
"Lapor Pak Ketua, saya belum tahu lebih jauh identitas adiknya Maga. Kabar terbaru yang saya dapat, adiknya laki-laki," ucap seorang pria bermasker pada ketua BRN.
"Tolong selidiki lebih lanjut. Buat tim khusus untuk melacak keberadaannya. Saya berpikir, Maga sudah memprediksi hal ini. Satu tahun yang lalau saya pernah bertanya, apa kamu punya adik? Tapi dia mengatakan tidak punya. Artinya, Maga tidak berkenan adiknya menjadi agen BRN."
"Tapi, Pak Ketua, kalau kita tidak menemukan dia, maka federasi akan terus menekan kita, saya sarankan sidang etiknya dipercepat saja."
"Kamu tidak perlu pusing, saya sendiri yang akan mendatangi rumah Maga dan mengkonfirmasi tentang adiknya."
"Tapi Pak Ketua, kenapa harus Anda yang turun tangan?"
"Dalam hal ini saya juga bertanggung jawab, kamu fokus saja dengan tugas kamu. Sidang etik tetap akan dilaksanakan sesuai dengan agenda yang telah disepakati," tegas Pak Ketua.
"Baik," sahut pria bermasker.
"Siapa dia, Frei? Siapa? Jawab!" bentak pria itu. Ia memegang bahu Freissya yang meringis ketakutan. Mereka sedang berada di dekat tangga rumah bu Mara.
"Kak, dia temanku. Namanya Val, Kakak tadi sudah berkenalan, kan? Dia pasien, Kak. Kita perlakukan sebagai pasien saja, kenapa harus marah-marah sih?"
"Frei, aku dokter. Untuk masalah profesionalitas, kamu tidak perlu mengajari aku lagi. Tapi aku jelas-jelas melihat tatapan dia ke kamu itu berbeda Frei, berbeda."
"Kak, jangan teriak-teriak, kalau dia dengar bagaimana?"
"Biar saja dia dengar! Aku tidak peduli!Lagipula dia sudah diinfus dan diberi obat, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kamu perhatian sekali sama dia, aku cemburu Frei, tatapan dia seperti menyukai kamu. Saat kamu menginfus dia, dia terus melihat wajah kamu tanpa berkedip," katanya lagi.
"Itu perasaan Kakak saja. Jangan khawatir, Kak. Aku tidak akan menyukai dia. Tidak akan," tegas Freissya sambil memeluk kekasihnya.
Bagi Freissya, ia dan adik Dirut HGC laksana minyak dan air, tiak akan pernah bisa menyatu. Freissya sama sekali tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan mereka, dan akan melakukan segala kebaikan pada Val agar pria itu tidak sakit hati dan nekad membahayakan dirinya.
"Tapi Frei, dia tampan sekali. Aku yang laki-laki saja kagum. Kemarin malam, aku tidak begitu jelas melihat wajahnya. Apa kamu yakin tidak akan tertarik? Oiya Frei, aku lihat jam tangan, tas, dan sepatu dia semuanya mahal dan terlihat asli. Dia orang kaya Frei, kamu hati-hati ya."
"Hati-hati? Kenapa harus hati-hati?"
"Bisa jadi dia anak orang kaya yang sengaja pergi dari rumah karena ada masalah keluarga."
"Mungkin barang palsu, Kak. Bisa saja, kan?" elak Freissya. Ia tidak ingin kekasihnya curiga.
"Frei, katamu yang diparkir di depan itu motor dia, kan?"
Freissya mengangguk.
"Itu motor mahal. Tadi, dia juga sudah mentrasfer biaya pengobatan dengan harga fantastik. Padahal, aku hanya meminta 1,5 juta. Eh, dia malah transfer 10 juta, ini gila. Aku curiga dia anak mafia. Atau bisa jadi uangnya hasil korupsi orangtuanya."
"Ssstt, Kak ... jangan sembarangan bicara. Terima saja. Ini rezeki. Sekarang lebih baik Kakak cepat pulang, mau jaga sore, kan?"
Freissya mengalihkan pembicaraan, ia menuntun tangan kekasihnya untuk meninggalkan rumah rumah bu Mara.
Siang menjelang sore, Gama terjaga. Ia terkejut karena belum shalat Dzuhur, sakit perutnya sudah sembuh. Ia merasa badannya segar, intinya sudah pulih. Tapi, tangannya masih terpasang infus. Ia melihat sekeliling. Ada keranjang buah dan secarik kertas di atas meja. Lalu ada bubur ayam.
Gama tersenyum. Ia mematikan aliran infus. Lalu meraih kertas yang tergeletak di dekat keranjang buah.
"Ini buahnya, di makan ya, Nak. Maaf ... Ibu mengaku salah. Jangan laporkan Ibu ke polisi, Ibu takut, anak Ibu masih kecil-kecil, suami Ibu di pulau rantau. Ternyata, mie yang Ibu masak untuk kamu sudah kadaluarsa. Sebagai kompensasi, separuh uang kost dari kamu akan Ibu kembalikan."
Rupanya dari bu Mara.
"Ya ampun, jadi aku keracunan?"
Gama geleng-geleng kepala. Lalu ditatapnya mangkuk bubur itu. Dicicipi sedikit karena penasaran, namun rasanya berbeda dari sebelumnya. Artinya, ini bukan bubur buatan Freissya.
Saatnya menjalankan misi. Sekarang Gama sudah memiliki nomor telepon suster pribadinya. Diberi nama 'My Ice.' Langsung ditelepon.
"Hallo, Ice. Ice, aku mau mandi. Sekarang aku sudah sembuh. Kamu cepat kemari. Tolong lepas infusnya. Ditunggu ya, aku hitung sampai sapai dua belas, mulai dari sekarang, satu, du ---."
"A-apa? Tunggu, jangan dihitung, aku segera kesana, baru selesai mandi harus siap-siap dulu," sela Freissya.
"Baru selesai mandi? Wah, eh maksudku baiklah. Aku tunggu dua menit," kata Gama. Lalu mengakhiri panggilan.
"Sialan, aku dikerjain," gerutu Freissya di kamarnya.
"Selamat datang, langsung makan sore saja ya," sambut Bu Ira.
"Aku masih kenyang," kata Linda.
"Maaf Bu Ira, tadi kita numpang makan di rumah dokter Fatimah," jawab Pak Yudha.
"Ya, padahal Ibu sudah masak banyak."
"Ya sudah Bu, aku lapar lagi. Biar aku saja yang makan, tapi Ibu temani ya," kata Hikam.
Rupanya, pria itu doyan makan. Agam dan Pak Yudha jadi tersenyum mendengar ucapan Hikam. Ayah Berli tidak berekspresi. Linda bergegas menuju lift. Agam menyusulnya.
"Pak? Kok ke sini?" tanya Linda saat Agam masuk ke kamarnya.
"Lho, ini kamar saya, kan? Emm, maksudnya kamar kita," katanya.
"Tapi, kita kan harus pisah dulu, Pak."
"Hahaha, oke, sebenarnya saya kesini karena tidak sabar ingin melihat vidio dari dokter Fatimah."
"A-apa? Pak Agam tidak serius, kan?" Linda gugup.
"Serius, dong," jawabnya.
"Pak, please ja-jangan," Linda memegang tangan Agam.
"Kenapa?"
"Pokoknya tidak boleh." Linda merebut tas di tangan Agam dan memeluk erat tas itu.
"Oke, saya tidak akan membuka filenya, tapi sebagai gantinya, kamu yang akan saya buka," bisik Agam seraya memeluk Linda.
"Apa? Maksudnya? Emm, Pak ... aku menolak."
"Tidak ada alasan dan tidak ada bantahan lagi."
Pak Dirut lantas memboyong istri seksinya ke tempat tidur, langsung mendalami perannya sebagai Linda's giant baby. Linda kaget dengan serangan memabukkan nan melenakan itu, ia meronta, wajahnya memerah seketika.
"Emmh ... Maga ... ja-jangan, jangan ..., jangan sekarang, kumohon ...," ratapnya. Matanya menatap nanar. Tangannya memegang sprei dan gemetar.
"Ka-kapan sayang? Kapan bolehnya?" tanya si baby.
"Ini masih sore, ma-malam saja ya ... kan pas, malam ini malam Juma'at," kata Linda.
"Emm ... ba-baik, janji ya sayang ... jangan menghindar lagi ...," bisik Agam.
"Ya, tapi ... kata dokter Fatimah, ja ---."
"Ssst ... don't be afraid, you will definitely like it, im sure ...." Ucap Agam.
Linda mengangguk setuju.