AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
She is Special Woman, She is My Mine



Rumah Sakit Internasional The Number One, Pusat Kota


Linda membuka matanya perlahan-lahan, tubuhnya masih terasa lemas, pusing, mual, dan terasa berat di bagian mata. Ia mengedarakan pandangan ke sekeliling.


Jam dinding rumah sakit menunjukkan pukul 21.47 waktu setempat.


Linda meringis-ringis, bagian inti tubuhnya terasa sakit dan terkoyak. Rasanya sangat aneh, ia benar-benar merasakan ada yang aneh pada inti tubuhnya. Seperti membengkak, dan terasa perih sampai bagian dalamnya.


Apa seperti ini rasanya operasi virginity? Batinnya.


"Uhhh, ssshhhh ...." Keluhnya.


Kembali memejamkan mata dengan posisi kaki tidak berani bergeser satu incipun.


Linda sudah kembali berada di ruang perawatan.


"Nona ...." Panggil seseorang.


"A-apa?"


Linda melirik. Dan Brigadir Lely tersenyum kepadanya.


Sementara Aiptu Joey, tampak tertidur dengan posisi duduk di sofa, dan tangan melipat di dadanya.


"Anda lapar? Sekarang sudah boleh makan, mau saya suapi?" tanya Brigadir Lelly.


"Tidak perlu, Bu."


'Kruwuuuk,' tapi perut Linda menjawab sebaliknya.


"Eh, hahaha, tuh kan? Anda lapar kan?"


Brigadir Lelly tergelak. Lalu beranjak mengambil menu yang memang sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit.


"Ma-maaf jadi merepotkan," katanya. Saat Brigadir Lelly menyuapinya.


"Tak masalah Nona, kita sudah dibayar."


Brigadir Lelly menyuapi sambil menatapi kecantikan Linda.


Ingin rasanya Brigadir Lelly bertanya, operasi apakah yang dijalani Linda?


Sedangkan tadi ia melihat perut Linda baik-baik saja saat seorang suster memeriksa denyut jantung janinnya. Ketika itu Linda baru saja tiba dari ruang operasi dan belum sadar.


"Makan yang banyak, Nona. Oiya, tadi ponsel Anda berdering beberapa kali, mau saya ambilkan?"


"Bo-boleh, Bu."


"Bu, aku sudah kenyang, aku mau buang air kecil," katanya.


"Hahaha, di sini saja, Nona. Anda kan memakai kateter," terang Brigadir Lelly.


"Oh, iya ya." Linda kembali tersipu.


"Ya sudah, Ibu boleh beristirahat, aku sudah baikan kok. Oiya sampai jam berapa Bu Lelly dan Pak Joey ada di sini?"


"Sampai Pak Agam datang, Nona. Katanya malam ini Anda akan dipindahkan ke privat room."


"A-apa? Dia bilang begitu?"


"Ya, Nona. Anda beruntung sekali memiliki teman sebaik Pak Agam."


Linda terdiam. Ia hanya tersenyum hambar saat Brigadir Lelly beranjak menuju sofa lain untuk beristirahat.


Dengan jantung berdegup, Linda kemudian meraih ponselnya. Ada pesan suara dari Agam.


Kenapa harus pesan suara sih?


Untung saja Brigadir Lelly mengambilkan headsetnya juga. Lalu dipasanglah ditelinganya, dan mulai memutar pesan dari Agam.


"Assalamu'alaikum, gadisku, calon istriku. Selamat ya ... kata dokter Fatimah operasinya sukses."


"Wa'alaikumussalaam," jawab Linda perlahan.


"Eh, dia bilang gadisku? Ish, menyebalkan," rutuknya.


"Apa sekarang kamu kesakitan? Emm, efek awalnya mungkin sakit, tapi ... manfaatnya akan kita rasakan seumur hidup kita. Emm, maaf jika saya terlalu percaya diri dan mengatakan kita, apa itu berlebihan?" Suara Agam terdengar mengecil.


Linda tak kuasa menahan senyum. Lalu ia mengetik untuk membalas pesan Agam.


"Iya, Bapak terlalu percaya diri, kan belum tentu juga aku menikah dengan Bapak. Bisa saja aku menikah dengan Hikam. Pria polos yang baik hati," ketiknya.


Sebenarnya Linda hanya ingin bergurau. Tapi tak dinyana, jika respon Agam sangat berlebihan.


ABB Calling ....


Deg.


Linda kaget. Sampai tidak berani mengangkatnya, sampai Agam memanggil untuk yang ke tiga kali, Linda tidak berani mengangkat.


"Baik, kalau kamu tidak ingin berbicara lagi dengan saya, besok saya akan preskon dan mengatakan semuanya. Maaf mengganggu istirahat kamu."


Apa? Dia marah? Aku kan hanya bercanda.


Lagi, Linda panik. Ia tahu Agam nekad. Segera ia menelepon Agam tapi tidak diangkat. Bahkan sampai lima panggilan, tapi Agam tidak menjawab.


"Pak, maafkan aku .... Aku hanya bercanda, serius. Pak Agam harus tahu, bahwa aku hanya akan memberikan mahkotaku pada suamiku. Dan pria satu-satuanya yang aku cintai hanya Dirut HGC saat ini."


Pesan terkirim. Tapi tidak ada balasan dari Agam. Namun tidak lama kemudian, beberapa orang petugas datang.


"Nona LB, Anda akan kami pindahkan ke kamar privat room, yang boleh masuk ke ruangan itu hanya keluarga Nona LB, dokter Fatimah, dan asisten dokter Fatimah," terang petugas tersebut.


Linda hanya mengangguk, Brigadir Lelly dan Aiptu Joey tampak mendampingi sampai ruangan. Ruangan itu letaknya di lantai tertinggi rumah sakit tersebut.


Lebih mirip dengan kamar apartemen daripada kamar rumah sakit.


Pukul 03.21 waktu setempat.


Linda kembali terlelap di kamar itu, setelah diberikan obat anti nyeri, rasa sakit di bagian itu perlahan berkurang. Tergantikan oleh rasa nyaman dan kantuk yang melanda.


Ia tidur cantik dibawah pengawasan sepasang polisi berseragam bebas. Brigadir Lelly dan Aiptu Joey.


Dan mereka beranjak saat seseorang pria tinggi tegap yang bertopi dan bermasker masuk begitu saja ke ruangan itu. Dua polisi itu langsung berdiri. Mereka tahu benar siapa yang datang.


"Pak Agam, Nona LB baru saja tidur," kata Aiptu Joey.


"Terima kasih, tugas kalian selesai," kata Agam, sedangkan matanya tetap fokus pada yang tengah tertidur cantik.


Entah karena Agam sudah tergila-gila, atau karena aura virginity itu, Agam merasa jika Linda semakin cantik jelita saja.


"Pak Agam kami permisi." Kedua orang polisi itu menyalami Agam.


"Sekali lagi terima kasih, sampaikan salam saya pada komandan."


"Siap, Pak."


Dan merekapun pergi.


Setelah memastikan ruangan itu tidak bisa dimasuki oleh siapapun Agam mendekat pada wanita cantik itu.


Tidak-tidak, sekarang dia adalah gadis cantik itu, bukan wanita cantik itu.


Virgin, tapi hamil?


Ahh, memikirkannya saja sudah membuat Agam tersenyum-senyum.


"Selain memperbaiki mahkotanya, saya juga melakukan prosedur lain yang akan menjadikan nona LB wanita yang dicandui dan digilai suaminya."


"Prosedur ini kali pertamanya saya lakukan, sampai-sampai operasi estetika tadi menjadi operasi terlama yang pernah saya lakukan. Anggap sebagai hadiah dari saya atas kebaikan Pak Agam selama ini."


Pesan dari dokter Fatimah terngiang lagi. Agam kembali menghela napas.


Ia menarik kursi ke sisi bed dan menatap Linda lekat-lekat. Lalu diraihlah tangan Linda dan dikecupnya perlahan. Dikecup dari ujung jemarinya.


Jika dulu saja tubuh Linda sudah membuat seorang Agam Ben Buana kecanduan, lalu bagaimana dengan tubuhnya yang sekarang?


Ohh, Linda ... you are my mine. Kamu wanita spesial yang HARUS aku miliki. Bahkan jikapun ayahmu tidak merestuiku, aku akan tetap memaksa untuk menikahimu. Aku akan mendapatkan kamu, Linda Berliana. Hanya aku yang boleh menikmati keistimewaan kamu.


Entah sadar atau tidak, kini Agam sudah berdiri dan menunduk untuk mencium kening Linda. Satu kecupan mendarat, namun nalurinya berkata ingin mencium pipi Linda yang mulus itu.


Dan iapun mengecup pipi Linda perlahan, namun pasti. Kiri, dan kanan tidak luput dari cumbuan bibir tipis itu.


Agam menghela napas, nafsunya kian menuntut, pipi dan kening dirasa kurang. Ia ingin yang lebih. Ingin menyesap yang manis dan merah alami itu, ingin menikmati kehangatannya dan desirannya.


Cium sekarang, selagi dia tidur Pak Agam, cepat! Lihat, indah sekali bibirnya, ayo! Ayo! Ayo! Cium! Cium!


Nafsunya berujar garang.


Jangan Pak Agam, kalau Linda marah bagaimana? Ingat, Pak. Pada dasarnya berpegangan tangan saja tidak boleh, lho. Lha apalagi sampai cium-ciuman, tolong kendalikan nafsu Anda. Ayo sekarang berwudhu dan shalat malam. Berdoalah agar ayah LB merestui Anda.


Amal baik Agam mengingatkan.


Cium aja sih.


Jangan!


Halah, cium! Cepat!


Jangan!


"Aaaa," teriak Agam.


Sontak yang sedang tidur cantik terbangun.


"Pak Agam ...." Sapa Linda.


___


Walau lelah, nyai paksakan untuk mengintai. Demi apa coba?


Demi uang dari menulis? Tidak juga.


Kenapa?


Karena nyai penulis remahan, bahkan poin kontrak AGAPE pun remahan jua.


Tapi kembali lagi, nyai menulis karena suka, nyai senang banyak teman. nyai sudah cukup bangga jika ada yang berkenan membaca tulisan nyai. Apalagi jika tulisan nyai bisa menghibur, rasanya sungguh aduduh, hehehe.


I love you semuanya. Jika ada kesempatan dan waktu senggang lagi, nyai akan kembali mengintai kehidupan Pak Agam dan Bu Linda.


Tetap jaga kesehatan, penuhi asupan makanan yang seimbang. Perbanyak minum air putih, dianjurkan air hangat.


Selalu ingat 6M. Menjaga jarak, menjauhi kerumunan, membatasi mobilisasi, melakukan vaksinasi, mencuci tangan dan memakai masker. Ingat, sekarang gunakan dua masker ya. Dua masker lebih baik.