
"Huuu huuks ...."
Tangan Agam saat bersalaman dengan wanita cantik itu kembali terbayang. Dan tatapan lekat nan memuja dari mata wanita itu terlintas jua.
Linda memegang dada dan perutnya. Ada yang berdenyut di perutnya dan ada yang sesak di dadanya.
Kenapa? Linda, kamu harus kuat.
Ia mencoba mensugesti dirinya sendiri. Mempertaruhkan rasa yang kian bersemi, berharap bisa menguap dan terlupakan.
Ia kembali mengingat visi dan misinya berada di rumah ini. Ya, ia hanya akan berada di rumah ini sampai bayi yang dikandungnya terlahir ke dunia.
Tidak boleh, aku tidak boleh mencintainya. Karena suatu hari aku harus pergi dan melupakan dia.
Ya, Allah jangan biarkan rasa ini terus bersemi, aku takuut ....
Aku takut jika harinya tiba aku harus pergi, rasa ini akan semakin mencekik dan membunuhku.
Pak Agam ... maaf ....
Maaf untuk hari itu. Hari di mana aku meludahi wajah tampanmu dan menyakiti hatimu dengan kata-kataku yang keji. Aku tahu jika saat itu kamu pasti sangat terluka.
Hingga kamu menodaiku karena marah. Kini aku merasa jika rasa sakit ini adalah balasan dari apa yang telah aku lakukan padamu. Pak Agam, maafkan aku ... maaf ....
Linda terisak, memeluk lututnya. Kepalanya tenggelam di antara ke dua lutut.
Keberadaan dirinya tentu saja tidak sampai mengganggu kebersamaan Agam dan tamunya. Karena Linda berada di lantai dua, sedangkan mereka berada di lantai satu.
.
.
.
"Silahkan, Pak Barata dan Nona, dinikmati tehnya."
Agam menyodorkan baki berisi dua gelas minuman pada tamu yang saat ini sudah duduk di ruang paling depan.
"Wah, ini Anda yang buat sendiri? Ck, ck, ck. Bagaimana saya tidak tertarik jadi mertua coba, hehehe." Pria matang yang berwibawa itu berdecak kagum.
"Sluruuup."
Ia menikmati teh manis buatan Agam dengan bola mata berbinar-binar.
"Nikmat, dan manisnya pas. Tehnya juga wangi," pujinya lagi saat Agam menatapnya seolah menginginkan penilaian.
"Terima kasih, saya senang jika Bapak menyukainya. Ayo Nona, silahkan Anda juga harus mencobanya."
Agam menawarkan teh pada wanita di samping pria itu yang sedari tadi hanya menunduk dan tersipu-sipu. Namun sesekali ia mencuri pandang pada Agam sambil memainkan jemarinya.
"Terima kasih," katanya.
Iapun meneguk anggun teh manis yang disajikan di cangkir yang cantik itu dengan pipi merona. Ia bahkan sampai terbatuk-batuk karena sekilas bersitatap dengan mata Agam.
Mata teduh nan indah, yang menyiratkan jika empunya memiliki sejuta pesona dan rahasia yang akan membuat siapa saja menjadi penasaran dan ingin memilikinya.
Sememukau itukah pesona Agam? Entahlah.
"Nona tidak apa-apa?" Agam menyodorkan tissue pada wanita itu.
"Sa-saya baik-saja. Tehnya e-enak sekali."
"Terima kasih," jawab Agam.
Agam lalu duduk menghadap pria yang berwibawa itu.
"Saya kira Bapak sudah berada di tempat acara." Agam memulai pembicaraan.
"Hehe, harusnya begitu. Tapi saya izin dulu pada Tuan Besar untuk menjemput putri saya. Pak Agam, ini putri saya yang kedua, yang pertama sudah menikah. Dia yang saya ceritakan di arena tembak itu. Dia baru selesai internship. Dokter umum, usianya menjelang 26 tahun." Bapak itu memperkenalkan putrinya dengan lantang.
"Saya Mianita Indah Barata, panggil saja Mia." Wanita yang diperkenalkan itu menyodorkan tangan pada Agam.
Agam menyambutnya.
"Agam," kata Agam singkat. Seperti tak berniat mengatakan nama panjangnya.
"Pak Agam Ben Buana. Saya sudah tahu banyak tentang Bapak," kata Mia sambil kembali mencuri pandang pada Agam.
Kini tatapannya jatuh pada bibir tipis yang merah alami milik Pak Dirut. Ia terus memperhatikan saat bibir itu bergerak indah tatkala bercakap-cakap dengan ayahandanya.
Mia semakin terpukau saat bibir itu terbuka memperlihatkan gigi-gigi yang putih berseri dan rapi. Saat itu Agam tengah tertawa karena ayahnya yang bernama Pak Barata sedang menceritakan hal lucu pada Agam.
"Jadi gara-gara rambut palsu Bapak gagal?" tanya Agam.
"Iya, Pak Agam. Saya percaya diri menjambak rambut kepala perampok itu saat berhasil mengejarnya. Eh, yang saya dapat hanya wignya. Penjahatnya tenyata botak permanen. Hahaha," gelak Pak Barata.
"Hahaha, apa rambut palsunya bisa digunakan?" tanya Agam, dan iapun tertawa dengan nikmatnya.
"Rambut palsunya saya gunakan untuk sarang burung merpati di rumah saya."
Tak ayal percakapan itupun kembali mengundang gelak-tawa.
Mia begitu terpesona. Yakin 100 persen, jika kali ini ia tidak akan menolak pria pilihan ayahnya lagi. Yang ini sangat-sangat sesuai dengan kriterianya. Tampan, mapan, dan santun.
Dan bentuk tubuhnya sungguh aduduh. Dengan dada yang bidang, tinggi idaman, tanganya yang terlihat sangat kuat, dan rambutnya yang begitu hitam, lebat, dan berkilau. Keaduduhan pria ini, tak terbantahkan.
"Jadi bagaimana? Mau berangkat bersama?" tanya Pak Barata.
"Emm, apa Bapak bisa menunggu?" Agam terlihat gelisah seperti melupakan sesuatu.
"Berapa lama?" tanya Pak Barata.
"Sepuluh menit atau lima belas menit." Agam berdiri.
"Wah, saya tidak bisa menunggu Pak. Saya banyak tugas, tapi Mia pasti bisa menunggu Anda," kata Pak Barata, dan memang hal itulah yang diharapkannya.
"Oh, ta-tapi sa ---."
"Saya berangkat duluan, Anda dan Mia berangkat sama-sama ya?" desaknya. Bahkan tidak memberi kesempatan pada Agam untuk menyelesaikan pembicaraannya.
Dan sebuah rangkulan serta tepukan Pak Barata di bahunya, membuat Agam terpaksa mengatakan, "Baiklah."
"Terima kasih, Pak Agam." Kata Pak Barata.
Disambut senyum kegirangan oleh Mia.
"Titip Mia ya, Pak. Hehehe. Mia, Ayah duluan ya. Kamu jaga sikap, jangan sampai mencemari nama baik Ayah di depan Pak Agam.
Sebelum pergi dan melambaikan tangan, Pak Barata mengecup puncak kepala putrinya, dan melirik pada Agam yang mematung bingung.
"Tunggu di sini," kata Agam saat pak Barata sudah pergi.
"Baik," Mia mengangguk perlahan.
.
.
.
"Bu Linda," panggilnya. Ia mengetuk pintu kamar itu berkali-kali.
"Bu Linda, please buka pintunya, apa Anda masih tidur?" tanyanya.
Tidak ada jawaban. Linda sebenarnya mendengar, tapi ... hatinya sedang tidak baik-baik saja. Linda mengurung dirinya di bawah selimut dan menangis. Menangisi sesuatu yang ia sendiri masih ragu untuk mengartikannya.
Telepon dalam genggamannya berdering beberapa kali.
📞 ABB Calling ....
📞 ABB Calling ....
📞 ABB Calling ....
Namun Linda mengabaikannya.
"Bu Linda saya ambil kunci duplikatnya, saya mau masuk." Terdengar lagi suara Agam.
Terserah kamu, toh ini rumah kamu, kamar kamu. Linda menjawab dalam batinnya.
'Traks.'
Agam tidak main-main. Pintu kamar terbuka, dan pria itupun masuk.
"Bu Linda," panggilnya lagi. Ia tahu Linda tidak tidur. Ia melihat gerakan halus di balik selimut.
"El ...."
Tak sadar Agam memanggil Linda dengan panggilan itu. Sebuah panggilan yang biasanya diucapkan oleh Bagas. Tak berhenti sampai disitu, Agam juga menarik selimut Linda.
"Saya mau ke acara pernikahan, apa kamu mau ikut?"
"Tidak," tegas Linda.
"Kenapa?" Agam mendekat, duduk di ranjang seraya menatap punggung Linda.
Punggung itu terbentang sempurna, meliuk, melembah di bagian pinggang, dan menanjak lagi di bagian bokongnya. Laksana biola yang tergeletak dan mengiba untuk dimainkan.
Astaghfirullaah.
Agam menggeleng, dekat-dekat dengan wanita ini memang sering membuatnya hampir tak waras. Hasratnya selalu terpanggil dan menggebu. Padahal, Linda hanya memunggunginya.
"Saya tidak diundang." Jawaban Linda menyadarkannya.
"Kata siapa tidak diundang? Seluruh bintang iklan HGC diundang, termasuk Anda," jelas Agam.
"Tapi saya tidak berminat ke sana." Linda mempererat pelukannya pada guling.
Tadi, saat ia tak sengaja melamun di bingkai jendela kamar, Linda bisa melihat dengan jelas jika pria berwibawa yang menjadi tamunya Agam masuk ke dalam mobilnya hanya seorang diri.
Lalu dimanakah wanita cantik yang tadi bersamanya?
"Kenapa tidak berminat, ini kesempatan Anda untuk bertemu dengan teman-teman Anda, karena setahu saya, TV KITA diundang juga."
"Bapak saja, lagipula Bapak juga tidak sendiri, kan?" ucapnya dengan nada sedikit ketus.
"Oh, apa Anda tahu jika di bawah ada tamu?"
"Ya saya tahu," timpal Linda.
"Bu Linda, begini saja. Anda siap-siap ya, nanti setelah saya mengantarkan Mia, saya akan menjemput Bu Linda. Bagaimana?"
Linda menghela napas, ia tahu Agam melakukan itu pasti karena tidak ingin keberadaan dirinya di rumah ini diketahui orang lain.
Masalahnya adalah, ia tidak nyaman Agam pergi dengan wanita lain. Perasaan bodoh itu menyeruak begitu saja. Padahal Agam tentu saja berhak pergi dan dekat dengan wanita manapun.
"Mau ya." Agam memastikan lagi.
"Tidak," tegasnya mantap.
"Baik, kalau tidak mau, apa Anda mau titip pesan? Misal, untuk pak Bima Setiawan mungkin."
"Tidak perlu Pak. Bapak cepat pergi. Kasihan tamu Bapak sudah menunggu lama," kata Linda.
Ia bangun dan merapikan rambutnya tanpa menoleh pada Agam.
"Baiklah saya pergi ya, hati-hati di rumah. Oiya untuk makan siang dan sore, saya sudah menyiapkannya di ruangan samping perpustakaan. Tolong jangan turun ke lantai satu atau basement menggunakan tangga, Anda pakai lift saja. Boleh berenang, tapi jangan lama-lama, oke?"
Dengan lantangnya ia meninggalkan beberapa pesan layaknya seorang suami untuk istrinya.
Linda tidak menjawab, ia tetap menunduk.
"Bu Linda ...."
"Ya ...."
"Saya pergi."
Agam mematung di ambang pintu seperti enggan meninggalkan Linda.
"Kenapa lagi?" Linda heran.
"Emm, boleh saya memeluk calon anak saya?"
"Hahh?" Linda melongo.
"Kemari," Agam mengulurkan tangan.
Seperti tersihir, Linda meraih tangan Agam. Dan lagi-lagi, pria itu kembali menyiksa Linda.
Ya, sebuah pelukan dari Agam, bagi Linda terasa seperti perangkap yang menjeratnya.
Sebuah perangkap yang memberikannya kebahagiaan sesaat, namun sewaktu-sewaktu ia akan terbunuh, dibunuh di tempat atau dilepaskan begitu saja.
"Saya sedang memeluk anak saya. Buka memeluk Anda." Ia mengacak rambut Linda sambil tersenyum dan merapatkan giginya kuat-kuat.
Serius, di mata Agam Linda sangat menggemaskan. Sayang, hati wanita ini milik si Rayap. Ia merutuki Angga.
Her bare face is so amazing
Sadar ditatap intens, Linda segera mendorong bahu Agam untuk keluar dari kamar.
.
.
.
Linda kembali mengintip di balik jendela ketika wanita cantik itu berdiri menunggu mobil Agam di pekarangan.
Lalu tampaklah mobil Agam keluar dari basement.
DEG, jantung Linda berdegup tatkala melihat Agam keluar dari mobil dan membukakan pintu depan untuk wanita itu.
Saat mereka berdiri sejajar, ia melihat jika Agam dan wanita itu tampak serasi.
Linda segera menutup tirai kala merasa Agam menengadah dan menatap jendela kamarnya.
Ya ampun, dia tidak melihatku, kan?
Perlahan ia kembali mengintip, menatap mobil Agam hingga menghilang ditelan gerbang, lalu mobil itupun lenyap ditelan kejauhan.
Tes, air mata itu kembali membasahi pipinya yang mulus tanpa bisa dikendalikan.
Siapa wanita itu? Namanya Mia.
Lagi, pertanyaan itu muncul di benaknya.
****
Agam terdiam, ia mengemudikan mobil dalam kebisuan. Ia tak peduli jika wanita di sampingnya tengah menatap dan mengangumi pesonanya.
Batin Agam terpaut pada wajah cantik yang tadi mengintipnya di balik tirai.
Tidak bisa, aku tidak bisa terus diam seperti ini. Aku harus menyatakan perasaanku pada dia.
Ya, aku tahu dia memiliki si Rayap. Tapi ... aku harus memastikan lagi hubungan dia dengan pria itu.
Sambil menyetir, Agam menelepon seseorang.
"Tolong atur skrnario agar aku bisa bertemu dengan pria itu. Malan ini aku ingin memuinya," kata Agam.
"Baik Pak," suara di ujung telepon.
Dan Mia masih menatap Agam dari arah samping, sedang membayangkan bagaimana rasanya ada dalam dekapan pria wangi dan bersih itu.
Kenapa tidak dari dulu ayah memperkenalkan Pak Agam?
"Pak Agam," sapa Mia.
"Kenapa?" tanya Agam.
"Ayo kita pacaran," ajaknya.
"Apa?! Hahhaha." Agam malah tertawa.
"Kok malah tertawa Pak?"
"Saya tidak ada minat berpacaran."
"Mau langsung menikah?" tanya Mia.
"Ya, benar." Jawab Agam.
Seketika Mia langsung bersorak dalam hatinya. Ia mengira jika Agam ingin langsung menikahinya.
"Saya memang sudah ada rencana menikahi seseorang," tambah Agam.
Deg, Mia terkejut dan tersipu.
"Usia dia dua tahun lebih muda dari Nona Mia."
"APA?!"
Mia tersadar jika yang dimaksud Agam bukanlah dirinya.
❤❤ Bersambung ....