AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Ternyata ....



"Ice, a-aku bahagia. Kamu miliku sekarang," kata Gama di alam bawah sadarnya.


"Ya, Val. Aku juga ba-bahagia. Ta-tapi ... kapan kamu akan mengakhirinya? A-aku le-lel---ahh Val," keluh Freissya.


"Sabar ya Ice, se-sebentar la-lagi. O-oiya a-apa be-benar kita su-sudah menikah? Kok aku lupa kalau kita sudah menikah. Kapan kita menikahnya, Ice? Siapa walinya? A-apa mungkin ini hanya mimpi?" Ia berhenti sejenak dan memandangi cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.


"Hmm ... aku juga tidak tahu, Val ... aku lelah ... cepat akhiri, apa kamu mau membunuhku?" kata Freissya.


"Baiklah, siap-siap ya istriku. Ice, Ice, Ice, kamu di mana? Kenapa kamu tiba-tiba hilang?"


Gama kaget karena Freissya yang tadi terbaring pasrah di bawah tubuhnya hilang seketika entah kemana.


Dan di saat itulah Gama sadar jika dirinya hanya bermimpi ketika merasakan pergelangan kakinya dingin. Gama membuka matanya. Ini mimpi ter-wah yang pernah ia alami.


Terkejut, matanya memidai ke seluruh penjuru ruangan. Sampai menelan saliva berkali-kali karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Gama berada di ruang sempit. Sudah memakai baju kembali. Tapi bukan baju miliknya. Kakinya terikat borgol, tangannya dibiarkan bergerak bebas, namun yang membuat Gama syok adalah ... dua buah bom molotov terikat di pinggangnya dan menyala. Menunjukkan detik perdetik timer peledakan.


"APA INI?!" pekiknya.


"TOLONG, TOLOOONG!" pekiknya lagi dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.


"Apa salahku? Lepaskan aku! Lepaskaaan! Kalian tidak berprikemanusiaan!"


Gama meronta-ronta, tubuhnya mulai berkeringat karena ketakutan ditambah ruangan tersebut begitu pengap.


"Aku ke sini ingin bicara dengan ketua BRN, kenapa kalian menangkapku?! Lepaaas! TOLOOONG!"


Gama berguling, bergeser dengan punggungnya, lalu merangkak menggunakan tangannya menuju pintu baja yang ia lihat.


Di pukul-pukulnya pintu itu hingga tangannya kesakitan dan memerah. Ia meratap putus asa sambil menatap langit-langit, terlihat puluhan kamera terpasang di sana dan pasti tengah merekam dirinya.


"A-aku belum mau mati, huuu huuu." Airmatanya berderai.


"Aku adiknya Maga! Dia anggota BRN, bisakah kalian melepaskanku atas nama kakakku?!" Dengan sendirinya Gama melakukan pengakuan.


Ketua BRN dan anggota lain tersenyum puas mendengar pengakuan Gama.


Artinya, penelepon misterius itu tidak berbohong. Sekarang hanya perlu menunggu pembuktian apakah dia bisa melepaskan diri dari bom itu? Atau pasrah saja dan membiarkan tubuhnya hancur berkeping-keping.


"Pak Ketua, apa ini tidak berlebihan? Bagaimana kalau bomnya benar-benar meledak?" ucap salah satu anggota.


"Kita lihat saja nanti," kata Pak Ketua dengan bibir menyeringai di balik maskernya. Hasil pemeriksan lab milik Gama sudah keluar. Hasilnya sangat memuaskan. Dia sehat, Pak Ketua bangga.


Ketimbang mengetes kemampuan tertulis, Pak Ketua lebih suka langsung mengetes Gama dengan kemampuan praktikum. Ia berharap Gama bisa meloloskan diri dari bom molotov tersebut.


Mata mereka fokus pada layar. Tampak jelas jika Gama mulai memperhatikan bentuk bom itu dengan tangan gemetar.


Ya, di dalam ruangan eksekusi Gama memang sedang menganalisis. Ia berharap bisa menggunakan kemampuannya walaupun harapannya kecil. Setidaknya berusaha dulu, hasilnya bagaimana nanti. Yang jelas, Gama yakin jika usaha tidak akan menghianati hasil.


Hanya perlu memutus salah satu kabel rumit itu dengan sempurna dan tepat, ia berharap akan berhasil.


Bibir yang basah bercampur peluh berkamit melafalkan doa, Gama tidak mau mati sia-sia. Tapi jikapun ia harus mati, Gama bersyukur karena ia bisa menyebut nama-Nya di detik-detik terakhir hidupnya.


"Wahai malaikat maut, apa kamu sudah ada di sini?" gumamnya.


Matanya kembali memperhatikan sekitar. Sedang mencari sesuatu untuk memutus kabel.


Tapi ... tidak ada apapun.


Artinya, mau tidak mau ia harus menggunakan kuku atau giginya. Tapi, gigi tidak mungkin, karena jarak jangkaunya terbatas.


Satu kabel berhasil ia identifikasi, dengan bismillah Gama mulai memutus kabel kecil itu dengan tangannya.


'Tak.'


Berhasil diputus.


Tapi ... timer masih menyala.


'Tin.'


'Tin.'


'Tin.'


Jantung Gama berdegup lebih cepat, berkejaran dengan bunyi timer.


Angka yang tertera berjalan mundur, 140 detik lagi, mungkin saja bom itu akan ... MELEDAK.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Pertautan panas itu terpaksa harus terhenti saat Agam melihat ada surel masuk ke laptopnya.


Dan tangan nakal yang tengah berkelana itu perlahan menghentikan aktivitasnya. Linda merona. Serius, dalam batinnya ia ingin berkata ....


"Kenapa berhenti, Pak? Lanjutkan suamiku."


Linda bahkan merutuki kata hatinya. Jiwanya meronta, ada hasrat kuat ingin menggigit bibir Agam yang selalu beraroma mint.


Dan ingin bertanya ....


"Kenapa Pak Agam selalu wangi mint? Apa Anda menyembunyikan permen mint di saku Anda?"


Lamunan Linda buyar saat Agam mengusap lembur sudut bibirnya.


"Tunggu sayang, ada pesan masuk," sambil tersenyum.


Linda mengangguk, lalu beranjak dari pangkuan Agam.


"Apa aku boleh melihat Anda bekerja?" tanyanya.


"Boleh sayang, ini pesan penting dari seseorang." Agam mulai membuka pesan tersebut.


DEG, Linda terkejut saat melihat siapa pengirimnya.


'Klik.'


Agam membuka surel.


"A-APA?!"


Agam sampai berdiri, Linda terkulai di lantai dan membelalakan mata.


Pesan itu berisi live re**cord, merperlihatkan bagaimana adik kesayangan Agam, Gamayasa Val Buana sedang berjuang antara hidup dan mati di ruangan sempit yang tentu saja dikenali oleh Agam.


"TIDAAAK," teriak Agam.


"Gamaaa!"


Agam menjambak rambutnya sendiri lalu berdiri hendak menonjok tembok kamar, namun Linda menahannya. Linda memeluk punggung Agam dan menangis.


"Pak Agam, sabar ...," katanya. Air mata Linda membasahi punggung Agam.


"Ini yang saya takutkan El, mereka membebaskan saya karena sudah berhasil mendapatkan adik saya. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang memberikan informasi tentang Gama bisa hidup dengan tenang. Arrrghh," teriaknya lagi.


"Lalu Gama bagaimana, Pak?"


Linda menatap layar, tapi mengintip di balik jemarinya.


"Pak Ketua sedang mengetesnya."


Suara Agam gemetar, giginya gemeretak, wajahnya merah padam. Ia sedang marah besar.


"Terus, bomnya bagaimana, Pak?"


Linda memegang bahu Agam. Airmatanya berderai.


"Mereka sebenarnya tidak akan membunuh Gama, kalau Gama berhasil melepaskan diri, sudah dipastikan dia lulus. Jika gagal dari waktu yang mereka tetapkan, maka sebelum bom itu meledak, bom akan mati secara otomatis," terang Agam.


"Oh, begitu?"


Linda mengusap dada. Hatinya sedikit lega.


"Jangan meloloskan diri Gama, Kakak mohooon ...," ratap Agam. Kepalanya menunduk pada meja.


"Itu hanya jebakan, jangan menunjukkan kemampuan kamu, buaya darat! Dasar bodoh!" Agam terlihat putus asa.


"Pak Agam, maaf ya ... aku tidak bisa membantu."


Linda kembali memeluk punggung Agam. Agam terpekur, menatap Gama dengan mata memerah.


Sebenarnya, ia pun bangga jika Gama bisa menjadi anggota BRN, tapi ... Agam khawatir Gama melakukan kesalahan dan membahayakan dirinya sendiri. Agam tahu benar bahaya dan risikonya.


Terlihat Gama menarik kembali salah satu kabel, hati Agam tersayat. Sakit dan sedih. Gama memanggil namanya meminta tolong.


'Brak.'


Kali ini Agam tidak bisa dicegah lagi. Tangannya mendarat sempurna menghantam meja hingga retak. Ya, meja itu memang terbuat dari kayu.


Linda segera mengambil laptop untuk diselamatkan. Wajahnya ketakutan. Semakin takut saat Agam memutar pandangan untuk mencari sasaran lain.


Gigi Agam masih gemeretak, urat tangannya menyembul, tangan yang mengepal gemetar, dadanya naik turun.


Linda kaget karena mata Agam terlihat menatap tajam pada nakas yang terbuat dari kaca. Bisa terluka tangan pria itu jika sampai menyerang kaca.


Benar saja, sambil mengatur napas, Agam mendekati kaca.


Linda jadi tahu sisi buruk suaminya. Pantas saja di kamar Agam selalu ada samsak. Sayangnya, di kamar belum tersedia samsak.


"Pak Agam, vidio livenya mati," kata Linda.


Agam diam saja, masih berjalan mendekati nakas. Pria itu sedang dikuasai amarah. Tengah berpikir keras siapa kiranya yang tega menukar dirinya dengan Gama.


"Pak Agam, tolong kendalikan emosinya."


Agam sedikit mengerikan, pikir Linda. Beruntung tiba-tiba pintu kamar ada yang mengetuk.


"Pak Agam, ambulance yang hilang sudah kembali," kata Pak Yudha dari luar. Linda bergegas membuka pintu kamar.


"Pak Yudha, sedang terjadi sesuatu pada Gama, Pak Agam sedang marah," kata Linda.


"Ya ampun, saya lupa belum memasang samsak di kamar ini. Anda atasi ya, saya mau pesan samsak dulu."


Pak Yudha berlari, ia tahu benar jika Agam selalu melampiaskan kemarahannya pada samsak.


"Apa? Beli dulu?" Linda melongo.


'Prak.'


Terlambat, rupanya Agam telah menyerang nakas.


Linda menutup kembali pintu kamar dan berlari memeluk Agam. Kemarahan memang salah satu emosi alami manusia yang jika dipendam malah dapat memperburuk masalah.


Tapi pikir Linda, marahnya Agam tergolong melampaui batas karena berhasil menelan korban yaitu kaca pecah, dan meja kayu yang terbelah dua.


Ini terdengar seperti marahnya Hulk. Linda bergidik, memeluk erat punggung suaminya.


"Lepaskan, El."


"Pak Agam, jangan seperti ini, Anda sekarang sudah menjadi Paren. Tolong berikan tauladan yang baik untuk putra kita. Ketidakmampuan menahan emosi dapat menyebabkan Bapak bertindak agresif atau bahkan membahayakan."


"Dengan Bapak marah-marah, masalah Pak Agam juga tidak akan langsung selesai. Tidak pula dapat mengubah Anda menjadi seorang manusia super, justru menandakan jika Anda memiliki gangguan amarah yang dapat memicu masalah dan konflik, termasuk konflik denganku, aku tidak suka memiliki suami pemarah," kata Linda.


Perlahan Linda membalikan tubuh Agam dan memeriksa tangannya. Agam tidak terluka parah, hanya ada sedikit lecet. Segera dikecup lecet itu dengan hati-hati. Agam diam seribu bahasa.


"Maaf El, sebelumnya saya tidak pernah merusak barang-barang, tapi ... karena tidak ada samsak jadi ---."


"Sssttt, ya tidak apa-apa. Pak, gangguan kemarahan sebenarnya adalah hasil utama dari kesalahan manajemen kemarahan."


"Emm, awalnya normal, lalu bertumbuh dari waktu ke waktu menjadi kebencian, kesinisan, kemurkaan, dan kemarahan destruktif yang timbul dari kegagalan untuk mengenali dan mengatasi kemarahan."


Kali ini sambil menatap Agam, lalu berjinjit untuk mencium kening Agam dan merengkuh bahunya.


"Kok saya merasa diperlakukan seperti anak kecil? Sayang, ini kelemahan saya. Terkadang saya memang tidak bisa menahan emosi," ucap Agam. Ia mulai tenang, napasnya kembali teratur.


"Pak Agam, setiap manusia terlahir dengan dibekali emosi untuk merasakan suatu hal. Ketika sedih maka manusia akan menangis, ketika ada sesuatu yang tidak dikehendaki, maka ia akan marah karena tingkat emosi yang sedang naik."


"Ya sayang, saya faham, kalau saya tidak memiliki emosi mungkin akan diam saja saat kamu ...."


Agam berbisik di telinga Linda. Entah apa yang dibisikannya. Yang jelas Linda langsung batuk-batuk dan mencubit Agam.


"Putra kita sudah kembali Pak, ayo kita sambut. Oiya, ketika marah, lebih baik perbanyak mengucap kalimat istighfar karena amalan istighfar dapat menenangkan hati dan pikiran. Bisa jadi alternatif cara untuk mengendalikan emosi, setuju?"


"Setuju sayang, terima kasih ya. Sebenarnya saya tahu cara mengendalikan emosi menurut agama kita, tapi ... saya kesulitan mempraktikannya."


Agam membalas pelukan dari Linda. Mencium puncak kepala Linda berkali-kali.


"Sepertinya, besok saya harus ke kota lagi. Saya yakin pengacara Vano tidak akan bisa mengatasi masalah ini sendirian. Saya juga harus minta bantuan paman Yordan untuk menangkap pelakunya."


"Ke kota lagi? Saya mendukung, Pak. Tapi ... jangan lama-lama ya."


Linda menunduk saat mengatakan kalimat itu.


"Tidak akan sayang, kan saya juga butuh belaian, kamu faham maksudnya, kan?"


Linda mengangguk, padahal masih berpikir keras memahami ucapan Agam.


Setelah benar-benar tenang, Agam lantas menuntun Linda, keluar dari kamar itu untuk menyambut kedatangan bayi mereka.


.


.


.


.


"Maaf kan kami, Pak."


Dokter Dani, dokter Rita dan tim medis lain bersimpuh di hadapan Agam. Kejadian yang baru saja mereka lewati sangat di luar dugaan. Sementara Linda langsung memeluk bayinya dan menangis tersedu-sedu.


"Ini bukan kesalahan kalian, justru saya yang minta maaf. Gara-gara saya kalian nyaris dalam bahaya," tegas Agam sambil mengulurkan tangan pada dokter Rita dan dokter Dani agar mereka kembali berdiri.


"Kami tidak mengenali mereka, Pak. Wajahnya tertutup masker," terang dokter Rita dengan gugupnya.


"Ya, saya tahu. Apa ada yang terluka?"


"Tidak ada Pak."


"Ya sudah, kalian semua mandi dulu, setelah itu kita makan bersama, saya sudah mengundang koki hotel bintang lima untuk memasak menu andalan mereka di rumah ini," terang Agam.


Agam kemudian menghampiri Linda, lalu memangku putra kecilnya dengan mata berkaca.


"Maafkan Paren, kelak ... kamu tidak akan ada dalam bahaya lagi."


Agam mencium putranya. Lama ia menghidunya sambil memejamkan mata. Aroma khas bayi membuatnya benar-benar terlena.


"Tuh, kan? Pak Agam membuktikan janjinya, dia berhasil menyelamatkan putranya," kata Pak Yudha pada Ayah Berli yang sedang menatap interaksi Linda dan Agam dari kejauhan.


Ayah Berli terdiam.


.


.


.


.


"Saya heran kenapa bayi punya wangi mulut yang khas? Wanginya menenangkan. Padahal bayi kita belum sikat gigi. Semua rasa lelah dan amarah saya rasanya sirna ketika mencium wangi ini, hmm ... harum sekali," puji Agam.


"Ada yang mengatakan ini salah satu wangi surga," ucap Linda.


Dan iapun bergantian dengan Agam menciumi putranya.


"Salah satu alasannya karena mereka belum punya gigi, Pak. Jika sudah punya gigi, sisa makanan bisa menempel pada gigi, bisa terbentuk plak yang bisa membuat gigi membusuk dan mengeluarkan bau tak sedap," jelas dokter Rita.


"Ada alasan lainnya, Pak. Yaitu karena ASI. ASI yang dikonsumsi bayi mengandung sel imun yang disebut fagosit. Nah, f**agosit itu dapat membasmi bakteri dalam mulut yang menyebabkan bau tak sedap. Maka dari itu, bayi yang minum ASI, mulutnya lebih wangi jika dibandingkan dengan bayi yang sudah minum susu formula," tambah dokter Dani.


"Selain itu, bayi juga memproduksi banyak air liur yang membuat mulutnya selalu lembap. Kelembapan mulutnya secara alami mampu membatasi pertumbuhan bakteri.


Karena keistimewaan-keistimewaan itulah bau mulut bayi jauh lebih sedap dibandingkan bau mulut orang dewasa." Dokter Rita memperjelas lagi.


Linda dan Agam mengangguk-angguk. Kini mereka faham.


.


.


.


.


Di saat yang lain makan dengan lahapnya, Agam hanya makan beberapa suap. Meminta izin selesai lebih dulu dan kembali ke kamarnya.


Setibanya di kamar, Agam terkejut karena ada delapan panggilan dari paman Yordan yang tidak sempat ia jawab. Saat dihubungi lagi, nomor paman Yordan tidak aktif. Tapi, paman Yordan ternyata meninggalkan pesan untuknya.


"Ben, maafkan Paman. Pamanlah yang menyerahkan Gama pada BRN. Paman melakukan ini karena ingin menyelamatkan kamu. Kamu tenang saja, Paman sudah menjaminkan nyawa Paman sendiri untuk Gama."


"Pasti kamu marah dan kecewa. Tapi ... sebagai pengganti ayah kamu, Paman merasa harus mengambil keputusan. Alasan utama Paman melakukan ini akan Paman kirimkan malam ini juga."


"Pa-Paman ... ternyata kamu pelakunya. Gama ... jangan takut, Kakak pasti akan menolong kamu."