AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Saling Merahasiakan



"Apa pemeriksaannya masih lama?" tanya Agam pada suster yang tengah memeriksa Linda.


Sementara pak Yudha, ayah Berli dan paman Yordan sudah pergi ke rumah sakit The Number One sekitar tiga puluh menit yang lalu.


"Ini sebentar lagi, Pak."


Suster baru saja menyelesaikan pemeriksaan fetal monitoring, mengambil sampel darah, dan EKG ulang. Saat dilakukan EKG tentu saja tirainya ditutup. Dan Linda berkali-kali berteriak untuk mengingatkan Agam agar jangan mengintip.


"Paman, jangan mengintip." Tadi, Linda mengatakan kalimat itu.


Lucunya, Linda mendalami peran sebagai keponakannya Agam dan memanggil 'Paman.' Sampai ia geli sendiri mendengar panggilan itu, pun dengan Agam.


"Sudah selesai," ucap suster.


Lalu suster menjelaskan hasil pemeriksaan pada Linda dan Agam.


Intinya, kondisi Linda membaik, tensi darahnya 145/90 mmHg. Namun denyut jantung bayinya irreguler. Jadi, untuk sementara waktu, Linda harus menggunakan oksigen.


"Permisi," suster meninggalkan ruangan.


Setelah suster pergi, Agam langsung mendekat, melihat istri cantiknya terbaring lemah, rasanya ia tidak sanggup untuk tidak peduli walaupun hanya pura-pura.


Dan saat Agam masih berpikir, Linda sudah terlebih dahulu memanggilnya.


"Pak Agam, kemari," sambil melambaikan tangan.


"Cepat," katanya lagi dengan suara pelan.


Agam mendekat, saat Agam sudah dekat, Linda cepat-cepat memegang tangan Agam.


"Pak, maaf," ucap Linda to the point.


"Untuk?"


Agam berusaha keras untuk tidak menatap wajah Linda.


Kenapa Agam seperti itu? Bukankah Linda sekarang adalah istrinya.


Alasannya tentu saja karena Agam khawatir tidak tahan. Sekarang saja bibirnya sudah gatal. Ingin rasanya segera mengatakan ....


"Linda, aku suamimu, aku berhak atas dirimu lahir dan batin. Kamu milikku, tubuhmu yang elok itu milikku, aku boleh mendatangimu kapan saja dan dari arah mana saja, kecuali dari arah yang diharamkan."


Sungguh, Agam ingin membawa Linda ke nirwana detik ini juga.


"Pak Agam, kenapa melamun?"


Linda sampai mencubit perlahan tangan Agam.


"Ti-tidak melamun, ada apa?" tanyanya.


Dan mata Agam lebih memilih fokus pada tetesan cairan infus.


"Pertama, terima kasih karena sudah menyelamatkan aku dan calon anak kita. Kedua, maaf karena aku sudah salah faham. Hampir saja aku menyakiti Pak Agam untuk kedua kalinya," ucap Linda dengan suara lirih sambil menatap lekat pada Agam.


Yang ditatap masih fokus pada tetesan infus. Namun tangannya, kini sedang memainkan jemari Linda.


"Maksudnya? Saya tidak faham."


"Pak Agam, lihat aku, kenapa berpaling terus?"


Linda bahkan menarik ujung baju Agam. Tidak nyaman ternyata dicuekkan oleh seseorang yang dicintai.


Rasanya ....


Ada pahit-pahitnya.


"Tadi, kamu sendiri yang marah, kan? Kamu bilang membenci saya, saya jahat, ingin putus, dan tidak mau dekat-dekat saya lagi. Ya, kan?"


Agam kembali mengulang ucapan Linda untuknya.


Linda terkejut. Ya, ia memang mengatakan itu, tapi ia seperti itu karena memiliki alasan.


"Siapa yang tidak marah melihat kekasihnya beradegan syur dengan wanita lain? Siapa?! " teriak Linda.


Kali ini Lindapun berpura-pura. Ia sedang berpura-pura seolah tidak tahu kalau vidio itu rekayasa.


"Kamu sudah tahu? El, jangan berteriak. Sshhh, sshhh ...."


Agam segera meraih tubuh Linda dan memeluknya.


"Tolong jangan berteriak. Saya takut tensi darah kamu tinggi lagi."


"Huuu ...."


Linda menangis.


Ia menangis bahagia karena Agam tidak berpaling lagi. Pria itu mendekapnya, dan Linda merasa nyaman.


"Kamu sudah melihat vidionya? Saya difinah, itu bukan saya, El ...."


Agam mengelus punggung Linda.


Pada akhirnya, kenyataan itu terpaksa harus dibahas saat ini juga.


"A-aku percaya, aku tahu itu bukan Pak Agam. Huuu ... maaf ... aku sempat marah karena mengira itu asli. Maaf ...," lirihnya.


Linda meraih tangan Agam dan menciumnya. Agam terhenyak. Ia merasa sedang dicium oleh istri. Eh, tapi Linda kan memang istrinya.


"Saya yang harusnya minta maaf, El. Maaf, gara-gara vidio itu, saya hampir kehilangan kamu."


Agam mempererat dekapannya. Jantungnya sudah tidak karuan. Merasa sudah sah menjadi suami Linda, hasratnya spontan menggebu.


Tahan ... tahan ....


Apa Agam harus mengatakannya sekarang juga?


Apa Linda tidak akan kaget kalau Agam berterus terang sekarang?


Apakah Linda tidak apa-apa jika harus merahasiakan pernikahan ini dari publik?


Apa Linda mau jika sementara waktu harus menikah secara siri?


Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, Agam mengela napas, lalu merangkum wajah Linda.


Ditatapnya wajah cantik itu lekat-lekat hingga mata Linda mengerjap, dan pipinya bersemu merah.


"Ke-kenapa?" tanya Linda, gugup. Lalu ia mengatupkan bibirnya seolah hendak disembunyikan dari Agam.


"Saya mau mencium bibir kamu El," kata Agam.


Pikir Agam, kali ini pastinya tidak akan bernilai dosa, yang ada malah jadi ibadah, ya kan?


Hanya saja, apa Lindanya mau?


Sekarang saja, mata Linda sudah membulat sempurna. Mungkin Linda kaget karena Agam frontal mengatakan keinginannya.


"Saya serius, El. Saya mau ini," Agam mengusap bibir Linda.


"Dan mau ini," lanjutnya sambil meletakan tangannya di bagian dada Linda, tapi tidak menempel.


"Astaghfirullaah, apa Anda tidak waras? Awas," usirnya.


Linda kesal, ia memukul wajah Agam dengan bantal rumah sakit.


"Hahaha, saya bercanda. Tidak serius kok," elaknya.


Padahal aslinya sangat berius-rius.


"Keterlaluan, tidak lucu tahu, Pak," ketus Linda.


"Jangan marah, oke? Oiya El, ayahmu sudah merestui hubungan kita."


Agam mulai menjalankan misinya untuk mengetahui persepsi Linda terhadap pernikahan siri.


"Benarkah? Syukurlah." Linda tersenyum.


Agam duduk di sofa, ia menautkan alisnya untuk mencari ide.


"Saya serius, ayahmu malah menyuruh saya segera menikahimu secepatnya, katanya kalau bisa hari ini."


"Se-serius?" Linda kembali terkejut.


"Ya, tapi tidak perlu dipikirkan, yang terpenting kamu sehat dulu, setelah itu baru kita bahas lagi."


"Kalau aku sih bagaimana ayah saja, Pak. Kalau ayah sudah merestui, kapanpun aku siap," ucap Linda sambil menunduk, rasa haru bercampur bahagia menyelimuti relung hatinya. Tidak menyangka jika ayahnya akan secepat itu menerima Agam.


"Oiya, kalau misalkan kita menikah secara agama dulu, apa kamu mau?"


"Kalau ayah setuju, aku juga setuju." Linda menjawab mantap.


Agam tersenyum mendengar ucapan Linda.


"Tadinya saya akan membahas hal yang sedikit berat. Tapi, nanti saja lah ya. Saya khawatir dengan kondisi kamu." Agam mengurungkan niatnya.


"Hal berat, mau membahas apa, Pak? Jadi penasaran, aku baik-baik saja, kok. Sekarang sudah tidak pusing, hanya kaki saja yang pegal," keluhnya.


Dan di luar dugaan Linda, Agam tiba-tiba mendekat, duduk di bed pasien, lalu membuka selimut yang menutupi kakinya.


"Pak, ma-mau apa?" Linda kaget.


Apa yang dilakukan Agam selanjutnya jelas membuat Linda terperanjat dan kaget luar biasa. Pria itu menggulung celana panjang yang digunakan Linda hingga ke atas lutut.


"Ja-jangan, Pak." Linda beringsut.


"Ti-tidak baik," lanjutnya.


Linda melipat kakinya untuk disembunyikan.


Agam tersadar.


"Maaf," ucapnya singkat.


Lalu Agam kembali ke sofa, ia merebahkan diri dan memejamkan mata sambil berusaha menetralisir pikirannya.


"Saya akan tidur dulu sampai bu Ira datang," ucap Agam saat Linda masih mengusap dada dan mengatur napasnya karena kaget.


Baru kali ini Agam berani menyingkap pakaian yang ia gunakan. Serius, Linda berpikir jika Agam jadi sedikit m e s u m.


"Pak Agam, tadi itu tidak sopan. Jangan diulangi lagi," kata Linda seraya meliriknya.


"Ya, saya tahu, maaf." Agam menjawab dengan mata terpejam.


Dua menit kemudian, pria itu sudah mematung, kembali pada gaya tidurnya yang rapi dan sepi. Agam pulas. Semalaman pria itu memang tidak tidur.


.


.


.


.


Bahkan hingga Bu Ira dan Pak Yudha datangpun, Agam masih terlelap.


"Ssstt."


Linda meletakan jari telunjuk di bibirnya, berharap Pak Yudha dan Bu Ira tidak berisik.


Sudah jam setengah sebelas siang, seharusnya pada jam 10 Agam sudah berangkat ke HGC, namun sampai saat ini dia masih tertidur.


"Pak Yudha, memangnya semalaman Pak Agam tidak tidur?" tanya Linda dengan suara sangat pelan.


"Ya memang tidak tidur, kemarin malam setelah rapat langsung ke butik, fitting pakaian pengantin, dan lain-lain. Setelah ijab kabul langsung menemani Anda sampai saat sekarang," terang Pak Yudha dengan suara pelan juga.


"I-ijab kabul?"


Spontan Linda melotot sambil menutup mulutnya.


Dan Pak Yudha baru sadar, iapun menutup mulut dengan mata melotot. Sadar diri telah melanggar perintah Agam. Tapi ini benar-benar spontanitas dan tidak disengaja.


Segera Pak Yudha mendekati Linda, menatap Linda dengan mata memelas, lalu memegang tangan Linda, dan memohon.


"Please ... tenang ... tarik napas ..., dan jangan kaget ya, saya salah. Maaf ...."


Selain Linda, Bu Irapun ternyata kaget juga. Bu Ira mendekat dan menatap Pak Yudha, Linda masih mematung tak percaya.


Sementara itu bola mata Pak Yudha terus berputar untuk mencari ide.


"Si-siapa yang ijab kabul? Tolong jelaskan, Pak .... Apa selama aku tidak sadar kalian menyembunyikan sesuatu?"


Mata Linda berkaca-kaca, Bu Ira merengkuh Linda dan mengusap punggungnya agar Linda tenang.


Lalu dengan suara gemetar dan ketakutan, Pak Yudhapun memulai pembicaraan sambil sesekali melirik ke sofa.


Hati Pak Yudha berkecamuk, yang ia takutkan adalah ... takut jika pemaparannya akan berdampak negatif pada kesehatan Linda.


Namun apa boleh buat, jika tidak dijelaskanpun bisa jadi malah memperburuk kondisi Linda. Linda pasti akan kepikiran karena penasaran.


Akhirnya dengan berat hati, hati-hati, dan tata bahasa yang rapi, Pak Yudha memberanikan diri menceritakan dan menjelaskan duduk perkaranya.


"Jadi begini ceritanya ...."


Linda dan Bu Ira menyimak, air mata Linda berderai, pun dengan Bu Ira.


"Jadi ... sekarang dia suamiku?" bisiknya.


Pak Yudha mengangguk, bu Ira berderai air mata, ia sedih membayangkan bagaimana terpukulnya Agam saat Linda koma.


"Alasan kenapa dirahasiakan, yang saya tahu karena Pak Agam tidak ingin Anda kaget. Untuk alasan lainnya saya juga tidak tahu," lanjut Pak Yudha.


Mereka berbicara dengan suara pelan agar Agam tidak terganggu.


"Ba-baik, kalau maunya dia seperti itu, sekarang Pak Yudha juga harus membantuku untuk merahasiakan ini," lirih Linda dengan wajah tertunduk, suara gemetar dan tangannya mengerat pada sprei.


Linda merasa tidak yakin kalau statusnya saat ini adalah istri dari Agam Ben Buana.


Ya, ini kabar baik. Hanya saja, Linda tidak menyangka akan mendapat gelar istri dengan cara sedramatis dan secepat ini.


"Maksud, Anda?"


"Pak Yudha dan Bu Ira harus menjaga rahasia kalau aku sudah tahu. Aku mau tahu sampai sejauh mana dia merahasiakan ini dariku. Aku yakin dia memiliki alasan, aku akan beradaptasi dengan keadaan ini."


"Jujur, aku sangat bahagia dan terharu, tapi ... aku juga sebenarnya belum begitu siap menjadi seorang istri. Aku harus belajar, mungkin dengan cara merahasiakan seperti ini, adalah jalan terbaik untuk aku dan dia belajar saling memantapkan dan memantaskan diri menjadi pasangan," jelas Linda.


"Baik, saya setuju. Terima kasih karena Anda sudah bersedia dan menerima keputusan Pak Agam dengan cara yang bijak," kata Pak Yudha.


"Ibu juga bersedia memegang rahasia ini. Jangan khawatir, Ibu adalah tipe orang yang pandai menyimpan rahasia. Saking pintarnya, Ibu bahkan sering lupa kalau punya rahasia, hehehe," timpal Bu Ira.


Dan mereka terkejut saat melihat Agam menggeliat.


Pak Yudha langsung sibuk memeriksa kelengkapan tas kerja milik Agam. Sedangkan Bu Ira pura-pura memijat Linda.


Pantas saja tadi dia seenaknya menyingkap celana panjangku. Dia juga berani menunjuk dadaku. Aku mau tahu sampai kapan kamu bisa bertahan dan merahasiakannya dariku Agam Ben Buana? Batin Linda.


"Pak Yudha, kenapa tidak membangunkan saya? Jam berapa ini?"


Agam bangun, wajahnya cemberut tapi tetap saja ganteng. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bangun tidur.


"Saya tidak tega. Pak Agam semalaman kan tidak tidur, ini saya bawakan perlengkapan mandinya. Bapak mandi dulu," kata Pak Yudha.


"Saya mau mandi di HGC saja, ayo Pak. Berangkat sekarang."


"Baik," Pak Yudha bersiap.


Namun Agam kembali membalikan badan saat ingat belum izin pada Linda.


"Bu Ira, jaga dia baik-baik ya," sambil meraih tangan Linda untuk menyalaminya.


Linda menyambut tangan Agam dengan perasaan tidak menentu.


"Oiya Pak Yudha, saya baru ingat, di dalam mobil ada yang ketinggalan," ucap Bu Ira sambil mengedipkan mata pada Pak Yudha, Pak Yudha tentu saja faham.


"Pak Agam, saya tunggu di parkiran," kata Pak Yudha.


"Baik," jawab Agam singkat.


Tangan Agam dan Linda masih terpaut saat pak Yudha dan bu Ira sudah pergi.


Linda menengadahkan kepala menatap suaminya. Ia bingung harus mengatakan apa sebagai kalimat perdana setelah tahu kalau ia dan Agam sudah menikah.


"Saya kerja dulu," ucap Agam. Tanpa melepaskan tangan Linda.


"Em ... a-anu Pak, Pak Agam i-itu ---." Linda benar-benar gugup dan gelagapan.


"Kenapa?"


Kedua tangan Agam beralih menangkup pipi Linda.


"Bo-boleh," kata Linda dengan pipi memerah.


"Boleh? Maksudmu? Boleh apa?" Agam bingung.


"Ta-tadi ... Pak Agam mm-mau mencium, kan?" kata Linda.


Kalimat dari Linda membuat Agam terperanjat.


"Kamu yakin?" Agam memastikan. Ia tampak bersemangat. Jemarinya langsung aktif menelusuri bibir Linda.


Linda mengangguk lemah. Ia memejamkan matanya, jantungnya berdentuman kuat kala hembusan napas Agam mulai menghangatkan wajahnya.


Agam mengecup kening Linda, kedua kelopak mata, lalu ke pipi. Linda panik, ia sadar setelah mencium pipi, Agam pasti akan mencium ....


"Bukannya saya menolak, tapi ... saya takut tidak bisa menahan diri," bisik Agam. Diakhiri dengan kecupan sayang di puncak kepala Linda.


Linda jelas malu, ia langsung tertunduk. Ada perasaan tidak nyaman di hatinya.


"Ya sudah, cepat pergi," kata Linda.


Lekas meraih selimut, merebahkan diri dan bersembunyi di balik selimut. Agam menghela napas.


Dan setelah Bu Ira datang, Agam benar-benar pergi, ia meninggalkan Linda yang masih memungunginya.


Ya ampun, kenapa aku malah menawarkan diri? Aku jadi terlihat seperti wanita gampangan tidak, sih? Memalukaaan.


Linda menyesali perbuatannya.


"Aaaa," teriak Linda, hingga Bu Ira terkejut.