernikahan ini.


Ya, dengan baju sederhanapun sebenarnya cukup, tapi ... biar bagaimanapun Agam berhak dan layak menggunakan harta miliknya sesuai dengan keinginannya.


"Baiklah Ayah, cepat katakan. Ada apa? Oiya Paman, Linda sudah dirawat di ruangan VVIP, kan?" tanyanya sambil menatap pamannya dengan keringat dingin yang mulai membasahi kening.


Ya, saat ini Agam benar-benar tidak tenang, ia bahkan sama sekali belum belajar mengucapkan ijab kabul. Perasaan takut malu karena bisa saja salah atau gagal, tiba-tiba menyeruak.


.


.


.


.


Saat ini Agam sudah duduk bersila menghadap Ayah Berli dan pamannya dengan jantung yang dag dig dug tidak teratur.


Jangan-jangan?


Namun, Agam mencoba mengelak dengan menyunggingkan senyumnya.


"Jawab pertanyaanku, Paman ...." Lirihnya.


Ada apa? Lanjutnya dalam hati.


"Ben, Linda tidak bisa menyaksikan ijab kabulnya, kita lakukan tanpa Linda. Apa kamu setuju?"


Seketika lehernya seolah tercekat, kerongkongannya mengering, dan jantungnya seakan dihunus sembilu.


"Ke-kenapa?" tanyanya dengan terbata.


Sedangkan kepalanya kini mulai tertunduk, dan tangannya mulai mengepal meremas lututnya.


"Maafkan aku Pak Dirut, putriku belum sadar, tadi sempat kejang lagi, dan se-sekarang di-dirawat di ICU," jelas Ayah Berli sambil memegang dadanya yang terasa sesak.


"A-apa? Sejak kapan? Apa kalian sengaja menyembunyikannya? Kenapa?"


Agam bertanya, namun kepalanya masih terntunduk.


Sudah kuduga. Linda .... jeritnya dalam hati.


"I-ini gaunya."


Ternyata Pak Yudha kembali ke mobil dan mengambilnya. Kotak gaun berukuran besar itu terbuat dari kaca. Detail gaunnya bisa terlihat dari luar. Perpaduan berbagai logam mulya terlihat menyilaukan.


Gaun yang sangat cantik dan mahal, semua orang pasti menilainya begitu saat melihatnya.


Pak Yudha meletakannya di sisi Agam. Paman Yordan dan Ayah Berli menatap gaun itu dengan perasaan yang bergejolak.


"Sekarang, keputusan ada di tangan Pak Dirut, mau ijab kabul sekarang, atau nanti setelah putriku sadar. Sebenarnya, aku pribadi ingin melakukannya sekarang, tapi ... itupun jika Anda setuju, silahkan. Anda boleh memilih."


Ayah Berli memecah keheningan, ia memberi kesempatan pada Agam untuk memilih dan memutuskan.


"Bagaimana dengan Linda? Ya, saya tahu dia juga mencintaiku, tapi ... saya tidak tahu dengan perasaan dia saat ini, bagaimana kalau dia tidak setuju? Bagaimana kalau dia tidak suka menikah dengan cara seperti ini?" kata Agam.


Agam protes, tapi ia tidak berani menatap Ayah Berli.


"Ben ..., arti nikah dalam syariah Islam adalah akad yang terjadi antara seorang ayah dengan laki-laki yang akan menjadi menantunya. Tidak ada Linda tidak apa-apa, tetap sah."


Paman Berli sedikit memberi pencerahan.


"Tapi Paman, apakah ini adil untuk Linda? Saya merasa ini tidak adil."


Agam menatap Paman Yordan dengan mata sayunya yang berkaca-kaca.


"Ben, Pak Berli akan mengucapkan ijab, yang intinya beliau akan menikahkan kamu dengan putrinya. Dan kamu akan mengucapkan kabul yang bisa diartikan sebagai persetujuan atas ijab tersebut."


"Kalau ijab dan kabul itu terjadi dan disaksikan oleh minimal dua orang laki-laki yang muslim, baligh, aqil, merdeka, dan adil, maka akad nikah itu sah. Dalam hal ini tidak ada yang mensyaratkan harus ada persetujuan dari mempelai wanitanya." Tambah Paman Yordan.


"Ya, saya faham Paman. Tapi bagaimana dengan Linda? Tidak adakah peranan yang dimilikinya? Bukankah demi keadilan kita harus meminta persetujuannya? Apa seperti ini sudah bisa dikatakan adil?" protesnya.


"Ayah, Paman, saya mencintai Linda. Karena saya mencintainya, maka dari itu saya juga ingin memberikan keadilan padanya."


Kini pandangan Agam beralih pada gaun indah itu. Sungguh, Agam merasa terjebak dalam kebingungan yang hakiki. Dilema.


Disatu sisi ia menggebu ingin segera menikahi Linda, tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin jika setelah menikah nanti Linda marah atau protes.


"Ben, hubungan seorang gadis dengan ayah kandungnya dalam agama kita ada istilah wali mujbir. Artinya, seorang ayah kandung mempunyai hak sepenuhnya atas putrinya. Dari sekian banyak orang yang sah menjadi wali nikah, yang posisinya berhak 'Memaksa' menikahkan putrinya hanyalah ayah dan kakek atau ayahnya ayah. Tolong pikirkan lagi, Ben."


Paman Yordan menatap Agam, sambil mengusap rambut indah Agam yang tertata rapi.


Maafkan Paman, Ben. Paman tidak mungkin menjelaskan pada kamu agar segera menikahi Linda karena Paman dan Pak Berli khawatir akan kemungkinan terburuk.


Harapannya itu tidak terjadi. Tapi ... manusia kan hanya berencana, semua keputusan mutlak ada pada-Nya. Batin Paman Yordan.


"Pak Agam, Paman Yordan benar. Kewenangan wali mujbir itu memang istimewa. Wali mujbir bisa menikahkan anak gadisnya dengan atau tanpa persetujuannya. Jadi, akad nikah yang dilakukan oleh wali mujbir itu hukumnya tetap sah."


Dan Pak Yudhapun memberanikan diri untuk berbicara. Ia berharap bisa membantu Agam agar tidak terjebak dalam keragu-raguan.


Ya, dalam hal ini memang akan sedikit sulit untuk beradu argumentasi dengan seorang Agam Ben Buana.


Kenapa?


Karena biar bagaimanapun Agam bukanlah orang yang bodoh. Agam sedang menempuh pendidikan jenjang doktoral, pola pikir calon doktor pastinya akan berbeda dengan pola pikir orang yang belum pernah memakan bangku sekolah.


"Ayah, Paman, Pak Yudha."


Agam mengedarkan pandangan pada ketiga orang itu.


"Terlepas dari hukum sah atau tidaknya pernikahan itu, seorang ayah yang baik tentu saja tidak akan melakukan perbuatan pemaksaan terhadap putrinya. Bukankah dia juga akan ditanya di sisi Allah atas kesewenangan dan kezhalimannya?" kata Agam.


Ia menatap kembali Paman Yordan, Ayah Berli dan Pak Yudha.


Nah, benar kan? Agam Ben Buana bukan orang yang mudah ditaklukan.


"Jadi mohon dibedakan dulu antara kewenangan dan kesewenang-wenangan. Ya, di sisi hukum, kewenangan adalah hak, namun kesewenang-wenangan adalah tindakan yang zhalim, bahkan bisa dipidakan dan dikategorikan sebagai perbuatan melanggar hukum," tegas Agam.


Nah, lho. Harusnya, ada pengcara Vano juga. Kini, Ayah Berli, Paman Yordan, dan Pak Yudha saling menatap.


Apakah mereka kebingungan menghadapi Agam? Entahlah.


Sementara Gama, Enda, dan Maxim terlihat menyimak. Saat Gama menganggukkan kepala, Maxim dan Endapun ikut mengangguk seolah-olah faham. Padahal, mereka sama sekali tidak mengerti.


Dan Agam Ben Buana kembali memaparkan argumennya.


"Sebagai ilustrasi, secara ketentuan seorang dosen memiliki kewenangan untuk memberi nilai secara subjektif kepada mahasiswanya. Dia bisa memberi nilai A atau E, semua adalah kewenangan dosen. Bahkan Rektor pun tidak ada hak untuk mencampuri kewenangannya."


"Namun di sisi lain, bila seorang mahasiswa diberi nilai E oleh dosen secara zhalim, padahal mahasiswa itu berhak mendapat nilai A, maka kita dapat mengatakan bahwa dosen ini telah berlaku sewenang-wenang. Apa pendapat saya salah?" tanya Agam.


"Tidak, kamu tidak salah Ben. Tapi apakah kewenangan dosen bisa diubah? Tetap tidak bisa, kan? Kecuali dosen itu sendiri yang mengubah keputusannya," tegas Paman Yordan dengan suara lantang dan posisi duduk yang ditegakkan.


Mungkin Paman Yordan sedang mempertaruhkan kemampuannya sebagai dokter militer sekaligus sebagai ayah bagi Agam.


"Demikian juga dengan kewenangan seorang wali mujbir, dia tetap berhak menikahkan anak gadisnya dengan atas persetujuan atau tidak sama sekali. Juga berhak menikahkan putrinya dengan sepengetahuan anak gadisnya atau tidak sama sekali," tegasnya lagi.


Hening ....


Agam terdiam, apa yang dikatakan pamannya sangat masuk akal, logis, dan memang tidak menyalahi aturan syariah.


Agam lalu menunduk. Ya, saat ini Paman Yordan sedang berperan sebagai walinya. Bukahkah sudah seharusnya ia mendengarkan pamannya?


"Kenapa Pak Berli menggunakan hak preogratifnya sebagai mujbir? Itu karena Pak Berli sudah yakin padamu, dan pada dasarnya Pak Berli sedang memenuhi keinginan putrinya. Kenapa? Karena yang dicintai Linda adalah kamu, Ben."


"Ben, kamu juga pasti sudah tahu jika persetujuan seorang pengantin wanita tidak termasuk di dalam syarat sah sebuah akad nikah."


"Ya, Paman, saya tahu."


"Ben, dan kamu juga pasti tahu bahwa manusia hanya bisa berencana. Ya, kan?"


Agam mengangguk.


.


.


.


.


Paman Yordan menghela napas. Berbicara dengan Agam memang perlu banyak amunisi. Dan saat ini, amunisi itu terpaksa harus segera ditembakkan. Berat memang, tapi ... 'HARUS.'


"Ben, Paman dan Pak Berli mengkhawatirkan hal terburuk, kami takut ikhtiar kita dibalas oleh ujian berupa kesedihan. Kita semua menyayangi Linda, dan ---."


Paman Yordan tidak mampu melanjutkan kalimatnya, ia mengusap air mata yang lolos tak terbendung.


Dan Agam Ben Buana memahami maksud pamannya.


Gama segera mengelus punggung Agam untuk menenangkan.


"Pak Dirut, kita hanya manusia. Begini saja, jika Anda menolak dan tetap ingin menunggu sampai Linda sadar, oke. Aku setuju. Tapi ... khusus untuk malam ini, bisakah Anda menolongku?"


Ayah Berli meraih tangan Agam.


"Ma-maksud Ayah?"


Agam menatap Ayah Berli.


"Pak Dirut, aku mempunyai putri cantik yang saat ini sedang koma. Putriku mencintai seseorang dan ingin menikah dengannya. Bisakah Anda menolong putriku? Jadilah mempelai pria untuk putriku."


"A-Ayah ...."


Napas Agam tercekal.


"Pak Dirut ..., a-aku takut Linda pergi sebelum aku sempat menjalankan kewajibanku sebagai seorang Ayah. Maksudku, kewajiban untuk menikahkannya, hukss ...." Diakhiri isakan.


"Ja-jangan berbicara seperti itu, A-Ayah ...."


Agam lemas. Jiwa dan raganya terpukul, seolah terseret ke dasar laut, dan terbenam di sana.


"Saya yang salah," keluhnya.


"Aku sudah memafkanmu, Pak Dirut. Tolong bantu Linda. Bantu dia agar jiwanya tidak memiliki beban lagi."


"Lindaaa," teriak Agam bersamaan dengan gerakan tanganya yang merangkul pangkuan Ayah Berli.


"Ba-baiklah Ayah, sa-saya setuju, tapi ... saya ingin ijab kabul di sampingnya. Setidaknya, di alam bawah sadarnya atau mungkin jiwanya ... bisa melihat kita."


Alhamdulillaah.


Akhirnya, obrolan alot yang mengharu-biru itu berakhir jua.


.


.


.


.


Pak Yudha, dan Paman Yordan kemudian bergegas menuju ruang ICU untuk meminta izin melakukan ijab kabul di samping pasien.


Dan Alhamdulillah, permintaan mereka dikabulkan.


Ternyata, ijab kabul di samping pasien koma, bukan kali pertamanya terjadi. Sebelumnya-sebelumnya pernah terjadi juga.


...*...


...*...


...*...


...*...


"Ben, ini pakai maskernya. Tadi, saat masuk ke ruang ICU memang diharuskan memakai masker."


Tepat di depan pintu lift yang menuju ruangan ICU, mereka berkerumun. Dan penampilan Agam yang menonjol tak ayal membuatnya menjadi pusat perhatian pengunjung lain.


Ditambah dengan Pak Yudha yang membawa kotak gaun penganten mewah.


Fix, mereka jadi berasumsi jika pengunjung pasien yang terlihat sangat tampan dan kaya-raya itu pasti akan menikah di rumah sakit seperti di film-film, cerita novel, ataupun sinetron.


Padahal pada kenyataannya, kasus seperti Agam banyak terjadi.


"Saya gugup," keluhnya setelah berada di dalam lift.


"Tenang, Kak. Perbanyak istighfar," kata Gama sambil merapikan dasi kakaknya.


Enda dan Maxim tidak ikut, mereka sedang mencari Hikam yang belum kembali atas permintaan Agam. Dan Ayah Berlipun ternyata mengkhawatirkan Hikam. Ia takut Hikam tersesat.


"Berapa orang yang boleh masuk?" tanya Agam.


Sementara jiwanya telah melayang ke sana, kepada Linda.


Rindu, ia sangat merindukan Linda. Khawatir, ia teramat khawatir pada Linda. Dan takut, ia takut Linda tidak tertolong dan meninggalkannya.


Please, bangunlah untuk aku sayang, kita akan menikah, aku membawakan gaun cantik untuk kamu. Laa hawla wala quwwata illa billahil 'aliyyil azim.


Agam meratap dalam batinnya, ia berserah.


Tidak ada daya dan tidak ada pula kekuatan kecuali karena Allah Yang Maha Luhur dan Maha Agung.


"Yang boleh masuk maksimal 4 orang, jadi cocok. Pak Berli, Paman, kamu dan Pak Yudha," terang Paman Yordan.


"Yah, aku tidak bisa ikut?" Gama sedikit kecewa.


"Maaf Gama, kamu di luar dulu, yang jadi saksi nikahnya, Paman dan Pak Yudha. Pak Yudha nanti sekalian yang membaca doa setelah nikah. Memangnya kamu bisa membaca doa setelah menikah?"


"Tidak bisa, sih. Ya sudah deh. Aku menunggu di luar. Oiya, boleh kali aku izin foto-foto." Gama mencari alasan.


"Untuk yang memfoto, katanya ada suster yang berkenan. Paling Paman pinjam ponsel kamu."


"Ya, ya, ya." Gama akhirnya menyerah.


.


.


.


.


Dan saat ini, mereka sedang berdiri tepat di depan ruang ICU.


"Silahkan, yang masuk yang berkepentingan saja. Tolong pakai masker, dan tetap tenang. Mohon kerjasamanya untuk menjaga kenyamanan pasien yang lain. Lepaskan alas kakinya, ganti dengan sandal yang telah kami sediakan."


Seorang suster muda memberikan arahan, awalnya ia memberikan arahan dengan suaran tegas, namun saat ia tidak sengaja bersitatap dengan Gama, hatinya lemah.


Gama yang tampan tapi terkenal play boy itu, tiba-tiba mengendipkan mata padanya.


Sang suster mematung sejenak, belum juga jantungnya tenang, keharuman dan ketampanan Agam melintas tepat di depan mata, bertepatan dengan bisikan merdu di telinganya.


"Suster cantik, boleh tidak aku ikut masuk? Aku dari jauh saja, aku hanya ingin memotret, dia kakakku satu-satunya. Aku mau melihat moment terpenting dalam hidupnya," kata Gama saat Agam, Ayah Berli, Paman Yordan dan Pak Yudha sudah masuk ke dalam.


"A-apa?"


Suster yang pada kenyataannya memang cantik itu menatap Gama. Dan Gama lagi-lagi memanfaatkan kesempatan ini sebagai peluang.


"Suster sudah punya pacar? Kalau belum, mau tidak pacaran denganku? Kalau sudah, mau tidak selingkuh denganku? Hehehe," rayu Gama sambil menyibakkan rambutnya sendiri dan bersiul untuk mengalihkan pandangan suster pada bibirnya.


"Bo-boleh, tapi benar ya, melihat dari jauh saja," jawab suster yang mendadak gugup.


Yes berhasil, Gama riang-gembira.


Eh, tapi serius, susternya cantik sekali.


"Kamu jaga malam?" tanyanya saat suster itu memberikan masker pada Gama.


"Ya iyalah, kan ini sudah malam, ayo cepat masuk!" ajaknya dengan nada ketus.


Eh, kok dia jadi galak sih?


...*...


...*...


...*...


...*...


Agam tak kuasa menahan kesedihan, walau ia tidak sampai menangis segukan, namun perlahan genangan bening di sudut matanya itu meleleh jua.


"Beri dia kesempatan untuk bersama Linda," kata Paman Yordan.


Syukurlah, pasien di ruang ICU itu tidak sedang full. Suster dan dokter menatap dari kejauhan, Gama sudah membidikan ponsel di balik tirai. Suasana berubah haru saat Agam menyelimuti tubuh Linda dengan gaun pengantin.


"El, ini gaun untuk kamu, kita akan menikah. Kamu ikhlas kan menikah dengan saya?"


"Kamu sangat cantik, sayang ...."


Agam menatap Linda dengan tubuhnya yang seolah menggigil karena kepiluan yang teramat mendalam.


Pada akhirnya pertahanan Agam goyah, ia tidak kuasa membendung gelora kesedihan yang menggedor jiwa dan raganya.


'BRUK.'


Agam bersimpuh di sisi bed, meraih tangan Linda, menciumnya, dan meratap. Sebuah ratapan yang menggoncangkan jiwa siapa saja yang mendengarnya.


"Sayang ... tidak bisakah kamu bangun? Lihat saya, El. Saya sudah memakai baju terbaik demi kamu, saya juga sudah membeli baju spesial untuk kamu."


Semua yang hadir menunduk, mereka larut dalam kedukaan.


Lalu Agam meletakan kepalanya di dekat perut Linda dan mengatakan ....


"Kamu yang di sana, tolong bantu mama kamu untuk bangun, saya meminta izin untuk menjadi ayah kamu ... saya juga meminta izin untuk menikahinya. Sayang ... kita sudah direstui, kamu tidak boleh takut lagi. Apa yang kamu takutkan, El? Bangun Linda ... bangun ...." Ratapnya.


"Pak Dirut, cukup."


"Ya Ben, cukup. Kita di sini untuk menenangkannya, bukan untuk membebaninya."


Dan, bersamaan dengan itu, monitor yang terpasang di tubuh Linda berbunyi. Semuanya terkejut, dokter segera mengambil alih.


"Mohon menjauh dari pasien dulu, kita harus memeriksanya," tegas dokter


Agam ditarik menjauh oleh Pak Yudha dan Paman Yordhan. Gama masih terus merekam sambil berurai air mata.