
Tidak, ini salah, ini tidak baik.
Tapi ....
Agam sangat merindukan aroma ini, Agam merindukan tubuh yang ada di pangkuannya. Sangat, sangat, sangat merindukannya.
Tubuh yang pernah memberinya pengalaman berharga dan sadar jika hidup bukanlah semata-mata untuk beribadah, bekerja, dan beristirahat saja. Tapi juga untuk membangun sebuah keluarga guna menghasilkan generasi penerus yang bisa berguna untuk agama, keluarga, nusa, dan bangsa, serta melanjutkan nilai-nilai kebaikan di muka bumi ini.
Perlahan dan ragu, Agam semakin mempererat dekapannya, ia memeluk pinggang indah itu lalu mengusap bagian perutnya. Ya, ia ingin menyentuh calon buah hatinya yang berada di sana. Agam mengusapnya lembut, lalu kembali mengecup tengkuk Linda yang halus itu.
Takut, ia takut Linda menolaknya, ia takut Linda merajuk, tapi ternyata Linda sepertinya diam saja. Entah pasrah atau apalah, Agam juga tidak mengerti.
"TOOOD."
Seketika keduanya terkejut, sebuah mobil truk molen melintas dan menyalakan klakson.
"Uhuuk, uhuk, uhuuk,"
Linda terbatuk-batuk, spontan Agam juga melepaskan dekapannya. Lalu Linda berusah-payah lagi untuk bergeser dan baru teringat sesuatu.
"Ku-kursinya, Pak. Bi-bisa digeser, kan?" kata Linda dengan nada suara yang gugup. Ia teramat malu, malu karena tidak menolak perlakuan Agam.
Agam menarik handle di samping jok, dan Lindapun segera bergeser, memasang sabuk pengaman, menyatukan kedua tangan dan memandang lurus ke depan, menatap jalanan yang lurus, sepi dan sedikit berkabut.
Agam menghela napas, sungguh ia tadi sangat bahagia karena Linda tidak menolaknya. Lalu melajukan kemudi seraya mengulum senyum dan hati berbunga-bunga. Tangannya yang terluka dan tubuhnya yang perih akibat cambukan tambang itu seakan lenyap seketika, tatkala tadi ia memeluk dan mengecup tengkuknya.
Kecanggungan ini, semoga cepat berlalu. Ya, keduanya sama-sama canggung, terjebak dalam suasana tak biasa yang tak terdefinisikan.
"Pak Agam." >< "Bu Linda."
Serius, mereka mengucapkannya serempak. Hingga keduanya sama-sama terkejut.
"Silahkan Anda dulu yang bicara." Kata mereka lagi secara bersamaaan.
Lalu keduanya terdiam sejenak. Ya ampun, kecanggungan inipun semakin menjadi-jadi. Ah, rasanya seperti ada manis-manisnya. Karena hening, Agampun memberanikan diri untuk berbicara. Ya, dia laki-laki, bukankah laki-laki harusnya lebih kuat dari wanita?
"Ma-maaf untuk yang tadi," ucap Agam.
"Yang ta-tadi? Yang ma-mana ya?" Linda malah balik bertanya. Jujur, ia sangat malu.
"Yang sa-saya hampir mencelakai Anda karena serangan tadi," kata Agam. Padahal, aslinya ia ingin berkata, "Maaf, karena tadi saya lancang memeluk kamu, dan mencium tengkuk kamu." Tapi, Agam tak berani berucap akan hal itu.
"Justru saya yang minta maaf, karena saya gugup, Anda jadi terluka dan berdarah. Oiya siapa mereka?" tanya Linda sambil melirik lalu menunduk lagi.
"Saya juga tidak mengenal mereka, tapi katanya saya kenal dengan bos mereka." Agam memilih merahasiakan dari Linda jika sebenarnya komplotan penjahat itu ingin membunuh Linda.
Masih banyak yang belum ia ketahui dari seorang LB. Kenapa mereka ingin membunuh LB? Lalu ada juga yang mengatakan jika mereka mengincar LB untuk dijadikan istri. Agam belum bisa menyimpulkan motif penyerangan itu. Selain itu, ia juga masih penasaran dengan ekspresi Linda saat melihat berita tentang Rufino Pederik yang dibebaskan.
Satu hal yang seratus persen ia tahu dari Linda adalah, wanita itu sangat cantik, begitu indah, dan menyenangkan. Bangganya dirinya adalah pria pertama kali yang menikmati keranumannya. Maka dari itu ia ingin terus memilikinya ... selamanya. Agar semua keistimewaan dan keindahan Linda hanya menjadi miliknya seorang.
"Saya kaget, Pak. Terus itu Pak, kenapa nomor saya tidak bisa menghubungi polisi?"
"Oh, emm, nanti saya seting ulang," kata Agam.
"Anda terluka di mana saja selain di tangan? Apa tidak ke klinik dulu?"
"Tida perlu, saya bisa mengobatinya di rumah, saya juga bisa minta bantun Gama dan meminta resep dari teman saya."
"Oh," kata Linda. Lalu kembali menatap jalanan.
"Oiya, Anda belum makan, bukan?" Linda baru menyadarinya.
"Gampang, nanti bisa makan di rumah," kata Agam.
"Oh," lagi. Rasanya menjadi sulit merangkai kata saat berhadapan dengan pria ini. Padahal ia ahli di bidang public speaking.
"Terima kasih telah membantu saya," kata Agam.
"Tidak perlu berterimakasih Pak, justru saya yang terima kasih, kalau tidak ada Bapak, sa-saya pasti ketakutan. Oiya, saya salut dengan Anda. Ilmu bela diri Anda sangat hebat," puji Linda.
"Hebat? Tidak kok. Saya biasa saja. Di atas langit masih ada langit. Jadi, tidak ada yang bisa dibanggakan," ucapnya.
Perjalananpun kembali teriring keheningan. Namun hati keduanya merasa lega karena tidak ada yang membahas tentang pelukan dan kecupan itu.
Hmm, untungnya Linda tidak marah dan tidak mengungkit kejadian tadi. Batin Agam.
Aku lega, dia tidak bertanya kenapa tadi aku diam saja. Coba kalau sampai dia bertanya. Aduh aku harus jawab apa coba? Batin Linda.
***
Tidak terasa merekapun telah tiba di tempat tujuan. Gama telah menanti di gerbang dengan wajah ditekuk.
"Kemana saja sih, Kak? Hahh, ini mobil kenapa? Kok kaya kena tembak sih?" Gama mengoceh. Sekilas, ia juga melirik pada Linda.
"Kamu tuh ya Gama, bisa tidak peduli sama Kakak? Kamu tidak lihat tangan Kakak?" kata Agam sambil membuka bagasi dan mengambil kotak makanan untuk Gama.
"Lihat sih, tapi bukannya Kakak sudah biasa terluka? Sekarang jotos sama siapa lagi?" tanya Gama.
Mereka berada di ambang pintu menuju basement. Linda mematung dan diam saja. Gama lalu masuk ke dalam mobil dan memarkirkan mobil kakaknya.
"Kamu tidak perlu tahu, Kakak jotos dengan siapapun bukan urusan kamu," sahut Agam, saat Gama melajukan kemudi.
"Ayo, masuk lewat sini saja," kata Agam.
Ia mengajak Linda untuk masuk dari pintu depan. Biasanya selalu naik lift dari arah basement.
"Kok sepi, Pak? Pak Yudha dan bu Ira kemana?" tanya Linda saat mereka berjalan beriringan menuju dapur.
"Mereka saya suruh ke rumah utama untuk menjadi panitia pernikahan pak Komisaris," jawab Agam.
"Oh," sahut Linda. Entah kenapa kata 'Oh' kini menjadi sering ia ucapkan.
Tiba-tiba Gama datang, melempar kunci pada Agam, dan balik badan berlari cepat meniti tangga menuju lantai tiga. Atau lantai dua jika tidak dihitung dengan basement.
"Gamaaa, tungguuu. Ini ada makanan untuk kamu," teriak Agam.
"Tidak mau, siapa juga yang mau makan jam segini," sahut Gama dan tak menoleh lagi.
"Pak, bukannya Bapak belum makan, kenapa tidak bapak makan saja?" tanya Linda.
"Emm, saya lihat dulu. Masih menarik tidak ya?" ia meletakkan kotak di meja makan, lalu mencuci tangan.
"Ahh," rintih Agam. Luka-luka parut dan lecet di tangannya memang pasti perih saat dicuci memakai hand soap.
"Pak ...." Linda yang meringis saat melihatnya.
"Mana kotak obatnya? Biar saya bantu obati," tawar Linda.
"Ti-tidak perlu, nanti sama saya saja. Ini bisa dilakukan sendiri," katanya.
"Tapi --."
"Bu Linda cepat istirahat saja, saya khawatir bayi saya kecapean. Besok pagi, siap-siap ya, Anda harus ikut saya ke HGC untuk tanda tangan kontrak iklan." Agam lalu membuka kotak makanan tadi, dan bersiap. Sepertinya akan memanaskan makanan tersebut.
"Ba-baik," kata Linda. Ia berjalan perlahan menuju tangga.
Dan saat berada di titian keempat, ia kembali teringat saat ia terpeleset dan Agam menangkapnya. Linda menghela napas dalam mencoba melupakan bayangan itu. Ia kembali meniti anak tangga, namun entah kenapa ia tiba-tiba ingin melihat Agam saat kakinya hampir mencapai titian akhir. Lindapun menolehkan kepalanya ke bawah guna melihat ke arah dapur di mana Agam berada.
Ia menutup mulutnya tak percaya. Agam sedang melepas bajunya, dan tampaklah dengan jelas bagaimana punggung Agam terluka akibat cambukan tambang pastinya. Dan di bagian perutnya yang 'Wow' itupun terdapat luka yang sama.
Setelah membuka bajunya, Agam lalu membuka nakas untuk mengambil celemek. Mata Linda membulat, ia baru tahu jika seluruh celemek yang ada di nakas itu berwarna jingga. Pantas saja selama ini ia sering melihat Agam memakai celemek itu-itu saja.
Agam sudah memakai celemek. Dia sungguh tampan dan memikat dengan celemek jingga itu. Tidak pakai baju tapi memakai celemek. Sebenarnya pemandangan indah di bawah sana sayang untuk dilewatkan, namun Linda mengerjap saat ada bisikan di telinganya. Bukan bisikan gaib pastinya.
"Ngintip? Tampan, bukan?" bisiknya.
"Ga-Gama?! Ssstt."
Linda membekap mulut Gama dengan telapak tangannya. Sedangkan Gama langsung menahan tawa.
Telinga Agam yang terlatih tentu saja bisa mendengar suara-suara aneh dari jarak jangkau tertentu. Ia langsung mendongakan kepala untuk memastikan sumber suara.
Matanya langsung menyipit, sedangkan tangannya mengepal kuat. Ia melihat tangan Linda membekap mulut Gama. Dan tangan Gama memegang bahu Linda. Seketika selera makannya hilang, dan hatinya panas.
Linda dan Gamapun terkejut menyadari jika Agam mengetahui keberadaan mereka.
"PRANG."
Linda dan Gama terlonjak, Agam membanting kuat wajan yang akan digunakan untuk memanaskan ke lantai. Lalu ia membuka celemeknya, membuangnya sembarang dan naik menuju tangga tanpa ada bahasa verbal.
Linda dan Gama saling menatap. Gama tahu jika Agam cemburu. Sedangkan Linda malah kebingungan, namun spontan mengejar Agam dan meninggalkan Gama yang terkikik.
"Pak Agam, tungguu Pak. Pak, hei. Kenapa tidak jadi makan?" kata Linda sambil terus mengejar Agam.
Agam diam saja. Ia berjalan cepat menuju ruangan olah raga. Ingin segera melampiaskan kekesalan dengan caranya sendiri. Linda menyusulnya sampai ruang olah raga.
BUG, BUG, Agam meninju dan menendang samsak dengan tangan dan kakinya silih berganti.
"Pak Agam," panggil Linda.
Agam tidak menoleh, ia malah semakin menggila. Keringat sudah mengucur di tubuhnya hingga menjadikan luka cambukan itu basah dan perih.
Gama datang, ia hanya menyandarkan tubuhnya ke tembok, melipat tangan di dada dan menjadi penonton tanpa mengatakan apapun.
"Gama, tolong cegah kakakmu, kenapa dia seperti itu? Dan kamu juga, kenapa seperti tidak peduli dengan kakak kamu? Apa kamu tidak lihat kalau dia terluka?" Linda menatap heran pada Gama.
"Hahaha, Kak Agam sudah biasa seperti itu."
"Tapi dia terluka, Gama."
"Aku tidak peduli," kata Gama dan remaja ganteng itu berlalu begitu saja.
"Gama, tunggu. Berikan aku kotak P3K, aku mau mengobati lukanya." Linda mengulurkan tangan saat berhasil mengejar Gama.
Seketika Gama tersenyum dilanjut dengan tertawa.
"Hahaha, kenapa Kakak selalu ngobrol dengan kata saya dan anda saat bersama kak Agam. Kenapa kalian kaku sekali? Dan interaksi kalian itu sangat aneh, tahu." Gama berdecak sambil geleng-geleng kepala.
"Sudahlah Gama, mana kotaknya?!"
"Oke, tunggu."
Beberapa saat kemudian Gama datang lagi.
"Nih, Kak Linda tolong urus kak Agam ya. Aku mau tidur, takut terlambat ke sekolah. Bye-bye," Gama kembali lagi ke kamarnya, bibirnya menyeringai. Ia berharap hubungan kakaknya dan Linda ada kemajuan ke arah yang lebih baik.
Linda berjalan perlahan menuju ruang olah raga. Gila, pria itu masih menyerang samsak membabi buta seperti tak mengenal kata lelah. Gama yang tinggi bogsor seperti dirinya tentu saja terlihat cocok-cocok saja jika bersanding dengan Linda.
Selain itu, adiknya juga menarik dan sedap dipandang mata. Ah, bayangan Linda yang begitu dekat, ramah, dan riang saat bersama Gama benar-benar membuatnya meradang.
Tubuhnya sudah basah kuyup dengan keringat, napasnya menderu-deru, rambut indahnya bahkan ibarat lepas keramas, tapi kecemburuan itu tetap saja tidak hilang. Membenak, dan membekas. Agam tahu ini cemburu buta. Ia cemburu pada hal yang belum tentu kebenarannya dan belum tentu juga menjadi miliknya.
BUGH, ini adalah tinjuan terakhir dengan kekuatan terlemah yang ia miliki, disusul kemudian dengan tubuhnya yang ambruk, tertelungkup dan terkapar lelah.
Linda terkejut, segera berhambur ke arah Agam, meletakkan kotak obat dan mendekatinya. Mata Agam terpejam, bibirnya sedikit pucat, sedangkan peluhnya begitu banyak. Pria tampan ini benar-benar basah.
"Pak, Pak Agam!" sapa Linda. Ia panik. Menepuk berulang bahu Agam, tapi pria itu bergeming.
"Pak, jangan bercanda!" ia lalu membuka paksa mata Agam. Tapi yang terlihat hanya bagian retinanya saja.
"Pak Agam! Banguuun!" teriaknya. Ia mengguncang bahu Agam. Tapi pria itu tak merespon.
"Pak!" Linda panik. Lalu berlari ke kamar Gama untuk meminta bantuan.
"Gamaaa, Gamaaa, toloong, tolooong itu kakak kamu pingsan!" teriak Linda. Sambil menggedor pintu kamar tersebut. Tapi, tak ada sahutan.
"Halah, paling juga dia pura-puran pingsan," gumam Gama. Ia malah menarik selimut dan menutup telingannya dengan bantal.
"Gama! Aku tahu kamu belum tidur! Awas ya kamu Gama!" ancamnya. Linda mengepalkan tangan.
Karena Gama tak bangun ia kembali ke ruang olah raga dengan tergesa-gesa. Posisi Agam masih sama seperti tadi. Linda lalu mengambil handuk yang sudah tersedia di ruangan itu. Ia duduk bersimpuh di samping tubuh Agam, dan mulai menyeka keringat di rambut dan kening Agam.
Entah kenapa, ia tiba-tiba iba pada Agam, dari jarak ini ia juga bisa melihat seberapa parah luka di punggung Agam.
Siapa sebenarnya mereka? Kenapa menyerang kamu? Apa kesalahanmu? Batin Linda bertanya-tanya.
Ia lalu membersihkan keringat di punggung Agam dengan hati-hati. Dan saat tangannya menyentuh punggung Agam, Linda merasakan ada sesuatu yang berdenyut di dalam rahimnya. Hatinya tiba-tiba berdesir dan sedih
Apa tadi itu jantung janin? Jika dihitung dari hari pertama haid terakhir, usia kehamilanku memang akan memasuki usia 16 minggu, sedangkan jika dihitung dari hari dimana dia menodaiku, usia kehamilanku baru 14 minggu. Ya Allah, apa benar itu detak jantungnnya?
Tes, air mata Linda jatuh. Entah kenapa ia merasa begitu sedih. Ia mengelap punggung ayah dari calon bayinya itu sambil terisak. Dan lagi-lagi perutnya kembali berdenyut. Janin di dalam rahimnya seakan merespon apa yang tengah ia rasakan saat ini.
Denyutan di perutnya bersamaan dengan gerakan sebuah tangan yang tiba-tiba menggenggam pergelangannya. Tangan yang di hari itu telah menjamahi, menodainya dan melecehkan setiap sudut dan detail tubuhnya tanpa terlewatkan satu incipun.
Tangisannya makin keras.
"Huuks," ia menunduk sambil meremas handuk itu di pangkuannya.
Agam bangun, benar dugaan Gama. Jika sebenarnya Agam tidak pingsan. Tadi, pria itu ambruk karena kelelahan saja. Agam mendengar saat Linda memanggilnya, dan merasakan dengan bangga nan bahagia saat tangan halus yang dahulu pernah ia nikmati setiap detail buku-bukunya itu sedang mengusap dan membersihkan tubuhnya.
Namun isakan itu membuatnya tidak nyaman. Agam lalu bersila di hadapan Linda, ia masih memegang tangan Linda.
"Kenapa menangis, hmm?" tanya Agam. Kembali tak sadar satu tangannya kini menyentuh pipi yang begitu mulus dan lembut itu guna mengusap airmatanya.
"Huuu, sa-saya ...."
Ia tak sanggup berucap, malah semakin menunduk, namun tak menolak saat Agam mengusap airmatanya. Ia juga tak menolak saat tangan Agam memegang dagunya dan menengadahkan kepalanya.
"Ayo cerita sama saya, kenapa kamu menangis? Ayo berbagi kesedihan dengan saya, siapa tahu dengan Anda bercerita kesedihan Anda bisa berkurang," kata Agam dengan suara lirih. Jujur ia juga sedih, tapi memang tak bisa menangis.
"Sa-saya se-sedih ka-karena merasakan ... hikss ...."
"Merasakan apa?" Ia menatap Linda, tangannya masih setia memegang lembut dagu wanita itu. Merekapun bersitatap.
Bibir Linda bergetar, sambil menatap Agam ia berkata, "Sa-saya merasakan perut saya berdenyut untuk pertama kalinya."
DEG, jantung Agam seakan tersengat listrik.
"A-apa? Benarkah?" mata pria itu berbinar, namun tiba-tiba berubah sendu.
"Kenapa kamu menangis? Apa kamu tidak suka jika bayi itu hidup dan berkembang?" tanyanya. Kini ia memegang dagu Linda dengan sedikit kuat, hingga Linda memegang tangan Agam.
"Apa?! Kenapa Anda tega berpikir seperti itu? Apa Anda tidak yakin sama saya? Saya rela kehilangan semuanya demi anak ini. Termasuk rela dikurung oleh Anda. Saya menangis karena terharu. Kamu jahat!" Linda menepis tangan Agam, lalu berdiri dan berlari meninggalkan Agam.
Agam terkejut, ia menyesal. Saat berhadapan dekat dengan Linda, ia memang sering hilang akal.
"Bu Lindaaa, tunggu." Ia mengejar, lalu menghadang Linda di depan pintu kamarnya.
"Maafkan saya," kata Agam.
"Minggir! Awas!! Huuks ...." Ia mendorong dada Agam, tapi tentu saja tak akan sanggup membuat Agam goyah.
"Tolong maafkan saya, saya menyesal," tegasnya. Tangannya merangkum wajah Linda.
"Tatap saya, please. Biar Anda bisa melihat kalau saya tulus."
"Huuu ...."
Perlahan Lindapun mendongakan wajahnya dan menatap Agam dengan air mata yang terus berurai.
Keduanya kembali saling menatap lekat. Agam kembali mengusap air mata Linda dengan ibu jarinya.
Dan ada satu tetesan air mata yang saat ini sedang mengalir menuju bibir indah merekah milik Linda. Tangan Agam spontan mengusap air mata yang ada di daerah itu. Ia mengusapnya lembut, dan menatapnya.
Air mata itu sudah tiada, tapi ... tangannya masih setia di sana. Agam menelusuri bibir itu dengan jemarinya. Mata Linda membulat, tapi lagi-lagi ia tak mampu bergerak, tubuhnya kembali kaku.
Dan Linda semakin terkejut saat pria yang tidak memakai baju itu, fokus menatap bibirnya, lalu menundukkan kepala dan semakin mendekatkan wajahnya pada bibirnya.
Tidaak, dia mau apa? Linda berteriak dalam hatinya.
Tapi ....
Kenapa matanya malah terpejam? Ya, mata Linda terpejam, dan bibir tipis milik Agam kini semakin mendekat. Tunggu, mata Agam juga terpejam. Dan percayalah jika mata mereka ternyata terpejam secara bersamaan.
Bibir yang sama-sama indah itu kini semakin mendekat, hampir menempel dan melekat. Mungkin hanya berjarak satu centi meter, hingga keduanya bisa merasakan betapa hangatnya hembusan napas itu.
Dag.
Dig.
Dug.
Derr.
Dan ....
❤❤ Bersambung ....